I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Archive for the ‘07) SEMESTA FOTO CERITA’ Category

Pokok Hidup Temanggung

with 3 comments

oleh galih sedayu

Sungguh mencengangkan memang bila kita mengetahui bahwasanya pendapatan negara indonesia yang berasal dari pajak bea cukai rokok mencapai 100 trilyun per tahun.  Tak heran karenanya, di negeri ini tanaman tembakau sebagai bahan utama pembuat rokok menjadi sebuah komoditas yang diunggulkan. Salah satu daerah di tanah air yang menjadi tumpuan penghasil daun tembakau yang terbaik adalah Kabupaten Temanggung. Kabupaten yang terletak di provinsi Jawa Tengah ini berbatasan dengan Kabupaten Kendal di sebelah utara, Kabupaten Semarang di sebelah timur, Kabupaten Magelang di sebelah selatan dan Kabupaten Wonosobo di sebelah barat. Temanggung termasuk daerah iklim tropis dengan dua musim yakni musim kemarau antara Bulan April sampai dengan September dan musim penghujan antara Bulan Oktober sampai dengan Maret. Curah hujan tahunan yang turun di daerah temanggung pada umumnya tinggi. Cuaca Temanggung yang berhawa udara pegunungan dingin, menjadikannya sebuah ladang yang cocok bagi kesuburan tanaman tembakau. Apalagi temanggung diapit oleh 2 buah gunung yang indah yakni gunung sindoro & gunung sumbing.

Tanaman tembakau berwarna hijau, berbulu halus, serta memiliki batang & daun yang mengandung zat perekat. Pohonnya berbatang tegak dengan ketinggian rata–rata mencapai 2,5 m hingga 4 m bila tumbuh dengan baik. Umur tanaman tembakau ini rata–rata kurang dari 1 tahun. Daun mahkota bunganya berwarna merah, bentuk mahkota bunganya menyerupai terompet panjang, sedangkan daunnya berbentuk lonjong dengan ujung yang runcing. Komposisi kandungan yang terdiri dari nikotin, tar dan karbonmonoksida inilah yang menjadikan daun tembakau sebagai bahan pembuatan rokok.  Mutu masing-masing tembakau sangat dipengaruhi oleh ukuran, bentuk & letak daun, tulang dan lamina, tenunan daun, tebal daun, kepadatan jaringan, berat per satuan luas, keelastisan, bodi, getah atau gum, mutu bakar, kuat fisiologis, warna, aroma, rasa dan sifat higroskopisnya.

Pemetikan daun tembakau di temanggung biasanya dilakukan dengan cara petik biasa (reaping) yakni dengan memetik daun-daunnya saja. Pemetikan daun dimulai dari bawah, dipetik 2 – 3 lembar daun setiap kali petik. Daun yang siap panen ditandai oleh perubahan warna daun, dari hijau menjadi kuning kehijauan, warna tulang daun putih/hijau terang, tepi daun mengering, permukaan daun agak kasar dan tangkai daun mudah dipatahkan. Menurut para petani tembakau di temanggung, waktu pemetikan yang terbaik dilakukan pada pagi hari setelah embun-embun yang menempel di daun tembakau telah menguap dan kering. Setelah daun tembakau dipetik, proses selanjutnya adalah sortasi. Sortasi pendahuluan dilakukan terhadap daun berwarna hijau untuk memisahkan daun yang agak muda (immature), daun kurang tua (unripe), daun tua (ripe) serta daun yang rusak. Proses ini dilakukan agar memudahkan proses pengeringan, memudahkan grading, memudahkan harga jual dan memudahkan proses pemasaran.

Setelah itu, pemeraman adalah proses selanjutnya. Yang dilakukan adalah mengatur daun sedemikian rupa yang didirikan di sebuah rak pemeraman. Pemeraman ini biasanya memakan waktu selama 1 hingga 7 hari, tergantung dari posisi daun pada batang. Setelah daun tembakau diperam, proses selanjutnya dilakukan perajangan. Perajangan dimulai pada tengah malam sampai pagi dengan tujuan hasil rajangan dapat segera dijemur pada pagi harinya. Setelah daun tembakau dirajang, kemudian tembakau rajangan dicampur merata (digagrak) dan diratakan di atas “widig” atau “rigen” untuk dijemur. Setelah rajangan tembakau tersebut kering, kemudian dimasukkan ke dalam keranjang bambu. Selanjutnya tembakau rajangan siap dijual.

Yang menarik dari semua ini adalah betapa kontranya bila kita membicarakan dampak yang dihasilkan dari rokok dan tembakau. Di satu sisi rokok mematikan jiwa, sementara di sisi yang lain tembakau menghidupkan manusia. Namun biarlah semesta kehidupan yang memberi jawabnya. Karena dalam hidup selalu ada gelap dan terang. Karena dalam hidup selalu ada hitam dan putih. Karena hidup itu sendiri harus tetap berjalan. Biarlah keseimbangan yang menjadikan kehidupan bagi kita.

* Tulisan singkat & foto cerita ini dibuat untuk keperluan klien “Wismilak”

@galihsedayu | bandung, 19 agustus 2014

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

 

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

tembakau temanggung

copyright (c) 2014 by galih sedayu
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

 

Written by Admin

September 25, 2014 at 5:36 am

Mengintip Penang, Mengetuk George Town

with 2 comments

Teks & Foto : galih sedayu

Ada yang menarik dari Pulau Penang yang terletak di barat laut Semenanjung Malaysia. Selain menyimpan harta karun berupa bangunan-bangunan bersejarah yang masih terawat dengan baik, kita dapat merasakan energi kreatif yang hadir di pulau seluas 293 kilometer persegi tersebut. Meskipun Penang terpisah dari daratan utama negeri jiran, namun pulau ini terhubung oleh Jembatan Pulau Pinang (Penang Bridge) yang membentang sepanjang 13 kilometer. George Town adalah ibukota Penang. Letaknya sekitar 15 kilometer dari Penang International Airport atau yang biasa disebut dengan nama Bayan Lepas. Seperti kita tahu, bahwa Malaysia dulu adalah bekas wilayah jajahan Inggris. George Town sendiri diadopsi dari nama Raja Inggris yakni George William Frederick atau King George III. Tak heran kota yang banyak memiliki arsitektural kolonial inggris tersebut diakui oleh masyarakat internasional sebagai situs warisan dunia UNESCO pada tahun 2008.

Bersama para sahabat dari Bandung Creative City Forum (BCCF), saya berkesempatan menginjakkan kaki di Penang untuk menghadiri undangan dari George Town Festival, Think City dan Southeast Asian Creative Cities Network. George Town Festival (GTF) sendiri merupakan rangkaian perayaan seni & budaya yang mengusung isu perihal industri kreatif dan berlangsung selama 30 hari penuh di bulan agustus 2014 dengan Penang sebagai pusatnya. Tahun ini adalah pelaksanaan GTF yang ke-5 yang berisikan rangakaian aktivitas dari mulai kolaborasi ide kreatif, ekspresi seni eksperimental, pertunjukkan seni tradisional & kontemporer, unjuk gigi komunitas lokal dan instalasi publik. Misi GTF adalah menjadi platform bagi seni & budaya di asia tenggara dengan fokus pada perspektif keunikan George Town.

Di Penang saya mendapatkan kartu kecil yang bertuliskan “Treat Others As You Would Like To Be Treated”. Isinya merupakan filosofi singkat nan sederhana dari berbagai agama dan kepercayaan yang berkembang di sana. Diantaranya Indigenous Spiritualities, Hinduism, Confucianism, Buddhism, Judaism, Chritianity, Islam, Sikhism dan Baha’i. Dari sanalah saya menilai bahwa masyarakat Penang sangat menjunjung tinggi toleransi beragama. Karena di sanalah hidup berdampingan warga dari berbagai bangsa, ras dan kepercayaan. Barangkali perbedaanlah yang membuat mereka menjadi satu jiwa. Ruang-ruang publik yang ada di kawasan George Town dijadikan sebagai kanvas kosong yang kemudian dilukis oleh komunitas dan pendatang dengan kuas kreativitasnya masing-masing. Jalan, tembok, gedung tua, cafe dan berbagai area publik menjadi elemen identitas dan estetika kota yang sangat visual dan memanjakan mata. Bila melihat Penang dan George Town Festival tersebut, rasanya perlu disadari bahwa sesungguhnya kita sebagai wargalah yang dapat membawa kehidupan sebuah kota.

Penang, 1-4 Agustus 2014

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2014 by galih sedayu 
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

 

Written by Admin

August 5, 2014 at 6:27 am

Kado Sederhana Dari Bandung Untuk Jokowi

with 2 comments

Teks & Foto : galih sedayu

“Kehadiran kita di sini membuktikan bahwa masih banyak orang Indonesia yang tidak bisa dibeli”
– anies baswedan –

Suara yang lantang dan berapi-api keluar dari mulut seorang Wawan Sofwan yang membacakan pidato revolusi mental dengan meniru busana dan gaya berbicara khas ala presiden soekarno. Alunan bunyi harmonika ditiup dari batin Hari Pochang yang berkolaborasi dengan bunyi gitar & alat musik tiup tradisional sehingga menghadirkan harmoni musik blues. Cetar!!! Tongkat pecut milik kesenian reak mengeluarkan getaran suara kerasnya ketika talinya menghujam tubuh Tisna Sanjaya sebelum ia kemudian melukis di atas kanvas putih dengan menggunakan pecut tersebut sebagai kuasnya yang agung. Sementara kemeriahan sederhana datang dari penampilan kesenian reak, wayang golek, keroncong merah-putih dan monolog. Berbagai ekspresi seni & budaya tersebut ditampilkan sebagai bentuk dukungan moral bagi kemenangan jokowi yang akan berlaga pada tanggal 9 juli 2014 nanti. Hutan kota dunia babakan siliwangi menjadi saksi dari energi, kekompakan dan doa yang diberikan oleh para relawan jokowi tersebut di kota bandung. Sebanyak 53 lukisan dari para seniman kota bandung disuguhkan sebagai kado kecil untuk jokowi pada gelaran “seni rupa dua jari” yang dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 21 juni 2014, bertepatan dengan hari jadi capres bernomor urut dua tersebut yang juga genap berusia 53 tahun. Menurut Tisna Sanjaya, karya lukisan yang diberikan kepada jokowi tersebut bersifat sublim, metafor dan simbolik. Nilai-nilai revolusi budaya, spiritual, kearifan lokal & semangat masa kini menjadi muatan dan isu yang diangkat dari gerakan & kesadaran bersama yang dihadiri oleh para pegiat kota bandung seperti Tisna Sanjaya, Ipong Witono, Aat Soeratin, Andar Manik, Isa Perkasa, Wawan Sofwan, Hari Pochang, Rahmat Jabaril, Deden Sambas, Gustaff H Iskandar, Wawan Setiawan Husin, Fiki Satari, Dwinita Larasati, dan masih banyak lagi. Sesungguhnya, apa yang dilihat oleh mata pada peristiwa ini adalah sebuah rahmat persaudaraan untuk mendukung capres pilihannya dengan cara budaya yang kreatif tanpa harus menggunakan kampanye hitam atau cara yang tidak terpuji. Sehingga menjadi inspirasi untuk menggarami kedamaian, kerukunan dan ketentraman dalam menentukan pemimpin indonesia kini & masa mendatang.

Bandung, 21 Juni 2014

*Kompilasi artikel berita

tempo.co >> http://bit.ly/1ntplfz

kompas.com >> http://bit.ly/UuSA9F

metrotvnews.com >> http://bit.ly/1pyKND1

klik-galamedia.com >> http://bit.ly/1uS5REc

detik.com >> http://bit.ly/1ilmpEG

merdeka.com >> http://bit.ly/1iwzpa9

tribunnew.com >> http://bit.ly/1nW39fQ

solusinews.com >> http://bit.ly/T0SMvK

republika.co.id >> http://bit.ly/1ilmZCa

antara.news.com >> http://bit.ly/1qrAIHw

suara.com >> http://bit.ly/1yzBqap

nefosnews >> http://bit.ly/1ntQ0re

liputan6.com >> http://bit.ly/1p5nWBk

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2014 by galih sedayu 
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

June 23, 2014 at 5:37 am

Pandangan Pertama Di Negeri Matahari Terbit

with 2 comments

Teks & Foto : galih sedayu

Imej jepang sebagai bangsa penjajah barangkali memang masih melekat bagi sebagian rakyat indonesia. Namun citra itu sudah sepantasnya lah kita hapus, karena jepang kini bukanlah jepang yang dulu lagi. Bahkan kita sebagai negara berkembang sudah semestinya berguru kepada negara yang lebih maju tersebut, baik dari sisi teknologi, pendidikan dan ekonomi. Saat ini, jepang menjadi kota industri yang memiliki teknologi tinggi baik di bidang transportasi, telekomunikasi, konstruksi, otomotif, elektronik, dan lain sebagainya. Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa jepang merupakan salah satu negara yang akan mendominasi dunia di masa yang akan datang. Apalagi kini jepang merupakan pengekspor budaya pop yang terbesar di asia dari mulai anime, manga, fashion, film, video & musik. Bagi orang awam sekalipun, sesungguhnya jepang akan dinilai sebagai sebuah bangsa yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai disiplin. Dari mulai disiplin bekerja, disiplin berlalu-lintas, disiplin masalah kebersihan, disiplin menjaga budaya tradisional dan masih banyak lagi. Kaum pria dan wanita ditempatkan secara egaliter. Kaum pedestrian sangat dihormati dan menjadi raja di jalan raya. Kota-kotanya bersih, tertib dan teratur. Toleransi beragama sangat tinggi. Komunitas kreatif diberikan ruang sehingga tumbuh dan berkembang dengan pesat. Taman-taman kota dirawat, dijaga dan selalu dikunjungi warganya. Dengan melihat jepang, seharusnya kita dapat bercermin pada kebaikan & kehidupan positif yang dihadirkannya. Namun, kita mesti ingat. “You can not hang out with negative people and expext to live a positive life”.

Jepang, Tokyo & Hamamatsu, 9-12 Juni 2014

galih sedayu

Atmosfir ibu kota jepang dilihat dari menara tokyo dengan ketinggian mencapai 250 meter – tokyo, jepang

galih sedayu

kuil zojoji dengan latar belakang menara tokyo – tokyo, jepang

galih sedayu

pemandangan di bawah menara tokyo yang dilihat melalui ‘lookdown window’ – tokyo, jepang

galih sedayu

suasana pagi hari di shiba, minato-ku, diambil dari jembatan di depan hotel celestine – tokyo, jepang

galih sedayu

kuil hamamatsu yang dibangun pada tahun 1532 oleh imagawa sadatsuke dari dinasti imagawa – hamamatsu, jepang

galih sedayu

‘act tower’, bangunan pencakar langit dengan tinggi 213 meter yang meniru bentuk harmonika – hamamatsu, jepang

galih sedayu

kawasan ‘red district’ di kota hamamatsu pada malam hari – hamamatsu, jepang

galih sedayu

pejalan kaki di shiba, minato-ku, tokyo pada suatu pagi yang cerah – tokyo, jepang

galih sedayu

seorang pengunjung sedang menikmati pameran foto yang berada di dalam gedung menara tokyo – tokyo, jepang

galih sedayu

para penghuni jalan raya di shiba, minato-ku – tokyo, jepang

galih sedayu

seorang pekerja wanita tengah membersihkan kaca di menara tokyo yang tingginya 250 meter – tokyo, jepang

galih sedayu

warga yang menunggu giliran untuk menyebrang – roppongi, jepang

galih sedayu

disiplin bagi para pejalan kaki adalah salah satu ciri khas orang jepang – tokyo, jepang

galih sedayu

warga jepang yang tengah istirahat & menikmati ‘street furniture’ di depan museum fuji film – roppongi, jepang

galih sedayu

seorang pemusik yang bersuara merdu tengah menghibur orang-orang di depan ‘japan railway (jr) hamamatsu station’ – hamamatsu, jepang

galih sedayu

seorang perempuan menutupi wajahnya yang kepanasan karna cuaca yang sangat terik di sore hari – hamamatsu , jepang

galih sedayu

sepasang muda mudi tengah menikmati sore di taman yang luas yang berada di depan kuil hamatsu – hamamatsu, jepang

galih sedayu

sekelompok pemusik tengah menghibur para tamu hotel yang tengah menikmati makan siang – hamamatsu , jepang

galih sedayu

seorang anak muda yang mengendarai sepeda bmx tengah melakukan atraksi di sebuah kawasan pertokoan – hamamatsu, jepang

galih sedayu

sebuah kuil yang terletak di kawasan ‘red district’ – hamamatsu, jepang

galih sedayu

para pelajar & pekerja yang baru pulang malam – hamamatsu, jepang

copyright (c) 2014 by galih sedayu 
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

June 18, 2014 at 10:30 am

Senandung Pagi Pedestrian Tokyo

with 4 comments

Teks & Foto : galih sedayu

Umumnya kota-kota besar di dunia selalu identik dengan berbagai problematika yang menyangkut isu mobilitas urban seperti kemacetan lalu lintas, kepadatan kendaraan bermotor, polusi udara, trotoar yang sempit, suara bising klakson dan ketidaknyamanan bagi pejalan kaki. Namun ternyata, berbagai cap tersebut tidaklah berlaku di kota tokyo yang didaulat menjadi ibu kota negara jepang tersebut. Suatu pagi saya berkesempatan untuk berjalan kaki di sekitar area shiba & roppongi di kota tokyo. Kebetulan cuaca pagi di kota yang dihuni oleh sekitar 12 juta penduduk tersebut sangatlah cerah kala itu. Mentari bersinar dengan senyumnya yang lebar dan kota tokyo pun menjadi terang dalam keseharian. Bersih, disiplin, tertib, nyaman dan aman. Hanya itulah kata-kata yang dapat terucap ketika saya mengalami menjadi seorang pedestrian dan merasakan sendiri atmosfir kota tokyo di pagi hari. Tak terlihat sampah yang berserakan, tak terlihat polisi yang lalu-lalang, tak terlihat banyaknya pengguna kendaraan pribadi. Tak terdengar pula bunyi klakson kendaraan bermotor, tak terdengar pula suara para pedagang liar, tak terdengar pula teriakan orang-orang di jalan. Yang saya rasakan saat itu bagaikan mendengarkan lantunan sebuah lagu berirama merdu di pagi hari yang ceria. Sungguh takjub rasanya ketika mengetahui bahwa kaum pejalan kaki mendapat tempat yang paling terhormat di sana. Disusul kemudian pengguna sepeda. Dan terakhir pemakai kendaraan bermotor. Hanya ada satu mimpi setelah melihat ini semua. Merindu bandung seperti tokyo, suatu saat nanti. Bagaimana caranya? Wartakanlah budaya ini kepada anak-anak dan ajarilah mereka.

Jepang, Tokyo, 9 Juni 2014

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2014 by galih sedayu 
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

June 13, 2014 at 11:35 am

Antara Ketenangan & Kekuatiran Raja

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Dibangun pada tahun 1758 dan berdiri tegak sejak tahun 1965. Hasil karya duet Tumenggung Mangundipuro dan Demang Tegis (seorang arsitek berkebangsaan portugis) pada era kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono I inilah, yang melahirkan sebuah situs bangunan bersejarah di pulau jawa bernama Taman Sari Yogyakarta. Sebelumnya karena mengundurkan diri, tanggung-jawab dari Tumenggung Mangundipuro terpaksa diambil alih oleh Pangeran Notokusumo. Meski sebenarnya pembangunan taman atau kebun rekreasi di dalam area benteng keraton yogyakarta ini didanai sepenuhnya oleh rakyat madiun di bawah kepemimpinan Bupati Tumenggung Prawirosentiko. Luas taman ini sekitar 10 hektare yang terdiri atas kurang lebih 57 bangunan baik berupa gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, maupun danau buatan beserta pulau buatan dan lorong bawah air. Secara keseluruhan komplek Taman Sari ini terbagi menjadi 4 bagian yaitu bagian pertama berupa danau buatan di sebelah barat, bagian kedua berupa Pemandian Umbul Binangun di sebelah selatan bagian pertama, Pasarean Ledok Sari dan Kolam Garjitawati di sebelah selatan bagian kedua serta bagian terakhir di sebelah timur bagian pertama & kedua yang saat ini hanya terlihat bekas jembatan gantung & sisa dermaga. Beruntung hingga kini kita masih dapat melihat sebagian situs bersejarah Istana Air Taman Sari Yogyakarta yang telah menjadi cagar budaya tersebut. Karena di sanalah sesungguhnya mengalir sebuah cerita perihal kehidupan raja-raja jawa yang konon menjadi legenda.

Jogyakarta, Tamansari, 2 Maret 2014

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2014 by galih sedayu 
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

 

Written by Admin

April 5, 2014 at 10:04 am

Nyala Bandung Kala Malam

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

*lirik lagu ini dinyanyikan pertama kali oleh willy derby & kemudian dilantunkan kembali oleh wieteke van dort

Hallo! Bandoeng!

t Oude moedertje zat bevend
Op het telegraafkantoor
Vriend’lijk sprak de ambt’naar
Juffrouw, aanstonds geeft Bandoeng gehoor
Trillend op haar stramme benen
Greep zij naar de microfoon
En toen hoorde zij, o wonder
Zacht de stem van hare zoon

Hallo! Bandoeng!
Ja moeder hier ben ik!
Dag liefste jongen,zegt zij met een snik
Hallo, hallo!
Hoe gaat het oude vrouw?
Dan zegt ze alleen:
Ik verlang zo erg naar jou!

Jongenlief, vraagt ze,hoe gaat het Met je kleine bruine vrouw?
Best hoor, zegt hij,en we spreken
Elke dag hier over jou
En m’n kleuters zeggen ’s avonds
Voor het slapen gaan een gebed
Voor hun onbekende opoe
Met een kus op jouw portret

Wacht eens, moeder, zegt hij lachend
‘k Bracht mijn jongste zoontje mee
Even later hoort ze duidelijk
Opoe lief, tabeh, tabeh!
Maar dan wordt het haar te machtig
Zachtjes fluistert ze:
O Heer Dank dat ‘k dat heb mogen horen…
En dan valt ze wenend neer

Hallo! Bandoeng!
Ja moeder hier ben ik!
Ze antwoordt niet.
Hij hoort alleen ‘n snik
Hallo! Hallo!…klinkt over verre zee
Zij is niet meer en het kindje roept: Tabeh

Bandung, 28 Januari 2014

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2014 by galih sedayu 
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

March 23, 2014 at 2:02 pm