I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Paul Tedjasurja, Mata Sejarah dan Sang Pewarta Kesetiaan

with 7 comments

 

Teks & Foto oleh galih sedayu

Pada suatu malam yang dingin di Kota Bandung, di pertengahan bulan April tahun 1955, seorang pemuda sederhana berusia 25 tahun tengah mempersiapkan peralatan tempur fotografinya demi mengabadikan sebuah peristiwa yang sangat bersejarah yakni Konperensi Asia Afrika (KAA) Bandung. Kamera Leica III F seberat 1,5 kg, lampu kilat seberat 8 kg, perangkat aki untuk pencahayaan tambahan (blitz) serta sejumlah roll film hitam putih menjadi saksi bisu perhelatan KAA yang kini telah menjadi peristiwa legendaris di dunia. Di hari senin yang cerah, tanggal 18 April 1955, tepat pukul 07.00 pagi, pemuda tersebut langsung bergegas menuju Gedung Merdeka Bandung di Jalan Asia Afrika dengan menunggangi motor 250 cc merk Jawa miliknya. Saat itu ratusan warga baik dari dalam Kota Bandung maupun dari luar Kota Bandung sudah berkerumun berdiri dan berbaris rapi di sisi-sisi jalan Asia Afrika sembari menunggu kedatangan para tamu delegasi KAA. Sekitar pukul 08.00 pagi, akhirnya para undangan yang dihadiri 29 negara peserta KAA tersebut mulai keluar dari persinggahannya di Hotel Savoy Homann yang juga terletak di Jalan Asia Afrika. Mereka semua berjalan kaki menuju Gedung Merdeka yang letaknya tidak terlalu jauh dari Hotel Savoy Homann. Kala itu sejumlah wajah para pemimpin dunia pun tercatat dan terekam oleh mata pemuda ini dari mulai Jawaharlal Nehru (India), Chou En Lai (Cina), Gamal Abdel Nasser (Mesir), Norodom Sihanouk (Kamboja), U Nu (Birma) dan lain sebagainya. Sekira pukul 10.00 pagi, sebuah mobil buick buatan tahun 1945 berhenti di persimpangan Jalan Braga & Jalan Asia Afrika (Tepat di depan Apotek Kimia Farma Braga Sekarang).

Tak lama kemudian muncul dari dalam mobil tersebut, Presiden & Wakil Presiden pertama negara Indonesia yakni Bung Karno & Bung Hatta, sebagai tuan rumah yang akan membuka kegiatan KAA. Kemudian pemuda itu pun mengikuti kedua tokoh tersebut hingga masuk ke dalam Gedung Merdeka yang menjadi tempat utama kegiatan KAA yang berlangsung dari tanggal 18 – 24 April 1955. Dan dari dalam gedung itulah, sejarah mencatat nama baik Bandung dan Indonesia kala itu. Rentetan kejadian dan momen yang sangat langka itu, secara apik berhasil dibekukan oleh pemuda yang penuh semangat tersebut. Dimana karya foto hasil bidikan pemuda itu kini telah menjadi bukti nyata keharuman dan kebesaran peristiwa KAA yang terjadi 60 tahun silam.

Paul Tedjasurja. Itulah nama pemuda tersebut yang kini telah menjadi tokoh legenda Kota Bandung, yang berhasil merekam sekitar 300 gambar perihal kegiatan KAA dari mulai suasana konperensi hingga para tokoh dunia yang hadir waktu itu. Saat peristiwa KAA berlangsung, Paul Tedjasurja yang akrab dipanggil dengan sebutan Om Paul ini masih menjadi fotografer lepas atau Freelance di berbagai media cetak. Salah satunya adalah Media Pikiran Rakyat (PR) yang kerap menggunakan kontribusi karya foto milik Paul. Menurut Paul, ada beberapa rekan fotografer lain yang turut pula mengabadikan momen KAA tersebut yakni Dr. Koo Kian Giap (Antara), Lan Ke Tung (PAF/Antara), Johan Beng (Antara), dan AS James. Namun kini mereka semua telah tiada. Sesungguhnya, pendokumentasian peristiwa KAA yang dilakukan Paul tersebut merupakan momen perdana atau pertama kalinya ia memotret kegiatan bertaraf internasional. Ketika Paul meliput acara pembukaan KAA, ia pun menuturkan bahwa selama di dalam Gedung Merdeka, para wartawan tulis dan foto diminta untuk tidak boleh terlalu dekat dengan para delegasi negara sehingga mereka ditempatkan di sebuah balkon khusus di sana. Acara pembukaan KAA tersebut berakhir sekitar pukul 13.00 siang yang dilanjutkan dengan penyelenggaraan sidang di Gedung Dwi Warna (sekarang menjadi kantor wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Jawa Barat) yang terletak di Jalan Diponegoro Bandung.

Menjelang sore, Paul pun bergegas pergi untuk mencuci dan mencetak roll film hasil rekamannya yang dilakukan di kamar gelap sebuah ruangan, yang berlokasi di Jalan Naripan No.4 Bandung (Kini menjadi halaman parkir Bank Jabar). Untuk proses tersebut, Paul melakukannya dengan cepat selama kira-kira setengah jam agar hasil fotonya dapat segera dikirim ke redaksi PR sebelum pukul 4 sore. Kala itu pula, seorang fotografer AP sempat meminta tolong kepada Paul untuk dapat membantu mencetak foto-fotonya. Setelah semuanya selesai, Paul pun kembali mendatangi resepsi yang digelar untuk menjamu para tamu delegasi negara peserta KAA.

Surabaya menjadi kota kelahiran seorang Paul Tedjasurja, tepatnya pada tanggal 19 Agustus 1930. Ketika Indonesia merdeka tahun 1945, ia masih duduk di bangku sekolah MULO (sekolah belanda setingkat SMP) di daerah Praban yang kini terletak di sekitar SMP 3 Surabaya. Ia pun menuturkan bahwa pada tanggal 7 November 1945, Jenderal Mansergh NICA kala itu menjatuhkan ultimatum lewat selebaran yang dijatuhkan dari ketinggian pesawat di atas langit biru surabaya. Ia ingat benar dengan peristiwa tersebut karena saat itu ia pun ikut berebut memunguti selebaran tersebut bersama kawan-kawannya. Setelah ia lulus sekolah menengah pada tahun 1949, ia pun hijrah dari Kota Surabaya menuju Kota Bandung atas ajakan seorang pamannya dikarenakan ayahnya yang bekas tahanan Kenpeitai, Jepang meninggal dunia setelah menderita sakit-sakitan selama kurang lebih 5 tahun. Di Kota Bandung lah, ia mulai jatuh cinta kepada dunia fotografi dan mulai belajar memotret sejak berumur 21 tahun. Ia pun kemudian menjalani kehidupannya sebagai pewarta lepas di sebuah majalah yang bernama “Gembira” serta menjadi pewarta lepas di sebuah agensi yang bernama “Preanger Foto” yang bertugas memasok karya foto ke perusahaan Jawatan Penerangan Jawa Barat, dimana calon mertuanya bekerja di sana.

Njoo Swie Goan adalah nama calon mertua Paul yang pertama kali mengajarinya ilmu fotografi. Njoo sendiri sebenarnya merupakan anggota Perhimpunan Amatir Foto (PAF), yaitu sebuah klub foto tertua di Indonesia yang hingga kini masih ada. Njoo terkenal dengan hasil karya fotonya yang berani tatkala merekam peristiwa keganasan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) dengan tokohnya Kapten Westerling yang terjadi di bandung pada bulan januari 1950. Berkat Njoo itulah, Paul muda dibekali kamera Leica III F yang menjadi kamera pertama miliknya untuk digunakan dalam meliput kegiatan KAA tahun 1955. Ia menyebutkan bahwa kamera Leica tersebut saat itu merupakan satu-satunya tustel yang kecil dan bisa menghasilkan frame dalam format panjang atau format panorama. Sayangnya, pada tahun 2000 kamera tersebut ia jual kepada seorang kolektor seharga ratusan ribu rupiah saja dan ditukar dengan beberapa lensa. Yang lebih mengenaskan adalah pada saat peringatan 30 tahun KAA pada tahun 1985, dimana ia kehilangan sejumlah karya foto KAA 1955 beserta negatif miliknya, yang dipinjam oleh seseorang dari pemerintah dan hingga kini tidak pernah dikembalikan dan tidak pernah jelas rimbanya. Kemudian malang kembali menimpanya, dimana semua album dan negatif foto yang dimilikinya, termasuk dokumentasi KAA 1955 ludes terbakar tatkala redaksi Pikiran Rakyat di Jalan Soekarno Hatta 147 Bandung mengalami musibah kebakaran pada tanggal 4 Oktober 2014. Beruntung ketika pada bulan April tahun 2005, sebagian file negatif miliknya telah disimpan dalam format file digital dan diselamatkan oleh beberapa sahabatnya untuk kemudian digunakan dalam Pameran 50 Tahun KAA. 

Namun ajaibnya ia masih tetap bisa tersenyum atas segala kejadian pahit yang menimpanya. Ia pun merasa bersyukur dalam hidupnya bahwa ia masih memiliki pengalaman yang menyenangkan hati. Salah satunya selama memotret kegiatan KAA 1955, tatkala seorang wartawan asing menjadikan pundaknya sebagai tripod atau penyangga kamera saat berada di bandara Hussein Sastranegara. Meskipun begitu ia tidak marah dan dengan senang hati melakukan hal tersebut demi solidaritas terhadap rekan seperjuangannya. Bila kita bayangkan peristiwa tersebut, barangkali momen itu adalah sebuah pemandangan langka yang jarang kita lihat dewasa ini.

Kiprah Paul Tedjasurja sebagai seorang pewarta foto sebenarnya sudah mulai tercium oleh berbagai media di jamannya. Terbukti ketika ia masih menyimpan dengan baik kliping dari sebuah majalah “Gembira” yang memuat profilnya pada tanggal 11 Februari 1956. Di dalam majalah tersebut, dimuat foto Paul muda yang terlihat sedang mengintip jendela pembidik kamera Leica miliknya. Dan di dalam majalah tersebut diberitakan seperti ini,

Memperkenalkan :

WARTAWAN FOTO KITA

Bagi penduduk kota Bandung dan sekitarnja ia sudah tjukup dikenal. Baik dikalangan djembel maupun dikalangan ningratnja. Atau bagi parapeladjari mahasiswa maupun diorganisasi bahkan sampai kepada kalangan Angkatan Perangnja.

Kemudian di bawah foto Paul Tedjasurya tertulis seperti ini,

Paul sedang beraksi ketika ada pertandingan poloair dipemandian Tjihampelas Bandung.

Lihat duduk seenaknja dispringlank jang paling atas, dan tjoba gojang sedikit sadja pangkal papan itu pasti ia akan terdjun kedasar pemandian.

Pun tjoba lihat persiapan jang selalu dibawanja kalau ia bertugas.

Toestel Leica dengan telelensanja dan resvre Super Ikonta tamabah satu tas berisi pilem2 dan lain jang diperlukan untuk melantjarkan kerdjanya.

Tahan tuh ………………………………………………………..

Lalu berita tentang Paul Tedjasurya tertulis seperti ini,

Sebab hampir pada tiap upatjara umum apa sadja atau pada kedjadian2 penting dia selalu muntjul dengan “sendjata”nja, untuk hilir mudik di tempat tsb. Guna “menembaki” sesuatunja jang dianggap djadi objek jang baik.

Itulah Sdr.Paul The jang selalu dipanggil oleh rekan wartawan lain dengan Bung Paul. Ia adalah wartawanfoto dari Preanger Studio Bdg, inklusip

wartawanfoto madjalah kita : “GEMBIRA”.

Makanja kalau selama ini Tuan atjap menemukan gambar2 jang tertera dihalaman madjalah kita ini, baik dihalaman tengah atau dihalaman lain jang tak bertanda, itu adalah hasil dari “tembakan2”nja.

Djadi wartafoto melelahkan sekali – katanja – dan kadangkala mendjemukan. Tjoba – katanja lagi – kalau sedang menghadiri suatu upatjara atau lain perajaan apa sadja, saja harus menunggu sampai babak terakhir. Beruntung kalau upatjara itu berdjalan dengan landjar, tapi paling mendjengkelkan kalau sudah djam karet jang dipergunakan dan ditambahi dengan pertelean yang bertele-tele. Kalau wartawan tulis bisa meninggalkan itu lalu esoknja bisa meminta berita selengkapnja, tapi bagi kami – wartawanfoto – hal ini tak mungkin, tertambah tak sampai hati meninggalkan upatjara itu atau lainnja sebelum habis.

Memang utjapan ini ada betulnja. Sebab tak djarang dia pulang larutmalam, kalau sudah menghadiri satu perajaan atau lainnja, jang mungkin termasuk upatjara jang memakai djam karet dan bertele-tele pula. Kadang lewat djam malam, sedang selalu pula ia pada siangnja hanja mengaso satu atau dua djam sadja. Malah tak djarang ia nonstop dari pagi sampai tengah malam terus2an tjetrak-tjetrek dengan alatnja. Bergantung dengan banyaknja undangan jang semua harus didatangi dan minta semua diabadikan.

Namun demikian Paul tidak pernah lelah kelihatan. Ia menjadari bahwa wartawan adalah trompet masjarakat. Abdi rakjat. Dan sama dimengerti bahwa wartawan tulis hanja bisa muat berita disuratkabar untuk dibatja, tapi tidak mendalam kesan akan sesuatunja kalau tidak ada gambar2nja.

Last but not least : bahwa wartawan fotolah jang paling berbahagianja diantara wartawan2 lainnja. Tjona sadja, kalau tiap menghadiri satu perajaan dll, baru sadja dia masuk sudah banjak – jang minta diopname walaupun simanusia itu bukan orang penting pada upatjara tsb. Dan jang begini ini sudah terang menimbulkan keirian pada wartawan2 tulis lainnja. (JW).

Meski Paul Tedjasurja sudah menjadi kontributor koran Pikiran Rakyat sejak tahun 1953, namun baru pada tahun 1985, ia secara resmi menjadi wartawan Pikiran Rakyat dan sejak saat itu telah mengabdi selama kurang lebih 20 tahun lamanya. Berkat dedikasinya terhadap PAF dan dunia fotografi pula, pada tahun 1997 bersamaan dengan HUT PAF ke-73, ia mendapat gelar kehormatan Honorary Perhimpunan Amatir Foto (Hon.PAF). Penghargaan ini diberikan oleh Dewan Pertimbangan Gelar PAF kepada Paul Tedjasurja yang bernomor anggota PAF 026, yang disaksikan oleh 217 anggota PAF yang hadir di Cisarua Lembang. Selain fotografi, ternyata ia pun memiliki hobi lain yaitu mengumpulkan perangko. Uniknya, ia menggabungkan kedua hobi antara fotografi dan mengumpulkan perangko ini yang sering disebut sebagai Foto-Filateli. Boleh jadi Paul Tedjasurja adalah orang pertama di Indonesia yang memadukan obyek foto dengan filateli dan autogram. Karenanya sebelum KAA berlangsung, ia pun sudah memotret Gedung Merdeka sebagai tempat berlangsungnya konperensi tersebut. Bertepatan dengan pembukaan konperensi, pihak Pos & Giro (Pos Telepon dan Telegram / PTT pada waktu itu), menerbitkan perangko seri KAA. Kemudian Paul pun membeli beberapa edisi perangko tersebut, untuk kemudian ditempelkan di belakang foto Gedung Merdeka yang telah ia persiapkan sekaligus meminta stempel hari pertama kepada petugas PTT setempat. Foto perangkonya ini tentunya memiliki nilai lebih dibandingkan dengan sampul hari pertama (first day cover) yang biasa. Tak heran bila Paul dapat membiayai kuliah anaknya di Universitas Katolik Parahyangan berkat menjual koleksi perangkonya tersebut.

Paul Tedjasurja saat ini tinggal dan menetap di sebuah rumah sederhana nan nyaman yang terletak di Komplek Kopo Permai Bandung. Hidup damai bersama istri tercintanya Nyonya Herawati, seolah dibuktikan di dalam kartu namanya yang tertulis nama Paul Tedjasurja dan istri. Ia pun telah dikarunia 3 orang anak dan saat ini telah menjadi kakek dari 6 orang cucu yang dimilikinya. Meski usianya kini genap 85 tahun, namun tubuhnya masih tampak sehat dan daya ingatnya pun masih cukup tajam. Sekarang dan selamanya, Paul Tedjasurja adalah sebuah contoh sejati bagi pewarta kesetiaan. Nama dan karyanya akan selalu hidup dan menjadi berkat abadi dalam peradaban fotografi kita. Dengan pengantaraan cahaya yang menerangi Paul Tedjasurja, marilah kita selalu mengenangkannya dalam laku dan sikap kita.

Sumber Tulisan
Wawancara dengan Paul Tedjasurya. Bandung, 25 Maret 2015.
– Media Indonesia. 25 April 2005. “Semangat Paul Setelah 50 Tahun”.
Suara Pembaharuan. 20 April 2005. “Paul Ingin Hadir di Gedung Merdeka”.
– Pikiran Rakyat. 18 April 2005. “Jepretan Om Paul Abadikan KAA 1955”. 
– Kompas. 18 September 1996. “Paul Tedja Surya : The Public Eye”. 
– Majalah Fotomedia. Februari 1995. “Paul Tejasurya : Wartawan Foto Dari Kota Kembang”. 
– Majalah Gembira. 11 Pebruari 1956. “Wartawan Foto Kita”. 

@galihsedayu | bandung, 25 maret 2015

 paul tedjasurya

paul tedjasurya

paul tedjasurya

paul tedjasurya

paul tedjasurya

paul tedjasurya

paul tedjasurya

paul tedjasurya

paul tedjasurya

Copyright (c) 2015 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Advertisements

kompilasi karya foto “spektra” di surat kabar pikiran rakyat {januari – desember 2014}

leave a comment »

dikompilasi oleh galih sedayu

Foto-foto yang ditampilkan di sini merupakan karya hasil rekaman beku para jurnalis foto yang bekerja di surat kabar Pikiran Rakyat. Dimana setiap hari minggu, karya foto dengan tema tertentu dimuat di salah satu kolom Pikiran Rakyat yang bertajuk “Spektra” sebanyak satu halaman penuh. Kompilasi karya foto ini diabadikan dalam periode tahun 2014. Kompilasi karya foto spektra Pikiran Rakyat ini dibuat dengan tujuan mengarsipkan informasi & visual foto agar dapat menjadi bahan literasi fotografi di masa mendatang. Kiranya kompilasi karya foto ini dapat menjadi media berbagi dalam balutan semangat edukasi, demi kemajuan dunia fotografi kita.

@galihsedayu | bandung, 28 desember 2014

1) 5 Januari 2014 : Karya Abadi Krishna Ahadiyat 

spektra 2014

2) 12 Januari 2014 : Mitembeyan Melak Pare Huma karya Usep Usman Nasrulloh

spektra 2014

3) 19 Januari 2014 : Tradisi Ngagogo karya Satria Yudatama

spektra 2014

4) 26 Januari 2014 : Keramik Cantik karya Ade Bayu Indra

spektra 2014

5) 2 Februari 2014 : Semarak “Skatepark” karya Harry Surjana

spektra 2014

6) 9 Februari 2014 : Rumah Bintang Yang Benderang karya Ade Bayu Indra

spektra 2014

7) 16 Februari 2014 : World Press Photo 2013

spektra 2014

8) 23 Februari 2014 : Dawai Indah Sariwangi karya Ade Bayu Indra

spektra 2014

9) 2 Maret 2014 : Gamelan Keramik karya Armin Abdul Jabbar

spektra 2014

10) 9 Maret 2014 : Lembaran Demokrasi karya Harry Surjana

spektra 2014

11) 16 Maret 2014 : Bandung di Mata Komunitas karya Galih Sedayu

spektra 2014

12) 23 Maret 2014 : Simulasi Pengamanan Pemilu 2014 karya Usep Usman Nasrulloh

spektra 2014

13) 6 April 2014 : Melayang Dengan Paralayang karya Harry Surjana

spektra 2014

14) 13 April 2014 : Batu Mulia Martapura karya Satria Yudatama

spektra 2014

15) 20 April 2014 : Jejak-Jejak RA Kartini karya Armin Abdul Jabbar

spektra 2014

16) 27 April 2014 : Kelom Geulis Tak Lekang Oleh Zaman karya Andri Gurnita

spektra 2014

17) 4 Mei 2014 : Potret Buruh Indonesia karya Harry Surjana

spektra 2014

18) 11 Mei 2014 : Kembali Ke Habitat karya Usep Usman Nasrulloh

spektra 2014

19) 18 Mei 2014 : Lingkar Penjunjang Penampilan karya Armin Abdul Jabbar

spektra 2014

20) 25 Mei 2014 : Produksi Karbon Aktif karya Usep Usman Nasrulloh

spektra 2014

21) 1 Juni 2014 : Berlari Dalam Kebersamaan karya Harry Surjana

spektra 2014

22) 8 Juni 2014 : Eksotisme Cinta Taj Mahal karya Andri Gurnita

spektra 2014

23) 15 Juni 2014 : Menerawang Di Bus Malam karya Ade Bayu Indra

spektra 2014

24) 22 Juni 2014 : Piala Dunia Anak Jalanan karya M Gelora Sapta

spektra 201425) 6 Juli 2014 : Capres RI 2014-2019

spektra 2014

26) 13 Juli 2014 : Anak Palestina

spektra 2014

27) 20 Juli 2014 : Dunia Menyambut Ramadan

spektra 2014

28) 3 Agustus 2014 : Kembali Ke Perantauan karya Usep Usman Nasrulloh

spektra 2014

29) 10 Agustus 2014 : Payung Geulis Nasibmu Kini karya Usep Usman Nasrulloh

spektra 2014

 

30) 24 Agustus 2014 : Meniti Tali Di Tebing Penganten karya Deden Iman

spektra 2014

31) 31 Agustus 2014 : Merdeka Dari Sampah karya Siska Nirmala & Dhita Septiawan

spektra 2014

32) 7 September 2014 : Mengejar Prestasi Di Angkasa karya Harry Surjana

spektra 2014

33) 14 September 2014 : Ngaboseh Sareng Gubernur karya Andri Gurnita

spektra 2014

34) 21 September 2014 : Potensi Pelabuhan Cirebon karya Usep Usman Nasrulloh

spektra 2014

35) 28 September 2014 : Jelang Siang Di Jam Gadang karya Ade Bayu Indra

spektra 2014

36) 12 Oktober 2014 : Tepung Sagu Cineam Pasok Pabrikan Camilan karya Satria Yudatama

spektra 2014

37) 19 Oktober 2014 : Songket Palembang karya Usep Usman Nasrulloh

spektra 2014

38) 26 Oktober 2014 : Pesona Wisata Di Tanjung Benoa karya Ade Bayu Indra

spektra 2014

39) 2 November 2014 : Migrasi Burung Pemangsa karya Armin Abdul Jabbar

spektra 2014

40) 9 November 2014 : Pulau Kering Di Tengah Musi karya Arif Hidayah

spektra 2014

41) 16 November 2014 : Adu Kemahiran “Barista” karya Usep Usman Nasrulloh

spektra 2014

42) 23 November 2014 : Orang Utan & Beruang Sisihkan 14.000 Foto Dari Lomba Foto Satwa Internasional 2014

spektra 2014

43) 30 November 2014 : Dalam Keterbatasan Kemampuan karya Ade Bayu Indra

spektra 2014

44) 7 Desember 2014 : Drama Peradaban Di Situs Gunung Padang karya Arif Hidayah

spektra 2014

45) 14 Desember 2014 : Andil Sang Gurandil karya Satria Yudatama

spektra 2014

46) 21 Desember 2014 : Teguran Alam karya Deden Iman

spektra 2014

47) 28 Desember 2014 : Pembangunan Vertikal Incheon karya Usep Usman Nasrulloh

spektra 2014

compiled by galih sedayu
all right reserved {2014}

Written by Admin

December 28, 2014 at 8:14 am

Geliat Bergerak Industri Kreatif Tasikmalaya

leave a comment »

oleh galih sedayu

Tasikmalaya yang dijuluki Sang Mutiara dari Priangan Timur merupakan salah satu kota yang melengkapi keutuhan tubuh wilayah Provinsi Jawa Barat di bagian tenggara. Sejarah sendiri mencatat bahwa Tasikmalaya sebelumnya adalah sebuah kabupaten. Namun seiring dengan perubahan yang selalu terjadi, kini di Tasikmalaya memiliki 2 buah bentuk pemerintahan yakni Pemerintahan Kabupaten dan Pemerintahan Kota Tasikmalaya. Bila dirunut berdasarkan peristiwa lampau yang terjadi, sejarah lahirnya kota Tasikmalaya dimulai tatkala A. Bunyamin menjabat sebagai Bupati Tasikmalaya tahun 1976 hingga 1981, dengan diresmikannya Kota Administratif Tasikmalaya melalui peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1976. Pada waktu yang bersamaan, Walikota Administratif Pertama yaitu Drs. H. Oman Roosman dilantik oleh Gubernur KDH Tingkat I Jawa Barat, H. Aang Kunaefi. Kemudian pada tahun 2001, dirintislah pembentukan Pemerintah Kota Tasikmalaya oleh Bupati Tasikmalaya, Kol. Inf. H. SuIjana Wirata Hadisubrata (1996 – 2001). Akhirnya dibawah pimpinan Bupati Drs. Tatang Farhanul Hakim, pada tanggal 17 Oktober 2001 melalui Undang-undang Nomor 10 Tahun 2001, Pembentukan pemerintahan Kota Tasikmalaya sebagai pemerintahan daerah otonom disahkan. Dimana pada tanggal 18 Oktober 2001, Drs. H. Wahyu Suradiharja dilantik sebagai Pejabat Walikota Tasikmalaya. Sejak saat itulah Tasikmalaya memiliki kuasa dan kewenangan untuk mengatur rumah tangganya sendiri. Karena sejak dulu Tasikmalaya memiliki berbagai potensi kerajinan lokal, perkembangan industri kreatif kota ini mulai diperhitungkan. Karenanya, saat ini Tasikmalaya mulai dijagokan sebagai Second City dari Provinsi Jawa Barat setelah kota Bandung.

Potensi Industri Kreatif di Tasikmalaya ternyata cukup besar. Dari mulai bordir, batik, alas kaki (kelom geulis), kerajinan mendong, anyaman bambu, meubel, hingga payung geulis sangat memberikan kontribusi ekonomi yang tentunya menopang pertumbuhan kota Tasikmalaya. Menurut data yang diberikan oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Tasikmalaya dan Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Kota Tasikmalaya, ada sekitar 2.307 unit usaha industri kerajinan di Tasikmalaya yang menyerap tenaga kerja sebanyak 23.565 orang dengan nilai investasi sebesar Rp. 350 Milyar serta nilai produksi yang mencapai Rp. 1,4 Triliun. Dari industri kreatif bordir dengan lokasi sentra di Kecamatan Kawalu, ada sekitar 1.317 unit usaha, 12.898 orang jumlah tenaga kerja, nilai investasi sebesar Rp 193.627.373.000, dan nilai produksi sejumlah Rp 895.008.263.000. Dari alas kaki (kelom geulis) dengan lokasi sentra di Kecamatan Tamansari, Mangkubumi, ada sekitar 504 unit usaha, 5.924 orang jumlah tenaga kerja, nilai investasi sebesar Rp 135.255.674.000, dan nilai produksi sejumlah Rp 396.266.958.000. Dari kerajinan mendong dengan lokasi sentra di Kecamatan Purbaratu, Cibeureum, ada sekitar 173 unit usaha, 2.237 orang jumlah tenaga kerja, nilai investasi sebesar Rp 6.891.602.000, dan nilai produksi sejumlah Rp 41.629.874.000. Dari batik dengan lokasi sentra di Kecamatan Cipedes, Indihiang, ada sekitar 32 unit usaha, 551 orang jumlah tenaga kerja, nilai investasi sebesar Rp 2.557.166.000, dan nilai produksi sejumlah Rp 26.963.320.000. Dari kerajinan kayu {meubel) dengan lokasi sentra di Kecamatan Cipedes, Tawang, Cibeureum, Tamansari, ada sekitar 202 unit usaha, 1.258 orang jumlah tenaga kerja, nilai investasi sebesar Rp 9.785.331.000, dan nilai produksi sejumlah Rp 54.036.745.000. Dari kerajinan bambu dengan lokasi sentra di Kecamatan Mangkubumi, Indihiang, ada sekitar 75 unit usaha, 660 orang jumlah tenaga kerja, nilai investasi sebesar Rp 1.200.038.000, dan nilai produksi sejumlah Rp 5.466.606.000. Terakhir dari payung geulis dengan lokasi sentra di Kecamatan Indihiang, Cihideung, ada sekitar 4 unit usaha, 37 orang jumlah tenaga kerja, nilai investasi sebesar Rp 76.940.000, dan nilai produksi sejumlah Rp 332.800.000.

Melihat potensi Tasikmalaya ini, tentunya masyarakat Jawa Barat yang digadang sebagai salah satu gudang masyarakat kreatif mesti siap menghadapi segala tantangan yang terjadi di era ASEAN Economic Community 2015 yang tinggal menghitung hari. Sudah saatnya masyarakat Jawa Barat mulai bekerja dengan keadaan yang baru ini, Beber Layar, Tarik Jangkar kalau menurut peribahasa sunda, tentunya dengan cara bekerja keras, Dug hulu, pet nyawa, sehingga apapun tantangannya, jika kita rajin dan penuh kesabaran, pasti cita-cita akan tercapai, Cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok kata para sesepuh kita. Untuk itulah, masyarakat Jawa Barat harus mampu menyelesaikan segala permasalahan yang dimiliki berkaitan dengan pengembangan industri kreatif. Dan cara terbaik yang dapat dilakukan adalah mulai.

@galihsedayu | tasikmalaya, 10 desember 2014

*batik

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

*kerajinan mendong

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

*kelom geulis

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

copyright (c) 2014 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Doa Ulang Tahun Teruntuk Sang Tulang Rusuk Terkasih

leave a comment »

oleh galih sedayu

“You don’t love someone for their looks, or their clothes, or for their fancy car, but because they sing a song only you can hear.”
– Oscar Wilde –

Bapa kami sang mahahidup, perkenankanlah ku mengucap syukur atas segala cinta dan damai yang kerap Engkau hadirkan dalam diri istriku tercinta Christine Listya Sedayu. Terlebih lagi karena Engkau memberikan waktu yang teramat istimewa baginya pada hari ini, karena tepat tanggal 1 Desember 2014, ia boleh Engkau berikan secercah kesempatan untuk dapat merayakan hari lahirnya yang kini genap berusia 27 tahun. Ku bersyukur kepada-Mu karena kelahiran dan hidup seorang Christine Listya, menjadikanku sebagai seorang suami, sahabat, dan ayah yang belajar untuk terus mendampinginya dalam dukalara & sukacita semesta.

Terima kasih, ya Bapa, atas penyertaan-Mu sepanjang perjalanan hidupnya. Yang selalu membesarkan hatinya untuk melahirkan kedua putri kami tersayang, Ancilla Trima Sedayu (Alm) dan Eufrasia Tara Sedayu. Yang selalu menguatkan jiwanya untuk menjadi seorang ibu luar biasa bagi keluarga kami. Yang selalu memeluk raganya untuk mengasihiku dengan laku dan dekapan surgawi.

Bebaskanlah ia dari godaan dan bujuk rayu yang sesat. Bebaskanlah ia dari pikiran yang kurang syukur. Bebaskanlah ia dari ucap yang tak semestinya menjadi kata. Agar kiranya ia tak kan pernah terpisah dari-Mu, dariku dan dari anak-anak kami. Karena ku yakin ialah sumber kelembutan, kehangatan, dan keceriaan yang mewarnai hari-hari kami sepanjang masa, hingga tata surya ini berhenti berputar.

Dekatkanlah ia dengan segala kebijaksanaan. Dekatkanlah ia dengan segala kedewasaan. Dekatkanlah ia dengan segala kemuliaan. Sebab hanya kepada kasih, kami selalu percaya. Jadilah kitab pengetahuan baginya, agar ia memiliki ilmu yang menebar. Jadilah terang mentari baginya, agar ia memiliki cahaya yang menyinari. Jadilah gunung batu baginya, agar ia memiliki kekuatan yang tetap tegar meski diterpa gelombang.

Percayalah cintaku terkasih, hidup kita memang telah menjadi sabda-Nya. Dari awalpun tanda-tanda itu telah ditakdirkan oleh-Nya. Bersamamu, rejeki hidup akan selalu mengalir. Bersamamu, kesederhanaan akan mampu memberikan kekayaan hati. Bersamamu, anak-anak kita akan tumbuh dalam kebahagiaan abadi.

Panjang umur serta mulia teruntuk mu yang selalu menjadi pantaiku, gunungku, sungaiku, hutanku, dan alam hidupku yang begitu indah. Kiranya kita tetap bergandengan tangan, tetap berpeluk mesra, dan tetap bercumbu indah.

For my sunshine christine listya, happy birthday…
I hope you always find a reason to smile, and I hope I can always be that reason…
I love you, dear…

@galihsedayu | bandung, 1 desember 2014

Written by Admin

November 30, 2014 at 7:38 am

Gegap Gembita Bobotoh Menyambut Sang Juara Maung Bandung

leave a comment »

oleh galih sedayu

Tonggak sejarah kembali diukir oleh Persib Bandung yang menyabet gelar juara kompetisi sepak bola tertinggi di Tanah Air. Tepatnya tanggal 7 November 2014 pada hari Jumat malam, Sang Maung Bandung mengakhiri penantian 19 tahun dengan mengalahkan Persipura Jayapura melalui drama adu pinalti di final Liga Super Indonesia 2014 dengan skor 5-3 di Stadion Gelora Sriwijaya, Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan. Sebelumnya Persib Bandung sempat menjadi juara di edisi pertama Liga Indonesia pada musim 1994-1995. Akhirnya dahaga para Bobotoh pun terpuaskan. Para Bobotoh pun menyambut kedatangan para pemain Persib Bandung yang tiba di Bandara Udara Internasional Husein Sastranegara, Bandung pada hari sabtu tanggal 8 November 2014 sekitar pukul 1 siang. Namun sebenarnya puncak perayaan kemenangan para Pangeran Biru ini baru dilakukan pada hari Minggu tanggal 9 November 2014. Arak-arakan para pemain Persib Bandung dimulai dari Komplek Mapolda Jabar di Cibiru menuju Lapangan Gasibu, Bandung mulai pukul 2 siang. Alhasil Bandung pun menjadi Lautan Biru dan kemacetan pun tak terhindarkan. Euforia para Bobotoh yang merayakan kemenangan ini jelas terlihat dimana-mana. Dari mulai para Bobotoh yang berfoto & selfie di atas patung Ajat Sudrajat di Jalan Tamblong, yang melakukan atraksi di atas motor sambil bertelanjang dengan hanya menggunakan cawat, hingga Bobotoh yang mengenakan topeng monyet sembari menyanyikan lagu “The Jak Kawin Jeung Monyet”. Barangkali, bagi mereka waktu 19 tahun adalah penantian yang cukup lama sehingga pesta kemenangan itupun layak diperjuangkan dan berlangsung hingga tengah malam. Persib kini juara. Semoga saja prestasi Sang Maung Bandung ini menjelma pula ke dalam tubuh anak-anak muda Bandung. Agar tetap bergerak, tetap berkarya, dan tetap menebarkan keharuman bagi mahkota bunga kota Bandung.

@galihsedayu | bandung, 9 november 2014

Persib Juara

Persib Juara

Persib Juara

Persib Juara

Persib Juara

Persib Juara

Persib Juara

Persib Juara

Persib Juara

Persib Juara

Persib Juara

Persib Juara

Persib Juara

 

Persib Juara

Persib Juara

Persib Juara

Persib Juara

Persib Juara

copyright (c) 2014 by galih sedayu
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

November 13, 2014 at 12:55 pm

Tetaplah Bangun Wahai Pemuda Bandung | Ngora Bandung | Bandung City Hall, 1 November 2014

leave a comment »

oleh galih sedayu

Energi yang besar menuntut sebuah perhatian yang besar pula. Salah satunya terbangun dari apa yang dimiliki oleh anak-anak muda di Kota Bandung. Sekitar 70 % warga Kota Bandung terdiri dari anak-anak muda yang kerap mendambakan ruang-ruang demi menyalurkan potensi mereka yang terpendam. Energi yang berlebih ini, sudah seharusnya lah dapat ditangkap oleh Pemerintah Kota Bandung untuk kemudian dilepas kembali melalui berbagai kegiatan yang bersifat positif tentunya. Karena itu Dinas Pemuda & Olah Raga Pemerintah Kota Bandung mengadakan sebuah program perdana untuk mengumpulkan sinergi anak-anak muda Kota Bandung dalam sebuah kegiatan yang bernama “Ngora Bandung”. Program ini berisikan Pameran, Ekspresi dan Kumpul Komunitas Muda Bandung yang diselenggarakan pada tanggal 1 November 2014 di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukencana No.2 Bandung. Sebentuk festival yang biasanya dirayakan secara komunal. Sejatinya, festival ini bertujuan untuk menghimpun potensi dan jejak karya anak-anak muda bandung agar dapat diperlihatkan, dibagikan dan kemudian menjadi inspirasi bagi masyarakat indonesia. Kegiatan “Ngora Bandung” yang pertama kali ini mengambil tema “Young & Health”, sehingga edukasi tentang “kesehatan” bagi anak-anak muda bandung tersebut menjadi sebuah pernyataan yang penting dalam festival kolaborasi ini. Karena bila anak-anak muda bandung selalu sehat, karya-karyanya pun akan terus mengalir tiada henti. Acara “Ngora Bandung” ini menghadirkan berbagai komunitas sebagai simbol semangat kolaborasi. Diantaranya ada Bandung Bike Trial Community, Bandung Clean Action, Bandung Food Truck, Dance Cover Community, Djaringan Musang Lovers, Forum Club Motor Bandung, Growbox, Indo Runners, Komunitas Anti Rokok Bandung, Komunitas Pensil Kertas, Komunitas Pencinta Reptil Bandung, Palang Merah Indonesia, Parkour Bandung, Rumah Cemara, Taman Foto Bandung, Tarung Derajat, Unity Photonegraphy dan Urban Jedi. Kemudian terdapat pula sejumlah penampilan untuk memeriahkan acara “Ngora Bandung” yang disuguhkan dari berbagai musisi kota bandung diantaranya Bandung Beatbox, Escape Band, Ganiati, Kharismatik, Komunitas Seni Budaya, Rayme & The Wood, Roti Bakar, The Devil & The Deep Blue Sea, dan Ukulele Bandung. Sembari melihat ke depan, tentunya anak muda bandung harus dapat mengambil peran terbaiknya dalam menentukan cita & mimpi mereka. Terlebih karena mereka adalah tumpuan kaki tempat kota bandung berpijak, bahu tempat kota bandung bersandar, serta harapan tempat kota bandung berkarya. Karenanya, tetaplah bangun wahai pemuda bandung.

@galihsedayu | bandung, 1 november 2014

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2014 by galih sedayu
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

November 4, 2014 at 10:04 am

Anak Tukang Kayu Itu Bernama Jokowi

leave a comment »

oleh galih sedayu

SAATNYA BERGERAK BERSAMA”

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam Damai Sejahtera untuk kita semua,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia telah menetapkan kami berdua, Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia terpilih 2014 – 2019.

Pertama-tama, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan tinggi kepada bapak Prabowo Subianto dan bapak Hatta Rajasa yang telah menjadi sahabat dalam kompetisi politik untuk mendapatkan mandat rakyat untuk memimpin negeri ini lima tahun ke depan.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
Kemenangan ini adalah kemenangan seluruh rakyat Indonesia. Saya berharap, kemenangan rakyat ini akan melapangkan jalan untuk mencapai dan mewujudkan Indonesia yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara kebudayaan.

Namun, dalam beberapa bulan terakhir, perbedaan pilihan politik seakan menjadi alasan untuk memisahkan kita. Padahal kita pahami bersama, bukan saja keragaman dan perbedaan adalah hal yang pasti ada dalam demokrasi, tapi juga bahwa hubungan-hubungan pada level masyarakat adalah tetap menjadi fondasi dari Indonesia yang satu.

Dengan kerendahan hati kami, Joko Widodo dan Jusuf Kalla, menyerukan kepada saudara-saudara sebangsa dan setanah air untuk kembali ke takdir sejarahnya sebagai bangsa yang bersatu; bangsa yang satu, bangsa Indonesia. Pulihkan kembali hubungan keluarga dengan keluarga, tetangga dengan tetangga, serta teman dengan teman yang sempat renggang.

Kita bersama sama bertanggung-jawab untuk kembali membuktikan kepada diri kita, kepada bangsa-bangsa lain, dan terutama kepada anak-cucu kita, bahwa politik itu penuh keriangan; politik itu di dalamnya ada kegembiraan; politik itu ada kebajikan; politik itu adalah suatu pembebasan.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
Pemilihan Umum Presiden kali ini memunculkan optimisme baru bagi kita, bagi bangsa ini. Jiwa merdeka dan tanggung jawab politik bermekaran dalam jiwa generasi baru. Kesukarelaan yang telah lama terasa mati suri kini hadir kembali dengan semangat baru. Pemilihan Umum Presiden telah membawa politik ke sebuah fase baru bukan lagi sebagai sebuah peristiwa politik semata-mata, tetapi peristiwa kebudayaan. Apa yang ditunjukkan para relawan, mulai dari pekerja budaya dan seniman, sampai pengayuh becak, memberikan harapan bahwa ada semangat kegotong-royongan, yang tak pernah mati.

Semangat gotong royong itulah yang akan membuat bangsa Indonesia bukan saja akan sanggup bertahan dalam menghadapi tantangan, tapi juga dapat berkembang menjadi poros maritim dunia, locus dari peradaban besar politik  masa depan.

Saya hakkul yakin bahwa perjuangan mencapai Indonesia yang berdaulat, Indonesia yang berdikari dan Indonesia yang berkepribadian, hanya akan dapat tercapai dan terwujud apabila kita bergerak bersama.

INILAH SAATNYA BERGERAK BERSAMA!
Mulai sekarang, petani kembali ke sawah.
Nelayan kembali melaut
Anak kembali ke sekolah.
Pedagang kembali ke pasar.
Buruh kembali ke pabrik.
Karyawan kembali bekerja di kantor.

Lupakanlah nomor 1 dan lupakanlah nomor 2, marilah kembali ke Indonesia Raya.

Kita kuat karena bersatu, kita bersatu karena kuat!
Salam 3 Jari, Persatuan Indonesia!

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Om Shanti Shanti Shanti Om,
Namo Buddhaya

Merdeka!!!  Merdeka!!!  Merdeka!!!

Joko Widodo – Jusuf Kalla

* Tulisan ini merupakan pidato kemenangan presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla setelah penetapan hasil pemilihan presiden 2014 oleh Komisi Pemilihan Umum pada hari Selasa 22 Juli 2014 di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta

@galihsedayu | bandung, 22 juni 2014

jokowi

jokowi

jokowi

jokowi

jokowi

jokowi

jokowi

jokowi

jokowi

copyright (c) 2014 by galih sedayu
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

October 25, 2014 at 3:19 pm