I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Arsitektur Pembunuh Kota

leave a comment »

“Arsitektur Pembunuh Kota”
Oleh : Ridwan Kamil
2 Oktober 2008

Suatu sore temaram di Kuala Lumpur. Udara di Bukit Bintang Walk terasa sangat menyenangkan.  Dari teras sebuah kafe, secangkir cappuchino hangat pun saya seruput dengan perlahan.  Tiap menit, koridor jalan ini begitu hidup dengan lalu lalang para pelancong dan warga lokal. Toko, restoran dan kafe pun buka sampai larut malam. Cahaya dari  dalam toko menghangatkan suasana. Kaca-kaca transparan di restoran dan café  membuat rasa aman para pelancong seperti saya. Di sini, Starbucks pun digelar ala kaki lima di jalur pejalan kaki.

Sepanjang mata memandang, suasana dan cuacanya mengingatkan saya dengan kota Jakarta atau Bandung. Namun di sini terasa ada yang berbeda. Di sini tercium aroma Asia yang terasa lebih bersahabat. Terasa jauh lebih beradab. Koridor ini terasa seperti ruang keluarga. Sebuah ruang sosial yang hangat.

Kuala Lumpur, seperti halnya kota-kota dunia yang masuk kategori ‘world great cities’ umumnya memiliki kepedulian akan pentingnya ruang-ruang sosial kota. Dari London sampai Shanghai, dari New York sampai Singapura, semua memperhatikan ‘social space’ sebagai bagian dari ruh kehidupan sebuah kota. Kemajuan peradaban, teknologi dan kompleksitas budaya tidak seharusnya merusak definisi bahwa kota adalah untuk manusia.

Ruang sosial kota pun tidak melulu berupa alun-alun atau taman kota, tapi justru koridor jalan lah yang merupakan ruang sosial kota terpenting. Di sanalah deretan bangunan hadir dan bersentuhan dengan publik. Di sana pula, umumnya berjajar karya arsitektur pro publik yang sensitif menghidupkan kota atau malah berderet karya arsitekur anti publik yang mematikan ruh kehidupan kota. Arsitektur pembunuh kota

***

“The city is the people” begitu ungkapan sebuah pepatah tua.  Begitu dalam maknanya, namun begitu berat mengaplikasikannya.  Di Jakarta,  kehidupan kota lebih terbiasa diselami dari balik jendela mobil.  Kasihan orang Jakarta. Sudah diberi iklim panas tropis, tidak ada pula sarana untuk berbudaya urban yang positif karena memang tidak pernah disediakan secara memadai. Tidak disediakan karena tidak menjadi prioritas. Tidak diprioritaskan karena kita umumnya tidak  memiliki mentalitas membangun ruang publik.   

Mentalitas anti budaya urban ini juga lahir dari lingkungan fisik yang dirancang para arsitek. Banyak arsitek yang memiliki proyek-proyek komersial dan dalam skala besar tidak memiliki sensitivitas terhadap konteks kota. Mereka hanya fokus pada arsitekturnya tidak pada konteksnya. Sehingga bermunculan belasan dan puluhan bangunan-bangunan anti urban yang semakin akut.

Apa ciri-ciri desain anti urban?

Fungsi non-publik di lantai dasar.

Salah satu ciri kota yang aktif secara positif adalah hadirnya fungsi-fungsi publik atau retail di lantai dasar sebuah bangunan. Di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia, lantai dasar sebuah bangunan besar umumnya adalah ruang lobi formal yang tidak menyumbang apa-apa bagi kehidupan kota. Lihat Hong Kong. Sepanjang kita berjalan semua lantai dasar bangunan-bangunannya selalu diisi oleh toko, retail, kafé atau fungsi-fungsi publik yang membuat kota hidup dan atraktif sampai larut malam.

Kapling-kapling egois

Manusia sebagai mahluk sosial berkewajiban berperilaku sosial yang positif dan bertoleransi antar sesama. Begitu pula arsitektur kota. Seharusnya antar bangunan satu dengan lainnya bertoleransi dengan memberikan ruang untuk kelancaran publik bernegosiasi terhadap ruang kota. Di Bukit Bintang Walk di Kuala Lumpur, antar bangunannya tidak di kapling-kapling dan dibentengi ala Jakarta. Pedestrian di sana leluasa bergerak dari satu bangunan ke bangunan lain. Bahkan di Hong Kong antar bangunan dikoneksi dengan jembatan untuk publik.

Parkir dan drop-off di halaman depan.

Ruang paling berharga dalam konteks kota adalah ruang terbuka di depan bangunan, yaitu area dari batas lahan ke garis sempadan bangunan. Sayangnya para arsitek di Indonesia dengan rasa tidak bersalah selalu menjadikannya sebagai ruang parkir dengan drop-off formal. Parkir sebenarnya bisa langsung ke basemen dan drop-off bisa dari jalan samping atau di dalam kapling. Area inilah yang bisa berpotensi menjadi ruang sosial publik berupa ruang hijau, ruang duduk atau ruang luar dari sebuah kafe di lantai dasar. Perilaku desain ini yang dihadirkan di ratusan bangunan di kota-kota besar di Indonesia benar-benar mematikan potensi lahirnya kehidupan yang beradab dan aktif.

Banyak yang tidak sadar, perilaku negatif yang sedikit banyak dilakukan oleh para arsitek inilah yang mematikan budaya urban yang seharusnya lahir oleh arsitekturkota yang baik. Ibaratnya seperti aborsi yang membunuh bayi dalam kandungan sebelum ia lahir.  

Jadi bagaimana mau bermimpi memiliki budaya kota yang baik,  jika esensi tentang arsitektur kota saja kita tidak pahami.

Advertisements

Written by Admin

September 8, 2018 at 1:28 am

Urbanisme Cina: Memberantas Korupsi dengan Sayembara Desain

leave a comment »

Urbanisme Cina : Memberantas Korupsi dengan Sayembara Desain
Oleh : Ridwan Kamil
Kompas, 1 September 2002 

CINA hari ini adalah Cina yang bersolek. Di kota-kota utama, ratusan gedung pencakar langit, taman kota yang lega, jalur pejalan kaki yang teduh lebar, transportasi publik dan infrastruktur yang modern, tumbuh subur dalam kedipan mata. Cina hari ini memang sedang berlari dan berpesta, jauh meninggalkan tetangga-tetangganya di Asia yang masih lemah tertatih oleh pukulan krisis ekonomi sejak 1997 lalu.

Dengan modal pertumbuhan ekonomi 7 persen yang stabil, kota-kota di Cina serempak membangun, mempercantik diri dan berlomba-lomba mengundang investasi asing. Ini termasuk memanggil secara moral keturunan Cina di seluruh dunia untuk berpartisipasi dalam kehidupan ekonomi di negeri berpenduduk 1,3 milyar terbesar di dunia ini. Tak heran jika dalam lawatan ke Cina, mantan Presiden Megawati menyiratkan rasa kagetnya akan kemajuan pembangunan di Cina yang sebagian terbaca dari citra fisik kota-kotanya.

Cina hari ini adalah juga Cina yang kukuh. Terutama dalam pemberantasan korupsi. Sejak awal tahun 80-an ratusan ribu kasus korupsi sudah dibawa ke pengadilan. Bulan lalu seorang wakil walikota dihukum mati karena terbukti melakukan kolusi dengan pengusaha-pengusaha yang ia beri kemudahan dalam urusan bisnis. Ia dituding menerima hibah sekitar 2 milyar rupiah. Sebuah nilai yang “tak seberapa” untuk ukuran korupsi di Indonesia, yang biasanya dengan banyak alasan berakhir dengan ringannya hukuman atau bebasnya si pelaku.

“Sediakan sepuluh peti mati bagi saya kelak!”, sumpah Zhu Rongji, Perdana Menteri Cina, dalam satu kesempatan. “Itu jika diakhir jabatan nanti, saya terbukti melakukan secuil korupsi”, cetusnya. Efek sumpah Bapak Zhu ini memang ampuh bergema di negeri yang sempat dikenal sebagai salah satu negara terkorup di dunia ini. Konsep clean government ini mulai terasa di beragam aspek, termasuk penerapan kompetisi dan transparansi dalam mekanisme membangun kota melalui proses sayembara urban design/planning.

***

MEREKA punya alasan sederhana. Dengan aliran kapital bak air bah untuk membangun kota, mereka harus yakin bahwa dana publik tersebut dibelanjakan secara presisi dan transparan. Di Beijing, menggunakan momentum olimpiade 2008, dana trilyunan rupiah pun siap dikucurkan untuk merevitalisasi kota, sebagaimanaBarcelona di tahun 1986 dan Sydney di tahun 2000. Dan yang terpenting, melalui mekanisme sayembara desain, hanya ide-ide terbaiklah yang akan dipakai dalam membangun masa depan kota-kotanya termasuk mengejar ketertinggalan mereka dari kota-kota di negara maju.

Tengoklah kota Shanghai. Kota tepi air yang sarat dengan sejarah kolonial ini bisa menjadi cermin dari gemuruh pembangunan urban di Cina. Ia kini adalah gerbang utama bagi Cina. Adalah Deng Xiao Ping yang diakhir tahun 1978 melontarkan konsep `open-door policy’ untuk mengawinkan ekonomi pasar kedalam sistem politik Cina yang tetap komunis. Konsep anomali ini ternyata menjadi awal dari mengalirnya kapital dan investasi dalam pembangunan kota-kota di Cina termasukShanghai, yang sempat dimimpikan Bapak Deng sebagai ‘the Manhattan of the East’.

Di kota Shanghai, konsep Bapak Deng ini, diterjemahkan dengan dengan mereposisi dan menyepakati visi baru masa depan kotanya. Salah satu targetnya adalah menyingkirkan Hongkong sebagai gerbang Cina dan hub finansial di Asia Timur. Dari aspek perencanaan kota, hal ini ditindaklanjuti dengan diadakannya beragam sayembara internasional perencanaan tata ruang kota termasuk sayembara waterfront  redevelopment untuk kawasan di sepanjang Sungai Huangpu yang membelah Shanghai. Salah satunya dengan cara merelokasi zona pabrik-pabrik tua dan industri berat disepanjang sungai menjadi zona ruang hijau publik (promenade), zona bisnis dan zona permukiman berstandar internasional.

Setelah terpilih, konsep tata ruang terbaik dalam sayembara perencanaan ini dibakukan dalam peraturan perundang-undangan. Kemudian satu persatu pemilik lahan di sepanjang sungai Huangpu ini mereposisi peruntukan lahannya sesuai dengan aturan yang baru. Di tahap inilah, sesuai dengan kebutuhan dan potensi pasar, pemilik lahan melakukan sayembara internasional kembali untuk mencari ide-ide urban design yang terbaik dan lebih detail untuk zona kawasan yang mereka miliki.

Dalam dua dekade terakhir ini, pemerintah Cina juga mewajibkan penyelenggaraan sayembara arsitektur untuk desain bangunan yang memiliki potensi besar sebagai landmark kota dan atau gedung yang memiliki dampak terhadap kepentingan publik dan citra kota. Jin Mao Tower, menara tertinggi di Cina, yang terletak di kawasan bisnis Pudong adalah contoh dari perwujudan dari sayembara arsitektur internasional yang diselenggarakan di tahun 1998.

Menariknya, jika semua hasil sayembara urban design dan arsitektur ini dipadukan, maka tata ruang kota Shanghai yang baru ini bak deretan mutiara dari beragam siteplan terbaik dan gedung-gedung berarsitektur kelas dunia. Dari pengalaman kotaShanghai, proses sayembara ini secara umum sangat membantu menterjemahkan secara baik, jelas dan terarah dari beragam rumusan visi kota yang biasanya sangat abstrak dan generalis..

***

SAYEMBARA desain di Cina adalah pisau bermata dua. Ia adalah alat bedah untuk menghasilkan konsep desain yang terbaik. Ia juga merupakan media tajam untuk mengontrol transparansi dan efisiensi anggaran pembangunan fisik kota. Dengan cara ini tidak ada lagi celah bagi pimpinan proyek-proyek pemerintah untuk melakukan kolusi dengan rekanan bisnis atau konsultan perencananya. Tidak ada lagi eufimisme istilah seperti: `uang administrasi’, `uang pelicin’, `hibah’, `tanda terimakasih’ yang biasanya lazim terjadi di proyek-proyek di Indonesia. Mereka pun paham, nafsu korupsi dan kolusi di Cina saat ini bisa berakhir dengan hukuman mati.

Dengan publikasi yang jelas, sejak awal publik sudah mengetahui berapa biaya penyelenggaraan sayembara, termasuk hadiah untuk peserta dan nilai kontrak akhir untuk pemenangnya. Namun untuk memberikan fee atau kompensasi yang baik bagi peserta sayembara, biasanya proyek-proyek besar diselenggarakan dengan sayembara yang bersifat terbatas. Terbatas dalam arti hanya mengundang lima atau enam peserta baik konsultan internasional dan lokal berdasarkan kualifikasi dan pengalaman yang relevan.

Namun banyak juga sayembara yang bersifat terbuka dengan mengundang siapa saja yang tertarik untuk berkompetisi. Masterplan untuk Olimpiade tahun 2008, yang dimenangkan konsultan dari Amerika Serikat, adalah contoh dari sayembara terbuka yang diikuti ratusan peserta internasional dan lokal. Namun peserta yang kalah dalam sayembara terbuka ini umumnya harus menanggung resiko dengan tidak adanya kompensasi sama sekali.

Pihak swasta pun dianjurkan untuk melakukan mekanisme sayembara untuk proyek-proyeknya. Ini terutama bagi proyek yang punya dampak terhadap citra kota dan kepentingan publik. Hanya terkadang, dalam beberapa kasus, pihak swasta lebih pelit dalam memberikan kompensasi bagi peserta sayembara. Hal ini mengakibatkan citra yang buruk terhadap penyelenggaraan sayembara desain, karena dianggap sebagian pihak sebagai alat untuk mendapatkan konsep-konsep desain yang terbaik dengan biaya yang murah. Bahkan ada juga yang dengan liciknya tidak memberikan penghargaan sama sekali kepada peserta dengan berbagai alasan yang dibuat-buat.

***

Semangat keterbukaan ini juga terlihat dari cara Dinas Tata Kota di Shanghai berkomunikasi dengan publik. Mereka punya ruang pameran rutin untuk menampung maket-maket hasil sayembara desain untuk direview dan dikomentari oleh publik yang berkepentingan. Bahkan dalam satu ruangan yang sangat besar, terdapat pula maket kota Shanghai dalam skala yang sangat detail. Hal ini untuk memberikan informasi yang jelas kepada publik akan visi masa depan kotanya dalam bentuk tiga dimensi dan tentunya tanpa sembunyi-sembunyi.

Sebagai negara yang sama-sama masih membangun, kota-kota di Indonesia tidak ada salahnya untuk mau melirik dan belajar dari Cina. Terutama bagaimana kepentingan publik dalam pembangunan urban dan semangat anti korupsi/kolusi bisa dicapai melalui proses sayembara desain. Dengan ini, kegairahan dan semangat membangun kota pun bisa lahir dengan kejujuran, kemuliaan dan tanpa pamrih. Seperti ungkapan seorang juri asing di sayembara masterplan Olimpiade 2008 di Beijing, “May the best idea prevail..”

Written by Admin

September 8, 2018 at 1:18 am

Tragedi Dunia dalam Lensa Semiotika Arsitektur

leave a comment »

Tragedi Dunia dalam Lensa Semiotika Arsitektur
Oleh : Ridwan Kamil
Kompas, januari 2002

SELASA pagi itu dunia terhenyak secara beruntun. Di New York, menara kembarWorld Trade Center runtuh. Di Virginia, gedung segilima Pentagon babak belur dihajar. Di hari kesebelas bulan kesembilan lalu, Amerika Serikat pun berduka. “Ini kejahatan terbesar terhadap kebebasan dan peradaban manusia,” geram George Bush dari Gedung Putih. Namun ironisnya, reaksi dunia ternyata tidak satu suara. “Ah.., itu semua adalah pelajaran buat kesombongan Amerika,” ketus sopir taksi diBeijing.

Lantas pada sisi mana kita akan bersikap? Bukankah hilangnya ribuan nyawa di debu reruntuhan itu adalah kesedihan universal? Mungkinkah reaksi dunia akan seragam jika yang dihancurkan ternyata sebuah rumah sakit? Mungkin saja. Tapi kenyataannya, reaksi dunia memang terbelah dua. Bahkan untuk melabeli pelaku dengan sebutan ‘teroris’ pun dunia ternyata sering tidak sepakat.  Sebutan ‘teroris’ di belahan dunia sebelah sini, bisa berarti ‘pahlawan’ atau ‘pejuang’ di belahan dunia yang lain.

Di selasa hitam itu para teroris tampaknya mafhum benar dalam memilih target dan estimasi dampak psikologis dari aksinya. Mereka memilih menara kembar WTC dan Pentagon. Mereka paham bahwa tidak ada yang lebih mewakili kapitalisme ekonomi Amerika Serikat selain downtown Manhattan beserta menara kembarnya. Juga tidak ada yang lebih bisa merefleksikan simbol kekuatan -mungkin kesombongan- militer Amerika Serikat selain benteng segilima Pentagon tersebut. Pendek kata, sasaran yang dipilih adalah simbol-simbol fisik yang merepresentasikan nilai dari segugus mitos raksasa bernama Amerika Serikat.

Karenanya tidak heran jika reaksi terhadap  tragedi ini saling beroposisi. Seorang pengusaha di kota Bandung mengaku punya hobi baru menonton ulang rekaman runtuhnya menara kembar WTC ini. “Ada kesenangan tersendiri menonton rontoknya kesombongan Amerika Serikat,” ungkapnya. Kontras dengan kesedihan Elizabeth McLaughlin dari Pentham, New Yok yang kehilangan suaminya di pagi itu. Ia selalu tersedu-sedan setiap menyaksikan rekaman ulang video tersebut. “Hidup kami ikut hilang di reruntuhan sana,” lirihnya dengan redup.

***

MENGAPA menara kembar WTC dan Pentagon?

Arsitektur, seperti halnya kata dan angka, sering dijadikan masyarakat dalam satu gugus budaya sebagai media untuk berkomunikasi atau menjadi simbol sebuah nilai.  Menara kembar WTC yang dirancang arsitek Minoru Yamasaki ini, di mata warga Amerika Serikat adalah simbol suatu kebanggaan dan keberhasilan. “Mereka dulu dibangun untuk menjadi simbol kejayaan ekonomi Amerika dalam seratus tahun ke depan,” jelas Larry Silverstein, properti developer menara kembar WTC ini.

Namun tampaknya tidak semua berpendapat sama. Di sebagian dunia ketiga, menara kembar ini malah dibaca sebagai simbol dari ketidakadilan dan kesombongan kapitalisme ekonomi Amerika Serikat. Perbedaan interpretasi makna tersebut kemudian bermuara pada justifikasi subyektif para ‘musuh’ Amerika Serikat untuk mencoba berulang kali menghancurkan simbol sekaligus  nilai yang mereka benci setengah mati ini.

Perbedaan ‘membaca dunia’ dan interpretasi makna ini sempat ditelaah melalui pendekatan semiotika. Semiotika sendiri adalah ilmu tentang tanda (sign). Namun ia juga adalah sebuah proses mental. Proses ketika kita mencoba menemukan makna (meaning) suatu obyek melalui rekonstruksi dan kombinasi tanda-tanda. Tanda yang kita rekonstruksi dan pinjam tersebut dapat berupa sebaris kata, sejumlah angka, selembar foto, sekelebat bahasa tubuh, sedenting bunyi ataupun sebuah karya arsitektur. 

Seperti juga kata hijau. Makna kata hijau yang awalnya kita sepakati untuk menjelaskan satu dari tujuh spektrum warna, kini sudah melebar menjadi ragam makna yang luas. Dengan satu kesepakatan kultural, hijau kemudian bisa berarti identitas Islam, bisa pula bermakna belum matang alias muda. Hijau juga bisa berarti karakter fisik sehelai daun atau bahkan identitas sekelompok tentara. Cara pembacaan seperti ini juga sering terjadi pada karya arsitektur. Melalui kacamata visual semiotics atau semiotika visual, identitas sebuah karya arsitektur pun akhirnya bisa melar dan mengalir  menggelontorkan makna yang ragam.

Dilihat dari esensinya, Taj Mahal di India mungkin hanyalah sebuah istana untuk menaungi sepetak mausoleum. Masjid Babri di India yang sudah hancur lebur itu mungkin hanyalah sebuah tempat ibadah. Dan gedung MPR/DPR di Jakarta juga mungkin hanyalah sebuah gedung rapat atau ruang sidang. Namun akibat dekapan mitos, bius sebuah impian, dengus kebencian atau gelegar peristiwa bersejarahlah yang kemudian menyihir mereka menjadi sebuah simbol nilai, melebihi esensi fungsinya.

“Taj Mahal adalah cinta,”  ungkap Raja Syah Jahan.

“Kubah ini adalah simbol agresi Islam di lokasi munculnya Dewa Krisna”, teriak seorang Hindu  fanatik sambil memalu remuk kubah Masjid Babri di Ayodhya, India.

“Gedung DPR ini adalah simbol demokrasi. Ia adalah rumah rakyat, rumah anda semua!..,” teriak basa-basi seorang anggota DPR dihadapan ribuan buruh pendemo.

***

DI AWAL abad 20 lampau, Ferdinand de Saussure, pemikir semiotika strukturalis Perancis, memperkenalkan lebih lanjut konsepsi penanda (signifier) dan petanda (signified) dalam proses pencerapan sebuah makna secara semiotika. Esensi sebuah meja, pakaian, gedung, bukit ataupun ekspresi wajah adalah barisan contoh dari signifier. Sementara konsepsi fungsi meja, makna pakaian kebaya, ide filosofis sebuah karya arsitektur, makna kosmologis sebuah bukit atau kerlingan mata yang diartikan sebagai kegenitan, adalah deretan contoh dari signified.

Namun konsepsi di atas tidak secara mendalam membahas mengapa tanda yang sama bisa bermakna ganda atau bahkan berlawanan, seperti perbedaan interpretasi makna menara kembar WTC tadi. Pertanyaan ini kemudian dijawab Roland Barthes yang menyempurnakan pemikiran Saussure tersebut dengan konsepnya tentang adanya proses denotatif dan konotatif dalam pencerapan makna. Denotatif adalah hal yang tersurat, atau esensi suatu obyek apa adanya. Sementara konotatif adalah interpretasi makna yang dipengaruhi oleh kondisi emosional, sosial dan mental budaya si pengamat.

Secara denotatif, sebuah rok adalah kain tekstil untuk menutupi bagian tubuh dari pinggang kebawah. Sebagian dari kita kemudian memaknainya secara konotatif sebagai citra wanita. Namun tidak demikian halnya di Skotlandia. Di sana para laki-laki bangsawan mengenakan rok atau Scotish Kilt justru sebagai atribut kebanggaan para pria highlander dan identitas klan mereka. Itulah mengapa, konsepsi makna suatu tanda atau signified tadi hanya mudah dikomunikasikan dalam wadah kultural yang sama.

Aspek kultural juga sangat kental pengaruhnya dalam pencerapan makna konotatif dalam arsitektur. Pernah suatu ketika mahasiswa baru ITB yang datang dari kotakecil di Jawa Tengah terkecoh dengan arsitektur Masjid Salman yang memilki kubah terbalik.  Ia, yang kebingungan, kemudian malah memasuki asrama mahasiwa yang ia kira sebagai masjid, karena bentuk atapnya yang limas berundak.

Misinterpretasi ini terjadi, karena umumnya masyarakat Muslim Indonesia terbiasa mengasosiasikan bangunan beratap kubah atau limas berundak sebagai masjid. Saking kentalnya interpretasi makna ini, sering kita temui kubah-kubah alumunium –sebagai simbol masjid- bergeletakan dan dijual eceran di pinggiran jalan. Akibatnya, saat persepsi makna dan logika budaya ini dibalik, seperti kasus Masjid Salman, ternyata tidak semua khalayak mampu menangkap makna barunya.

Selain latar kultural, situasi sosial dan emosional pengamat juga menjadi penting. Bahkan sangat mudah untuk dimanipulasi. Secara denotatif, gedung Wisma Dharmala di Jakarta, yang sempat dikagumi di tahun 80-an karena eksperimen idiom arsitektur tropisnya, adalah gedung perkantoran. Namun seorang fotografer pernah memotretnya dari lokasi dan sudut yang tidak lazim. Lensanya ia kontraskan dengan menempatkan pemukiman kumuh sebagai fokus latar depannya. Seketika, foto itu pun menjadi multi makna. Akibatnya, ketimbang mendiskusikan desain arsitektur, sebagian pembaca malah secara sinis mengomentarinya sebagai simbol tipikal modernisasi negara ketiga yang sering berdiri kontras dan berpelukan dengan wajah kemiskinan.

Manipulasi intensional makna konotatif ini pula sempat ditelaah Edward Said, dalam konteks bagaimana Islam dipandang oleh dunia. Dalam sampul buku Covering Islam karya Said itu, terpampang foto seorang fotografer sedang membidik seorang muslim yang tengah garang mengokang senjata. Foto ini dipakai sebagai sindiran, bahwa kebenaran dan realita tentang Islam, seringkali dengan mudah dimanipulasi dan difokuskan sisi radikalnya oleh media Barat. Seperti yang disinyalir juga oleh Milan Kundera, sastrawan Cekoslovakia, kekuatan image atau imagologi akhirnya seringkali menelikung realita. Karenanya John Fiske, seorang pemerhati semiotika, menjelaskan bahwa makna denotatif adalah “what is photographed” dan makna konotatif adalah “how it is photographed”.

***

DALAM konteks geografis dan kota, pemahaman sense of place juga lahir ketika manusia bersama-sama menyepakati untuk menorehkan makna khusus terhadap suatu ruang. Alun-alun menjadi penting karena disepakati sebagai pusat geografis suatu kota. Istana Yogyakarta menjadi sakral karena disepakati makna kosmologisnya. Yerusalem menjadi suci karena disepakati makna religius dan historisnya.

Namun tanpa kesepakatan makna bersama atau communal meaning, maka ruang-ruang tadi hanyalah sepetak entitas tiga dimensi. Ia kemudian terreduksi menjadi sebuah space saja. Sebuah dimensi dengan panjang, lebar dan tinggi belaka. Dan tanpa kesepakatan tadi, manusia terbukti sering  berkelahi dan bersengketa akan makna suatu obyek atau ruang geografis yang sama.

Kota suci Yerusalem Al-Quds adalah kasus klasik. Sebuah titik geografis silang sengketa berabad-abad dari tiga agama samawi dunia. Terutama di sebuah bukit bernama Bukit Moriah. Bukit tempat Ibrahim mengurbankan Ismail ini, selalu diklaim kaum Yahudi sebagai tempat suci mereka. Di sini, menurut mereka, adalah lokasi tempat berulangkalinya dibangun dua kuil suci umat Yahudi, termasuk Istana Sulaeman. Yang pertama dihancurkan Raja Persia Nebukadnezar di tahun 587 SM dan yang kedua dibakar Jenderal Romawi Titus di tahun 70 M. Puing yang tersisa hanyalah sepetak tembok batu di sisi bukit, dikenal sebagai Tembok Ratapan atau Wailing Wall, yang kemudian dijadikan tempat ibadah dan ziarah tersuci umat Yahudi.

Namun di bukit itu pula, Masjid Umar atau Dome of the Rock yang dibangun Kalifah Abdul Malik di tahun 684-690 M berdiri tegak berdekatan dengan Masjidil Aqsa. Sementara tak jauh dari bukit Moriah, berdiri juga Gereja Makam Suci atau the Holy Sepulchure yang dijadikan tempat ziarah suci kaum Kristiani. Gereja ini dibangun di tahun 335 M atas perintah Ratu Helena, ibu dari Kaisar Constantine, di lokasi yang dipercayainya sebagai tempat hari-hari terakhir Isa Almasih.

Akibatnya sungguh dahsyat. Selama berabad-abad  puluhan ribu nyawa kaum Yahudi, Kristiani dan Muslim pernah hilang dalam proses perebutan klaim makna religius dan hak politik atas kota Yerusalem dan bukit Moriah tersebut. Dari mulai Perang Salib di tahun 1099-1187 sampai Perang Enam Hari di tahun 1967. Dari mulai Raja Herod, Iskandar yang Agung, Jenderal Titus, Saladin, Raja Richard sampai tokoh kontroversial Ariel Sharon, sempat mewarnai konflik berkepanjangan atas tanah dan ruang geografis yang multi makna ini.

***

Jerih kelelahan demi kelelahan dari pertentangan antar umat manusia di atas, membawa kita pada dahaga pertanyaan, apakah arti sebuah kebenaran? Dimanakah kebenaran ketika putih disini bisa menjadi hitam di sana? Dicaci sebagai teroris sebelah sini, ternyata dieluk-elukan sebagai pejuang di sebelah sana? Kehausan ini akhirnya menoreh pada garis kesimpulan sementara. Bahwa pada akhirnya, kebenaran-kebenaran versi manusia, seringkali hanyalah sebuah temali kesepakatan.

Dunia ini diciptakan Tuhan sedemikian indahnya. Namun seringkali kerusakan alam dan pertentangan peradaban terjadi hanya karena umat manusia tidak pernah sepakat dalam cara memandang dan memaknai dunia. Karena itu di sisi lain, semiotika mengajarkan sebuah kearifan. Kearifan tentang kemungkinan hadirnya makna-makna lain dari nilai-nilai yang selama ini kita yakini.

Setetes kearifan sederhana. Kearifan bertoleransi.

Written by Admin

September 8, 2018 at 1:11 am

Hiper-realitas Kota Kita

leave a comment »

Hiper-realitas Kota Kita
Oleh : Ridwan Kamil
Kompas, Minggu 3 Maret 2001

“SUGUHI kami dengan fantasi, dan bawalah kami ke dunia khayal yang terjauh,”ungkap Robert Thompson, presiden International Pop Culture Association dalamsatu kesempatan. Ungkapan Thompson tersebut adalah refleksi dari nafas kehausan sebagian besar masyarakat Barat yang saat ini beramai-ramai mencari lorong dan ruang-ruang pelarian budaya. Fantasi, khayal dan godaan budaya tontonan tampaknya telah menjadi norma budaya keseharian sebagian besar masyarakat Barat saat ini.

Di sebagian besar kota-kota dunia saat ini, gelombang theme-park dalam desainurban dan arsitektur tampaknya sedang menghipnotis perilaku budaya massa. 30hektar artefak sejarah dinasti Cina ataupun situs kematian Isa Almasih di Jerusalem kuno ternyata berhasil direkonstruksi ulang seperti aslinya di Florida, Amerika Serikat. Skala satu banding satu kota Venesia pun bisa dinikmati di Las Vegas. Kemeriahan Disneyland dan Universal Studios ternyata sudah bisa diekspor ke Eropa, Jepang dan Cina. Di Jakarta dan Kota Ahmedabad di India, beragam legenda tujuh keajaiban dunia bisa dihadirkan sebagai tema dalam keseharian kompleks perumahan urban.

***

FENOMENA urbanitas kontemporer masyarakat metropolis tampaknya semakin kompleks saja. Hegemoni pisau konsumerisme dan budaya massa di era kapitalisme lanjut (late capitalism) ini begitu dalamnya menusuk segala sudut kebudayaan, tidak terkecuali urbanisme dan arsitektur. Lahirnya fenomena theme-park urbanism adalah salah satu contohnya, dimana beragam artefak fisik yang lepas dari konteks ruang geografis dan waktu, dengan begitu mudah dipinjam, dilipat,direproduksi dan diduplikasi dengan sempurna menjadi komoditas.

Ruang, waktu dan sejarah yang dibekukan ini bahkan sering terlihat lebih nyata, lebih surealis dan lebih dramatis dari aslinya.Contoh-contoh fenomena di atas memang paling mudah dilihat dan diselami di Amerika Serikat. Pemikir kebudayaan Jean Baudrillard menyebut Amerika sebagai tempat kelahiran ‘budaya tanpa referensi’ dan panggung ‘tour de force’ konsumerisme massa. Disneyland, Universal Studio, permukiman Celebration dan tentu saja kota Las Vegas kemudian menjadi contoh-contoh bagaimana theme-park urbanism ini hadir dan berhasil mensimulasikan fiksi dan khayal kedalam kehidupan urbanitas nyata masyarakat Amerika Serikat. Ia kemudian menjadi media dimana perbedaan fakta dengan fiksi, media dengan esensi seringkali menjadi tidak penting lagi.

Dengan menguapnya batas ruang dan waktu di era teknologi informasi danglobalisasi saat ini, kepingan-kepingan ‘budaya tanpa referensi’ tersebut akhirnya terbang, berjatuhan dan hadir juga di depan hidung kita. Ia kemudian hadir di berbagai tempat dalam berbagai bentuk. Di Jakarta, theme-park urbanism ini ternyata tidak hanya digagas sebagai sarana hiburan semata seperti Dunia Fantasi di Ancol. Namun secara laten, tampaknya ada sebagian dari kita yang sedang bereksperimen membawa misi sindrom Las Vegas ini ke dalam keseharianurbanitas nyata Kota Jakarta.Di Jakarta, perumahan yang bersebelahan dengan artefak Borobudur dan Colloseum Roma kuno ternyata bisa dihadirkan berbarengan dengan munculnya perumahan berarsitektur kastil abad pertengahan Eropa, bersuasana Kota Kyoto atau Paris sebagai tawaran tempat berhuni sekaligus berbudaya.

Ini adalah pecahan cermin dari satu kondisi kontemporer, dimana masyarakat berhasil dirayu untuk menerima citra sebagai sebuah realitas nyata, walaupun disadari bahwa yang terjadi hanyalah pemalsuan kebenaran dan dramatisasi realitas.

***

Fenomena ini juga kemudian menjadi ajang perdebatan beragam interpretasi makna(polysemy). Interpretasi antara sebuah kecerdasan marketing properti, ataukahsebuah wajah kebodohan dan kemunduran etika yang berdampak pada kemalasanapresiasi budaya di masyarakat. Namun lebih jauh, sosiolog Patrice Noviantberpendapat bahwa hal ini bisa terjadi karena masyarakat konsumer dewasa inimemang haus dalam mengkonsumsi segala sesuatu, tidak hanya objek nyata tapijuga objek tanda (object of sign). Syaraf psikologis mereka juga menurutnya mau dimanja untuk menerima kehadiran certain comfortable of false consciousnessdalam menikmati ruang-ruang arsitektur di lingkungan sekelilingnya.

Hadirnya Kota Paris di Jakarta atau Jerusalem kuno di Florida, juga menjadi teater tempat pencerapan makna ‘sense of place’ bisa dibuat berantakan. Elemen-elemen pembentuk konsepsi ‘place’ seperti ruang fisik sebagai latar (background), interaksi positif manusia dalam ruang tersebut (action) dan interpretasi makna (meaning) akhirnya menjadi absurd.

 Ia menjebak kita untuk mencampuradukkan esensi ruang realitas dengan ruang palsu (pseudo place).Beragam absurditas yang kerap lahir dari fenomena-fenomena diatas, memang mau tdak mau mendorong syaraf kesadaran atau consciousness kita untuk selalu siap berakrobat dalam arus simulasi-simulasi realitas. Berakrobat dalam kemeriahan diktum baru ‘form follows fictions’. Berakrobat dalam era dimana pasangan fiksi dan estetika kerap meluluhkan pasangan fakta dan etika. Sebuah era baru, era hiper-realitas.

***

All that is real becomes simulation.”

Ungkapan diatas adalah peringatan Jean Baudrillard, pemikir kebudayaan pascamodernisme, yang menyatakan bahwa sebagian besar kebudayaan kontemporer dewasa ini hanyalah berupa representasi dari dunia simulasi (simulation). Simulasi adalah rekayasa beragam model realitas yang tidak memiliki konteks, referensi maupun asal-usul. Yasraf Amir Pilliang menyebutnya sebagai“kenyataan” (real) yang ditutupi oleh “tanda kenyataan” (sign of the real). Karena itu, proses simulasi dalam kebudayaan ini biasanya melahirkan realitas-realitas yang melampaui batas-batas konvensional (transgression) yang lazim disebut dengan istilah hiper-realitas.

Oleh Baudrillard ruang-ruang tempat berlangsungnya proses simulasi dalam silang-sengkarut nilai, realitas, tanda dan citra tersebut kemudian diistilahkan sebagai simulacrum atau simulacra. Ia berpendapat, bahwa sebagian besar realitas-realitas zaman sekarang sebenarnya sudah tidak punya referensi lagi kecuali simulacra itu sendiri.

Simulacra juga sering berperan sebagai katalis dalam berkembangnya eklektikisme nilai maupun kolase pecahan-pecahan realitas. Berbagai artefak arsitektur dan desain urban seperti halnya Disneyland, Las Vegas, Colloseum di Jakarta atau replika Jerusalem di Florida yang dibahas di atas, memang akhirnya bisa dipahami melalui analisa simulasi dan simulcara yang digagas Baudrillard.Tanpa kita peduli atau sadari, sebenarnya proses-proses simulasi di simulacrum of space mungkin sudah menjadi norma di kota-kota besar di Indonesia.

Menjamurnya pusat perbelanjaan atau shopping center di kota-kota besar diIndonesia, seperti halnya Mal Pondok Indah dan Plaza Senayan adalah contohsimulasi bagaimana daya tarik realitas urbanisme sudah kalah oleh konsumerisme.Berbelanja di shopping center ini pada dasarnya adalah simulasi pengalaman empirik berbelanja dan jalan-jalan kaum urban (strolling flaneur) di ruang-ruang kota yang dilipat, disatukan dan diminiaturkan ke dalam satu ruang atau bangunan. Sebuah simulation of urbanity dimana shopping center bertindak sebagai ruang simulacrum-nya.

***

Proyek Ancol Walk, yang rencananya akan dibangun di Jakarta dimana konsepnyameniru proyek City Walk di Universal Studios di Amerika Serikat, mungkin menjadi contoh simulasi Baudrillard dalam arsitektur dan desain urban yang tepat. Di proyek ini seperti halnya di Universal Studios, kita diskenariokan dan disimulasikan untuk seolah-olah sedang berjalan, beraktivitas dan menyelami beragam bangunan dan ruang-ruang kota yang sebenarnya semu.Konsekuensi berada di ruang-ruang simulasi atau simulacra ini, pengunjung biasanya dipaksa dan disterilkan perilakunya (controlled behaviour) agar sesuai dengan kategori perilaku urban versi mereka, yang sebenarnya tidak real dan alamiah. Sebuah realitas fasisme baru dalam urbanitas kita.

Jika kebetulan berada di Singapura, cobalah mampir ke Bugis Junction. Di proyekini, tiga buah persimpangan jalan yang terdiri dari deretan ruko tua dipreservasi dan dikonversi menjadi sebuah shopping center modern yang sukses. Uniknya, seluruh badan jalan dipayungi oleh struktur skylight kaca, lengkap dengan AC pendinginnya. Di sini, pengunjung disimulasikan untuk berjalan dan berbelanja di deretan ruko tua yang secara fisik memang asli, namun dalam suasana yang berbeda, lebih nyaman dengan penghawaan udara dan lebih dramatis dari aslinya. Disini kita dibawa ke ruang dalam yang sebenarnya adalah ruang luar, dan sebaliknya ruang luar yang sebenarnya ruang dalam.Jika ditarik ke tataran yang lebih luas, sebagian orang menganggap bahwa dunia simulasi yang bersifat hiper-realitas ini adalah representasi wajah kebudayaan pascamodern, dimana budaya massa, budaya populer, konsumerisme dan nilai tanda menjadi sangat dominan.

Di luar perdebatan apakah pascamodernisme ini adalah pengganti ataukah sekedar perpanjangan proyek modernisme yang belum usai, fenomena-fenomena di diatas setidaknya mirip dengan beberapa ciri budaya pascamodern yang diungkap sosiolog Ariel Heryanto: menguatnya sistem tanda ketimbang makna, emosi ketimbang rasio, media ketimbang isi, permainan ketimbang keseriusan, fiksi ketimbang fakta dan estetika ketimbang etika.Karena itulah Baudrillard kemudian memetakan pascamodernisme sebagai kaca mata pembacaan realitas dan metode analisa kritis kebudayaan kontemporer.

Motivasi-motivasi realitas pascamodernisme ini sendiri kemudian disinyalir sebagian pihak sebagai konsekuensi dari kuatnya hegemoni sistem kapitalisme lanjut (late capitalism), yakni kapitalisme yang mengalami mutasi dari sistem kapitalisme awal. Kapitalisme yang menjadikan faktor konsumsi sebagai determinan utama ketimbang produksi. Kapitalisme yang berusaha mengglobalkan konsumerisme, budaya massa dan budaya tontonan melalui jaringan informasi terkini dan perusahaan multinasional sebagai agen-agennya. Kapitalisme yang secara laten berhasil menjadi sutradara besar yang mampu menyetir dan menskenariokan perilaku budaya masyarakat dewasa ini.

***

Oleh karenanya, sepakat atau tidak, fenomena hiper-realitas kota dan arsitektur ini tampaknya telah menjadi bagian dari paras kebudayaan kontemporer dunia dewasa ini. Di lain pihak, beragam skenario kebudayaan arahan sutradara kapitalisme lanjut lainnya tampaknya akan terus tampil menggoda dan menguras stamina psikologis kita. Pilihannya hanyalah antara diam dan menyerah kalah, atau sebaliknya bersiaga menjaga stamina untuk tetap bisa mencari alternatif-alternatif budaya berkota yang lebih sehat dan lebih baik.

Sebuah tugas yang tidak ringan memang.

Written by Admin

September 8, 2018 at 1:05 am

Arogansi ‘Gated-community’ di Kota Kita

leave a comment »

Arogansi ‘Gated-community’ di Kota Kita
Oleh : Ridwan Kamil
2 Oktober 2008

KEHENINGAN subuh itu tiba-tiba pecah. Sunyi senyap pun tersergap oleh riuh rendah. Di awal April lalu, tidur nyenyak para penghuni kompleks perumahan Darmo Satelit di Surabaya itu terusik oleh teriakan dan letupan amarah warga setempat yang berunjuk rasa. Tanpa terduga, warga yang marah kemudian memblokade gerbang masuk dengan cara mengelas portal-portal besi di perumahan mewah ini. Portal besi simbol rasa aman dan eksklusif itu tiba-tiba berubah menjadi simbol keterasingan dan keterkungkungan, bak penjara yang menakutkan. Saking paniknya, seorang ibu dan anaknya yang harus ujian sekolah terpaksa sampai menyamar dengan pakaian lusuh untuk bisa menyelinap keluar. Memang ironis, ketika negosiasi dan komunikasi sosial membentur jalan buntu, maka simbol-simbol orang miskin-seperti halnya pakaian lusuh tersebut-kemudian dipersepsikan dan dimanipulasi menjadi satu-satunya media yang bisa menyelamatkan nyali mereka.

Hal yang serupa juga terjadi di Cimanggis Depok. Puluhan warga di sekitar perumahan mewah Vila Pertiwi marah besar dan memprotes keberadaan tembok pembatas yang mengelilingi perumahan ini. Tembok setinggi 2,5 meter ini digugat karena dianggap membuat gelap lorong sirkulasi di perumahan miskin yang ada dibelakangnya. Keberadaannya juga dianggap menyalahi aturan, karena sebelumnya tembok tinggi ini tidak pernah tergambar dalam site plan yang diajukan pihak developer ke Pemda. Namun, pihak mana yang menang, sepertinya bisa dengan mudah diduga.

Contoh-contoh ironis kontemporer di atas mengilustrasikan maraknya ancaman friksi sosial yang lahir dari fenomena negatif suatu desain perumahan yang lazim diistilahkan dengan sebutan ‘gated community’.  Praktek pembentengan kawasan perumahan dengan tembok tinggi dan akses tunggal ini memang sedikit banyak merefleksikan melemahnya dimensi sensitivitas sosial masyarakat di kota-kota besar. Faktor kepentingan ekonomi developer maupun kesan prestise dan eksklusif penghuni tipe perumahan ini terkadang sering ingin ditonjolkan melebihi kebutuhan rasa aman mereka.

Gelisah Andre Gide tidaklah keliru. Jurnalis pemenang Nobel ini sempat mengungkap bahwa bau jurang kemelaratan biasanya paling tajam tercium dan terlihat di kota-kota besar. Di sanalah ekses budaya dan friksi sosial saling sinis berpapasan dan bersentuhan. Di sana pulalah libido
sensasi-sensasi sosial pemicu friksi tersebut mengambil tempat. Di Jakarta, tidaklah mustahil jika kehadiran benteng-benteng tinggi yang sering provokatif itu sama banyaknya dengan dengusan perjumpaan antara proletar-proletar miskin lusuh dengan orang-orang necis yang biasa menghabiskan belanja jutaan rupiah dalam sekejap.

***

Menurut Mary Gail Snyder, sosiolog pengarang buku Fortress America, penyebab lahirnya gejala ini dapat dibagi menjadi beberapa aspek. Pertama adalah aspek prestise, dimana tinggal di kawasan elit berbenteng ini dianggap sebagai media imaji untuk menaikkan status sosial. Kedua adalah aspek ekonomi, dimana dalam sudut pandang developer, kawasan eksklusif gated community dinilai akan mampu menaikkan nilai lahan dan mudah untuk dijual. Sedangkan yang terakhir adalah aspek keterpaksaan, dimana pembentengan ini memang kadang terpaksa dilakukan karena berada di kawasan kota yang sangat rawan kriminalitas.

Nafsu prestise/gengsi melalui arsitektur yang diungkap Snyder ini memang lazimnya banyak dipengaruhi oleh godaan psikologis dan didikan budaya yang membentuk manusianya. Meminjam pemahaman seorang pemikir semiologi, Umberto Eco, wujud arsitektur itu selain menjadi obyek fungsional, juga sering dijadikan manusia sebagai objek atau media simbolik. Dalam perjalanan sejarah budaya manusia, arsitektur memang lazim dimaknai dan dibaca dengan beragam interpretasi melebihi aspek fungsionalitasnya. Seperti halnya menara Eiffel yang dibaca sebagai simbol KotaParis, simbol cinta yang romantis atau beragam simbol lainnya, padahal Gustav Eiffel yang merancangnya hanya punya visi untuk menonjolkan menara ini sebagai simbol utilitas struktur semata.

Oleh karenanya beragam perumahan mewah berbenteng tinggi ataupun rumah-rumah putih bergaya Neo-klasik yang bertaburan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya sering dimaknai oleh sebagian masyarakat kita sebagai simbol atau kartu nama dari suatu kelas sosial. Nafsu simbolik ini seringkali menjebak kita sehingga melahirkan persepsi bahwa seolah-olah tidak ada pilihan lain dalam gayaberarsitektur rumah mewah kecuali dengan gaya Neo-klasik tersebut. Demikian pula dengan konsep negatif gated-community yang mempersepsikan seolah-olah tidak ada pilihan lain dalam mendesain batas fisik suatu kawasan perumahan kecuali dengan benteng
tinggi lengkap dengan kawat berduri.

Harus diakui bahwa kaya akan harta memang tidaklah selalu berbanding lurus dengan kecerdasan seseorang dalam memahami desain yang baik maupun kearifan dalam membuka keran komunikasi sosial. Atas dasar selera massal dan gejala hedonisme psikologis masyarakat inilah, sebagian developer perumahan berhasil menemukan celah pangsa pasarnya. Beragam konsep pemasaran properti yang menawarkan rumah bergaya negeri dongeng atau replika kota-kota dunia akhirnya membanjiri lingkungan kita. Konsep-konsep simbolik ini dianggap
mampu menempelkan simbol-simbol status sosial serta memberi kepuasan akan ilusi-ilusi psikologis para pembelinya. Dan memang terbukti, konsep-konsep ini laku keras dan diminati oleh sebagian besar warga kota kita.

Beragam fenomena negatif di atas kemudian diperburuk oleh aliran deras dari gelombang kerusuhan sosial politik yang menghantam kota-kota besar Indonesia sejak lengsernya rezim Soeharto dua tahun lalu. Serempak, rumah-rumah berarsitektur benteng pun meningkat dengan tajam baik secara kualitas dan kuantitas. Pagar rumah setinggi 2.5 meter lengkap dengan
pecahan belingnya seolah menjadi pemandangan yang lumrah. Rasa tidak aman yang akut dan ketakutan yang kontinyu ini kemudian melahirkan variasi desain bangunan dan kawasan perumahan yang hiper defensif yang disebut sebagian orang dengan istilah architecture of fear.

Kehadiran fenomena architecture of fear ini kemudian memperumit kondisi sosial budaya kota yang sebenarnya sudah cukup parah dan akhirnya menjadi katalis dari sakitnya manusia-manusia kota secara psikologis. Sakit psikologis yang lazim lahir dari rasa ketakutan yang berlebihan dan bermuara pada tingkat individualitas yang tinggi ini kemudian ditelaah sosiolog Robert Bellah sebagai “hyper-individualism syndrome”.

***

FENOMENA-fenomena serupa pun banyak terjadi di negara-negara kapitalis maju seperti halnya Amerika Serikat. Di negeri yang mendewasakan privasi dan individualitas ini, tercatat sudah delapan juta orang bermukim di sekitar 30 ribu perumahan yang mengadopsi konsep negatif gated community tersebut. Walaupun alasan paling lazim adalah faktor keamanan, namun banyak sosiolog yang berargumen bahwa pembentengan ini hanyalah akan menciptakan rasa aman yang bersifat parsial dan merangsang friksi sosial karena tonjolan provokasi eksklusivitasnya.

Giuseppe Sacco, seorang ahli geografi Italia, menyebut fenomena ini sebagai medievalisasi struktur sosial masyarakat, dimana masyarakat cenderung kembali ke pola permukiman klan-klan pada abad pertengahan yang dibatasi oleh benteng-benteng tinggi dan gardu jaga. Semua yang di luar benteng biasanya selalu dianggap sebagai ancaman dan musuh yang harus diwaspadai
dan dicurigai. Namun beberapa tahun ke belakang ini, efek-efek negatif yang sering lahir dari fenomena isolasi sosial ini akhirnya memaksa banyak kota di Amerika Serikat mulai mengeluarkan undang-undang yang melarang pihak developer untuk membentengi proyek-proyek perumahannya tanpa alasan yang krusial.

Menjawab isu di atas, sebagian arsitek dan developer yang tercerahkan sudah mulaimemperkenalkan konsep green buffer dengan mengganti benteng-benteng tinggi tersebut dengan deretan pohon-pohon rindang di batas kawasan, yang kemudian bisa dimanfaatkan juga oleh lingkungan warga setempat. Lebih lanjut, arsitek Peter Calthorpe pun sempat berargumen bahwa pendekatan desain yang sensitif dan kreatif seperti memperbanyak polisi-tidur, sudut
belokan yanag tajam, desain pagar yang transparan, lampu jalan yang memadai ataupun neighborhood watch sebenarnya bisa lebih efektif dalam mewujudkan rasa aman lingkungan. Bahkan sejak tahun ’60-an sosiolog urban terkenal Jane Jacobs sebenarnya sudah mengingatkan bahwa ‘eyes on the street’ atau kepedulian aktif warga terhadap lingkungan sekelilingnya merupakan pijakan terkuat dan mendasar dalam mewujudkan rasa aman dan ikatan sosial warga.

Seperti yang diungkap sosiolog Amitai Etzzioni dalam konsep’ revitalization of communitarianism’, mudah-mudahan kita di Indonesia tidak sampai perlu melakukan sebuah revolusi sosial atau menunggu beberapa generasi hanya demi mengembalikan rasa kekeluargaan dan sensitivitas sosial yang sebenarnya telah menjadi nilai luhur timur bangsa kita.

Ataukah sebaliknya, mungkin kita cukup bersikap pasrah saja karena budaya kekeluargaan yang diajarkan sejak kita duduk di bangku sekolah dasar itu sebenarnya hanyalah ilusi mewah semata.

Written by Admin

September 8, 2018 at 12:59 am

(No) Tears in Heaven

leave a comment »

“(No) Tears in Heaven”
Oleh : Oscar Motuloh
Desember 2010

Banyak jalan ke Roma. Rutenya menjadi putusan hati. Galih Sedayu memilih fotografi untuk mengungkap ekspresi dan berbagi pengalaman spiritualnya perihal kepergian salah satu dari putri kembarnya saat dilahirkan. Dalam genre dokumenter, Galih menuangkan ungkapan hatinya dengan merekam perjuangan buah hatinya yang masih diperkenankan Ilahi beroleh kehidupan yang indah di bumi yang fana ini. Eufra, sang penyintas, menjadi simbol kekuatan keluarga, saat duka menyelimuti waktu hingga tangan mungilnya menghentak dan seringai senyuman untuk pertama kali menghiasi wajahnya.

Dengan kamera saku Galih mencatat simbol-simbol waktu dan tanda-tanda kehidupan., level yang terus bergerak pada inkubator, tangan kaku yang perlahan bergerak menandakan harapan. 

Ranah personal juga menjadi sub genre yang didekati Galih. Suatu cara untuk mengaitkan langsung kisah dan pencatatan visual Eufra dari mata Galih sebagai kata ganti orang pertama. Medium hitam putih terbaca sebagai metronome kehidupan dimana detak jantung berfungsi sebagai sebentuk momentum keyakinan. Mari simak apa yang dilakukan Nan Goldin dengan proyek-proyek aku sebagai inti perhatian. Atau juga Robert Frank pada era sebelumnya. Pendekatan personal bukan soal individualistik yang narsis, dia lebih pada cara yang melibatkan siapapun yang mengapresiasi rangkaian karya-karya perihal simbol kehidupan Eufra, menjadi dirinya. Pendekatan ini lebih mengarahkan keterlibatan jiwa melalui kekuatan penglihatan.

Ketika kita menyimak sebentuk rangkaian requeim visual dari ekspresi seorang ayah yang tentunya mewakili kepedihan sang istri, maka sesungguhnya dia adalah bagian dari pernik kehidupan. Fotografi mengabadikan kefanaan untuk kita-kita yang masih menyisakan usia di bumi. Namun citra karya fotografi sesungguhnya bersifat kekal, karena dia menciptakan karya yang mengabadikan waktu, sama seperti kematian yang menjadi perantara keabadian. Tangisan di sorga?, seperti yang disedu-sedankan gitaris Eric Clapton? Tampaknya tidak, sorga nun tinggi di atas sana, adalah keabadian itu sendiri. “(No) Tears in Heaven”.

Written by Admin

September 7, 2018 at 1:46 am

Kota Dalam Belenggu Politik “Identitas”

leave a comment »

Kota Dalam Belenggu Politik “Identitas”
Oleh : Ridwan Kamil
2 Oktober 2008

“HARUS Jakarta!” ujar Bung Karno di suatu hari.

Di bawah terik lapangan Ikada, dihadapan sekelompok pemuda antusias, ia berpidato tentang mengapa Jakarta harus menjadi ibukota Indonesia. “Bukanlah Surabaya yang kotanya orang Madura dan Jawa.”  “Bukan pula Bandung, sebesar-besarnya Bandung, itu adalah kota Sunda.” Di mata Bung Karno, hanya Jakartayang layak dikedepankan sebagai ibukota dan etalase identitas bagi Indonesia baru. Lainnya hanyalah kota-kota daerah.

Bung Karno  ingin Jakarta menjadi ‘The beacon of the New Emerging Forces’. Ia yang pada dasarnya ingin harga diri bangsa Indonesia terangkat setelah hancur dalam era kolonialisme, sempat memimpikan Jakarta sebagai yang terbesar, terdepan dan termegah. “Lihatlah New York atau Moskow,” tunjuknya.

Dan kita pun tahu kemana obsesi itu berlanjut. Tanah Senayan digerus dan 5000 keluarga diusir untuk pembangunan kompleks Stadion terbesar. Ruas jalan Thamrin dan Semanggi dihamparkan sebagai koridor bisnis. Masjid Istiqlal  dibangun sebagai yang termegah dan tugu Monas yang monumental pun ditegakkan. Semuanya menjadi parade pesan Bung Karno agar identitas baru Jakarta dilirik, dibaca dan diakui oleh komunitas internasional.

***

MENGAPA  konsep beridentitas sebegitu penting?

Identitas adalah cara untuk menjaga ‘karakter’ dan ‘sifat beda’ kita. Gaya hidup, strata sosial, agama, usia, ras/etnis, bendera kelompok sampai orientasi seksual umumnya menjadi referensi penting dalam eksistensi identitas. Dan untuk memahaminya, kita biasanya perlu cermin pembanding. Kehadiran ‘mereka’ atau ‘other’ sebagai pembanding yang berbeda menjadi penting  untuk memahami siapakah gerangan ‘kita’ atau ‘self’.

Kelompok yang merasa dirinya lebih baik, cenderung menjadikan dirinya sebagai referensi dan secara sepihak menegasikan identitas-identitas diluar dirinya. Max Weber dalam “The City” di tahun 1921 merumuskan identitas masyarakat urban dunia dalam dikotomi ‘Occidential vs Oriental’. Baginya, identitas ‘Occidental’ alias ‘Barat’ tadi eksis sebagai kebalikan dari apa-apa yang menjadi ciri ‘Oriental’. Dan ketimbang memahami ‘Timur’ sebagai segugus sistem hidup yang saling melengkapi, ‘Barat’ malah mengukuhkan identitasnya dengan melabeli ‘Timur’ dengan segala keburukannya.

Persis seperti yang dilakukan psikiater Belanda P.H. Travaglino, yang menyimpulkan di tahun 1920, seperti yang dikutip Goenawan Mohamad, bahwa identitas orang Jawa dewasa umumnya tidak memiliki kematangan psikologis dan masih bersifat ‘kinderlijk niveau’ alias kekanak-kanakan. Kajian ‘ilmiah’ yang dipakai Belanda sebagai pembenaran untuk memperpanjang kolonialisme-nya di Indonesia. Sebuah cara pandang filosofis yang dicoba dilawan dalam diskursus poskolonial.

Karena mentalitas selalu melihat ‘Barat’ sebagai referensi inilah, tidak heran jika Roland Barthes dalam ‘Empire of Sign’, menceritakan kebingungannya berorientasi di Tokyo. Di Tokyo, menurut Barthes, rasionalisasi urutan jalan, alamat yang mudah dibaca dari peta, ‘main street’, maupun pusat kota tidaklah hadir seperti di kota-kota Amerika atau Eropa. Ini karena, cara penduduk Tokyo berorientasi memang berasal dari pengalaman mereka menyelami ruang-ruang organik kotanya. Dari memori sebuah ‘lived space’. Bukan dari pembacaan rasionalitas sistem kotanya seperti halnya kota-kota Amerika

***

“CITY air makes you free,”  cetus pepatah Jerman kuno. Ini karena kota adalah artefak terbesar dari aspirasi budaya manusia. Tempat mimpi beradu dan ambisi hidup bebas bersaing. Struktur dan wajah kota pun bisa bercerita tentang kompleksitas persilangan identitas masyarakatnya.. 

Yang paling mencolok sekaligus tak terasa adalah bagaimana kapitalisme mendeformasi struktur dan wajah kota berdasarkan strata kelas ekonomi. Strata identitas ini mudah terbaca dari lokasi dan lingkungan tempat mereka tinggal. Kaum miskin kota umumnya tinggal di tempat kumuh dan sumpek, sementara kaum berpunya tinggal di lokasi mahal dan umumnya berdensitas rendah. Teori lokasi ini biasanya sebangun dengan strata sistem produksi ekonomi kapitalis yang dianutnya. Akibatnya konsep sosial ‘mixed income & mixed density’ seperti di Bijlmermeer Belanda tahun 1992 atau di kota-kota Skandinavia lainnya menjadi konsep yang terasa asing. Fenomena kapitalisme kota ini sering dikaji kelompok ‘Marxian Urbanism’, yang melihat kota sebagai arena konflik antar kelas sosial, seperti dirintis Manuel Castells sejak “The Urban Question” di tahun 1977

Sementara itu, cara negara memproduksi identitas kolektif melalui arsitektur atau desain urban seperti Sukarno, juga terjadi di Mesir di era Anwar Sadat. Ia juga terobsesi untuk menampilkan identitas Kairo yang baru kehadapan dunia. Untuk itu ia butuh Kairo yang manis, bersih dan modern. Dengan slogan ‘open-door policy’ atau ‘infitah’, Sadat menghancurkan dan mengusir belasan ribu jiwa dari jantung kota Kairo untuk proyek-proyek mega atas nama modernisasi dan dolar turisme internasional.

Jerman di era Hitler pun sempat merencanakan hal serupa. Ia yang dibantu arsitek Albert Speer sempat merencanakan untuk merekonstruksi Berlin dalam skala raksasa dan menggunakan ruang kota sebagai alat disiplin dan intimidasi identitas ‘Germania’.  Kasus serupa lainnya bisa kita baca dalam sejarah Brasilia ataupun Chandigarh di India.  Di kota-kota tadi, para penguasa politiknya cenderung terobsesi menjadikan wajah kota sebagai etalase politik identitas. “A city of parades and spectacles,” komentar Peter Hall.

Identitas kelompok berdasarkan ras dan etnis pun masih banyak ditemui dalam struktur kota yang seharusnya bersifat kosmopolitan. Chinatown atau Pecinan adalah contoh identitas ras yang eksis di banyak kota-kota besar di seluruh dunia. Litle India dan Arab Street di Singapura, Harlem untuk kulit hitam dan Litle Italy untuk imigran Italia di Manhatan juga menjadi contoh-contoh segregasi komunitas kota berdasarkan ras.

Di Indonesia lain lagi. Di sini keyakinan beragama pun bisa hadir sebagai identitas lingkungan binaan. Griya Islami dan Vila Ilhami di Tangerang, Telaga Sakinah di Bekasi dan Taman Firdaus di Bogor adalah contoh-contoh perumahan yang membawa nama Islam atau ‘suasana Islami’. Ini unik. Walaupun hidup di negeri dengan 80 persen pemeluk Islam, ternyata eksistensi identitas beragama masih harus dikukuhkan juga melalui fisik religius lingkungan binaannya.  Ruang-ruang di rumah yang menghadap kiblat, sarana perniagaan khusus untuk merek-merek islami adalah beragam contoh ekspresi keagamaan dalam fisik lingkungan binaan versi pengembang.

Sementara di Amerika atau Eropa, lapisan identitas masyarakat berdasarkan gaya hidup atau orientasi seksual juga banyak terekam. Kelompok dengan gaya hidup seniman atau bohemian ini bisa ditemukan menetap di distrik Soho di London, Greenwich Village di Manhattan, Telegraph di Berkeley atau Garcia di Barcelona. Sementara Oxford Street di Sydney atau distrik Castro di San Francisco sekarang mungkin menjadi lokasi komunitas terbesar dunia bagi kaum gay dan lesbian. Dan untuk mengklaim eksistensi identitas mereka, biasanya acara ‘gay parade’ dijadikan ritual utama tahunan, terutama di San Francisco, Manhattan dan Sydney sebagai agenda politiknya.

Gerakan feminisme pun tidak ketinggalan. Jane Jacobs dan Dolores Hayden memotori gerakan moral untuk meredefinisi kota-kota Amerika yang cenderung patriarki sentris. Jarangnya fasilitas penitipan anak, transportasi urban yang tidak nyaman, desain hunian urban yang tidak ‘defensible’, menyebabkan banyak perempuan kesulitan untuk beraktivitas produktif seperti halnya kaum lelaki. Di sisi lain, mereka juga menganggap sub-urbanisasi berhasil ‘membuang’ kaum perempuan untuk duduk mengurusi rumah tangga semata. Gerakan ini sempat menghentikan program ‘urban renewal’, membuat masyarakatnya mempertanyakan kembali konsep sub-urbanisasi dan mengangkat pentingnya isu feminisme dalam konteks kota di Amerika.

***

LAPIS demi lapis karakter identitas yang hadir di kota, haruslah dibaca sebagai keanekaragaman yang memperkaya budaya dan memperunik wajah kota. Berbeda bukanlah ancaman. Berbeda adalah pluralitas keunikan. Kerusuhan antar kampung di Jakarta, antar etnis di Kalimantan sampai ‘perang agama’ di Maluku adalah cermin bagaimana narsisisme identitas yang berlebihan hanyalah membawa petaka dan bala. Kita bisa hidup lebih baik dengan mengencangkan toleransi identitas dan menggunakan kota sebagai laboratoriumnya.

Dan mudah-mudahan pula kita tidak terjerumus dalam pengkotakan identitas dan politik segregasi yang berlebihan, apalagi dibarengi ancaman, seperti yang sempat diteriakkan George Bush secara menggelikan: “you are either with us or againts us!”

Written by Admin

September 6, 2018 at 2:00 pm