I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Pesan Dari Foto Cerita

leave a comment »

Teks : galih sedayu

Ketika kita menyimak sebuah film, pada akhir cerita kita dapat memberikan kesimpulan tentang inti ataupun isi cerita yang terkandung di dalamnya. Misalnya film arahan sutradara Roberto Begnini yang berjudul Life is Beautiful yang menyuarakan sebuah optimisme dalam kehidupan, film Brave Heart yang disutradarai Mel Gibson yang mengusung nilai-nilai patriotisme, dan film Kill Bill karya Quentin Tarantino (yang menyukai sesuatu yang berdarah-darah) berisi tentang cerita balas dendam. Lalu yang menarik lagi adalah sebuah film yang kaya dengan imajinasi & kedalaman yang terdiri dari 8 episode cerita tentang dampak dari sebuah peperangan serta harmonisasi antara manusia dengan alamnya. Film ini berjudul Dreams yang dibuat oleh Sutradara Legendaris asal Jepang, Akira Kurosawa. Dan masih banyak lagi film-film yang mencoba memberikan pesan yang disampaikan melalui sebuah cerita.

Sama halnya dengan sebuah foto. Berbicara tentang foto berarti kita berbicara tentang citra. Pemaknaan sebuah citra foto dapat digali melalui cerita yang hadir dalam foto tersebut. Seorang James Nachtwey (War Photographer) tidak hanya memotret peristiwa yang klimaks dalam konteks peristiwa yang menjadi isu utama di suatu Negara misalnya. Ketika dia datang ke Indonesia, Nachtwey mulai memotret secara berseri rangkaian peristiwa yang berkait dan relevan dengan isu utama yang ada saat itu. Dari mulai demo mahasiswa, peristiwa kerusuhan yang terjadi sampai dampak yang ditimbulkan dari krisis ekonomi yang menimpa Negara kita dimana dia memotret beberapa orang cacat pada sebuah perkampungan miskin yang ada di pinggiran Kota Jakarta.

Ketika sebuah foto single (tunggal) masih belum secara jelas dapat menceritakan segala pesan yang ingin disampaikan oleh si pemotret maupun pemaknaan obyek yang direkam, saat itulah sebuah Photo Story dibutuhkan. Pada dasarnya sebuah Photo Story merupakan rangkaian,episode & kumpulan foto-foto yang saling terkait dan memiliki benang merah sehingga secara keseluruhan cerita yang ditampilkan melalui foto-foto tersebut menjadi utuh.

Sebagai contoh ketika saya memotret seorang pelukis berbakat yang bernama Rosid di rumahnya. Saya melihat bahwa sebuah benda yang bernama Pinsil menjadi alat utama sekaligus roh bagi seorang Rosid. Karena dengan pinsil tersebut dia melukiskan gambarnya pada media apapun. Sehingga ketertarikan saya tidak hanya pada figur Rosid semata, tetapi hal-hal unik yang ada di atmosfir rumah maupun studio lukisnya. Seperti ketika saya menengok ke atas atap dinding rumahnya, di sana terlihat motif-motif pinsil menghiasi dinding atap rumahnya. Lalu tepat di tengah-tengah ruangan tamu, Pinsil Kayu ukuran besar yang hampir menyerupai batang pohon diletakkan tegak dimana ujung pensil tersebut mengarah ke atap dinding rumahnya (yang juga) bermotif pinsil. Dengan begitu saya melihat betapa besar kecintaan dia terhadap profesi yang dijalankan. Sangatlah wajar ketika harga sebuah lukisan yang dibuatnya dijual dengan harga puluhan juta rupiah.

Membuat sebuah Photo Story ada baiknya dimulai dengan sebuah wacana atau ide. Ada baiknya ketika ide tersebut related dengan isu-isu yang hangat atau berhubungan dengan peristiwa yang aktual. Setelah itu mulailah untuk mengumpulkan nara sumber dan melakukan personal approach atau pendekatan secara intens terhadap obyek yang ingin difoto. Saat itulah kita dituntut untuk tidak berpikir secara teknis melainkan bagaimana agar foto yang kita buat mengalir dan menyatu dengan obyek yang kita rekam sehingga antara ide dan tema yang dibawa menjadi sesuai dengan eksekusi yang kita ambil. Oleh karena itu, proses yang menurut saya paling penting sebelum kita memencet tombol rana kamera adalah mendengar,mendengar dan mendengar.

Pada tahun 1992, Ron Fricke, seorang fotografer yang juga seorang sinematografer membuat sebuah film dokumenter yang berjudul Baraka. Dalam film ini sama sekali tidak ada dialog, yang ada hanyalah cuplikan-cuplikan gambar hidup yang lebih menyerupai karya fotografis tentang alam dan keterlibatan manusia di dalamnya. Dalam film yang menggunakan kamera 70 mm ini, Ron Fricke mengajak kita untuk berkontemplasi secara visual agar setidaknya kita tergugah dan mulai berbuat sesuatu yang berarti bagi alam ini. Karena sudah sejak dulu, cerita tentang insan manusia yang peduli akan kehidupan lebih baik dikumandangkan ke penghujung bumi. Seperti Penyanyi Legendaris yang ditembak mati oleh penggemarnya sendiri, John Lennon yang mencoba menyuarakan ajakan damai & bersatunya dunia lewat lagunya Imagine.

Tentunya, melalui citra fotografi kita dapat berbuat hal yang serupa. Dengan sebuah Photo Story, kita dapat menyuguhkan realita hidup yang kini terjadi dan menyampaikan pesan-pesan yang berguna bagi masa depan. Karena sebuah foto, sesungguhnya tidak pernah lekang oleh masa. Dia akan terus hadir & berbicara ketika mulut tidak bisa berkata apa-apa. Maka dari itu, teruslah bermain dengan cahaya.

*Tulisan ini diberikan pada saat Seminar Photo Story di gedung PWI pada tanggal 19 Mei 2008

Bandung, 12 Mei 2008

Advertisements

Written by Admin

January 21, 2010 at 1:05 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: