I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Inviting Eyes | Personal Photo Project by galih sedayu

leave a comment »

DSCF4444_blog

Sanur, Bali, Indonesia | 19 August 2014

IMG_9389_blog

Malioboro, Jogjakarta, Indonesia | 20 August 2014

IMG_9367_blog

Malioboro, Jogjakarta, Indonesia | 20 August 2014

IMG_9378_blog

Malioboro, Jogjakarta, Indonesia | 20 August 2014

IMG_3324_blog

Solo, Indonesia | 5 March 2014

IMG_6059_blog

Ubud, Bali, Indonesia | 9 March 2013

DSC_2728_blog

Museum Sunda Kelapa, Jakarta, Indonesia | 13 March 2008

Written by Admin

December 4, 2018 at 9:14 am

Salam Pesona Kota Nagoya

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Nagoya, kota terbesar keempat di negara Jepang setelah Tokyo, Yokohama, dan Osaka dalam jumlah penduduk ini memang menawarkan sebuah pesona tersendiri. Ibukota dari Prefektur Aichi ini letaknya di sekitar pesisir Samudra Pasifik Wilayah Chubu. Lokasi Nagoya menjadi strategis karena berada di antara Kota Tokyo & Kyoto. Beruntung saya bisa melangkahkan kaki di sana dan beroleh kesempatan untuk merekam denyut jantung Kota Nagoya yang sangat teratur. Kota yang bersih, bangunan yang sangat terawat, serta beragam makanan lezat yang dijajakan menjadikan saya kerasan untuk menghuni kota ini meski hanya beberapa saat saja. Tak seperti di Indonesia, kawanan burung gagak hitam yang dibiarkan hidup liar di kota ini tidak menjadikan Nagoya berkesan angker. Citra polisi pun menjadi lebih terhormat dan tidak mengintimidasi karena mereka hanya menggunakan sepeda saat melakukan patroli keamanan meski sesungguhnya sangat jarang sekali terjadi tindakan kriminal di sana. Seperti kultur orang jepang pada umumnya, hampir setiap waktu saya melihat aktivitas keseharian warga yang berjalan kaki dan bersepeda. Sesekali saya menangkap momen warga yang menggembalakan anjing piarannya di pagi hari. Di Nagoya saya seperti menghirup oksigen bersih tanpa polusi asap maupun polusi suara. Dan akhirnya hanya kalimat ini yang pantas menjadi penutup cerita singkatnya. Ke Nagoya aku kan kembali.

Nagoya, Jepang ; Februari, April, Mei 2018

DSCF2312

DSCF2331

DSCF2453

DSCF2485

DSCF2511

DSCF2531

DSCF2551

DSCF2641

DSCF2651

DSCF2654

DSCF2734

DSCF2737

DSCF2744

DSCF2751

DSCF2762

DSCF2766

DSCF3326

DSCF3357

DSCF3362

DSCF5327

DSCF5341

DSCF5357

DSCF5359

DSCF5371

DSCF5388

DSCF5395

DSCF5410

DSCF5413

DSCF5450

DSCF5456

DSCF5502

DSCF6164

DSCF6194

DSCF6935

DSCF6943

DSCF6948

DSCF6971

DSCF7808

DSCF7816

DSCF7822

DSCF7826

DSCF7829

DSCF7831

DSCF7834

DSCF7841

DSCF7849

DSCF7853

DSCF7859

DSCF7867

DSCF7869

Copyright (c) 2018 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

September 30, 2018 at 1:46 pm

Jejak Kreativitas Wawan Juanda

leave a comment »

wawan juanda_blog

“GELAR KRIYA KULIT JAWA BARAT”
Festival Director : Wawan Juanda (Alm)
Gedung Sate, Bandung, 8 Agustus 2010

AIR_1103_blog

“GELAR BATIK JAWA BARAT”
Festival Director : Wawan Juanda (Alm)
Gedung Sate, Bandung, 3 Juli 2010

AIR_9446_blog

“SPICE FEST”
Festival Director : Wawan Juanda (Alm)
Gedung Sate, Bandung, 8 Desember 2007

DSC_0627_blog

“BRAGA FESTIVAL”
Festival Director : Wawan Juanda (Alm)
Braga, Bandung, 28 Desember 2006

street (83)_blog

“MAD QUARTER MUSIC FESTIVAL”
Festival Director : Wawan Juanda (Alm)
Bumi Sangkuriang, Bandung, 17 September 2006

people (49)_blog

 

“BRAGA FESTIVAL”
Festival Director : Wawan Juanda (Alm)
Braga, Bandung, 30 Desember 2005

jabar_blog

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

 

 

 

 

Written by Admin

September 8, 2018 at 2:30 am

10 Mimpi Masa Depan Bandung

leave a comment »

“10 Mimpi Masa Depan Bandung”
Oleh : Ridwan Kamil
26 September 2008

Dari tahun ke tahun, Bandung merayakan hari jadinya, selalu ada yang diimpikan namun tak pernah hadir. Yang jarang hadir itu bernama inovasi. Bahkan mungkin sejak kemerdekaan 63 tahun lalu, inovasi-inovasi untuk kepentingan publik Bandung jarang terlihat. Tidak ada stadion olah raga atau gedung konser yang dibanggakan juga tak ada taman kota atau jalur pejalan kaki yang dirindukan.

Jika kita berdiskusi tentang Bandung dengan orang luar, yang diapresiasi umumnya hanya dua hal: energi kreativitas warganya dan kemeriahan wisata belanja. Sisanya adalah komplain tentang kemacetan, ketidaknyamanan, masalah sampah, dan hareudang-nya udara Bandung. Oleh karena itu, merevitalisasi Bandung dengan inovasi kebijakan adalah sebuah kebutuhan.

Padahal berkat semangat inovasi, konsep murah busway Kota Bogota di Colombia ditiru di mana-mana termasuk Jakarta. Karena dorongan inovasi, Kota Boston dipuji karena menghancurkan jalan tol kota untuk dijadikan taman terpanjang di dunia. Dengan energi inovasi, kota kecil Curitiba di Brazil terpuji sebagi kota terbaik sedunia. Untuk itu, inilah saatnya Bandung pun berinovasi. Tidak usah banyak-banyak. Satu saja namun gaungnya mendunia.

Ada sekitar sepuluh ide pembangunan kota yang penulis ingin sampaikan dalam konteks mengembalikan Bandung menjadi kota yang nyaman dan mengangkat Bandung menjadi kota dunia.

[1] , Merancang taman kota senyaman ruang keluarga.

Perbanyak ruang-ruang terbuka hijau dengan memanfaatkan ruang-ruang sisa seperti kolong Pasupati. Atau membeli lahan-lahan pribadi di kampung-kampung padat seperti dilakukan Pemerintah Kota Yogyakarta. Meningkatkan kualitas ruang terbuka hijau menjadi taman aktif yang dirancang dengan baik. Tiap taman dilengkapi dengan keteduhan, tempat duduk senyaman ruang keluarga, fasilitas wi-fi untuk menggoda warga bekerja di ruang luar, menyediakan panggung kecil untuk mengamen , dan kios makan minum kecil. 

[2], Merekayasa lalu lintas untuk kenyamanan warga.

Penyediaan jalur sepeda di jalan-jalan utama untuk memotivasi warga mengurangi ketergantungan kepada mobil. Menyediakan kantung atau zona gedung parkir umum yang dikombinasikan dengan kendaraan bus kecil terbuka gratis khusus untuk turis. Menerapkan pajak kemacetan bagi fungsi komersial yang membebani parkirnya ke jalan umum. Bahkan mungkin busway, monorail, atau kereta gantung sebagai alternatif transportasi publik sekaligus daya tarik wisata bisa dipertimbangkan. 

[3]  Menyediakan bangunan publik modern yang berkualitas.

Sudah saatnya Bandung memiliki gedung konser musik multifungsi yang berkelas. Gelora Saparua bisa menjadi lokasi yang tepat. Puluhan band yang lahir tiap dekade layak mendapat tempat yang baik. Juga Stadion Siliwangi bisa direvitalisasi untuk menghidupi Persib, di mana lantai dasarnya digabungkan fungsinya untuk restoran, ritel, atau fungsi lain. Modernisasi pasar-pasar tradisional di mana pedagangnya tidak disingkirkan malah menjadi pemilik saham projeknya seperti di India. Lawan budaya nongkrong di mal dengan menghadirkan gedung perpustakaan yang modern lengkap dengan kafe, ruang bermain, dan internet gratis.

[4]   Mengaplikasikan seni pada elemen kota

Seni hadir agar nilai-nilai kehidupan bisa kita renungkan. Oleh karena itu, kehadiran instalasi seni di ruang publik seperti di perempatan jalan atau taman kota menjadi penting. Misalnya, hadirnya huruf DAGO raksasa yang permanen di taman Cikapayang atau desain gerbang istimewa di tiap titik masuk ke kota Bandung, seperti gerbang tol Pasteur. Halte-halte kendaraan umum, bisa dirancang dengan tema humoris berbentuk flora atau fauna. Angkot-angkot bisa dihias dengan desain grafis modern seperti kita lihat di Helarfest. Seni membuat hati kita riang, apalagi hadir gratis di ruang publik.

[5]   Menyediakan gedung Creative Corner dan Development Center           

Untuk energi kreativitas sekelas Kota Bandung, kebutuhan adanya gedung pusat kreativitas warga menjadi krusial. Fasilitas berupa ruang pameran, ruang konferensi, meeting room, maupun ruang-ruang yang bisa disewakan untuk menjual produk-produk kreativitas sangatlah dibutuhkan dan membantu akselerasi ekonomi kreatif di Kota Bandung. Gedung atau ruang maket projek kota dan poster projek-projek pembangunan Kota Bandung (development center) juga penting sebagai perwujudan inovasi transparansi dari pemkot. 

[6]   Memotivasi kegiatan berjalan kaki untuk kehangatan interaksi sosial.

Kembalikan Bandung sebagai surga pejalan kaki. Karenanya, jalur pedestrian yang lebar, teduh, dan nyaman lengkap dengan street furniture seperti kursi kayu yang hangat atau lampu yang romantis dengan cantelan pot bunga menjuntai seperti di London bisa jadi hal yang menyenangkan. Projek pedestrianisasi di Jalan Tamansari bisa diteruskan sebagai percontohan yang baik untuk ruas-ruas jalan yang lain.

[7]   Merayakan kebersamaan dengan keragaman festival.

Festival adalah perayaan identitas. Semakin banyak festival semakin menunjukkan kotanya hangat dalam kebersamaan. Jika mungkin tiap bulan di Bandung ada festival berskala internasional. Festival Bunga di bulan Januari, Festival Dago di Februari, Festival Dunia Islam di Maret, Festival Kreativitas Helarfest di Agustus, dan seterusnya. Orang mendatangi kota karena sejarahnya, keunikan fisik/arsitektur kotanya, dan juga karena acara festival-festivalnya. Seperti Rio Carnaval di Brazil dan Flower Carnaval di Pasadena. Keduanya berkelas dunia.

[8]   Mengembalikan Sungai Cikapundung ke fitrahnya.

Sungai Cikapundung adalah saksi zaman. Ia mengalir melewati kisah-kisah sejarah Kota Bandung. Sungai Cikapundung sejatinya adalah ruang terbuka publik. Sudah saatnya, ia dikembalikan dari pembangunan fisik yang merusak akal sehat dan melanggar aturan alam. Revitalisasi sungai di Seoul bisa jadi contoh bagaimana visi dan keberanian wali kota bisa mewujudkan sungai sebagai ruang publik utama. Jika pembebasan lahan di daerah padat masih jadi kendala, 100 m ruas sungai yang masih alami yang dilintasi jalan Siliwangi bisa jadi projek pertama.

[9]   Menata wajah kota dari papan reklame yang semrawut.

Susah mencari logikanya bagaimana banyak stuktur reklame raksasa tiba-tiba bisa hadir berdiri di sembarang tempat. Jalur-jalur historis termasuk Jalan Dago sebaiknya dibebaskan dari struktur reklame. Untuk melawan budaya konsumerisme, bisa saja sebulan sekali seluruh papan reklame diwajibkan menayangkan iklan layanan masyarakat yang menggugah akal sehat dan semangat hidup.

[10]   Meramahi lingkungan dengan green policy.

Bumi semakin panas. Salah satu penyebab terbesar adalah panas yang dihasilkan bangunan-bangunan di perkotaan. Peraturan kota yang mewajibkan konsep green building harus dihadirkan. Atap datar yang ditanami rumput sangat dianjurkan. Kewajiban menanam minimal satu pohon peneduh untuk satu rumah atau menghijaukan bukit-bukit gundul di utara Bandung bisa membantu menurunkan suhu barang 1-2 derajat dan memperbanyak suplai oksigen. Menanami pohon di seluruh ruas jalan di Bandung harus dilakukan segera. Terutama di wilayah selatan Bandung yang cenderung gersang. Mengganti suplai listrik seluruh lampu penerangan jalan di Bandung dengan energi surya (photovoltaic), seperti di tol Cipularang, juga sudah sangat dimungkinkan.

Demikianlah sejumput udunan ide-ide yang mungkin bisa didengar Pemkot Bandung untuk bisa menjadi sumber ide-ide yang bisa membawa harkat dan citra Bandung menjadi kota yang bermartabat.

Selamat ulang tahun Bandung. Karena hidup adalah udunan

Written by Admin

September 8, 2018 at 2:13 am

Hidup adalah ‘udunan’

leave a comment »

Hidup adalah ‘udunan’
Oleh : Ridwan Kamil
26 September 2008

[1] Kekhawatiran di Sabtu mendung itu akhirnya terjadi juga. Jam 5 sore acara konser musik Bandung Youth Park Fest dihentikan polisi. Alasannya tidak begitu jelas. Seluruh panitia bingung dan panik, terutama sang ketua panitia, Edi Brokoli. Bagaimana tidak, belasan ribu penonton yang datang di lapangan Saparua masih berjubel dan bersemangat, berharap aksi panggung terus berlanjut hingga larut malam. Namun harapan mereka pupus sudah, karena polisi bersikukuh.Panitia dengan keberanian seadanya langsung bergerak menggiring kerumunan massa untuk bubar. Di tengah keriuhan mengamankan itu seorang panitia, Fian, menjadi korban. Ia terjatuh dari pagar pengaman dengan kepala dibawah. Kakinya cedera dan satu telinganya tidak bisa mendengar. Dan di luar dugaan, belasan ribu remaja tanggung itu bubar dengan tertib. Tidak ada kerusuhan.

Acara konser 40-an band yang direncanakan untuk menutup Helarfest, festival terbesar
kreativitas anak muda Bandung, menjadi anti klimaks. Harapan menjadikan hari itu menjadi momen kebangkitan kreativitas musik underground di Bandung pupus sudah. Ada yang merampoknya.

Selidik punya selidik, ternyata sore itu ada orang teramat penting sedang melawat ke kota kembang untuk acara perhelatan perkawinan. Prosedur pengamanan memaksa polisi untuk menghalau kerumunan dalam radius tertentu dari jalur rombongan Presiden Republik ini. Ya betul, karena SBY lewat untuk resepsi, maka acara kreativitas yang disiapkan berbulan-bulan dibubarkan paksa.

Kini Edi dan sahabat-sahabatnya harus menanggung rugi moril materil. Padahal acara yang tidak bersponsor ini didanai dari hasil pinjaman dan saweran (bahasa Sunda =  uduna) para pekerja kreatif Bandung. Ada pinjaman uang pribadi dan orang tua. Ada sisihan uang nonton dan pacaran. Ada pinjaman tanpa bunga dari kas beragam perusahaan kreatif. Bahkan, ada yang rela melego motor Harley Davidson kesayangannya untuk dijadikan agunan. Bubarnya acara sebelum waktunya ini mengakibatkan panitia dililit hutang beberapa ratus juta rupiah yang tidak semestinya.

Prosedur paranoid keamanan di negeri keruh ini ternyata telah merampok energi kreativitas dan memutus keriangan ribuan hati. Menyakitkan dan mengiris hati.

***

[2] Saweran dalam bentuk urun rembuk ide, waktu dan uang adalah semangat `survival’ para pekerja kreatif di Tatar Parayangan ini. Komunitas musik cadas di Bandung yang menyelenggarakan konser Death Fest 3 yang diemohi sponsor adalah contohnya. Tidak ada bantuan pemerintah dan sponsor, masyarakat umum pun bergerak membantu. Pak Yusep, pedagang beras di pasar Guntur di Garut, ikhlas menyisihkan keuntungan jualan berasnya untuk konser kreatif ini. “Ini buat bantu-bantu biaya sound system,” ujarnya. Di minggu yang sama, komunitas Arsitektur juga menunjukan solidaritasnya dengan menyisihkan sebagian uang sponsor seminar arsitektur untuk membantu komunitas Death Metal yang jumlahnya 30-an ini (sebuah jumlah yang melebihi Jepang atau Amerika yang hanya belasan).

Acara-acara kreatif anak muda Bandung dalam payung Helarfest yang berjumlah 31 acara ini umumnya dilaksanakan dengan modal seadanya. Namun kebersamaan alhamdulillah mengalahkan keputusasaan. Bantuan dana dari pemerintah yang diharapkan hadir ternyata hampir semuanya meleset. Dana bantuan resmi dari Pemerintah Kota Bandung ternyata baru akan diusahakan cair bulan Oktober depan. Janji Gubernur Jawa Barat yang baru pun, ternyata nol besar. “Kasnya kosong,” kilah bendaharanya. Satu-satunya bantuan dating dari Menteri Mari Pangestu, itu pun baru dibayarkan setengahnya dan datang di saat acara Helarfest sudah selesai.

Namun kesuksesan hidup harus dimulai dari kegigihan, bukan dengan keluhan. Dengan segala kekurangannya, Helarfest berhasil menorehkan psikologis positif bagi masyarakat kota Bandung. Dibalik berita-berita negatif tentang Bandung (macet, sampah, kualitas lingkungan), isu kreativitas dan Helarfest ternyata menjadi satu-satunya berita baik (Kompas, sabtu 4/9).

Selamat datang di negeri ironi. Helarfest yang menyumbang pergerakan ekonomi kota Bandung selama satu setengah bulan sampai 100 milyar ini, harus berakhir dengan berhutang karena ada rombongan sang maha penting lewat di jalan sebelah. Ironi adalah sarapan pagi kita di negeri sejuta koruptor ini.

Minggu iniadalah minggu-minggu melelahkan bagi Edi Brokoli dan para sahabatnya di Bandung Creative City Forum (BCCF). Barisan dirapatkan untuk bekerja keras mengembalikan hutang dan pinjaman yang cukup besar. Jika anda punya ide kreatif atau tangan terulur untuk membantu, silakan kontak mantan VJ kribo di MTV ini di 0817832346. Karena hidup adalah kebersamaan.

Tulisan ini didedikasikan untuk puluhan Pak Yusep, pedagang beras di pasar Guntur, juga untuk puluhan Fian yang terpincang berkorban untuk sebuah mimpi bersama. 700 kata ini diguratkan untuk api semangat generasi muda Bandung yang tidak boleh padam dan jiwa kreativitas yang tidak boleh mati.

Karena hidup adalah udunan

Written by Admin

September 8, 2018 at 2:09 am

Bersaing Global dengan Ekonomi Kreatif

leave a comment »

“Bersaing Global dengan Ekonomi Kreatif”
Oleh : Ridwan Kamil
27 September 2008

Di sore yang dingin di sebuah kafe di jalan Dago Bandung, seorang anak muda bercelana pendek terlihat serius menatap layar laptop miliknya. Sesekali tangan kanannya memegang cangkir kopi untuk ia teguk. Sore itu ia tidak sedang bermain. Ia sedang bekerja mengirim program-program yang ia desain ke Google di Amerika. Untuk itu ia dibayar sangat mahal setiap bulannya.

Dunia memang sedang berubah. Keterpisahan oleh jarak dan waktu tidak lagi menjadi masalah bagi orang-orang yang bekerja di industri kreatif.  Industri kreatif umumnya melahirkan inovasi-inovasi yang layak dipatenkan. Karenanya orang-orang yang bekerja di dunia penelitian sains dan teknologi, arsitek, desainer produk/mebel, desainer grafis, pemusik dan seniman adalah bagian dari keluarga besar ekonomi kreatif.

Pergeseran orientasi ekonomi dunia dari ekonomi Fordist ke post-Fordist yang mengedepankan aset sumber daya manusia, telah menyebabkan persaingan luar biasa dalam merebut dan merayu talenta-talenta di dunia kreatif ini. Masa depan ekonomi dunia berada di pundak orang-orang kreatif yang mampu menyulap pengetahuan dan kreativitas menjadi inovasi yang melahirkan mesin ekonomi yang luar biasa.  Ekonomi kreatif  atau ‘creative economy’ ini sempat diwacanakan oleh ekonom John Howkins: “The Creative Economy: How People Make Money from Ideas” (2001)”  dan Richard Florida: “The Rise of Creative Class (2002)”

Dan kota-kota dunia pun berlomba-lomba merayu para talenta ini. Atau diistilahkan Florida sebagai fenomena ‘global competition of talents.’  Itulah sebabnya Silicon Valley keluar sebagai pemenang. Itulah sebabnya kota-kota di Inggris dan Belanda beralih dari ekonomi berbasis industri menjadi ekonomi kreatif sebagai basis masa depan. Di Amerika mereka menempati 30 persen jumlah total pekerja. Di Inggris mereka menghasilkan pergerakan ekonomi senilai 112 milyar Poundsterling. Di Singapura, tahun 2005 diluncurkan gerakan ekonomi kreatif dengan tema Design Singapore, Media 21 dan Rennaisance City 2.0

Bagaimana dengan kita?

Koridor Ekonomi Kreatif Bandung-Cilegon

Jika kita lihat resep sukses Silicon Valley, yang distilahkan Florida dengan rumus tiga T (talent, technology & tolerance), dimana nyamannya kota San Jose dengan segala fasilitas kelas dunianya bersatu dengan ribuan talenta berbakat dan jenius. Hadirnya institusi pendidikan sekelas Stanford, UC berkeley atau Caltech bersatu dengan  matangnya sistemventure capital yang suportif, kita di Indonesia pun sebenarnya memiliki peluang itu. Terutama di koridor urban Bandung-Cilegon.

Dari Bandung sampai Cilegon, seperti diteliti Budi Rahardjo,  sebenarnya terbentang sebuah kawasan koridor urban yang berpotensi luar biasa besar namun tidak tergali secara optimal dalam merespon ekonomi kreatif ini. Di koridor ini bertebaran institusi pendidikan berkelas mulai dari ITB, Unpar, Unpad, UI, Untar, Trisakti sampai UPH di Karawaci yang memiliki pusat-pusat riset yang karya dan hasilnya belum tersalurkan menjadi peluang-peluang ekonomi bernilai luar biasa.

Di koridor sepanjang 250 km ini, banyak tersembunyi pekerja ekonomi kreatif di Indonesia yang diam-diam bisnisnya telah mendunia. Leo Theosabarata dengan karya kursi Accupunto; Sibarani Sofyan seorang urban designer muda yang karya-karyanya bertebaran di Malaysia, Cina dan Dubai; Christiawan Lie, komikus ‘GI Joe’ yang naik daun di Amerika; Budi Pradono dan Antoni Liu, arsitek muda yang proyeknya banyak di luar Indonesia dan Castle Production di Pasar Baru Jakarta yang menghasilkan animasi kelas dunia. (kompas 27/10)

Di koridor ini pula bertaburan manufaktur, pusat riset dan perusahaan teknologi yang yang sebenarnya bisa disatukan visinya dalam merespon peluang ekonomi baru ini. Di jalur Jakarta-Cilegon banyak terdapat industri injection moulding plastic dan light metal. Di ruas Bekasi-Cikampek terdapat belasan manufaktur keramik, kaca, metal dan bahan-bahan bangunan lainnya.

Di Bandung terdapat pusat-pusat riset teknologi seperti LIPI, Pusat mikroelektronika, RISTI, MDIC, Eckman Center, Batan dan Microsoft Innovation Center at ITB. Di kota kreatif ini pula terdapat perusahaan teknologi seperti Omedata semikonduktor, LEN, INTI, CMI telkom, Harif Tunggal telekomunikasi, Daya Engineering, Quasar telekom dan  PT Dirgantara.

Di ibukota Jawa Barat ini, peluang-peluang ekonomi kreatif berbasis gaya hidup atau lifestyle tumbuh subur.  Factory Outlet hadir dengan omset milyaran rupiah perbulan. Industri Distro (distribution store) anak muda Bandung naik daun  dengan desain clothing unik dengan pertumbuhan yang cepat. Di kawasan Binong Jati terdapat ‘home industry’ yang berjumlah 350 buah dengan 10,000 pekerja yang menelurkan omset 20 milyar pertahun.

Suasana kreatif dan alam yang unik di tatar Parahyangan ini membuat industri musik pun berkembang. Grup musik terkenal seperti Peterpan, Seurieus, Mocca, Laluna, PAS, Rif, Elfa, Krakatau hadir berbarengan dengan puluhan grup musik Indie. Galeri-galeri seni tumbuh pesat di Bandung, seperti Galeri Barli, Galeri Sumarja, Galeri Jehan, Galeri Padi, Nyoman Nuarta Art Space, Selasar Sunaryo dengan kegiatan seni internasional yang menjadi agenda rutinnya.

Jakarta pun bertebaran potensi-potensi ekonomi kreatif yang sangat besar. Dengan 3000 restoran, 40 shopping mall, 60 bioskop, Jakarta menarik 60 persen aktivitas industri kreatif Indonesia. Industri busana atau fashion yang berkelas internasional banyak hadir disini.  Iwan Tirta, Sebastian Gunawan dan Oscar Lawata adalah contohnya. Di Jakarta juga kita bisa temui kesuksesan Warwick Purser Livestyle atau Chamdani sebagai merek lokal untuk mebel dan perangkat interior yang bernilai jual tinggi yang menggabungkan desain berkualitas tinggi dengan semangat kewirausahaan yang kuat, sesuai dengan spirit ‘good design is good business.’  Selain itu para pekerja industri grafis, animasi, penulis dan dunia percetakan pun sebagian besar beraktivitas di Jakarta.

Di Jakarta pula tentunya hampir seluruh institusi keuangan dan perbankan nasional dan internasional melakukan aktivitas bisnisnya. Tinggal diwacanakan saja agar industri kreatif ini, dari bidang teknologi sampai desain furnitur, mulai dilirik secara serius oleh venture capital lokal seperti halnya keberhasilan industri kreatif di  Inggris dan California.

Menyatukan potensi

Tugas kita sebagai generasi yang hidup di awal milenium ini adalah menyiapkan infrastruktur ekonomi kreatif secara matang. Kita harus menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah yang kondusif bagi orang-orang kreatif yang cenderung dengan mudahnya beripindah lokasi ke kota-kota di dunia yang lebih siap menerima eksistesi mereka.

Kita juga harus menyiapkan kota-kota kita untuk nyaman, melek desain dan berwawasan teknologi. Gaya hidup para talenta industri kreatif yang umumnya kosmopolitan harus difasilitasi, sehingga talenta internasional pun mau datang, hidup dan berbisnis di Indonesia. Karena pada dasarnya para talenta kreatif akan memilih tempat seperti Silicon Valley atau London yang menyediakan gaya hidup kosmopolitan, toleran, kondusif terhadap ide-ide baru, menghargai kebebasan individu dan hadirnya pemerintahan yang transparan.

Desain dan arsitektur harus dipandang sebagai bagian dari  nilai tambah yang membuat ekonomi kota lebih  kuat. Seperti halnya kota Bilbao di Spanyol dengan Museum Guggenheim yang baru dibuka tahun 1997. Setelah ia berdiri, karena publikasi yang mendunia, sekitar empat jutaan pelancong datang ke kota tersebut hanya untuk melihat keunikan museum yang dirancang oleh arsitek Frank Gehry. Bayangkan, jutaan pelancong itulah yang membawa devisa 14 trilyun rupiah ke kota industri di Spanyol ini.

Hal terakhir yang tak kalah penting adalah melakukan jejaring antar elemen industri kreatif ini secara mendasar. Langkah awal sudah dilakukan oleh komunitas Indonesia Design Power (IDP), yang dimotori Irvan Noe’man,  yang membantu Kementerian Perdagangan dalam mereposisi produk-produk Indonesia siap ekspor dengan desain. Penguatan jejaring atau networking adalah pekerjaan rumah terberat kita saat ini.

Potensi kita sudah ada. Kawasan Bandung-Cilegon yang membentang merupakan satu dari sekian kawasan yang sudah siap untuk dijadikan basis gerakan ekonomi kreatif Indonesia. Eksistensi ribuan talenta-talenta kreatif, institusi keuangan, lembaga pendidikan/riset berkelas dan kawasan/gaya hidup kosmopolitan, semuanya sudah hadir. Mereka sedang menunggu tangan maha kuat untuk menyatukan potensi ini  menjadi kekuatan ekonomi yang luar biasa. Sudah saatnya juga kita tidak menjual citra sebagai negara penyedia buruh murah tapi negara penyedia talenta kreatif kelas dunia

Kalau tidak sekarang, kapan lagi kita mulai bersiap mengejar ratusan trilyun rupiah sumbangan dari industri kreatif ala Inggris? Mari kita mulai bergerak hari ini untuk menjadikan ekonomi kreatif yang berbasis ‘human capital’ ini sebagai penyelamat masa depan Indonesia.

Written by Admin

September 8, 2018 at 2:02 am

Menyelamatkan peradaban dengan desain

leave a comment »

“Menyelamatkan peradaban dengan desain”
Oleh : Ridwan Kamil
27 September 2008

[1]
Seorang ibu tua gemuk dalam wajah yang lelah terlihat menenteng sebuah
kursi. Ia sumringah tersenyum puas. Antriannya selama berjam-jam dalam
panas terik tidaklah sia-sia. Sebuah kursi cantik, karya desainer
furnitur Inggris terkenal Tom Dixon, ia dapatkan dengan gratis.  Hari
itu, dalam rangka London Design Festival, Tom Dixon membagi-bagikan
ratusan kursi karyanya gratis kepada publik. Setelah dipamerkan
seharian dalam bentuk seni instalasi di ruang luar, hanya dalam tempo
15 menitan ratusan kursinya ludes diambil para pengantri.

Itulah salah satu cara Inggris mempopulerkan wacana desain. Desain
menjadi kata yang sangat populer minggu itu. Pada pertengahan
september lalu seluruh London seperti kerasukan wacana desain dengan
adanya London Design Festival. Festival ini menyelenggarakan pameran
karya-karya desainer muda, open house gedung-gedung privat untuk
dikunjungi umum, eksebisi kelas dunia untuk dunia interior, material-
material bangunan, ceramah umum desainer kelas dunia, seminar dan lain
sebagainya.

Inggris punya alasan.  Ia bermimpi untuk menjadi pusat desain dan
arsitektur dunia. Untuk visi itu, maka masyarakatnya harus dididik
untuk melek desain. Desain harus menjadi keseharian. Wacana`good
design is good business’ harus menjadi kebutuhan. Padahal di Inggris
15 tahun lalu wacana desain tidaklah menjadi hal krusial. Namun
sekarang, belasan majalah desain, arsitektur dan lifestyle memenuhi
rak-rak toko buku, acara-acara yang meliput kegiatan desain grafis,
iklan, furnitur sampai arsitektur menjadi hal yang umum.

“Jangan meremehkan mukjizat desain!” ujar Sir Terence Conran, seorang
entrepreneur legendaris di dunia desain. “Desain mampu melipatgandakan
nilai ekonomi sebuah objek”, lanjutnya. Ia mengungkapkan bahwa sebuah
kursi dengan harga produksi sebesar seratus dollar bisa dijual ribuan
dollar hanya karena keunikan desainnya, ungkap pemilik retail Habitat
dan Conran Store ini. Pesannya sangatlah jelas. Tanpa desain tidak ada
nilai tambah.

Museum Guggenheim di kota Bilbao Spanyol adalah contoh klasik dalam
konteks di atas untuk kategori arsitektur. Setelah ia berdiri, karena
publikasi yang mendunia, sekitar empat jutaan pelancong datang ke kota
tersebut hanya untuk melihat keunikan museum yang dirancang oleh
arsitek Frank Gehry. Bayangkan, jutaan pelancong itulah yang membawa
devisa 14 trilyun rupiah ke kota industri di Spanyol ini.  Maka tak
heran jika “The Bilbao Effect” menjadi impian para walikota kota-kota
di Eropa sana.

[2]

“Masa depan dunia adalah ekonomi kreatif,” ungkap Richard Florida,
sosiolog dari Amerika. Ia menyiratkan bahwa siapa pun yang memiliki
bakat (talent), jejaring (network) dan kewirausahaan yang inovatif
(entrepreneurship) dialah yang akan memenangkan persaingan global di
masa depan.  Dan industri desain, dari desain grafis sampai
arsitektur, adalah salah satu motor gerakan ekonomi kreatif  atau
populer juga dengan istilah `knowledge economy’.

Karenanya tetangga kita Singapura, yang selalu panik mereposisi
perannya di percaturan ekonomi global, melihat peluang ini juga secara
serius.Singapura berambisi menjadi pusat ekonomi kreatif di Asia.
Perdana Menteri Lee Hsien Long tahun 2005 meluncurkan tiga gerakan
nasional:  Design Singapore, Media 21 dan Rennaisance City 2.0. Mereka
berharap sumbangan bagi pertumbuhan ekonominya akan tumbuh dua kali
lipat selama tujuh tahun dari tiga industri kreatif tadi.

“Knowledge is power,” sabda filsuf Francis Bacon. Dan  Inggris pun
menterjemahkan filosofi itu dalam bentuk reposisi sistem ekonomi yang
merespons peluang ekonomi kreatif ini. Kota-kota industri seperti
Birmingham, Glasgow, Brighton atau NewCastle perlahan-lahan sudah
mulai meninggalkan ketergantungan pada ekonomi berbasis industri. Kota-
kota ini mulai menggiring iklim ekonominya ke arah ekonomi  kreatif
dan aktivitas industri desain sebagai tulang punggungnya. Ekonomi
kreatif adalah rumah barunya, dan desain adalah kunci pintunya.

Dunia akademik, swasta,  LSM dan pemerintah terlihat bersepakat untuk
kompak. Kawasan-kawasan kota yang mati diregenerasi lagi untuk menjadi
tempat berkiprah para pemula (start-up) di industri kreatif.  Insentif
ekonomi diperbesar. Hasilnya pun luar biasa. Pertumbuhan ekonomi
kreatif ini hampir 3 kali lipat dari pertumbuhan ekonomi nasionalnya.
Ekspor dari ekonomi kreatif ini sebesar 15 %. Lebih besar dari ekspor
ekonomi jasa sebesar 7% atau ekspor ekonomi umum lainnya yang hanya 4%.

[3]

“Saya suka London karena toleransi, keragaman budaya dan kemudahan
infrastruktur bagi desainer pemula,” ungkap Sebastian Noel, desainer
produk berbasis teknologi dari sebuah perusahaan bernama Troika.
Troika adalah firma pemula yang mempunyai visi mengawinkan teknologi
terapan dan desain untuk kepentingan publik. Di kota ini ia dengan
mudah bisa menghubungi institusi Creative London jika butuh bantuan
untuk mencari partner bisnis. Tinggal mampir ke London Design Council
jika butuh nasihat-nasihat teknis dan bank data pabrik manufaktur 
yang bisa mewujudkan ide-ide kreatifnya. Di acara London Design
Festival ia pergunakan untuk memamerkan karya-karya terbarunya ke
masyarakat. Dan puluhan firma pemula ala Troika pun menjamur subur di
London

London memang istimewa. Setiap tahun di bulan September, selama dua
minggu digelar belasan acara yang berhubungan dengan desain. Ada open
house firma-firma desain/arsitektur, open house gedung-gedung unik
yang sehari-hari tertutup untuk publik. Ada acara 100% DESIGN tempat
para desainer dari 30-an negara memamerkan karya-karya terbarunya,
acara 100% LIGHT dan 100% MATERIAL  untuk pameran teknologi lampu dan
material terbaru. Seluruh masyarakat London pun terkena deman desain. 

Kesiapan infrastruktur desain ini terkesan merata hadir di kota-kota
lain di Inggris. Di Glasgow terdapat gedung tua karya Charles Rennie
Mackintosh sebagai tempat bernaung organisasi desain bernama
Lighthouse. Sebuah one-stop design center. Di gedung 5 lantai ini
dihadirkan galeri-galeri tempat pameran karya para desainer/arsitek
museum desain, restoran/kafe, ruang pertemuan yang disewakan, retail
desain dan kantor-kantor firma desain.

Di sini pula didirikan  departemen Creative Entrepreneurs Club (CEC),
sebuah wadah serius tempat memotivasi dan melatih para desainer pemula
untuk berani mengembangkan bisnis desainnya dengan serius dan
mengglobal. Menariknya wadah ini membuka diri untuk menerima anggota
diri seluruh penjuru dunia.

[4]

Bagaimana dengan Indonesia?

Tahukan anda, bahwa di Indonesia bertebaran para desainer, arsitek dan
pekerja ekonomi kreatif lainnya yang sangat berbakat dan bedeterminasi
tinggi. Leo Theosabarata dengan karya kursi Accupunto; Castle
Production di Pasar Baru Jakarta yang menghasilkan animasi kelas dunia
Carlos the Catterpilar dan The Jim Elliot Story; Sibarani Sofyan
seorang urban designer muda yang karya-karyanya bertebaran di
Malaysia, Cina dan Dubai; Christiawan Lie, komikus GI Joe yang naik
daun di Amerika, Budi Pradono, arsitek muda yang mendapatkan
penghargaan Architectural Review. Dan masih banyak lagi yang
tersembunyi bergerilya mendunia dengan karya-karyanya tanpa kita tahu.

Salah satu masalah kita ada ketidakhadiran infrastruktur dunia desain.
Semua kelompok dalam industri desain, mulai dari dunia grafis sampai
arsitektur tercerai berai bergerak sendiri-sendiri. Tidak ada visi
bersama untuk arah jangka panjang yang jelas. Di luar negeri pun
Indonesia tidak punya reputasi atau `brand image’ yang kuat untuk
produk-produknya. Hal ini diperparah dimana pemerintah pun belum
melihat desain dan ekonomi kreatif sebagai prioritas. Sangat khas
Indonesia. Atau dengan istilah Florida, Indonesia itu penuh memiliki
bakat (talent) kelas dunia tetapi tidak memiliki jejaring (network)
dan kewirausahaan yang inovatif (entrepreneurship).

Sudah umum jika kita mendengar bahwa banyak para desainer yang
kebingungan mencari manufaktur yang bisa membantu mewujudkan idea-
idenya briliannya yang mungkin berpotensi bisnis milyaran rupiah.
Banyak arsitek muda yang kebingungan bagaimana memulai bisnis desain
dan menetukan fee desain. Para desainer juga sering kesulitan untuk
mencari modal ke Bank karena sering ditolak karena tidak punya fixed
asset kecuali ide-ide kreatifnya.

Tidak seperti di Skotlandia dengan Lighthouse atau Thailand dengan
Thailand Design Center (TDC), ketiadaan infrastruktur industri desain
di negeri kita, akhirnya melunturkan semangat `entrepreneurship’ dari
para desainer muda berbakat. Jangan heran jika terjadi yang dinamakan
Richard Florida sebagai `The Flight of Creative Class’, dimana para
manusia-manusia berbakat akhirnya mengungsi ke luar negeri yang lebih
kondusif.

Bayangkan jika seluruh desainer dari seluruh industri desain
bersepakat untuk menjadikan desain dan ekonomi kreatif sebagai
lokomotif ekonomi Indonesa di masa depan. Bayangkan jika ide-ide
kreatif yang brilian selalu bertemu dengan nafas semangat
kewirausahaan. Di Inggris, perkawinan inilah yang menghasilkan nilai
ekonomi sebesar 28 milyar poundstering untuk industri desain dan
arsitektur dan 112 milyar Poundsterling keseluruhan ekonomi kreatif.

Seperti yang pernah diwacanakan oleh Nigel Cross, bahwa peradaban
manusia berkembang dengan kemajuan tiga ranah keilmuan: Sains
(kebenaran), Humaniora (keadilan),  dan Desain (kecocokan). Karenanya
kapan lagi kita bergerak bersama mewujudkan Indonesia yang lebih
makmur melalui desain dan reputasi global yang lebih baik jika tidak
sekarang.

Mari kita selamatkan peradaban dengan Desain. Setidaknya untuk anak
cucu kita.

Written by Admin

September 8, 2018 at 1:58 am