Archive for the ‘02) SEMESTA FESTIVAL KREATIF’ Category
Konsep dan Konektivitas Dalam Penyelenggaraan Event
Boleh saja bila ada yang beropini bahwa dalam menyelenggarakan sebuah event, CONCEPT dianggap menjadi yang sangat utama. Karena menurut mereka sebuah konsep itu dilahirkan dari himpunan ide dan kreativitas yang digagas oleh inisiator serta tim kreatif di belakangnya. Namun jangan lupa bahwa CONNECT menjadi isu yang perlu diperhatikan secara serius dalam menyelenggarakan sebuah event.
Bagaimana event yang kita buat dapat TERHUBUNG dengan orang-orang. Karena event adalah sebuah cara untuk menghimpun orang-orang serta menyediakan RUANG BERSAMA untuk saling berbagi dan berinteraksi. Oleh karena itu sebuah event sejatinya mampu menciptakan KONEKSI yang BERNILAI. Entah event yang kita buat bertujuan untuk mencari CUAN ataupun bahkan mampu menjadi PROBLEM SOLVER bagi sebuah permasalahan.
Seru-seruan bareng para sahabat yang turut menjadi nara sumber (Mas Aan @aanfikriyan dan Mas Arief @mybothsides) dalam Temu Wicara dengan topik “Branding & Manajemen Event” yang merupakan rangkaian program KOTA KITA hasil kolaborasi dari Kreasi Sukabumi dan Pemerintah Kota Sukabumi.
Nyala terus cahaya kota sukabumi…
25 Mei 2024 – Bale Jayaniti, Kota Sukabumi, Jawa Barat








Pentingnya Bercerita (Storytelling) Dalam Penyelenggaraan Event
EVENT BUKAN HANYA BERPESTA NAMUN BERCERITA
Bercerita menjadi salah satu kunci utama dalam penyelenggaraan sebuah event karena sebuah cerita yang baik dapat terhubung dengan para partisipan yang hadir dalam sebuah event.
Mengapa EVENT STORYTELLING atau bercerita dalam menyelenggarakan event menjadi penting?
EMOTIONAL CONNECTIONS : Bercerita dapat menciptakan hubungan emosional bagi para partisipan sebuah event. Karena cerita yang baik dapat membuat orang merespon secara emosional terhadap event yang kita buat.
ATTENTION : Bercerita dapat mengundang perhatian bagi partisipan sebuah event. Karena cerita yang baik dapat membuat orang menjadi fokus dan lebih tertarik dengan event yang kita buat.
HUMANIZING : Bercerita dapat memanusiakan sebuah event yang kita ciptakan. Karena cerita yang baik dapat membuat orang berempati sehingga menjadi terlibat dengan event yang kita buat.
Terima kasih para sahabat pelaku ekonomi kreatif di Tanah Grogot atas kebersamaannya dalam ruang pembelajaran perihal merancang event. Kiranya kelak lahir himpunan event di Kabupaten Paser yang berdaya, berdampak, serta berkelanjutan.
5-6 Juli 2024 – Hotel Kyriad Sadurengas, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur








Tren Event Indonesia Di Masa Depan
+
Event di Indonesia pada umumnya merupakan sektor yang dinamis sehingga penyelenggaranya seringkali dituntut agar dapat beradaptasi dengan perkembangan jaman, latar belakang budaya, iklim bisnis global, dan lain sebagainya. Karenanya masa depan event dapat mengacu pada masa lalu namun memicu masa kini dalam wujud yang baru.
+
Beberapa tren event di masa depan tentunya dapat dilihat dari beberapa aspek:
EVENT BERBASIS KEBERLANJUTAN
*Pengurangan limbah & sampah / zero waste
*Inisiatif netral karbon
*Makanan bersumber dari alam
EVENT BERBASIS KELOKALAN
*Mengangkat potensi lokal
*Pemberdayaan warga lokal
*Menggerakkan ekonomi lokal
EVENT BERBASIS INKLUSIVITAS
*Partisipasi kelompok disabilitas
*Keikutsertaan kelompok perempuan
*Melibatkan kelompok anak-ansk
EVENT BERBASIS TEKNOLOGI
*Penerapan kecerdasan buatan
*Penggunaan augmented & virtual reality
*Pemanfaatan internet of things
EVENT BERBASIS PENGALAMAN PERSONAL
*Integrasi pemasaran eksperimental
*Gimifikasi & elemen interaktif
*Teknologi pengenalan emosi
+
Membersamai teman-teman dari Direktorat Event Daerah Kementerian Pariwisata @kemenparekraf.ri@widi.wardhana@niluhpuspa@vinsensius.jemadu@rezalevi_sabang dan Pemerintah Kabupaten Tapin (Kalimantan Selatan) yang terdiri berbagai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam kegiatan workshop & pelatihan manajemen penyelenggaraan event. Acara yang dilaksanakan selama 2 hari ini jadi seru karena secara khusus dihadiri oleh perwakilan Sekretariat DPRD, Sekretariat Daerah, Bappelitbang, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata @disbudpartapin@pariwisata.tapin ; Dinas Pemuda dan Olahraga ; Dinas Pendidikan ; Dinas Komunikasi dan Informatika ; Dinas Perpustakaan dan Kearsipan ; Dinas Perindustrian ; dan perwakilan Kecamatan dari Kabupaten Tapin. Dimana semua SKPD memiliki komitmen agar suatu saat dapat mengorkestrasi semua programnya dalam bentuk event kolaborasi. Selain itu ada pula kegiatan observasi dan mengunjungi secara langsung event @ngayogjazz yang masuk dalam program @karismaeventnusantara
+
15-16 November 2024
The Malioboro Hotel
Kota Jogjakarta
#workshopevent
#kabupatentapin
#kalimantanselatan








Bernyanyi & Bersorak-sorai Di Hutan Bambu Cijaringao | Wonderful Indonesia Music Festival, 22 Juli 2018
Teks : galih sedayu | Fotografi : galih sedayu & Air Foto Network
Hidup memang penuh kejutan. Kadang ada saja tanggung-jawab tak terduga menghampiri hingga akhirnya kita tak punya pilihan selain menerima dan menghadapinya. Singkat cerita, dalam waktu 3 hari saya beserta tim diminta bantuan oleh Kementrian Pariwisata Republik Indonesia untuk menggelar sebuah Festival Musik yang konon memiliki skala Internasional bertempat di Cijaringao, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Meski saya telah punya pengalaman untuk menjadi seorang sutradara dari berbagai festival tingkat internasional, namun tetap saja waktu yang terlalu singkat ini terasa bagai mimpi dan menjadi tantangan tersendiri. Apalagi saya tidak tahu menahu mengenai proses awal yang mendasari mengapa festival ini dihadirkan. Barangkali bagi teman-teman yang membantu, kegiatan ini mesti terjadi dengan alasan demi menjaga nama baik Bandung, atau demi nama baik Jawa Barat, atau bahkan demi nama baik Indonesia. Namun bagi saya alasan paling masuk akal untuk melakukan ini semua adalah karena atas dasar persahabatan & demi kecintaan saya terhadap kreativitas.
Suka duka dalam menjalani segala peristiwa ini saya lalui bersama sahabat saya Kang Taufik Hidayat Udjo selaku pemilik tempat dan penanggungjawab acara, Kang Ismet Ruchimat selaku ketua panitia acara, serta Kang Syarif Maulana yang membantu pertunjukkan musik di acara tersebut. Dari mulai urusan perizinan, koordinasi dengan warga, vendor panggung & sound system, dekorasi, konsumsi, promosi, tamu undangan, hingga menyiapkan tempat di kawasan Hutan Bambu Cijaringao. Beruntung banyak sahabat baik yang membantu seperti Kang Rosid, seniman lukis yang menyiapkan pernak-pernik dekorasi seperti bebegig sawah, dulang, dan perlengkapan tradisional lain yang diharapkan mampu melahirkan nuansa kearifan lokal. Lalu Kang Cepi Suhendar, pemuda dari Karang Taruna di Kampung Cijaringao, yang membantu untuk menggerakkan warganya untuk mengelola area parkir, kuliner tradisional serta keamanan. Belum lagi kebaikan Kang Ismet Ruchimat yang begitu sabar dan tenang dalam menjalankan tugasnya sebagai ketua panitia dan telah mempersembahkan pertunjukkan musik bersama SambaSunda yang begitu sangat memukau dan luar biasa. Ditambah budi baik Kang Taufik Hidayat Udjo yang begitu semangat, begitu totalitas, dan tanpa pamrih dalam mempersiapkan Cijaringao sebagai tempat penyelenggaraan acara festival musik tersebut.
Festival Musik ini diselenggarakan di Cijaringao Hejo Udjo pada hari Minggu tanggal 22 Juli 2018 dari Pukul 13:00 WIB s/d 23:00 WIB. Sejumlah musisi menampilkan suguhan terbaiknya di perhelatan ini dan menjadi pengalaman pertama kali bagi mereka untuk bisa tampil bermusik di area Hutan Bambu Cijaringao. Ada nama Ulle Project, L. Haqeem N Friends, Malire, Trio Bigibas, MaryJane, Ethno Progressive, Mirna, West Java Syndicate, Babenjo, Doel Sumbang dan SambaSunda yang berkolaborasi dengan Patrick Shaw Iversen dan SSJ. Plus acara Talkshow bersama Dewan Kesenian Kota Bandung yang menghadirkan pembicara Rahmat Jabaril, Jae Jalani & Syarif Maulana. Terima kasih Semesta, akhirnya semua peristiwa ini benar-benar terjadi dan telah berakhir. Bagi saya peristiwa ini bukan hanya sekedar Festival Musik namun jauh lebih bermakna. Bahwasanya ini adalah sebuah berita baik perihal bahasa persahabatan yang mampu menyatukan manusia dengan alam. Bagai sebuah kartika di langit yang berseru dalam keheningan hutan.
Cijaringao, 22 Juli 2018







































Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Kepal Persaudaraan Indonesia Di Negeri Matahari Terbit | 2nd Indonesia Week ; 28 – 30 April 2018, Nagoya, Jepang
Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu
Sejak ditandatanganinya Perjanjian Perdamaian pada tanggal 20 Januari 1958, Simpul hubungan diplomatik yang telah terjalin antara Indonesia dan Jepang pasca kemerdekaan, tak terasa tahun ini telah menginjak usianya yang ke 60 tahun. Meski sejarah sempat mencatat titik kisah yang kelam bagi memori bangsa kita pada saat masa penjajahan, namun luka itu pun lambat laun mampu terobati dan bisa dikatakan kini telah sirna. Apalagi saat ini kepal persaudaraan antara Indonesia & Jepang menjadi semakin kokoh dengan jejak politik, jejak ekonomi, jejak sosial, serta jejak budaya yang ditinggalkannya.
Kita pun menyadari bahwa Indonesia adalah sebuah negara dengan kekayaan alam dan sumber daya manusia yang sangat beragam. Himpunan potensi yang dimilikinya dapat menghasilkan nilai yang sangat berharga bagi tanah air. Karena itu sudah semestinya Mutiara Khatulistiwa yang dimiliki bangsa ini wajib disuarakan kepada masyarakat dunia. Dan negara Jepang adalah salah satunya mengingat hubungan historis yang telah lama ada. Karenanya melalui kegiatan yang diberi nama Indonesia Week, diharapkan dapat menjadi momentum yang tepat bagi perayaan 60 tahun hubungan Indonesia-Jepang.
Indonesia Week adalah sebuah Festival Kolaborasi yang bertujuan Mewartakan Berita Baik perihal Indonesia ke seluruh dunia. Kegiatan ini digagas oleh “Be Indonesia”, sebuah Simpul Kolaborasi yang terdiri dari berbagai perwakilan Akademisi, Komunitas, Media, Pemerintah & Pekerja Kreatif dalam semangat mencintai dan memberikan yang terbaik bagi Indonesia. Indonesia Week yang kedua ini digelar di Kota Nagoya, Jepang, tepatnya persis di bawah Nagoya TV Tower, di area Mochinoki Hiroba (Central Park) pada tanggal 28 – 30 April 2018. Setelah sebelumnya, Indonesia Week pertama kali diselenggarakan di Kota Osaka, Jepang pada tahun 2016.
Kegiatan Indonesia Week ini dibuka oleh Dr. Toto Pranoto selaku Dewan Pembina Be Indonesia dan Lembaga Manajemen FEB Universitas Indonesia, Windu Widjaya selaku Direktur Be Indonesia dan Ketua 2nd Indonesia Week 2018, Arifin Tasrif selaku Duta Besar RI di Tokyo, dan Ohmura Hideaki selaku Gubernur Aichi, Jepang. Saya selaku Creative Director kegiatan Indonesia Week ini, meramu beberapa konten kegiatan kreatif berupa Intimate Concert ; Story Telling Performances ; Culinary Bazaar ; Live Cooking Demo ; Community Parade ; Edu Talkshow ; Indonesia Green Action For Nagoya ; Indonesian Embassy of Tokyo Public Service & Travel Fair. Pembukaan Indonesia Week ini ditandai dengan membunyikan othok-othok secara bersama-sama. Othok-othok sendiri merupakan sebuah benda mainan tradisional asal Indonesia yang terbuat dari bambu dan mengeluarkan bunyi khas bila diputar. Bunyi yang dihasilkan dari othok-othok tersebut diharapkan dapat menjadi simbol suara kebersamaan & persaudaraan antara Indonesia-Jepang.
Sejumlah kolaborator yang tampil pada perhelatan Indonesia Week ini terlihat sangat antusias ditambah dengan puluhan ribu pengunjung yang memadati kegiatan ini selama 3 hari. Persembahan dari Indonesia disuguhkan oleh Indonesia Rock Star Empire (Isa Raja, Aria Baron, Sandy & Trisnoize Pas Band) ; Fashion Show oleh Doni Rahman ; Malang Amore Carnival ; Tari Pasambahan, Tari Payuang, Tari Rampak Baindang & Tari Hoyak Gandang Nan Batingkah dari Sumatera Barat ; Tari Remong, Tari Ronggeng Nyenyrik & Tari Gandrung Marsan dari Malang ; Tari Mojang Priangan dari Cianjur ; Pencak Silat Gajah Putih ; Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate ; serta Eka Kapti Dance dari ChiKieZie. Sementara persembahan dari Jepang disuguhkan oleh Sleaze Party (Tecchan, Masaya, Yuika, Kaorin, Max, Aska & Natsuo) ; Swamp Water (Toshimi Tsuruta & Takashi) ; Sugiyama Kyoko ; Matsumoto Machiko (Washoku Cooking Instructor) ; Tari Rejang Sari dari Taro Bali Masami San. Keseluruhan atmosfir kegiatan ini bertambah hangat dengan penampilan dari Indonesia-Japan Band Festival yaitu Tokyo Parahyangan Culture, YLKN, Heaven Soul, Stay Clasy, 42L, Kaizu, The Crew, Shinyu, God Slave, FS Band, Agung + The Crew, Rina + The Crew.
Indonesia Week ini didukung oleh Kementrian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia ; Kementrian Komunikasi & Informasi (Kominfo) Republik Indonesia ; Kementrian Perdagangan Republik Indonesia ; Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Osaka ; Indonesian Embassy of Tokyo ; Indonesia Creative Cities Network (ICCN) ; Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) ; Pemerintah Provinsi Sumatera Barat ; Pemerintah Kabupaten Cianjur ; Pemerintah Kabupaten Bekasi ; Bank Mandiri ; Sarinah ; Asgar Clan Japan ; Cianjur Jago ; Emhecee ; Ikatan Pengusaha Kenshuusei Indonesia (IKAPEKSI) ; IPI Japan ; Pasoepati Japan ; Viking Baraya Japan ; Lanus Japan / Solidaritas Japan ; Paguyuban Pasundan Japan ; Kinarya ; Ruang Kolaborasa ; PPI Nagoya. Tak lupa kami ucapkan terima kasih atas segala budi baik yang telah dihadirkan pada kegiatan Indonesia Week ini. Secara pribadi saya menghaturkan terima kasih kepada Bapak Windu Widjaya & Istri, Bapak Toto Pranoto & Istri, Kang Tubagus Kusumah + Teh Henny Kusumah + Neng Syafira, Alief Bean, Kang Alam Pirman, Kang Aryo, Mba Rahma, Mba Isti, Mba Riri, Mba Reni, Teh Wheny, Kang Jajat, Kang Rifai, Kang Tammy, Bang Aslam, Bang Angge, Bang Zinto, Bang Achank, Alloy, Masami Naruse, Kang Doddy, Mas Agung, Mas Ari, dan Maryanto. Senang bisa berkolaborasi dengan teman-teman semua.
Acara Penutupan Indonesia Week ini ditandai dengan menerbangkan pesawat kertas secara bersama-sama. Sebagai sebuah simbol ajakan bagi masyarakat jepang & turis asing lainnya untuk dapat berkunjung ke Indonesia. Kiranya kegiatan Indonesia Week ini dapat diselenggarakan secara konsisten mengingat inisiatif yang dihadirkan di sini bersifat “People to People”, bukan berasal dari Pemerintah ataupun satu pihak saja. Sehingga kekuatan komunitas dan jejaringnya sangat diperlukan bagi keberlangsungan kegiatan kolaborasi ini. Namun tak ada kunci kesuksesan dalam mencapai tujuan selain menikmati segala proses serta kekurangannya. Sembari tentunya terus mengevaluasi diri secara lebih terbuka. Karena curahan energi, waktu dan semua yang kami lakukan di sini hanyalah demi satu bangsa, demi satu tanah air, Indonesia. Selama hayat masih dikandung badan, tentunya kami senantiasa tak pernah letih untuk tetap mengumandangkan lagu Indonesia Raya ke seluruh pelosok dunia.
***
Since the signing of the Treaty of Peace on January 20, 1958, the diplomatic relations that have existed between Indonesia and Japan post-independence, this year has stepped on the age of 60 years. Although history record the dark story for the memory of our nation at the time of colonization, but the wound was gradually able to be remedied and can be said has now vanished. Especially at this time the fraternal faction between Indonesia & Japan become more solid with the traces of politics, economic footprint, social footprint, and cultural traces left behind.
We also realize that Indonesia is a country with a wealth of nature and human resources are very diverse. The set of potential it has can produce value for the homeland. Because it is supposed Mutiara Khatulistiwa owned this nation must be voiced to the world community. And the country of Japan is one of them considering the historical relationship that has long existed. Therefore, through activities called Indonesia Week, is expected to be the right momentum for the celebration of 60 years of Indonesia-Japan relations.
Indonesia Week is a Collaboration Festival that aims to proclaim Good News about Indonesia to the world. This activity was initiated by “Be Indonesia”, a Collaboration consisting of various representatives of Academics, Community, Media, Government & Creative Workers in the spirit of loving and providing the best for Indonesia. The second Indonesia Week was held in Nagoya City, Japan, below Nagoya TV Tower, in Mochinoki Hiroba (Central Park) area on 28 – 30 April 2018. After the first, Indonesia Week was held in Osaka City, Japan on year 2016.
This Indonesia Week event was opened by Dr. Toto Pranoto as the Board of Trustees of Be Indonesia & FEB University Management Institute of Indonesia, Windu Widjaya as Director of Be Indonesia and Chairman of 2nd Indonesia Week 2018, Arifin Tasrif as Ambassador of Indonesia in Tokyo, and Ohmura Hideaki as Governor of Aichi, Japan. Me as Creative Director of Indonesia Week activities, concocted some creative activity content in the form of Intimate Concert; Story Telling Performances; Culinary Bazaar; Live Cooking Demo; Community Parade; Edu Talkshow; Indonesia Green Action For Nagoya; Indonesian Embassy of Tokyo Public Service & Travel Fair. The opening of Indonesia Week is marked by sounding othok-othok together. Othok-othok itself is a traditional toy object from Indonesia made of bamboo and issued a distinctive sound when played. The sound produced from othok-othok is expected to be a symbol of the voice of togetherness & brotherhood between Indonesia-Japan.
A number of collaborators who appear on the event looks very enthusiastic with tens of thousands of visitors who crowded this activity for 3 days. From Indonesia served by Indonesia Rock Star Empire (Isa Raja, Aria Baron, Sandy & Trisnoize Pas Band); Fashion Show by Doni Rahman; Malang Amore Carnival; Pasambahan Dance, Payuang Dance, Rampak Baindang Dance & Hoyak Gandang Nan Batingkah Dance from West Sumatra; Remong Dance, Ronggeng Nyenyrik Dance & Gandrung Marsan Dance from Malang ; Mojang Priangan Dance from Cianjur; Pencak Silat Gajah Putih ; Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate ; and Eka Kapti Dance from ChiKieZie. While from Japan are served by Sleaze Party (Tecchan, Masaya, Yuika, Kaorin, Max, Aska & Natsuo); Swamp Water (Toshimi Tsuruta & Takashi); Sugiyama Kyoko; Matsumoto Machiko (Washoku Cooking Instructor); Rejang Sari Dance from Taro Bali Masami San. The overall atmosphere of this activity grew warmer with the appearance of the Indonesia-Japan Band Festival namely Tokyo Parahyangan Culture, YLKN, Heaven Soul, Stay Clasy, 42L, Kaizu, The Crew, Shinyu, God Slave, FS Band, Agung + The Crew, Rina + The Crew.
Indonesia Week is supported by the Ministry of Tourism Republic of Indonesia ; Ministry of Communication & Information Republic of Indonesia ; The Ministry of Trade of the Republic of Indonesia ; Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Osaka ; Indonesian Embassy of Tokyo; Indonesia Creative Cities Network (ICCN) ; Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) ; West Sumatera Provincial Government ; Government of Cianjur Regency ; Government of Bekasi Regency ; Mandiri Bank ; Sarinah; Asgar Clan Japan ; Cianjur Jago ; Emhecee; Ikatan Pengusaha Kenshuusei Indonesia (IKAPEKSI); IPI Japan ; Pasoepati Japan ; Viking Baraya Japan ; Lanus Japan / Solidaritas Japan ; Paguyuban Pasundan Japan ; Kinarya ; Ruang Kolaborasa ; PPI Nagoya. Not forgetting, we thank you for all the good things that have been presented in this Indonesia Week activity. Personally I would like to thank Mr. Windu Widjaya & Wife, Mr. Toto Pranoto & Wife, Kang Tubagus Kusumah + Henny Kusumah + Neng Syafira, Alief Bean, Kang Alam Pirman, Kang Aryo, Rahma Mba, Mba Isti, Mba Riri, Mba Reni, Wheny Tea, Kang Jajat, Kang Rifai, Kang Tammy, Bang Aslam, Bang Angge, Bang Zinto, Bang Achank, Alloy, Masami Naruse, Kang Doddy, Mas Agung, Mas Ari, and Maryanto. Glad to be collaborating with all friends.
The Closing event of Indonesia Week is marked by flying paper airplanes together. As a symbol of invitation for Japanese society & other foreign tourists to be able to visit Indonesia. Indonesia Week activities can be held consistently considering the initiatives presented here are “People to People”, not from the Government or one party only. So that the strength of the community and its network is indispensable for the sustainability of this collaborative activity. But there is no key to success in achieving the goal in addition to enjoying all the processes and shortcomings. While of course continue to evaluate themselves more openly. Because of the energy, time, and all that we do here is for the sake of one nation, for the sake of one homeland, Indonesia. During the life still contained the body, of course we always never tired to keep echoing Indonesia Raya songs to all corners of the world.


















































Kolaborasa Merah Putih Di Negeri Pagoda | Wonderful Indonesia Festival | 17-19 November 2017, Bangkok, Thailand
Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu
Indonesia adalah sebuah negeri dengan jutaan cerita yang tak akan ada habisnya. Pesonanya begitu memikat hingga ia kerap dijuluki permata khatulistiwa. Ribuan pulau dengan segala keajaiban yang dimilikinya menjadi potensi pariwisata yang sangat berharga di mata dunia. Namun bukan berarti kita hanya berdiam diri dan berleha-leha saja menanti turis asing yang menyambangi tanah air. Menjemput bola kadang menjadi kunci jawaban di tengah pertanyaan mengenai bagaimana mengatasi persaingan yang sengit demi menarik wisatawan datang ke sebuah negara.
Wonderful Indonesia Festival adalah aksi nyata yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia demi meraih kunjungan wisata yang diharapkan. Karena di sanalah hadir berbagai alasan mengapa Indonesia patut untuk dikunjungi, dirasakan & dinikmati. Melalui program promosi yang digagas oleh Kementrian Pariwisata Republik Indonesia, festival ini menjadi salah satu ajang yang mengusung tugas mulia yakni mewartakan berita baik perihal Indonesia kepada dunia.
Negara Thailand yang menyandang sebutan negara gajah putih, merupakan salah satu celah pasar di Asia Tenggara yang disasar oleh Indonesia demi mendatangkan turis asing ke tanah air. Karenanya segala upaya perlu dilakukan demi menarik perhatian masyarakat Thailand agar mereka sudi merogoh koceknya untuk terbang dan berlibur ke Indonesia. Terlebih saat ini ada tiga buah “Direct Flight” yang memudahkan rute kunjungan wisata dari Thailand ke Indonesia. Medan, Jakarta & Bali adalah kota yang menjadi simpul penerbangan langsung dari Thailand menuju Indonesia. Demi mencermati hal tersebut, Wonderful Indonesia Festival digelar di CentralWorld Square, Bangkok, Thailand yang berlangsung dari tanggal 17 – 19 November 2017. Dengan konsep Branding, Advertising & Selling (BAS), kegiatan ini diharapkan mampu mendobrak jumlah wisatawan manca negara khususnya pasar Thailand yang akan menyapa Indonesia.
Merupakan suatu kehormatan bagi saya, karena ditunjuk dan dipercaya untuk menjadi “Creative Director” kegiatan Wonderful Indonesia Festival di Thailand tersebut. Dengan mengambil tema “Indonesia : The Never Ending Story of Magical Lands & Legends”, sejumlah agenda kegiatan yakni “Art & Culture Performances ; Clothing & Craft Market ; Culinary Bazaar ; Interactive Activity & Workshop ; Intimate Music Concert dan Travel Fair”, menjadi bumbu-bumbu yang diolah ke dalam sebuah masakan Indonesia. Dalam merancang konsep dan mendesain festival ini, saya menggunakan pendekatan “Story Telling” sebagai jembatan komunikasi agar segala aktivitas yang hadir di sana dapat terhubung intim dengan pengunjung serta tercapai pesan yang diharapkan. Lima zona destinasi wisata yang menjadi pasar Thailand yakni Medan (1) ; Jakarta & Bandung (2) ; Jogjakarta, Solo & Semarang (3) ; Surabaya & Malang (4) ; serta Bali (5), semuanya dikemas ke dalam bentuk 5 cerita rakyat asal negeri khatulistiwa, Indonesia. Cerita Legenda Danau Toba dihadirkan demi menarik turis asing menyambangi Medan ; Legenda Lutung Kasarung demi menyasar Jakarta & Bandung ; Legenda Roro Jonggrang demi menyasar Jogjakarta, Solo & Semarang ; Legenda Keris Mpu Gandring demi menyasar Surabaya & Malang ; serta Legenda Barong demi menyasar Bali. Semuanya menjadi himpunan cerita yang akan didongengkan kepada masyarakat Thailand oleh para musisi, seniman, penari serta semua penampil melalui karya kreatifnya masing-masing.
Sejumlah nama yang mewakili Indonesia pun turut mencurahkan energi kreatifnya di Negeri Pagoda tersebut. Meski diserang terik panasnya cuaca Kota Bangkok yang sangat menyengat, namun para Kolaborator Indonesia tetap semangat menyuguhkan persembahan terbaiknya. Dari Bandung tercatat ada DJ Destiny, Kartwel Noesantara (Dadi Firmansyah / Karinding & Percussion, Arief Hendrawan / Percussion, Rian Andriawan / Percussion, Ariya Iim Nugraha / Wing Instrument & Percussion & Mohammad Nizar Novian / Percussion), Patrakomala (Ammy Kurniawan / Violin & Guitar, Opik Bape / Guitar, Arnie Christanti / Bass, Adisty Sofie Anggia / Drum, Rahma Sekar Savitri / Vocal & Ukulele Guitar, Kris Takarbessy /Vocal & Guitar. Dari Banten tercatat ada Sanggar Bina Seni Tari Raksa Budaya. Dari Cirebon tercatat ada Project Qiu (Nurhadi Nugroho / Rapper, Ivan Suwarno Putera / Rapper, Ajeng Rahayu / Rapper, Mayasari / Vocal, Ridzqy Marajuang Nasution / Rapper. Dari Jakarta tercatat ada Kamila (Ava Victoria / Alto & Violin, Mia Ismi Halida / MezzoSopran & Violin, Ana Achjuman / Sopran & Violin. Dari Jogajakarta tercatat ada Papermoon Puppet Theater & Jogja Fest. Dari Malang tercatat ada Malang Amore Carnival (Yoseph Agus Kristian / Carnival Player & Dancer, Leonardo Yofi Galih Fernando / Carnival Player & Dancer. Dan dari Thailand tercatat ada nama Artis & Penyanyi Pinky Sawika Chaiyadech.
Persatuan Mahasiswa Indonesia yang ada di Thailand (Permitha) pun turut bersinergi dengan menjadi relawan di kegiatan Wonderful Indonesia Festival ini. Mereka bahu membahu membantu dengan penuh ikhlas agar pelaksanaan kegiatan ini berlangsung dengan lancar. Syukurnya festival ini banyak dipadati oleh ribuan pengunjung baik itu yang berasal dari masyarakat lokal Thailand hingga turis asing yang sedang berlibur di Thailand. Booth pameran yang berisi informasi serta “pop up” perihal wayang, batik, kain tenun, angklung dan bumbu masakan Indonesia laris dinikmati oleh pengunjung. Belum lagi booth kuliner, workshop, travel wishlist, foto dan travel fair pun menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Plus himpunan hiburan serta atraksi yang disajikan di area panggung utama menjadi menu spesial yang menjadi magnet bagi para pengunjung yang hadir di sana.
Kiranya segala jejak kolaborasi yang telah dihadirkan serta ditinggalkan di kegiatan Wonderful Indonesia Festival ini, dapat menjadi obor yang menyala abadi agar kemudian dapat terus diestafetkan kepada siapapun yang mencintai tanah air. Karena negeri kita tercinta ini memang sangat layak untuk diwartakan sehingga cahyanya tak kan berakhir padam, tak kan berakhir pudar, tak kan berakhir sirna. Selama ada pelita hati dan pelita jiwa bangsa Indonesia yang terus menerangi, sudah semestinya kita percaya bahwa negeri ini akan tetap menjadi taman bermain dan surga dunia.
***
Indonesia is a country with millions of stories that will never end. His charm is so enthralled that he is often called the jewel of the equator. Thousands of islands with all its magic has become a valuable tourism potential in the eyes of the world. But that does not mean we just sit back and relax just waiting for foreign tourists who visited the country. Picking up the ball is sometimes the key answer in the middle of the question of how to overcome fierce competition in order to attract tourists come to a country.
Wonderful Indonesia Festival is a real action undertaken by the Government of Indonesia in order to achieve the expected tourist visit. Because there are many reasons why Indonesia should be visited, felt & enjoyed. Through a promotional program initiated by the Ministry of Tourism of the Republic of Indonesia, this festival became one of the arena that carries the noble task of proclaiming good news about Indonesia to the world.
Thailand country that bears the title of white elephant country, is one of the market gaps in Southeast Asia targeted by Indonesia to bring foreign tourists to the country. Therefore all efforts need to be done to attract the attention of the Thai people so they willing to spend their money to fly and take a vacation to Indonesia. Especially now there are three “Direct Flight” which facilitate the route of tourist visits from Thailand to Indonesia. Medan, Jakarta & Bali is the city that became the direct flight node from Thailand to Indonesia. Look at these things, Wonderful Indonesia Festival held at CentralWorld Square, Bangkok, Thailand from 17 to 19 November 2017. With the concept of Branding, Advertising & Selling (BAS), this activity is expected to break down the number of foreign tourists, especially the Thai market will greet Indonesia.
It is an honor for me appointed and trusted to be the “Creative Director” of the Wonderful Indonesia Festival in Thailand. With the theme “Indonesia: The Never Ending Story of Magical Lands & Legends”, a number of activities agenda that is “Art & Culture Performances; Clothing & Craft Market; Culinary Bazaar; Interactive Activity & Workshop; Intimate Music Concert and Travel Fair “, all this agenda become the spices that are processed into an Indonesian cuisine. In designing the concept and designing this festival, I use the “Story Telling” approach as a bridge of communication so that all activities present there can be intimately connected with visitors as well as achieved the expected message. The five destinations of Thailand’s tourism destinations are Medan (1); Jakarta & Bandung (2); Jogjakarta, Solo & Semarang (3); Surabaya & Malang (4); as well as Bali (5), all packaged into the form of 5 folklore of the equator country of Indonesia. Legend story Lake Toba presented to attract foreign tourists visited Medan; Legend of Lutung Kasarung for targeting Jakarta & Bandung; Legend Roro Jonggrang for targeting Jogjakarta, Solo & Semarang; Legend Keris Mpu Gandring for targeting Surabaya & Malang; and Legend Barong to target Bali. Everything becomes a collection of stories that will be told to the people of Thailand by the musicians, artists, dancers and all the performers through their creative work.
A number of names that represent Indonesia also helped to devote creative energy in the Pagoda Country. Despite the blazing heat of Bangkok City’s stinging weather, but the Indonesian Collaborators keep the spirit of presenting his best offerings. From Bandung we have DJ Destiny, Kartwel Noesantara (Dadi Firmansyah / Karinding & Percussion, Arief Hendrawan / Percussion, Rian Andriawan / Percussion, Ariya Iim Nugraha / Wing Instrument & Percussion & Mohammad Nizar Novian / Percussion), Patrakomala (Ammy Kurniawan / Violin & Guitar, Opik Bape / Guitar, Arnie Christanti / Bass, Adisty Sofie Anggia / Drums, Rahma Sekar Savitri / Vocal & Ukulele Guitar, Kris Takarbessy / Vocal & Guitar. From Batam we have Studio Bina Dance Mercury Culture. From Cirebon we have Project Qiu (Nurhadi Nugroho / Rapper, Ivan Suwarno Son / Rapper, Maya Rahayu / Rapper, Mayasari / Vocal, Ridzqy Marajuang Nasution / rapper. From Jakarta we have Kamila (Ava Victoria / Alto & Violin, Mia Ismi Halide / MezzoSopran & Violin, Ana Achjuman / Soprano and Violin. From Jogajakarta we have Papermoon Puppet Theater and Jogja Fest. From Malang we have Malang Amore Carnival (Yoseph Agus Kristian / Carnival Player and Dancer, Leonardo Yofi Galih Fernando / Carnival Player & Dancer. And from Thailand there is the name of Artist & Singer Pinky Sawika Chaiyadech.
Indonesian Student Association in Thailand (Permitha) also joined together to become a volunteer in the activities of Wonderful Indonesia Festival. They work together to help sincerely so that the implementation of this activity goes smoothly. Thankfully this festival is crowded by thousands of visitors either coming from local Thai people to foreign tourists who are on holiday in Thailand. The exhibition booth that contains information and “pop up” about wayang, batik, woven cloth, angklung and spices of Indonesia’s best-selling cuisine enjoyed by visitors. Not to mention the culinary booth, workshop, travel wishlist, photos and travel fair was a special attraction for visitors. Plus the set of entertainment and attractions are presented in the main stage area into a special menu that becomes a magnet for the visitors who are present there.
May all the traces of collaboration that has been presented and abandoned in the activities of Wonderful Indonesia Festival, can be a torch that burns eternally so that later can continue to give by to anyone who loves the homeland. Because our beloved country is very worthy to be proclaimed so that the light will not end off, will not end up faded, will not end disappear. As long as there are lights of the heart and light of the soul of the nation that continues to illuminate, we should believe that this country will remain a playground and a paradise of the world.




































Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.



























































