I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Kepal Persaudaraan Indonesia Di Negeri Matahari Terbit | 2nd Indonesia Week ; 28 – 30 April 2018, Nagoya, Jepang

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu

Sejak ditandatanganinya Perjanjian Perdamaian pada tanggal 20 Januari 1958, Simpul hubungan diplomatik yang telah terjalin antara Indonesia dan Jepang pasca kemerdekaan, tak terasa tahun ini telah menginjak usianya yang ke 60 tahun. Meski sejarah sempat mencatat titik kisah yang kelam bagi memori bangsa kita pada saat masa penjajahan, namun luka itu pun lambat laun mampu terobati dan bisa dikatakan kini telah sirna. Apalagi saat ini kepal persaudaraan antara Indonesia & Jepang menjadi semakin kokoh dengan jejak politik, jejak ekonomi, jejak sosial, serta jejak budaya yang ditinggalkannya.

Kita pun menyadari bahwa Indonesia adalah sebuah negara dengan kekayaan alam dan sumber daya manusia yang sangat beragam. Himpunan potensi yang dimilikinya dapat menghasilkan nilai yang sangat berharga bagi tanah air. Karena itu sudah semestinya Mutiara Khatulistiwa yang dimiliki bangsa ini wajib disuarakan kepada masyarakat dunia. Dan negara Jepang adalah salah satunya mengingat hubungan historis yang telah lama ada. Karenanya melalui kegiatan yang diberi nama Indonesia Week, diharapkan dapat menjadi momentum yang tepat bagi perayaan 60 tahun hubungan Indonesia-Jepang.

Indonesia Week adalah sebuah Festival Kolaborasi yang bertujuan Mewartakan Berita Baik perihal Indonesia ke seluruh dunia. Kegiatan ini digagas oleh “Be Indonesia”, sebuah Simpul Kolaborasi yang terdiri dari berbagai perwakilan Akademisi, Komunitas, Media, Pemerintah & Pekerja Kreatif dalam semangat mencintai dan memberikan yang terbaik bagi Indonesia. Indonesia Week yang kedua ini digelar di Kota Nagoya, Jepang, tepatnya persis di bawah Nagoya TV Tower, di area Mochinoki Hiroba (Central Park) pada tanggal 28 – 30 April 2018. Setelah sebelumnya, Indonesia Week pertama kali diselenggarakan di Kota Osaka, Jepang pada tahun 2016. 

Kegiatan Indonesia Week ini dibuka oleh Dr. Toto Pranoto selaku Dewan Pembina Be Indonesia dan Lembaga Manajemen FEB Universitas Indonesia, Windu Widjaya selaku Direktur Be Indonesia dan Ketua 2nd Indonesia Week 2018, Arifin Tasrif selaku Duta Besar RI di Tokyo, dan Ohmura Hideaki selaku Gubernur Aichi, Jepang. Saya selaku Creative Director kegiatan Indonesia Week ini, meramu beberapa konten kegiatan kreatif berupa Intimate Concert ; Story Telling Performances ; Culinary Bazaar ; Live Cooking Demo ; Community Parade ; Edu Talkshow ; Indonesia Green Action For Nagoya ; Indonesian Embassy of Tokyo Public Service & Travel Fair. Pembukaan Indonesia Week ini ditandai dengan membunyikan othok-othok secara bersama-sama. Othok-othok sendiri merupakan sebuah benda mainan tradisional asal Indonesia yang terbuat dari bambu dan mengeluarkan bunyi khas bila diputar. Bunyi yang dihasilkan dari othok-othok tersebut diharapkan dapat menjadi simbol suara kebersamaan & persaudaraan antara Indonesia-Jepang.

Sejumlah kolaborator yang tampil pada perhelatan Indonesia Week ini terlihat sangat antusias ditambah dengan puluhan ribu pengunjung yang memadati kegiatan ini selama 3 hari. Persembahan dari Indonesia disuguhkan oleh Indonesia Rock Star Empire (Isa Raja, Aria Baron, Sandy & Trisnoize Pas Band) ; Fashion Show oleh Doni Rahman ; Malang Amore Carnival ; Tari Pasambahan, Tari Payuang, Tari Rampak Baindang & Tari Hoyak Gandang Nan Batingkah dari Sumatera Barat ; Tari Remong, Tari Ronggeng Nyenyrik & Tari Gandrung Marsan dari Malang ; Tari Mojang Priangan dari Cianjur ; Pencak Silat Gajah Putih ; Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate ; serta Eka Kapti Dance dari ChiKieZie. Sementara persembahan dari Jepang disuguhkan oleh Sleaze Party (Tecchan, Masaya, Yuika, Kaorin, Max, Aska & Natsuo) ; Swamp Water (Toshimi Tsuruta & Takashi) ; Sugiyama Kyoko ; Matsumoto Machiko (Washoku Cooking Instructor) ; Tari Rejang Sari dari Taro Bali Masami San. Keseluruhan atmosfir kegiatan ini bertambah hangat dengan penampilan dari Indonesia-Japan Band Festival yaitu Tokyo Parahyangan Culture, YLKN, Heaven Soul, Stay Clasy, 42L, Kaizu, The Crew, Shinyu, God Slave, FS Band, Agung + The Crew, Rina + The Crew.

Indonesia Week ini didukung oleh Kementrian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia ; Kementrian Komunikasi & Informasi (Kominfo) Republik Indonesia ; Kementrian Perdagangan Republik Indonesia ; Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Osaka ; Indonesian Embassy of Tokyo ; Indonesia Creative Cities Network (ICCN) ; Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) ; Pemerintah Provinsi Sumatera Barat ; Pemerintah Kabupaten Cianjur ; Pemerintah Kabupaten Bekasi ; Bank Mandiri ; Sarinah ; Asgar Clan Japan ; Cianjur Jago ; Emhecee ; Ikatan Pengusaha Kenshuusei Indonesia (IKAPEKSI) ; IPI Japan ; Pasoepati Japan ; Viking Baraya Japan ; Lanus Japan / Solidaritas Japan ; Paguyuban Pasundan Japan ; Kinarya ; Ruang Kolaborasa ; PPI Nagoya. Tak lupa kami ucapkan terima kasih atas segala budi baik yang telah dihadirkan pada kegiatan Indonesia Week ini. Secara pribadi saya menghaturkan terima kasih kepada Bapak Windu Widjaya & Istri, Bapak Toto Pranoto & Istri, Kang Tubagus Kusumah + Teh Henny Kusumah + Neng Syafira, Alief Bean, Kang Alam Pirman, Kang Aryo, Mba Rahma, Mba Isti, Mba Riri, Mba Reni, Teh Wheny, Kang Jajat, Kang Rifai, Kang Tammy, Bang Aslam, Bang Angge, Bang Zinto, Bang Achank, Alloy, Masami Naruse, Kang Doddy, Mas Agung, Mas Ari, dan Maryanto. Senang bisa berkolaborasi dengan teman-teman semua.

Acara Penutupan Indonesia Week ini ditandai dengan menerbangkan pesawat kertas secara bersama-sama. Sebagai sebuah simbol ajakan bagi masyarakat jepang & turis asing lainnya untuk dapat berkunjung ke Indonesia. Kiranya kegiatan Indonesia Week ini dapat diselenggarakan secara konsisten mengingat inisiatif yang dihadirkan di sini bersifat “People to People”, bukan berasal dari Pemerintah ataupun satu pihak saja. Sehingga kekuatan komunitas dan jejaringnya sangat diperlukan bagi keberlangsungan kegiatan kolaborasi ini. Namun tak ada kunci kesuksesan dalam mencapai tujuan selain menikmati segala proses serta kekurangannya. Sembari tentunya terus mengevaluasi diri secara lebih terbuka. Karena curahan energi, waktu dan semua yang kami lakukan di sini hanyalah demi satu bangsa, demi satu tanah air, Indonesia. Selama hayat masih dikandung badan, tentunya kami senantiasa tak pernah letih untuk tetap mengumandangkan lagu Indonesia Raya ke seluruh pelosok dunia.

***

Since the signing of the Treaty of Peace on January 20, 1958, the diplomatic relations that have existed between Indonesia and Japan post-independence, this year has stepped on the age of 60 years. Although history record the dark story for the memory of our nation at the time of colonization, but the wound was gradually able to be remedied and can be said has now vanished. Especially at this time the fraternal faction between Indonesia & Japan become more solid with the traces of politics, economic footprint, social footprint, and cultural traces left behind.

We also realize that Indonesia is a country with a wealth of nature and human resources are very diverse. The set of potential it has can produce value for the homeland. Because it is supposed Mutiara Khatulistiwa owned this nation must be voiced to the world community. And the country of Japan is one of them considering the historical relationship that has long existed. Therefore, through activities called Indonesia Week, is expected to be the right momentum for the celebration of 60 years of Indonesia-Japan relations.

Indonesia Week is a Collaboration Festival that aims to proclaim Good News about Indonesia to the world. This activity was initiated by “Be Indonesia”, a Collaboration consisting of various representatives of Academics, Community, Media, Government & Creative Workers in the spirit of loving and providing the best for Indonesia. The second Indonesia Week was held in Nagoya City, Japan, below Nagoya TV Tower, in Mochinoki Hiroba (Central Park) area on 28 – 30 April 2018. After the first, Indonesia Week was held in Osaka City, Japan on year 2016.

This Indonesia Week event was opened by Dr. Toto Pranoto as the Board of Trustees of Be Indonesia & FEB University Management Institute of Indonesia, Windu Widjaya as Director of Be Indonesia and Chairman of 2nd Indonesia Week 2018, Arifin Tasrif as Ambassador of Indonesia in Tokyo, and Ohmura Hideaki as Governor of Aichi, Japan. Me as Creative Director of Indonesia Week activities, concocted some creative activity content in the form of Intimate Concert; Story Telling Performances; Culinary Bazaar; Live Cooking Demo; Community Parade; Edu Talkshow; Indonesia Green Action For Nagoya; Indonesian Embassy of Tokyo Public Service & Travel Fair. The opening of Indonesia Week is marked by sounding othok-othok together. Othok-othok itself is a traditional toy object from Indonesia made of bamboo and issued a distinctive sound when played. The sound produced from othok-othok is expected to be a symbol of the voice of togetherness & brotherhood between Indonesia-Japan.

A number of collaborators who appear on the event looks very enthusiastic with tens of thousands of visitors who crowded this activity for 3 days. From Indonesia served by Indonesia Rock Star Empire (Isa Raja, Aria Baron, Sandy & Trisnoize Pas Band); Fashion Show by Doni Rahman; Malang Amore Carnival; Pasambahan Dance, Payuang Dance, Rampak Baindang Dance & Hoyak Gandang Nan Batingkah Dance from West Sumatra; Remong Dance, Ronggeng Nyenyrik Dance & Gandrung Marsan Dance from Malang ; Mojang Priangan Dance from Cianjur; Pencak Silat Gajah Putih ; Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate ; and Eka Kapti Dance from ChiKieZie. While from Japan are served by Sleaze Party (Tecchan, Masaya, Yuika, Kaorin, Max, Aska & Natsuo); Swamp Water (Toshimi Tsuruta & Takashi); Sugiyama Kyoko; Matsumoto Machiko (Washoku Cooking Instructor); Rejang Sari Dance from Taro Bali Masami San. The overall atmosphere of this activity grew warmer with the appearance of the Indonesia-Japan Band Festival namely Tokyo Parahyangan Culture, YLKN, Heaven Soul, Stay Clasy, 42L, Kaizu, The Crew, Shinyu, God Slave, FS Band, Agung + The Crew, Rina + The Crew.

Indonesia Week is supported by the Ministry of Tourism Republic of Indonesia ; Ministry of Communication & Information Republic of Indonesia ; The Ministry of Trade of the Republic of Indonesia ; Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Osaka ; Indonesian Embassy of Tokyo; Indonesia Creative Cities Network (ICCN) ; Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) ; West Sumatera Provincial Government ; Government of Cianjur Regency ; Government of Bekasi Regency ; Mandiri Bank ; Sarinah; Asgar Clan Japan ; Cianjur Jago ; Emhecee; Ikatan Pengusaha Kenshuusei Indonesia (IKAPEKSI); IPI Japan ; Pasoepati Japan ; Viking Baraya Japan ; Lanus Japan / Solidaritas Japan ; Paguyuban Pasundan Japan ; Kinarya ; Ruang Kolaborasa ; PPI Nagoya. Not forgetting, we thank you for all the good things that have been presented in this Indonesia Week activity. Personally I would like to thank Mr. Windu Widjaya & Wife, Mr. Toto Pranoto & Wife, Kang Tubagus Kusumah + Henny Kusumah + Neng Syafira, Alief Bean, Kang Alam Pirman, Kang Aryo, Rahma Mba, Mba Isti, Mba Riri, Mba Reni, Wheny Tea, Kang Jajat, Kang Rifai, Kang Tammy, Bang Aslam, Bang Angge, Bang Zinto, Bang Achank, Alloy, Masami Naruse, Kang Doddy, Mas Agung, Mas Ari, and Maryanto. Glad to be collaborating with all friends.

The Closing event of Indonesia Week is marked by flying paper airplanes together. As a symbol of invitation for Japanese society & other foreign tourists to be able to visit Indonesia. Indonesia Week activities can be held consistently considering the initiatives presented here are “People to People”, not from the Government or one party only. So that the strength of the community and its network is indispensable for the sustainability of this collaborative activity. But there is no key to success in achieving the goal in addition to enjoying all the processes and shortcomings. While of course continue to evaluate themselves more openly. Because of the energy, time, and all that we do here is for the sake of one nation, for the sake of one homeland, Indonesia. During the life still contained the body, of course we always never tired to keep echoing Indonesia Raya songs to all corners of the world.

DSCF5518

DSCF5571

DSCF5580

DSCF5602

DSCF5635

DSCF5665

DSCF5684

DSCF6293

DSCF6306

DSCF6655

DSCF6317

DSCF5896

DSCF5938

DSCF5994

DSCF6460

DSCF5903

DSCF5905

DSCF7393

DSCF6706

DSCF7492

DSCF6030

DSCF6326

DSCF7430

DSCF7271

DSCF7428

DSCF6368

DSCF6365

DSCF6531

DSCF6689

DSCF6760

DSCF6728

DSCF6807

DSCF6862

DSCF6837

DSCF6867

DSCF6855

DSCF6906

DSCF6993

DSCF7063

DSCF7097

DSCF7134

DSCF7158

DSCF7184

DSCF6395

DSCF7209

DSCF7278

DSCF6908

DSCF7601

DSCF7617

DSCF7676

“Little Wing” | A Photography Project by galih sedayu

leave a comment »

Pada mulanya sayap.

Sayap yang membawa manusia terbang.

Terbang menembus langit dan awan.

Awan pun menjadi jendela keindahan.

Keindahan bumi dan daratan dengan segala pesona.

Pesona keajaiban karya Sang Pencipta.

Pencipta yang menginginkan manusia tetap bekerja.

Bekerja dengan segala kesempatan untuk menjelajah.

Menjelajah ruang angkasa dan samudera kehidupan.

Kehidupan yang begitu berarti dan sungguh berharga.

Berharga sehingga kita wajib memanjatkan syukur dalam doa.

Doa agar kita senantiasa mendapatkan perlindungan dan keselamatan.

***

In the beginning was a wing.

Wing that bring us to fly.

Fly through the sky and cloud.

Cloud that become a window of beauty.

Beauty of the earth and land with all its charm.

Charm of magic from work of creator.

Creator who wants us to keep working.

Working with the chance to explore.

Explore the space and the ocean of life.

Life that full of meaning and so precious.

Precious that we must give thanks in a pray.

Pray that we will always get a protection and saviour.

***

Teks & Foto / Text & Photographs: galih sedayu

Thanks to Jimi Hendrix for the Inspiring Song, “Little Wing”

#13KaryaFoto #13Photographs

Maumere – Kupang | 25 August 2023

Labuan Bajo – Ende | 23 August 2023

Labuan Bajo – Ende | 23 August 2023

Jakarta – Labuan Bajo | 23 August 2023

Jakarta – Kupang | 15 January 2023

Jakarta – Kupang | 15 January 2023

IMG_4055_blog

26 October 2017

IMG_3210_blog

6 September 2017

IMG_5502_blog

19 December 2016

IMG_5517_blog

19 December 2016

IMG_5019_blog

18 December 2016

IMG_4591_blog

18 December 2016

IMG_4593_blog

16 December 2016

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

March 2, 2018 at 1:34 pm

Nuansa Pagi Di Victoria Park

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Cuaca dingin yang menyentuh 7 derajat celcius menyambut pagi tatkala saya beroleh kesempatan menginjakkan kaki di area Victoria Park yang lokasinya berada di Causeway Bay, Pennington Street, Hongkong. Meski matahari bersinar telanjang, namun hawa dingin itu tetap terasa menembus tubuh saya yang barangkali terbiasa hidup di iklim tropis. Victoria Park adalah taman terbesar di Pulau Hongkong dengan luas sekitar 19 hektar. Ratu Victoria dari Inggris dijadikan nama taman tersebut sekaligus dibuatkan patung lilinnya yang berada di pintu gerbang utama taman. Taman ini kerap dijadikan tempat peringatan tahun baru Imlek dan pameran bunga setiap tahunnya. Menurut sejarahnya, dulunya taman ini adalah tempat penampungan angin topan yang digunakan sebagai tempat berlindung bagi kapal nelayan dan kapal pesiar. Pada hari minggu dan hari libur, biasanya taman ini menjadi tempat berkumpulnya para pekerja rumah tangga yang kebanyakan berasal dari Indonesia. Victoria Park menjadi sebuah oase hijau di tengah gedung pencakar langit yang tinggi menjulang dan mengepungnya. Penggalan-penggalan momen bisa kita lihat dan rekam di sana. Dari mulai orang-orang yang melakukan aktivitas tai chi, jogging, membaca koran, berolah raga, ataupun hanya sekedar berdiri berjemur sembari merasakan hangatnya mentari. Wilujeung enjing wahai Victoria Park.

Victoria Park, Hongkong, 1 Februari 2018

24KaryaFoto

***

Text & Photographs : galih sedayu

Cold weather that touched 7 degrees celcius welcomed the morning when I had the opportunity to set foot in Victoria Park area located in Causeway Bay, Pennington Street, Hongkong. Although the sun was shining naked, but the cold was still penetrating my body that perhaps used to live in a tropical climate. Victoria Park is Hong Kong’s largest park with an area of about 19 hectares. Queen Victoria of England made the name of the park as well as made a wax statue that is in the main gate of the park. This park is often used as a place of celebration of Lunar New Year and flower exhibition every year. Historically, this park was once a cyclone shelter used as a shelter for fishing boats and cruise ships. On Sundays and public holidays, this park usually becomes a gathering place for domestic workers mostly from Indonesia. Victoria Park becomes a green oasis in the middle of a towering high skyscraper and surround it. Fragments of moments we can see and record there. People doing tai chi, jogging, reading newspapers, exercising, or just standing basking while feeling the warmth of the sun. Good Morning Victoria Park.

Victoria Park, Hongkong, 1 February 2018

24Photographs

DSCF2136

DSCF2181

DSCF2155

DSCF2223

DSCF2282

DSCF2293

DSCF2249

DSCF2229

DSCF2201

DSCF2146

DSCF2157

DSCF2119

DSCF2211

DSCF2216

DSCF2164

DSCF2240

DSCF2255

DSCF2263

DSCF2273

DSCF2281

DSCF2285

DSCF2286

DSCF2291

DSCF2295

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

February 23, 2018 at 5:30 am

Warisan Leluhur Dunia Di Shirakawa-go

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu

Negara yang besar tentunya tak akan abai terhadap warisan budaya yang dimilikinya. Karena di sanalah sesungguhnya kita dapat menemukan jejak karya bangsa yang diciptakan oleh para leluhurnya. Shirakawa-go, salah satu desa bersejarah yang dimiliki oleh Negeri Matahari Terbit, Jepang adalah salah satunya. Rumah-rumah tradisional yang berusia sekitar 200 tahun telah menjadi saksi biksu bagi keberadaannya. Dengan ciri yang unik, yakni atap rumah yang membentuk segitiga sama kaki, terbuat dari jalinan jerami yang ditumpuk hingga tebal, menjadikan rumah dengan model yang disebut gassho-zukuri (tangan yang berdoa) itu menjadi magnet wisatawan dunia. Terletak di lembah Sungai Shogawa dan dikelilingi pegunungan, Shirakawa-go selalu mengalami musim dingin dengan hujan salju yang hebat. Letak persisnya berada di pegunungan Hakusan yang membentang dari prefektur Gifu hingga prefektur Yoyama. Dengan atap yang memiliki kemiringan sekitar 60 derajat itu, tumpukan salju tentunya akan cepat runtuh. Apalagi perancang rumah gassho-zukuri di masa lampau memang sangat memikirkan bentuk rumah dengan kondisi alam tersebur. Salah satunya adalah semua atap rumah di desa tersebur menghadap ke timur dan barat yang bertujuan agar salju yang menumpuk bisa segera mencair bila terkena sinar matahari. Karena atap menghadap arah matahari, semua ventilasi yang terletak di loteng mengarah ke selatan dan utara. Dengan begitu aliran udara dan angin bebas keluar masuk sehingga menciptakan sistem ventilasi yang terbaik. Seperti kebanyakan rumah tradisional Jepang lainnya, rumah gassho-zukuri menggunakan kayu. Uniknya, untuk menyatukan antara bagian satu dengan yang lain tidak satupun paku yang digunakan. Semua disatukan dengan tali yang terbuat dari jerami yang dijalin atau neso, istilah untuk menyebut cabang pohon yang dilunakkan. Pada tanggal 9 Desember 1995, UNESCO menetapkan rumah gassho-zukuri di Shirakawa-go dan Gokayama sebagai bagian dari Situs Kebudayaan Dunia. Shirakawa-go memiliki jumlah rumah bergaya gassho-zukuri terbanyak dibanding dengan dua desa bersejarah lainnya. Hingga saat ini, rumah-rumah gassho-zukuri ini masih digunakan sebagai tempat tinggal. Kuil Buddha, gubuk, itakura (gudang), Kuil Shinto, dan saluran air, adalah beberapa objek lain yang wajib dijaga dan dipertahankan. Bagi siapapun yang ingin melihat & belajar perihal kearifan bangsa Jepang, Shirakawa-go adalah tempatnya. Sebuah perkampungan kecil nan indah yang menawarkan perasaan syukur dan kebahagiaan.

Shirakawa-go, Jepang, 4 Februari 2018

***

A Great Country certainly will not ignore the cultural heritage it has. Because that’s where we can actually find traces of the works of the nation created by the ancestors. Shirakawa-go, one of the historic villages owned by the Land of the Rising Sun, Japan is one of them. Traditional houses of about 200 years have been a monk’s witness to its existence. With a unique feature, the roof of a house that forms an equilateral triangle, made of straw braids stacked to the thickness, making the house with a model called gassho-zukuri (praying hands) it becomes a magnet of world tourists. Located in the Shogawa River valley and surrounded by mountains, Shirakawa-go always experiences winter with great snowfall. The exact location is in the Hakusan mountains stretching from Gifu prefecture to Yoyama prefecture. With a roof that has a slope of about 60 degrees, the pile of snow will certainly quickly collapse. Moreover, the designer of gassho-zukuri house in the past is very thinking about the shape of the house with the natural conditions. One of them is all the roof of the house in the village facing east and west which aims to accumulate snow that can immediately melt when exposed to the sun. Because the roof is facing the sun, all the vents located in the attic are heading south and north. That way the air and wind flow freely in and out, creating the best ventilation system. Like most other traditional Japanese houses, gassho-zukuri houses use wood. Uniquely, to unite between one part with another none of the nails are used. All put together with a strap made of straw woven or neso, a term to refer to softened tree branches. On December 9, 1995, UNESCO designated gassho-zukuri houses in Shirakawa-go and Gokayama as part of the World Cultural Site. Shirakawa-go has the largest number of gassho-zukuri-style houses compared to two other historic villages. Until now, these gassho-zukuri houses are still used as shelter. Buddhist temples, huts, itakura (warehouse), Shinto Temple, and waterways, are some other objects that must be maintained and maintained. For anyone who wants to see & learn about Japanese wisdom, Shirakawa-go is the place. A small, beautiful village that offers a feeling of gratitude and happiness.

Shirakawa-go, Japan, February, 4, 2018

DSCF2855

DSCF2863

DSCF2906

DSCF2867

DSCF2869

DSCF2889

DSCF2895

DSCF2899

DSCF2908

DSCF2912

DSCF2917

DSCF2919

DSCF2924

DSCF2925

DSCF2938

DSCF2941

DSCF2953

DSCF2959

DSCF2962

DSCF2966

DSCF3005

DSCF3008

DSCF3029

DSCF3050

DSCF3053

DSCF3054

DSCF3070

DSCF3090

DSCF3091

DSCF3076

DSCF3092

DSCF3098

DSCF3100

DSCF3108

DSCF3115

DSCF3118

DSCF3122

DSCF3128

DSCF3141

DSCF3152

DSCF3197

DSCF3208

DSCF3220

DSCF3224

DSCF3241

DSCF3245

DSCF3252

DSCF3257

DSCF3259

DSCF3171

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

February 15, 2018 at 11:24 am

Sensasi Menyengat Bangkok

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu

กรุงเทพมหานคร อมรรัตนโกสินทร์ มหินทรายุธยา มหาดิลกภพ นพรัตนราชธานีบูรีรมย์ อุดมราชนิเวศน์มหาสถาน อมรพิมานอวตารสถิต สักกะทัตติยวิษณุกรรมประสิทธิ์ (Krungthepmahanakhon Amonrattanakosin Mahintharayutthaya Mahadilokphop Noppharatratchathaniburirom Udomratchaniwetmahasathan Amonphimanawatansathit Sakkathattiyawitsanukamprasit). Kota Malaikat, Kota Besar Yang Abadi, Kota Megah Dari Sembilan Permata, Singgasana Raja, Kota Istana Kerajaan, Rumah Para Dewa Yang Berinkarnasi. Begitulah mereka menyebut Kota Bangkok yang merupakan ibukota Negara Thailand atau Negeri Gajah Putih ini. Kota yang dalam bahasa Thai disebut dengan Krung Thep Maha Nakhon ini memiliki populasi penduduk di atas 8 juta jiwa dengan luas area sekitar 1568,7 m². Kota yang rata-rata memiliki cuaca panas sepanjang tahun ini terkenal akan atmosfir jalanannya yang memikat para turis mancanegara. Dari mulai kuliner, budaya, fesyen, hingga kehidupan malamnya yang menjadi magnet setiap orang. Ribuan cerita bisa kita peroleh di sana. Pedagang kaki lima hampir menyerupai dekorasi yang menghiasi setiap sudut Kota Bangkok. Tuk Tuk atau “Sam Lor”, kendaraan roda tiga yang menyerupai bajaj kalau di Indonesia, merupakan transportasi khas di kota ini yang paling cocok untuk menghindari kemacetan. Pasar Chatuchak yang hanya buka setiap hari Sabtu & Minggu juga merupakan salah satu destinasi yang kerap dikunjungi oleh para pendatang. Kota yang murah & ramah adalah kesan yang saya dapatkan tatkala menginjakkan kaki di sana meski kadang kota ini terkesan berantakan. Dan saya pun baru menyadari betapa masyarakatnya sangat mencintai Sang Raja terutama Raja Bhumibol Adulyadej atau Raja Rama IX yang juga menyukai fotografi. Setelah Raja Bhumibol memimpin Thailand selama 60 tahun sejak tanggal 9 Juni 1946, ia pun wafat di usia 88 tahun pada tanggal 13 Oktober 2016. Selama satu tahun warga Thailand berduka atas kepergiannya. Saat ini tahta kerajaan digantikan oleh putranya yang bernama Putra Mahkota Maha Vajiralongkorn. Ah…Momen singgah di Kota Bangkok memang sangat membekas di hati. Barangkali itupun yang menjadi alasan grup Band Rush menciptakan lagu A Passage To Bangkok. “We’re on the train to Bangkok. Aboard the Thailand Express. We’ll hit the stops along the way. We only stop for the best”.

Bangkok, 16 – 17 Desember 2016 ; 26 – 28 Oktober 2017 ; 15 – 20 November 2017

#47KaryaFoto

***

กรุงเทพมหานคร อมรรัตนโกสินทร์ มหินทรายุธยา มหาดิลกภพ นพรัตนราชธานีบูรีรมย์ อุดมราชนิเวศน์มหาสถาน อมรพิมานอวตารสถิต สักกะทัตติยวิษณุกรรมประสิทธิ์ (Krungthepmahanakhon Amonrattanakosin Mahintharayutthaya Mahadilokphop Noppharatratchathaniburirom Udomratchaniwetmahasathan Amonphimanawatansathit Sakkathattiyawitsanukamprasit). The City of Angels, The Immortal Great City, The Magnificent City Of The Nine Gems, The King’s Throne, The City Of The Royal Palace, The House Of The Incarnate Gods. That’s how they call the City of Bangkok which is the capital of the State of Thailand or the State of the White Elephant. The city is in Thai called Krung Thep Maha Nakhon has a population of over 8 million people with an area of ​​about 1568.7 m². The average city that has hot weather all the year is famous for its street atmosphere that attracts foreign tourists. From the start of culinary, culture, fashion, to the night life that became the magnet of everyone. Thousands of Stories we can get there. Street vendors almost resemble the decoration that adorns every corner of Bangkok City. Tuk Tuk or “Sam Lor”, a three-wheeled vehicle that resembles a bajaj if in Indonesia, is a typical transportation in this city is best suited to avoid traffic. Chatuchak market which is only open every Saturday & Sunday is also one of the destinations frequented by migrants. The cheap & friendly city is the impression I get when I set foot there although sometimes the city seems messy. And I just realized how much the people love the King especially King Bhumibol Adulyadej or King Rama IX who also love photography. After King Bhumibol led Thailand for 60 years from June 9, 1946, he died at the age of 88 on October 13, 2016. For one year the Thai citizens mourned his departure. Today the royal throne is replaced by his son, Crown Prince Maha Vajiralongkorn. Ah … The moment of transit in the city of Bangkok is very imprinted in the heart. Perhaps that’s why the Band Rush group created the song A Passage To Bangkok. “We’re on the train to Bangkok. Aboard the Thailand Express. We’ll hit the stops along the way. We only stop for the best “.

Bangkok, 16 – 17 December 2016 ; 26 – 28 October 2017 ; 15 – 20 November 2017

#47Photographs

DSCF9061

DSCF8418

IMG_4172_blog

IMG_4161_blog

IMG_4145_blog

DSCF7563

DSCF8214

IMG_4200_blog

DSCF8223

DSCF8226

IMG_4211_blog

DSCF8235

DSCF8402

DSCF8423

DSCF8428

IMG_4740_blog

DSCF8828

DSCF7752

DSCF7760

DSCF9492

DSCF9496

DSCF9483

DSCF9321

DSCF9329

DSCF9344

DSCF9351

DSCF9363

DSCF9389

DSCF9394

DSCF9411

DSCF7541

DSCF7546

DSCF7545

DSCF7575

DSCF7677

DSCF7669

DSCF7608

DSCF7946

DSCF7952

DSCF7953

DSCF9119

DSCF9174

DSCF9200

DSCF9203

DSCF9209

DSCF9188

DSCF9098

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

January 27, 2018 at 3:08 am

3 April 2016 : Baptism of Thalia

leave a comment »

pembaptisan thalia

3 April 2016.


Tepat hari ini putriku terkasih dibaptis.

Eleonora menjadi nama baptisnya yang abadi. Sehingga genaplah nama yang diberikan oleh mendiang Sang Ibu, “Eleonora Thalia Sedayu”.

Eleonora memiliki arti sinar atau terang. Dengan harapan agar sinarnya mengandung kehangatan sang ibu Christine Listya Sedayu.
Thalia memiliki arti tumbuh dengan baik serta sedayu memiliki arti siap sedia demi melakukan kebaikan.

Kiranya kelak thalia tumbuh dewasa sehingga menjadi terang bagi sesamanya & selalu mewartakan kebaikan bagi dunia.

Nak, imanmu lah kelak yang akan menjadikan dirimu manusia sesungguhnya. Perlakukanlah sesamamu dengan rasa adil. Jangan pernah melihat pribadi siapapun hanya dari suku, agama maupun status sosialnya.

Hadirkan lah empati dalam setiap detak jantung kehidupanmu. Niscaya hidupmu selalu penuh syukur dan bahagia.

Meski ibumu telah tiada, namun jangan pernah kuatir karna ayah akan selalu menjagamu dan akan selalu ada bersamamu dalam suka dan duka.

Spread your wings…thalia /m\

 

Written by Admin

December 24, 2017 at 4:11 am

23 Desember : Doa Kepulangan Tya & Kelahiran Thalia

leave a comment »

23 Desember 2017

Dear Tya…

Tetaplah menjadi sang pewarta kehangatan,
Tetaplah menjadi sang pengingat syukur,
Tetaplah menjadi sang penghantar tawa,
Tetaplah menjadi sang penawar rindu,
Tetaplah menjadi sang penguat hati,
Tetaplah menjadi sang pengisi cinta,
Tetaplah menjadi sang pelipur lara,
Yang dihembuskan dari surga.

Dear Thalia…

Karena engkau adalah api kehangatan,
Kerana engkau adalah gelombang syukur,
Karena engkau adalah sumber tawa,
Karena engkau adalah mentari rindu,
Karena engkau adalah cahaya hati,
Karena engkau adalah lubuk cinta,
Karena engkau adalah penghapus lara,
Yang dititiskan ke bumi.

Allah, Sang Semesta, & Sumber Segala Kasih…

Aku panjatkan doa & harapan bagi kedua bidadariku,
Dengan segenap hati dan segenap jiwa,
Bagi sang istri tersayang yang telah bersamaMu,
Bagi sang putri tersayang yang sedang bersamaku,
Kiranya berkat dan rahmat Ilahi senantiasa menyertai mereka berdua,
Baik dalam keabadian maupun dalam masa kehidupan,
Sebagaimana kehendak & rencana yang sesungguhnya menjadi misteri abadiMu.

Terima kasih Sang Kuasa, Pencipta langit & bumi.

23 Desember 2015, Mengenang kepergian & kedatangan.
23 Desember 2017, Mengenang anugerah & karunia.

Panjang bahagianya serta mulia…
Christine Listya Sedayu

Panjang syukurnya serta mulia…
Eleonora Thalia Sedayu

#2TahunKepulanganTya
#2TahunKelahiranThalia

Written by Admin

December 24, 2017 at 3:56 am