“A Salty Dog” | A Photography Project by galih sedayu
Entah mengapa hati saya selalu terketuk untuk menekan tombol kamera tatkala melihat anjing-anjing yang bermain dan berkeliaran di tepi pantai. Sejauh mata menyimak, mereka bagaikan mahluk pelengkap yang turut membentuk citra keindahan dan menciptakan nikmat pesona yang beragam dari sebuah pantai. Kisah persahabatannya dengan manusia yang sudah sejak dulu kala, seolah membuat hidup dimanapun menjadi tak lengkap tanpa kehadiran mahluk ini. Sepertinya alam pantaipun sangat ingin disentuh oleh mereka. Ibarat nuansa blues yang mengalun dalam sebuah musik, mahluk inipun menjelma menjadi sang pelipur lara bagi semua orang yang mendatangi pantai. Di sini, di pantai manapun, tak boleh ada kata umpatan “Dasar anjing!”.
Teks & Foto / Text & Photographs: galih sedayu
Thanks to Procol Harum for the Inspiring Song, “A Salty Dog”
#22KaryaFoto

Balangan Beach, Bali – 2015

66 Beach, Bali – 2015

66 Beach, Bali – 2015

Padang-Padang Beach, Bali – 2015

66 Beach, Bali – 2015

66 Beach, Bali – 2015

Balangan Beach, Bali – 2015

66 Beach, Bali – 2015

Batu Karas Beach, Pangandaran – 2015

66 Beach, Bali – 2015

Kuta Beach, Bali – 2015

66 Beach, Bali – 2015

66 Beach, Bali – 2015

Batu Karas Beach, Pangandaran – 2015

Balangan Beach, Bali – 2015

Balangan Beach, Bali – 2015

Balangan Beach, Bali – 2015

Balangan Beach, Bali – 2015

Padang-Padang Beach, Bali – 2015

Virgin Beach, Bali – 2013

Virgin Beach, Bali – 2013

Virgin Beach, Bali – 2013
Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Selewat Mata Merasakan Penang
Teks & Foto oleh galih sedayu
Burung gagak dan merpati yang beterbangan, terik matahari yang menyengat hingga kerap di atas 35 derajat celsius, serta bangunan heritage yang hampir semuanya terawat rapi, memang menunjukkan ciri khas Penang. Kota kepulauan eksotis yang terletak di seberang Peninsula Malaysia ini, selalu menawarkan mata dan menggoda hati saya untuk tak berhenti merekam denyut jantungnya setiap detik, setiap menit, setiap waktu. Menjadi pedestrian dan menyusuri lebuh atau jalan kota di Penang, terutama di daerah Georgetown adalah sebuah kegembiraan tersendiri. Dari mulai beragam street furniture, mural yang menghias dinding-dinding rumah, warung kopi jalanan, rumah ibadah beragam agama yang saling berdekatan, pasar tradisional yang bersih, hingga artefak kota yang dijaga sisi historisnya. Semuanya dapat kita temukan di sana dalam sekejap dengan berjalan kaki. Kepadamu Penang, kiranya tetap selalu menjadi pulau galia meski Julius Caesar yang memiliki kerajaannya.
Penang, 26 November 2015

























Copyright (c) 2015 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Indonesia Berdendang Bersahutan di Penang | Indonesia Festival | 28-29 November 2015, Penang, Malaysia
Teks : galih sedayu
Foto : Dudi Sugandi, galih sedayu, Pam Ardinugroho & Ruli Suryono
Indonesia adalah negara yang penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Barangkali inilah salah satu alasan mengapa Indonesia mendapat kehormatan untuk mempromosikan wisata tanah air kita di Penang, Malaysia. Selama dua hari, dari tanggal 28-29 November 2015, sejumlah kolaborator yang terdiri dari pekerja kreatif di bidang musik, seni pertunjukkan, tari, permainan anak tradisional, fotografi, video, serta desain hadir di Penang dalam sebuah perhelatan yang bernama Indonesia Festival. Mewakili komunitas musik ada nama 4 Peniti {Deconstructive, Logarithm & Connecting Band}, Homogenic {Electronic Band} dan Street Traveller {Folks & Blues Band}. Kemudian ada Tantanggaranda83 yang mewakili Bandung dari komunitas seni pertunjukkan, Komunitas Hoong yang mewakili komunitas permainan anak tradisional, serta Wanna Be Dancer yang mewakili komunitas tari. Terakhir mewakili Kota Malang yang turut berkolaborasi yaitu Komunitas Malang Armore Carnival. Para kolaborator ini menyemarakkan acara Indonesia Festival yang mengusung tema “Sharing Our Similarities, Celebrating Our Differences”. Indonesia Festival ini diselenggarakan oleh Wonderful Indonesia dan Kementrian Pariwisata Indonesia bekerja sama dengan Merah Putih Persada dan Ruang Kolaborasa dari Bandung. Kebetulan saya dipercaya untuk menjadi Creative Director dari Indonesia Festival tersebut.
Padang Esplanade atau Padang Kota Lama, sebuah lapangan rumput hijau nan luas di kota Georgetown, Penang menjadi sebuah arena kolaborasa dan ruang kreativitas bagi kegiatan Indonesia Festival tersebut. Padang Esplanade ini menghadap ke arah laut dimana sejauh mata memandang tampak jembatan Pulau Penang yang mengubungkan Bayan Lepas di Pulau Penang dengan Seberang Prai di daratan Malaysia. Selain itu Penang City Hall atau Dewan Bandaraya Pulau Pinang, sebuah bangunan bersejarah yang dibuka sejak tahun 1903, menjadi salah satu latar pemandangan yang unik jika kita menginjakkan kaki di area hijau Padang Esplanade. Dekorasi Indonesia Festival inipun disuguhkan dengan apik dari mulai tenda peserta pameran yang berwarna-warni, instalasi balon dalam skala gigantik, infographic wall perihal pariwisata indonesia, outdoor cinema, photo booth, serta pameran foto. Belum lagi ratusan balon cair {bubbles} yang beterbangan di tiup angin, semakin menjadikan atmosfir yang segar di area tersebut.
Meski para kolaborator Indonesia Festival ini diundang ke Penang sebagai tamu atau pengisi acara, namun pada kenyataannya mereka tetap berlaku dan bertindak seperti pemilik acara. Barangkali itulah semangat memiliki Indonesia yang ditunjukkan oleh kita semua. Sejumlah kendala yang ditemui di lapangan saat penyelenggaraan acara, tanpa berpikir panjang segera direspon oleh mereka dengan solusi, bukan dengan keluhan. Tak heran bila di sana grup musik 4 Peniti terlihat ikut membantu menyiapkan dan mengatur sound system panggung, tim dokumentasi yang terlihat membantu mengatur dan menyusun properti dekorasi acara, serta komunitas hoong yang ikut membantu membersihkan sampah. Semuanya dilakukan dengan senang hati dan penuh ikhlas. Saat pembukaan acara, ribuan kolecer menjadi simbol pemersatu sekaligus memanggil semua pengunjung agar dapat menari dan bergembira bersama di tengah lapangan. Meskipun cuaca matahari yang menyengat di kala siang dan guyuran hujan setiap malam di Padang Esplanade, namun itu semua tidak menyurutkan semangat dan keceriaan tim kami untuk bisa menghibur warga Penang. Bahkan menari dan berdansa di saat hujan turun menjadi sebuah atraksi yang memikat sembari ditemani alunan musik yang dihadirkan oleh para musisi Indonesia.
Dua hari di Penang memang terasa singkat bagi para kolaborator Indonesia Festival. Namun tawa, canda dan suka cita yang dihadirkan di sana adalah jejak yang selalu membekas di hati. Apalagi esensi sebuah festival internasional adalah mewartakan nilai-nilai kebaikan yang dimiliki oleh sebuah bangsa. Dalam hal ini, kita semua mencoba memberikan pesan dan kesan yang baik demi Indonesia, demi tanah air, demi bumi pertiwi. Keramahan dan kehangatan, solidaritas dan toleransi, kekayaan dan ragam budaya semestinya dapat menjadi ciri khas dan karakter bagi bangsa kita. Tentunya dalam persaudaraan kita mesti percaya bahwa ia adalah benteng terakhir tatkala bangsa kita mengalami kesulitan. Oleh karenanya, tetaplah membuat simpul yang erat bagi dunia.
***
Text : galih sedayu
Photography : Dudi Sugandi, galih sedayu, Pam Ardinugroho & Ruli Suryono
Indonesia is a country full of joy and happiness. Perhaps this is one reason why Indonesia has the honor to promote our country tour in Penang, Malaysia. For two days, from 28-29 November 2015, a number of collaborators consisting of creative workers in music, performing arts, dance, traditional children’s games, photography, video, and design were present at Penang in an event called Indonesia Festival. Representing the music community there are the names 4 Peniti {Deconstructive, Logarithm & Connecting Band}, Homogenic {Electronic Band} and Street Traveler {Folks & Blues Band}. Then there is Tantanggaranda83 representing Bandung from the performing arts community, Hoong Community representing the traditional children’s game community, as well as Wanna Be Dancer representing the dance community. Last representing the Malang City who also collaborated the Malang Community Armore Carnival. These collaborators are enlivening the Indonesia Festival event with the theme “Sharing Our Similarities, Celebrating Our Differences”. Indonesia The festival is powered by Wonderful Indonesia and the Indonesian Ministry of Tourism in collaboration with Merah Putih Persada and Ruang Kolaborasa. I happen to be trusted to become Creative Director of Indonesia Festival.
Padang Esplanade or Padang Kota Lama, a large green grass field in Georgetown city, Penang becomes an arena of collaboration and creativity space for the activities of Indonesia Festival. The Esplanade is facing towards the sea where as far as the eye can see the Penang Island bridge that connects Bayan Lepas in Pulau Penang with Seberang Prai in mainland Malaysia. In addition Penang City Hall or Pulau Pinang Airport, a historic building that opened since 1903, became one of the unique scenery setting if we set foot in the green area of Padang Esplanade. The decoration of Indonesia Festival beautifully presented from the start of the exhibition tent colorful, the installation of balloons in gigantic scale, infographic wall about Indonesia tourism, outdoor cinema, photo booth, and photo exhibition. Not to mention the hundreds of liquid bubbles that fly in the wind, making the atmosphere fresh in the area.
Although the Indonesian collaborators of this Festival are invited to Penang as guests or performers, in reality they remain in effect and act like the owner of the event. Perhaps that’s the spirit of having Indonesia shown by us. A number of obstacles encountered in the field during the event, without a second thought immediately responded by them with a solution, not with a complaint. It’s no wonder there’s a group of 4 Peniti musicians helping to prepare and organize the stage sound system, a team of documentation that looks to help organize and organize the decoration of the show, as well as the hoong community who helped clean up the trash. Everything is done with pleasure and full of sincerity. At the opening ceremony, thousands of kolecers became a unifying symbol as well as summoning all visitors to dance and have fun together in the middle of the field. Despite the stinging sun in the afternoon and the rain every night at Padang Esplanade, but it does not lowered the spirit and joy of our team to be able to entertain the citizens of Penang. Even dancing and dancing in the rain fell into a charming attraction while accompanied by the music presented by Indonesian musicians.
Two days in Penang was short for Indonesian Festival collaborators. But the laughter, jokes and joys presented there is a trail that always made an impression on the heart. Moreover, the essence of an international festival is to proclaim the values of goodness owned by a nation. In this case, we all try to give a message and a good impression for Indonesia, for the homeland, for the sake of the earth. Friendliness and warmth, solidarity and tolerance, richness and diversity of cultures should be characteristic and character for our nation. Surely in brotherhood we must believe that he is the last bastion when our nation is experiencing difficulties. Therefore, keep a tight rope for the world.



















































Copyright (c) by Ruang Kolaborasa
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from Ruang Kolaborasa.
Animalia di Bandung Light Fest
teks & foto oleh galih sedayu
Bandung light Fest merupakan puncak acara sekaligus rangkaian penutup bagi kegiatan perayaan ulang tahun Kota Bandung yang ke-205 {Milangkala Bandung Festivals}. Pawai kendaraan hias ini menjadi unik karena tema yang diusung dalam kegiatan Bandung Light Fest ini adalah “Animalia” atau rupa binatang, serta diikuti oleh ratusan warga Kota Bandung baik itu yang berasal dari pemerintah maupun komunitas Kota Bandung. Pawai kendaraan hias ini digelar pada tanggal 8 November 2015 yang dimulai dari Jalan Diponegoro {Depan Gedung Sate}, Jalan Trunojoyo, Jalan Sultan Agung, Jalan Ir.H.Juanda {Dago}, Jalan Merdeka, Jalan Lembong, Jalan Tamblong dan berakhir di Jalan Asia Afrika Bandung.
@galihsedayu | bandung, 8 november 2015







copyright (c) 2015 by galih sedayu
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Lenggak Lenggok Bandung dan Kreasinya | Crafashtival, 7 November 2015
Teks : galih sedayu | Foto : galih sedayu & Air Foto Network
Tentunya sudah sejak dulu kita sering mendengar bahwa Kota Bandung menyandang predikat sebagai Kota Kreatif. Sebutan ini tentunya tidak bisa dilepaskan dari citra warga Kota Bandung yang kreatif. Karenanya, produk-produk kreatif yang dihasilkan oleh warga Kota Bandung menjadi salah satu alasan mengapa Kota Bandung layak disebut sebagai Kota Kreatif.
Craft & Fashion merupakan sub sektor industri kreatif di Kota Bandung yang saat ini terus berkembang pesat. Beberapa survey dan penelitian yang ada, kerap menempatkan keduanya sebagai sub sektor industri kreatif yang memberikan kontribusi ekonomi yang cukup besar bagi Kota Bandung. Faktanya, berbagai jenis produk kreatif di bidang craft & fashion pun dilahirkan dan diciptakan di Kota Bandung.
Untuk itulah Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Koperasi UKM & Perindustrian Perdagangan Kota Bandung bekerjasama dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Bandung dan Ruang Kolaborasa, menggagas sebuah kegiatan yang bernama “Crafashtival”, yaitu sebuah festival sehari craft & fashion yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 7 November 2015 bertempat di Jalan Cikapundung Timur, Bandung. Dari mulai Pameran Craft & Fashion, Edu Talkshow & Workshop, Kompetisi Ilustrasi Fashion & Fotografi, Kampanye Cinta Produk Bandung, Konser Musik hingga Instalasi Manequin disuguhkan dengan meriah oleh berbagai komunitas yang ada di Kota Bandung.
“Splash Your Best” menjadi tema yang diangkat melalui Crafashtival ini sehingga diharapkan mampu mempersatukan percikan-percikan kreativitas yang disemburkan oleh para pelaku industri kreatif khususnya craft & fashion di Kota Bandung. Saat ini, kita pun dapat melihat dengan seksama bahwa produk-produk kreatif buatan Bandung mampu bersaing secara global. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan terus mewartakan pesona dan kreasi bandung kepada dunia.
@galihsedayu | Bandung, 7 November 2015














Copyright (c) 2015
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Kasih Ibu di Pantai Lovina
Teks & Foto oleh galih sedayu
Konon, lumba-lumba adalah sahabat manusia di lautan. Karenanya tak heran bila manusia yang lebih sering hidup di daratan, kemudian ingin bersua dan mencari sahabatnya di samudera yang luas. Kawanan lumba-lumba ini, dapat kita temui di Pantai Lovina, Pulau Dewata, Bali. Pantai Lovina sejak dulu menjadi salah satu destinasi wisata di pesisir Bali Utara, tepatnya 10 km ke arah barat Kota Singaraja, di Desa Kalibukbuk, Kabupaten Buleleng, Bali. Pasir hitam yang dimilikinya seolah menjadi halaman depan sebelum kita memulai perjalanan ke tengah laut agar dapat menjumpai lumba-lumba yang berada sekitar 1-2 km dari bibir pantai. Biasanya, kawanan lumba-lumba ini muncul sekitar pukul 6 hingga 8 pagi di tengah laut. Mengingat mahluk langka tersebut sudah bangun pagi-pagi buta, sebaiknya kita sudah harus berangkat sebelum matahari terbit dengan menggunakan perahu nelayan yang sederhana nan berwarna. Nama “Lovina” menjadi populer berkat jasa Anak Agung Panji Tisna, dimana pada tahun 1953 ia mulai membangun sebuah pondok di atas tanah miliknya yang berada di Buleleng. Pondok itulah yang kemudian diberi nama “Lovina” yang ditujukan sebagai tempat peristirahatan bagi turis-turis asing. Menurut Panji Tisna, kata “Lovina” sendiri berasal dari campuran dua suku kata yaitu “Love” dan “Ina”. Kata “Love” dari bahasa Inggris berarti kasih atau Cinta dan “Ina” dari bahasa Bali atau bahasa daerah yang berarti “ibu”. “Cinta Ibu” atau “Cinta Ibu Pertiwi” adalah makna yang mendalam dari Lovina. Semoga pesan tersebut dapat selalu diwariskan selamanya kepada kita dan sang lumba-lumba selalu hadir menjadi saksi hidup Pantai Lovina.
@galihsedayu | Bali, 4 Juli 2015



Copyright (c) 2015 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Pesona Dunia Pantai Padang Padang
Teks & Foto oleh galih sedayu
Berada di Jalan Labuan Sait, tepatnya di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. Pantai Padang Padang atau yang juga dikenal dengan nama pantai Labuan Sait, menjadi salah satu magnet wisata di Pulau Dewata. Berlatar belakang perbukitan yang hijau dan batu karang yang terjal, pantai ini menawarkan sejuta pesona bagi siapapun yang merasakannya. Untuk menuju pantai ini, kita mesti melewati sebuah jalan yang menyerupai goa dan turun melewati puluhan tangga dengan ruang yang sempit. Namun setelah itu, pasir putih dengan airnya yang bening & jernih akan menjadi nirwana bagi kita semua. Maka tak heran bila Pantai Padang Padang ini menjadi salah satu lokasi syuting video musik “Someday” yang dibawakan oleh grup pop “Michael Learns To Rock” dan bahkan menjadi lokasi syuting film “Eat, Pray, Love” yang dibintangi artis Hollywood “Julia Roberts”. Bali tentunya boleh berbangga karena berkat Pantai Padang Padang ini, nama Indonesia semakin harum di mata dunia.
@galihsedayu | Bali, 7 Juli 2015
Copyright (c) 2015 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.








































