Archive for the ‘07) SEMESTA FOTO CERITA’ Category
Sensasi Menyengat Bangkok
Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu
กรุงเทพมหานคร อมรรัตนโกสินทร์ มหินทรายุธยา มหาดิลกภพ นพรัตนราชธานีบูรีรมย์ อุดมราชนิเวศน์มหาสถาน อมรพิมานอวตารสถิต สักกะทัตติยวิษณุกรรมประสิทธิ์ (Krungthepmahanakhon Amonrattanakosin Mahintharayutthaya Mahadilokphop Noppharatratchathaniburirom Udomratchaniwetmahasathan Amonphimanawatansathit Sakkathattiyawitsanukamprasit). Kota Malaikat, Kota Besar Yang Abadi, Kota Megah Dari Sembilan Permata, Singgasana Raja, Kota Istana Kerajaan, Rumah Para Dewa Yang Berinkarnasi. Begitulah mereka menyebut Kota Bangkok yang merupakan ibukota Negara Thailand atau Negeri Gajah Putih ini. Kota yang dalam bahasa Thai disebut dengan Krung Thep Maha Nakhon ini memiliki populasi penduduk di atas 8 juta jiwa dengan luas area sekitar 1568,7 m². Kota yang rata-rata memiliki cuaca panas sepanjang tahun ini terkenal akan atmosfir jalanannya yang memikat para turis mancanegara. Dari mulai kuliner, budaya, fesyen, hingga kehidupan malamnya yang menjadi magnet setiap orang. Ribuan cerita bisa kita peroleh di sana. Pedagang kaki lima hampir menyerupai dekorasi yang menghiasi setiap sudut Kota Bangkok. Tuk Tuk atau “Sam Lor”, kendaraan roda tiga yang menyerupai bajaj kalau di Indonesia, merupakan transportasi khas di kota ini yang paling cocok untuk menghindari kemacetan. Pasar Chatuchak yang hanya buka setiap hari Sabtu & Minggu juga merupakan salah satu destinasi yang kerap dikunjungi oleh para pendatang. Kota yang murah & ramah adalah kesan yang saya dapatkan tatkala menginjakkan kaki di sana meski kadang kota ini terkesan berantakan. Dan saya pun baru menyadari betapa masyarakatnya sangat mencintai Sang Raja terutama Raja Bhumibol Adulyadej atau Raja Rama IX yang juga menyukai fotografi. Setelah Raja Bhumibol memimpin Thailand selama 60 tahun sejak tanggal 9 Juni 1946, ia pun wafat di usia 88 tahun pada tanggal 13 Oktober 2016. Selama satu tahun warga Thailand berduka atas kepergiannya. Saat ini tahta kerajaan digantikan oleh putranya yang bernama Putra Mahkota Maha Vajiralongkorn. Ah…Momen singgah di Kota Bangkok memang sangat membekas di hati. Barangkali itupun yang menjadi alasan grup Band Rush menciptakan lagu A Passage To Bangkok. “We’re on the train to Bangkok. Aboard the Thailand Express. We’ll hit the stops along the way. We only stop for the best”.
Bangkok, 16 – 17 Desember 2016 ; 26 – 28 Oktober 2017 ; 15 – 20 November 2017
#47KaryaFoto
***
กรุงเทพมหานคร อมรรัตนโกสินทร์ มหินทรายุธยา มหาดิลกภพ นพรัตนราชธานีบูรีรมย์ อุดมราชนิเวศน์มหาสถาน อมรพิมานอวตารสถิต สักกะทัตติยวิษณุกรรมประสิทธิ์ (Krungthepmahanakhon Amonrattanakosin Mahintharayutthaya Mahadilokphop Noppharatratchathaniburirom Udomratchaniwetmahasathan Amonphimanawatansathit Sakkathattiyawitsanukamprasit). The City of Angels, The Immortal Great City, The Magnificent City Of The Nine Gems, The King’s Throne, The City Of The Royal Palace, The House Of The Incarnate Gods. That’s how they call the City of Bangkok which is the capital of the State of Thailand or the State of the White Elephant. The city is in Thai called Krung Thep Maha Nakhon has a population of over 8 million people with an area of about 1568.7 m². The average city that has hot weather all the year is famous for its street atmosphere that attracts foreign tourists. From the start of culinary, culture, fashion, to the night life that became the magnet of everyone. Thousands of Stories we can get there. Street vendors almost resemble the decoration that adorns every corner of Bangkok City. Tuk Tuk or “Sam Lor”, a three-wheeled vehicle that resembles a bajaj if in Indonesia, is a typical transportation in this city is best suited to avoid traffic. Chatuchak market which is only open every Saturday & Sunday is also one of the destinations frequented by migrants. The cheap & friendly city is the impression I get when I set foot there although sometimes the city seems messy. And I just realized how much the people love the King especially King Bhumibol Adulyadej or King Rama IX who also love photography. After King Bhumibol led Thailand for 60 years from June 9, 1946, he died at the age of 88 on October 13, 2016. For one year the Thai citizens mourned his departure. Today the royal throne is replaced by his son, Crown Prince Maha Vajiralongkorn. Ah … The moment of transit in the city of Bangkok is very imprinted in the heart. Perhaps that’s why the Band Rush group created the song A Passage To Bangkok. “We’re on the train to Bangkok. Aboard the Thailand Express. We’ll hit the stops along the way. We only stop for the best “.
Bangkok, 16 – 17 December 2016 ; 26 – 28 October 2017 ; 15 – 20 November 2017
#47Photographs















































Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Seruput Kehangatan Di Warung Kopi Asiang
Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu
Jika kita berkesempatan mampir ke Kota Pontianak, “Warung Kopi Asiang” adalah salah satu kunjungan wajib terutama bagi para penggemar kopi nusantara. Berdiri sejak tahun 1958, warung ini diberi nama sesuai dengan nama pemilik warung & penyeduh kopinya yakni “Asiang”. Orangnya nyentrik, usianya sekitar 63 tahun, berbadan tinggi besar, berkepala plontos, mimiknya nyaris tanpa ekspresi, punya kebiasaan tidak mengenakan baju dan hanya bercelana pendek saja, serta tatonya tampak terlihat jelas di dada & lengan bahu kanannya. Jarang sekali kita melihat Pak Asiang beristirahat karena sibuk meladeni para pelanggan yang memesan kopi. Warung Kopi ini terletak di Jalan Merapi No.193 Pontianak. Buka setiap hari dari jam 3 subuh sampai jam 2 siang. Harga yang dipatok Warung Kopi Asiang bervariasi. Kopi hitam seharga Rp 5.000 dan kopi susu seharga Rp 7.000. Sedangkan untuk aneka kue seperti kue pisang, roti tawar, kue apem dihargai Rp 3.000, kecuali untuk roti selai seharga Rp 5.000. Silakan kunjungi Warung Kopi Asiang ini bagi siapapun yang mendambakan kehangatan & aroma kopi yang dimiliki oleh Kota Khatulistiwa ini.
Pontianak, 30 Oktober 2017
***
If we have the opportunity to stop by the city of Pontianak, “Asiang Coffee Shop” is one of the mandatory visit, especially for fans of coffee archipelago. Established since 1958, this shop is named after the name of the owner of the coffee shop “Asiang”. He was a quirky man, 63 years old, tall, big-headed, his expression barely expressionless, had the habit of not wearing clothes and only shorts, and his tattoos were clearly visible on the chest & arm of his right shoulder. Rarely do we see Asiang rest because of busy serving customers who order coffee. This Coffee Shop is located at Jalan Merapi No.193 Pontianak. Open daily from 3am to 2pm. Prices are pegged Warung Kopi Asiang vary. Black coffee for Rp 5,000 and milk coffee worth Rp 7,000. As for the various cakes such as banana cake, bread, apple cake priced at Rp 3,000, except for bread jams for Rp 5,000. Please visit this Asiang Coffee Shop for anyone who crave the warmth & aroma of coffee owned by this Equatorial City.
Pontianak, October 30, 2017

















Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
“Upaya Menyelesaikan Bandung” | Foto Cerita Perjalanan Fiki Satari Sebagai Bakal Calon Wali Kota Bandung 2018 – 2023
Teks & Foto : galih sedayu
9 tahun lamanya saya menjalin persahabatan dengan Fiki Satari. Tepatnya tahun 2008 di Kota Bandung, dimana saya dipertemukan serta diperkenalkan dengan seorang Fiki Satari bersamaan dengan Ridwan Kamil yang kini menjadi Wali Kota Bandung. Momen Helar Fest, sebuah festival kota yang digagas oleh Bandung Creative City Forum {BCCF} menjadi saksi waktu awal perkenalan saya dengan kedua orang yang kini menjadi sahabat baik tersebut. Ridwan Kamil & Fiki Satari adalah dua orang sahabat yang banyak menghadirkan perubahan dalam hidup saya kelak. Berkat daya magnet mereka berdua, saya pun akhirnya masuk ke dalam “Jebakan Batman” dan terjun menjadi “Volunteer” di organisasi nirlaba BCCF yang baru mereka dirikan pada tahun itu. Saat itu Ridwan Kamil menjadi ketua BCCF, Fiki Satari menjadi Direktur Program BCCF dan saya pun langsung diminta menjadi Sekertaris Program BCCF. Entah kenapa saya seperti dihipnotis dan langsung terpikat untuk bergabung dengan pergerakkan mereka serta terlibat aktif dalam menjalankan program-program yang kelak tercatat manis oleh sejarah Kota Bandung. Dari mulai aktivasi ruang publik, kampanye lingkungan hidup, pendidikan kreativitas, pemberdayaan warga kota, hingga jejaring komunitas, semuanya dilakoni dengan senang hati.
Pada tahun 2013, ternyata takdir menyatakan pesannya pada sahabat saya Ridwan Kamil untuk menjadi Wali Kota Bandung hingga tahun 2018. Bersamaan dengan berakhirnya masa kepemimpinan Ridwan Kamil sebagai ketua BCCF dan dimulainya tanggung jawab baru sebagai Wali Kota Bandung, maka setelah itu tongkat estafet kepemimpinan BCCF periode 2013 – 2018 dipegang oleh Fiki Satari. Saya pun menggantikan Fiki Satari sebagai Direktur Program BCCF. Alhasil setelah itu, saya banyak menghabiskan waktu bersama Fiki Satari di organisasi BCCF dengan segudang programnya. Dengan program-program unggulan BCCF di era Fiki Satari yakni Helarfest, Kampung Kreatif, Simpul Institute, dan DesignAction.bdg, organisasi ini bertransformasi menjadi sebuah gerakan komunitas yang lebih matang dengan menerapkan metodologi “Design Thinking” serta konsep “Urban Acupuncture” dalam melahirkan jejak-jejak kreativitas bagi Kota Bandung. Kini BCCF semakin pesat berkembang dan menjadi pusat perhatian komunitas lain di seluruh Indonesia bahkan di seluruh dunia.
Waktu demi waktu berlalu, dan karena waktu itu pula saya semakin mengenal pribadi seorang Fiki Satari. Bagi saya, Fiki Satari adalah seorang pria yang penuh tanggung-jawab, seorang pemuda yang kreatif, seorang ayah yang humanis, serta seorang sahabat yang tulus. Dari Fiki Satari saya banyak belajar tentang bagaimana membangun sebuah tim, bagaimana melahirkan kolaborasi, dan bagaimana mencari solusi dari setiap permasalahan. Ia seorang pemuda yang penuh energi, memiliki semangat dan pantang menyerah. Fiki Satari menjadi semacam perekat dan tali simpul yang baik bagi keberlangsungan sebuah persahabatan maupun organisasi. “Menyelesaikan sesuatu” barangkali adalah nama tengah yang layak disandang olehnya.
Seabrek kesibukan dan tanggung jawab digeluti oleh Fiki Satari demi kecintaan dan “Rasa Nyaah” nya terhadap Kota Bandung. Fiki Satari adalah Pemilik, Produser Eksekutif M4AI Records Independent Music Company (2002 – sekarang), dengan The Milo sebagai salah satu artist yang diorbitkan. Fiki Satari adalah Pelopor Tim Kelompok Kerja Ekonomi Kreatif Rumah Transisi Jokowi-JK (2012), yang mengampu tugas untuk menyusun lembar kerja bidang Ekonomi Kreatif. Fiki Satari adalah Formatur & Pengarah Indonesia Creative Cities Network / ICCN (2012 – sekarang), sebuah jejaring kabupaten & kota kreatif di Indonesia. Fiki Satari adalah Ketua Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Kota Bandung (2017 – 2019) yang diinisiasi oleh PBNU. Fiki Satari adalah Host yang mengampu acara bincang-bincang di Radio PRfm dengan tajuk Muda.bdg (2013 – 2017). Fiki Satari adalah Pemilik PT. Idealog Komunikasi Kreatif (2015 – sekarang). Fiki Satari adalah Ketua Karang Taruna Kota Bandung (2014 – 2019). Fiki Satari adalah Mentor Creative & Cultural Entrepreneurship Program, Master of Business Administration, Institute of Technology Bandung / CCE MBA ITB (2013 – 2015). Fiki Satari adalah Ketua Tim Dossier UNESCO Creative Cities Network Management Team for Bandung (2012 – 2015), dimana pada tanggal 11 Desember 2015 UNESCO menerima Bandung dalam Jejaring Kota Kreatif tersebut. Fiki Satari adalah Dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran Bandung (2008 – sekarang). Fiki Satari adalah ketua Kreative Independent Clothing Kommunity / KICK (2006 – 2009), yang merupakan gabungan para pelaku indutri clothing. Fiki Satari adalah pendiri Airplane Systm (1998 – sekarang), salah satu brand fesyen lokal kebanggaan Bandung. Dan masih banyak lagi “Fiki Satari adalah” lainnya, yang tentunya tak bisa disebutkan satu persatu.
Namun ternyata Sang Semesta membuka sebuah jalan lain bagi Fiki Satari di tahun 2017 ini. Dengan tekad yang bulat, Fiki Satari menyatakan dan memberanikan dirinya untuk maju sebagai bakal calon Wali Kota Bandung periode 2018 – 2023. Meski ia sadar bahwa keputusannya adalah sebuah proses dan perjalanan panjang, namun ia siap mengambil tanggung jawab itu dan akan memulai pertarungan tersebut dengan segala resikonya. Baginya alasan yang paling kuat adalah karena Bandung itu sendiri. Kota yang menjadikannya manusia hingga seperti sekarang. Kota yang sangat layak untuk diperjuangkan.
Pada tanggal 6 Juli 2017, Fiki Satari mulai mendaftarkan dirinya ke kantor Partai Demokrat sebagai salah satu bakal calon Wali Kota Bandung. Kemudian pada tanggal 6 Agustus 2017, Fiki Satari mendapat kesempatan untuk mengikuti Konvensi Bakal Calon Wali Kota Bandung 2018 – 2023 dari Partai Demokrat yang bertempat di Gedung GOR Padjajaran Bandung. Di depan peserta yang memadati acara konvensi tersebut, Fiki Satari memaparkan visi & misinya sebagai bakal calon pemimpin Kota Bandung dengan sederhana dan jelas. Di akhir acara, orang pertama yang ia hampiri dan ia peluk adalah ibunya. Karena ia tau benar bahwa tak mungkin menjalani ini semua tanpa restu dan doa dari ibunya. Setelah bertemu dengan istri dan anak-anaknya, Fiki Satari pun menghampiri para pendukungnya. Kemudian ia mengutarakan agar kita semua harus bisa menikmati prosesnya dalam suasana yang penuh damai. Ia pun menghimbau agar tak boleh ada kata benci atau hujatan yang keluar dari para pendukungnya yang dilontarkan terhadap para bakal calon Wali Kota Bandung lainnya.
Teruntuk sahabatku Kang Fiks…
Doa terbaik akan selalu saya lantunkan setiap hari untuk menemani perjalanan Kang Fiks yang berliku ini. Kiranya tetap berkarya, tetap mewarta, tetap bercahya demi Bandung. Jika Sang Semesta belum menentukan takdirnya agar Kang Fiks menjadi pemimpin Kota Bandung, maka terimalah dan tetap melakukan sesuatu untuk Bandung. Namun jika Sang Semesta menyatakan takdirnya sehingga kelak Kang Fiks menjadi pemimpin Kota Bandung, maka bersyukurlah dan pimpinlah Bandung dengan jejak nyata. Agar cita-cita menyelesaikan Bandung menjadi tuntas. Agar semangat melayani Bandung menjadi pemantiknya. Karena Bandung bukan hanya kota, namun Bandung adalah kita. Karena kita Bandung akan tetap ada.


































Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Kasih Ibu di Pantai Lovina
Teks & Foto oleh galih sedayu
Konon, lumba-lumba adalah sahabat manusia di lautan. Karenanya tak heran bila manusia yang lebih sering hidup di daratan, kemudian ingin bersua dan mencari sahabatnya di samudera yang luas. Kawanan lumba-lumba ini, dapat kita temui di Pantai Lovina, Pulau Dewata, Bali. Pantai Lovina sejak dulu menjadi salah satu destinasi wisata di pesisir Bali Utara, tepatnya 10 km ke arah barat Kota Singaraja, di Desa Kalibukbuk, Kabupaten Buleleng, Bali. Pasir hitam yang dimilikinya seolah menjadi halaman depan sebelum kita memulai perjalanan ke tengah laut agar dapat menjumpai lumba-lumba yang berada sekitar 1-2 km dari bibir pantai. Biasanya, kawanan lumba-lumba ini muncul sekitar pukul 6 hingga 8 pagi di tengah laut. Mengingat mahluk langka tersebut sudah bangun pagi-pagi buta, sebaiknya kita sudah harus berangkat sebelum matahari terbit dengan menggunakan perahu nelayan yang sederhana nan berwarna. Nama “Lovina” menjadi populer berkat jasa Anak Agung Panji Tisna, dimana pada tahun 1953 ia mulai membangun sebuah pondok di atas tanah miliknya yang berada di Buleleng. Pondok itulah yang kemudian diberi nama “Lovina” yang ditujukan sebagai tempat peristirahatan bagi turis-turis asing. Menurut Panji Tisna, kata “Lovina” sendiri berasal dari campuran dua suku kata yaitu “Love” dan “Ina”. Kata “Love” dari bahasa Inggris berarti kasih atau Cinta dan “Ina” dari bahasa Bali atau bahasa daerah yang berarti “ibu”. “Cinta Ibu” atau “Cinta Ibu Pertiwi” adalah makna yang mendalam dari Lovina. Semoga pesan tersebut dapat selalu diwariskan selamanya kepada kita dan sang lumba-lumba selalu hadir menjadi saksi hidup Pantai Lovina.
@galihsedayu | Bali, 4 Juli 2015



Copyright (c) 2015 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Pesona Dunia Pantai Padang Padang
Teks & Foto oleh galih sedayu
Berada di Jalan Labuan Sait, tepatnya di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. Pantai Padang Padang atau yang juga dikenal dengan nama pantai Labuan Sait, menjadi salah satu magnet wisata di Pulau Dewata. Berlatar belakang perbukitan yang hijau dan batu karang yang terjal, pantai ini menawarkan sejuta pesona bagi siapapun yang merasakannya. Untuk menuju pantai ini, kita mesti melewati sebuah jalan yang menyerupai goa dan turun melewati puluhan tangga dengan ruang yang sempit. Namun setelah itu, pasir putih dengan airnya yang bening & jernih akan menjadi nirwana bagi kita semua. Maka tak heran bila Pantai Padang Padang ini menjadi salah satu lokasi syuting video musik “Someday” yang dibawakan oleh grup pop “Michael Learns To Rock” dan bahkan menjadi lokasi syuting film “Eat, Pray, Love” yang dibintangi artis Hollywood “Julia Roberts”. Bali tentunya boleh berbangga karena berkat Pantai Padang Padang ini, nama Indonesia semakin harum di mata dunia.
@galihsedayu | Bali, 7 Juli 2015
Copyright (c) 2015 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Ada Warna di La Plancha
Teks & Foto oleh galih sedayu
Ada begitu banyak ruang di pinggir pantai yang bisa kita nikmati di Pulau Dewata. Masing-masing tentunya memiliki keunikannya tersendiri. Begitu pula dengan La Plancha yang berada di kawasan pantai 66 dan pantai Gado-Gado, tepatnya di Jalan Dyana Pura, Seminyak, Kuta, Bali. Nama La Plancha sendiri dicomot dari bahasa Spanyol yang artinya papan seluncur (surf board) dan merupakan milik Gonzales seorang warga Spanyol yang membuatnya pada tahun 2010. Surfing, rileks sembari makan & minum, serta menikmati matahari terbenam bisa kita dapatkan di kawasan ini. Semuanya serba warna-warni di La Plancha, dari mulai kayu-kayu bekas yang dibuat sebagai bahan bangunan, kursi, bantal (bean bed) serta payung-payung cantik yang disusun rapi berderet di bibir pantai. Barang siapa yang merasa hatinya kelam, barangkali tempat ini dapat menjadi pengail hasrat agar hati kita semerbak berwarna kembali.
@galihsedayu | Bali, 6 Juli 2015
Copyright (c) 2015 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Pasukan Hijau Penjaga Pantai Bali
Teks & Foto oleh galih sedayu
Pulau Bali ternyata tidak hanya menyimpan destinasi wisata alam berupa laut & pantai saja. Ia pun menyuguhkan hamparan hutan mangrove atau bakau yang luas yakni sekitar 1.300 hektar. Letaknya di Jalan By Pass Ngurah Rai, Kuta, Bali, sekitar 100 meter dari Simpang Dewa Ruci. Untuk menelusuri hutan mangrove ini, jembatan kayu dengan panjang sekitar 2 km menjadi sahabat kita untuk melangkah tanpa harus menginjakkan kaki di rawa-rawa yang berlumpur. Pemandangan jalan tol dan birunya laut teluk Benoa dapat dipandang dari ujung jembatan hutan bakau bila kita sudi berjalan hingga ke ujung jembatan kayu tersebut. Di jalur keramaian Kabupaten Badung, Bali, kawasan hutan bakau ini menjadi saksi keseharian lalu-lintas yang bising sekaligus menjadi penyaring polusi udara yang ditimbulkannya. Pohon bakau ini tumbuh dengan gembira di atas rawa yang memiliki air payau (air tawar yang bercampur dengan air laut). Berkat hutan bakau ini pula, gelombang air laut yang masuk ke daratan dapat ditahan sehingga abrasi atau pengikisan tanah di pinggir pantai dapat dikurangi. Bayangkan apabila Pulau Bali yang dikelilingi oleh laut dan ombak yang besar di daerah selatan, tidak memiliki hutan bakau tersebut. Karenanya kita mesti percaya bahwa alam selalu mampu menyediakan cara untuk menjaga ekosistem yang ada, tidak seperti manusia yang kadang justru merusaknya.
@galihsedayu | Bali, 6 Juli 2015
Copyright (c) 2015 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.





































































