Archive for the ‘10) SEMESTA TULISAN FOTOGRAFI’ Category
Mendefinisikan Waktu
Teks : galih sedayu
Ada sebuah tulisan menarik tentang waktu di dalam buku kedua karangan Neale Donald Walsh yang berjudul Conversations with God. Di dalam buku itu disebutkan bahwa apa yang dikatakan manusia tentang waktu itu sebenarnya tidak ada. Semua hal dan segala peristiwa itu, ada dan terjadi secara serempak. Bahkan pemahaman yang benar tentang waktu adalah bahwa waktu dialami sebagai suatu gerakan dan suatu aliran, bukannya sebagai suatu yang tetap. Kitalah yang sebenarnya bergerak dan yang ada hanyalah apa yang kita sebut sebagai momentum. Bila kita menggali lebih dalam permasalahan tentang waktu, akan selalu ada sejumlah pendapat tentang konsep, pemaknaan, bahkan misteri tentang waktu tersebut. De Ja Vu, sebuah pengalaman diri yang mungkin pernah dialami oleh setiap manusia akan selalu dikaitkan dengan masalah waktu. Sebagian orang yang diberi karunia Six Sense atau indera keenam pun menganggap bahwa mereka dapat melihat kejadian dalam suatu waktu yang belum terjadi. Bahkan seorang sutradara film kenamaan, Steven Spielberg, menuangkan kegelisahannya tentang waktu dengan membuat sebuah karya film yang berjudul Back to the Future. Film yang diperankan oleh aktor Michael J Fox tersebut bercerita tentang manusia yang melakukan perjalanan dengan mesin waktu yang dibuatnya.
Sepertinya segala pertanyaan dan opini tentang waktu itulah yang menyentuh sekelompok mahasiswa Fikom Unpad Bandung yang tergabung dalam Brigadepoto, untuk mewujudkan jerih payah kreativitas mereka dalam bentuk Pameran Foto yang bertajuk Perspektif ‘Waktu’. Bagi mereka, Perspektif ‘Waktu’ adalah cara pandang untuk melihat suatu peristiwa atau obyek dalam kurun waktu tertentu yang dipengaruhi oleh emosi mereka pada suasana yang berbeda. Melalui media fotografi yang diperkenalkan ke dunia sejak tahun 1839 oleh Louis Jacques Mande Daguerre, 30 buah karya foto dipamerkan oleh para mahasiswa yang peduli akan perkembangan seni fotografi tersebut. Karya foto yang berjudul “Kuberikan padamu seperangkat alat tebang dan selembar potret diri” hasil rekaman dan proses kreatif seorang Doly Harahap, merupakan bentuk protes dirinya terhadap pembalakan liar yang berlangsung terus menerus sepanjang waktu sekaligus pemaknaan individu tentang pohon dalam salah satu foto serinya yang bertema Apa Kabar Pepohonan?. Lain halnya dengan karya foto hasil bidikan Sandi ‘Usenk’ yang berjudul “tertawa”. Dengan berani ia menampilkan potret humanis dalam sebuah waktu kehidupan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Bandung meski obyek yang diambilnya sengaja dibuat blur (out of focus), seperti halnya sifat waktu yang cenderung absurd. Terinspirasi atas penggalan puisi dari salah satu anak yang bersekolah di sana, ia mencoba menyuarakan sebuah seruan agar kita tidak melakukan hal diskriminatif terhadap kaum yang dianggap minoritas dalam masyarakat. Lalu ada pula foto seri karya Ricky Indrawan yang berjudul ketinggian, kecepatan dan kegelapan. Foto-foto tersebut bak sebuah representasi visual tentang perjalanan waktu berikut rasa yang hadir di sana.
Secara keseluruhan semua karya foto yang dipamerkan cukup mewakili genre fotografi yang ada pada umumnya. Dari mulai gaya reportase, konseptual sampai kepada gaya kontemporer, semua karya foto yang dihasilkan cukup mengangkat tema yang diusung dalam pameran foto ini. Hanya saja permasalahan sekarang adalah bagaimana mereka dapat menjawab karya-karya mereka ketika dilemparkan kepada publik yang pastinya mempunyai paradigma dan interpretasi masing-masing dalam melihat karya foto. Karena bukan masalah benar atau salah dalam menilai sebuah karya foto melainkan apakah kita mau meluangkan sedikit waktu untuk mendengar entah itu pesan, harapan dan segala kisah yang dimiliki oleh si pemotret. Maka dari itu tidak jarang sebuah karya foto dapat menginspirasi seseorang untuk berkarya kembali. Seperti halnya seorang fotografer Robert Capa yang terkenal dengan ucapannya yaitu “if your pictures aren’t good enough you’re not close enough”, yang membuat sebuah karya foto pada tahun 1944 tentang pendaratan tentara amerika di pantai normandia. Dimana foto tersebut banyak menginspirasi film-film perang yang dibuat termasuk film Saving Private Ryan (1998) yang dibintangi aktor kondang Tom Hanks. Atau karya seorang artis yang bernama Lady Filmer pada tahun 1864 yang disebut-sebut sebagai kolase foto pertama di dunia yaitu sebuah karya foto dengan cara memotong dan mengatur foto sedemikian rupa serta menambahkan cat air pada foto tersebut. Bagaimanapun ide yang diciptakan olehnya, saat ini banyak ditiru oleh para fotografer baik dalam bidang seni maupun komersil.
Terlepas dari pakem fotografi yang beragam, sebuah karya foto yang baik sejatinya adalah sebuah karya sederhana yang jujur, memuat isi dan pesan, ada ideologi dan dapat menginspirasi orang yang melihatnya untuk berkarya kembali meskipun semuanya itu tidaklah menjadi mutlak. Agaknya langkah kecil teman-teman brigadepoto lewat suguhan pameran foto ini dapat merupakan awal dari sebuah langkah besar. Ide tentang merekam sebuah waktu menjadi sangat menarik karena sebenarnya keberadaan ruang yang kita tempati saat ini pun secara tidak langsung turut direkam. Merekam waktu berarti merekam kehidupan itu sendiri yang tentunya selalu bergerak, berubah dan mengalir. Menghargai waktu artinya sama dengan menghargai kehidupan itu sendiri. Karena melalui fotografi, citra visual tentang segala kejadian dan obyek yang mengisi ruang kehidupan di jagat raya ini dibekukan kembali dengan harapan agar kita selalu mengingat, mengingat dan mengingat.
*Tulisan ini diberikan sebagai Kata Pengantar Pameran Foto Perspektif Waktu karya Brigadepoto di Universitas Padjajaran Jalan Dago Pojok Bandung
Bandung, 4 September 2008
Dunia, Sepakbola & Persib Bandung
Teks : galih sedayu
Keunikan sebuah permainan sepakbola adalah bahwa citra olah raga ini selalu menjadi magnet bagi para penggemarnya di seantero jagat. Di sana kita dapat menemukan beragam episode cerita baik itu sebuah tragedi, euforia, humanisme maupun spirit yang muncul sebagai dampak dari sebuah permainan sederhana namun begitu sangat mendunia. Negara-negara yang kerap menjadi langganan pesta piala dunia seperti Italia yang terkenal dengan disiplin grendel gaya cattenaccio atau the Three Lions Inggris dengan gaya kick & rush nya selalu menjadi tontonan yang wajib bagi para pecinta sepakbola. Kisah-kisah figur pesepakbola di pertandingan piala dunia selalu mewarnai perbincangan di dalam kancah persepakbolaan dunia. Mulai dari kisah kontroversial pemain Argentina Diego Maradona yang terkenal dengan salah satu golnya (seperti) dengan menggunakan tangan sehingga dijuluki Hand of God, kisah tragis seorang pemain sepakbola asal Colombia Pablo Escobar yang tewas mengenaskan diberondong peluru seusai pertandingan piala dunia karena gol bunuh dirinya sampai pada kisah perseteruan kapten kesebelasan prancis Zinedine Zidane yang dikeluarkan wasit gara-gara menanduk dada lawan mainnya Marco Materazzi seorang pemain tim italia.
Bandung, kota yang terkenal dengan sebutan Parijs Van Java pun mempunyai sebuah cerita tersendiri dengan klub sepakbola kebanggaannya yang bernama “Persib”. Persib dengan suporter fanatiknya (Bobotoh) selalu menjadi pusat perhatian di kalangan masyarakat, tidak hanya di Kota Bandung tetapi juga di Jawa Barat. Pada awalnya Persib bernama Bandoeng Inlandsche Voetball Bond (BIVB) yang merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis pada tahun 1923. Tapi setelah berkiprah beberapa saat BIVB kemudian menghilang. Setelah itu muncul dua perkumpulan lain yaitu Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSBI) dan National Voetball Bond (NVB). Barulah pada tanggal 14 Maret 1933 kedua perkumpulan tersebut bersatu dan melahirkan Persib. Di tahun 2008 ini Persib merayakan hari jadinya yang ke-75.
Segala pesona & fenomena yang hadir di dalam tubuh Persib inilah yang menggelitik seorang fotografer Surat Kabar Pikiran Rakyat Andri Gurnita untuk menyuguhkan 75 karya fotonya dalam sebuah Pameran Foto yang bernama “Hidup Persib!!!”, sepenggal kalimat sederhana namun penuh semangat yang telah lama dikumandangkan oleh ratusan ribu fans Persib sejak dulu. Tanpa ada tendensi apapun, Andri Gurnita secara jujur merekam penggalan-penggalan fotografis yang merepresentasikan realita Persib dengan segala atmosfir yang terhubung dengannya. Lewat beberapa karyanya pula, Andri Gurnita tidak hanya sekedar memaparkan citra foto pemain Persib ketika sedang beraksi di lapangan hijau melainkan pula ada usaha untuk menyampaikan sebuah pesan.
Simak saja foto yang menggambarkan seorang polisi yang tengah menonton sendirian sebuah pertandingan Persib tanpa dihadiri oleh para Bobotoh yang biasanya penuh sesak akibat terkena sangsi hukuman. Secara halus foto tersebut mencerminkan sebuah konsekuwensi sebagai akibat dari ketidakdisiplinan. Atau foto lain yang melukiskan seorang anak laki-laki kecil yang sedang mengangkat kedua belah tangannya di antara kerumunan Bobotoh Persib sembari memakai topi sebagai simbol dan atribut dari Persib. Seolah foto ini memberikan semangat dan optimisme ke depan bagi para pemain Persib yang sedang berlaga dari seorang generasi cilik penerus mereka.
Setidaknya foto-foto tersebut diharapkan dapat membangun sebuah citra sebagaimana salah satu fungsi fotografi itu sendiri. Dan agaknya citra sepakbola menjadi demikian dalam ketika olah raga ini seharusnya dapat menjadi ajang kreativitas manusia yang terlibat di dalamnya. Hanya saja anak-anak manusia yang mempunyai kegairahan kepada dunia sepakbola tersebut mempunyai caranya masing-masing untuk menciptakan imajinasi yang muncul. Entah itu sebagai wujud menyemangati tim yang sedang berlaga, melampiaskan kekalahan ataupun merayakan sebuah kemenangan. Di Italia misalnya. Setelah Italia berhasil mengalahkan Prancis dan menjadi juara dunia keempat kalinya pada tahun 2006, desainer Antonio Falangan merayakan kemenangan Italia dengan cara merancang gaun dengan warna bendera Italia untuk para modelnya dan membuat sebuah acara fashion show dengan tema AltaRoma Fashion. Lalu ada juga seniman Gianni Schiumarini yang berkarya di ajang festival karya pasir ‘Sandsation’ di Berlin pada piala dunia 2006 sehingga karyanya yang berjudul Fighting The Ball mendapatkan sebuah penghargaan.
Agaknya seorang Andri Gurnita dengan bijak memilih untuk memamerkan foto-foto Persib hasil jepretannya sebagai wujud totalitas, perayaan dan kecintaannya terhadap Persib. Dengan harapan bahwa pelatih, wasit, pemain, bobotoh Persib dan masyarakat Jawa Barat dapat berdialog dengan hasil-hasil karyanya. Karena walau bagaimanapun salah satu esensi sebuah karya foto yang berguna adalah bahwa foto tersebut dapat dilihat dan dibagikan kepada khalayak umum. Sehingga imaji-imaji visual tersebut dapat menjadi catatan sejarah khususnya bagi perjalanan Persib ke depan. Ketika sebuah peperangan hanya mampu memisahkan umat manusia dengan sia-sia di dunia, sebuah pertandingan sepakbola justru diharapkan menjadi simbol pemersatu bangsa di dunia. Agaknya, sudah layak dan sepantasnya lah Persib pun dapat menjadi alat pemersatu masyarakat Bandung dan Jawa Barat. Hidup Persib!!
*Tulisan ini diberikan sebagai Kata Pengantar Pameran Foto “Hidup Persib” karya Andri Gurnita di Gedung Indonesia Menggugat
Bandung, 9 Juni 2008
Pesan Dari Foto Cerita
Teks : galih sedayu
Ketika kita menyimak sebuah film, pada akhir cerita kita dapat memberikan kesimpulan tentang inti ataupun isi cerita yang terkandung di dalamnya. Misalnya film arahan sutradara Roberto Begnini yang berjudul Life is Beautiful yang menyuarakan sebuah optimisme dalam kehidupan, film Brave Heart yang disutradarai Mel Gibson yang mengusung nilai-nilai patriotisme, dan film Kill Bill karya Quentin Tarantino (yang menyukai sesuatu yang berdarah-darah) berisi tentang cerita balas dendam. Lalu yang menarik lagi adalah sebuah film yang kaya dengan imajinasi & kedalaman yang terdiri dari 8 episode cerita tentang dampak dari sebuah peperangan serta harmonisasi antara manusia dengan alamnya. Film ini berjudul Dreams yang dibuat oleh Sutradara Legendaris asal Jepang, Akira Kurosawa. Dan masih banyak lagi film-film yang mencoba memberikan pesan yang disampaikan melalui sebuah cerita.
Sama halnya dengan sebuah foto. Berbicara tentang foto berarti kita berbicara tentang citra. Pemaknaan sebuah citra foto dapat digali melalui cerita yang hadir dalam foto tersebut. Seorang James Nachtwey (War Photographer) tidak hanya memotret peristiwa yang klimaks dalam konteks peristiwa yang menjadi isu utama di suatu Negara misalnya. Ketika dia datang ke Indonesia, Nachtwey mulai memotret secara berseri rangkaian peristiwa yang berkait dan relevan dengan isu utama yang ada saat itu. Dari mulai demo mahasiswa, peristiwa kerusuhan yang terjadi sampai dampak yang ditimbulkan dari krisis ekonomi yang menimpa Negara kita dimana dia memotret beberapa orang cacat pada sebuah perkampungan miskin yang ada di pinggiran Kota Jakarta.
Ketika sebuah foto single (tunggal) masih belum secara jelas dapat menceritakan segala pesan yang ingin disampaikan oleh si pemotret maupun pemaknaan obyek yang direkam, saat itulah sebuah Photo Story dibutuhkan. Pada dasarnya sebuah Photo Story merupakan rangkaian,episode & kumpulan foto-foto yang saling terkait dan memiliki benang merah sehingga secara keseluruhan cerita yang ditampilkan melalui foto-foto tersebut menjadi utuh.
Sebagai contoh ketika saya memotret seorang pelukis berbakat yang bernama Rosid di rumahnya. Saya melihat bahwa sebuah benda yang bernama Pinsil menjadi alat utama sekaligus roh bagi seorang Rosid. Karena dengan pinsil tersebut dia melukiskan gambarnya pada media apapun. Sehingga ketertarikan saya tidak hanya pada figur Rosid semata, tetapi hal-hal unik yang ada di atmosfir rumah maupun studio lukisnya. Seperti ketika saya menengok ke atas atap dinding rumahnya, di sana terlihat motif-motif pinsil menghiasi dinding atap rumahnya. Lalu tepat di tengah-tengah ruangan tamu, Pinsil Kayu ukuran besar yang hampir menyerupai batang pohon diletakkan tegak dimana ujung pensil tersebut mengarah ke atap dinding rumahnya (yang juga) bermotif pinsil. Dengan begitu saya melihat betapa besar kecintaan dia terhadap profesi yang dijalankan. Sangatlah wajar ketika harga sebuah lukisan yang dibuatnya dijual dengan harga puluhan juta rupiah.
Membuat sebuah Photo Story ada baiknya dimulai dengan sebuah wacana atau ide. Ada baiknya ketika ide tersebut related dengan isu-isu yang hangat atau berhubungan dengan peristiwa yang aktual. Setelah itu mulailah untuk mengumpulkan nara sumber dan melakukan personal approach atau pendekatan secara intens terhadap obyek yang ingin difoto. Saat itulah kita dituntut untuk tidak berpikir secara teknis melainkan bagaimana agar foto yang kita buat mengalir dan menyatu dengan obyek yang kita rekam sehingga antara ide dan tema yang dibawa menjadi sesuai dengan eksekusi yang kita ambil. Oleh karena itu, proses yang menurut saya paling penting sebelum kita memencet tombol rana kamera adalah mendengar,mendengar dan mendengar.
Pada tahun 1992, Ron Fricke, seorang fotografer yang juga seorang sinematografer membuat sebuah film dokumenter yang berjudul Baraka. Dalam film ini sama sekali tidak ada dialog, yang ada hanyalah cuplikan-cuplikan gambar hidup yang lebih menyerupai karya fotografis tentang alam dan keterlibatan manusia di dalamnya. Dalam film yang menggunakan kamera 70 mm ini, Ron Fricke mengajak kita untuk berkontemplasi secara visual agar setidaknya kita tergugah dan mulai berbuat sesuatu yang berarti bagi alam ini. Karena sudah sejak dulu, cerita tentang insan manusia yang peduli akan kehidupan lebih baik dikumandangkan ke penghujung bumi. Seperti Penyanyi Legendaris yang ditembak mati oleh penggemarnya sendiri, John Lennon yang mencoba menyuarakan ajakan damai & bersatunya dunia lewat lagunya Imagine.
Tentunya, melalui citra fotografi kita dapat berbuat hal yang serupa. Dengan sebuah Photo Story, kita dapat menyuguhkan realita hidup yang kini terjadi dan menyampaikan pesan-pesan yang berguna bagi masa depan. Karena sebuah foto, sesungguhnya tidak pernah lekang oleh masa. Dia akan terus hadir & berbicara ketika mulut tidak bisa berkata apa-apa. Maka dari itu, teruslah bermain dengan cahaya.
*Tulisan ini diberikan pada saat Seminar Photo Story di gedung PWI pada tanggal 19 Mei 2008
Bandung, 12 Mei 2008
Saatnya Kaum Hawa
Teks : galih sedayu
Sedari dulu, cerita tentang mahluk wanita dengan segala kelebihan dan kekurangannya selalu menjadi medan magnet dan terus menghiasi wajah-wajah media di dunia. Dari mulai kisah kepahlawanan Joan of Arc, wanita asal perancis yang dibakar hidup-hidup pada usia 19 tahun karena menjadi pemberontak..kisah tragis Princess of Wales, Putri Diana yang meninggal karena kecelakaan mobil yang dialaminya pada tahun 1997 sampai pada kisah eksentrik fotografer wanita legendaris Dianne Arbus yang difilmkan dengan judul Fur dan dimainkan oleh aktris cantik Nicole Kidman.
Kisah-kisah itu menandakan bagaimana wanita dengan manifestasi latar belakang yang berbeda dapat memberikan warna tersendiri bagi sebuah kehidupan di dunia. Pandangan tentang figur wanita yang lemah, yang selalu di bawah, yang mudah ditindas lambat laun mulai pupus seiring dengan berjuta prestasi yang dihasilkan oleh para kaum hawa. Saat ini (bahkan) mereka mengisi tempat-tempat yang konon dianggap hanya boleh ditempati oleh kaum adam saja. Kita bisa buktikan bahwa saat ini betapa banyak pekerjaan seperti supir, satpam, kuli bangunan, dll dengan segala citranya yang macho ada yang dilakoni oleh seorang wanita. Di Indonesia kita boleh berbangga bahwa seorang Kartini menjadi pelopor dan menepis semua persepsi tentang gender tersebut. Karenanya, tidaklah pantas bila di jaman yang kita jalani sekarang masih terdapat opini yang diaminkan bahwa wanita itu harus kerja di dapur dan biarkan lelaki mencari nafkah.
Berangkat dari semangat itulah, sekelompok mahasiswa/i universitas padjajaran bandung yang tergabung dalam klub fotografi kampus SPEKTRUM, mencoba mengusung isu wanita tersebut ke permukaan melalui Pameran Foto “Wanita,wanita & wanita” dengan tema Dulu Dapur Kini Karir. Karya-karya mereka setidaknya mewakili sejumlah realita & harapan untuk ke depan, bagaimana wanita dapat lebih berperan dalam menyikapi tantangan hidup yang semakin keras. Simak saja foto reportase karya fierly yang menggambarkan seorang wanita yang bertugas meliput acara demo salah satu ormas islam. Di sana kita dapat menyimak bahwa saat ini wanita bebas menentukan kegiatan atau profesi yang dipilihnya meski mereka sadar benar bahwa ada resiko yang menantang sebagai konsekuwensi terhadap pekerjaan yang mereka ambil. Lalu ada juga foto yang menangkap semiotika waktu yang hadir seperti yang dibuat oleh cha cha dengan fotonya yang berjudul ‘dulu,kini,nanti’. Meski pesan yang timbul pada karya foto ini masih belum begitu mengalir tetapi interpretasi nya dapat merupakan sebuah harapan baru sebagai aksi tindak lanjut generasi kini dengan mengambil nilai-nilai kearifan generasi dulu.
Pada akhirnya kita akan mengakui betapa hebatnya wanita-wanita yang terus lahir di dunia ini. Bila kita berkontemplasi ke belakang, hadirnya manusia ke bumi ini adalah berkat keajaiban Sang Pencipta melalui tubuh wanita. Sehingga mahluk wanita yang didesain dengan bentuk tubuh sedemikian rupa memang merupakan karya yang nyaris sempurna.
Ketika foto yang diambil oleh fotografer Nick Ut yaitu foto seorang gadis cilik berumur 9 tahun bernama Kim Phuc yang tengah berlari sambil menangis kesakitan karena terkena bom napalm pada perang Vietnam tahun 1972 menjadi bahan perbincangan di seantero jagat, mau tidak mau kita bercermin terhadap ketegaran seorang wanita dalam berjuang melawan akibat yang ditimbulkan oleh sebuah peperangan. Kim Phuc membuktikan itu semua sehingga dia mendapat gelar doktor kehormatan dari Universitas York di Toronto atas jasa-jasanya membantu anak-anak para korban perang di seluruh dunia.
Pada intinya fotografi secara sadar maupun tidak, selalu memberikan kontribusinya kepada sejarah peradaban dunia dalam konteks citra seorang wanita. Fotografi menjadi media perantara antara yang hidup dan yang mati. Karena sesuatu yang sudah mati dapat dihidupkan kembali melalui pencintraan sebuah karya foto.
Satu hal lagi, sebagian orang berpendapat bahwa wanita adalah sumber inspirasi. Seperti kata seorang fotografer dunia Man Ray dalam akhir film dokumenternya yang berjudul The Prophet to Avant Garde bahwa satu hal yang membuat dia terus bertahan hidup untuk memotret adalah mereka…WANITA.
*Tulisan ini diberikan sebagai Kata Pengantar Pameran Foto “Wanita, wanita & wanita…dulu dapur kini karir” karya SPEKTRUM, Klub Foto Kampus Universitas Padjajaran Bandung
Bandung, 14 Mei 2008
Foto Seri Potret
Teks : galih sedayu
Berbicara tentang foto potret, sesungguhnya adalah membicarakan genre foto yang tak pernah lekang dimakan oleh jaman. Foto potret selalu dapat menempatkan dirinya di setiap masa yang berbeda. Apalagi dengan keunikan fotografi yang dapat menciptakan sebuah pencitraan, foto potret yang sangat sederhana sekalipun dapat memberikan sebuah imej visual tersendiri bagai ruh yang keluar dari foto tersebut. Fotografer dunia kenamaan macam Richard Avedon membuktikan kecintaannya pada foto potret dengan berkeliling mengabadikan masyarakat pinggiran AS sambil membawa backdrop putih di bak belakang mobilnya. Bahkan foto potret seorang tokoh pemberontak Ernesto Guevara yang diabadikan oleh Alberto Korda, hingga kini menjadi icon di kalangan anak muda yang berjiwa revolusioner. Belum lagi kita patut berbangga bahwa seorang fotografer Indonesia, Indra Leonardi berhasil membukukan karya-karya foto potretnya yang berjudul Indonesian Portraits. Indra Leonardi dengan gayanya yang klasik secara unik berhasil memainkan cahaya dengan merekam tokoh-tokoh kebanggaan Indonesia seperti sutradara Garin Nugroho, penyanyi wanita Titi DJ, petinju Chris John, pakar sejarah Des Alwi, penulis lagu Gesang dan masih banyak lagi.
Sebenarnya membuat sebuah foto potret tidaklah sesederhana apa yang kita pikirkan. Karena secara tidak disadari, saat kita merekam foto potret seseorang berarti kita mentransfer sejumlah energi yang kita miliki kepada orang yang kita foto. Oleh karenanya kita sering mendengar kalimat yang berbunyi “foto itu berbicara” meski kita semua seharusnya tahu bahwa diri kitalah yang sebenarnya berbicara lewat sebuah foto yang kita ciptakan. Oleh karena itu langkah awal sebelum kita membuat sebuah karya foto potret adalah kita harus mengenal terlebih dahulu orang yang akan kita potret. Setelah itu adalah mendengar, suatu proses yang sangat penting dan sering dilupakan oleh seorang fotografer. Dan langkah selanjutnya adalah menghargai orang yang akan kita abadikan. Barulah kita bisa memulai untuk memotret orang tersebut.
Bayangkan ketika kita mendapatkan sebuah karya foto potret seseorang lalu kita bercerita kepada orang lain tentang foto tersebut tetapi bukan dengan memaparkan bagaimana sudut pengambilannya, teknik pencahayaannya, komposisi pemotretannya melainkan kita bercerita tentang segala sesuatu yang kita dapatkan dari proses mengenal, mendengar & menghargai tersebut. Misalnya saja kita dapat menjelaskan bahwa foto potret yang kita ambil adalah seorang pria bernama Lulus UJianto, anak keturunan seorang raja banten yang bekerja sebagai buruh bangunan dan mampu memberi nafkah ke 2 orang anaknya yang kembar berusia 5 tahun dan tinggal bersama di sebuah gubuk mereka yang sederhana. Sehingga siapapun orang yang melihat foto tersebut akan menyimak dan menaruh perhatian tertentu karena ada sebuah cerita di balik foto tersebut.
Mengapa foto potret hasil bidikan fotografer National Geographic Steve McCurry yang terkenal dengan nama “Afghan Girl” menjadi begitu menarik perhatian? Karena foto tersebut tidak sekedar melukiskan seorang gadis kecil afghan yang bernama Shabat Gula tetapi ada sebuah cerita humanis di dalamnya. Dimana kita ketahui bersama bahwa Steve McCurry melakukan perjalanan kembali ke Afghanistan setelah 17 tahun lamanya hanya untuk mencari gadis tersebut.
Short Portrait Series adalah sebuah istilah yang saya buat untuk menamakan sejumlah karya foto potret yang disajikan bukan sebagai foto single/tunggal, tetapi merupakan rangkaian foto yang mempunyai keterkaitan satu sama lain baik melalui eksplorasi tokoh (figur) yang kita ambil maupun melalui benang merah ide yang hadir di dalamnya. Seperti foto seri potret seorang pakar filsafat Prof.Dr.Bambang Sugiharto yang saya abadikan di ruang kerjanya, foto-foto itu lebih mengusung tokoh sentral seorang Bambang Sugiharto. Lain halnya foto seri potret sebuah penari grup terkenal asal bandung Wanna Be Dancer, dua orang anak kembar Vina & Vani dan seorang pejabat polisi di atas mobil jeepnya, semuanya mencerminkan tentang ide gerak (move) hingga saya memberikan istilah Move Portrait Series.
Harapannya, sebuah Short Portrait Series lebih menawarkan sebuah wacana yang lebih luas ketimbang bila kita hanya melihat sebuah karya foto tunggal yang berdiri sendiri. Sehingga si penikmat foto dapat mentafsirkan sendiri baik dari segi konten,nilai & esensi foto potret tersebut.
Short Portrait Series juga dapat membuat si pemotret menggali lebih dalam dan merealisasikan ide-ide yang muncul sehingga dapat dituangkan ke dalam karya-karya foto potretnya. Layaknya kita menonton sebuah film, seolah-olah Short Portrait Series memiliki alpha & omega nya sendiri. Kita dapat melihat alur, spirit yang ada di dalamnya, kedalaman tokoh atau orang yang kita foto dan lain sebagainya.
Tetapi pada intinya adalah kita dapat menciptakan foto potret pada kehidupan sehari-hari. Bila Leopold Stokowski pernah berujar bahwa “Seorang Pelukis melukiskan karyanya pada sebuah kanvas dan seorang musisi melukiskan karyanya dalam kesunyian”, menurut saya “Seorang fotografer sejati melukiskan karyanya pada kehidupan”.
*Tulisan ini diberikan pada Short Portrait Series Clinique di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) bandung pada tanggal 4 Mei 2008
Bandung, 27 April 2008
Lompatan Imajinasi Potret Pendidikan
Teks : galih sedayu
Ketika salah satu program pemerintah kita yang mencanangkan sebuah tujuan mulia yaitu Ikut Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, kata ‘Pendidikan’ menjadi sesuatu yang paling esensial yang dapat dijadikan landasan & media bagi tercapainya cita-cita bangsa tersebut. Agaknya, harapan tentang manisnya buah pendidikan yang dapat dimakan oleh bangsa kita secara lebih merata menjadi sebuah khayalan semu bagi sebagian besar anak bangsa ini.
Ditulisnya novel “Laskar Pelangi” oleh Andrea Hirata yang bercerita tentang kisah nyata wajah muram pendidikan di daerah Belitong melalui cerita humanisme 10 orang anak SD Muhammadiyah yang miskin, mau tidak mau membuka mata kita bahwa masalah pendidikan bagaikan sebuah barang mewah yang tidak semua anak negeri ini dapat menikmatinya. Begitu pula satir tentang pendidikan lewat film “Denias” yang bercerita tentang kisah nyata perjuangan seorang anak di negeri papua, dengan kegigihannya serta dengan bantuan seorang tentara baik hati (diperankan oleh aktor Ari Sihasale), denias dapat berhasil memperoleh sebuah pendidikan yang layak baginya.
Semua kisah nyata tentang pendidikan di tanah air yang diangkat menjadi sebuah novel maupun film tersebut adalah cermin tentang dunia pendidikan yang nyata & aktual di bumi pertiwi ini. Oleh karena itu, pendidikan dirasakan sebagai sebuah mimpi di Negeri Dongeng yang kadang hanya bisa diimajinasikan oleh mereka yang belum sempat mengenyamnya. Berdasarkan kesadaran kolektif tersebut, Pameran Foto “Pendidikan Negeri Dongeng” yang digagas oleh Himpunan Mahasiswa Teknologi Pendidikan & PERFORMA Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mencoba memaparkan kegelisahan tersebut melalui visual foto. Sekitar 50 karya fotografi yang berasal dari beberapa perkumpulan foto kampus yang ada di kota bandung, menjadi saksi hidup tentang potret pendidikan yang ada saat ini.
Karena keunikan fotografi adalah dapat merekam sebuah citra, dengan melihat karya-karya foto yang dipamerkan ini masyarakat dapat menilai dengan bebas dan menginterpretasikannya masing-masing tentang masalah pendidikan tersebut. Walaupun harus diakui bahwa pameran foto ini masih merupakan langkah & gerakan kecil dari beberapa masyarakat pendidikan yang mau peduli. Karena walau bagaimanapun, sesuatu yang besar itu terjadi bila kita mengerjakan sesuatu yang kecil dengan benar. Harapan nya adalah agar setidaknya kita sadar bahwa realitas maupun mimpi itu ada.
Misalnya saja foto yang menggambarkan tentang dua orang anak jalanan yang tengah tersenyum sambil memegang lem aibon karya Yusviza Ahmad. Betapapun kita dapat melihat bagaimana jadinya masa depan yang dimiliki oleh mereka ketika definisi kebahagiaan menurutnya adalah dengan mengisap lem aibon tersebut. Lain halnya ketika kita melihat karya-karya foto lain yang menyuguhkan keceriaan & kebahagiaan yang memang sepatutnya mereka dapatkan. Sehingga keterkaitan foto yang muncul menjadi paradoks, terlebih bila senyum yang terpancar dari wajah anak-anak tersebut dianalogikan dengan nilai kebahagiaan.
Setidaknya pameran foto ini dapat menstimulan masyarakat pendidikan yang lain untuk berbuat serupa sehingga beban tanggung jawab tersebut dapat diemban secara bersama meskipun mungkin dimulai dengan sebuah mimpi, Pendidikan Negeri Dongeng. Seperti kata Gloria Steinem,”Tanpa adanya lompatan imajinasi ataupun impian, kamu akan kehilangan kemungkinan yang mendebarkan. Impian adalah bentuk dari perencanaan.
*Tulisan ini diberikan sebagai Kata Pengantar Pameran Foto “Pendidikan Negeri Dongeng” yang digagas oleh HIMA TEKPEN Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung
Bandung, 29 April 2008
Fotografi Sebagai Alat Komunikasi Visual
Teks : galih sedayu
Terhitung 2 tahun setelah fotografi ditemukan oleh Louis Jacques Mande Daguerre pada tahun 1839, atas permintaan pemerintah kolonial belanda fotografi sudah dibawa ke tanah air tepatnya di Bandar Batavia oleh seorang fotografer yang bernama Dr Jurriaan Munnich. Setelah itu di Indonesia muncul 2 orang fotografer asal inggris, Walter Woodbury dan James Page pada tahun 1857 yang menjadikan titik sejarah foto dokumentasi seluruh keadaan di tanah air.Kemudian muncul fotografer orang jawa pertama, Kassian Cephas yang mendokumentasikan relief-relief tentang ajaran Maha Karmawibhangga di Candi Borubudur. Sejak saat itu fotografi di Indonesia berkembang pesat seiring dengan kemajuan teknologi yang terus dikembangkan oleh manusia. Apalagi di saat ini dengan munculnya era digital, fotografi semakin menjamur dan tidak hanya diperuntukkan bagi kalangan fotografer saja tetapi juga masyarakat umum termasuk orang-orang yang berkecimpung dalam dunia Public Relations (PR).
Salah satu kelebihan fotografi adalah mampu merekam peristiwa yang aktual dan membentuk sebuah citra di dalamnya. Sehingga fotografi dapat berfungsi sebagai alat komunikasi visual dimana oleh orang-orang PR dapat digunakan sebagai bahan publisitas yang bermanfaat.
Mungkin kita masih ingat sebuah peristiwa menarik di dunia tinju dimana Mike Tyson menggigit telinga petinju Evander Hollyfield. Kala itu, foto yang menggambarkan kejadian tersebut dijadikan bahan publisitas secara besar-besaran di seluruh dunia. Bahkan ada beberapa foto yang dijadikan desain t-shirt serta merchandise lainnya untuk keperluan komersil.
Sebuah jargon dari produk sampoo sunsilk yang berbunyi ‘Rambutnya, Kisah Hidupnya’ tetap saja mau tidak mau menggunakan imej foto Marlyn Monroe & Madonna sebagai simbol ataupun representasi dari tokoh-tokoh yang digambarkan memiliki kisah hidup yang bermakna. PR yang bersifat hidup,verbal,murah dan menjangkau seseorang dapat dibantu dengan visual fotografi yang berfungsi menguatkan produk tertentu.
Fotografi juga dapat menciptakan dan memvisualkan secara jelas buah pikiran dan tulisan-tulisan yang dibuat oleh seorang PR ketika membuat artikel-artikel tertentu. Misalnya saja ketika kita ditugaskan untuk menulis artikel tentang Dick Fosbury, seorang atlet lompat tinggi yang tidak begitu terkenal tetapi gaya lompatannya yang membelakangi palang (Fosbury Flop) masih digunakan hingga sekarang. Kehadiran foto di sini dapat menegaskan artikel yang telah dibuat.
Karena sifatnya yang mudah dicerna & abadi, sudah layak dan sepantasnyalah seorang PR perlu dibekali oleh ilmu fotografi.
*Tulisan ini diberikan pada saat Seminar Cyber Public Relations “photography as a visual communication” di be mall pada tanggal 12 April 2008
Bandung, 4 April 2008