I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Posts Tagged ‘galih sedayu

Pesan Dari Foto Cerita

leave a comment »

Teks : galih sedayu

Ketika kita menyimak sebuah film, pada akhir cerita kita dapat memberikan kesimpulan tentang inti ataupun isi cerita yang terkandung di dalamnya. Misalnya film arahan sutradara Roberto Begnini yang berjudul Life is Beautiful yang menyuarakan sebuah optimisme dalam kehidupan, film Brave Heart yang disutradarai Mel Gibson yang mengusung nilai-nilai patriotisme, dan film Kill Bill karya Quentin Tarantino (yang menyukai sesuatu yang berdarah-darah) berisi tentang cerita balas dendam. Lalu yang menarik lagi adalah sebuah film yang kaya dengan imajinasi & kedalaman yang terdiri dari 8 episode cerita tentang dampak dari sebuah peperangan serta harmonisasi antara manusia dengan alamnya. Film ini berjudul Dreams yang dibuat oleh Sutradara Legendaris asal Jepang, Akira Kurosawa. Dan masih banyak lagi film-film yang mencoba memberikan pesan yang disampaikan melalui sebuah cerita.

Sama halnya dengan sebuah foto. Berbicara tentang foto berarti kita berbicara tentang citra. Pemaknaan sebuah citra foto dapat digali melalui cerita yang hadir dalam foto tersebut. Seorang James Nachtwey (War Photographer) tidak hanya memotret peristiwa yang klimaks dalam konteks peristiwa yang menjadi isu utama di suatu Negara misalnya. Ketika dia datang ke Indonesia, Nachtwey mulai memotret secara berseri rangkaian peristiwa yang berkait dan relevan dengan isu utama yang ada saat itu. Dari mulai demo mahasiswa, peristiwa kerusuhan yang terjadi sampai dampak yang ditimbulkan dari krisis ekonomi yang menimpa Negara kita dimana dia memotret beberapa orang cacat pada sebuah perkampungan miskin yang ada di pinggiran Kota Jakarta.

Ketika sebuah foto single (tunggal) masih belum secara jelas dapat menceritakan segala pesan yang ingin disampaikan oleh si pemotret maupun pemaknaan obyek yang direkam, saat itulah sebuah Photo Story dibutuhkan. Pada dasarnya sebuah Photo Story merupakan rangkaian,episode & kumpulan foto-foto yang saling terkait dan memiliki benang merah sehingga secara keseluruhan cerita yang ditampilkan melalui foto-foto tersebut menjadi utuh.

Sebagai contoh ketika saya memotret seorang pelukis berbakat yang bernama Rosid di rumahnya. Saya melihat bahwa sebuah benda yang bernama Pinsil menjadi alat utama sekaligus roh bagi seorang Rosid. Karena dengan pinsil tersebut dia melukiskan gambarnya pada media apapun. Sehingga ketertarikan saya tidak hanya pada figur Rosid semata, tetapi hal-hal unik yang ada di atmosfir rumah maupun studio lukisnya. Seperti ketika saya menengok ke atas atap dinding rumahnya, di sana terlihat motif-motif pinsil menghiasi dinding atap rumahnya. Lalu tepat di tengah-tengah ruangan tamu, Pinsil Kayu ukuran besar yang hampir menyerupai batang pohon diletakkan tegak dimana ujung pensil tersebut mengarah ke atap dinding rumahnya (yang juga) bermotif pinsil. Dengan begitu saya melihat betapa besar kecintaan dia terhadap profesi yang dijalankan. Sangatlah wajar ketika harga sebuah lukisan yang dibuatnya dijual dengan harga puluhan juta rupiah.

Membuat sebuah Photo Story ada baiknya dimulai dengan sebuah wacana atau ide. Ada baiknya ketika ide tersebut related dengan isu-isu yang hangat atau berhubungan dengan peristiwa yang aktual. Setelah itu mulailah untuk mengumpulkan nara sumber dan melakukan personal approach atau pendekatan secara intens terhadap obyek yang ingin difoto. Saat itulah kita dituntut untuk tidak berpikir secara teknis melainkan bagaimana agar foto yang kita buat mengalir dan menyatu dengan obyek yang kita rekam sehingga antara ide dan tema yang dibawa menjadi sesuai dengan eksekusi yang kita ambil. Oleh karena itu, proses yang menurut saya paling penting sebelum kita memencet tombol rana kamera adalah mendengar,mendengar dan mendengar.

Pada tahun 1992, Ron Fricke, seorang fotografer yang juga seorang sinematografer membuat sebuah film dokumenter yang berjudul Baraka. Dalam film ini sama sekali tidak ada dialog, yang ada hanyalah cuplikan-cuplikan gambar hidup yang lebih menyerupai karya fotografis tentang alam dan keterlibatan manusia di dalamnya. Dalam film yang menggunakan kamera 70 mm ini, Ron Fricke mengajak kita untuk berkontemplasi secara visual agar setidaknya kita tergugah dan mulai berbuat sesuatu yang berarti bagi alam ini. Karena sudah sejak dulu, cerita tentang insan manusia yang peduli akan kehidupan lebih baik dikumandangkan ke penghujung bumi. Seperti Penyanyi Legendaris yang ditembak mati oleh penggemarnya sendiri, John Lennon yang mencoba menyuarakan ajakan damai & bersatunya dunia lewat lagunya Imagine.

Tentunya, melalui citra fotografi kita dapat berbuat hal yang serupa. Dengan sebuah Photo Story, kita dapat menyuguhkan realita hidup yang kini terjadi dan menyampaikan pesan-pesan yang berguna bagi masa depan. Karena sebuah foto, sesungguhnya tidak pernah lekang oleh masa. Dia akan terus hadir & berbicara ketika mulut tidak bisa berkata apa-apa. Maka dari itu, teruslah bermain dengan cahaya.

*Tulisan ini diberikan pada saat Seminar Photo Story di gedung PWI pada tanggal 19 Mei 2008

Bandung, 12 Mei 2008

Written by Admin

January 21, 2010 at 1:05 pm

Saatnya Kaum Hawa

leave a comment »

Teks : galih sedayu

Sedari dulu, cerita tentang mahluk wanita dengan segala kelebihan dan kekurangannya selalu menjadi medan magnet dan terus menghiasi wajah-wajah media di dunia. Dari mulai kisah kepahlawanan Joan of Arc, wanita asal perancis yang dibakar hidup-hidup pada usia 19 tahun karena menjadi pemberontak..kisah tragis Princess of Wales, Putri Diana yang meninggal karena kecelakaan mobil yang dialaminya pada tahun 1997 sampai pada kisah eksentrik fotografer wanita legendaris Dianne Arbus yang difilmkan dengan judul Fur dan dimainkan oleh aktris cantik Nicole Kidman.

Kisah-kisah itu menandakan bagaimana wanita dengan manifestasi latar belakang yang berbeda dapat memberikan warna tersendiri bagi sebuah kehidupan di dunia. Pandangan tentang figur wanita yang lemah, yang selalu di bawah, yang mudah ditindas lambat laun mulai pupus seiring dengan berjuta prestasi yang dihasilkan oleh para kaum hawa. Saat ini (bahkan) mereka mengisi tempat-tempat yang konon dianggap hanya boleh ditempati oleh kaum adam saja. Kita bisa buktikan bahwa saat ini betapa banyak pekerjaan seperti supir, satpam, kuli bangunan, dll dengan segala citranya yang macho ada yang dilakoni oleh seorang wanita. Di Indonesia kita boleh berbangga bahwa seorang Kartini menjadi pelopor dan menepis semua persepsi tentang gender tersebut. Karenanya, tidaklah pantas bila di jaman yang kita jalani sekarang masih terdapat opini yang diaminkan bahwa wanita itu harus kerja di dapur dan biarkan lelaki mencari nafkah.

Berangkat dari semangat itulah, sekelompok mahasiswa/i universitas padjajaran bandung yang tergabung dalam klub fotografi kampus SPEKTRUM, mencoba mengusung isu wanita tersebut ke permukaan melalui Pameran Foto “Wanita,wanita & wanita” dengan tema Dulu Dapur Kini Karir. Karya-karya mereka setidaknya mewakili sejumlah realita & harapan untuk ke depan, bagaimana wanita dapat lebih berperan dalam menyikapi tantangan hidup yang semakin keras. Simak saja foto reportase karya fierly yang menggambarkan seorang wanita yang bertugas meliput acara demo salah satu ormas islam. Di sana kita dapat menyimak bahwa saat ini wanita bebas menentukan kegiatan atau profesi yang dipilihnya meski mereka sadar benar bahwa ada resiko yang menantang sebagai konsekuwensi terhadap pekerjaan yang mereka ambil. Lalu ada juga foto yang menangkap semiotika waktu yang hadir seperti yang dibuat oleh cha cha dengan fotonya yang berjudul ‘dulu,kini,nanti’. Meski pesan yang timbul pada karya foto ini masih belum begitu mengalir tetapi interpretasi nya dapat merupakan sebuah harapan baru sebagai aksi tindak lanjut generasi kini dengan mengambil nilai-nilai kearifan generasi dulu.

Pada akhirnya kita akan mengakui betapa hebatnya wanita-wanita yang terus lahir di dunia ini. Bila kita berkontemplasi ke belakang, hadirnya manusia ke bumi ini adalah berkat keajaiban Sang Pencipta melalui tubuh wanita. Sehingga mahluk wanita yang didesain dengan bentuk tubuh sedemikian rupa memang merupakan karya yang nyaris sempurna.

Ketika foto yang diambil oleh fotografer Nick Ut yaitu foto seorang gadis cilik berumur 9 tahun bernama Kim Phuc yang tengah berlari sambil menangis kesakitan karena terkena bom napalm pada perang Vietnam tahun 1972 menjadi bahan perbincangan di seantero jagat, mau tidak mau kita bercermin terhadap ketegaran seorang wanita dalam berjuang melawan akibat yang ditimbulkan oleh sebuah peperangan. Kim Phuc membuktikan itu semua sehingga dia mendapat gelar doktor kehormatan dari Universitas York di Toronto atas jasa-jasanya membantu anak-anak para korban perang di seluruh dunia.

Pada intinya fotografi secara sadar maupun tidak, selalu memberikan kontribusinya kepada sejarah peradaban dunia dalam konteks citra seorang wanita. Fotografi menjadi media perantara antara yang hidup dan yang mati. Karena sesuatu yang sudah mati dapat dihidupkan kembali melalui pencintraan sebuah karya foto.
Satu hal lagi, sebagian orang berpendapat bahwa wanita adalah sumber inspirasi. Seperti kata seorang fotografer dunia Man Ray dalam akhir film dokumenternya yang berjudul The Prophet to Avant Garde bahwa satu hal yang membuat dia terus bertahan hidup untuk memotret adalah mereka…WANITA.

*Tulisan ini diberikan sebagai Kata Pengantar Pameran Foto “Wanita, wanita & wanita…dulu dapur kini karir” karya SPEKTRUM, Klub Foto Kampus Universitas Padjajaran Bandung

Bandung, 14 Mei 2008

Written by Admin

January 21, 2010 at 12:49 pm

Foto Seri Potret

leave a comment »

Teks : galih sedayu

Berbicara tentang foto potret, sesungguhnya adalah membicarakan genre foto yang tak pernah lekang dimakan oleh jaman. Foto potret selalu dapat menempatkan dirinya di setiap masa yang berbeda. Apalagi dengan keunikan fotografi yang dapat menciptakan sebuah pencitraan, foto potret yang sangat sederhana sekalipun dapat memberikan sebuah imej visual tersendiri bagai ruh yang keluar dari foto tersebut. Fotografer dunia kenamaan macam Richard Avedon membuktikan kecintaannya pada foto potret dengan berkeliling mengabadikan masyarakat pinggiran AS sambil membawa backdrop putih di bak belakang mobilnya. Bahkan foto potret seorang tokoh pemberontak Ernesto Guevara yang diabadikan oleh Alberto Korda, hingga kini menjadi icon di kalangan anak muda yang berjiwa revolusioner. Belum lagi kita patut berbangga bahwa seorang fotografer Indonesia, Indra Leonardi berhasil membukukan karya-karya foto potretnya yang berjudul Indonesian Portraits. Indra Leonardi dengan gayanya yang klasik secara unik berhasil memainkan cahaya dengan merekam tokoh-tokoh kebanggaan Indonesia seperti sutradara Garin Nugroho, penyanyi wanita Titi DJ, petinju Chris John, pakar sejarah Des Alwi, penulis lagu Gesang dan masih banyak lagi.

Sebenarnya membuat sebuah foto potret tidaklah sesederhana apa yang kita pikirkan. Karena secara tidak disadari, saat kita merekam foto potret seseorang berarti kita mentransfer sejumlah energi yang kita miliki kepada orang yang kita foto. Oleh karenanya kita sering mendengar kalimat yang berbunyi “foto itu berbicara” meski kita semua seharusnya tahu bahwa diri kitalah yang sebenarnya berbicara lewat sebuah foto yang kita ciptakan. Oleh karena itu langkah awal sebelum kita membuat sebuah karya foto potret adalah kita harus mengenal terlebih dahulu orang yang akan kita potret. Setelah itu adalah mendengar, suatu proses yang sangat penting dan sering dilupakan oleh seorang fotografer. Dan langkah selanjutnya adalah menghargai orang yang akan kita abadikan. Barulah kita bisa memulai untuk memotret orang tersebut.

Bayangkan ketika kita mendapatkan sebuah karya foto potret seseorang lalu kita bercerita kepada orang lain tentang foto tersebut tetapi bukan dengan memaparkan bagaimana sudut pengambilannya, teknik pencahayaannya, komposisi pemotretannya melainkan kita bercerita tentang segala sesuatu yang kita dapatkan dari proses mengenal, mendengar & menghargai tersebut. Misalnya saja kita dapat menjelaskan bahwa foto potret yang kita ambil adalah seorang pria bernama Lulus UJianto, anak keturunan seorang raja banten yang bekerja sebagai buruh bangunan dan mampu memberi nafkah ke 2 orang anaknya yang kembar berusia 5 tahun dan tinggal bersama di sebuah gubuk mereka yang sederhana. Sehingga siapapun orang yang melihat foto tersebut akan menyimak dan menaruh perhatian tertentu karena ada sebuah cerita di balik foto tersebut.

Mengapa foto potret hasil bidikan fotografer National Geographic Steve McCurry yang terkenal dengan nama “Afghan Girl” menjadi begitu menarik perhatian? Karena foto tersebut tidak sekedar melukiskan seorang gadis kecil afghan yang bernama Shabat Gula tetapi ada sebuah cerita humanis di dalamnya. Dimana kita ketahui bersama bahwa Steve McCurry melakukan perjalanan kembali ke Afghanistan setelah 17 tahun lamanya hanya untuk mencari gadis tersebut.

Short Portrait Series adalah sebuah istilah yang saya buat untuk menamakan sejumlah karya foto potret yang disajikan bukan sebagai foto single/tunggal, tetapi merupakan rangkaian foto yang mempunyai keterkaitan satu sama lain baik melalui eksplorasi tokoh (figur) yang kita ambil maupun melalui benang merah ide yang hadir di dalamnya. Seperti foto seri potret seorang pakar filsafat Prof.Dr.Bambang Sugiharto yang saya abadikan di ruang kerjanya, foto-foto itu lebih mengusung tokoh sentral seorang Bambang Sugiharto. Lain halnya foto seri potret sebuah penari grup terkenal asal bandung Wanna Be Dancer, dua orang anak kembar Vina & Vani dan seorang pejabat polisi di atas mobil jeepnya, semuanya mencerminkan tentang ide gerak (move) hingga saya memberikan istilah Move Portrait Series.
Harapannya, sebuah Short Portrait Series lebih menawarkan sebuah wacana yang lebih luas ketimbang bila kita hanya melihat sebuah karya foto tunggal yang berdiri sendiri. Sehingga si penikmat foto dapat mentafsirkan sendiri baik dari segi konten,nilai & esensi foto potret tersebut.
Short Portrait Series juga dapat membuat si pemotret menggali lebih dalam dan merealisasikan ide-ide yang muncul sehingga dapat dituangkan ke dalam karya-karya foto potretnya. Layaknya kita menonton sebuah film, seolah-olah Short Portrait Series memiliki alpha & omega nya sendiri. Kita dapat melihat alur, spirit yang ada di dalamnya, kedalaman tokoh atau orang yang kita foto dan lain sebagainya.

Tetapi pada intinya adalah kita dapat menciptakan foto potret pada kehidupan sehari-hari. Bila Leopold Stokowski pernah berujar bahwa “Seorang Pelukis melukiskan karyanya pada sebuah kanvas dan seorang musisi melukiskan karyanya dalam kesunyian”, menurut saya “Seorang fotografer sejati melukiskan karyanya pada kehidupan”.

*Tulisan ini diberikan pada Short Portrait Series Clinique di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) bandung pada tanggal 4 Mei 2008

Bandung, 27 April 2008

Written by Admin

January 21, 2010 at 12:43 pm

Lompatan Imajinasi Potret Pendidikan

leave a comment »

Teks : galih sedayu

Ketika salah satu program pemerintah kita yang mencanangkan sebuah tujuan mulia yaitu Ikut Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, kata ‘Pendidikan’ menjadi sesuatu yang paling esensial yang dapat dijadikan landasan & media bagi tercapainya cita-cita bangsa tersebut. Agaknya, harapan tentang manisnya buah pendidikan yang dapat dimakan oleh bangsa kita secara lebih merata menjadi sebuah khayalan semu bagi sebagian besar anak bangsa ini.

Ditulisnya novel “Laskar Pelangi” oleh Andrea Hirata yang bercerita tentang kisah nyata wajah muram pendidikan di daerah Belitong melalui cerita humanisme 10 orang anak SD Muhammadiyah yang miskin, mau tidak mau membuka mata kita bahwa masalah pendidikan bagaikan sebuah barang mewah yang tidak semua anak negeri ini dapat menikmatinya. Begitu pula satir tentang pendidikan lewat film “Denias” yang bercerita tentang kisah nyata perjuangan seorang anak di negeri papua, dengan kegigihannya serta dengan bantuan seorang tentara baik hati (diperankan oleh aktor Ari Sihasale), denias dapat berhasil memperoleh sebuah pendidikan yang layak baginya.

Semua kisah nyata tentang pendidikan di tanah air yang diangkat menjadi sebuah novel maupun film tersebut adalah cermin tentang dunia pendidikan yang nyata & aktual di bumi pertiwi ini. Oleh karena itu, pendidikan dirasakan sebagai sebuah mimpi di Negeri Dongeng yang kadang hanya bisa diimajinasikan oleh mereka yang belum sempat mengenyamnya. Berdasarkan kesadaran kolektif tersebut, Pameran Foto “Pendidikan Negeri Dongeng” yang digagas oleh Himpunan Mahasiswa Teknologi Pendidikan & PERFORMA Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mencoba memaparkan kegelisahan tersebut melalui visual foto. Sekitar 50 karya fotografi yang berasal dari beberapa perkumpulan foto kampus yang ada di kota bandung, menjadi saksi hidup tentang potret pendidikan yang ada saat ini.

Karena keunikan fotografi adalah dapat merekam sebuah citra, dengan melihat karya-karya foto yang dipamerkan ini masyarakat dapat menilai dengan bebas dan menginterpretasikannya masing-masing tentang masalah pendidikan tersebut. Walaupun harus diakui bahwa pameran foto ini masih merupakan langkah & gerakan kecil dari beberapa masyarakat pendidikan yang mau peduli. Karena walau bagaimanapun, sesuatu yang besar itu terjadi bila kita mengerjakan sesuatu yang kecil dengan benar. Harapan nya adalah agar setidaknya kita sadar bahwa realitas maupun mimpi itu ada.

Misalnya saja foto yang menggambarkan tentang dua orang anak jalanan yang tengah tersenyum sambil memegang lem aibon karya Yusviza Ahmad. Betapapun kita dapat melihat bagaimana jadinya masa depan yang dimiliki oleh mereka ketika definisi kebahagiaan menurutnya adalah dengan mengisap lem aibon tersebut. Lain halnya ketika kita melihat karya-karya foto lain yang menyuguhkan keceriaan & kebahagiaan yang memang sepatutnya mereka dapatkan. Sehingga keterkaitan foto yang muncul menjadi paradoks, terlebih bila senyum yang terpancar dari wajah anak-anak tersebut dianalogikan dengan nilai kebahagiaan.

Setidaknya pameran foto ini dapat menstimulan masyarakat pendidikan yang lain untuk berbuat serupa sehingga beban tanggung jawab tersebut dapat diemban secara bersama meskipun mungkin dimulai dengan sebuah mimpi, Pendidikan Negeri Dongeng. Seperti kata Gloria Steinem,”Tanpa adanya lompatan imajinasi ataupun impian, kamu akan kehilangan kemungkinan yang mendebarkan. Impian adalah bentuk dari perencanaan.

*Tulisan ini diberikan sebagai Kata Pengantar Pameran Foto “Pendidikan Negeri Dongeng” yang digagas oleh HIMA TEKPEN Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung

Bandung, 29 April 2008

Written by Admin

January 21, 2010 at 12:35 pm

Fotografi Sebagai Alat Komunikasi Visual

leave a comment »

Teks : galih sedayu

Terhitung 2 tahun setelah fotografi ditemukan oleh Louis Jacques Mande Daguerre pada tahun 1839, atas permintaan pemerintah kolonial belanda fotografi sudah dibawa ke tanah air tepatnya di Bandar Batavia oleh seorang fotografer yang bernama Dr Jurriaan Munnich. Setelah itu di Indonesia muncul 2 orang fotografer asal inggris, Walter Woodbury dan James Page pada tahun 1857 yang menjadikan titik sejarah foto dokumentasi seluruh keadaan di tanah air.Kemudian muncul fotografer orang jawa pertama, Kassian Cephas yang mendokumentasikan relief-relief tentang ajaran Maha Karmawibhangga di Candi Borubudur. Sejak saat itu fotografi di Indonesia berkembang pesat seiring dengan kemajuan teknologi yang terus dikembangkan oleh manusia. Apalagi di saat ini dengan munculnya era digital, fotografi semakin menjamur dan tidak hanya diperuntukkan bagi kalangan fotografer saja tetapi juga masyarakat umum termasuk orang-orang yang berkecimpung dalam dunia Public Relations (PR).

Salah satu kelebihan fotografi adalah mampu merekam peristiwa yang aktual dan membentuk sebuah citra di dalamnya. Sehingga fotografi dapat berfungsi sebagai alat komunikasi visual dimana oleh orang-orang PR dapat digunakan sebagai bahan publisitas yang bermanfaat.

Mungkin kita masih ingat sebuah peristiwa menarik di dunia tinju dimana Mike Tyson menggigit telinga petinju Evander Hollyfield. Kala itu, foto yang menggambarkan kejadian tersebut dijadikan bahan publisitas secara besar-besaran di seluruh dunia. Bahkan ada beberapa foto yang dijadikan desain t-shirt serta merchandise lainnya untuk keperluan komersil.

Sebuah jargon dari produk sampoo sunsilk yang berbunyi ‘Rambutnya, Kisah Hidupnya’ tetap saja mau tidak mau menggunakan imej foto Marlyn Monroe & Madonna sebagai simbol ataupun representasi dari tokoh-tokoh yang digambarkan memiliki kisah hidup yang bermakna. PR yang bersifat hidup,verbal,murah dan menjangkau seseorang dapat dibantu dengan visual fotografi yang berfungsi menguatkan produk tertentu.

Fotografi juga dapat menciptakan dan memvisualkan secara jelas buah pikiran dan tulisan-tulisan yang dibuat oleh seorang PR ketika membuat artikel-artikel tertentu. Misalnya saja ketika kita ditugaskan untuk menulis artikel tentang Dick Fosbury, seorang atlet lompat tinggi yang tidak begitu terkenal tetapi gaya lompatannya yang membelakangi palang (Fosbury Flop) masih digunakan hingga sekarang. Kehadiran foto di sini dapat menegaskan artikel yang telah dibuat.
Karena sifatnya yang mudah dicerna & abadi, sudah layak dan sepantasnyalah seorang PR perlu dibekali oleh ilmu fotografi.

*Tulisan ini diberikan pada saat Seminar Cyber Public Relations “photography as a visual communication” di be mall pada tanggal 12 April 2008

Bandung, 4 April 2008

Written by Admin

January 21, 2010 at 12:21 pm

Ketika Minoritas Menjadi Mayoritas

leave a comment »

Teks : galih sedayu

Kaum minoritas manapun di jagad raya ini selalu mempunyai asa dan mimpi yang sama yaitu sebuah kebebasan & pengakuan dari manusia lain yang hidup berdampingan dengan mereka. Spirit tous les hommes egaux et libre (manusia dilahirkan sama dan merdeka) menjadi landasan untuk menegakkan bendera kesetaraan yang selalu mereka perjuangkan.
Kaum queer yang di jaman sekarang ini dapat diartikan sekelompok orang gay, lesbian, biseksual, transeksual & minoritas seksual lainnya menjadi salah satu kaum minoritas yang mengusung nilai-nilai kebebasan tersebut meski tentunya ada keterbatasan.

Fotografi dengan sifatnya yang mampu merekam secara visual baik dengan simbol, kesaksian hidup, dan fenomena yang hadir di dalamnya menjadikan sebuah isu dapat terangkat ke permukaan sehingga menjelaskan apa yang sebelumnya masih absurd atau belum dimengerti sedikitpun. Berangkat dari kesadaran kolektif tersebut, queer menjadi isu yang coba diketengahkan dan diinterpretasikan melalui medium fotografi.

Dalam sebuah pameran fotografi yang bertajuk “What is Queer?”, sekelompok anak muda dengan latar belakang yang beragam mencoba menyeruakkan apa yang selama ini disebut sebagai queer. Mereka mencoba mentafsirkan definisi queer menurut persepsi & perspektif individu yang dituangkan kedalam karya-karya fotografi sebanyak 21 buah.

Seperti terlihat pada karya foto yang berjudul “Topeng” karya Teddy Purnama. Queer diibaratkan sebuah topeng (yang digambarkan dari sebuah daun kering berwarna coklat) yang dikenakan sebagai upaya untuk menyembunyikan identitas diri si empunya topeng. Dimana topeng tersebut tergeletak begitu saja di jalan aspal yang berlubang, sehingga foto tersebut seolah-olah menjadi berbunyi seperti sekelompok orang tertentu yang mencoba menyembunyikan jati diri dari lingkungannya tetapi tetap terinjak-injak.

Tafsiran lain tentang queer dapat kita lihat pada foto seri yang berjudul “I am her” dan “I am him” karya Ferancis. Si pemotret mencoba mengusung sebuah permasalahan krisis jati diri yang pada umumnya dimiliki oleh kaum queer, seorang insan manusia yang merasa menjadi laki-laki tetapi terjebak di dalam tubuh wanita begitupun sebaliknya seorang insan manusia yang merasa dirinya wanita tetapi terjebak di dalam tubuh seorang laki-laki. Alhasil boneka mainan bermerk lego tersebut menjadi representatif simbol secara fotografis untuk mendeskripsikan kegelisahan kaum queer tersebut. Isu ini juga sempat diangkat ke layar kaca melalui film yang berjudul “Boys don’t cry’ yang dilakoni aktris Hilary Swank.

Lain halnya dengan semiotik yang ditampilkan oleh Arie melalui karya fotonya yang menyuguhkan sebuah pagar berduri dengan latar belakang langit biru berawan sebagai bentuk pernyataan ‘menutup diri’ maupun ‘diri yang ditutup’ dari dunia luar yang dilakukan oleh kaum queer tersebut.

Permasalahan-permasalahan yang dialami oleh kaum minoritas tersebut tidak akan pernah selesai selama dunia dan manusia yang hidup di dalamnya belum bisa ‘menerima’ kehadiran mereka yang (dianggap) berbeda.

Mengutip kalimat yang diucapkan oleh Eckhart Tolle dalam bukunya yang berjudul The Power of Now, bahwa kita berada di sini agar tujuan Ilahi di alam semesta menjadi terungkap. Itulah sebabnya mengapa kita semua (sebagai manusia) begitu berarti.
Dan fotografi akan selalu merekam pemaknaan & semua kesaksian itu dengan penuh kesadaran. Fotografi bergerak!!

*Tulisan ini diberikan sebagai Kata Pengantar pada saat What is Queer Photo Exhibition di CCF Gallery pada tanggal 18 Februari 2008

Bandung, 4 Februari 2008

Written by Admin

January 21, 2010 at 12:14 pm

24 Jam Dusun Banceuy

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Dusun Banceuy terletak di Desa Sanca Kecamatan Jalan Cagak yaitu sekitar 20 km dari Kota Subang. Saat Tahun Baru Muharam, masyarakat dusun banceuy menggelar acara helaran yaitu sebuah pesta adat dengan mengedepankan nilai-nilai tradisional yang mereka miliki seperti bajidoran, kaulinan budak, wayang golek, tutunggulan, kentongan & gembyung. Helaran ini merupakan wujud syukur dan terimakasih atas hasil panen yang mereka dapatkan kepada dewi kesuburan (dewi sri) & Sang Pecipta. Sebenarnya acara helaran ini hampir ditinggalkan pada tahun 1999. Tetapi pada tahun 2000 dengan bantuan pemerintah daerah subang, helaran ini kembali diadakan setiap tahunnya dan dusun banceuy dijadikan sebuah desa wisata. Malam sebelum acara helaran dimulai, masyarakat dusun banceuy berkumpul di bale desa untuk mengadakan ritual doa keselamatan sembari memainkan kesenian tradisi yang bernama ‘gembyung’, sebuah alunan musik dengan diiringi kendang sembari melantunkan lagu dalam bahasa sunda yang isinya berupa puji-pujian kepada Nabi Muhamad. Para musisi adat yang memainkan gembyung ini bernama ‘Gembyung Pusaka Wargi Saluyu pimpinan Abah Ukar’. Sambil membakar sesaji kemenyan & makanan khas dusun banceuy, 9 bh lagu dinyanyikan oleh Gembyung Pusaka Wargi ini. Pada saat lagu ke-3 dimainkan, masyarakat dusun banceuy yang kemasukan ruh mulai menari ditengah-tengah kelompok yang membentuk lingkaran sampai mereka terjatuh & kehabisan tenaga. Acara ritual ini berlangsung selama 2 – 3 jam. Pada pagi hari sebelum acara helaran dimulai, setiap keluarga di dusun banceuy diwajibkan memberi makanan ke bale desa yang berupa nasi tumpeng, opak, kue, dll yang ditaruh pada sebuah nampan (nyiru). Dimana nantinya akan ada petugas yang mencatat semua makanan yang telah diserahkan oleh masing-masing keluarga. Selanjutnya makanan itu akan digunakan sebagai hidangan bagi masyarakat dusun banceuy dan sebagian akan dibagikan kepada para tamu undangan. Lalu salah seorang pemuka adat yaitu Abah Ahrub akan mengucapkan doa sembari memberikan tumbal berupa cerutu, hasil bumi & memotong kepala ayam untuk kemudian menanamnya ke dalam tanah di sebuah tempat panumbalan. Baru setelah itu acara helaran dimulai menuju makam aki leutik di utara & selatan kampung dusun banceuy. Segala peristiwa yang terjadi selama 24 jam di dusun banceuy itulah yang saya coba rekam melalui media fotografi dengan penuh kesadaran.

*Tulisan ini diberikan pada Presentasi Karya & Diskusi Fotografi bersama Prof.Dr.Bambang Sugiharto, Aat Suratin & Hari Pochang yang merupakan rangkaian acara Pameran Fotografi 24 Jam Beda Profesi bertempat di Galeri Space59 Jalan Merak No 2 Bandung pada tanggal 12 Januari 2008

Subang, Banceuy, 5 Januari 2008

dusun banceuy

kampung banceuy

dusun banceuy

dusun banceuy

dusun banceuy

dusun banceuy

kampung banceuy

copyright (c) 2008 by galih sedayu 
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

 

Written by Admin

January 21, 2010 at 12:08 pm