I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Archive for the ‘07) SEMESTA FOTO CERITA’ Category

Menikmati Surga di Pantai Balangan

with 2 comments

Teks & Foto oleh galih sedayu

The beach stirs the heart, inspires the imagination and brings eternal joy to the soul”

Menjejakkan kaki di batu karang dengan lumutnya yang berwarna hijau sembari merasakan segarnya air pantai adalah obat pelipur penat bagi siapapun orang yang dapat merasakannya. Belum lagi menyentuh hamparan pasir dan batu koral yang berwarna putih menambah sensasi nikmatnya alam di salah satu pantai pulau dewata ini. Pantai Balangan. Kita dapat merasakan sensasi itu semua di sini. Lokasi pantai ini terletak di wilayah Desa Ungasan, Kelurahan Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, Bali. Ia tersembunyi dengan indah di bagian selatan Pulau Dewata, dengan panjang garis pantai kurang lebih 1 km menghadap ke arah utara. Sementara di bagian timur dipagari oleh tebing tinggi yang berlekuk di bawahnya karena tergerus oleh ombak. Di bagian barat, pantai dipagari oleh tebing tinggi yang penuh dengan pohon kelapa. Selain itu terdapat pula semacam pondok untuk menikmati pantai dari ketinggian. Pantai yang terletak diantara dua bukit karang yang terjal ini berada di daerah Pecatu. Untuk menuju ke kawasan pasir putih yang dimilikinya, kita hanya tinggal menuruni sejumlah anak tangga yang tidak terlalu curam. Tekstur pasir Pantai Balangan terasa sedikit kasar dengan ombaknya yang cukup besar. Sungguh layak semestinya bila pantai ini mendapat predikat surga yang tersembunyi di bumi.

@galihsedayu | Bali, 2 Juli 2015

pantai balangan

pantai balangan

pantai balangan

pantai balangan

pantai balangan

pantai balangan

pantai balangan

pantai balangan

pantai balangan

pantai balangan

pantai balangan

pantai balangan

pantai balangan

pantai balangan

pantai balangan

pantai balangan

pantai balangan

pantai balangan

pantai balangan

pantai balangan

pantai balangan

pantai balangan

pantai balangan

pantai balangan

pantai balangan

pantai balangan

pantai balangan

Copyright (c) 2015 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

July 13, 2015 at 4:05 pm

Persekutuan Anak & Hutan

leave a comment »

Teks & Foto oleh galih sedayu

Mengajari anak-anak tentang alam bukanlah dengan bercerita kepada mereka tentang alam, melainkan mengajak dan membawa mereka langsung untuk merasakan alam”. Barangkali pesan itulah yang semestinya diwartakan setiap saat kepada anak-anak kita di era yang serba instan ini. Untuk itulah Bandung Creative City Forum (BCCF) menyelenggarakan sebuah program yang bernama Ulin Piade yang merupakan salah satu rangkaian kegiatan Ulin Tepi Ka Sasab. Adapun Helarfest 2015 yang diinisiasi oleh BCCF sejak tahun 2008 menjadi ibu kegiatan yang menaunginya. Ulin Piade sendiri adalah bukti nyata kegiatan yang menghidangkan makanan edukasi kepada anak-anak yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak melalui sebuah permainan ketangkasan di dalam hutan. Komunitas Ecoethno, Picu Pacu dan Relawan Simpul Institute menjadi motor penggerak acara tersebut. Di sinilah hutan kota dunia Babakan Siliwangi menjadi ruang publik di Kota Bandung yang disentuh serta dirasa oleh sekelompok anak kecil yang bermain di alam. Anak-anak tersebut mencoba menjelajahi hutan dari mulai berjalan melewati pohon yang tumbang, berlari di sela-sela akar pohon yang menggantung, merayap di tanah yang lembab, bersepeda di jalur yang sempit, hingga mendaki di tanjakan yang lumayan curam. Namun demikian, kondisi seperti itulah yang justru dicari oleh anak-anak tersebut. Hati mereka justru merasa tertantang untuk dapat melampaui segala rintangan yang ada. Tentunya aksi mereka didampingi pula oleh orang tua masing-masing. Barangkali, apa yang dialami dan dilakukan oleh anak-anak tersebut di dalam hutan, justru dapat menjadi pelajaran bagi kita orang dewasa di dunia nyata. Bahwa kadang di dalam hidup nyata, kita sesungguhnya sangat membutuhkan keberanian seperti yang dimiliki oleh anak-anak kecil tersebut. Jiwa yang lepas, bebas dan tetap bergerak.

@galihsedayu | Bandung, 3 Mei 2015

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

ulin piade

Copyright (c) 2015 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

May 4, 2015 at 1:41 am

Marilah Kemari Ke Pantai Batu Karas

leave a comment »

Teks & Foto oleh galih sedayu

Laut tenang berwarna biru, pantai asri yang landai, teluk mungil yang mengapit daratan. Sejauh mata memandang tampak ujung cakrawala dengan himpunan deru ombak yang menghibur jiwa. Sebentuk semesta alam kecil ini bisa kita lihat di Pantai Batu Karas, salah satu obyek wisata di Jawa Barat yang merupakan perpaduan nuansa alam Pangandaran dan Batu Hiu. Letaknya berada di Desa Batukaras, Kecamatan Cijulang dengan jarak ± 34 km dari Pangandaran. Batu karas menawarkan atmosfir alam yang tenang, gelombang laut yang bersahabat dan air laut yang segar. Dari mulai berenang, bermain boogie board, berselancar (surfing), bermain jetski, bermain banana boat, berperahu, bermain ban renang, hingga bermain pasir pantai bisa dilakoni di kawasan batukaras tersebut. Tak heran beberapa orang menyebut batu karas ini dengan sebutan “bali kecil” karena pengalaman yang dihadirkan di sana. Bagi siapapun yang merindukan pelukan matahari, ombak dan angin laut, batu karas bisa menjadi salah satu pundak tempat kita bersandar sembari melepas penat dan lelah.

@galihsedayu | Batu Karas – Pangandaran, 26 Januari 2015

batu karas

batu karas

batu karas

batu karas

batu karas

batu karas

batu karas

batu karas

batu karas

batu karas

batu karas

batu karas

batu karas

batu karas

batu karas

batu karas

batu karas

batu karas

Copyright (c) 2015 by galih sedayu
All right reserved. No part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

February 5, 2015 at 10:08 am

Geliat Bergerak Industri Kreatif Tasikmalaya

leave a comment »

oleh galih sedayu

Tasikmalaya yang dijuluki Sang Mutiara dari Priangan Timur merupakan salah satu kota yang melengkapi keutuhan tubuh wilayah Provinsi Jawa Barat di bagian tenggara. Sejarah sendiri mencatat bahwa Tasikmalaya sebelumnya adalah sebuah kabupaten. Namun seiring dengan perubahan yang selalu terjadi, kini di Tasikmalaya memiliki 2 buah bentuk pemerintahan yakni Pemerintahan Kabupaten dan Pemerintahan Kota Tasikmalaya. Bila dirunut berdasarkan peristiwa lampau yang terjadi, sejarah lahirnya kota Tasikmalaya dimulai tatkala A. Bunyamin menjabat sebagai Bupati Tasikmalaya tahun 1976 hingga 1981, dengan diresmikannya Kota Administratif Tasikmalaya melalui peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1976. Pada waktu yang bersamaan, Walikota Administratif Pertama yaitu Drs. H. Oman Roosman dilantik oleh Gubernur KDH Tingkat I Jawa Barat, H. Aang Kunaefi. Kemudian pada tahun 2001, dirintislah pembentukan Pemerintah Kota Tasikmalaya oleh Bupati Tasikmalaya, Kol. Inf. H. SuIjana Wirata Hadisubrata (1996 – 2001). Akhirnya dibawah pimpinan Bupati Drs. Tatang Farhanul Hakim, pada tanggal 17 Oktober 2001 melalui Undang-undang Nomor 10 Tahun 2001, Pembentukan pemerintahan Kota Tasikmalaya sebagai pemerintahan daerah otonom disahkan. Dimana pada tanggal 18 Oktober 2001, Drs. H. Wahyu Suradiharja dilantik sebagai Pejabat Walikota Tasikmalaya. Sejak saat itulah Tasikmalaya memiliki kuasa dan kewenangan untuk mengatur rumah tangganya sendiri. Karena sejak dulu Tasikmalaya memiliki berbagai potensi kerajinan lokal, perkembangan industri kreatif kota ini mulai diperhitungkan. Karenanya, saat ini Tasikmalaya mulai dijagokan sebagai Second City dari Provinsi Jawa Barat setelah kota Bandung.

Potensi Industri Kreatif di Tasikmalaya ternyata cukup besar. Dari mulai bordir, batik, alas kaki (kelom geulis), kerajinan mendong, anyaman bambu, meubel, hingga payung geulis sangat memberikan kontribusi ekonomi yang tentunya menopang pertumbuhan kota Tasikmalaya. Menurut data yang diberikan oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Tasikmalaya dan Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Kota Tasikmalaya, ada sekitar 2.307 unit usaha industri kerajinan di Tasikmalaya yang menyerap tenaga kerja sebanyak 23.565 orang dengan nilai investasi sebesar Rp. 350 Milyar serta nilai produksi yang mencapai Rp. 1,4 Triliun. Dari industri kreatif bordir dengan lokasi sentra di Kecamatan Kawalu, ada sekitar 1.317 unit usaha, 12.898 orang jumlah tenaga kerja, nilai investasi sebesar Rp 193.627.373.000, dan nilai produksi sejumlah Rp 895.008.263.000. Dari alas kaki (kelom geulis) dengan lokasi sentra di Kecamatan Tamansari, Mangkubumi, ada sekitar 504 unit usaha, 5.924 orang jumlah tenaga kerja, nilai investasi sebesar Rp 135.255.674.000, dan nilai produksi sejumlah Rp 396.266.958.000. Dari kerajinan mendong dengan lokasi sentra di Kecamatan Purbaratu, Cibeureum, ada sekitar 173 unit usaha, 2.237 orang jumlah tenaga kerja, nilai investasi sebesar Rp 6.891.602.000, dan nilai produksi sejumlah Rp 41.629.874.000. Dari batik dengan lokasi sentra di Kecamatan Cipedes, Indihiang, ada sekitar 32 unit usaha, 551 orang jumlah tenaga kerja, nilai investasi sebesar Rp 2.557.166.000, dan nilai produksi sejumlah Rp 26.963.320.000. Dari kerajinan kayu {meubel) dengan lokasi sentra di Kecamatan Cipedes, Tawang, Cibeureum, Tamansari, ada sekitar 202 unit usaha, 1.258 orang jumlah tenaga kerja, nilai investasi sebesar Rp 9.785.331.000, dan nilai produksi sejumlah Rp 54.036.745.000. Dari kerajinan bambu dengan lokasi sentra di Kecamatan Mangkubumi, Indihiang, ada sekitar 75 unit usaha, 660 orang jumlah tenaga kerja, nilai investasi sebesar Rp 1.200.038.000, dan nilai produksi sejumlah Rp 5.466.606.000. Terakhir dari payung geulis dengan lokasi sentra di Kecamatan Indihiang, Cihideung, ada sekitar 4 unit usaha, 37 orang jumlah tenaga kerja, nilai investasi sebesar Rp 76.940.000, dan nilai produksi sejumlah Rp 332.800.000.

Melihat potensi Tasikmalaya ini, tentunya masyarakat Jawa Barat yang digadang sebagai salah satu gudang masyarakat kreatif mesti siap menghadapi segala tantangan yang terjadi di era ASEAN Economic Community 2015 yang tinggal menghitung hari. Sudah saatnya masyarakat Jawa Barat mulai bekerja dengan keadaan yang baru ini, Beber Layar, Tarik Jangkar kalau menurut peribahasa sunda, tentunya dengan cara bekerja keras, Dug hulu, pet nyawa, sehingga apapun tantangannya, jika kita rajin dan penuh kesabaran, pasti cita-cita akan tercapai, Cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok kata para sesepuh kita. Untuk itulah, masyarakat Jawa Barat harus mampu menyelesaikan segala permasalahan yang dimiliki berkaitan dengan pengembangan industri kreatif. Dan cara terbaik yang dapat dilakukan adalah mulai.

@galihsedayu | tasikmalaya, 10 desember 2014

*batik

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

*kerajinan mendong

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

*kelom geulis

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

Industri Kreatif Tasikmalaya

copyright (c) 2014 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Kemuliaan Kaum Adam & Hawa Di Rumah Batik Danar Hadi

leave a comment »

oleh galih sedayu

Salah satu destinasi wisata yang menjadi magnet bagi mata pelancong di Kota Solo adalah House of Danar Hadi. Kawasan ini merupakan sebuah komplek wisata budaya perihal kain tradisi Indonesia (batik) yang terletak di Jalan BrigJen Slamet Riyadi, Surakarta. Di area House of Danar Hadi (HDH) ini terdapat beberapa bangunan utama yang difungsikan sebagai museum, showroom & workshop batik tradisional. Bila kita mengunjungi area workshop batik tradisional yang ada di sana, maka sejauh mata memandang, kita akan lihat ratusan pekerja pembuat batik yang terdiri dari kaum adam & kaum hawa. Mereka semua merupakan para buruh yang sudah bekerja di sana selama puluhan tahun lamanya. Para buruh laki-laki dan perempuan tersebut ditempatkan berbeda menurut ruang kerjanya. Khusus untuk para buruh laki-laki, mereka ditempatkan di sebuah ruangan besar dan dipekerjakan sebagai pencap kain batik. Sedangkan untuk para buruh perempuan, mereka ditempatkan di sebuah ruangan besar yang lain agar dapat bekerja untuk melukis batik dengan menggunakan canting. Kedua ruangan yang diperuntukkan untuk para buruh pria & wanita tersebut letaknya sangat berdekatan antara satu dengan yang lain. Meskipun udaranya cukup panas di area tersebut, namun kita dapat melihat bagaimana suasana canda, tawa dan senda gurau kerap menghiasi pekerjaan yang mereka lakukan dengan sungguh-sungguh. Bagi mereka, bekerja adalah sebentuk pengabdian selain tentunya sembari mencari sesuap nasi bagi keluarga yang mereka tinggalkan di rumah. Mereka pun sangat berharap bahwa kelak masih ada generasi muda yang tetap meneruskan keahlian mereka, meski kadang upah yang mereka dapatkan tidak sebanding dengan pekerjaan menguras keringat yang mereka lakukan. Bagi mereka, bekerja adalah sebuah cara agar manusia tetap memiliki harkat dan kemuliaannya. Dan batik yang mereka hasilkan, adalah sebuah persembahan yang disuguhkan bagi Sang Semesta.

@galihsedayu | solo, 5 maret 2014

batik danar hadi

batik danar hadi

batik danar hadi

batik danar hadi

batik danar hadi

batik danar hadi

batik danar hadi

batik danar hadi

batik danar hadi

batik danar hadi

batik danar hadi

batik danar hadi

batik danar hadi

batik danar hadi

batik danar hadi

batik danar hadi

batik danar hadi

batik danar hadi

batik danar hadi

batik danar hadi

batik danar hadi

batik danar hadi

batik danar hadi

batik danar hadi

batik danar hadi

batik danar hadi

copyright (c) 2014 by galih sedayu
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Gegap Gembita Bobotoh Menyambut Sang Juara Maung Bandung

leave a comment »

oleh galih sedayu

Tonggak sejarah kembali diukir oleh Persib Bandung yang menyabet gelar juara kompetisi sepak bola tertinggi di Tanah Air. Tepatnya tanggal 7 November 2014 pada hari Jumat malam, Sang Maung Bandung mengakhiri penantian 19 tahun dengan mengalahkan Persipura Jayapura melalui drama adu pinalti di final Liga Super Indonesia 2014 dengan skor 5-3 di Stadion Gelora Sriwijaya, Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan. Sebelumnya Persib Bandung sempat menjadi juara di edisi pertama Liga Indonesia pada musim 1994-1995. Akhirnya dahaga para Bobotoh pun terpuaskan. Para Bobotoh pun menyambut kedatangan para pemain Persib Bandung yang tiba di Bandara Udara Internasional Husein Sastranegara, Bandung pada hari sabtu tanggal 8 November 2014 sekitar pukul 1 siang. Namun sebenarnya puncak perayaan kemenangan para Pangeran Biru ini baru dilakukan pada hari Minggu tanggal 9 November 2014. Arak-arakan para pemain Persib Bandung dimulai dari Komplek Mapolda Jabar di Cibiru menuju Lapangan Gasibu, Bandung mulai pukul 2 siang. Alhasil Bandung pun menjadi Lautan Biru dan kemacetan pun tak terhindarkan. Euforia para Bobotoh yang merayakan kemenangan ini jelas terlihat dimana-mana. Dari mulai para Bobotoh yang berfoto & selfie di atas patung Ajat Sudrajat di Jalan Tamblong, yang melakukan atraksi di atas motor sambil bertelanjang dengan hanya menggunakan cawat, hingga Bobotoh yang mengenakan topeng monyet sembari menyanyikan lagu “The Jak Kawin Jeung Monyet”. Barangkali, bagi mereka waktu 19 tahun adalah penantian yang cukup lama sehingga pesta kemenangan itupun layak diperjuangkan dan berlangsung hingga tengah malam. Persib kini juara. Semoga saja prestasi Sang Maung Bandung ini menjelma pula ke dalam tubuh anak-anak muda Bandung. Agar tetap bergerak, tetap berkarya, dan tetap menebarkan keharuman bagi mahkota bunga kota Bandung.

@galihsedayu | bandung, 9 november 2014

Persib Juara

Persib Juara

Persib Juara

Persib Juara

Persib Juara

Persib Juara

Persib Juara

Persib Juara

Persib Juara

Persib Juara

Persib Juara

Persib Juara

Persib Juara

 

Persib Juara

Persib Juara

Persib Juara

Persib Juara

Persib Juara

copyright (c) 2014 by galih sedayu
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

November 13, 2014 at 12:55 pm

Anak Tukang Kayu Itu Bernama Jokowi

leave a comment »

oleh galih sedayu

SAATNYA BERGERAK BERSAMA”

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam Damai Sejahtera untuk kita semua,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia telah menetapkan kami berdua, Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia terpilih 2014 – 2019.

Pertama-tama, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan tinggi kepada bapak Prabowo Subianto dan bapak Hatta Rajasa yang telah menjadi sahabat dalam kompetisi politik untuk mendapatkan mandat rakyat untuk memimpin negeri ini lima tahun ke depan.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
Kemenangan ini adalah kemenangan seluruh rakyat Indonesia. Saya berharap, kemenangan rakyat ini akan melapangkan jalan untuk mencapai dan mewujudkan Indonesia yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara kebudayaan.

Namun, dalam beberapa bulan terakhir, perbedaan pilihan politik seakan menjadi alasan untuk memisahkan kita. Padahal kita pahami bersama, bukan saja keragaman dan perbedaan adalah hal yang pasti ada dalam demokrasi, tapi juga bahwa hubungan-hubungan pada level masyarakat adalah tetap menjadi fondasi dari Indonesia yang satu.

Dengan kerendahan hati kami, Joko Widodo dan Jusuf Kalla, menyerukan kepada saudara-saudara sebangsa dan setanah air untuk kembali ke takdir sejarahnya sebagai bangsa yang bersatu; bangsa yang satu, bangsa Indonesia. Pulihkan kembali hubungan keluarga dengan keluarga, tetangga dengan tetangga, serta teman dengan teman yang sempat renggang.

Kita bersama sama bertanggung-jawab untuk kembali membuktikan kepada diri kita, kepada bangsa-bangsa lain, dan terutama kepada anak-cucu kita, bahwa politik itu penuh keriangan; politik itu di dalamnya ada kegembiraan; politik itu ada kebajikan; politik itu adalah suatu pembebasan.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
Pemilihan Umum Presiden kali ini memunculkan optimisme baru bagi kita, bagi bangsa ini. Jiwa merdeka dan tanggung jawab politik bermekaran dalam jiwa generasi baru. Kesukarelaan yang telah lama terasa mati suri kini hadir kembali dengan semangat baru. Pemilihan Umum Presiden telah membawa politik ke sebuah fase baru bukan lagi sebagai sebuah peristiwa politik semata-mata, tetapi peristiwa kebudayaan. Apa yang ditunjukkan para relawan, mulai dari pekerja budaya dan seniman, sampai pengayuh becak, memberikan harapan bahwa ada semangat kegotong-royongan, yang tak pernah mati.

Semangat gotong royong itulah yang akan membuat bangsa Indonesia bukan saja akan sanggup bertahan dalam menghadapi tantangan, tapi juga dapat berkembang menjadi poros maritim dunia, locus dari peradaban besar politik  masa depan.

Saya hakkul yakin bahwa perjuangan mencapai Indonesia yang berdaulat, Indonesia yang berdikari dan Indonesia yang berkepribadian, hanya akan dapat tercapai dan terwujud apabila kita bergerak bersama.

INILAH SAATNYA BERGERAK BERSAMA!
Mulai sekarang, petani kembali ke sawah.
Nelayan kembali melaut
Anak kembali ke sekolah.
Pedagang kembali ke pasar.
Buruh kembali ke pabrik.
Karyawan kembali bekerja di kantor.

Lupakanlah nomor 1 dan lupakanlah nomor 2, marilah kembali ke Indonesia Raya.

Kita kuat karena bersatu, kita bersatu karena kuat!
Salam 3 Jari, Persatuan Indonesia!

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Om Shanti Shanti Shanti Om,
Namo Buddhaya

Merdeka!!!  Merdeka!!!  Merdeka!!!

Joko Widodo – Jusuf Kalla

* Tulisan ini merupakan pidato kemenangan presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla setelah penetapan hasil pemilihan presiden 2014 oleh Komisi Pemilihan Umum pada hari Selasa 22 Juli 2014 di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta

@galihsedayu | bandung, 22 juni 2014

jokowi

jokowi

jokowi

jokowi

jokowi

jokowi

jokowi

jokowi

jokowi

copyright (c) 2014 by galih sedayu
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

October 25, 2014 at 3:19 pm