I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Perayaan Menerangi Kota | Bdg Caang | 18 October 2014, Bandung

leave a comment »

oleh galih sedayu

Sebagai puncak perayaan hari jadi kota bandung yang ke-204 tahun, pemerintah kota bandung menggelar sebuah festival kota yang dinamakan “Bdg Caang”. Tepatnya tanggal 18 oktober 2014 pukul 19:00 wib, iring-iringan kendaraan hias dengan segala atribut gemerlap lampu warna-warninya mulai melakukan pawai mengelilingi sebagian kota bandung. Mobil, motor, sepeda, dan berbagai sarana transportasi lainnya disulap menjadi sebuah atribut pawai yang unik. Parade yang dimulai dari jalan diponegoro menuju jalan merdeka kota bandung ini memang menyedot banyak perhatian dari warga kota bandung yang telah menunggu sejak sore hari. Para warga bandung sangat antusias menyambut karnaval kota ini dengan caranya masing-masing, dari mulai mengajak keluarganya, berfoto bersama, melakukan selfie, dan berbagai aktivitas lainnya. Untuk menyemangati warga, kontes kendaraan mobil hias pun dihadirkan sembari menguji dan melihat kreativitas warga bandung. Sebenarnya, konsep awal desain kendaraan hias yang dilombakan pada kegiatan Bdg Caang ini adalah mengacu kepada sebuah tema. Namun karena keterbatasan waktu dan persiapan yang minim, tema desain yang dibuat oleh warga masih diberikan sebebas-bebasnya selama menggunakan unsur lampu dan dekorasinya mesti menutupi gestur mobil secara keseluruhan. Bila dilihat secara seksama, memang belum tampak sebuah kreasi yang benar-benar unik pada pagelaran bandung caang ini. Apalagi mayoritas kelompok yang mengikuti parade ini masih berasal dari dinas dan kecamatan pemerintah kota bandung. Hanya sedikit yang berasal dari komunitas kreatif kota bandung, yang mana seharusnya dari sanalah muncul kreasi-kreasi yang luar biasa. Tercatat komunitas Hare Khrisna, Urban Jedi dan kelompok kecil komunitas lainnya yang baru bersinergi di perhelatan bandung caang ini. Namun demikian, harapannya festival ‘Bdg Caang” ini menjadi pemantik awal bagi kebangkitan dan kolaborasi komunitas kreatif kota bandung yang kelak mau turun ke jalan dan berbagi ide kreatifnya agar hasil kreasinya dapat dinikmati serta menghibur warga kota bandung. Semoga terang selalu terpancar bagi kota bandung.

@galihsedayu | bandung, 18 oktober 2014

bdg caang

bdg caang

bdg caang

bdg caang

bdg caang

bdg caang
bdg caang

bdg caang

bdg caang

bdg caang

bdg caang

bdg caang

copyright (c) 2014 by galih sedayu
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

October 25, 2014 at 5:47 am

Nyala Merdeka Masyarakat Fotografi Indonesia

with 2 comments

oleh galih sedayu

Ada yang menarik pada salah satu acara debat Calon Presiden (Capres) Indonesia yang diselenggarakan di Gran Melia, Jalan Rasuna Said, Jakarta pada tanggal 15 Juni 2014 yang silam. Seperti kita ketahui, saat itu tengah berlangsung debat Capres antara Jokowi versus Prabowo. Tepatnya di sesi ke-5 debat capres tersebut, Jokowi bertanya kepada lawannya Prabowo, “Bagaimana pandangan bapak mengenai ekonomi kreatif? Karena ini banyak sekali mengurangi pengangguran”. Dan kemudian acara debat itupun berlanjut seru.

Sesudah ucapan Jokowi perihal ekonomi kreatif di acara debat tersebut, berbagai tanggapan positif pun muncul di berbagai media sosial seperti twitter dan facebook terutama di kalangan anak muda indonesia. Mereka merasa terwakili dan didukung atas keberpihakan Jokowi terhadap isu ekonomi kreatif yang erat hubungannya dengan kreativitas anak-anak muda. Tak heran karena di indonesia saat ini begitu banyak anak muda yang berkecimpung di dalam dunia industri kreatif. Hingga kini, isu ekonomi kreatif menjadi sebuah topik yang semakin hangat diperbincangkan di kalangan anak-anak muda bangsa kita.

Namun sesungguhnya, wacana ekonomi kreatif telah muncul sejak sekitar tahun 2005 dalam beberapa diskusi komunitas di kota Bandung. Kemudian sekitar tahun 2006, konsep ekonomi kreatif ini mulai diperkenalkan kepada pemerintah Provinsi Jawa Barat. Lalu pada tahun 2007, Bandung dinobatkan menjadi kota percontohan bagi pengembangan ekonomi kreatif di indonesia oleh British Council. Dan akhirnya pada tahun 2008, lahirlah sebuah perkumpulan independen pertama di indonesia yang mengusung semangat ekonomi kreatif bernama Bandung Creative City Forum (BCCF). Dari Bandunglah kemudian gagasan perihal pola dan sinergitas masyarakat kreatif yang tadinya menganut Triple Helix yakni Academic, Business & Goverment (ABG), kini pemerintah menganut pola Quadro Helix, yakni Academic, Business, Goverment plus Community (ABGC). Nyatanya tambahan unsur komunitas sebagai pelaku kreatif menjadi pemantik perubahan dalam perkembangan ekonomi kreatif itu sendiri. Pemerintah pun akhirnya tidak tinggal diam. Salah satu bentuk kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk mendukung pengembangan ekonomi kreatif adalah keluarnya Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2009. Pada akhir tahun 2011, di era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) pun lahir yang dikomandani oleh Mari Elka Pangestu.

Menurut peraturan menteri pariwisata dan ekonomi kreatif itu sendiri definisi perihal ekonomi kreatif itu adalah kegiatan ekonomi yang berbasis kepada kreativitas intelektual manusia, baik individu maupun kelompok, yang bernilai ekonomi dan berpengaruh kepada kesejahteraan masyarakat indonesia dan dapat dilindungi melalui rezim HKI. Secara sederhana Ekonomi Kreatif bisa diartikan sebagai sebuah model interdisiplin yang menggabungkan berbagai potensi kebudayaan, teknologi dan ekonomi dengan sasaran berupa peningkatan kesejahteraan perekonomian, peningkatan keterlibatan sosial dan promosi identitas kultural.

Saat ini ada 18 subsektor yang dikategorikan masuk ke dalam Industri Kreatif dan menjadi fokus perhatian pemerintah yaitu bidang periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, fesyen, video, film, fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukkan, penerbitan & percetakan, layanan komputer & piranti lunak, televisi, radio, riset & pengembangan serta kuliner. Menurut catatan, pada awalnya hanya ada 14 subsektor industri kreatif, kemudian bertambah menjadi 15 subsektor dengan masuknya subsektor kuliner, dan terakhir disepakati ada 18 subsektor dengan dipisahkannya beberapa subsektor industri kreatif yang tadinya digabung. Dari sinilah akhirnya fotografi memiliki tempat tersendiri sebagai salah satu subsektor ekonomi kreatif dimana sebelumnya fotografi masih bergabung dengan film dan video.

Perlahan-lahan, fotografi indonesia akhirnya mulai menarik perhatian pemerintah. Apalagi setelah pemerintah membentuk bagian khusus fotografi yakni Sub-Direktorat Pengembangan Fotografi, Direktorat Pengembangan Seni Rupa, Direktorat Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Seni & Budaya (EKSB), Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenparekraf. Dimana Eddy Susilo yang menjabat selaku Kasubdit Bidang Pengembangan Fotografi tersebut. Mulai saat itu lambat laun terjadilah komunikasi dan kolaborasi aktif antara pemerintah dengan berbagai pelaku fotografi indonesia.

Atas usulan beberapa pelaku fotografi indonesia, akhirnya digagaslah sebuah acara yang bernama Kongres Fotografi Indonesia dengan maksud untuk mempertemukan para pelaku fotografi tanah air dan membahas masa depan fotografi indonesia. Demi mempersiapkan Kongres Fotografi Indonesia, pada hari Rabu tanggal 24 April 2013 bertempat di Hotel RedTop, Jalan Pecenongan, Jakarta, diselenggarakanlah FGD (Focus Group Discussion) yang pertama dengan tema “Penyusunan Rumusan Fasilitasi & Advokasi Fotografi Indonesia. Para pelaku fotografi yang hadir mewakili wilayah Jakarta, Bandung dan sekitarnya yaitu Ade Darmawan (Jakarta), Adhitya Zein (Bandung), Andrew Linggar (Jakarta), Anton Ismael (Jakarta), Ari Santosa (Jakarta), Atieq S S Listyowati (Jakarta), Bahtiar Dwisusanto (Jakarta), Dedi Istanto (Jakarta), Fendi Siregar (Jakarta), Firman Ichsan (IKJ), Galih Sedayu (Bandung), Gathot Subroto (Jakarta), Harto Solihin Margo (Bandung), Imam Hartoyo (Jakarta), Irma Chantily (Jakarta), Lateev Haq (Jakarta), Priadi Soefjanto (Jakarta), Raiyani Muharramah (Bogor), Ray Bachtiar Dradjat (Jakarta), Refi Mascot (Jakarta), Rully Kesuma (Jakarta), Toga Tampubolon (Jakarta), Yase Defirsa (Jakarta), dan Ve Dhanito (Jakarta).

Kemudian pada hari Rabu tanggal 1 Mei 2013, diselenggarakan kembali FGD yang kedua bertempat di Hotel Tunjungan, Jalan Basuki Rachmat, Surabaya. Para pelaku fotografi yang hadir mewakili wilayah Jawa Tengah, Jogja, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Selatan, Pekan Baru, Aceh, Manado, Makassar dan Papua. Para pelaku fotografi ini adalah Andi Sucirta (Bali), Anjas Wijanarko (Solo), Arif Budiman (Bali), Edial Rusli (Jogja), Eny Erawati (Malang), Hartono Roesli Saputra (Surabaya), Husni Oa (Papua), Irwandi (Jogja), Poenk Pradopo (Surabaya), Wimo Ambala Bayang (Jogja), Aqiq Aw (Jogja), Muhammad Sujai (Sidoarjo), Muhammad Akbar (Makassar), Rasyid Ridha (Banjarmasin), Juliansyah Ajie (Aceh), Julian Nail Sitompul (Pekanbaru), Roedy Joen (Surabaya), Decky (Malang), Rismianto (Jember), dan Steven Sumolang (Manado). Adapun hasil dari FGD di Jakarta dan Surabaya tersebut akhirnya berhasil memetakan persoalan di bidang fotografi dan sepakat untuk melahirkan sebuah usulan berupa wadah bagi para pelaku fotografi indonesia yang diberi nama sementara “Forum Fotografi Indonesia”. Nama ini kemudian yang diusulkan dan dibawa menuju acara Kongres Fotografi Indonesia.

Pada FGD pertama & kedua ini ditekankan mengenai pentingnya sebuah forum fotografi di Indonesia yang berfungsi sebagai wadah komunikasi antar pemangku kepentingan, wadah menyalurkan aspirasi para pemangku kepentingan, wadah koordinasi para pemangku kepentingan, jalur komunikasi antara masyarakat umum dengan para pemangku kepentingan, forum pengembangan fotografi, dan forum konsultasi dan rekomendasi hukum. Pola jejaring yang dianut oleh forum fotografi ini melibatkan unsur jurufoto, bisnis, pemerintah dan edukasi. Pola ini sebenarnya mirip dengan sistem Quadro Helix yang diterapkan dalam pengembangan ekonomi kreatif yang terdiri dari unsur Akademisi, Bisnis, Pemerintah dan Komunitas.

Entah mengapa, FGD pun kembali dilakukan oleh Kemenparekraf melalui Direktorat Jenderal Ekonomi Kreatif berbasis seni dan budaya. FGD ini berlangsung pada tanggal 5-6 September 2013 di Hotel Oasis, Jalan Lombok No.10 Bandung. Dalam undangan disebutkan bahwa FGD ini bermaksud untuk menyusun pedoman ekonomi kreatif di bidang seni rupa. Karena wilayah fotografi berada di bawah koordinasi Dirjen Seni Rupa Kemenparekraf, sepertinya dirasa perlu untuk menghadirkan perwakilan sektor fotografi di indonesia. Dalam daftar undangan tertera nama Sekretaris Ditjen EKSB, Sekretaris Ditjen EKMDI, Direktur Pencanangan Destinasi & Investasi Pariwisata, Kepala Puslitbang Ekonomi Kreatif, Kepala Biro Hukum & Kepegawaian, Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung, Kepala Bagian Hukum-Kepegawaian-Organisasi-Setditjen EKSB, Kasubdit Pengembangan Ekonomi Terapan, Kasubdit Pengembangan Seni Rupa Murni, Kasubdit Pengembangan & Pemasaran Apresiasi Seni Rupa, Kasubdit Fotografi, Inda C Noerhadi, Rizky Adiwilaga, Asmudjo, Basuki Antariksa, Aryudi Saputra, Meizan Diandra Nataadiningrat, Dendi Darman, Adhi Nugraha, Faturrochman, Hans Herbert, Gebie Babyrose, Ruddy Hatumena, Tisna Sanjaya, Octora Chan, Aming D Rahman, Herra Pahlasari, Endy Sepkendarsyah, dan Galih Sedayu. Perlu diketahui bahwa ternyata FGD ini tidak berkaitan sama sekali dengan rencana kegiatan Kongres Fotografi Indonesia. Setelah FGD ini, kemudian Kemenparekraf mengundang kembali perwakilan sektor fotografi untuk mengikuti workshop penelahaan dan bantuan hukum pada tanggal 10-12 Oktober 2013 yang berlangsung di Grya Dharma Wulan Sentul Kabupaten Bogor.

Sesungguhnya kedua kegiatan ini bertujuan untuk menyusun NSPK (Norma, Standar, Prosedur & Kriteria) Ekonomi Kreatif Bidang Seni Rupa yang terdiri dari seni murni, seni terapan dan fotografi. Maksud dan tujuan penyusunan NSPK ini adalah untuk memberikan panduan kepada pemerintah dan pemerintah daerah dalam melaksanakan kegiatan pendukungan bagi pengembangan ekonomi kreatif di bidang seni rupa ; untuk dapat memetakan ruang lingkup ekonomi kreatif di bidang seni rupa serta menetapkan frame work, benchmark, proyeksi dan parameter bagi pengembangan ekonomi kreatif di bidang seni rupa, sesuai konteks Indonesia dan masing-masing daerah (potensi masing-masing daerah) ; serta untuk dapat menetapkan koordinasi dan kerjasama antara kementrian untuk menetapkan kegiatan bagi pengembangan ekonomi kreatif di bidang seni rupa berkait dengan sektor-sektor pendukungnya seperti industri kreatif, industri kebudayaan, HKI, kota kreatif, klaster kreatif dan desa kreatif.

Sementara itu, pihak Kemenparekraf ternyata tengah menyusun buku cetak biru atau dokumen perihal rencana pengembangan ekonomi kreatif untuk lima tahun ke depan (2015-2019). Karena fotografi merupakan salah satu subsektor ekonomi kreatif, maka pemerintah perlu melakukan sinergi dan koordinasi dengan seluruh pelaku fotografi di indonesia sekaligus memetakan ekosistem melalui rangkaian FGD sebagai bahan untuk menyusun buku cetak biru tersebut. Tujuan FGD ini adalah Merumuskan Kerangka Strategis pengembangan subsektor Fotografi yang meliputi visi, misi, tujuan, sasaran, indikator, target, arah kebijakan, strategi dan tahapan pembangunan, serta Merumuskan kerangka kerja pengembangan subsektor Fotografi yang meliputi indikasi program dan kegiatan pengembangan subsektor Fotografi.

Kegiatan ini dilakukan pula bersamaan dengan FGD ekosistem subsektor ekonomi kreatif yang lain yaitu bidang periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, fesyen, video, film, permainan interaktif, musik, seni pertunjukkan, penerbitan & percetakan, layanan komputer & piranti lunak, televisi, radio, riset & pengembangan serta kuliner. Memang benar bahwa kegiatan FGD ekosistem subsektor fotografi ini tidak ada kaitannya dengan rencana kegiatan Kongres Fotografi Indonesia. Karena FGD ekosistem subsektor fotografi ini diinisiasi oleh pemerintah guna membuat buku cetak biru pengembangan ekonomi kreatif, sedangkan FGD & Kongres Fotografi Indonesia diinisiasi oleh beberapa pelaku fotografi indonesia dengan tujuan untuk melahirkan sebuah forum atau organisasi fotografi. Meskipun begitu, kedua program tersebut sama-sama difasilitasi oleh pemerintah, dalam hal ini difasilitasi oleh Kemenparekraf. FGD ini dilaksanakan sebanyak 3 kali dengan tema bahasan yang meliputi Ekosistem (FGD ke-1), Potensi dan Permasalahan (FGD ke-2), dan Kerangka Strategis dan Kerangka Kerja (FGD ke-3).

Pada hari senin tanggal 12 Mei 2014, FGD ekosistem subsektor fotografi yang pertama dilaksanakan di Balairung Soesilo Soedarman Kemenparekraf, Jalan Medan Merdeka Barat No.17, Jakarta. Agenda dari FGD ini adalah menentukan definisi dan ruang lingkup subsektor fotografi. Sayangnya FGD ini hanya mengundang sedikit perwakilan para pelaku fotografi yakni Edial Rusli (Yogyakarta), Firman Ichsan (Jakarta), Yudhi Soeryoatmojo (Jakarta), Yase Defirsa Cory (Jakarta), Andrew Linggar (Jakarta), Galih Sedayu (Bandung), Ray Bachtiar (Jakarta), Imam Hartoyo (Jakarta), Hendrikus Ardianto (Bandung), Irma Chantily (Jakarta) dan Ferry Ardianto (Jakarta). Output dari FGD ini yaitu Definisi dan ruang lingkup subsektor fotografi, Peta Ekosistem subsektor fotografi, Peta Industri subsektor fotografi, Gambaran kondisi industri atau dinamika dalam subsektor fotografi, serta Gambaran model bisnis subsektor fotografi.

FGD ekosistem subsektor fotografi yang kedua dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 28 Mei 2014 dan masih bertempat di lokasi yang sama yakni di Balairung Soesilo Soedarman Kemenparekraf, Jalan Medan Merdeka Barat No.17, Jakarta. Agenda FGD ini adalah menentukan isu strategis potensi dan permasalahan subsektor fotografi. Dalam FGD ini Kemenparekraf meminta Achmad Gazali (Bandung) sebagai moderator dan Wijayanto Budi Santoso (Bandung) sebagai presenter, dimana keduanya sekaligus mewakili tim studi SBM-ITB yang dipercaya sebagai tim riset. Undangan perwakilan para pelaku fotografi sebagai observer yakni Arbain Rambey (Jakarta) dan Yase Defirsa Cory (Jakarta). Adapun undangan yang didaulat sebagai sebagai narasumber yaitu Edial Rusli (Yogyakarta), Firman Ichsan (Jakarta), Andrew Linggar (Jakarta), Galih Sedayu (Bandung), Ray Bachtiar (Jakarta), Kristupa Saragih (Yogyakarta), Imam Hartoyo (Jakarta), Hendrikus Ardianto (Bandung), Irma Chantily (Jakarta) dan Ferry Ardianto (Jakarta) dan Yudhi Soeryoatmojo (Jakarta). FGD kedua ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi subsektor fotografi indonesia, mengidentifikasi permasalahaan dan alternatif solusi subsektor fotografi indonesia, merumuskan prioritas potensi dan permasalahan subsektor fotografi indonesia, meningkatkan pemahaman mengenai struktur pasar dalam subsektor fotografi indonesia, serta meningkatkan pemahaman mengenai daya saing subsektor fotografi indonesia.

Kemudian FGD ekosistem subsektor fotografi yang ketiga dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 11 Juni 2014 dan bertempat (masih sama) yakni di Balairung Soesilo Soedarman Kemenparekraf, Jalan Medan Merdeka Barat No.17, Jakarta. Agenda yang dibahas adalah menentukan rencana pengembangan subsektor fotografi 2015-2019. Para undangan dalam FGD ini yaitu Achmad Gazali (Bandung) sebagai moderator dan Wijayanto Budi Santoso (Bandung) sebagai presenter yang keduanya mewakili tim SBM-ITB. Undangan perwakilan para pelaku fotografi sebagai narasumber yaitu Edial Rusli (Yogyakarta), Firman Ichsan (Jakarta), Arbain Rambey (Jakarta), Yase Defirsa Cory (Jakarta), Andrew Linggar (Jakarta), Galih Sedayu (Bandung), Ray Bachtiar (Jakarta), Kristupa Saragih (Yogyakarta), Imam Hartoyo (Jakarta), Hendrikus Ardianto (Bandung), Irma Chantily (Jakarta) dan Ferry Ardianto (Jakarta), Risman Marah (Yogyakarta), Yudhi Soeryoatmojo (Jakarta) dan Josef Tjahjo Kuntjoro (Jakarta). Lalu sebagai narasumber yang lain ada Muslikh, SH (Jakarta) yang mewakili Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Yuslisar Ningsih, SH (Jakarta) yang mewakili Direktorat Hak Cipta, Desain Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu dan Rahasia Dagang Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia, serta perwakilan dari Asdep Urusan Pembiayaan dan Penjaminan Kredir Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil & Menengah.

Dari hasil ketiga FGD dalam rangka melakukan Pemetaan Ekonomi Kreatif Indonesia ini akhirnya didapatkan beberapa kesimpulan tentang hal-hal yang berkaitan dengan subsektor fotografi. Dimana fokus ruang lingkup subsektor fotografi dalam pengembangan ekonomi kreatif indonesia meliputi fotografi jurnalistik & dokumenter ; fotografi komersial ; dan fotografi seni. Untuk potensi subsektor fotografi disebutkan bahwa fotografi memiliki kekuatan (internal) dengan alasan bahwa pasar fotografi tentunya semakin tumbuh seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk ; kebutuhan fotografi untuk media, periklanan dan foto-foto dokumentasi akan selalu ada ; membuka lapangan kerja ; tumbuhnya komunitas-komunitas baru di daerah-daerah dan juga komunitas di dunia maya ; kemudahan akses informasi menjadikan fotografi dapat dipelajari oleh siapa saja; serta peningkatan konsumsi kamera baik itu sebagai sarana bekerja ataupun untuk aktualisasi diri. Lalu disebutkan pula bahwa fotografi memiliki potensi kesempatan (eksternal) dengan alasan bahwa fotografi dapat berfungsi sebagai promosi pariwisata yang secara tidak langsung dapat membuka keran devisa bagi negara, dan tingginya konsumsi alat fotografi dalam negeri seharusnya dapat memberikan daya tawar yang lebih dengan produsen untuk melakukan alih teknologi.

Kemudian hasil FGD ini menyebutkan pula beberapa permasalahan subsektor fotografi di indonesia yaitu Infrastruktur yang tidak memadai ; Ketergantungan alat-alat fotografi impor ; Ketergantungan alat-alat piranti lunak yang berlisensi ; Kebijakan HAKI yang belum terlaksana baik di dalam negeri ; Adanya tumpang tindih kementrian dalam menaungi subsektor fotografi ; Belum adanya asosiasi fotografi yang terpusat dan memiliki kekuatan dalam menggerakkan fotografi indonesia ; Perlunya perlindungan bagi fotografer lokal untuk menghadapi persaingan dengan fotografer luar negeri ; Belum adanya kemudahan untuk meminjam dana dari jasa keuangan untuk menjalankan bisnis di bidang industri kreatif ; Minimnya galeri atau ruang publik yang dapat digunakan untuk berpameran ; Adanya biaya-biaya yang memberatkan dalam penggunaan ruang publik ; Minimnya dukungan pemerintah dalam mendukung fotografer untuk berpameran di luar negeri ; Persaingan yang tidak sehat di dalam negeri karena tumbuhnya fotografer-fotografer amatir.

Mengenai hasil kegiatan ketiga FGD ekosistem subsektor fotografi yang telah diselenggarakan ini kemudian dipublikasikan oleh Kemenparekraf ke dalam bentuk buku cetak biru berisi perihal rencana pengembangan fotografi indonesia selama 5 tahun (2015-2019). Buku cetak biru ini diluncurkan pada hari Selasa tanggal 14 Oktober 2014 bertempat di Teater Besar, Gedung Teater Jakarta, Komplek Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya No.73, Jakarta. Peluncuran buku cetak biru ini bertepatan pula dengan Kegiatan “Salam Kreatif” yakni sebuah persembahan untuk insan kreatif sebagai perayaan era ekonomi kreatif di indonesia. Di dalam buku itulah terdapat rencana aksi jangka menengah fotografi indonesia ke depan.

Untuk mesukseskan kegiatan Kongres Fotografi Indonesia, maka kemudian dibuatlah Tim Formatur untuk membentuk Forum Fotografi Indonesia, yang digulirkan pada hari kamis tanggal 12 Juni 2014 dan berlokasi di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA), Jakarta. Tugasnya adalah membentuk Dewan Pembina dan Pengurus Harian, Membentuk Rancangan AD/ART Forum Fotografi, dan mempersiapkan Kongres Fotografi untuk pembentukan Forum Fotografi Indonesia. Tim Formatur ini terdiri dari Oscar Motuloh (Ketua), Bambang Wijanarko (Bendahara), Lasti Kurnia (Sekretaris), Imam Hartoyo (Divisi Persiapan Penyusunan Draft AD/ART), Eddy Susilo (Divisi Persiapan Penyusunan Draft AD/ART), Andrew Linggar (Divisi Persiapan Acara Kongres), Purwo Subagiyo (Divisi Persiapan Acara Kongres), Ray Bachtiar D (Divisi Sosialisasi), Rakhmat Koesnadi (Divisi Sosialisasi), Yase Defirsa Cory (Divisi Sosialisasi), Reynold Sumayk (Seleksi Dewan Pembina/Pengurus),Edial Roesli (Divisi Riset Daftar calon Dewan Pembina/Pengurus), Rully Kesuma (Divisi Riset Daftar calon Dewan Pembina/Pengurus), Irma Chantily (Divisi Riset Daftar calon Dewan Pembina/Pengurus), dan Arbain Rambey (Divisi Riset Daftar calon Dewan Pembina/Pengurus.

Akhirnya pada tanggal 10-12 Oktober 2014, Kongres Fotografi Indonesia berhasil dilaksanakan, bertempat di Hotel Amaris Mangga Dua, Jalan Gunung Sahari Raya No.1 Jakarta. Pembukaan Kongres Fotografi Indonesia (hari pertama) yang berlangsung di Balairung Soesilo Soedarman Kemenparekraf, Jalan Medan Merdeka Barat No.17, Jakarta ini dihadiri oleh Mari Elka Pangestu sebagai Mentri Pariwisata & Ekonomi Kreatif RI sekaligus tampil menjadi Keynote Speech di hadapan 80 peserta kongres. Pada kesempatan itu pula, Mari Elka Pangestu menyebutkan bahwa pada tahun 2013, fotografi bersama subsektor film, video mampu menghasilkan nilai tambah Rp 8,4 triliun atau 1,3 % dari total kontribusi 15 subsektor ekonomi kreatif terhadap PDB nasional sebesar Rp 641, 8 triliun. Kemudian beliau juga mengatakan bahwa Lapangan kerja yang tercipta sebanyak 63.755 tenaga kerja atau 0,54 % dari total penciptaan lapangan kerja sektor ekonomi kreatif sebanyak 11,8 juta orang.

Adapun daftar peserta Kongres Fotografi Indonesia yang diundang oleh tim formatur adalah Goenadi Haryanto (Jakarta), Dibya Pradana (Jakarta), Felix (Jakarta), Jerry Adiguna (Jakarta), Agung Ariefandi (Jakarta), Ahmad Deny Salman (Jakarta), Anton Bayu Samudra (Jakarta), Anton Ismael (Jakarta), Danu Sagoro (Jakarta), Darwis Triadi (Jakarta), Don Hasman (Jakarta), Edwin Djuanda (Jakarta), Firman Ichsan (Jakarta), Guntur Santoso (Jakarta), Hadi Ariwibowo (Jakarta), Hartono K Halim (Jakarta), Hermanus Prihatna (Jakarta), Wiryadi Lorens (Jakarta), Johannes Rompi (Jakarta), Kemal Jufri (Jakarta), Lans Bramantyo (Jakarta), Suherry Arno (Jakarta), Mosista Pambudi (Jakarta), Ng Swan Ti (Jakarta), Refi Mascot (Jakarta), Roy Genggam (Jakarta), Sandy Chandra (Jakarta), Sigit Pramono (Jakarta), Tantyo Bangun (Jakarta), Warren Kiong (Jakarta), Yudhi Soerjoatmodjo (Jakarta), Johanes Judha (Jakarta), Willy Pitrawirya (Jakarta), Bachtiar (Aceh), Hotli Simanjuntak (Aceh), Risman Marah (Yogyakarta), Johnny Hendarta (Yogyakarta), Budi ND Dharmawan (Yogyakarta), Kristupa Saragih (Yogyakarta), Wimo Ambala Bayang (Yogyakarta), Arya Martha (Bandung), Budhi Ipoeng (Bandung), Galih Sedayu (Bandung), Harry Reynaldi (Bandung), Harto Solichin Margo (Bandung), Raiyani Muharramah (Bogor), Riza Marlon (Bogor), Rismianto (Jember), Decky Yulian (Malang), Edward Tigor Siahaan (Medan), Ferdi Siregar (Medan), Jhonny Siahaan (Medan), Julian Nail Sitompul (Pekanbaru), Andi Kusnadi (Semarang), Muhammad Sujai (Sidoarjo), Anjas Wijanarko (Solo), Mamuk Ismuntoro (Surabaya), Pradopo (Surabaya), Yuyung Abdi (Surabaya), Qwadru Wicaksono (Lombok), Muhammad Akbar (Makassar), Yusuf Ahmad (Makassar), Steven Sumolang (Manado), Karolus Naga (NTT), Mohammad Reza (Palu), Eko Soebagyo (Soroako), Andi Sucirta (Bali), Arief Budiman (Bali), Cipto Aji Gunawan (Bali), Bagus Made Irawan (Bali), Rasyid Ridha (Banjarmasin), Taufiqurrahman (Bontang), Musyawir (Mimika), Husni Oa (Jayapura), dan Asep Tajoer (Ternate).

Hari pertama Kongres Fotografi Indonesia diisi oleh kegiatan Seminar “HAKI dalam Fotografi” oleh Dirjen HAKI. Kemudian dilanjutkan dengan Seminar “Pendidikan Fotografi dalam pengembangan ekonomi kreatif” oleh Ditjen PAUD. Setelah itu kegiatan diisi oleh Seminar “Peran bisnis/industri fotografi dalam pengembangan ekonomi kreatif” oleh Asosiasi Design Grafis Indonesia. Lalu di akhir acara, para peserta dibagikan kuesioner perihal segala isu & permasalahan fotografi yang ada indonesia untuk kemudian dijadikan materi pembahasan di hari kedua kongres.

Pada hari kedua Kongres Fotografi Indonesia, para peserta kongres dibagi menjadi 3 komisi. Dimana masing-masing komisi diberi tugas tertentu dari mulai mengusulkan nama organisasi fotografi yang akan dibuat, bentuk hukum, visi dan misi, program kerja hingga format dewan pembina & badan pengurus. Lalu masing-masing komisi memaparkan usulan-usulan tersebut melalui sidang pleno. Saat itu, sidang pleno berhasil memutuskan nama organisasi fotografi yang telah disepakati bersama. Namun demikian, nama organisasi tersebut bukanlah “Forum Fotografi Indonesia” seperti yang telah disiapkan oleh Tim Formatur Kongres sebelumnya. Nama organisasi yang telah disepakati oleh para peserta kongres yaitu “Masyarakat Fotografi Indonesia” atau “Indonesian Photograpic Society”.

Di hari kedua itu pula sidang pleno menetapkan nama-nama “Dewan Kehormatan” untuk Masyarakat Fotografi Indonesia yaitu Mari Elka Pangestu, Soedja’i Kartasasmita, Soeprapto Soedjono, dan Watie Moerany. Lalu ditetapkan pula “Dewan Pembina” untuk Masyarakat Fotografi Indonesia. Dewan Pembina ini terdiri dari Sigit Purnomo (Ketua Dewan Pembina), Oscar Motuloh (Wakil Letua Dewan Pembina I), dan M. Firman Ichsan (Wakil Ketua Dewan Pembina II). Lalu anggota Dewan Pembina terdiri dari Agus Leonardus, Arbain Rambey, Darwis Triadi, Don Hasman, Edmond Makarim, Edwin Djuanda, Fendi Siregar, Guntur Santoso, Imam Hartoyo, Irwan Kamdani, Johnny Hendarta, Ray Bachtiar, Rio Helmi, Risman Marah, Solichin Margo dan Yudhi Soerjoatmodjo.

Kemudian pada hari ketiga Kongres Fotografi Indonesia, diputuskan nama-nama “Badan Pengurus” untuk Masyarakat Fotografi Indonesia. Badan Pengurus ini terdiri dari Hermanus Prihatna (Ketua) ; Andrew Linggar (Wakil Ketua) ; Lasti Kurnia (Kesekretariatan) ; Wiryadi Lorens (Keuangan) ; Agatha Bunanta & Edial Rusli (Kerjasama & Koordinasi) ; Anton Bayu, Galih Sedayu, Ng Swan Ti & Ridha Kusumabrata (Program) ; Dibya Pradana, Marissa Tunjungsari & Purwo Subagyo (Marketing & Komunikasi) ; Irma Chantily & Rully Kesuma (Penelitian & Pengembangan).

Karena Masyarakat Fotografi Indonesia tidak mengenal keanggotaan, maka diputuskan juga nama-nama yang mewakili “Mitra Daerah” yang terdiri dari Bachtiar (Aceh), Ferdi Siregar (Medan), Edward Tigor Siahaan (Toba), Julian Sitompul (Pekanbaru), Aprison Irsyam (Padang), Harry Reynaldi (Bandung), Nurhaipin La Manna (Banten), Andy Kusnadi (Semarang), Budi Dharmawan (Yogyakarta), Anjas Aryo Wijanarko (Solo), Mamuk Ismuntoro (Surabaya), Decky Yulian Hersanto (Malang), Rasyid Ridha (Banjarmasin), Abdul Hakim (Bontang), Andi Sucirta (Bali), Bagus Made Irawan (Bali), Yusuf Ahmad (Makassar), Mohammad Akbar (Makassar), Karolus Naga (NTT), Steven Sumolang (Manado), Muhammad Reza (Palu), Asep Yusup Tazul Aripin (Ternate), Qwadro Putro Wicaksono (Lombok), dan Husni Oa (Papua).

Pada akhirnya, dibacakanlah kemudian “Deklarasi” sebagai hasil Kongres Fotografi Indonesia. Beginilah bunyi deklarasi tersebut.

“Kami – para insan fotografi yang menghadiri Kongres Fotografi Indonesia, yang berlangsung di Hotel Amaris Jakarta pada tanggal 10-12 Oktober 2014, mendeklarasikan terbentuknya Masyarakat Fotografi Indonesia (Indonesian Photography Society).

Masyarakat Fotografi Indonesia adalah organisasi nirlaba yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam dunia fotografi – yaitu praktisi fotografi, akademisi, bisnis dan pemerintah.

Masyarakat Fotografi Indonesia adalah sebuah wadah yang berperan memayungi, mendorong kerjasama dan koordinasi antar pemangku kepentingan – baik perseorangan maupun segala bentuk perkumpulan, komunitas, asosiasi profesi fotografi dan lain sebagainya – untuk mengembangkan sektor fotografi di indonesia.

Masyarakat Fotografi Indonesia sebagai organisasi nasional yang akan menyuarakan kepentingan para pemangku kepentingan di tingkat nasional dan internasional”.

Jakarta, 12 Oktober 2014

Dengan kelahiran Masyarakat Fotografi Indonesia ini, tentunya kita semua berharap bahwa ada sebuah hembusan nafas baru yang ditiup serta mampu mengalirkan udara bersih bagi perkembangan jiwa dan raga para insan fotografi di indonesia. Kita pun sangat sadar sepenuh hati, bahwa penyelenggaraan Kongres Fotografi Indonesia ini masih belum sempurna. Namun demikian, sesungguhnya yang kita perlukan saat ini adalah sebuah empati dan rasa persaudaraan yang erat untuk dapat mengumpulkan segala perbedaan menjadi satu hati. Sudah saatnya kita bangun kembali dan mulai menyusun batu dan kerikil yang bergeletakan demi rumah kita yang baru. Agar kelak rumah ini dapat mewariskan budaya fotografi yang selalu menerangi, yang selalu memiliki kekuatan memeluk dan yang selalu melahirkan himpunan karya terbaik dari segala anak bangsa. Kiranya dalam cahaya fotografi kita selalu merdeka.

@galihsedayu | bandung 15 oktober 2014

Pokok Hidup Temanggung

with 3 comments

oleh galih sedayu

Sungguh mencengangkan memang bila kita mengetahui bahwasanya pendapatan negara indonesia yang berasal dari pajak bea cukai rokok mencapai 100 trilyun per tahun.  Tak heran karenanya, di negeri ini tanaman tembakau sebagai bahan utama pembuat rokok menjadi sebuah komoditas yang diunggulkan. Salah satu daerah di tanah air yang menjadi tumpuan penghasil daun tembakau yang terbaik adalah Kabupaten Temanggung. Kabupaten yang terletak di provinsi Jawa Tengah ini berbatasan dengan Kabupaten Kendal di sebelah utara, Kabupaten Semarang di sebelah timur, Kabupaten Magelang di sebelah selatan dan Kabupaten Wonosobo di sebelah barat. Temanggung termasuk daerah iklim tropis dengan dua musim yakni musim kemarau antara Bulan April sampai dengan September dan musim penghujan antara Bulan Oktober sampai dengan Maret. Curah hujan tahunan yang turun di daerah temanggung pada umumnya tinggi. Cuaca Temanggung yang berhawa udara pegunungan dingin, menjadikannya sebuah ladang yang cocok bagi kesuburan tanaman tembakau. Apalagi temanggung diapit oleh 2 buah gunung yang indah yakni gunung sindoro & gunung sumbing.

Tanaman tembakau berwarna hijau, berbulu halus, serta memiliki batang & daun yang mengandung zat perekat. Pohonnya berbatang tegak dengan ketinggian rata–rata mencapai 2,5 m hingga 4 m bila tumbuh dengan baik. Umur tanaman tembakau ini rata–rata kurang dari 1 tahun. Daun mahkota bunganya berwarna merah, bentuk mahkota bunganya menyerupai terompet panjang, sedangkan daunnya berbentuk lonjong dengan ujung yang runcing. Komposisi kandungan yang terdiri dari nikotin, tar dan karbonmonoksida inilah yang menjadikan daun tembakau sebagai bahan pembuatan rokok.  Mutu masing-masing tembakau sangat dipengaruhi oleh ukuran, bentuk & letak daun, tulang dan lamina, tenunan daun, tebal daun, kepadatan jaringan, berat per satuan luas, keelastisan, bodi, getah atau gum, mutu bakar, kuat fisiologis, warna, aroma, rasa dan sifat higroskopisnya.

Pemetikan daun tembakau di temanggung biasanya dilakukan dengan cara petik biasa (reaping) yakni dengan memetik daun-daunnya saja. Pemetikan daun dimulai dari bawah, dipetik 2 – 3 lembar daun setiap kali petik. Daun yang siap panen ditandai oleh perubahan warna daun, dari hijau menjadi kuning kehijauan, warna tulang daun putih/hijau terang, tepi daun mengering, permukaan daun agak kasar dan tangkai daun mudah dipatahkan. Menurut para petani tembakau di temanggung, waktu pemetikan yang terbaik dilakukan pada pagi hari setelah embun-embun yang menempel di daun tembakau telah menguap dan kering. Setelah daun tembakau dipetik, proses selanjutnya adalah sortasi. Sortasi pendahuluan dilakukan terhadap daun berwarna hijau untuk memisahkan daun yang agak muda (immature), daun kurang tua (unripe), daun tua (ripe) serta daun yang rusak. Proses ini dilakukan agar memudahkan proses pengeringan, memudahkan grading, memudahkan harga jual dan memudahkan proses pemasaran.

Setelah itu, pemeraman adalah proses selanjutnya. Yang dilakukan adalah mengatur daun sedemikian rupa yang didirikan di sebuah rak pemeraman. Pemeraman ini biasanya memakan waktu selama 1 hingga 7 hari, tergantung dari posisi daun pada batang. Setelah daun tembakau diperam, proses selanjutnya dilakukan perajangan. Perajangan dimulai pada tengah malam sampai pagi dengan tujuan hasil rajangan dapat segera dijemur pada pagi harinya. Setelah daun tembakau dirajang, kemudian tembakau rajangan dicampur merata (digagrak) dan diratakan di atas “widig” atau “rigen” untuk dijemur. Setelah rajangan tembakau tersebut kering, kemudian dimasukkan ke dalam keranjang bambu. Selanjutnya tembakau rajangan siap dijual.

Yang menarik dari semua ini adalah betapa kontranya bila kita membicarakan dampak yang dihasilkan dari rokok dan tembakau. Di satu sisi rokok mematikan jiwa, sementara di sisi yang lain tembakau menghidupkan manusia. Namun biarlah semesta kehidupan yang memberi jawabnya. Karena dalam hidup selalu ada gelap dan terang. Karena dalam hidup selalu ada hitam dan putih. Karena hidup itu sendiri harus tetap berjalan. Biarlah keseimbangan yang menjadikan kehidupan bagi kita.

* Tulisan singkat & foto cerita ini dibuat untuk keperluan klien “Wismilak”

@galihsedayu | bandung, 19 agustus 2014

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

 

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

copyright (c) 2014 by galih sedayu
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

 

Written by Admin

September 25, 2014 at 5:36 am

Bangkitnya Kreasi Muda Jawa Barat? | Jabar Ngagaya | 19-20 September 2014, Bandung

leave a comment »

oleh galih sedayu

Rupanya sudah kali kedua, sebuah perhelatan yang bertajuk “Jabar Ngagaya” digelar demi menggairahkan industri kreatif khususnya bidang fesyen di jawa barat. Gelaran kedua perhelatan ini tepat dilaksanakan pada tanggal 19-20 september 2014 di seputaran gedung sate kota bandung. Helaran ini bertepatan pula dengan kegiatan “De Syukron” yang dilaksanakan untuk memperingati hari jadi provinsi jawa barat yang ke-69 tahun. Untuk tahun ini, Jabar Ngagaya mengambil jargon “Gandrung Ka Sarung Festival” yang mencoba mengangkat sarung majalaya asal jawa barat sebagai materi kreasinya. Rangkaian kegiatannya berupa parade & lomba rancang kostum karnaval, lomba kreasi membuat draping sarung, dan pameran industri kreatif jawa barat. Kiranya kegiatan ini dapat membuka cakra kreasi anak-anak muda jawa barat yang (barangkali) tadinya tertutup rapat. Karena sesungguhnya, di sanalah mulai bermunculan embrio dan bayi energi dari anak-anak muda jawa barat yang sangat menggandrungi fesyen dan industri kreatif lainnya. Mereka merindukan ribuan mata yang sudi melihat karyanya. Sembari berharap seruan, sorak sorai & tepuk tangan yang penuh ikhlas menghargai kreasi mereka. Namun yang perlu diingat, jejak karya himpunan anak muda ini dapat dirasakan hasilnya bagi perkembangan ekonomi kreatif jawa barat bila kegiatan ini digelar secara terus menerus. Tanpa konsistensi, komitmen dan dukungan yang kuat terutama dari pemerintah jawa barat, himpunan energi anak muda tersebut akan sirna ditelan waktu. Ayo bangkit muda-mudi jawa barat. Ayo bangun para pemimpin jawa barat. Mari kita bangun bersama industri kreatif jawa barat.

@galihsedayu | bandung, 20 september 2014

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

 

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

copyright (c) 2014 by galih sedayu
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

 

Oh Borobudur

leave a comment »

oleh galih sedayu

Candi Borobudur. Keajaiban dunia ini sungguh ada nyata di bumi pertiwi yang kita pijak. Yang lama sudah sering dielukan dan kerap menjadi kebanggaan tanah air tercinta. Bahkan ketika Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra memiliki mimpi & kemudian membangunnya sekitar tahun 800 masehi. Candi seluas 123 x 123 meter persegi dengan 504 patung Buddha, 72 stupa berlubang dan 1 stupa yang menjadi mahkotanya tersebut, telah diakui sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO. Sejak ditemukan oleh Sir Thomas Stamford Raffles yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Pulau Jawa pada tahun 1814, Borobudur menjadi semakin harum namanya di belantara dunia. Candi Borobudur yang megah ini berjarak sekitar 40 kilometer (25 mil) arah barat laut dari Kota Yogyakarta. Terletak di atas bukit dimana borobudur seolah-olah dikawal oleh dua pasang gunung kembar yang mistis yakni Gunung Sundoro-Sumbing di sebelah barat laut dan Gunung Merbabu-Merapi di sebelah timur laut.

Namun sayang, warisan sejarah tersebut saat ini perlahan-lahan seperti dimutilasi. Banyak bagian tubuh patung Buddha yang bersemayam di sana kini mulai hilang. Terutama pada bagian kepala dan tangan patung Buddha tersebut yang lenyap entah kemana. Entah mengapa, bahwa di dunia ini masih ada orang-orang yang memilih untuk menjadi seorang perusak sekaligus pencuri artefak historis sebuah bangsa. Yang barangkali hanya demi alasan setumpuk uang, mereka rela menodai keluhuran dan kemuliaan sebuah warisan dunia yang semestinya masih bisa dipertahankan.

Sesungguhnya borobudur adalah sabda yang sudah menjadi daging dan tinggal di antara kita sejak lama. Yang hendaknya mesti kita rawat supaya bangsa kita dapat menikmati janji para leluhur sebelumnya. Agar kita selanjutnya dapat menanamkan pengertian akan keselamatan bagi generasi penerus bangsa. Sehingga Borobudur selalu dapat menyinari bangsa kita tatkala meringkuk dalam kegelapan. Dan mengajarkan kita bahwa Indonesia memang patut dibanggakan.

@galihsedayu | yogyakarta 4 maret 2014

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

Copyright (c) 2014 by galih sedayu 
All Right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

March 17, 2014 at 1:34 pm

Perayaan Komunal Sekaligus Peringatan Braga

leave a comment »

oleh galih sedayu

Setelah Dago Car Free Day, kini Bandung punya perayaan baru yang bertajuk Braga Culinary Night. Bila Dago Car Free Day membuka akses bagi publik dengan cara menutup sebuah jalan pada pagi hari setiap minggu,  maka Braga Culinary Night pun membuka akses bagi publik dengan cara menutup sebuah jalan pada malam hari setiap minggu menurut rencananya. Alhasil Braga kini mulai dikepung dengan sejumlah kegiatan rutin yang bersifat festival dari mulai musik, seni, budaya, hingga kuliner yang kini sedang diusung oleh Braga Culinary Night. Sejak dulu kawasan Braga barangkali dapat diibaratkan dengan bagian tubuh Kota Bandung yang paling sexy. Betapa tidak karena bagi sebagian besar turis asing, nama Kawasan Braga pun lebih dikenal ketimbang nama Kota Bandung. Bahkan di era kepemimpinan Bandung yang terdahulu, roda pembangunan yang digulirkan di kawasan tersebut dapat dikatakan tersesat atau kehilangan arah. Dari mulai pemasangan paving batu andesit yang kontroversial hingga pembangunan hotel mewah yang tiba-tiba berdiri tegak seolah-olah sedang menyombongkan diri di antara bangunan-bangunan bersejarah yang ditutup dan terkunci rapat. Belum lagi sejumlah konflik sosial yang mengendap di antara kelompok warga yang bermukim di sana. Namun demikian kita sebagai warga Bandung seharusnya percaya bahwa Braga harus memiliki nilai dan martabatnya sebagai salah satu ruang aktif Kota Bandung. Janganlah kita justru dengan sengaja menanggalkan pakaian Braga sampai telanjang dengan mengatasnamakan perubahan. Sudah sepantasnyalah kita menjadikan Braga sebagai pintu harapan bagi Kota Bandung. Lakukanlah semua aksi yang baik itu akan peringatan kepada Braga, demi Bandung yang selalu kita elukan, demi Bandung yang selalu kita jaga, demi Bandung yang selalu menjadi milik kita.

@galihsedayu | Bandung 11 Januari 2014

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

Copyright (c) 2014 by galih sedayu 
All Right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

January 11, 2014 at 5:13 pm

citra yang terhembus dari ruang, imaji & jiwa

leave a comment »

oleh galih sedayu

Berarsitektur yang sesungguhnya adalah tentang “Guna” dan “Citra” 
– Yusuf Bilyarta Mangunwijaya –

Sebelum munculnya peradaban yakni tatkala bumi ini gelap gulita, Tuhan sebagai Sang arsitektur kehidupan menjadikannya terang melalui tanganNya yang terus mencipta hingga detik ini. Sesungguhnya samudra biru yang luas, burung-burung yang beterbangan di udara, hutan belantara hijau yang menjadi oksigen dunia, hingga manusia yang terus beranak-cucu adalah buah karya arsitektur yang diciptakan olehNya dengan penuh cinta. Manusia yang menjadi mahluk kesayanganNya pun meneruskan proses penciptaan tersebut sehingga ruang-ruang kosong di permukaan bumi ini dengan cepat terisi. Dari mulai gubuk-gubuk kecil yang beratapkan jerami hingga sederet bangunan pencakar langit yang bak berlomba untuk menyentuh awan.

Arsitektur menjadi kata kunci yang tidak bisa lepas dari keberadaan sebuah ruang dan lingkungan dengan segala isinya. Pengertian kata arsitektur yang berasal dari Bahasa Yunani “Architectoon” yang memiliki arti tukang ahli bangunan yang utama, saat ini agaknya menjadi miskin dibanding dengan pemaknaan yang dapat digali secara lebih mendalam. Misalnya saja pemaknaan tentang arsitektur yang diusung oleh seorang Arsitek asal kota Ambarawa yang bernama Yusuf Bilyarta Mangunwijaya atau Romo Mangun (1929-1999). Bagi dia, arsitektur menjadi sebuah media perjuangan untuk tujuan kemanusiaan. Beliau pernah turun tangan dalam konflik sosial di kawasan Lembah Code Jogyakarta ketika muncul rencana penggusuran. Dimana beliau menggunakan arsitektur untuk membantu meredam konflik tersebut dengan mengajak masyarakat setempat untuk membersihkan serta membangun kawasan kali code yang kumuh. Dari hal tersebut kita melihat bagaimana sesungguhnya arsitek tidak hanya bertanggung jawab dalam hal mendesain rumah ataupun bangunan, tetapi juga bagaimana seorang arsitek dapat menjawab segala persoalan tentang kondisi lingkungan dan sosial yang ada di masyarakat.

Fotografi yang erat kaitannya dengan menciptakan sebuah citra, dapat menjadi sebuah media penyampaian pesan tentang segala hal yang terkait dengan citra arsitektur itu sendiri. Karenanya sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam wadah kreatif fotografi kampus Universitas Katolik Parahyangan yakni “Arsitektur Foto”, bermaksud menyampaikan citra dan pemaknaan arsitektur kepada publik melalui Pameran Foto yang mereka suguhkan dengan tajuk “Human & Architecture”. Ada sekitar 50 buah karya foto hasil kurasi yang dipamerkan yang berasal dari hasil bidikan berbagai komunitas kreatif fotografi yaitu Komunitas Kamera Lubang Jarum (KLJ), Kaskus Plastik & Toy Camera Community (Klastic), Komunitas poco-poco, Brigadepoto# dan Arsitektur Foto (AF).

Foto-foto seri dengan judul “Edifice Complex” karya Sandy Jaya Saputra, mencoba menggiring persepsi stereotipikal tentang arsitektur yang cenderung mewakili bentuk fisik menuju ke sebuah pemahaman psikologi, sosial dan budaya. Foto karya Salman Rimaldhi Zahrawan yang berjudul “I am where I live” dan “We are where we live”, mengajak kesadaran kita untuk memahami bahwa betapa erat korelasi antara arsitektur dengan individu, komunitas serta lingkungan yang menempatinya. Lain halnya dengan foto karya Anggoro yaitu “Straightlines”, yang mengkomposisikan secara sederhana tentang tangga yang memiliki pengertian filosofis tentang kehidupan yang kadang naik & turun.

Setidaknya beberapa gagasan tentang pencitraan manusia dan arsitektur yang dieksekusi melalui fotografi ini memberikan sebuah pemahaman lain. Bagaimana sebenarnya arsitektur dengan segala fungsinya selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Dimana arsitektur terjadi karena tuntutan dari jaman yang selalu berubah pula. Semisal isu pemanasan global yang menuntut desain arsitektur yang ramah lingungan. Ataupun isu lokalitas yang menuntut desain arsitektur yang kreatif sesuai kultur setempat. Sehingga kita semakin menyadari bahwa berarsitektur bukan hanya sekedar membangun secara fisik melainkan dengannya kita dapat menawarkan sejumlah solusi kepada dunia. Agar kehidupan di muka bumi ini semakin indah. Agar bumi ini selalu ada yang mempunyai. Dan tentunya fotografi selalu hadir untuk menyapa agar manusia tetap melihat bumi ini dengan keceriaan dan harapan.

*Tulisan ini diberikan sebagai kata pengantar Pameran Foto “Human and Architecture” yang diadakan oleh Arsitektur Foto (AF) Universitas Katolik Parahyangan pada tanggal 14 s/d 20 April 2010 di Galeri Kita, Jalan RE Martadinata 209 Bandung.

@galihsedayu | bandung, 18 mei 2010

Written by Admin

May 18, 2010 at 2:10 am