Posts Tagged ‘galih sedayu’
Tegep Karyanegara {RIP : 1972-2016} | Owner & Founder of Tegep Boots & Comrades Motocycle

Pendopo, Bandung – 2015

Pendopo, Bandung – 2015

Pendopo, Bandung – 2015

Butcher Bill Cafe, Bandung – 2015

Butcher Bill Cafe, Bandung – 2015

Pasar Seni ITB, Bandung – 2014

Georgetown Chambers, Penang, Malaysia – 2014
Penang, Malaysia – 2014

Penang, Malaysia – 2014

Penang, Malaysia – 2014

Gat Lebuh Chulia, Penang, Malaysia – 2014

Penang, Malaysia – 2014

Penang, Malaysia – 2014
Copyright (c) 2014 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Mengintip Penang, Mengetuk George Town
Teks & Foto : galih sedayu
Ada yang menarik dari Pulau Penang yang terletak di barat laut Semenanjung Malaysia. Selain menyimpan harta karun berupa bangunan-bangunan bersejarah yang masih terawat dengan baik, kita dapat merasakan energi kreatif yang hadir di pulau seluas 293 kilometer persegi tersebut. Meskipun Penang terpisah dari daratan utama negeri jiran, namun pulau ini terhubung oleh Jembatan Pulau Pinang (Penang Bridge) yang membentang sepanjang 13 kilometer. George Town adalah ibukota Penang. Letaknya sekitar 15 kilometer dari Penang International Airport atau yang biasa disebut dengan nama Bayan Lepas. Seperti kita tahu, bahwa Malaysia dulu adalah bekas wilayah jajahan Inggris. George Town sendiri diadopsi dari nama Raja Inggris yakni George William Frederick atau King George III. Tak heran kota yang banyak memiliki arsitektural kolonial inggris tersebut diakui oleh masyarakat internasional sebagai situs warisan dunia UNESCO pada tahun 2008.
Bersama para sahabat dari Bandung Creative City Forum (BCCF), saya berkesempatan menginjakkan kaki di Penang untuk menghadiri undangan dari George Town Festival, Think City dan Southeast Asian Creative Cities Network. George Town Festival (GTF) sendiri merupakan rangkaian perayaan seni & budaya yang mengusung isu perihal industri kreatif dan berlangsung selama 30 hari penuh di bulan agustus 2014 dengan Penang sebagai pusatnya. Tahun ini adalah pelaksanaan GTF yang ke-5 yang berisikan rangakaian aktivitas dari mulai kolaborasi ide kreatif, ekspresi seni eksperimental, pertunjukkan seni tradisional & kontemporer, unjuk gigi komunitas lokal dan instalasi publik. Misi GTF adalah menjadi platform bagi seni & budaya di asia tenggara dengan fokus pada perspektif keunikan George Town.
Di Penang saya mendapatkan kartu kecil yang bertuliskan “Treat Others As You Would Like To Be Treated”. Isinya merupakan filosofi singkat nan sederhana dari berbagai agama dan kepercayaan yang berkembang di sana. Diantaranya Indigenous Spiritualities, Hinduism, Confucianism, Buddhism, Judaism, Chritianity, Islam, Sikhism dan Baha’i. Dari sanalah saya menilai bahwa masyarakat Penang sangat menjunjung tinggi toleransi beragama. Karena di sanalah hidup berdampingan warga dari berbagai bangsa, ras dan kepercayaan. Barangkali perbedaanlah yang membuat mereka menjadi satu jiwa. Ruang-ruang publik yang ada di kawasan George Town dijadikan sebagai kanvas kosong yang kemudian dilukis oleh komunitas dan pendatang dengan kuas kreativitasnya masing-masing. Jalan, tembok, gedung tua, cafe dan berbagai area publik menjadi elemen identitas dan estetika kota yang sangat visual dan memanjakan mata. Bila melihat Penang dan George Town Festival tersebut, rasanya perlu disadari bahwa sesungguhnya kita sebagai wargalah yang dapat membawa kehidupan sebuah kota.
Penang, 1-4 Agustus 2014
copyright (c) 2014 by galih sedayu
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Mewartakan Kreasi Bandung
Teks : galih sedayu
Tak ada sesuatu yang abadi di bumi ini. Satu-satunya yang tetap adalah perubahan. Begitu pula yang terjadi pada perkembangan ekonomi dunia. Dimana lompatan ekonomi yang bergulir begitu cepatnya dari mulai ekonomi pertanian, ekonomi industri, ekonomi informasi hingga ekonomi kreatif dewasa ini menjadi bukti nyata terjadinya perubahan tersebut. Bahkan konsekuensi dari fenomena ini adalah berkembangnya sebuah prediksi sekaligus persepsi yang menyebutkan bahwa Eropa adalah masa lalu, Amerika adalah masa kini dan Asia adalah masa depan. Karenanya proses globalisasi menjadi tak terbendung hingga detik ini. Dan Indonesia mau tidak mau mesti siap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi akibat kondisi ini, terlebih bila kita memiliki mimpi untuk menjadi macan asia.
Kota Bandung menjadi salah satu kota yang menjadi contoh perkembangan ekonomi kreatif, tidak hanya di Indonesia melainkan di dunia. Buktinya, pada tahun 2007 kota Bandung menjadi proyek percontohan pengembangan kota kreatif yang diinisiasi oleh British Council. Kemudian pada tahun 2008, lahirlah sebuah perkumpulan independen yang terdiri dari komunitas & individu kreatif kota Bandung bernama Bandung Creative City Forum (BCCF). Apalagi sejak tahun 2013 hingga sekarang, kota Bandung memiliki seorang pemimpin baru bernama Ridwan Kamil, yang juga merupakan pelaku & pegiat kreatif. Oleh karena itu, sudah semestinya kota Bandung memiliki harapan akan perubahan yang besar terutama bila sinergitas kota kreatif yang disebut Quadro Helix yakni kolaborasi antara kalangan akademisi, bisnis, komunitas & pemerintah sungguh benar terjadi.
Salah satu bentuk kebijakan yang dilakukan pemerintah perihal pengembangan ekonomi kreatif adalah keluarnya Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2009. Ada 14 subsektor yang dikategorikan masuk ke dalam Industri Kreatif yaitu periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, fesyen, video-film-fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukkan, penerbitan & percetakan, layanan komputer & piranti lunak, televisi & radio serta riset & pengembangan. Terakhir pemerintah menambahkan subsektor kuliner sehingga saat ini terdapat 15 subsektor industri kreatif yang ada di Indonesia.
Fotografi sebagai salah satu subsektor industri kreatif, memiliki kemampuan visual yang dianggap mampu untuk menyampaikan informasi dan gambaran sesungguhnya perihal produk beserta aktivitas industri kreatif tersebut. Karena itu Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian Perdagangan (KUKM & Indag) kota Bandung bekerjasama dengan air foto network mengadakan sebuah program yang bertajuk “Bandung Nu Urang”. Program ini berupa workshop dan pameran fotografi yang bertujuan untuk mengangkat isu perihal industri kreatif kota Bandung. Tahap pertama yang dilakukan yaitu workshop fotografi pada tanggal 9 s/d 11 Mei 2014 di Hotel Gino Feruci tepatnya di jalan Braga, Bandung. Peserta workshop terdiri dari 30 orang terpilih yang merupakan para pelaku industri kreatif fotografi di kota Bandung. Dimana sebelumnya ada 90 peserta yang mendaftarkan diri dan mesti mengikuti tahap seleksi yang kemudian disaring untuk dapat mengikuti workshop tersebut. Selama 3 hari, mereka dibekali materi fotografi & industri kreatif yang diberikan oleh galih sedayu (pegiat kreatif & pengajar fotografi), dudi sugandi (jurnalis foto) dan sandi jaya saputra (fotografer). Setelah itu para peserta diberikan penugasan untuk membuat karya foto perihal industri kreatif kota bandung dengan tema yang telah dipilih oleh masing-masing peserta.
Sebagai salah satu bentuk kesadaran bersama untuk memberikan edukasi kepada publik, maka Pameran Foto “Bandung Nu Urang” hasil karya peserta workshop ini pun digelar pada tanggal 19 Juli 2014 di Taman Foto Bandung yang berlokasi di Jalan Taman Cempaka, Bandung. Sebanyak 25 orang yang karya fotonya lolos pada saat presentasi dan proses kurasi yang dilaksanakan pada tanggal 31 Mei 2014 di kantor air foto network. Adapun para fotografer & pelaku kreatif bidang fotografi yang berpartisipasi dalam pameran foto ini yaitu Amirudin Fuad Ridlo, Ardiles Klimarsen, Arya Magindra, Arya Marta, Ayi Rahmat Hidayat, Barly Isham Arsatadany, Eligius Adi Darma, Endras Septiano, Fitra Ananta Sujawoto, Gunawan Winata, Ivan Arsiandi, Jakobus Gunawan, Julius Tomasowa, Krisna Satmoko, Lestari Perangin Angin, Mia Sjahir, Myke Jeanneta, Refa I Adiredja, Rifan Wahyudi, Satya Andhika, Siti Desintha, Sjuaibun Iljas, Sudarmanto Edris, Walgi Efriyan dan Wiwit Setyoko.
Marilah kita simak bersama, jejak karya para pelaku kreatif fotografi yang merekam sebagian denyut nadi dan detak jantung industri kreatif yang menghidupkan kota Bandung. Jurnal fotografi yang diterbitkan bersamaan dengan pameran foto “Bandung Nu Urang” ini, mencoba mengungkap apa yang dikandung oleh Bandung dilihat dari sisi para insan kreatifnya. Sebuah himpunan visual yang coba dirangkum melalui mata, energi & hati yang dimiliki oleh para peserta workshop dengan segala keterbatasan waktunya. Pameran & jurnal fotografi inipun diharapkan dapat dilanjutkan kembali kelak menjadi sebuah jejak yang lebih besar lagi, yaitu penerbitan buku fotografi perihal industri kreatif kota Bandung. Namun sesungguhnya, yang terpenting dari semuanya adalah adalah lahirnya sebuah cinta dan harapan yang tak pernah berhenti bagi kota Bandung. Sebuah kota yang sudah layak dan sepantasnya selalu kreatif, merdeka dan menjadi juara.
Bandung, 1 Juli 2014
copyright (c) 2014
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from air foto network & photographer.
Kado Sederhana Dari Bandung Untuk Jokowi
Teks & Foto : galih sedayu
“Kehadiran kita di sini membuktikan bahwa masih banyak orang Indonesia yang tidak bisa dibeli”
– anies baswedan –
Suara yang lantang dan berapi-api keluar dari mulut seorang Wawan Sofwan yang membacakan pidato revolusi mental dengan meniru busana dan gaya berbicara khas ala presiden soekarno. Alunan bunyi harmonika ditiup dari batin Hari Pochang yang berkolaborasi dengan bunyi gitar & alat musik tiup tradisional sehingga menghadirkan harmoni musik blues. Cetar!!! Tongkat pecut milik kesenian reak mengeluarkan getaran suara kerasnya ketika talinya menghujam tubuh Tisna Sanjaya sebelum ia kemudian melukis di atas kanvas putih dengan menggunakan pecut tersebut sebagai kuasnya yang agung. Sementara kemeriahan sederhana datang dari penampilan kesenian reak, wayang golek, keroncong merah-putih dan monolog. Berbagai ekspresi seni & budaya tersebut ditampilkan sebagai bentuk dukungan moral bagi kemenangan jokowi yang akan berlaga pada tanggal 9 juli 2014 nanti. Hutan kota dunia babakan siliwangi menjadi saksi dari energi, kekompakan dan doa yang diberikan oleh para relawan jokowi tersebut di kota bandung. Sebanyak 53 lukisan dari para seniman kota bandung disuguhkan sebagai kado kecil untuk jokowi pada gelaran “seni rupa dua jari” yang dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 21 juni 2014, bertepatan dengan hari jadi capres bernomor urut dua tersebut yang juga genap berusia 53 tahun. Menurut Tisna Sanjaya, karya lukisan yang diberikan kepada jokowi tersebut bersifat sublim, metafor dan simbolik. Nilai-nilai revolusi budaya, spiritual, kearifan lokal & semangat masa kini menjadi muatan dan isu yang diangkat dari gerakan & kesadaran bersama yang dihadiri oleh para pegiat kota bandung seperti Tisna Sanjaya, Ipong Witono, Aat Soeratin, Andar Manik, Isa Perkasa, Wawan Sofwan, Hari Pochang, Rahmat Jabaril, Deden Sambas, Gustaff H Iskandar, Wawan Setiawan Husin, Fiki Satari, Dwinita Larasati, dan masih banyak lagi. Sesungguhnya, apa yang dilihat oleh mata pada peristiwa ini adalah sebuah rahmat persaudaraan untuk mendukung capres pilihannya dengan cara budaya yang kreatif tanpa harus menggunakan kampanye hitam atau cara yang tidak terpuji. Sehingga menjadi inspirasi untuk menggarami kedamaian, kerukunan dan ketentraman dalam menentukan pemimpin indonesia kini & masa mendatang.
Bandung, 21 Juni 2014
*Kompilasi artikel berita
tempo.co >> http://bit.ly/1ntplfz
kompas.com >> http://bit.ly/UuSA9F
metrotvnews.com >> http://bit.ly/1pyKND1
klik-galamedia.com >> http://bit.ly/1uS5REc
detik.com >> http://bit.ly/1ilmpEG
merdeka.com >> http://bit.ly/1iwzpa9
tribunnew.com >> http://bit.ly/1nW39fQ
solusinews.com >> http://bit.ly/T0SMvK
republika.co.id >> http://bit.ly/1ilmZCa
antara.news.com >> http://bit.ly/1qrAIHw
suara.com >> http://bit.ly/1yzBqap
nefosnews >> http://bit.ly/1ntQ0re
liputan6.com >> http://bit.ly/1p5nWBk
copyright (c) 2014 by galih sedayu
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Pandangan Pertama Di Negeri Matahari Terbit
Teks & Foto : galih sedayu
Imej jepang sebagai bangsa penjajah barangkali memang masih melekat bagi sebagian rakyat indonesia. Namun citra itu sudah sepantasnya lah kita hapus, karena jepang kini bukanlah jepang yang dulu lagi. Bahkan kita sebagai negara berkembang sudah semestinya berguru kepada negara yang lebih maju tersebut, baik dari sisi teknologi, pendidikan dan ekonomi. Saat ini, jepang menjadi kota industri yang memiliki teknologi tinggi baik di bidang transportasi, telekomunikasi, konstruksi, otomotif, elektronik, dan lain sebagainya. Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa jepang merupakan salah satu negara yang akan mendominasi dunia di masa yang akan datang. Apalagi kini jepang merupakan pengekspor budaya pop yang terbesar di asia dari mulai anime, manga, fashion, film, video & musik. Bagi orang awam sekalipun, sesungguhnya jepang akan dinilai sebagai sebuah bangsa yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai disiplin. Dari mulai disiplin bekerja, disiplin berlalu-lintas, disiplin masalah kebersihan, disiplin menjaga budaya tradisional dan masih banyak lagi. Kaum pria dan wanita ditempatkan secara egaliter. Kaum pedestrian sangat dihormati dan menjadi raja di jalan raya. Kota-kotanya bersih, tertib dan teratur. Toleransi beragama sangat tinggi. Komunitas kreatif diberikan ruang sehingga tumbuh dan berkembang dengan pesat. Taman-taman kota dirawat, dijaga dan selalu dikunjungi warganya. Dengan melihat jepang, seharusnya kita dapat bercermin pada kebaikan & kehidupan positif yang dihadirkannya. Namun, kita mesti ingat. “You can not hang out with negative people and expext to live a positive life”.
Jepang, Tokyo & Hamamatsu, 9-12 Juni 2014
Atmosfir ibu kota jepang dilihat dari menara tokyo dengan ketinggian mencapai 250 meter – tokyo, jepang
kuil zojoji dengan latar belakang menara tokyo – tokyo, jepang
pemandangan di bawah menara tokyo yang dilihat melalui ‘lookdown window’ – tokyo, jepang
suasana pagi hari di shiba, minato-ku, diambil dari jembatan di depan hotel celestine – tokyo, jepang
kuil hamamatsu yang dibangun pada tahun 1532 oleh imagawa sadatsuke dari dinasti imagawa – hamamatsu, jepang
‘act tower’, bangunan pencakar langit dengan tinggi 213 meter yang meniru bentuk harmonika – hamamatsu, jepang
kawasan ‘red district’ di kota hamamatsu pada malam hari – hamamatsu, jepang
pejalan kaki di shiba, minato-ku, tokyo pada suatu pagi yang cerah – tokyo, jepang
seorang pengunjung sedang menikmati pameran foto yang berada di dalam gedung menara tokyo – tokyo, jepang
para penghuni jalan raya di shiba, minato-ku – tokyo, jepang
seorang pekerja wanita tengah membersihkan kaca di menara tokyo yang tingginya 250 meter – tokyo, jepang
warga yang menunggu giliran untuk menyebrang – roppongi, jepang
disiplin bagi para pejalan kaki adalah salah satu ciri khas orang jepang – tokyo, jepang
warga jepang yang tengah istirahat & menikmati ‘street furniture’ di depan museum fuji film – roppongi, jepang
seorang pemusik yang bersuara merdu tengah menghibur orang-orang di depan ‘japan railway (jr) hamamatsu station’ – hamamatsu, jepang
seorang perempuan menutupi wajahnya yang kepanasan karna cuaca yang sangat terik di sore hari – hamamatsu , jepang
sepasang muda mudi tengah menikmati sore di taman yang luas yang berada di depan kuil hamatsu – hamamatsu, jepang
sekelompok pemusik tengah menghibur para tamu hotel yang tengah menikmati makan siang – hamamatsu , jepang
seorang anak muda yang mengendarai sepeda bmx tengah melakukan atraksi di sebuah kawasan pertokoan – hamamatsu, jepang
sebuah kuil yang terletak di kawasan ‘red district’ – hamamatsu, jepang
para pelajar & pekerja yang baru pulang malam – hamamatsu, jepang
copyright (c) 2014 by galih sedayu
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Senandung Pagi Pedestrian Tokyo
Teks & Foto : galih sedayu
Umumnya kota-kota besar di dunia selalu identik dengan berbagai problematika yang menyangkut isu mobilitas urban seperti kemacetan lalu lintas, kepadatan kendaraan bermotor, polusi udara, trotoar yang sempit, suara bising klakson dan ketidaknyamanan bagi pejalan kaki. Namun ternyata, berbagai cap tersebut tidaklah berlaku di kota tokyo yang didaulat menjadi ibu kota negara jepang tersebut. Suatu pagi saya berkesempatan untuk berjalan kaki di sekitar area shiba & roppongi di kota tokyo. Kebetulan cuaca pagi di kota yang dihuni oleh sekitar 12 juta penduduk tersebut sangatlah cerah kala itu. Mentari bersinar dengan senyumnya yang lebar dan kota tokyo pun menjadi terang dalam keseharian. Bersih, disiplin, tertib, nyaman dan aman. Hanya itulah kata-kata yang dapat terucap ketika saya mengalami menjadi seorang pedestrian dan merasakan sendiri atmosfir kota tokyo di pagi hari. Tak terlihat sampah yang berserakan, tak terlihat polisi yang lalu-lalang, tak terlihat banyaknya pengguna kendaraan pribadi. Tak terdengar pula bunyi klakson kendaraan bermotor, tak terdengar pula suara para pedagang liar, tak terdengar pula teriakan orang-orang di jalan. Yang saya rasakan saat itu bagaikan mendengarkan lantunan sebuah lagu berirama merdu di pagi hari yang ceria. Sungguh takjub rasanya ketika mengetahui bahwa kaum pejalan kaki mendapat tempat yang paling terhormat di sana. Disusul kemudian pengguna sepeda. Dan terakhir pemakai kendaraan bermotor. Hanya ada satu mimpi setelah melihat ini semua. Merindu bandung seperti tokyo, suatu saat nanti. Bagaimana caranya? Wartakanlah budaya ini kepada anak-anak dan ajarilah mereka.
Jepang, Tokyo, 9 Juni 2014
copyright (c) 2014 by galih sedayu
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Antara Ketenangan & Kekuatiran Raja
Teks & Foto : galih sedayu
Dibangun pada tahun 1758 dan berdiri tegak sejak tahun 1965. Hasil karya duet Tumenggung Mangundipuro dan Demang Tegis (seorang arsitek berkebangsaan portugis) pada era kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono I inilah, yang melahirkan sebuah situs bangunan bersejarah di pulau jawa bernama Taman Sari Yogyakarta. Sebelumnya karena mengundurkan diri, tanggung-jawab dari Tumenggung Mangundipuro terpaksa diambil alih oleh Pangeran Notokusumo. Meski sebenarnya pembangunan taman atau kebun rekreasi di dalam area benteng keraton yogyakarta ini didanai sepenuhnya oleh rakyat madiun di bawah kepemimpinan Bupati Tumenggung Prawirosentiko. Luas taman ini sekitar 10 hektare yang terdiri atas kurang lebih 57 bangunan baik berupa gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, maupun danau buatan beserta pulau buatan dan lorong bawah air. Secara keseluruhan komplek Taman Sari ini terbagi menjadi 4 bagian yaitu bagian pertama berupa danau buatan di sebelah barat, bagian kedua berupa Pemandian Umbul Binangun di sebelah selatan bagian pertama, Pasarean Ledok Sari dan Kolam Garjitawati di sebelah selatan bagian kedua serta bagian terakhir di sebelah timur bagian pertama & kedua yang saat ini hanya terlihat bekas jembatan gantung & sisa dermaga. Beruntung hingga kini kita masih dapat melihat sebagian situs bersejarah Istana Air Taman Sari Yogyakarta yang telah menjadi cagar budaya tersebut. Karena di sanalah sesungguhnya mengalir sebuah cerita perihal kehidupan raja-raja jawa yang konon menjadi legenda.
Jogyakarta, Tamansari, 2 Maret 2014
copyright (c) 2014 by galih sedayu
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.


























































































































