I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Posts Tagged ‘galih sedayu

Estafet Kehidupan Dari Seorang Bunda Rahim | My Personal Book Project : Deus Providebit

leave a comment »

 

oleh galih sedayu

Sebab Segala Sesuatu Adalah MilikMu”

Desember itu akhirnya datang dan menyapa. Bulan dimana seharusnya aku merayakan segala kesukacitaan dalam hidup, dari mulai hari ulang tahun istri tercinta, momen keceriaan natal dan masa kelahiran buah hati yang telah lama dinantikan. Namun ternyata di bulan yang penuh kasih ini, Sang Maha Pengatur telah memiliki rencana lain yang penuh misteri. Di penghujung bulan desember, tepatnya tanggal 23 Desember 2015, tatkala mentari pagi tengah hangat bersinar, aku dihadapkan kepada sebuah realita yang sangat teramat pahit. Christine Listya, istriku terkasih telah dipanggil oleh Maha Kuasa dan berpulang ke pangkuan Sang Ilahi. Oh Tuhan…Tya. Ia wafat setelah berjuang dan berhasil mengantarkan bayi yang dikandungnya selama 9 bulan ke bumi ini.

Sebelumnya pada malam tanggal 21 desember 2015, aku mengantar Tya pergi ke dokter untuk memeriksakan kandungannya. Setelah diperiksa, saat itu dokter menyatakan bahwa plasenta bayi yang dikandung Tya telah mengalami perkapuran dan sebagian air ketubannya telah keruh. Karena usia kehamilan Tya telah mencapai 9 bulan, maka dokter menyatakan bahwa ia harus segera melahirkan. Namun karena Tya menginginkan proses persalinan secara normal, dokter akhirnya memberikan proses induksi terlebih dahulu untuk menstimulan kontraksi. Bertepatan dengan hari ibu, yaitu pada tanggal 22 Desember 2015, aku kembali mengantar Tya ke rumah sakit untuk melakukan proses induksi. Ternyata proses induksi yang pertama tidak membuat Tya kontraksi sehingga dokter berencana untuk melakukan proses induksi yang kedua. Atas saran dokter, Tya diminta untuk beristirahat dan menginap semalam di rumah sakit sebelum dilakukan proses induksi yang kedua. Pada saat subuh tanggal 23 Desember 2015, dokter kembali memeriksa kandungan Tya. Namun setelah diperiksa, dokter menyatakan denyut jantung bayinya tidak stabil, sehingga dokter tidak berani mengambil resiko untuk melakukan proses induksi selanjutnya. Dan seketika itu pula dokter memutuskan untuk melakukan proses persalinan secara cepat atau operasi caesar.

Operasi caesar dilakukan sekitar pukul enam pagi. Karena tidak diperkenankan masuk ke ruang operasi, akhirnya aku menunggu di luar ruangan. Sekitar pukul setengah tujuh pagi, aku mendapatkan kabar baik bahwa buah cinta kami telah lahir ke dunia dengan sehat dan selamat. Aku masih ingat ketika itu seorang petugas rumah sakit memanggilku untuk menunggu di depan pintu ruangan operasi bersalin. Tak lama kemudian, dokter anak kami beserta dua orang suster datang menghampiriku. Setelah mengucapkan selamat dan memperlihatkan bayi kami yang tengah dipangku oleh suster, dokter anak kami memberikan kabar bahwa bayi kami tersebut lahir dengan berat 3270 gram, panjang tubuhnya 50 cm serta memiliki tangisan yang keras. Bayi kami tercatat lahir pada pukul 06.26 pagi. Aku pun mengucap syukur seraya berdoa atas anugerah yang kami dapatkan. Setelah itu aku diminta untuk kembali menunggu di luar ruang operasi. Sepeminuman teh pun berlalu.

Sekitar pukul tujuh pagi, aku kembali dipanggil oleh petugas rumah sakit. Di dalam ruangan, dari kejauhan aku melihat dokter kandungan kami tengah menangis dan mengulurkan kedua tangannya kepadaku sembari berkata “Pak, mohon maaf istrinya tidak dapat diselamatkan. Istri bapak meninggal dunia. Setelah melahirkan anak bapak, beberapa menit kemudian istri bapak batuk dan tiba-tiba tubuhnya membiru. Saya tidak tahu mengapa ini bisa terjadi”. Kira-kira seperti itulah kalimat yang dikatakan oleh dokter kepadaku. Belakangan hari pihak rumah sakit menduga bahwa kematian Tya barangkali disebabkan karena emboli yakni air ketuban yang masuk ke pembuluh darah dan menyumbat kerja jantung. Aku langsung tersentak, rasanya seperti disambar petir di siang hari bolong. Aku pun menunduk dan rasanya tak kuat menopang tubuh yang tiba-tiba lemas dan lunglai. Setelah itu, seorang suster memberi kabar bahwa ada respon kecil dan denyut nadi yang muncul dari Tya. Kontan saja setelah mendapat kabar itu, semua tim dokter kembali bekerja untuk melakukan tindakan demi menyelamatkan nyawanya. Dari ruang operasi yang berada di lantai dua rumah sakit, kemudian Tya dibawa ke ruang ICU yang berada di lantai tiga. Berkali-kali Tya diberikan kejut listrik dengan menggunakan DC Shock atau Defibrillator, dengan harapan agar detak jantungnya kembali teratur.

Meski manusia sudah berusaha, namun apa daya bila Tuhan punya kehendak lain. Setelah dokter menyatakan sebanyak 3 kali berturut-turut bahwa istriku Tya telah meninggal namun kemudian dinyatakan kembali bahwa masih ada denyut nadi, akhirnya aku pun menghampiri istriku Tya untuk kemudian memeluknya dan berdoa agar diberikan yang terbaik sesuai kehendak Sang Penentu Takdir. Baru setelah itu, Tya dinyatakan benar-benar meninggal oleh dokter dan denyut jantungnya pun berhenti berdetak. Istriku terkasih telah pergi ke pangkuan Sang Khalik dengan tenang. Aku mendekapnya dengan erat dan air mataku pun bergelinang deras.

Oh Tuhan…ia kini milik-Mu. Aku harus menerima kenyataan bahwa kekasihku yang menjadi pasangan hidupku kini kembali pada-Mu. Benar rupanya seperti yang tertulis dalam kitab suci. “Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan” (Roma 14:8)

Morituri te salutant, Mereka yang akan mati memberi salam padamu”

Setelah kepergian sang istri, aku banyak mendapatkan pertanyaan baik dari keluarga maupun dari para sahabat bahwa apakah aku memiliki firasat sebelumnya. Saat itu, aku menjawab bahwa tidak ada firasat sedikitpun mengenai kejadian yang mengenaskan ini. Namun kemudian aku berusaha memutar kembali ingatan dan akhirnya menemukan bahwa barangkali firasat itu memang ada namun mungkin tidak kurasakan. Kadang aku bertanya mengapa Tya sepertinya ingin melakukan semuanya sendirian dalam berumah tangga. Dari mulai mencuci dan menyetrika pakaian, membersihkan rumah, memasak makanan, hingga mengasuh anak kami Eufrasia Tara Sedayu. Tya sama sekali tidak mau mempekerjakan pembantu rumah tangga ataupun seorang baby siter meski kami mampu membiayainya. Barangkali jawabannya adalah Tya sangat menyadari bahwa waktunya sangat sedikit.

Di sisa hidupnya, ia sepertinya ingin memberikan yang terbaik segala apa yang dapat dilakukan demi mencurahkan cinta kasihnya kepada anak, suami, keluarga serta para sahabatnya. Pada masa kehamilannya mencapai usia 7 bulan, ia sangat ingin menyapa keluarga dan para sahabatnya dengan segala perhatian lebih yang ditunjukkannya. Hampir setiap malam ia sering berkunjung ke rumah orang tuanya sendirian meski hanya sekedar mampir untuk membuka kulkas ataupun sambil bercerita singkat. Ia pun sempat memaksa pergi ke bali untuk menghadiri pernikahan salah seorang keluarga kami di sana meski sebelumnya sudah dilarang. Belum lagi ia banyak menghadiri acara pertemuan dan pernikahan para sahabatnya yang ada di bandung dan juga mengunjungi para sahabatnya yang berada di luar kota meski sekedar berjumpa singkat.

Pernah suatu saat ketika kami berada di dapur bersama, Tya sempat berkata seperti ini kepadaku, “Mas, mbok yah mulai belajar masak makanan eufra. Nanti kalau aku ga ada gimana?”. Tentunya saat itu aku hanya berpikir bahwa ucapan seperti itu hanya biasa saja. Sehari sebelum kami berangkat ke rumah sakit, Tya pun sempat mengucapkan hal ini kepadaku sembari membuka lemari pakaian anak-anak, “Mas, kalau nanti ada apa-apa, di dalam lemari ini ada perlengkapan mandi dan popok untuk balu yah”. Balu adalah nama panggilan yang diberikan untuk bayi kami yang masih berada di dalam kandungan kala itu. Ternyata ia memang sudah mempersiapkan semua kebutuhan anak-anaknya dengan baik.

Sekitar sebulan sebelum Tya melahirkan, pada suatu malam di ranjang tempat kami beristirahat, tiba-tiba aku melihatnya meneteskan air mata sambil memandang kosong ke arahku. Aku pun bertanya kepadanya mengapa ia menangis. Namun ia tidak berkata sepatah katapun selain menunjukkan wajahnya yang sedang bersedih entah kenapa. Setelah itu yang bisa aku lakukan hanya memeluknya dan segera menyeka air matanya. Belakangan aku sadari bahwa barangkali saat itu ia ingin mengucapkan selamat tinggal melalui tangisan dan pandangan kosongnya. Entahlah…hanya Tuhan yang tahu pastinya.

Sebenarnya sejak dulu, aku sering diberikan mimpi sebelum mengalami kejadian yang berpengaruh dalam hidup. Entah itu kebetulan atau tidak, namun cerita mimpi yang aku alami selalu menjadi bagian dari kejadian hidupku. Seminggu sebelum kepergian Tya, seperti biasa aku pun mengalami mimpi yang masih menjadi misteri. Dalam mimpi itu aku tengah menggendong seorang bayi yang mungil. Lalu sekonyong-konyong dari atas langit muncul seberkas sinar putih yang menyilaukan mata dan kemudian bersinar menerangi wajah bayi yang sedang aku pangku. Saat itu aku masih tidak tau apa sebenarnya arti mimpi tersebut. Bahkan setelah Tya menanyakan apakah aku pernah bermimpi sesuatu, aku pun menceritakan kepadanya perihal mimpi tersebut. Belakangan aku mencoba menafsirkan mimpi tersebut, barangkali sinar tersebut adalah roh sang ibu yang menitis kepada sang bayi, sekaligus berkat roh kudus yang mengambil nyawa sang ibu demi melanjutkan kehidupan sang bayi. Sekali lagi, aku tidak tahu pasti…semua itu tentunya sebuah misteri Ilahi tersendiri. Bukankah itu di luar kuasa manusia?

Kedatanganmu dalam hidupku begitu cepat, sama seperti kepergianmu”

Tahun 2009 aku bertemu dengan Christine Listya Budhi Wijayanti Salasa, anak kedua dari pasangan orang tua yang sangat luar biasa, Nicodemus Wahyudi Salasa & Cecilia Shierly Ekawati Susila. First of May, pada tahun 2010 aku menikah dengannya. Segala peristiwa suka duka yang kami alami dan lalui bagaikan takdir yang tak bisa dihindarkan. Namun kami berdua tetap menjalani semuanya dengan sepenuh hati. Dari mulai kehilangan anak kembar kami yang pertama Ancilla Trima Sedayu sehari setelah dilahirkan, dirawatnya anak kembar kami yang kedua Eufrasia Tara Sedayu yang hidup dalam inkubator selama 3 bulan lamanya di rumah sakit karena prematur, hingga membesarkan eufra anak kami yang sangat spesial itu. Namun ternyata tahun 2015 adalah akhir perjalanan hidup kami bersama. Sungguh, aku hanya diberikan waktu 6 tahun untuk menyadari bahwa ia adalah seorang gadis yang memberi kehangatan bagiku untuk tetap hidup, bahwa ia adalah seorang ibu yang memberi kasih bagiku dan keluarga untuk tetap bersyukur, bahwa ia adalah seorang malaikat yang memberi sayap bagiku dan keluarga untuk tetap terbang. Hanya kebaikan lah yang selalu dapat ku wartakan perihal dirinya. Paras yang cantik, pribadi yang sangat perhatian, sosok yang selalu ceria dan penuh tawa, gadis yang sangat bertanggung-jawab, perempuan yang kerap menghadirkan empati yang mendalam, semuanya terangkum indah di dalam dirinya.

Bersamanya aku selalu merasakan mentari pagi di bukit, debur ombak di pantai, serta semilir angin di gunung. Tya memang benar-benar sang kekasih yang tak tergantikan. Dear. Hanya itulah sebutan kasih yang dapat aku berikan kepadanya setiap hari selagi memanggil serta menyebut dirinya. Pedih rasanya tatkala merasakan luka ditinggal pergi oleh seseorang seperti dirinya. Enam tahun lamanya aku bisa mengenal dan hidup dengannya adalah momen yang sungguh langka. Tak terbayangkan bila aku diberi kesempatan untuk hidup bersamanya selama 10 tahun, 20 tahun atau 50 tahun lagi dan kemudian ditinggal pergi olehnya. Aku yakin luka yang dialami kemudian tak akan sembuh oleh waktu. Agaknya Tuhan telah mengatur bahwa cukup enam tahun saja bagiku untuk menjalani kehidupan sementara bersamanya di bumi.

Finis vitae sed non amoris…Akhir dari hidup, namun bukan akhir dari cinta. Bahkan maut pun tak akan bisa memisahkan kami. Setidaknya cinta yang telah kami jalin, cinta yang telah kami rangkai, cinta yang telah kami tumbuhkan. Karena kehidupan harus tetap dilanjutkan. Aku pun harus bisa menerima kepergian seseorang yang paling dicintai di muka bumi ini dan berpasrah diri kepada Sang Pencipta.

Selalu ada pelangi setelah badai menerjang. Kini pelangi itu nyata. Tuhan ternyata menganugerahi kami seorang bayi yang cantik, sehat dan menggemaskan. Estafet kehidupan telah diberikan dari Christine Listya Sedayu kepada sang putri yang baru saja dilahirkan Eleonora Thalia Sedayu. Tuhan ternyata Maha Penghibur. Thalia. Begitulah nama bayi suci ini disebut. Sebuah nama yang diberikan oleh Tya, sang ibu yang entah mengapa begitu ngotot ingin mencari dan menamakan sendiri bayinya. Thalia memiliki arti “tumbuh dengan baik”, tentunya sebagaimana doa dan harapan yang dimaksud oleh sang ibu sendiri.

Biarlah buku ini menjadi cermin jiwamu”

Dear…

Entah mengapa aku selalu ingin mengingatmu setiap hari ketimbang mengubur kenangan tentangmu. Ya…aku sadar memang kini engkau telah tiada. Namun bagiku engkau hanya terpisah dariku dalam batas tembok yang bernama dimensi ruang dan waktu. Dimensi yang dimiliki manusia dan dimensi yang dimiliki Sang Ilahi. Aku selalu percaya akan tiba saatnya kita bersama-sama lagi. Aku, tara, thalia beserta engkau tya dan trima yang telah pergi mendahului kami. Dimana kita semua akan menikmati sebuah taman hijau dengan mataharinya yang abadi. Karena telah tertulis bahwa sesungguhnya surga dan bumi penuh kemuliaan Tuhan. Oleh sebab itu aku ingin tetap memuliakan engkau di surga meski jauh dari bumi.

Tiada lagi yang dapat kupersembahkan kepadamu, selain sebuah buku perihal dirimu ini. Aku mencoba menghimpun tulisan-tulisan dari blog pribadimu, foto-foto dan jejak lainnya tentangmu ke dalam buku ini. Tak mungkin memang memuat seluruh catatan kehidupan yang dimiliki olehmu ke dalam sebuah buku. Namun setidaknya melalui buku ini aku dapat merasakan sebuah tempat untuk mengenang kembali segala kebaikan perihal dirimu. Aku memang memilih cara seperti itu. Agar buku ini selalu menjadi memori yang selalu menyentuh sanubari dan melekat di hatiku selamanya. Kelak, bila anak-anak kita sudah tumbuh besar nanti, mereka akan melihat dengan bangga bahwa ibu mereka adalah seorang bunda kesayangan Allah.

Deus Providebit”. Begitulah judul buku persembahan ini demi mengenang seorang Christine Listya. Kalimat yang artinya “God will provide atau Tuhan akan menyediakan” ini sebenarnya sempat diposting oleh Tya di media sosial path miliknya, tepat sehari sebelum proses persalinan. Tya memposting foto tangan kanannya yang tengah menggenggam sebuah alat kontrol dengan latar belakang mesin pencatat grafik detak jantung bayi serta menulis statusnya di path dengan kalimat ini “Deus providebit nostro, Deus providebit quid egemus”. Saat itu ia sudah berada di rumah sakit untuk mempersiapkan kelahiran anak kedua kami.

Selalu akan ada jawaban bagi setiap doa yang dipanjatkan”

Selalu akan ada doa yang dipanjatkan untukmu Tya. Apalagi aku percaya bahwa Tuhan selalu menjawab doa yang ditujukan untukmu. Kini aku, kedua orang tuaku yang tercinta (Agustinus Michael Kayat & Dorothea Komyana) serta kedua orang tuamu yang sangat aku hormati (Nicodemus Wahyudi Salasa & Cecilia Shierly Ekawati Susila) akan membantu untuk membesarkan kedua putri dan bidadari kita, Eufrasia Tara Sedayu dan Eleonora Thalia Sedayu. Biarlah engkau tinggal di surga keabadian demi menemani putri kita tersayang Ancilla Trima Sedayu. Berkatmu juga, kini sahabat kita yang sangat baik luar biasa, Aprilia Melissa menjadi mama kedua bagi Thalia. Setiap hari April memberikan air kehidupan dan menyusui anak kita Thalia melalui Air Susu Ibu (ASI) yang dimilikinya. Belum lagi sejumlah ASI yang diberikan oleh para ibu pendonor lainnya. Sungguh…engkaulah alasan utama mengapa begitu banyak orang baik yang hadir bagi keluarga kita. Tentunya karena engkau Tya, yang telah banyak menanam begitu banyak manusia dalam kehidupanmu. Sehingga Tuhan pun memberikan anugerah terhadap segala apa yang dirimu tuaikan kepada sesama.

Karena kata-kata dalam doa tidak mengenal waktu. Ia harus diucapkan dan dituliskan agar kita menyadari akan keabadiannya. Aku haturkan doa ini kepadamu agar kiranya segala untaian kata yang terucap ini dihembuskan oleh angin menuju angkasa. Dan kiranya langit di surga segera menangkapnya agar cium dan pelukku selalu engkau dekap erat di sana. Meski tubuh kita dipisahkan, namun jiwa kita tetap ada di tangan cinta dan dirimu yang paling aku kasihi akan semakin tampak nyata dalam kejauhan.

Tuhan…
Sang pemilik langit dan bumi,
perkenankanlah hamba-Mu Christine Listya berpulang kepada-Mu,
dan kiranya Engkau memberi keselamatan baginya di Surga.
Tiupkanlah nafasnya ke dalam kebun-Mu,
agar harum semerbaklah selamanya.

Dear Christine Listya…
Pagiku akan selalu membayangkanmu.
Siangku akan selalu mengingatmu.
Malamku akan selalu mengenangmu.
Hatiku kini terbelah dua, 
satu hati yang menangis karena kepergianmu,
satu hati lainnya yang bersabar untuk kembali hidup denganmu.
Sebab seribu tahun sama seperti hari kemarin apabila berlalu.
Aku akan mulai memotret kenangan yang berasal dari cahaya hatimu,
agar engkau kelak melihat foto itu dan memajangnya dalam dinding cinta abadi bersamaku.

Dear Christine Listya…
Sejauh timur dari barat,
Setinggi langit di atas bumi,
Demikian pula kasih yang akan kupersembahkan kepadamu.
Meski sang ajal bertahta dan kini menjemputmu,
namun aku tak kuatir karena roh mu akan selalu menjadi terang bagiku.

Peluk dan cium untukmu…
Wahai cinta abadiku…
Sang Tulang Rusukku…
Aku cinta kamu selama-lamanya.

deus providebit_blog

01

02

03

04

05

13

06

07

08

09

10

11

12

Copyright (c) 2016 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from galih sedayu.

Smartphone Photography

leave a comment »

IMG_6845_blog

#45 | “Joy of Green” | Cibeunying Park, Bandung

IMG_6669_blog

#44| “We Are Still Young” | Kampung Dago Pojok, Bandung

IMG_6615 2_blog

#43 | “School Break” | Anggrek Park, Bandung

IMG_5683_blog

#42 | “This is my identity” | Cibeunying Park, Bandung

IMG_5187_blog

#41 | “Big Heart Street Concert” | Dago Car Free Day, Bandung

IMG_5137_blog

#40 | “Drive Through” | Diponegoro Street, Bandung

IMG_4312_blog

#39 | “Meow, Kukuruyuk & Hus” | Kampung Naga, Garut

IMG_5130_blog

#38 | “Looking fot Hello” | Diponegoro Street, Bandung

IMG_4203_blog

#37 | “Good Education” | Dago Car Free Day, Bandung

IMG_4311_blog

#36 | “Loving Mother” | Kampung Naga, Garut

IMG_4434_blog

#35 | “Sarung Fun” | Kampung Dago Pojok, Bandung

IMG_4310_blog

#34 | “Simple Face, Simple Living”| Kampung Naga, Garut

IMG_4204_blog

#33 | “Hoping for Penny” | Dago, Bandung

IMG_0919_blog

#32 | “Subagya” | Cihapit, Bandung

IMG_3378_blog

#31 | “Killing Time” | Riau Street, Bandung

ball head

#30 | “Ball Head” | Dago, Bandung

rush

#29 | “Rush” | PVJ Mall, Bandung

home without the window

#28 | “Home Without the Window” | Cilaki, Bandung

morning ride

#27 | “Morning Ride” | Dago, Bandung

evening talk with bandung mayor

#26 | “Evening Talk with Bandung Mayor” | City Hall, Bandung

let's make fun with our faces

#25 | “Let’s Make Fun with Our Faces” | Dago, Bandung

rainy moment

#24 | “Rainy Moment” | BIP Gramedia, Bandung

walk to dago pojok village

#23 | “Walk to Walk” | Kampung Dago Pojok, Bandung

don't stand so close to me

#22 | “Don’t Stand So Close To Me” | Dago, Bandung

gas gas girls

#21 | “Gas Gas Girls” | A.Yani Street, Bandung

blown red

#20 | “Blown Red” | Suci Street, Bandung

no rainy day

#19 | “No Rainy Day” | Selasar Sunaryo, Bandung

feeling alone

#18 | “Feeling Alone” | Kampung Dago Pojok, Bandung

home & work

#17 | “Home & Work” | Dayeuh Kolot, Bandung

sunday bike

#16 | “Sunday Bike” | Dayeuh Kolot, Bandung

solace for low people

#15 | “Happines Inside” | Dayeuh Kolot, Bandung

human dialoque

#14 | “Human Dialoque” | Braga Street, Bandung

i-see #13

#13 | “Five For Mercy” | Terusan Buah Batu Street, Bandung

galih sedayu

#12 | “Noon Break” | Cilaki Market, Bandung

galih sedayu

#11 | “Rainy Run” | Virgin Beach, Bali

galih sedayu

#10 | “Holiday” | Gianyar, Bali

img_5152_blog

#9 | “City Story” | Diponegoro Street, Bandung

img_3122_blog

#8 | “Mistery Lady” | Air Foto Network, Bandung

img_25281

#7 | “Heaven for Everyone” | Merdeka Street, Bandung

img_2602

#6 | “A Little Nap for Street Barbershop” | Sudirman Street, Bandung

img_3901_blog

#5 | “Millenium Boy” | Pasir Impun, Bandung

img_2074_blog1

#4 | “Where The Street Has So Many Faces” | Riau Street, Bandung

img_2125_blog

#3 | “Sleeping Like A Log” | Cikapundung Barat Street, Bandung

img_2126_blog

#2 | “Waiting For A Ride” | Cilaki Street, Bandung

img_1912_blog

#1 | “A Little Metal” | Babakan Siliwangi Forest, Bandung

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

December 18, 2015 at 4:12 am

“A Salty Dog” | A Photography Project by galih sedayu

leave a comment »

Entah mengapa hati saya selalu terketuk untuk menekan tombol kamera tatkala melihat anjing-anjing yang bermain dan berkeliaran di tepi pantai. Sejauh mata menyimak, mereka bagaikan mahluk pelengkap yang turut membentuk citra keindahan dan menciptakan nikmat pesona yang beragam dari sebuah pantai. Kisah persahabatannya dengan manusia yang sudah sejak dulu kala, seolah membuat hidup dimanapun menjadi tak lengkap tanpa kehadiran mahluk ini. Sepertinya alam pantaipun sangat ingin disentuh oleh mereka. Ibarat nuansa blues yang mengalun dalam sebuah musik, mahluk inipun menjelma menjadi sang pelipur lara bagi semua orang yang mendatangi pantai. Di sini, di pantai manapun, tak boleh ada kata umpatan “Dasar anjing!”.

Teks & Foto / Text & Photographs: galih sedayu

Thanks to Procol Harum for the Inspiring Song, “A Salty Dog”

#22KaryaFoto

IMG_7155

Balangan Beach, Bali – 2015

IMG_0459

66 Beach, Bali – 2015

IMG_0581

66 Beach, Bali – 2015

IMG_0018

Padang-Padang Beach, Bali – 2015

IMG_0596

66 Beach, Bali – 2015

IMG_0501

66 Beach, Bali – 2015

IMG_7048

Balangan Beach, Bali – 2015

IMG_0514

66 Beach, Bali – 2015

IMG_4013

Batu Karas Beach, Pangandaran – 2015

IMG_0524

66 Beach, Bali – 2015

IMG_6393

Kuta Beach, Bali – 2015

IMG_0566

66 Beach, Bali – 2015

IMG_0577

66 Beach, Bali – 2015

IMG_2645

Batu Karas Beach, Pangandaran – 2015

IMG_6661

Balangan Beach, Bali – 2015

IMG_7169

Balangan Beach, Bali – 2015

IMG_7181

Balangan Beach, Bali – 2015

IMG_6712

Balangan Beach, Bali – 2015

IMG_9987

Padang-Padang Beach, Bali – 2015

IMG_7088

Virgin Beach, Bali – 2013

IMG_7191

Virgin Beach, Bali – 2013

IMG_7105

Virgin Beach, Bali – 2013

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

December 15, 2015 at 3:51 am

Indonesia Berdendang Bersahutan di Penang | Indonesia Festival | 28-29 November 2015, Penang, Malaysia

leave a comment »

Teks : galih sedayu
Foto : Dudi Sugandi, galih sedayu, Pam Ardinugroho & Ruli Suryono

Indonesia adalah negara yang penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Barangkali inilah salah satu alasan mengapa Indonesia mendapat kehormatan untuk mempromosikan wisata tanah air kita di Penang, Malaysia. Selama dua hari, dari tanggal 28-29 November 2015, sejumlah kolaborator yang terdiri dari pekerja kreatif di bidang musik, seni pertunjukkan, tari, permainan anak tradisional, fotografi, video, serta desain hadir di Penang dalam sebuah perhelatan yang bernama Indonesia Festival. Mewakili komunitas musik ada nama 4 Peniti {Deconstructive, Logarithm & Connecting Band}, Homogenic {Electronic Band} dan Street Traveller {Folks & Blues Band}. Kemudian ada Tantanggaranda83 yang mewakili Bandung dari komunitas seni pertunjukkan, Komunitas Hoong yang mewakili komunitas permainan anak tradisional, serta Wanna Be Dancer yang mewakili komunitas tari. Terakhir mewakili Kota Malang yang turut berkolaborasi yaitu Komunitas Malang Armore Carnival. Para kolaborator ini menyemarakkan acara Indonesia Festival yang mengusung tema “Sharing Our Similarities, Celebrating Our Differences”. Indonesia Festival ini diselenggarakan oleh Wonderful Indonesia dan Kementrian Pariwisata Indonesia bekerja sama dengan Merah Putih Persada dan Ruang Kolaborasa dari Bandung. Kebetulan saya dipercaya untuk menjadi Creative Director dari Indonesia Festival tersebut.

Padang Esplanade atau Padang Kota Lama, sebuah lapangan rumput hijau nan luas di kota Georgetown, Penang menjadi sebuah arena kolaborasa dan ruang kreativitas bagi kegiatan Indonesia Festival tersebut. Padang Esplanade ini menghadap ke arah laut dimana sejauh mata memandang tampak jembatan Pulau Penang yang mengubungkan Bayan Lepas di Pulau Penang dengan Seberang Prai di daratan Malaysia. Selain itu Penang City Hall atau Dewan Bandaraya Pulau Pinang, sebuah bangunan bersejarah yang dibuka sejak tahun 1903, menjadi salah satu latar pemandangan yang unik jika kita menginjakkan kaki di area hijau Padang Esplanade. Dekorasi Indonesia Festival inipun disuguhkan dengan apik dari mulai tenda peserta pameran yang berwarna-warni, instalasi balon dalam skala gigantik, infographic wall perihal pariwisata indonesia, outdoor cinema, photo booth, serta pameran foto. Belum lagi ratusan balon cair {bubbles} yang beterbangan di tiup angin, semakin menjadikan atmosfir yang segar di area tersebut.

Meski para kolaborator Indonesia Festival ini diundang ke Penang sebagai tamu atau pengisi acara, namun pada kenyataannya mereka tetap berlaku dan bertindak seperti pemilik acara. Barangkali itulah semangat memiliki Indonesia yang ditunjukkan oleh kita semua. Sejumlah kendala yang ditemui di lapangan saat penyelenggaraan acara, tanpa berpikir panjang segera direspon oleh mereka dengan solusi, bukan dengan keluhan. Tak heran bila di sana grup musik 4 Peniti terlihat ikut membantu menyiapkan dan mengatur sound system panggung, tim dokumentasi yang terlihat membantu mengatur dan menyusun properti dekorasi acara, serta komunitas hoong yang ikut membantu membersihkan sampah. Semuanya dilakukan dengan senang hati dan penuh ikhlas. Saat pembukaan acara, ribuan kolecer menjadi simbol pemersatu sekaligus memanggil semua pengunjung agar dapat menari dan bergembira bersama di tengah lapangan. Meskipun cuaca matahari yang menyengat di kala siang dan guyuran hujan setiap malam di Padang Esplanade, namun itu semua tidak menyurutkan semangat dan keceriaan tim kami untuk bisa menghibur warga Penang. Bahkan menari dan berdansa di saat hujan turun menjadi sebuah atraksi yang memikat sembari ditemani alunan musik yang dihadirkan oleh para musisi Indonesia.

Dua hari di Penang memang terasa singkat bagi para kolaborator Indonesia Festival. Namun tawa, canda dan suka cita yang dihadirkan di sana adalah jejak yang selalu membekas di hati. Apalagi esensi sebuah festival internasional adalah mewartakan nilai-nilai kebaikan yang dimiliki oleh sebuah bangsa. Dalam hal ini, kita semua mencoba memberikan pesan dan kesan yang baik demi Indonesia, demi tanah air, demi bumi pertiwi. Keramahan dan kehangatan, solidaritas dan toleransi, kekayaan dan ragam budaya semestinya dapat menjadi ciri khas dan karakter bagi bangsa kita. Tentunya dalam persaudaraan kita mesti percaya bahwa ia adalah benteng terakhir tatkala bangsa kita mengalami kesulitan. Oleh karenanya, tetaplah membuat simpul yang erat bagi dunia.

***

Text : galih sedayu
Photography : Dudi Sugandi, galih sedayu, Pam Ardinugroho & Ruli Suryono

Indonesia is a country full of joy and happiness. Perhaps this is one reason why Indonesia has the honor to promote our country tour in Penang, Malaysia. For two days, from 28-29 November 2015, a number of collaborators consisting of creative workers in music, performing arts, dance, traditional children’s games, photography, video, and design were present at Penang in an event called Indonesia Festival. Representing the music community there are the names 4 Peniti {Deconstructive, Logarithm & Connecting Band}, Homogenic {Electronic Band} and Street Traveler {Folks & Blues Band}. Then there is Tantanggaranda83 representing Bandung from the performing arts community, Hoong Community representing the traditional children’s game community, as well as Wanna Be Dancer representing the dance community. Last representing the Malang City who also collaborated the Malang Community Armore Carnival. These collaborators are enlivening the Indonesia Festival event with the theme “Sharing Our Similarities, Celebrating Our Differences”. Indonesia The festival is powered by Wonderful Indonesia and the Indonesian Ministry of Tourism in collaboration with Merah Putih Persada and Ruang Kolaborasa. I happen to be trusted to become Creative Director of Indonesia Festival.

Padang Esplanade or Padang Kota Lama, a large green grass field in Georgetown city, Penang becomes an arena of collaboration and creativity space for the activities of Indonesia Festival. The Esplanade is facing towards the sea where as far as the eye can see the Penang Island bridge that connects Bayan Lepas in Pulau Penang with Seberang Prai in mainland Malaysia. In addition Penang City Hall or Pulau Pinang Airport, a historic building that opened since 1903, became one of the unique scenery setting if we set foot in the green area of ​​Padang Esplanade. The decoration of Indonesia Festival beautifully presented from the start of the exhibition tent colorful, the installation of balloons in gigantic scale, infographic wall about Indonesia tourism, outdoor cinema, photo booth, and photo exhibition. Not to mention the hundreds of liquid bubbles that fly in the wind, making the atmosphere fresh in the area.

Although the Indonesian collaborators of this Festival are invited to Penang as guests or performers, in reality they remain in effect and act like the owner of the event. Perhaps that’s the spirit of having Indonesia shown by us. A number of obstacles encountered in the field during the event, without a second thought immediately responded by them with a solution, not with a complaint. It’s no wonder there’s a group of 4 Peniti musicians helping to prepare and organize the stage sound system, a team of documentation that looks to help organize and organize the decoration of the show, as well as the hoong community who helped clean up the trash. Everything is done with pleasure and full of sincerity. At the opening ceremony, thousands of kolecers became a unifying symbol as well as summoning all visitors to dance and have fun together in the middle of the field. Despite the stinging sun in the afternoon and the rain every night at Padang Esplanade, but it does not lowered the spirit and joy of our team to be able to entertain the citizens of Penang. Even dancing and dancing in the rain fell into a charming attraction while accompanied by the music presented by Indonesian musicians.

Two days in Penang was short for Indonesian Festival collaborators. But the laughter, jokes and joys presented there is a trail that always made an impression on the heart. Moreover, the essence of an international festival is to proclaim the values ​​of goodness owned by a nation. In this case, we all try to give a message and a good impression for Indonesia, for the homeland, for the sake of the earth. Friendliness and warmth, solidarity and tolerance, richness and diversity of cultures should be characteristic and character for our nation. Surely in brotherhood we must believe that he is the last bastion when our nation is experiencing difficulties. Therefore, keep a tight rope for the world.

poster IF

02

03

48

04

05

06

07

08

10

12

13

14

15

16

17

18

IMG_8792_blog

19

20

21

22

24

25

26

27 a

27 b

49

29

30

31

32

33

34

35

36

37

38

39

40

41

42

43

50

45

44

46

47

Copyright (c) by Ruang Kolaborasa
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from Ruang Kolaborasa.

Lenggak Lenggok Bandung dan Kreasinya | Crafashtival, 7 November 2015

leave a comment »

 

Teks : galih sedayu | Foto : galih sedayu & Air Foto Network

Tentunya sudah sejak dulu kita sering mendengar bahwa Kota Bandung menyandang predikat sebagai Kota Kreatif. Sebutan ini tentunya tidak bisa dilepaskan dari citra warga Kota Bandung yang kreatif. Karenanya, produk-produk kreatif yang dihasilkan oleh warga Kota Bandung menjadi salah satu alasan mengapa Kota Bandung layak disebut sebagai Kota Kreatif.

Craft & Fashion merupakan sub sektor industri kreatif di Kota Bandung yang saat ini terus berkembang pesat. Beberapa survey dan penelitian yang ada, kerap menempatkan keduanya sebagai sub sektor industri kreatif yang memberikan kontribusi ekonomi yang cukup besar bagi Kota Bandung. Faktanya, berbagai jenis produk kreatif di bidang craft & fashion pun dilahirkan dan diciptakan di Kota Bandung.

Untuk itulah Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Koperasi UKM & Perindustrian Perdagangan Kota Bandung bekerjasama dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Bandung dan Ruang Kolaborasa, menggagas sebuah kegiatan yang bernama “Crafashtival”, yaitu sebuah festival sehari craft & fashion yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 7 November 2015 bertempat di Jalan Cikapundung Timur, Bandung. Dari mulai Pameran Craft & Fashion, Edu Talkshow & Workshop, Kompetisi Ilustrasi Fashion & Fotografi, Kampanye Cinta Produk Bandung, Konser Musik hingga Instalasi Manequin disuguhkan dengan meriah oleh berbagai komunitas yang ada di Kota Bandung. 

Splash Your Best” menjadi tema yang diangkat melalui Crafashtival ini sehingga diharapkan mampu mempersatukan percikan-percikan kreativitas yang disemburkan oleh para pelaku industri kreatif khususnya craft & fashion di Kota Bandung. Saat ini, kita pun dapat melihat dengan seksama bahwa produk-produk kreatif buatan Bandung mampu bersaing secara global. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan terus mewartakan pesona dan kreasi bandung kepada dunia. 

@galihsedayu | Bandung, 7 November 2015

IMG_4475

IMG_4516

IMG_4688

IMG_7078

IMG_7103

AIR_3833

IMG_7261

AIR_3990

AIR_4011

AIR_4091

ADE_9423_blog

ADE_0008

ADE_0110

ADE_0240

Copyright (c) 2015
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Kasih Ibu di Pantai Lovina

leave a comment »

 

Teks & Foto oleh galih sedayu

Konon, lumba-lumba adalah sahabat manusia di lautan. Karenanya tak heran bila manusia yang lebih sering hidup di daratan, kemudian ingin bersua dan mencari sahabatnya di samudera yang luas. Kawanan lumba-lumba ini, dapat kita temui di Pantai Lovina, Pulau Dewata, Bali. Pantai Lovina sejak dulu menjadi salah satu destinasi wisata di pesisir Bali Utara, tepatnya 10 km ke arah barat Kota Singaraja, di Desa Kalibukbuk, Kabupaten Buleleng, Bali. Pasir hitam yang dimilikinya seolah menjadi halaman depan sebelum kita memulai perjalanan ke tengah laut agar dapat menjumpai lumba-lumba yang berada sekitar 1-2 km dari bibir pantai. Biasanya, kawanan lumba-lumba ini muncul sekitar pukul 6 hingga 8 pagi di tengah laut. Mengingat mahluk langka tersebut sudah bangun pagi-pagi buta, sebaiknya kita sudah harus berangkat sebelum matahari terbit dengan menggunakan perahu nelayan yang sederhana nan berwarna. Nama “Lovina” menjadi populer berkat jasa Anak Agung Panji Tisna, dimana pada tahun 1953 ia mulai membangun sebuah pondok di atas tanah miliknya yang berada di Buleleng. Pondok itulah yang kemudian diberi nama “Lovina” yang ditujukan sebagai tempat peristirahatan bagi turis-turis asing. Menurut Panji Tisna, kata “Lovina” sendiri berasal dari campuran dua suku kata yaitu “Love” dan “Ina”. Kata “Love” dari bahasa Inggris berarti kasih atau Cinta dan “Ina” dari bahasa Bali atau bahasa daerah yang berarti “ibu”. “Cinta Ibu” atau “Cinta Ibu Pertiwi” adalah makna yang mendalam dari Lovina. Semoga pesan tersebut dapat selalu diwariskan selamanya kepada kita dan sang lumba-lumba selalu hadir menjadi saksi hidup Pantai Lovina.

@galihsedayu | Bali, 4 Juli 2015

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

Copyright (c) 2015 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

August 3, 2015 at 1:50 am

Pesona Dunia Pantai Padang Padang

leave a comment »

Teks & Foto oleh galih sedayu

Berada di Jalan Labuan Sait, tepatnya di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. Pantai Padang Padang atau yang juga dikenal dengan nama pantai Labuan Sait, menjadi salah satu magnet wisata di Pulau Dewata. Berlatar belakang perbukitan yang hijau dan batu karang yang terjal, pantai ini menawarkan sejuta pesona bagi siapapun yang merasakannya. Untuk menuju pantai ini, kita mesti melewati sebuah jalan yang menyerupai goa dan turun melewati puluhan tangga dengan ruang yang sempit. Namun setelah itu, pasir putih dengan airnya yang bening & jernih akan menjadi nirwana bagi kita semua. Maka tak heran bila Pantai Padang Padang ini menjadi salah satu lokasi syuting video musik “Someday” yang dibawakan oleh grup pop “Michael Learns To Rock” dan bahkan menjadi lokasi syuting film “Eat, Pray, Love” yang dibintangi artis Hollywood “Julia Roberts”. Bali tentunya boleh berbangga karena berkat Pantai Padang Padang ini, nama Indonesia semakin harum di mata dunia.

@galihsedayu | Bali, 7 Juli 2015

Pantai Padang Padang Bali

Pantai Padang Padang Bali

Pantai Padang Padang Bali

Pantai Padang Padang Bali

Pantai Padang Padang Bali

Pantai Padang Padang Bali

Pantai Padang Padang Bali

Pantai Padang Padang Bali

Pantai Padang Padang Bali

Pantai Padang Padang Bali

Pantai Padang Padang Bali

Pantai Padang Padang Bali

Pantai Padang Padang Bali

Pantai Padang Padang Bali

Pantai Padang Padang Bali

Pantai Padang Padang Bali

Pantai Padang Padang Bali

Pantai Padang Padang Bali

Pantai Padang Padang Bali

Pantai Padang Padang Bali

Pantai Padang Padang Bali

Copyright (c) 2015 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

July 20, 2015 at 3:37 am