Posts Tagged ‘Bandung’
Fajar [Shincan] | Angklung Player
dago pojok kampoong, bandung – 2012
saung angklung udjo, bandung – 2006
saung angklung udjo, bandung – 2004
saung angklung udjo, bandung – 2003
saung angklung udjo, bandung – 2002
copyright (c) by galih sedayu
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
News at DetikBandung

Kamis, 01/04/2010 10:03 WIB
Ema Nur Arifah – detikBandung
Bandung – Bagi penggiat fotografi, nama Galih Sedayu mungkin bisa ditempatkan sebagai pupuhunya komunitas fotografi. Pria kelahiran Bogor, 35 tahun silam ini, boleh dibilang sebagai motor penggerak bermunculannya acara-acara fotografi di Kota Bandung.
Galih pun tak enggan berbagi ilmu. Lewat Air Photography yang didirikannya 17 Agustus 2004 lalu, dia membuka konsultasi gratis untuk mahasiswa yang ingin menggelar acara-acara fotografi. Sebanyak 20-an relawan pun siap membantu sebagai konsultan.
Padahal pendidikan formal Galih tidak berasal dari fotografi. Secara otodidak, setelah lulus dari Tekhnik Indstri Unjani di tahun 1999, Galih belajar dari perusahaan-perusahaan foto tempatnya bekerja.
“Saya pernah bekerja di beberapa studio foto, kemudian berinisiatif untuk membuat usaha foto sendiri,” ujarnya.
Belajar dari pengalaman, dia membuka Air Photography bersama dua kawannya. Galih bisa membuktikan kalau membuka usaha tidak harus berpikir modal yang besar.
Dengan cara mencicil modal, satu per satu sarana dan pra sarana studio dilengkapi. Dalam perjalanannya kemudian, manajemen Air Photography dipegangnya sendiri dan dua kawannya kini hanya sebagai freelancer.
Keseimbangan atau balance manjadi filosofi Galih dalam mengembangkan Air Photography. Tidak semata-mata komersil tapi juga memunculkan sisi sosial.
“Antara komersil dan sosial harus balance,” ujar Galih usai gelaran Photo Speak di garasi Detikbandung Jalan Lombok 33, Rabu (31/3/2010).
Meski awalnya Air Photography didirikan untuk tujuan komersil. Namun keinginan berbagi Galih membuatnya tergerak untuk membuat program-program yang bisa menunjang sisi komersil tadi.
Salah satunya adalah Photo Speak, ajang sharing ilmu fotografi yang digelarnya sejak tahun 2005. Melalui Photo Speak, Galih bisa membangun jaringan komunitas di kalangan mahasiswa. Ruang terbuka konsultasi gratis diberikan pada mereka untuk yang berkaitan dengan event-event fotografi.
“Kalau dengan perusahaan-perusahaan, kita lakukan secara profesional,” jelas pria yang akan melepas masa lajangnya di bulan Mei mendatang ini.
Galih mencontohkan kerjasamanya dengan PT Pos Indonesia yang hampir setiap tahun mengelar photo contest. Setidaknya Galih ingin menunjukan kalau dunia akademisi mash memiliki pe er. Seharusnya, adalah tugas para pengajar untuk memberikan ilmu mengelola event fotografi untuk mahasiswanya.
(ema/avi)
Wujud Kasih Teruntuk Kota Bandung
Teks : galih sedayu
Tepatnya tanggal 25 September 2010. Bandung, sebuah kota yang penuh dengan semangat kreativitas ini tak terasa akan menginjak usianya yang ke 200 tahun. Keberadaan Kota Bandung sendiri tidak bisa lepas dari kehadiran seorang Bupati R.A. Wiranatakoesoema II yang dikenal dengan julukan Dalem Kaum. Beliau lah yang disebut-sebut sebagai pendiri Kota Bandung. Dengan sebuah besluit pemerintahan Hindia Belanda, tanggal 25 September 1810 dinyatakan sebagai hari lahirnya Kota Bandung.
Fotografi yang ditabiskan ke dunia sejak tahun 1839 oleh Louis-Jacques-Mandé Daquerre menjadi sebuah oase peradaban bagi para pelaku fotografi. Yang bahkan hingga abad ini fotografi terus menjamur tak terkecuali di Kota Bandung. Genre fotografi yang diusung oleh setiap komunitas semisal foto jurnalistik, piktorial, kamera lubang jarum, fine art, dokumenter dan lain sebagainya menjadikan Kota Bandung sebagai surga bagi sebuah peradaban cahaya. Fotografi menjadi jendela jiwa bagi masing-masing individu yang dapat menawarkan sebuah harapan kepada masyarakat. Fotografi pun menjadi sebuah medium kontemplatif serta cara melihat tentang segala peristiwa yang berlangsung setiap detik. Kita tentu ingat bagaimana nama Kota Bandung menjadi harum di mata dunia ketika Bandung menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Saat itu pula para tokoh fotografi yang berasal dari Kota Bandung seperti Prof. Dr. RM. Soelarko, Dr. Ganda Kodyat & Paul Tedja Soerya menjadi saksi sejarah yang mengabadikan foto-foto dokumenter & jurnalistik peristiwa langka tersebut. Dengan melihat itu, agaknya citra Kota Bandung memiliki peran tersendiri dalam perkembangan sejarah Bangsa Indonesia.
Untuk itulah demi menyongsong Kota Bandung yang akan berusia 200 tahun, kami yang mewakili masyarakat fotografi akan memberikan kado persembahan bagi Kota Bandung. Setetes rasa terimakasih yang coba kami wujudkan bagi Kota Bandung melalui fotografi. Dimana kami luncurkan sebuah program yang bernama “Fotografi Untuk Bandung 200 Tahun”. Program ini merupakan sebuah kampanye bersama plus gerakan kolektif dari seluruh jaringan foto khususnya di Kota Bandung yang berupa aktivitas dan kreativitas melalui fotografi. Dari mulai Pameran, Lomba, Workshop, Diskusi, Hunting, Seminar, Dialog, dan Klinik Fotografi akan digelar oleh kami hingga penghujung tahun 2010. Pada akhirnya nanti kami akan mencoba menangkap seluruh jiwa dan raga Kota Bandung melalui karya-karya foto yang akan disajikan dalam bentuk “Buku Fotografi Bandung”.
Para tetua yang mendahului kita pernah mengatakan bahwa “Sebuah tong yang penuh dengan pengetahuan belum tentu sama nilainya dengan setetes budi”. Kiranya kado kecil “Fotografi Untuk Bandung 200 Tahun ini” dapat menjadi salah satu wujud budi baik yang dapat kita berikan bagi sebuah kota yang indah dan penuh keajaiban ini. Karena walau bagaimanapun, keberlangsungan sebuah kota dapat terwujud ketika hadirnya selalu kolaborasi cinta yang diberikan oleh masyarakatnya.
*Tulisan ini diberikan sebagai kata pengantar pada acara peluncuran program “Fotografi Untuk Bandung 200 Tahun” pada tanggal 1 Agustus 2009 di Gedung Indonesia Menggugat (GIM).
Bandung, 17 Juli 2009





