I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Saatnya Kaum Hawa

leave a comment »

Teks : galih sedayu

Sedari dulu, cerita tentang mahluk wanita dengan segala kelebihan dan kekurangannya selalu menjadi medan magnet dan terus menghiasi wajah-wajah media di dunia. Dari mulai kisah kepahlawanan Joan of Arc, wanita asal perancis yang dibakar hidup-hidup pada usia 19 tahun karena menjadi pemberontak..kisah tragis Princess of Wales, Putri Diana yang meninggal karena kecelakaan mobil yang dialaminya pada tahun 1997 sampai pada kisah eksentrik fotografer wanita legendaris Dianne Arbus yang difilmkan dengan judul Fur dan dimainkan oleh aktris cantik Nicole Kidman.

Kisah-kisah itu menandakan bagaimana wanita dengan manifestasi latar belakang yang berbeda dapat memberikan warna tersendiri bagi sebuah kehidupan di dunia. Pandangan tentang figur wanita yang lemah, yang selalu di bawah, yang mudah ditindas lambat laun mulai pupus seiring dengan berjuta prestasi yang dihasilkan oleh para kaum hawa. Saat ini (bahkan) mereka mengisi tempat-tempat yang konon dianggap hanya boleh ditempati oleh kaum adam saja. Kita bisa buktikan bahwa saat ini betapa banyak pekerjaan seperti supir, satpam, kuli bangunan, dll dengan segala citranya yang macho ada yang dilakoni oleh seorang wanita. Di Indonesia kita boleh berbangga bahwa seorang Kartini menjadi pelopor dan menepis semua persepsi tentang gender tersebut. Karenanya, tidaklah pantas bila di jaman yang kita jalani sekarang masih terdapat opini yang diaminkan bahwa wanita itu harus kerja di dapur dan biarkan lelaki mencari nafkah.

Berangkat dari semangat itulah, sekelompok mahasiswa/i universitas padjajaran bandung yang tergabung dalam klub fotografi kampus SPEKTRUM, mencoba mengusung isu wanita tersebut ke permukaan melalui Pameran Foto “Wanita,wanita & wanita” dengan tema Dulu Dapur Kini Karir. Karya-karya mereka setidaknya mewakili sejumlah realita & harapan untuk ke depan, bagaimana wanita dapat lebih berperan dalam menyikapi tantangan hidup yang semakin keras. Simak saja foto reportase karya fierly yang menggambarkan seorang wanita yang bertugas meliput acara demo salah satu ormas islam. Di sana kita dapat menyimak bahwa saat ini wanita bebas menentukan kegiatan atau profesi yang dipilihnya meski mereka sadar benar bahwa ada resiko yang menantang sebagai konsekuwensi terhadap pekerjaan yang mereka ambil. Lalu ada juga foto yang menangkap semiotika waktu yang hadir seperti yang dibuat oleh cha cha dengan fotonya yang berjudul ‘dulu,kini,nanti’. Meski pesan yang timbul pada karya foto ini masih belum begitu mengalir tetapi interpretasi nya dapat merupakan sebuah harapan baru sebagai aksi tindak lanjut generasi kini dengan mengambil nilai-nilai kearifan generasi dulu.

Pada akhirnya kita akan mengakui betapa hebatnya wanita-wanita yang terus lahir di dunia ini. Bila kita berkontemplasi ke belakang, hadirnya manusia ke bumi ini adalah berkat keajaiban Sang Pencipta melalui tubuh wanita. Sehingga mahluk wanita yang didesain dengan bentuk tubuh sedemikian rupa memang merupakan karya yang nyaris sempurna.

Ketika foto yang diambil oleh fotografer Nick Ut yaitu foto seorang gadis cilik berumur 9 tahun bernama Kim Phuc yang tengah berlari sambil menangis kesakitan karena terkena bom napalm pada perang Vietnam tahun 1972 menjadi bahan perbincangan di seantero jagat, mau tidak mau kita bercermin terhadap ketegaran seorang wanita dalam berjuang melawan akibat yang ditimbulkan oleh sebuah peperangan. Kim Phuc membuktikan itu semua sehingga dia mendapat gelar doktor kehormatan dari Universitas York di Toronto atas jasa-jasanya membantu anak-anak para korban perang di seluruh dunia.

Pada intinya fotografi secara sadar maupun tidak, selalu memberikan kontribusinya kepada sejarah peradaban dunia dalam konteks citra seorang wanita. Fotografi menjadi media perantara antara yang hidup dan yang mati. Karena sesuatu yang sudah mati dapat dihidupkan kembali melalui pencintraan sebuah karya foto.
Satu hal lagi, sebagian orang berpendapat bahwa wanita adalah sumber inspirasi. Seperti kata seorang fotografer dunia Man Ray dalam akhir film dokumenternya yang berjudul The Prophet to Avant Garde bahwa satu hal yang membuat dia terus bertahan hidup untuk memotret adalah mereka…WANITA.

*Tulisan ini diberikan sebagai Kata Pengantar Pameran Foto “Wanita, wanita & wanita…dulu dapur kini karir” karya SPEKTRUM, Klub Foto Kampus Universitas Padjajaran Bandung

Bandung, 14 Mei 2008

Advertisements

Written by Admin

January 21, 2010 at 12:49 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: