I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Menunggu Sebuah Perayaan

with one comment

Teks & Foto : galih sedayu

Sejak tahun 2004 yang lalu, setiap tahunnya kota bandung selalu ditunjuk dan dipercaya oleh pemerintah indonesia lewat kementrian pariwisata dan budayanya sebagai tempat untuk dilangsungkannya sebuah helaran akbar seni & budaya tanah air yang bertajuk Kemilau Nusantara. Termasuk tahun 2010 ini ketika kota bandung merayakan hari jadinya yang ke-200 tahun. Helaran Kemilau Nusantara tahun ini diadakan di Monumen Perjuangan Jawa Barat tepatnya pada tanggal 23 Oktober 2010 yang hanya diikuti oleh 5 propinsi dari seluruh indonesia. Tentunya hal ini menjadi sorotan yang patut dipertanyakan karena data yang ada menunjukkan dari tahun ke tahun peserta helaran Kemilau Nusantara selalu cenderung menurun. Mengapa demikian? Sepertinya kita semua telah mengetahui apa jawaban pasti dari pertanyaan tersebut terlebih ketika menyangkut segala sesuatu yang erat kaitannya dengan urusan pemerintahan atau birokrasi. Tetapi biarlah kita kesampingkan sejenak masalah itu.

Agaknya segala permasalahan seni & budaya pun setidaknya ikut dipikirkan oleh para petualang cahaya atau yang lebih akrab dengan sebutan fotografer/pemotret. Setidaknya kaum ini tidak pernah bosan untuk merekam segala atraksi dan pertunjukkan yang digelar pada saat acara Kemilau Nusantara tersebut. Entah itu hanya sekedar hunting, mengikuti lomba foto, tugas liputan atau mungkin sebuah proyek pribadi sang pemotret. Termasuk oleh saya sendiri yang mencoba untuk membuat sebuah Photo Story tentang aktivitas lain para peserta helaran sebelum mereka tampil. Karena bagi saya di sanalah kerap hadir momen-momen menarik yang merangsang jari untuk menekan shutter kamera. Bagai melihat sebuah kehidupan lain di belakang layar. Seperti kasih sayang seorang kakek yang rela untuk mengantar cucunya melihat helaran kemilau nusantara. Pemanasan dan latihan para peserta sebelum mereka mendapat giliran tampil. Dan lain sebagainya.

Untuk itulah fotografi dengan kesederhanaannya membekukan semua adegan tersebut untuk dapat dibagikan kembali ke dalam bentuk visual foto yang abadi. Sehingga di dalamnya selalu ada informasi, komunikasi dan pesan dari sang pemotret agar terjadi dialog yang bergulir demi kelangsungan fotografi dan isu yang diangkatnya. Yang tidak pernah ada kata salah atau benar melainkan kata “yang selalu ada”. Yang kelak menjadi jejak, kenangan dan pertanda kehadiran dari sebuah peristiwa apapun di dunia. Hingga akhir menutup mata.

Bandung, 24 Oktober 2010

copyright (c) 2010 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

October 31, 2010 at 2:13 pm

for you, ef…

leave a comment »

copy right (c) galih sedayu

Dear Ef…

I always sing this song for you, my lovely daughter. Here I am. Waiting you home.

Just to look in your eyes again
Just to lay in your arms
Just to be the first one always there for you
Just to live in your laughter
Just to sing in your heart
Just to be everyone of your dreams come true
Just to sit by your windows
Just to touch in the night
Just to offer a prayer each day for you
Just to long for your kisses
Just to dream of your sighs
Just to know that I’d give my life for you.

For you all the rest of my life
For you all the best of my life
For you alone, only for you.

Just to wake up each morning
Just to you by my side
Just to know that you’re never really far away
Just a reason for living
Just to say I adore
Just to know that you’re here in my heart to stay.

For you all the rest of my life
For you all the best of my life
For you alone, only for you.

Just the words of a love song
Just the beat of my heart
Just the pledge of my life, my love for you.

Thank you to John Denver for making this song.

Written by Admin

October 8, 2010 at 2:55 pm

KehendakMu, Karuniaku

with 51 comments

Teks & Foto : galih sedayu

Teruntuk Kedua Putri Kembarku…
Ancilla Trima Sedayu & Eufrasia Tara Sedayu

24 Agustus 2010…tengah malam

Seorang pria bermimpi. Sedang mengendarai mobil jeep hitamnya. Tiba-tiba matanya terbuka lebar dari yang tadinya gelap gulita. Dan mimpi itu pun berhenti.

25 Agustus 2010…tengah malam

Seorang pria bermimpi. Sedang memangku kedua anaknya yang masih kecil. Sambil memandang kedua mata anaknya yang sembab. Entah kenapa. Tiba- tiba pria tersebut mencari salah satu anaknya yang hilang ketika dipangku. Dan mimpi itu pun berhenti.

31 Agustus 2010 pukul 05.30 wib

Pecah ketuban…memanggil dokter…bergegas ke rumah sakit…observasi di ruang transit…menunggu saat kelahiran…

31 Agustus 2010…..19.55, 20.07, 20.13, 20.20, 20.37, 20.55, 21.03, 21.07, 21.23, 21.30, 21.37, 21.50, 22.03, 22.12, 22.26, 23.48, 23.55, 1 September 2010…..00.03, 00.11, 00.19, 00.28, 00.50, 00.55, 01.03, 01.12, 01.21, 01.28, 01.43.

Setelah itu waktu dalam menit dan detik kontraksi yang dialami oleh seorang ibu yang tengah mengandung kedua anak kembarnya tak lagi tercatat. Beberapa perawat rumah sakit yang biasa dipanggil dengan sebutan suster terlihat sibuk memeriksa kandungan sang ibu dengan hati-hati. Hingga akhirnya tiba seorang dokter dengan paras wajah yang sudah berumur. Rambutnya kelihatan memutih namun raut mukanya nampak masih segar meski waktu sudah hampir subuh. Namanya Dokter Pories. Dokter Pories bergegas memasuki ruangan persalinan dan segera mengambil alih kontrol yang tadinya diembankan kepada para suster. Sekitar waktu sepeminuman teh kemudian, terdengarlah bunyi tarikan napas yang terengah-engah, suara jerit kesakitan & raungan tangis keras seorang ibu yang sedang berjuang melahirkan dua bayi kembarnya ke bumi. Waktunya 03.57 wib, saat bayi perempuan prematur pertama keluar dari perut besar sang ibu. Seketika itu pula bayi tersebut menangis dengan nyaring bak membelah bumi. Tubuhnya kelihatan segar dengan kulitnya yang berwarna merah meski beratnya hanya 1,5 kg. Dokter pun langsung menggunting tali pusar bayi itu dan menyerahkan tubuh mungilnya kepada suster sembari memegang kedua ujung kaki kecil bayi itu di atas ranjang melawan gravitasi. Para suster langsung membersihkan tubuh bayi dan dengan cekatan membawa bayi pertama itu ke ruang perawatan. Selang tujuh menit kemudian tepatnya pukul 04.04 wib, bayi perempuan kedua menyusul kakak nya keluar dari rahim sang ibu menuju peraduan dunia. Berbeda dengan bayi pertama, bayi ini kelihatan lemah tak berdaya, tubuhnya pucat pasi & tak ada tangisan satupun yang keluar dari mulutnya. Beratnya hanya mencapai 1,1 kg. Bayi ini pun lantas mendapat penanganan yang sama seperti bayi pertama. Barulah kemudian terdengar helaan nafas yang lega dari dokter, suster & ibunda dari sang ibu yang baru saja mengalami proses keajaiban melahirkan. Inilah kisah kelahiran dua anak manusia yang diberi nama “Ancilla Trima Sedayu & Eufrasia Tara Sedayu” yang lahir tepat pada tanggal 1september 2010. Dimana nama Trima dan Tara merupakan anonim dari kalimat “Terimakasih Tak Terhingga” sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Sang Pencipta. Mereka adalah putri kembar pertama pasangan orang tua yang bernama Galih Sedayu & Christine Listya. Tetapi ceritanya tidak berakhir sampai di sini.

Oleh karena kedua bayi perempuan kembar ini lahir prematur serta berat tubuh mereka belum mencukupi berat tubuh rata-rata bayi lahir (yaitu sekitar 2-2,5 kg), maka kedua bayi mungil ini terpaksa harus masuk ke ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit). Sebuah ruangan yang membuat cemas & gelisah sebagian besar orang tua bayi karena di ruang inilah para bayi mereka bertarung melawan hidup dan mati. Termasuk kedua orang tua bayi kembar “cilla & eufra”, begitu nama panggilan dua bayi mungil tersebut. Dokter yang menangani kedua bayi di ruang NICU bukanlah dokter kandungan melainkan seorang dokter anak. Sampai sini Dokter Kelly yang menggantikan tugas Dokter Pories. Baik cilla & eufra terpaksa masuk inkubator dan dipasangkan sebuah alat bantu pernafasan (ventilator) karena paru-paru dan jantung mereka masih sangat lemah.

Masih tanggal 1 September 2010 sekitar jam 09.00 wib, ayah kandung cilla & eufra pulang ke rumah sambil membawa ari-ari dan tali pusar mereka. Kemudian ia mencucinya hingga bersih di air yang mengalir, menaruhnya ke dalam kendi yang disatukan dengan benda-benda yang merupakan simbol doa & harapan baik bagi masa depan kedua bayi kembar tersebut. Bumbu dapur seperti bawang merah, bawang putih, asam, garam dan lengkuas agar kelak mereka pandai memasak. Sebatang pensil yang diraut agar kelak mereka menjadi orang pintar. Cermin & sisir kecil agar kelak mereka dapat mengurus diri. Benang & Jarum agar kelak mereka memiliki ketrampilan. Uang Receh agar kelak mereka pandai mengatur keuangan. Setelah itu ayah cilla & eufra mengucap doa & harapannya bagi masa depan anak kembarnya sembari memegang sepotong lidi. Kemudian kendi tersebut dikubur di halaman depan rumah, ditutup dengan ember yang di dalamnya dipasangi lampu agar hangat serta meletakkan bubur merah-putih sebagai perlambang menolak bala. Selesai sudah ritual paska kelahiran adat jawa yang sarat dengan makna tersebut.

Sudah dua hari ayah cilla & eufra tidak cukup tidur karena menemani istri tercintanya yang baru saja melahirkan. Matanya pun menjadi berat karena rasa kantuk yang luar biasa. Ingin sekali rasanya ia membantingkan badan ke ranjang. Tapi keinginan itu berubah seketika. Tiba-tiba suster rumah sakit menelpon sang ayah untuk segera kembali ke rumah sakit. Kontan saja sang ayah langsung menginjak pedal gas mobilnya dalam-dalam menuju rumah sakit. Sang ayah ternyata lupa bahwa jalan-jalan di Kota Bandung saat itu sering kali mengalami kemacetan karena pada akhir bulan puasa aktivitas kendaraan bermotor meningkat. Cuaca yang terik dan panas akhirnya membuat ayah cilla & eufra menyetir dengan terkantuk-kantuk. Hingga akhirnya sang ayah berhasil keluar dari kemacetan itu dan segera menancap kembali gas mobilnya di sepanjang jalan dago.  Selang beberapa saat tiba-tiba terdengar suara benturan keras di depan mobilnya. Sang ayah terbangun dan matanya langsung terbelalak menatap apa yang telah terjadi. Seperti baru tersadar dari sebuah mimpi, ternyata mobil ayah cilla & eufra menabrak mobil lain di depannya. Mobil sang ayah tidak dapat bergerak karena rusak. Ia langsung turun dan menghampiri pengemudi mobil yang ditabraknya. Pengemudi mobil tersebut seorang anak muda yang sangat baik, tenang dan murah senyum, namanya “acuang”. Sang ayah meminta maaf kepadanya karena mengantuk hingga menabrak mobilnya lalu menceritakan segala hal yang telah menimpa dirinya. Ayah cilla & eufra kemudian menelpon para sahabatnya yaitu ulis, rani & ayi untuk meminta tolong dan segera mengurus kejadian naas ini. Kemudian sang ayah pun melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit dengan mengunakan angkutan umum. Sambil berpikir & menerawang jauh bahwa ternyata kejadian ini pernah ada dalam mimpinya sekitar seminggu yang lalu. Firasat ayah cilla & eufra pun bertanya, apakah arti kejadian ini? Sepertinya akan ada peristiwa besar yang akan dialami olehnya.

Sesampainya di rumah sakit, ayah cilla & eufra mendapat kabar bahwa Dokter mendiagnosa Cilla, bayi kembar pertama untuk segera dibuang darahnya karena kelebihan hemoglobin (26 hb). Sementara Eufra, bayi kembar kedua diminta untuk segera dilakukan transfusi darah karena kekurangan hemoglobin (5 hb). Pasalnya, proses tersebut dapat segera dilakukan bila kondisi paru-paru dan jantung bayi telah stabil. Selama hampir 27 jam dokter dan para tim medis pun mengupayakan yang terbaik bagi kelangsungan hidup kedua bayi kembar ini. Malang bagi cilla. Agaknya upaya dokter dan timnya untuk bisa menstabilkan kondisi bayi ini tidak membuahkan hasil. Dari mulai memasang segala peralatan medis, memberi obat-obatan hingga mempompa jantung bayi pertama tersebut. Ayah bayi kembar ini pun hanya mampu untuk terus mengucap ratusan doa bercampur sejuta harapan. Kulit bayi yang tadinya merah, berangsur-angsur berubah menjadi biru di sekujur tubuhnya. Perlahan-lahan gelombang kurva yang tertera di layar monitor pun mulai melemah dan makin renggang. Tangan-tangan dokter yang tadinya aktif mempompa jantung bayi pun sepertinya menyerah.

Lonceng ajal pun akhirnya bergema di keheningan ruangan. Tepat hari kamis tanggal 2 September 2010 pukul 06.50 wib, bayi kembar pertama yang bernama “Ancilla Trima Sedayu” dipanggil menghadap Sang Khalik. Ya Tuhan…Tak pernah terduga sebelumnya bahwa seorang bayi mungil yang awal kelahirannya tampak sehat, merah & kuat itu mesti merenggang nyawa dengan begitu cepat. Walaubagaimanapun itu sudah rencanaNYA. Tak ada yang kuasa melawan takdir bila Tuhan sudah meniupkan sangkakalanya. Cilla pergi untuk selamanya. Tangis pun mengalir haru biru dari wajah ayahnya. Sang ayah hanya mampu memandang pilu sambil memegang tangan putri pertamanya. Kemudian sang ayah pun datang ke ruang perawatan tempat istrinya tercinta. Dengan berat hati sang ayah mengabarkan berita kesedihan itu kepada sang ibu yang masih berbaring dan terkulai lemas. Tangis dan air mata pun berderai dari sang ibu. Betapa tidak, setelah sang ibu berjuang sampai titik darah terakhir untuk bisa melahirkan anak kembarnya dan belum lagi sempat melihat putri pertamanya, ia harus menerima kenyataan pahit akan kepergian cilla selama-lamanya. “Kuatkan lah hati mama cilla & eufra Ya Tuhan…”, kata sang ayah dalam hati.

Karena Rumah Sakit hanya dapat menampung bayi yang sudah meninggal maksimal selama 2 jam, sekitar pukul 10.00 wib jenazah cilla dibawa keluar dari rumah sakit menuju pemakaman. Sebelumnya tubuh cilla dibalut dengan menggunakan baju dan rok berwarna merah muda. Lengkap dengan sarung tangan dan kaus kaki serta topi yang menutup kepalanya. Sang ayah pun bergumam, “Ah..betapa cantik dan lucunya cilla”. Sang ayah tampak bersikeras untuk tidak mau memasukannya jenazah cilla ke dalam peti mati kecil yang telah disediakan. Ia lebih memilih untuk menggendong cilla dalam dekapannya sendiri dan kemudian masuk ke dalam mobil ambulans yang membawa mereka ke tempat pemakaman. Di bawah pohon yang rindang jenazah cilla akhirnya dimakamkan. Sebuah tempat yang teduh, tenang dan menyatu dengan alam. Cilla dimakamkan dalam keadaan yang suci, bersih dan tanpa noda dosa. “Selamat jalan cilla. Tak akan pernah sekalipun dalam hidupku untuk melupakan engkau…nak. Hiduplah jiwamu dalam damai di surga. Cinta ayah akan selalu menyala terang bagai cahaya di dalam kegelapan. Untaian doa akan selalu ayah hamparkan untukmu. Sekarang dan selamanya.”, kata sang ayah dalam doanya.

Saat ini eufra, adik perempuan kembar dari cilla masih dirawat di ruang NICU rumah sakit boromeus bandung. Kondisinya sudah stabil meski masih harus menggunakan alat bantu pernafasan. Setiap hari ayah & mama eufra selalu menemaninya dalam ruangan yang penuh dengan peralatan medis. Menyapa eufra dengan hangat, memberikan sentuhan lembut dan membisikkan kata-kata kasih yang terus berulang.

Lalu mereka mengucap sebuah doa dalam keheningan bagi kedua putri kembarnya,

Ya Tuhan…

Kami berdoa bagi cilla…

Terimakasih karena Engkau telah memberikan sebuah negeri yang damai bagi cilla…

Terimakasih karena Engkau telah menunjukkan jalan yang lurus bagi cilla…

Terimakasih karena Engkau telah menerangi obor bagi cilla…

Terimakasih karena Engkau telah menanamkan pohon keabadian bagi cilla…

Terimakasih karena Engkau telah menjadikan kesucian bagi cilla…

Ya Tuhan…

Kami berdoa bagi eufra…

Terimakasih karena Engkau selalu mencurahkan air kesembuhan bagi eufra…

Terimakasih karena Engkau selalu mengobarkan api kekuatan bagi pertumbuhan eufra…

Terimakasih karena Engkau selalu mengkaruniakan kasih yang besar bagi eufra…

Terimakasih karena Engkau selalu meniupkan nafas ilahi bagi eufra…

Terimakasih karena Engkau selalu menyediakan harapan kehidupan bagi eufra…

Ya Tuhan…

Terimakasih karena menghadirkan cilla & eufra dalam hidup kami.

Rindu kami hanya untuk mereka.

Amin.

Sekelumit kisah bahagia dan tragedi ini dihadirkan kembali dalam bentuk citra foto yang direkam oleh mata sang ayah. Sederhana dan jujur apa adanya. Mesti terkadang hati sang ayah tak kuasa untuk menekan tombol ‘shutter’ kamera. Tetapi walaubagaimanapun jari sang ayah tetap mengabadikan adegan-adegan yang kerap menyedot energi dan pikirannya. Dengan secercah asa bahwa imaji-imaji visual itu kelak dapat menjadi simbol cinta dan harapan bagi manusia yang melihatnya. Bahwa peristiwa tersebut adalah nyata terjadi dan sangat dekat dengan kehidupan manusia. Sementara fotografi menjadi saksi bisu yang terus bersuara kepada dunia tanpa lelah. Yang terus menuturkan dongeng sukacita & dukalara yang saling merajut cerita. Tentunya demi kelangsungan peradaban manusia yang terus bergerak seperti angin, berubah seperti malam berganti siang serta mengalir seperti sungai-sungai di planet bumi. Dalam nama cinta dan kerinduan yang tak pernah lekang dimakan waktu.

Bandung, 1 September 2010

ancilla

ancilla

Copyright (c) 2010 by galih sedayu & Ruli Suryono
All right reserved. No part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographers.

Asa Bagi Industri Kulit Jawa Barat

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Sudah sepatutnyalah kita bangga terhadap bangsa indonesia karena alam kita banyak sekali menyediakan segala hal yang dapat menopang kehidupan umat manusia. Bahan kulit yang diambil dari hewan-hewan asal indonesia seperti kuda, kambing, ikan pari, ular & buaya dapat menjadi sebuah produk yang unggul dan memiliki kualitas ekspor ke manca negara. Banyak sekali produk kulit bangsa kita yang diminati oleh bangsa lain. Sebut saja dompet, sepatu, tas & sabuk kulit. Intinya, bangsa kita bukan tidak mampu bersaing dalam hal pemanfaatan kulit sebagai salah satu produk kreatif yang telah menjadi industri.

Pada tanggal 7-8 agustus 2010, arena kultural bekerjasama dengan dinas perindustrian & perdagangan jabar menggelar acara yang bertajuk “Gelar Kriya Kulit Jabar”, yaitu sebuah upaya untuk memperkenalkan hasil produk kulit jabar melalui sebuah kemasan art &  festival. Di dalamnya terdapat beberapa program yang bertujuan untuk mengkomunikasikan kulit melalui musik, karnaval, talk show kreatif, fashion, dan lain sebagainya.

Fotografi pun kemudian menjadi pilihan saya untuk menjadi medium komunikasi tentang produk-produk kulit hasil kreativitas bangsa indonesia. “menggeliatnya industri kulit jawa barat”, menjadi judul utama sebuah “photo story” yang mengusung rangkaian cerita program “Gelar Kriya Kulit Jabar” tersebut. Harapannya foto-foto ini dapat memaparkan tentang isu pemanfaatan kulit & sosialisasinya kepada masyarakat agar bangsa kita sadar bahwa sebenarnya kita mampu menciptakan sesuatu dengan sumber daya alam yang kita miliki sekarang. Ketika fotografi mampu mengungkapkan pesan dari sebuah isu, alangkah lebih baiknya masyarakat kita mampu mencerna rekaman imaji-imaji tersebut agar kita selalu diberikan kesadaran untuk melakukan perubahan. 

Bandung, 7 Agustus 2010

gelar kulit jabar

gelar kulit jabar

gelar kulit jabar

gelar kulit jabar

gelar kulit jabar

gelar kulit jabar

gelar kulit jabar

gelar kulit jabar

gelar kulit jabar

gelar kulit jabar

gelar kulit jabar

gelar kulit jabar

copyright (c) 2010 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

August 9, 2010 at 1:38 pm

Sebuah Cara Lain Merebut Ruang Kota

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Melihat perkembangan sebuah kota erat kaitannya dengan melihat keberadaan dan pemanfaatan ruang publik yang dimiliki oleh kota itu sendiri. Kota bandung yang berdiri sejak tahun 1810 yang lampau banyak sekali menyisakan ruang publik yang belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat maupun pemerintahnya. Tentunya isu ini menjadi sebuah pekerjaan rumah bersama bagi kita semua yang menyandang predikat sebagai warga kota bandung. Adalah Bandung Creative City Forum (BCCF) yang mencoba menghadirkan sebuah program yang bernama Semarak.Bdg dengan tujuan untuk mengintervensi ruang publik kota bandung. Intervensi ini dilakukan melalui cara-cara kreativitas yang melibatkan komunitas kreatif, masyarakat, pemerintah, swasta & media sebagai stakeholder dan komponen masyarakat utama sebuah kota. Rangkaian program kreatif yang mengisi kegiatan Semarak.Bdg tersebut diantaranya yaitu Facade Lighting Gedung Merdeka berupa pemasangan instalasi lampu warna-warni pada Gedung Merdeka dengan tujuan agar Gedung Merdeka tidak lagi kelihatan suram, gelap dan terkesan dihindari oleh warganya terutama pada malam hari. Lalu ada program Piknik.Bdg berupa memindahkan ruang bermain dan kreatif anak di sekitar sungai cikapundung agar anak-anak dan keluarga tidak hanya merasakan pengalaman beraktivitas di mal atau tempat bermain indoor serta dapat merespon sungai cikapundung yang telah lama ada bersama kita. Dan kemudian ada program Bragakeun Bragaku yang mecoba untuk mengolah braga menjadi wadah energi kreatif dari sekumpulan komunitas dan warga masyarakat braga itu sendiri.

Sebagian peristiwa nyata yang terjadi pada rangkaian Semarak.Bdg tersebut saya coba refleksikan kembali lewat citra fotografi sebagai penanda visual dan jejak kerja hasil kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, swasta, media & komunitas sebagai aset berharga kota. Sekelumit kisah dan romantika kejadian dalam Semarak.Bdg melalui rangkaian karya foto. Meski saya sadar sepenuhnya bahwa tidak semua momen yang ada dapot terekam oleh lensa kamera, tetapi setidaknya fotografi telah membekukan dan menjadi saksi bisu atas segala upaya yang telah dikerjakan oleh sekelompok muda kreatif yang peduli akan kota bandung. Dengan harapan bahwa secuil ide kreatif tentang intervensi ruang kota ini dapat menggelitik yang lain agar dapat berbuat serupa bahkan mungkin lebih baik. Karenanya lupakanlah kata siapa yang melakukan ini melainkan mulailah dengan kata apa yang dapat kita lakukan untuk kota ini. Agar Kota Bandung menjadi ada, tetap ada dan selalu ada bagi kita selamanya.

Bandung, 25 Juli 2010

copyright (c) 2010 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

July 26, 2010 at 2:35 pm

Jazz & Pencitraan

with 2 comments

Teks : galih sedayu

Membaca sejarah kehadiran musik jazz di dunia, tentunya seperti mendengar berbagai penggal cerita yang agak sulit bagi kita untuk mengetahui mana cerita yang sebenarnya. Karena banyak sekali sekelumit kisah tentang awal musik jazz. Salah satunya adalah Buddy Bolden. Seorang pemilik kedai cukur rambut di New Orleans, dapat dikaitkan dengan sejarah keberadaan musik jazz di dunia. Dimana sekitar tahun 1891, salah satu orang yang dipercaya sebagai legenda jazz ini meniupkan cornet-nya (sejenis alat musik tiup mirip terompet) sebagai pertanda dikumandangkannya musik jazz ke seluruh antero jagat. Meskipun sejarah mengatakan bahwa latar belakang kehadiran musik jazz sedikit banyak dipengaruhi berbagai musik seperti musik spiritualcakewalks, ragtime dan blues. Musik jazz pun menjadi semakin menarik karena beberapa sejarah mengatakan bahwa asal kata “jazz” berawal dari sebuah istilah vulgar yang berkaitan dengan aksi seksual. Sebagian irama musik jazz pun identik dengan rumah-rumah bordil dengan para wanita penghuninya.

Fotografi yang dilahirkan ke jagat raya sejak tahun 1839 oleh Louis Jacques Mande Daguerre, setidaknya dapat menaruh harapan khususnya pada catatan perkembangan sejarah musik jazz itu sendiri. Setidaknya sebagai catatan visual dan media informasi yang gampang dicerna bagi komunitas jazz. Misalnya saja sebagai bahan untuk melacak citra foto pertama tentang jazz di dunia. Memang sulit untuk mengatakan karya foto mana yang menjadi citra pertama di dalam dunia musik jazz. Tetapi bukan tidak mungkin bahwa kita dapat melacaknya dari karya-karya foto para fotografer jazz dunia semisal William Gottlieb yang mulai memotret musisi jazz ternama seperti Duke Ellington, Louis Armstrong, Frank Sinatra, Dizzy Gillespie dan Billie Holiday sejak tahun 1938. Lalu ada nama Herman Leonard yang banyak memotret tokoh-tokoh jazz seperti Charlie Parker, Sarah Vaughan, Lena Horne, Thelonius dari tahun 1940. Atau William Claxton yang mulai berkarya merekam aksi para musisi jazz legendaris seperti Chet Baker, Miles Davis, Nat King Cole, Joe Williams, Dinah Washington sejak tahun 1950. Tentunya dibutuhkan penelitian yang serius untuk melacak sejarah tersebut.

Barangkali dengan paparan itu pula ada sebuah gagasan untuk mencatat perkembangan sejarah musik jazz di indonesia. Dimana fotografi dapat menjadi sebuah medium untuk menghadirkan kembali citra tentang romantika dan perjalanan musik jazz. Seperti yang disuguhkan oleh Mia Damayanti Sjahir dalam Pameran Fotonya yang bertajuk Jazz – Poster & Post It di Potluck Coffee Bar & Library dari tanggal 11 Juli 2010 s/d 7 Agustus 2010. Pameran foto ini dikuratori oleh Dwi Cahya Yuniman, seorang pendiri klab jazz plus aktivitis jazz asal Kota Bandung. Uniknya, foto-foto yang dipamerkan tersebut tidak hanya mengisi tembok-tembok kosong yang disoroti lampu belaka. Melainkan ada beberapa foto yang sengaja ditampilkan untuk mengisi dan menjadi bagian estetika perabotan di tempat pameran itu digelar. Toples, bingkai kecil di rak buku, tempat cashier, dan sebagainya menjadi aksen bagi keutuhan pameran tersebut. Tentunya kita semua berharap bahwa pada suatu saat nanti, karya-karya foto tentang jazz ini dapat menjadi sebuah buku yang dapat meninggalkan jejak karya dan dapat dibagikan bagi masyarakat agar peradaban musik jazz terus mengalir seiring dengan dunia yang terus berputar tanpa henti.

*Tulisan ini diberikan pada acara diskusi kecil bersama Syaharani (Musisi Jazz), Dwi Cahya Yuniman (Klab Jazz) dan Mia Damayanti Sjahir pada tanggal 12 Juli 2010 yang merupakan rangkaian Pameran Foto “Jazz-Poster and Post It” karya Mia Damayanti Sjahir yang diadakan oleh Klab Jazz pada tanggal 11 Juli 2010 s/d 7 Agustus 2010 di Potluck Coffee Bar & Library.

@Bandung, 13 Juli 2010

Written by Admin

July 13, 2010 at 3:07 am

Memaknai Sebuah Identitas

with 4 comments

Teks & Foto : galih sedayu

Dengan masuknya batik Indonesia dalam Daftar Representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) yang diumumkan dalam siaran pers di portal UNESCO pada 30 September 2009 lalu merupakan salah satu prestasi yang patut kita banggakan. Batik pun menjadi bagian dari 76 seni dan tradisi dari 27 negara yang diakui UNESCO dalam daftar warisan budaya tak benda melalui keputusan komite 24 negara yang pada saat itu tengah bersidang di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Oleh karena itu, sudah layak dan sepantasnyalah isu-isu yang mencuatkan tentang keberadaan Batik sebagai warisan bangsa perlu terus dikumandangkan oleh kita yang mengaku sebagai keturunan Bangsa Indonesia. Tentunya dengan cara apapun semisal fotografi dengan segala keunikannya yang hendak saya suguhkan kali ini. “Looking for an Identity” adalah sebuah Photo Story yang mengangkat isu batik dengan sebuah pertanyaan besar untuk kita semua tentang kepedulian kita terhadap warisan budaya tersebut. Meski saya sadar benar bahwa tidak ada jawaban yang mutlak untuk segala pertanyaan tersebut, tetapi setidaknya saya mencoba untuk bertutur secara visual dalam perspektif fotografi. Dimana opini selanjutnya sangat bebas tergantung pada siapapun yang melihat karya foto ini. Photo Story ini saya buat pada helaran Gelar Batik Jawa Barat di Gedung Sate Bandung yang berlangsung pada tanggal 3 – 4 Juli 2010. Semoga Photo Story ini dapat menginspirasi anak bangsa untuk dapat terus berkreasi dan peduli pada batik yang seyogyanya menjadi aset bangsa.

Bandung, 5 Juli 2010

gelar batik jabar

copyright (c) 2010 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

July 5, 2010 at 10:03 am