Archive for the ‘02) SEMESTA FESTIVAL KREATIF’ Category
Indonesia Berdendang Bersahutan di Penang | Indonesia Festival | 28-29 November 2015, Penang, Malaysia
Teks : galih sedayu
Foto : Dudi Sugandi, galih sedayu, Pam Ardinugroho & Ruli Suryono
Indonesia adalah negara yang penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Barangkali inilah salah satu alasan mengapa Indonesia mendapat kehormatan untuk mempromosikan wisata tanah air kita di Penang, Malaysia. Selama dua hari, dari tanggal 28-29 November 2015, sejumlah kolaborator yang terdiri dari pekerja kreatif di bidang musik, seni pertunjukkan, tari, permainan anak tradisional, fotografi, video, serta desain hadir di Penang dalam sebuah perhelatan yang bernama Indonesia Festival. Mewakili komunitas musik ada nama 4 Peniti {Deconstructive, Logarithm & Connecting Band}, Homogenic {Electronic Band} dan Street Traveller {Folks & Blues Band}. Kemudian ada Tantanggaranda83 yang mewakili Bandung dari komunitas seni pertunjukkan, Komunitas Hoong yang mewakili komunitas permainan anak tradisional, serta Wanna Be Dancer yang mewakili komunitas tari. Terakhir mewakili Kota Malang yang turut berkolaborasi yaitu Komunitas Malang Armore Carnival. Para kolaborator ini menyemarakkan acara Indonesia Festival yang mengusung tema “Sharing Our Similarities, Celebrating Our Differences”. Indonesia Festival ini diselenggarakan oleh Wonderful Indonesia dan Kementrian Pariwisata Indonesia bekerja sama dengan Merah Putih Persada dan Ruang Kolaborasa dari Bandung. Kebetulan saya dipercaya untuk menjadi Creative Director dari Indonesia Festival tersebut.
Padang Esplanade atau Padang Kota Lama, sebuah lapangan rumput hijau nan luas di kota Georgetown, Penang menjadi sebuah arena kolaborasa dan ruang kreativitas bagi kegiatan Indonesia Festival tersebut. Padang Esplanade ini menghadap ke arah laut dimana sejauh mata memandang tampak jembatan Pulau Penang yang mengubungkan Bayan Lepas di Pulau Penang dengan Seberang Prai di daratan Malaysia. Selain itu Penang City Hall atau Dewan Bandaraya Pulau Pinang, sebuah bangunan bersejarah yang dibuka sejak tahun 1903, menjadi salah satu latar pemandangan yang unik jika kita menginjakkan kaki di area hijau Padang Esplanade. Dekorasi Indonesia Festival inipun disuguhkan dengan apik dari mulai tenda peserta pameran yang berwarna-warni, instalasi balon dalam skala gigantik, infographic wall perihal pariwisata indonesia, outdoor cinema, photo booth, serta pameran foto. Belum lagi ratusan balon cair {bubbles} yang beterbangan di tiup angin, semakin menjadikan atmosfir yang segar di area tersebut.
Meski para kolaborator Indonesia Festival ini diundang ke Penang sebagai tamu atau pengisi acara, namun pada kenyataannya mereka tetap berlaku dan bertindak seperti pemilik acara. Barangkali itulah semangat memiliki Indonesia yang ditunjukkan oleh kita semua. Sejumlah kendala yang ditemui di lapangan saat penyelenggaraan acara, tanpa berpikir panjang segera direspon oleh mereka dengan solusi, bukan dengan keluhan. Tak heran bila di sana grup musik 4 Peniti terlihat ikut membantu menyiapkan dan mengatur sound system panggung, tim dokumentasi yang terlihat membantu mengatur dan menyusun properti dekorasi acara, serta komunitas hoong yang ikut membantu membersihkan sampah. Semuanya dilakukan dengan senang hati dan penuh ikhlas. Saat pembukaan acara, ribuan kolecer menjadi simbol pemersatu sekaligus memanggil semua pengunjung agar dapat menari dan bergembira bersama di tengah lapangan. Meskipun cuaca matahari yang menyengat di kala siang dan guyuran hujan setiap malam di Padang Esplanade, namun itu semua tidak menyurutkan semangat dan keceriaan tim kami untuk bisa menghibur warga Penang. Bahkan menari dan berdansa di saat hujan turun menjadi sebuah atraksi yang memikat sembari ditemani alunan musik yang dihadirkan oleh para musisi Indonesia.
Dua hari di Penang memang terasa singkat bagi para kolaborator Indonesia Festival. Namun tawa, canda dan suka cita yang dihadirkan di sana adalah jejak yang selalu membekas di hati. Apalagi esensi sebuah festival internasional adalah mewartakan nilai-nilai kebaikan yang dimiliki oleh sebuah bangsa. Dalam hal ini, kita semua mencoba memberikan pesan dan kesan yang baik demi Indonesia, demi tanah air, demi bumi pertiwi. Keramahan dan kehangatan, solidaritas dan toleransi, kekayaan dan ragam budaya semestinya dapat menjadi ciri khas dan karakter bagi bangsa kita. Tentunya dalam persaudaraan kita mesti percaya bahwa ia adalah benteng terakhir tatkala bangsa kita mengalami kesulitan. Oleh karenanya, tetaplah membuat simpul yang erat bagi dunia.
***
Text : galih sedayu
Photography : Dudi Sugandi, galih sedayu, Pam Ardinugroho & Ruli Suryono
Indonesia is a country full of joy and happiness. Perhaps this is one reason why Indonesia has the honor to promote our country tour in Penang, Malaysia. For two days, from 28-29 November 2015, a number of collaborators consisting of creative workers in music, performing arts, dance, traditional children’s games, photography, video, and design were present at Penang in an event called Indonesia Festival. Representing the music community there are the names 4 Peniti {Deconstructive, Logarithm & Connecting Band}, Homogenic {Electronic Band} and Street Traveler {Folks & Blues Band}. Then there is Tantanggaranda83 representing Bandung from the performing arts community, Hoong Community representing the traditional children’s game community, as well as Wanna Be Dancer representing the dance community. Last representing the Malang City who also collaborated the Malang Community Armore Carnival. These collaborators are enlivening the Indonesia Festival event with the theme “Sharing Our Similarities, Celebrating Our Differences”. Indonesia The festival is powered by Wonderful Indonesia and the Indonesian Ministry of Tourism in collaboration with Merah Putih Persada and Ruang Kolaborasa. I happen to be trusted to become Creative Director of Indonesia Festival.
Padang Esplanade or Padang Kota Lama, a large green grass field in Georgetown city, Penang becomes an arena of collaboration and creativity space for the activities of Indonesia Festival. The Esplanade is facing towards the sea where as far as the eye can see the Penang Island bridge that connects Bayan Lepas in Pulau Penang with Seberang Prai in mainland Malaysia. In addition Penang City Hall or Pulau Pinang Airport, a historic building that opened since 1903, became one of the unique scenery setting if we set foot in the green area of Padang Esplanade. The decoration of Indonesia Festival beautifully presented from the start of the exhibition tent colorful, the installation of balloons in gigantic scale, infographic wall about Indonesia tourism, outdoor cinema, photo booth, and photo exhibition. Not to mention the hundreds of liquid bubbles that fly in the wind, making the atmosphere fresh in the area.
Although the Indonesian collaborators of this Festival are invited to Penang as guests or performers, in reality they remain in effect and act like the owner of the event. Perhaps that’s the spirit of having Indonesia shown by us. A number of obstacles encountered in the field during the event, without a second thought immediately responded by them with a solution, not with a complaint. It’s no wonder there’s a group of 4 Peniti musicians helping to prepare and organize the stage sound system, a team of documentation that looks to help organize and organize the decoration of the show, as well as the hoong community who helped clean up the trash. Everything is done with pleasure and full of sincerity. At the opening ceremony, thousands of kolecers became a unifying symbol as well as summoning all visitors to dance and have fun together in the middle of the field. Despite the stinging sun in the afternoon and the rain every night at Padang Esplanade, but it does not lowered the spirit and joy of our team to be able to entertain the citizens of Penang. Even dancing and dancing in the rain fell into a charming attraction while accompanied by the music presented by Indonesian musicians.
Two days in Penang was short for Indonesian Festival collaborators. But the laughter, jokes and joys presented there is a trail that always made an impression on the heart. Moreover, the essence of an international festival is to proclaim the values of goodness owned by a nation. In this case, we all try to give a message and a good impression for Indonesia, for the homeland, for the sake of the earth. Friendliness and warmth, solidarity and tolerance, richness and diversity of cultures should be characteristic and character for our nation. Surely in brotherhood we must believe that he is the last bastion when our nation is experiencing difficulties. Therefore, keep a tight rope for the world.



















































Copyright (c) by Ruang Kolaborasa
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from Ruang Kolaborasa.
Lenggak Lenggok Bandung dan Kreasinya | Crafashtival, 7 November 2015
Teks : galih sedayu | Foto : galih sedayu & Air Foto Network
Tentunya sudah sejak dulu kita sering mendengar bahwa Kota Bandung menyandang predikat sebagai Kota Kreatif. Sebutan ini tentunya tidak bisa dilepaskan dari citra warga Kota Bandung yang kreatif. Karenanya, produk-produk kreatif yang dihasilkan oleh warga Kota Bandung menjadi salah satu alasan mengapa Kota Bandung layak disebut sebagai Kota Kreatif.
Craft & Fashion merupakan sub sektor industri kreatif di Kota Bandung yang saat ini terus berkembang pesat. Beberapa survey dan penelitian yang ada, kerap menempatkan keduanya sebagai sub sektor industri kreatif yang memberikan kontribusi ekonomi yang cukup besar bagi Kota Bandung. Faktanya, berbagai jenis produk kreatif di bidang craft & fashion pun dilahirkan dan diciptakan di Kota Bandung.
Untuk itulah Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Koperasi UKM & Perindustrian Perdagangan Kota Bandung bekerjasama dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Bandung dan Ruang Kolaborasa, menggagas sebuah kegiatan yang bernama “Crafashtival”, yaitu sebuah festival sehari craft & fashion yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 7 November 2015 bertempat di Jalan Cikapundung Timur, Bandung. Dari mulai Pameran Craft & Fashion, Edu Talkshow & Workshop, Kompetisi Ilustrasi Fashion & Fotografi, Kampanye Cinta Produk Bandung, Konser Musik hingga Instalasi Manequin disuguhkan dengan meriah oleh berbagai komunitas yang ada di Kota Bandung.
“Splash Your Best” menjadi tema yang diangkat melalui Crafashtival ini sehingga diharapkan mampu mempersatukan percikan-percikan kreativitas yang disemburkan oleh para pelaku industri kreatif khususnya craft & fashion di Kota Bandung. Saat ini, kita pun dapat melihat dengan seksama bahwa produk-produk kreatif buatan Bandung mampu bersaing secara global. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan terus mewartakan pesona dan kreasi bandung kepada dunia.
@galihsedayu | Bandung, 7 November 2015














Copyright (c) 2015
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Jalan Solidaritas Dari Bandung Untuk Dunia | Asian African Carnival 2015 | Bandung The Capital of Asia Africa
Teks oleh galih sedayu | Foto oleh galih sedayu & Ruli Suryono
60 tahun perayaan Konferensi Asia Afrika (KAA) tentunya menjadi sebuah tonggak sejarah tersendiri bagi Kota Bandung. Di sinilah reuni akbar negara-negara Asia Afrika yang dilaksanakan setiap 10 tahun sekali, kembali menyambangi kota yang mengandung sejuta nafas dan energi kreatif tersebut. Berbagai kegiatan pun disumbangkan oleh warga Kota Bandung demi menguatkan citra Bandung sebagai ibu kota Asia Afrika. Total tercatat ada sekitar 60 kegiatan yang dipersembahkan bagi perayaan 60 tahun KAA tersebut.
Mewakili komunitas, Bandung Creative City Forum (BCCF) menghadirkan kegiatan Helarfest berupa rangkaian event yaitu Artefak.Bdg, Kampung Pande, Anak Bandung Berani Menggambar, Picnic Parenting, Lightchestra, Festival Kabaret, Pakoban 4-2015 Feat Gen-X, Festival Bioskop Rakyat, Sasab-Sprit of AA Youth, GameDev Bdg Gathering, Balik Bandung, Culture of Our Art, Start-Up Weekend, #1000 Wajah Bandung, Merchant of Emotion, Pride to Ride Heritage, Bandung Social Wave, Bandung Food Truck Festival, Culture Movement Project, Focal Point, SATU : Revolution of AA Sprit, Festival Taman Film Bandung, Ulinpiade-Colorful Harmony, Ulin-AAC Historical Treasure Hunt, The Last Colony Movie, Cibaduyut Mentas, Forte ITB, dan Creative Cities Conference.
Kemudian dari Museum Konferensi Asia Afrika (MKAA) menggelar sejumlah kegiatan yakni Pengibaran 109 Bendera Negara KAA & PBB, Pawai Bendera Asia Afrika, Parade Asia Afrika, Kegiatan Pesta Rakyat, Kegiatan Peduli Lingkungan, Pameran Foto KAA 1955 bersama Arsip Nasional Republik Indonesia, Bandung Historical Study Games, Lomba & Pameran Foto Karya Perempuan bersama Komunitas Lubang Jarum, Indonesian International Photo Festival bersama Asian African Community, Senam 5000 Anak Asia Afrika, Afternoon Tea dan Asian African Students Conference.
Lalu ada sejumlah kegiatan berupa Asian African Solidarity Fun Run (Hijab Fun Run), Asian African Roadshow to School & Kampus, Asian African Gemstone Festival, Bandung Land Festival, Asia Africa NGO Summit, dan Festival Budaya Masyarakat Adat Jawa Barat yang turut dipersembahkan oleh kelompok masyarakat bandung serta Gelar Pesta Rakyat yang dilaksanakan oleh Kecamatan Se-Kota Bandung.
Mewakili pemerintah Kota Bandung, Bagian Ekonomi & Setda Kota Bandung menyumbangkan kegiatan Creative Cities Network. Bagian Hukum & HAM Setda Kota Bandung menyumbangkan kegiatan Human Rights City Conference. Dinas Komunikasi & Informasi Kota Bandung menyumbangkan kegiatan Asia Africa Smart City Summit. Dinas KUKM & Perindag Kota Bandung menyumbangkan kegiatan Bandung Art & Craft Expo. Terakhir dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung yang ditunjuk sebagai Leading Sector dan panitia perayaan 60 tahun KAA skala kota, menyuguhkan sebuah kegiatan puncak yang bernama Asian African Carnival.
Kegiatan Asian African Carnival ini sebenarnya merupakan rangkaian 6 buah event yang saling terintegrasi. Yang pertama adalah Bandung 1955 yang melahirkan jejak literasi visual perihal peristiwa KAA 1955 melalui pameran & buku fotografi karya Paul Tedja Surja (fotografer dan pelaku sejarah). Yang kedua adalah Solidarity Day (Tribute to Sukarno & Mandela) yang melahirkan jejak fisik gambar berupa mural karya Kampret Syndicate dan warga kampung setempat perihal tokoh-tokoh penggagas KAA dan tokoh-tokoh yang menjadi simbol solidaritas yang terlukis pada tiang-tiang jembatan di area taman Pasopati. Yang ketiga adalah Asian African Meet & Greet yang melahirkan jejak jejaring internasional. Yang keempat adalah Angklung for The World yang melahirkan jejak sejarah berupa rekor baru di dunia perihal permainan angklung dengan melibatkan 20 ribu orang. Yang kelima adalah Festival of Nations yang melahirkan jejak budaya berupa pertunjukkan seni skala internasional. Yang keenam dan yang menjadi puncak kegiatan perayaan 60 tahun KAA adalah Asian African Parade yang melahirkan jejak deklarasi berupa kegiatan tahunan bersifat internasional untuk pertama kalinya yang ada di Kota Bandung. Deklarasi ini diucapkan langsung oleh Menteri Pariwisata Republik Indonesia yang sekaligus disaksikan oleh ribuan warga Bandung yang memadati acara parade.
Parade ini diikuti oleh berbagai peserta baik dari dalam negeri maupun manca negara yang dilakukan sambil berjalan kaki dengan menggunakan kostum unik di sepanjang jalan Asia Afrika. Parade dibuka oleh pasukan berkuda, diikuti oleh pasukan pengibar bendera Asia Afrika dan disusul oleh Marching Band dari TNI AD. Gelombang parade pertama dimeriahkan oleh peserta manca negara yang turut hadir menyemarakkan acara ini yaitu Amman, Bangladesh, Cambodia, China (Liuzhou & Shenzen), Egypt, India, Iran, Japan, Myanmar, Phillipina, South Korea (Noreum Machi, Guk-Ak-Sa-Rang, Hansamo, Hanbapeh & Suwon City), Srilanka, dan Thailand. Kemudian gelombang parade kedua diisi oleh peserta dalam negeri. Selain Bandung, kota-kota seperti Cimahi, Denpasar, Kediri, Palembang, Pekalongan, Sukabumi, Solo, dan Yogyakarta turut memeriahkan acara tersebut. Sehingga kegiatan parade inilah yang barangkali dijadikan sebagai simbol puncak perayaan 60 tahun KAA di Kota Bandung.
Bila mengingat persiapan perayaan 60 tahun KAA yang hanya kurang lebih dua bulan lamanya, tentunya kita akan melihat pula sejumlah kekurangan dalam pelaksanaannya. Namun demikian, alangkah lebih bijaknya bila kekurangan tersebut tidak dijadikan celah untuk menurunkan derajat Kota Bandung. Biarlah segala kekurangan tersebut kita simpan sebagai bahan evaluasi ke depan dan menjadi otokritik bagi kita semua untuk tetap terus bergerak demi Bandung. Bukan untuk terus dipersoalkan dan diperdebatkan. Sudah saatnya kita bangkit untuk kemudian fokus menjaga berbagai jejak yang sekarang dimiliki oleh Kota Bandung baik itu jejak fisik, jejak sosial-budaya, dan jejak ekonomi.
Barangkali apa yang didapatkan oleh Bandung melalui perayaan 60 tahun KAA ini, merupakan jawaban dari seruan dan permohonan kita semua. Bahwa Sang Semesta selalu menaruh perhatiannya bagi kota ini. Sesungguhnya, yang kita butuhkan hanyalah kepedulian dan kekompakan untuk tetap bersama-sama menjaga kota ini. Kota dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Semoga selalu tangan keikhlasan yang ditadahkan oleh kita semua bagi kota ini dan semoga selalu doa kebaikan yang dibumbungkan oleh kita semua bagi kota ini. Sehingga segala apa yang diucapkan oleh mulut kita, kiranya selalu mewartakan kebaikan, kebaikan dan kebaikan. Tentunya agar Kota Bandung yang kita cintai ini, selalu diselimuti oleh ruh solidaritas. Karena kita mesti percaya bahwa solidaritas itu membangun, bukan merusak.
@galihsedayu | Bandung, 25 April 2015
Copyright (c) 2015 by Air Foto Network
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from Air Foto Network.
Tetaplah Bangun Wahai Pemuda Bandung | Ngora Bandung | Bandung City Hall, 1 November 2014
oleh galih sedayu
Energi yang besar menuntut sebuah perhatian yang besar pula. Salah satunya terbangun dari apa yang dimiliki oleh anak-anak muda di Kota Bandung. Sekitar 70 % warga Kota Bandung terdiri dari anak-anak muda yang kerap mendambakan ruang-ruang demi menyalurkan potensi mereka yang terpendam. Energi yang berlebih ini, sudah seharusnya lah dapat ditangkap oleh Pemerintah Kota Bandung untuk kemudian dilepas kembali melalui berbagai kegiatan yang bersifat positif tentunya. Karena itu Dinas Pemuda & Olah Raga Pemerintah Kota Bandung mengadakan sebuah program perdana untuk mengumpulkan sinergi anak-anak muda Kota Bandung dalam sebuah kegiatan yang bernama “Ngora Bandung”. Program ini berisikan Pameran, Ekspresi dan Kumpul Komunitas Muda Bandung yang diselenggarakan pada tanggal 1 November 2014 di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukencana No.2 Bandung. Sebentuk festival yang biasanya dirayakan secara komunal. Sejatinya, festival ini bertujuan untuk menghimpun potensi dan jejak karya anak-anak muda bandung agar dapat diperlihatkan, dibagikan dan kemudian menjadi inspirasi bagi masyarakat indonesia. Kegiatan “Ngora Bandung” yang pertama kali ini mengambil tema “Young & Health”, sehingga edukasi tentang “kesehatan” bagi anak-anak muda bandung tersebut menjadi sebuah pernyataan yang penting dalam festival kolaborasi ini. Karena bila anak-anak muda bandung selalu sehat, karya-karyanya pun akan terus mengalir tiada henti. Acara “Ngora Bandung” ini menghadirkan berbagai komunitas sebagai simbol semangat kolaborasi. Diantaranya ada Bandung Bike Trial Community, Bandung Clean Action, Bandung Food Truck, Dance Cover Community, Djaringan Musang Lovers, Forum Club Motor Bandung, Growbox, Indo Runners, Komunitas Anti Rokok Bandung, Komunitas Pensil Kertas, Komunitas Pencinta Reptil Bandung, Palang Merah Indonesia, Parkour Bandung, Rumah Cemara, Taman Foto Bandung, Tarung Derajat, Unity Photonegraphy dan Urban Jedi. Kemudian terdapat pula sejumlah penampilan untuk memeriahkan acara “Ngora Bandung” yang disuguhkan dari berbagai musisi kota bandung diantaranya Bandung Beatbox, Escape Band, Ganiati, Kharismatik, Komunitas Seni Budaya, Rayme & The Wood, Roti Bakar, The Devil & The Deep Blue Sea, dan Ukulele Bandung. Sembari melihat ke depan, tentunya anak muda bandung harus dapat mengambil peran terbaiknya dalam menentukan cita & mimpi mereka. Terlebih karena mereka adalah tumpuan kaki tempat kota bandung berpijak, bahu tempat kota bandung bersandar, serta harapan tempat kota bandung berkarya. Karenanya, tetaplah bangun wahai pemuda bandung.
@galihsedayu | bandung, 1 november 2014
copyright (c) 2014 by galih sedayu
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Perayaan Menerangi Kota | Bdg Caang | 18 October 2014, Bandung
oleh galih sedayu
Sebagai puncak perayaan hari jadi kota bandung yang ke-204 tahun, pemerintah kota bandung menggelar sebuah festival kota yang dinamakan “Bdg Caang”. Tepatnya tanggal 18 oktober 2014 pukul 19:00 wib, iring-iringan kendaraan hias dengan segala atribut gemerlap lampu warna-warninya mulai melakukan pawai mengelilingi sebagian kota bandung. Mobil, motor, sepeda, dan berbagai sarana transportasi lainnya disulap menjadi sebuah atribut pawai yang unik. Parade yang dimulai dari jalan diponegoro menuju jalan merdeka kota bandung ini memang menyedot banyak perhatian dari warga kota bandung yang telah menunggu sejak sore hari. Para warga bandung sangat antusias menyambut karnaval kota ini dengan caranya masing-masing, dari mulai mengajak keluarganya, berfoto bersama, melakukan selfie, dan berbagai aktivitas lainnya. Untuk menyemangati warga, kontes kendaraan mobil hias pun dihadirkan sembari menguji dan melihat kreativitas warga bandung. Sebenarnya, konsep awal desain kendaraan hias yang dilombakan pada kegiatan Bdg Caang ini adalah mengacu kepada sebuah tema. Namun karena keterbatasan waktu dan persiapan yang minim, tema desain yang dibuat oleh warga masih diberikan sebebas-bebasnya selama menggunakan unsur lampu dan dekorasinya mesti menutupi gestur mobil secara keseluruhan. Bila dilihat secara seksama, memang belum tampak sebuah kreasi yang benar-benar unik pada pagelaran bandung caang ini. Apalagi mayoritas kelompok yang mengikuti parade ini masih berasal dari dinas dan kecamatan pemerintah kota bandung. Hanya sedikit yang berasal dari komunitas kreatif kota bandung, yang mana seharusnya dari sanalah muncul kreasi-kreasi yang luar biasa. Tercatat komunitas Hare Khrisna, Urban Jedi dan kelompok kecil komunitas lainnya yang baru bersinergi di perhelatan bandung caang ini. Namun demikian, harapannya festival ‘Bdg Caang” ini menjadi pemantik awal bagi kebangkitan dan kolaborasi komunitas kreatif kota bandung yang kelak mau turun ke jalan dan berbagi ide kreatifnya agar hasil kreasinya dapat dinikmati serta menghibur warga kota bandung. Semoga terang selalu terpancar bagi kota bandung.
@galihsedayu | bandung, 18 oktober 2014
copyright (c) 2014 by galih sedayu
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Ketika Hutan Menyala, Bernyanyi & Melawan | Lightchestra | Babakan Siliwangi World City Forest, Bandung, 5-7 July 2012
Foto & Teks : galih sedayu
Kawasan Babakan Siliwangi (Lebak Siliwangi) yang terletak di bagian utara kota Bandung tepatnya di jalan Babakan Siliwangi (tembusan jalan Tamansari melewati jalan Ganesha) adalah hutan kota satu-satunya yang masih tersisa di kota ini. Meski sebenarnya sejarah mencatat bahwasanya pada masa pemerintahan belanda, kawasan Babakan Siliwangi dahulu merupakan hamparan sawah yang luas dan kemudian disulap dengan ditanami berbagai jenis pohon sehingga kemudian tercipta sebuah kawasan hutan kota. Luas area Hutan Babakan Siliwangi adalah sekitar 3,8 hektar yang dihuni oleh 48 jenis pohon, 14 jenis burung dan beberapa jenis binatang mamalia. Karenanya, hutan kota Babakan Siliwangi menjadi aset alam yang sangat berharga bagi paru-paru kota Bandung . Sehingga sudah layak dan sepantasnyalah, kita sebagai warga Bandung patut menjaga keasrian & kelestarian hutan kota ini. Konon, di hutan Babakan Siliwangi dahulu terdapat empat buah mata air yang disebut-sebut sebagai mata air Prabu Siliwangi. Namun saat ini yang dapat kita lihat adalah hanya tinggal satu buah mata air yang terletak di sebelah timur laut hutan Babakan Siliwangi.
Dengan melihat fakta ini semua, kita perlu menyadari bahwa hutan Babakan Siliwangi adalah sebuah ruang publik yang sejatinya dapat diaktifkan oleh warganya. Tapi sayangnya, tidak banyak catatan aktivitas yang berasal dari komunitas maupun kelompok masyarakat yang merespon ruang publik hutan ini. Sejak tahun 1960-an, kawasan hutan kota babakan siliwangi memang digunakan sebagai arena ketangkasan binatang dari mulai adu bagong hingga yang saat ini rutin dibuat setiap awal bulannya oleh Himpunan Peternak Domba & Kambing (HPKD) Bandung yaitu adu ketangkasan domba. Selain itu aktivitas para seniman yang tergabung dalam Sanggar Olah Seni (SOS) Babakan Siliwangi turut mewarnai kehidupan hutan kota ini. Dimana seorang pelukis yang bernama Thoni R.Yoesoef mendirikan sanggar tersebut pada tahun 1982 bersamaan dengan didirikannya Rumah Makan Babakan Siliwangi oleh seniman Anang Sumarna. Lalu pada tahun 2011 muncul pula komunitas HUB (Hayu Ulin di Baksil) yang ikut mengaktivasi hutan kota tersebut dengan berbagai kegiatan positif.
Pada tahun 2011 pula, sekelompok warga masyarakat yang tergabung dalam sebuah komunitas yang bernama Bandung Inisiatip, membuat sebuah sayembara desain kawasan hutan Babakan Siliwangi. Seolah gayung bersambut, Bandung Creative City Forum (BCCF) yang merupakan sebuah perkumpulan komunitas kreatif kota bandung, menyimpulkan ide dan hasil sayembara dari Bandung Inisiatip tersebut melalui program pembangunan jembatan hutan kota Babakan Siliwangi (Forest Walk). Pembangunan jembatan gantung sepanjang kurang lebih 80 meter ini sekaligus menjadi simbol dari sebuah kesepakatan bersama antara United Nations Environment Programme (UNEP) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kementrian Lingkungan Hidup Indonesia & Pemerintah Kota Bandung yang menyatakan bahwa Kawasan Babakan Siliwangi diresmikan menjadi Hutan Kota Dunia (World City Forest). Keberadaan jembatan tersebut diharapkan agar warga masyarakat dapat mengetahui lebih dekat dan dapat dengan mudah mengakses hutan kota tersebut. Pada saat itu pula pengelupasan aspal jalan di dalam hutan Babakan Siliwangi dilakukan bersama-sama warga dan kemudian menanaminya kembali dengan 1000 pohon. Hingga kini tertoreh di dalam dinding sejarah bahwa kawasan Babakan Siliwangi setidaknya kini memiliki sebuah nama internasional yaitu Babakan Siliwangi World City Forest. Celakanya, meski perjuangan warga masyarakat kota bandung untuk mempertahankan hutan kota dunia babakan siliwangi ini kerap gencar dilakukan, namun ternyata masih ada pihak-pihak yang bersikukuh menginginkan kawasan hutan kota ini menjadi sebuah ruang komersil. Padahal hutan kota dunia Babakan Siliwangi ini sejatinya harus tetap menjadi ruang publik hijau yang terbuka dan dapat dengan mudah diakses oleh para warganya. Kesimpulannya, perjuangan itu mesti tetap mengalir dan terus menerus dilakukan oleh kita. Tentunya dengan cara-cara kreatif.
Di awal bulan juli yang ceria tepatnya pada tanggal 5-7 Juli 2012, Bandung Creative City Forum (BCCF) kembali mencoba mengaktivasi hutan kota dunia Babakan Siliwangi ini sebagai salah satu isu penting perihal ruang publik kota. Melalui sebuah event #1HelarFest 2012yang bertajuk “Lightchestra” (Music Festival, Laser/Light Show & Community Network), BCCF mengajak komunitas terutama anak-anak muda kota Bandung yang belum terlalu mengenal bahkan sama sekali tidak tahu mengenai keberadaan hutan kota dunia Babakan Siliwangi untuk menyuguhkan talenta serta aksi kreatif mereka di dalam hutan. Selama 3 hari akhirnya tersingkap unjuk kabisa berbagai komunitas kota bandung yang membantu dan berkolaborasi demi menghidupkan hutan kota semisal Urban Jedi Bandung, Barudak Urban Light Bandung (BULB), Bandung Shuffle Dance Club (BSDC), Komunitas Layar Kita, Sahabat Walhi, Open Heart Studio, dan masih banyak lagi. Belum lagi kehadiran sejumlah musisi lokal & indie asal kota Bandung seperti Rusa Militan, Mr.Sonjaya, Teman Sebangku, La Belle, 70’s Orgasm Club, Nada Fiksi, Kris & The Undercover, Sigmun, Annemarie, Homogenic, Cozy Street Corner, Deu Galih & String Quartet, Tesla Manaf & MGG, serta Grace Sahertian & Choir, semuanya turut mendendangkan lagu-lagunya sembari menghibur hutan kota yang jarang tersentuh oleh manusia. Bahkan Ganjar Noor, seorang seniman & musisi asal Kampung Akustik Cicadas, menciptakan sebuah lagu baru yang berjudul “Hutan Siliwangi” dan menyanyikan lagu tersebut untuk pertama kalinya tepat di atas jembatan huta kota dunia Babakan Siliwangi. Alhasil, area hutan yang biasanya digunakan sebagai arena ketangkasan domba dalam sekejap terlihat menjadi sebuah pemandangan berbeda bak sebuah stadion konser musik. Jalan setapak menuju lokasi hutan pun menjadi bersinar terang setelah ditandai oleh jalur kabel panjang berisi lampu berwarna biru.Belum lagi pohon-pohon di dalam hutan yang disorot lampu warna warni berikut pancaran permainan laser yang sederhana menjadikan hutan kota tersebut tak lagi gelap gulita dan terkesan romantis.
Meski begitu, segala kegiatan apapun yang bersentuhan dengan alam atau hutan, adalah wajib bagi kita untuk menjaga kebersihan hutan. Untuk itu pada event Lightchestra, kerjasama pun dilakukan dengan komunitas lingkungan seperti Sahabat Walhi. Dimana mereka terus menyuarakan tentang kampanye kebersihan sampah. Bahkan pada event Lightchestra ini, keberadaan stan makanan pun tidak diperbolehkan demi menghindari sampah yang muncul sesudahnya. Tim kerja dan panitia event Lightchestra ini pun hanya boleh dibekali dengan makanan yang sudah diberi tempat masing-masing dan harus digunakan kembali selama 3 hari kegiatan tersebut. Area konser musik Lightchestra ini pun bukan dilokasikan di dalam hutan yang telah ditanami pepohonan melainkan sekedar memanfaatkan amphiteater yang sudah ada, yang biasanya digunakan sebagai arena ketangkasan domba. Daya listrik yang digunakan untuk kegiatan Lightchestra ini pun relatif kecil, bukan menggunakan daya listrik yang besarnya hingga puluhan ribu watt. Demikian pula dengan laser yang digunakan untuk menerangi pepohonan adalah cahaya sederhana yang diharapkan sekedar menjadi elemen estetis saja sehingga tidak terlalu mengganggu keberadaan habitat & ekosistem yang ada di dalam hutan.
Sesungguhnya event Lightchestra di kawasan hutan Babakan Siliwangi ini adalah salah satu upaya untuk lebih memperkenalkan hutan kota kepada publik terutama bagi anak-anak muda yang sebagian besar belum menyadari benar mengenai keberadaan hutan kota ini. Terbukti dari rata-rata pengakuan & pengalaman mereka yang baru pertama kali menginjakkan kakinya ke dalam hutan kota dunia tersebut. Selain itu kegiatan Lightchestra tersebut adalah bentuk nyata dari upaya mengaktivasi dan menghidupkan kembali ruang-ruang publik khususnya hutan kota agar tidak diam dan menganggur. Karena pada umumnya apabila sebuah ruang publik yang terus menerus kosong dan didiamkan oleh warganya, maka pada saat itulah banyak pihak yang menginginkan ruang publik tersebut dibangun dan digunakan sebagai ruang dan lahan komersil. Tentunya setelah itu ruang tersebut hanya akan menguntungkan sejumlah pihak yang berkepentingan saja, bukan untuk kepentingan umum. Karena itu dapat dikatakan bahwa ujung akhir event Lightchestra ini adalah sebentuk perlawanan warga melalui cara kreatif agar di kemudian hari tidak akan ada tembok bangunan yang ditancapkan dan didirikan demi memuaskan dahaga keserakahan pihak-pihak tertentu yang tidak mengerti tentang pentingnya keberlangsungan hutan. Karenanya hutan kota harus tetap menjadi hutan kota. Demi keberlangsungan oksigen kota. Agar menjadi bagi kita kehidupan kota yang bersih dan seimbang.
Bandung, 8 Juli 2012
copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.



















































































































