Archive for the ‘01) SEMESTA EKONOMI KREATIF’ Category
Benua Komunitas Kota Bandung
Tulisan : galih sedayu
“Society as a whole is mainly responsible. And society as whole should pay the cost”
– Henry S. Churchill (The City is the People)
“Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is ge-bouwd!” (Coba usahakan, bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota!), begitulah sabda yang keluar dari mulut seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang bernama Daendels, tatkala ia menyambangi sebuah dusun yang tadinya sepi, namun kini sim salabim ala kadabra menjadi sebuah kota nan ramai yang bernama Bandung. Kejadian bersejarah ini tepatnya terjadi pada tahun 1810, saat Daendels yang menjadi penguasa nusantara kala itu sedang berjalan kaki dengan ditemani oleh Bupati Bandung Wiranatakusumah II. Tongkat kayu yang ditancapkan oleh seorang Daendels seraya menyerukan perintah di sebuah tempat yang kini dikenal sebagai Tugu Nol Kilometer di Jalan Asia Afrika Bandung, seolah menjadi sebuah simbol kelahiran dan saksi bisu berdiri tegaknya Kota Bandung. Hingga kini, perubahan pun selalu hadir dalam raga Kota Bandung. Bahkan sepertinya telah dinubuatkan oleh para sesepuh sunda sesuai dengan “cacandran” (tanda-tanda jaman) dalam “Uga Bandung” (ramalan bandung) yang menyebutkan bahwa “Bandung heurin ku tangtung” (bandung padat penduduknya). Namun yang menarik selama perkembangannya, predikat yang melekat erat dalam tubuh Kota Bandung adalah sebagai Kota Kreatif. Bila menelusuri sejarahnya, ternyata citra kota kreatif tersebut tidak bisa dilepaskan dari kekuatan komunitas yang menjadikan Kota Bandung bisa seperti sekarang ini.
Perubahan tentunya menggerakkan kekuatan warga yang semula diam. Setelah tetuah Daendels, pembangunan Kota Bandung terus berlanjut dan roda perekonomian pun semakin berputar. Apalagi setelah jalur kereta api singgah di bandung pada tahun 1884, sejumlah toko terus menghuni di sepanjang Groote-Postweg (Jalan Asia Afrika dan Jalan Sudirman sekarang). Dari mulai Toko “De Vries”, Toko “Oey Boen”, Toko “Ziekel”, Toko “Salomon & Son”, Toko “Thiem” dan Toko “Baqiu”. Nama Kota Bandung pun semakin harum tatkala menjadi tuan rumah kehormatan sebuah acara bergengsi yakni “Kongres Pengusaha Gula” seluruh Hindia Belanda pada tahun 1896. Sehingga para delegasi kongres tersebut kala itu menjuluki bandung dengan sebutan “De Bloem der Indische Bergsteden” (Bunganya Kota Pegunungan di Hindia Belanda). Barangkali itulah sebabnya muncul istilah “Bandung Kota Kembang” yang masih dipuja hingga kini.
Pada akhir abad XIX, Kota Bandung diatur oleh dua orang nahkoda. Untuk roda pemerintahan yang menyangkut kepentingan warga Kota Bandung dari bangsa pribumi ditangani oleh seorang Bupati atau “Dalem” Bandung. Sedangkan roda pemerintahan yang menyangkut kepentingan bangsa Belanda dan Timur Asing (Cina, Arab & India) ditangani oleh seorang Asisten Residen Priangan yang kala itu dijabat oleh Tuan Pieter Sijthoff. Pada tahun 1898, Pieter Sijthoff mengajak warga kotanya untuk mendirikan sebuah perkumpulan yang bernama “Vereeniging tot Nut van Bandoeng en Omstreken” (Perkumpulan Kesejahteraan Masyarakat Bandung dan Sekitarnya). Berkat bantuan perkumpulan ini, pembangunan Kota Bandung di bidang pendidikan, sosial, kebudayaan mulai dilaksanakan dengan tujuan agar dapat meningkatkan kesejahteraan Kota Bandung yang pada sekitar tahun 1900 hanya memiliki penduduk sekitar 28.963 jiwa. Sehingga dalam perjalanan panjangnya Kota Bandung memperoleh statusnya sebagai Gemeente (Kotapraja) pada tanggal 1 April 1906.
Meski setelah itu Kota Bandung dikelola oleh Gemeente Bandung, namun Perkumpulan Kesejahteraan Masyarakat Bandung dan Sekitarnya masih tetap membantu dan mendampingi pemerintah kota. Hanya saja namanya berubah menjadi “Comite tot Behartiging van Bandoeng’s Belangen” (Komite Guna Mengurus Kepentingan Kota Bandung). Perlahan namun pasti, ternyata perkumpulan ini berhasil menumbuhkan Bandung dari “een kleine bergdessa” (sebuah desa pegunungan kecil), lalu menjadi “kottaje” (kota mungil) dan kemudian menjadi kota besar dengan julukan “Parijs van Java”. Pada kurun waktu sekitar tahun 1920, “Komite Guna Mengurus Kepentingan Kota Bandung” telah mampu melepaskan diri dari pemerintah kota dan berdiri mandiri sebagai perkumpulan swasta dengan nama “Bandoeng Vooruit” (Bandung Maju). Organisasi Bandung Maju ini bermitra dengan pemerintah demi membangun kotanya. Dan seperti layaknya sebuah kota, perayaan selalu menjadi simbol dari hasil pembangunan kota. Mulai tahun 1920, Kota Bandung memiliki perayaan pesta tahunan “Jaarbeurs” (Bursa Tahunan) di setiap bulan Juni-Juli yang berupa atraksi wisata, pameran produk industri maupun pertanian, festival seni budaya dari seluruh penjuru nusantara.
Pada tahun 1923, ada sebuah terobosan baru di bidang teknologi komunikasi dimana orang bisa melakukan pembicaraan dengan Radio Telefoni. Sehingga seorang Belanda di Bandung bisa langsung mengobrol dengan sanak saudaranya di Holland. Tentunya kemajuan Kota Bandung pun semakin pesat dengan adanya penemuan tersebut. Namun yang menariknya sebenarnya muncul sebuah kisah yang mengharukan pasca penemuan radio telfoni tersebut. Alkisah ada seorang ibu tua di Belanda yang sangat merindukan putra tunggalnya yang sedang berada di Indonesia (Nusantara). Setelah berhasil menabung selama setahun, ibu tua tersebut akhirnya mampu membayar ongkos percakapan radio telefoni itu selama 3 menit. Saat tersambung dengan anaknya, ibu tua tersebut tiba-tiba terdiam terpaku dan hanya sempat mengucap “Anakku sayang, aku amat rindu padamu”. Dan kemudian sambungan telefon itu pun terputus karena waktunya telah habis. Kisah inilah yang mengilhami seorang komponis untuk menciptakan lagu yang berjudul “Hallo Bandoeng” yang dinyanyikan oleh Willy Derby penyanyi terkenal jaman itu.
Sejak tanggal 1 Oktober 1926, Kota Bandung tidak lagi dipimpin oleh seorang Asisten Residen karena perubahan status Kota Bandung dari “Gemeente” menjadi “Stadsgemeente” berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Pimpinan kota akhirnya dipegang oleh seorang “Burgemeester” (Walikota). Tercatat sejumlah nama walikota Bandoeng Tempo Doeloe yang pernah memimpin yakni B. Coops, S.A. Rietsma (Pjs.), Ir. J. E. A. von Wolzogen Kuhr, Mr. J.M. Wesselink dan N. Beets. Saat N. Beets menjadi Walikota Bandung, pada tahun 1937 ia melakukan kampanye yang masif untuk mempromosikan Kota Bandung. Saat itu Walikota N. Beets berseru kira-kira seperti ini “Wahai warga Bandung, bantulah untuk memajukan kota kita. Seluruh warga harus mau ikut membantu dan berpartisipasi dalam mempromosikan Bandung. Ada berbagai macam cara antara lain dengan menceritakan Kota Bandung melalui surat dan tulisan. Agar setiap saat, semua orang yang datang selalu mengingat akan kecantikan alam Kota Bandung yang sejuk, permai dan menakjubkan”.
Setelah itu komunitas Bandung Maju pun turut dan gencar melakukan promosi Kota Bandung hingga ke seluruh pelosok nusantara bahkan manca negara melalui majalah “Mooi Bandoeng” (Bandung Permai). Makanya tak heran bila pada tahun 1938, Perdana Menteri Perancis George Clemenceau serta bintang film Charlie Chaplin dan Paulette Goddard pernah menyambangi Kota Bandung. Bahkan dalam kurun waktu tersebut, sejarah mencatat nama-nama artis, budayawan, ilmuwan, negarawan dam musikus kelas dunia seperti Godowsky, Vera Janacopoulus, Arthur Zimbalist, Paul Weingarten, Kindler, Tansman, Friedmann, Brailowski, Smeterlin, Feuerstein, Szigeti, Jose Iturbi, Heifetz, Rubinstein, Hubermann, Platigorski, Slobotskaja, Segovia, Lili Krauss, Szymon Goldberg, Nicolai Orloff, Marechal, Eugina Wellerson, Lola Bobesco, de Sakharofs, Chenkine, Anna el Tour dan Ruth Draper. Pada tahun 1941, tercatat ada sekitar 200.000 wisatawan yang mengunjungi Kota Bandung yang saat itu populasi penduduknya sekitar 226.877 jiwa. Sebanyak lima juta gulden pun diraup oleh bandung pada masa itu hanya dari sektor pariwisata saja. Karenanya, banyak ungkapan yang lahir pada zaman gerakan komunitas Bandung Maju ini. Misalnya saja ungkapan Kota Bandung yang berbunyi “Bandoeng is het paradijs der aardsche schoonen. Daarom is het goed daar te wonen” (Bandung adalah sorga permai di atas dunia. Itulah sebabnya, baik untuk bermukim di sana) serta ungkapan “Don’t come to Bandoeng, if you left a wife at home”. Dari sejarah singkat perihal perkembangan Kota Bandung di masa kolonial ini, kita dapat melihat bagaimana sebenarnya peran berharga sebuah komunitas atau perkumpulan yang ditunjukkan oleh “Bandoeng Vooruit” (Bandung Maju) dalam membangun kotanya sehingga pada akhirnya secara tidak langsung mereka ikut berkontribusi terhadap perkembangan ekonomi Kota Bandung.
Lain dulu lain sekarang tentunya bila melihat wajah Kota Bandung. Namun sesungguhnya ada yang tidak pernah berubah sejak dulu bila berbicara perihal Kota Bandung. Ialah kehadiran komunitas yang selalu ada dalam menggerakkan Kota Bandung. Di era milenium kedua, Kota Bandung memiliki segudang komunitas dengan latar belakang dan disiplin yang berbeda. Tentunya sangat lah sulit untuk memetakan satu persatu apa saja komunitas yang mendiami Bandung saat ini. Namun bila kita melakukan pengamatan dari simpul komunitas-komunitas tersebut, barangkali nama Bandung Creative City Forum (BCCF) bisa menjadi salah satu acuan pemetaan komunitas Bandung. BCCF sendiri lahir pada akhir tahun 2008 dan merupakan perkumpulan komunitas pertama di Indonesia yang mengusung semangat kreativitas demi membangun kotanya. Lewat sebuah festival kota yang bertajuk “Helarfest”, berbagai komunitas yang tadinya berjalan masing-masing kini mulai bergandengan tangan dan bersatu. Barangkali benarlah adanya pepatah yang mengatakan bahwa “sebatang anak panah akan mudah dipatahkan, tetapi tidak demikian halnya apabila mereka terikat erat menjadi satu”. Setelah Helarfest tersebut, geliat perkembangan komunitas di Kota Bandung pun semakin semarak.
Karena prinsip 3C (Conection, Collaboration, Commerce) adalah kata kunci yang dipercaya ampuh untuk membangun Kota Bandung, maka pola sinergitas Quadro Helix (Academic, Goverment, Bussiness, Community) diterapkan oleh BCCF dalam menjalankan semua programnya. Tercatat sudah nama-nama komunitas, jejaring & pelaku kreatif baik yang hanya bersinggungan maupun telah berkolaborasi secara nyata seperti Agritektur, Air Foto Network, Airplane Systm, Aisec Bandung, Akademi Berbagi Bandung, Amygdala, Bandung Beatbox, Bandung Berkebun, Bandung Blues Society, Bandung Cycle Chic, Bandung Foodtruck, Bandung High Tech Valley, Batik Fractal, Bandung Heritage, Bandung Hobbies, Bandung Kayak Community, Bandung Street Dancer, Barudak Urban Light (BULB) Bandung, Bengkel Kostum, Bidik Photography, Bike Bdg, Bikers Brotherhood, Boeminini, Btari, Culindra, C-Gen, Common Room, Conture, Design Hub, Doku, Ecoethno, Embarra Film, Epik, Fight Bdg, Forum Kabaret Bandung, FOWAB, Glintz, Growbox, Happy Farmer (Supported by JKMP4), House The House, Indorunners Bandung, J-Batik, Jendela Ide, Labo Mori, Kampung Kreatif Cicadas, Kampung Kreatif Cicukang, Kampung Kreatif Dago Pojok, Kampung Kreatif Leuwianyar, Kampung Kreatif Linggawastu, Kampung Kreatif Pasundan, Kampung Kreatif Taman Sari, Kampung Kreatif Pulosari, Karang Taruna Bandung, Keroncong Merah Putih, Komikara, Komunitas Action Figure Bandung, Komunitas Anti Rokok, Komik CAB, Komunitas Cika-Cika, Komunitas Diet Kantong Plastik, Komunitas Diffable Bandung, Kelas Inspirasi Bandung, Komunitas Egrang STSI, Komunitas Hijabers Bandung, Komunitas Hoong, Komunitas Jeprut Bandung, Komunitas Karinding, Komunitas Layar Kita, Komunitas Lempar Pisau (Lempis) Bandung, Komunitas Kuncup Padang Ilalang (KAIL), Komunitas Taboo, Kravity, Kriya Nusantara, Levitasi Hore Bandung, Mahanagari, Mahidara, Media Wave, Ngadu Ide, Parkour Bandung, Pensil Kertas, Perhimpunan Amatir Foto (PAF), Peta Kita, Picu Pacu, Pita, Pori Keramik, ProCodeCG, Riset Indie, Rumah Cemara, Ruang Film Bandung, Rumah Nusantara, Robot Hijau, Sahabat Kota, Sanggar Olah Seni (SOS) Babakan Siliwangi, Sanggar Origami Indonesia, Sembilan Matahari, Sindikat Kuliner, Studio Keramik 181, Taman Foto Bdg, Taskuni, Tarung Drajat Bandung, Tedx Bandung, Tegep Boots, Tinker Games, Urban Jedi Bandung, Waningadoe, Wanna Be Dancer, Warung Imajinasi, Wayang Tavip, Woodka, YPBB Bandung, Y-Plan Bdg dan Yayasan Pilar Peradaban. Masing-masing komunitas ini tentunya menciptakan sejarah dan menjadikan kitab peradaban tersendiri bagi Kota Bandung.
Banyak jejak yang telah direkam tatkala komunitas kreatif bandung ini bergerak dan berkarya demi memuliakan kotanya. Salah satunya ketika mereka hadir untuk mengaktivasi “Hutan Kota Dunia Babakan Siliwangi” sebagai bagian dari gerakan mengembalikan ruang publik kepada empunya yakni warga bandung. Saat itu, hutan tersebut telah dikelola oleh sebuah perusahaan yang akan segera menyulapnya menjadi kawasan dan ruang-ruang komersil. Alhasil berbagai gempuran melalui cara-cara kreatif pun muncul demi mempertahankan hutan babakan siliwangi tersebut dari keserakahan penguasa. Dari mulai mengelupas aspal jalan & menanaminya dengan pepohonan, mendesain & membangun jembatan gantung (forest walk), membuat sebuah konser musik & permainan laser (lightchestra), hingga membuat mural kolektif di setiap pagar seng yang menutupi hutan kota satu-satunya yang ada di bandung tersebut. Namun akhirnya, perjuangan ini tidaklah sia-sia. Pada tahun 2013, hutan kota dunia babakan siliwangi secara resmi dikembalikan kepada pemerintah kota dan warga bandung.
Jejak lain yakni tatkala komunitas sahabat kota membuat kegiatan yang bertajuk “Riung Gunung” berupa edukasi bagi anak-anak berusia 8 s/d 11 tahun untuk melihat Kota Bandung di masa depan. Sekitar 40 orang anak yang berpartisipasi dalam kegiatan ini diajak untuk berkeliling Kota Bandung selama 6 hari lamanya untuk melihat segala permasalahan yang ada. Mereka mengunjungi pasar tradisional, tempat penampungan sampah, rumah sakit, taman kota, terminal, dan lain-lain. Di hari ke-7 mereka diwajibkan untuk memberikan ide dan solusinya dalam menyelesaikan permasalahan Kota Bandung yang dituangkan melalui maket-maket yang dibuat sendiri. Kemudian maket kreasi anak-anak tersebut dipamerkan di Selasar Sunaryo sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap publik. Mereka pun wajib untuk memperagakan hasil pemetaan masalah berikut solusinya dengan cara “Fun Theory” sembari bermain dalam sebuah pentas di hadapan pengunjung.
Kemudian ada jejak satu lagi yang diinisiasi oleh komunitas “Riset Indie” berupa drama pembajakan angkot bandung. Riset Indie mencanangkan sebuah hari dimana angkot gratis, tertib, aman, nyaman dan tidak ngetem. Angkot Day merupakan bagian dari sebuah proyek penelitian yang bertujuan untuk mencoba mencari alternatif model bisnis industri angkot yang lebih sustainable, agar angkot bisa kembali berjalan baik sehingga mampu menjadi solusi permasalahan Urban Mobility di Kota Bandung. Pada program eksperimen Angkot Day ini, Riset Indie melakukan pengumpulan data melalui kuesioner dan survey kualitatif untuk kemudian diolah sehingga dapat ditindaklanjuti secara lebih permanen. Harapannya bahwa program ini dapat menularkan ide bahwa tatkala manajemen angkot dijalankan dengan baik & tepat, pada akhirnya mampu menghasilkan moda transportasi umum yang nyaman, aman, tertib serta menjadi solusi alternatif kemacetan lalu-lintas di Kota Bandung. Barangkali dalam bahasa sederhananya adalah sebentuk upaya meningkatkan derajat dan memberikan value bagi angkot di Kota Bandung. Kala itu lebih kurang 200 unit angkot dengan jurusan kelapa – dago diberi stiker khusus program Angkot Day. Semua penumpang yang menggunakan angkot jurusan kelapa-dago pada hari itu digratiskan. Namun para penumpang diberikan syarat agar mereka harus tersenyum, ramah, memberhentikan angkot pada tempatnya dan mengisi kuesioner yang diberikan oleh panitia. Pada hari itu pula, supir angkot diwajibkan untuk tidak mengetem, tidak boleh merokok, tidak boleh menyetir ugal-ugalan, serta mesti menghadirkan keramahan kepada para penumpang. Sebagai gantinya, biaya bensin, biaya setoran & biaya tarif angkot akan ditanggung oleh pihak penyelenggara yang baik hati. Inilah sebenarnya gerakan kreatif yang dimiliki oleh komunitas bandung.
Tak heran bila daya komunitas Bandung inipun sempat menyihir para pemimpin untuk bertatap muka langsung dengan mereka karena keingin-tahuannya. Dari mulai Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, Menteri Pemuda dan Olah Raga Roy Suryo hingga seorang Presiden Jokowi yang ngebet ingin merasakan energi komunitas bandung tersebut. Beruntung saat ini Bandung dipimpin oleh seorang Walikota yang berasal dari kelompok komunitas kreatif, dimana pada umunya para pemimpin pendahulu sebelumnya merupakan seseorang yang berasal dari kelompok politikus. Ridwan Kamil yang menjabat sebagai Walikota Bandung saat ini (periode 2013-2018) adalah seorang arsitek dan pernah menjabat sebagai ketua Bandung Creative City Forum (BCCF) di periode tahun 2008-2012. Seorang arsitek tentunya menerapkan pemikiran ini “Dalam merancang sesuatu, berpikirlah dalam konteks yang lebih besar dan terdekat. Kursi dalam sebuah kamar, kamar dalam sebuah rumah, rumah dalam sebuah lingkungan, dan lingkungan dalam sebuah kota”. Karena latar belakang arsitek inilah, tak heran banyak terobosan-terobosan kreatif yang dilakukan olehnya dalam membangun dan mengubah wajah kotanya. Misalnya saja taman-taman kota yang tadinya banyak menganggur, kini mulai dibenahi infrastrukturnya dan diberikan tema-tema tertentu agar lebih menarik bagi warga Kota Bandung untuk kemudian membantu mengaktivasinya. Tercatat ada sejumlah taman kota yang dibenahi dari mulai Taman Alun-Alun Bandung, Taman Film Bandung, Taman Foto Bandung, Taman Jomblo, Taman Kandagapuspa, Taman Lansia, Taman Musik, Taman Persib, Taman Super Hero, Taman Vanda, Pet Park dan Skate Park. Apa yang terjadi setelah taman kota ini dibenahi? Banyak hal tentunya. Sebagai contoh ketika ruang negatif di bawah kolong jembatan pasupati disulap menjadi taman film bandung, taman ini langsung diserbu oleh warga. Bahkan acara nonton bareng (nobar) pun sering digelar bila pemain Persib sedang berlaga. Dari sanalah ekonomi diciptakan. Menurut cerita masyarakat setempat, pendapatan dari parkir motor saja bisa mencapai Rp 3 juta per harinya bila sedang ramai didatangi pengunjung. Regulasi yang diterbitkan oleh pemerintah Kota Bandung seperti dalam hal membenahi pedagang kaki lima (PKL), kemudian regulasi yang mewajibkan denda bagi siapapun warga yang membuang sampah secara sembarangan, tentunya merupakan kebijakan strategis dalam menata Kota Bandung. Karena di saat berbagai infrastruktur Kota Bandung sedang giat-giatnya dibangun, tentunya harus dibarengi pula oleh penerapan kedisplinan warga kota dalam memelihara ruang-ruang fisik yang ada.
Barangkali yang patut dipikirkan oleh pemerintah Kota Bandung saat ini adalah mencari landasan atau dasar sebagai tempat memijakkan langkahnya ke depan. Dalam hal ini pemerintah Kota Bandung mesti mengetahui arah pembangunan yang ingin dicapai melalui sebuah strategi sejarah yang tepat. Seperti halnya Presiden Jokowi membuat sebuah strategi pembangunan poros maritim, karena sesungguhnya sejarah mencatat bahwasanya nenek moyang kita adalah seorang pelaut. Karenanya perekonomian sektor maritim menjadi salah satu upaya yang coba diperjuangkan. Bila melihat sejarah Kota Bandung, sesungguhnya sejak dulu kota ini merupakan destinasi para pelancong dari berbagai pelosok tanah air dan manca negara. Sehingga perekonomian sektor jasa yang erat kaitannya dengan perdagangan dan pariwisata dapat menjadi salah satu yang dapat diandalkan. Sektor jasa ini tentunya bertumpu sangat besar kepada kekuatan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing. Sebagaimana disebutkan oleh orang bijak bahwa “Harmoni kanak-kanak adalah karunia alam, sedangkan harmoni kedua bersumber dari karya dan budaya jiwa manusia”. Oleh karena itu ide dan pikiran yang dihasilkan oleh sumber daya manusia ini dipercaya dapat menghasilkan sebuah ekonomi lain yang bernama “Ekonomi Kreatif”. Meski sebenarnya, ekonomi kreatif ini masih dianggap seperti cacing karena kontribusi dan nilai ekonomi yang diberikan belumlah luar biasa. Namun kita harus percaya bahwa cacing ini adalah cacing yang sangat berharga ke depannya. Bila sebuah kota dapat kita analogikan sebagai tanah, tentunya cacing-cacing inilah yang akan menggemburkan dan menyuburkan tanah tersebut. Adalah komunitas yang sejatinya dapat melahirkan cacing-cacing kecil, yang kelak dapat menumbuhkan ekonomi Kota Bandung. Dengan segala keunikan, keutuhan, kemanfaatan dan pemahaman akan komunitas tersebut, Kota Bandung tentunya tidak perlu kuatir akan ditinggalkan layu. Namun sebaliknya, Kota Bandung akan selalu tumbuh mekar, mewangi dan semerbak walau bersama hujan deras dan terpaan angin.
Daftar Pustaka
–Bandung Creative City Forum (BCCF). 2008-2014. Catatan Sejarah & Program BCCF
–Kementrian Pariwisata & Ekonomi Kreatif Indonesia. 2014. Buku Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif. “Ekonomi Kreatif : Kekuatan Baru Indonesia Menuju 2025″.
-Haryoto Kunto. 1986. Semerbak Bunga di Bandung Raya.
* Tulisan ini dibuat sebagai salah satu isi materi buku “Bandung Motekar” yang disusun oleh Komite Pengembangan Ekonomi Kreatif Kota Bandung
@galihsedayu | bandung, 17 januari 2015
Bandung Menyihir Jokowi
Teks : galih sedayu | Foto : Dudi Sugandi & Ihsan Achdiat
“Badan Ekonomi Kreatif akan segera saya launching minggu depan. Dan badan ini akan langsung berada di bawah pengawasan presiden”. Begitulah kira-kira statement seorang Presiden Jokowi di hadapan berbagai komunitas kreatif tatkala ia blusukan ke kota Bandung. Tepatnya pada hari senin tanggal 12 Januari 2015, Jokowi menyambangi simpul space #3 di kota Bandung yang merupakan ruang jejaring komunitas dan basecamp-nya Bandung Creative City Forum (BCCF). Sejak pukul 2 siang, terlihat ratusan orang komunitas dari berbagai jaringan di kota Bandung telah hadir memenuhi halaman depan Simpul Space.
Tercatat nama-nama komunitas & jejaring kreatif yang hadir seperti Bikers Brotherhood, Bandung Foodtruck, Sembilan Matahari, Ruang Film Bandung, Embarra Film, Amygdala, Taskuni, Fight Bdg, Doku, Taman Foto Bdg, Bidik Photography, Perhimpunan Amatir Foto (PAF), Air Foto Network, Btari, Komikara, Kriya Nusantara, Indorunners Bandung, Rumah Cemara, Media Wave, Pita, Labo Mori, Forum Kabaret Bandung, Mahanagari, Ngadu Ide, Rumah Nusantara, ProCodeCG, Sahabat Kota, Culindra, Y-Plan Bdg, Wanna Be Dancer, Karang Taruna Bandung, Kampung Dago Pojok, Kampung Pasundan, Happy Farmer (Supported by JKMP4) dan Bandung High Tech Valley.
Beberapa komunitas dan pelaku kreatif pun ikut meramaikan acara kunjungan Jokowi tersebut dengan memamerkan produk beserta aktivitasnya. Dari mulai Tegep Boots, Airplane Systm, Batik Fractal, Common Room, Sanggar Origami Indonesia, ProCodeCG, Kampung Kreatif Linggawastu, Yayasan Pilar Peradaban, Pori Keramik, Tinker Games, Komik CAB, Waningadoe, Woodka, Studio Keramik 181, Glintz, Jendela Ide, Riset Indie, Growbox dan Peta Kita. Tampak pula unjuk kabisa dan penampilan dari komunitas seperti komunitas egrang asuhan kang Obin, komunitas hoong asuhan kang Zaini Alif, dan komunitas karinding asuhan kang Man Jasad. Uniknya, hanya dibutuhkan waktu sekitar 24 jam untuk menghimpun komunitas dan mempersiapkan acara kunjungan Jokowi yang sangat mendadak tersebut. Barangkali, inilah salah satu bukti kekuatan jaringan komunitas kreatif di kota Bandung.
Sekitar pukul 6 sore, Jokowi baru terlihat tiba di Simpul Space dengan didahului iring-iringan pasukan pengawal kepresidenan. Kedatangan Jokowi kala itu didampingi pula oleh Menteri BUMN, Gubernur Jawa Barat, Kapolda Jawa Barat dan Pangdam Siliwangi. Sementara ratusan komunitas yang sudah menunggu lebih dari 4 jam masih terlihat antusias menyambut kedatangan Jokowi. Setibanya di Simpul Space, Jokowi langsung masuk ke dalam ruang pameran untuk melihat kreasi dari komunitas dan pelaku kreatif kota Bandung. Di sana Jokowi terlihat membeli beberapa produk semisal sepatu dan baju dari Airplane Systm dan 1000 unit listrik mandiri rakyat (Limar) dari yayasan pilar peradaban. Meski waktu kunjungan Jokowi yang diberikan pasukan pengawal presiden (paspampres) hanya 30 menit, namun ternyata hampir sekitar 2 jam lamanya Jokowi menghabiskan waktunya untuk berdiskusi dan melakukan tanya jawab dengan para komunitas tersebut.
Sebagai contoh, sebanyak 3 kali Jokowi meminta penjelasan ulang kepada kang Muhammad Lukman (Luki) yang merupakan salah satu pemilik Batik Fractal untuk menjelaskan produknya. Dengan sabar, kang Luki pun menjelaskan bahwa pada dasarnya motif batik fractal itu dibuat dengan menggunakan software khusus yang memanfaatkan pola pengulangan yang dimiliki motif batik pada umumnya. Lalu Jokowi pun bertanya kepada kang Gustaff H Iskandar, salah satu pendiri Common Room mengenai apa langkah kongkret untuk pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Kang Gustaff pun menjawab bahwa negara harus mendukung anak muda dan diperlukan ruang kreatif di daerah termasuk di desa, serta diperlukan infrastruktur yang baik agar karya anak muda di daerah bisa diakses oleh pasar yang lebih luas. Ketika Jokowi berdiskusi dengan komunitas Thinker Games yang diwakili oleh kang Aji, beliau mengatakan bahwa games dan animasi merupakan masa depan industri kreatif indonesia yang sangat menjanjikan. Terakhir Jokowi berbisik kepada kang Fiki Satari selaku ketua Bandung Creative City Forum (BCCF) dengan mengatakan bahwa hal baik ini mesti ditindaklanjuti dan berjanji akan mengundang komunitas untuk bertemu di istana.
Setelah Jokowi selesai meninjau dan berdialog santai dengan para komunitas di ruang pameran Simpul Space, kemudian sebelum pulang ia menyampaikan pidato singkatnya di depan para komunitas kreatif bandung. Jokowi menyebutkan bahwa ia sangat senang dan bangga melihat karya komunitas kota bandung. Jokowi pun menyarankan bahwa perlu adanya sistem marketing secara baik untuk dapat membantu memasarkan produk-produk tersebut. Jokowi pun sempat mengutarakan kesedihannya karena ada beberapa produk dan brand lokal indonesia yang sahamnya dibeli oleh pemodal asing. Saat itu Jokowi mengatakan bahwa seharusnya kita jangan mudah tergiur atau kaget bila tiba-tiba produk kita ditawarkan dengan nilai yang sangat tinggi oleh para pemodal asing. Apabila kita mau bersabar untuk menunggu 3 sampai 5 tahun lagi, bukan mustahil pendapatan kita dari penjualan produk tersebut bisa berkali-kali lipat. Karenanya, menurut Jokowi pemerintah mesti hadir dan mengambil peran untuk dapat membantu menyelesaikan permasalahan seperti ini. Salah satunya adalah pembentukan Badan Ekonomi Kreatif yang telah lama diusulkan.
Bila melihat peristiwa kunjungan Jokowi yang serba tiba-tiba ini, barangkali kota Bandung dengan segudang komunitas kreatifnya memang menyimpan dan memiliki kuasa sihir yang dapat memikat siapapun yang melihatnya. Dan kali ini, seorang presiden yang bernama Jokowi telah terkena sihirnya.
@galihsedayu | bandung, 12 januari 2015
(Dari kiri ke kanan) Dudi Sugandi (Tim Media BCCF), Fiki Satari (Ketua BCCF), Tegep Octaviansyah (Wakil Ketua BCCF), Galih Sedayu (Direktur Program BCCF), Taufik Hidayat (Saung Angklung Udjo), Gustaff H Iskandar (Common Room), Triawan Munaf (Rembug Kreatif), Rahmat Jabaril (Komunitas Taboo) berpose bersama Komunitas Hoong & Egrang STSI
Para komunitas dari berbagai jaringan kota Bandung yang hadir di Simpul Space #3
Jokowi tiba di Simpul Space #3 BCCF dan langsung disambut dengan antusias oleh para komunitas yang telah menunggu selama kurang lebih 4 jam
Jokowi di dampingi oleh Gubernur Jawa Barat berbincang dengan Fiki Satari saat mengunjungi booth Airplane Systm
Jokowi meminta penjelasan berulang kali dari Muhammad Lukman (Luki) mengenai Batik Fractal
Jokowi berdialog singkat dengan Gustaff H Iskandar ketika mengunjungi booth Common Room
Jokowi mengunjungi Simpul Institute BCCF untuk melihat kelas origami asuhan Maya Hirai
Kang Ujang (Uko) dari yayasan pilar peradaban tengah menjelaskan produk listrik mandiri rakyat (Limar) kepada Jokowi
Jokowi melihat produk dan kreasi karya Kampung Kreatif Linggawastu
Jokowi didampingi oleh Sekjen BCCF Tita Larasati meninjau booth Pori Keramik
Aji dari komunitas Tinker Games menjelaskan produk dan karyanya kepada Jokowi
Mas Ipong Witono & Kang Aat Soeratin dari Rumah Nusantara meminta Jokowi untuk memberikan tanda tangan di sebuah buku
Jokowi tengah berdiskusi dengan Kang Andar Manik dari Komunitas Jendela Ide
Seterhen Akbar (Saska) sedang menjelaskan kegiatan komunitas Riset Indie kepada Jokowi
Direktur Program BCCF galih sedayu meminta Jokowi untuk menandatangani plakat sebagai simbol kunjungan Jokowi ke Simpul Space BCCF
Suasana komunitas yang hadir memenuhi halaman depan Simpul Space sesaat sebelum Jokowi memberikan pidato singkatnya
Jokowi memberikan pernyataan dan pandangannya tentang industri kreatif di hadapan para komunitas kota bandung di halaman depan Simpul Space
copyright (c) 2015
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from writter & photographers
Warta, Daya & Harapan Ekonomi Kreatif
Teks oleh galih sedayu
Buah dari sebuah pohon kebudayaan masyarakat tentunya akan menghasilkan peradaban. Peradaban ini tentunya selalu bergerak, berubah dan mengalir mengikuti siraman perkembangan jaman. Gelombang peradaban umat manusia sangatlah erat relevansinya dengan kehidupan ekonomi itu sendiri. Dunia yang sejak dulu kala dihuni oleh umat manusia ini telah mengalami berbagai gelombang ekonomi. Dari mulai era Ekonomi Pertanian yang mewakili gelombang pertama, era Ekonomi Industri yang mewakili gelombang kedua, era Ekonomi Informasi yang mewakili gelombang ketiga, hingga hadirnya era Ekonomi Kreatif yang saat ini dipercaya sebagai salah satu harapan baru bagi masyarakat dunia termasuk Indonesia. Orbit ekonomi kreatif inilah yang memberi sinyal penting perihal arah pembangunan bangsa Indonesia ke depan.
Sesungguhnya, asal mula konsep ekonomi kreatif tersebut masih perlu dilacak secara runut. Salah satunya ada yang menyebutkan bahwa konsep ini muncul pertama kali oleh John Howkins, seorang pembuat film berkebangsaan Inggris yang juga menggeluti bisnis dan karir di bidang pertelevisian, media digital dan penerbitan. Pada tahun 2001, ia menulis dan menerbitkan buku yang berjudul “Creative Economy, How People Make Money from Ideas”. Dalam bukunya tersebut, ia mendefinisikan ekonomi kreatif sebagai kegiatan ekonomi yang menjadikan kreativitas, budaya, warisan budaya dan lingkungan sebagai tumpuan masa depan.
Setelah konsep ekonomi kreatif yang disabdakan oleh John Howkins, kemudian muncul konsep ekonomi kreatif yang dicetus oleh seorang ekonom asal Amerika yang bernama Richard Florida. Ia mengulas perihal ekonomi kreatif melalui buku-bukunya yang berjudul “The Rise of Creative Class” (2002), “Cities and the Creative Class” (2005), dan “The Flight of the Creative Class” (2005). Dalam bukunya Florida menyebutkan bahwa, “Seluruh umat manusia adalah kreatif, apakah ia seorang pekerja di pabrik kacamata, atau seorang remaja di gang senggol yang sedang membuat musik hiphop. Namun, perbedaannya adalah pada statusnya, karena ada individu-individu yang secara khusus bergerak di bidang kreatif (dan mendapat faedah ekonomi secara langsung dari aktivitas itu). Tempat-tempat dan kota-kota yang mampu menciptakan produk-produk baru yang inovatif tercepat akan menjadi pemenang kompetisi di era ekonomi ini”.
Gagasan & pemikiran perihal ekonomi kreatif pun dituangkan oleh Daniel L. Pink, seorang penulis asal amerika, ke dalam bukunya yang berjudul “A Whole New Mind, Why Right Brainers Will Rule the Future”. Ia mengatakan bahwa dalam era ekonomi kreatif, ada beberapa prinsip yang harus dimiliki sehubungan dengan pola pikir kreatif. “Not just function but also design, not just argument but also story, not just focus but also symphony, not just logic but also empathy, not just seriousness but also play, not just accumulation but also meaning”. Prinsip-prinsip design, story, symphony, empathy, play dan meaning inilah yang sering disebut dengan istilah “The Six Senses”.
Di Indonesia sendiri, isu ekonomi kreatif telah muncul di Jawa Barat sejak tahun 2005, dalam beberapa diskusi komunitas di kota Bandung. Lalu isu ekonomi kreatif ini menguat setelah Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), dalam pidato pembukaan INACRAFT 2005, menyatakan pentingnya pengembangan industri kerajinan dan kreativitas bangsa dalam rangka pengembangan ekonomi yang berdaya saing. Setelah itu, Kementrian Perdagangan melahirkan Indonesia Design Power yang bertujuan untuk meningkatkan kekuatan desain dan penciptaan merek di Indonesia. Kemudian sekitar tahun 2006, konsep ekonomi kreatif ini mulai diperkenalkan kepada pemerintah Provinsi Jawa Barat. Lalu pada tahun 2007, Bandung dinobatkan menjadi kota percontohan bagi pengembangan ekonomi kreatif di indonesia oleh British Council. Di tahun yang sama pula, pemerintah menyelenggarakan pameran khusus produk budaya Indonesia yakni Pekan Produk Budaya Indonesia (PPBI). Pada akhir tahun 2008, lahirlah sebuah perkumpulan independen pertama di indonesia yang mengusung semangat ekonomi kreatif bernama Bandung Creative City Forum (BCCF). Pada tahun 2009, Kementrian Perdagangan di bawah kepemimpinan Mari Elka Pangestu menyusun cetak biru pengembangan ekonomi kreatif Indonesia tahun 2009-2015. Kemudian diikuti oleh salah satu bentuk kebijakan yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam era kepemimpinan SBY, untuk mendukung pengembangan ekonomi kreatif, dengan keluarnya Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2009. Pada waktu yang bersamaan, tahun 2009 dicanangkan pula sebagai tahun Indonesia Kreatif. Tepatnya pada tanggal 21 Desember 2011, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) pun lahir yang dikomandani oleh Mari Elka Pangestu. Keputusan ini dibuat berdasarkan Perpres Nomor 92 Tahun 2011 sebagai lembaga pemerintah yang menggerakkan dan melakukan koordinasi dengan sektor lainnya dalam mengembangkan ekonomi kreatif di Indonesia. Kementrian ini diperkuat oleh dua Direktorat Jenderal yang secara khusus menangani pengembangan ekonomi kreatif Indonesia, yakni Direktorat Jendral Ekonomi Kreatif Berbasis Seni & Budaya dan Direktorat Jendral Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Desain & Iptek. Di Jawa Barat sendiri, melalui surat keputusan Gubernur Jabar pada tahun 2012, dibentuklah Komite Pengembangan Ekonomi Kreatif Jawa Barat.
Menurut peraturan menteri pariwisata dan ekonomi kreatif itu sendiri, definisi perihal ekonomi kreatif itu adalah kegiatan ekonomi yang berbasis kepada kreativitas intelektual manusia, baik individu maupun kelompok, yang bernilai ekonomi dan berpengaruh kepada kesejahteraan masyarakat indonesia dan dapat dilindungi melalui rezim HKI. Secara sederhana, ekonomi kreatif bisa diartikan sebagai sebuah model interdisiplin yang menggabungkan berbagai potensi kebudayaan, teknologi dan ekonomi dengan sasaran berupa peningkatan kesejahteraan perekonomian, peningkatan keterlibatan sosial dan promosi identitas kultural. Sesungguhnya, kontribusi industri kreatif dalam dalam perekonomian Indonesia terus meningkat. Pada tahun 2010 nilai Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif mencapai 185 triliun rupiah. Kemudian pada tahun 2013, nilai PDB ekonomi kreatif Indonesia mencapai 215 triliun rupiah. Tercatat pula jumlah industri kreatif pada tahun 2013 sebesar 5,4 juta usaha yang mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 12 juta orang.
Didasari atas perlunya pemerintah melakukan sinergi dan koordinasi dengan seluruh pelaku ekonomi kreatif di indonesia sekaligus memetakan ekosistem, maka pada pertengahan tahun 2014 dilakukanlah rangkaian FGD subsektor industri kreatif di bidang periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, fesyen, video, film, permainan interaktif, musik, seni pertunjukkan, penerbitan & percetakan, layanan komputer & piranti lunak, televisi, radio, riset & pengembangan serta kuliner sebagai bahan untuk menyusun buku cetak biru pengembangan ekonomi kreatif. Tujuan FGD ini adalah merumuskan kerangka strategis pengembangan subsektor industri kreatif yang meliputi visi, misi, tujuan, sasaran, indikator, target, arah kebijakan, strategi dan tahapan pembangunan, serta merumuskan kerangka kerja pengembangan subsektor industri kreatif yang meliputi indikasi program dan kegiatan pengembangan subsektor industri kreatif.
Puncaknya di penghujung tahun 2014, Kementrian Pariwisata & Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) telah berhasil menyusun sebuah rencana induk yang dapat memberikan arah pengembangan ekonomi kreatif Indonesia yang sesuai dengan arah pembangunan nasional jangka panjang (UU Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional atau RPJP Tahun 2005-2025). Buku cetak biru atau buku rencana induk pengembangan ekonomi kreatif jangka panjang ini bertajuk “Ekonomi Kreatif : Kekuatan Baru Indonesia Menuju 2025”. Buku ini sesungguhnya merupakan penyempurnaan dari Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2009-2025 yang telah diluncurkan oleh Kementrian Perdagangan pada tahun 2009. Buku cetak biru yang telah diperbaharui ini diluncurkan pada hari Selasa tanggal 14 Oktober 2014 bertempat di Teater Besar, Gedung Teater Jakarta, Komplek Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya No.73, Jakarta. Peluncuran buku cetak biru ini bertepatan pula dengan Kegiatan “Salam Kreatif” yakni sebuah persembahan untuk insan kreatif sebagai perayaan era ekonomi kreatif di Indonesia.
Di dalam buku cetak biru ini dituangkan beberapa hal mengenai arah pengembangan ekonomi kreatif Indonesia. Pertama, pengembangan subsektor ekonomi kreatif saat ini dan di masa mendatang difokuskan pada pengembangan lima belas kelompok industri kreatif. Dimana ada penambahan sektor kuliner, dibanding empat belas kelompok industri kreatif yang difokuskan untuk dikembangkan pada tahun 2009. Kelima belas subsektor ini meliputi : (1) arsitektur; (2) desain; (3) film,video & fotografi; (4) kuliner; (5) kerajinan; (6) mode; (7) musik; (8) penerbitan; (9) permainan interaktif; (10) periklanan; (11) penelitian & pengembangan; (12) seni rupa; (13) seni pertunjukkan; (14) teknologi informasi; (15) televisi & radio. Kedua, pengembangan ekonomi kreatif hingga tahun 2025 tidak hanya fokus pada pengembangan 15 subsektor ekonomi kreatif tetapi juga diarahkan pada pengarusutamaan ekonomi kreatif di setiap sektor prioritas pembangunan nasional. Ketiga, ada 4 prinsip utama yang menjadi landasan dalam pengembangan ekonomi kreatif yaitu penguasaan ilmu pengetahuan & teknologi, “design thinking”, pelestarian seni & budaya, serta pemanfaatan media. Keempat, dalam pengembangan ekonomi kreatif, ada perubahan model triple-helix menjadi quad-helix dalam kaitannya dengan sinergi dan kemitraan antar para pelaku ekonomi kreatif. Model triple-helix menjabarkan sinergi dan kemitraan dalam pengembangan ekonomi kreatif tersebut terjadi antara tiga aktor utama yaitu pemerintah, swasta dan intelektual. Sementara model quad-helix menjabarkan sinergi dan kemitraan dalam pengembangan ekonomi kreatif tersebut terjadi antara empat aktor utama yaitu pemerintah, swasta, intelektual, dan komunitas. Sebenarnya menurut catatan yang ada, dari bandunglah kemudian gagasan perihal sinergitas masyarakat kreatif yang mengacu kepada teori kebijakan berbasis inovasi triple-helix yang dipopulerkan oleh Etzkowitz & Leydersdorff yakni Academic, Business & Goverment (ABG), kini menjadi berkembang. Unsur komunitas menurut para pegiat kreatif di Kota Bandung memiliki peran yang sangat penting. Akhirnya saat ini pemerintah menggunakan teori quadro-helix atau quad-helix, yakni Academic, Business, Government plus Community (ABGC). Nyatanya tambahan unsur komunitas sebagai pelaku kreatif menjadi pemantik perubahan dalam perkembangan ekonomi kreatif itu sendiri. Dari sana pula sejatinya muncul ruang ilmu pengetahuan (knowledge space), ruang konsensus (consensus space), ruang inovasi (innovation space) yang pada akhirnya akan membentuk ruang kreatif (creative space) itu sendiri.
Kemudian ada hal menarik yang mencuat pada salah satu acara debat Calon Presiden (Capres) Indonesia yang diselenggarakan di Gran Melia, Jalan Rasuna Said, Jakarta pada tanggal 15 Juni 2014 yang silam. Saat itu tengah berlangsung debat Capres antara Jokowi versus Prabowo. Tepatnya di sesi ke-5 debat capres tersebut, Jokowi bertanya kepada lawannya Prabowo, “Bagaimana pandangan bapak mengenai ekonomi kreatif? Karena ini banyak sekali mengurangi pengangguran”. Dan kemudian acara debat itupun berlanjut seru. Sesudah ucapan Jokowi perihal ekonomi kreatif di acara debat tersebut, berbagai tanggapan positif pun muncul di berbagai media sosial seperti twitter dan facebook terutama di kalangan anak muda Indonesia. Mereka merasa terwakili dan didukung atas keberpihakan Jokowi terhadap isu ekonomi kreatif yang erat hubungannya dengan kreativitas anak-anak muda. Tak heran karena di Indonesia saat ini begitu banyak anak muda yang berkecimpung di dalam dunia industri kreatif.
Sementara itu, sebelum Jokowi dilantik menjadi Presiden, ia membentuk sebuah tim transisi pemerintahan, dimana mereka bekerja dari Rumah Transisi yang berada di Jalan Situbondo 10, Menteng, Jakarta Pusat. Tujuan pembentukan Rumah Transisi ini adalah mempersiapkan peralihan pemerintahan dari Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Jokowi. Sehingga, setelah dilantik sebagai presiden, Jokowi dapat langsung melaksanakan konsep pemerintahannya. Terutama implementasi sembilan program nyata Jokowi-JK atau yang dikenal dengan nama Nawacita. Dimana salah satunya menyebutkan bahwa, “Upaya mendorong, memperkuat dan mempromosikan industri kreatif dan digital merupakan upaya mempercepat laju pertumbuhan ekonomi. Hal ini termasuk dalam upaya untuk menurunkan tingkat pengangguran dan menciptakan 10 juta lapangan kerja baru selama lima tahun”. Selain itu tim rumah transisi ini juga mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan kesiapan kelembagaan di bawah presiden dan wakil presiden. Jokowi menunjuk Rini Mariani Soemarno, mantan menteri perindustrian dan perdagangan (menperindag) di masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, sebagai kepala staf Rumah Transisi. Dalam menjalankan tugasnya, Rini dibantu empat orang deputi, yakni Wasekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Sekretaris I Tim Kampanye Jokowi-JK Andi Widjajanto, Juru Bicara Tim Kampanye yang juga Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan, dan Sekretaris II Tim Kampanye Jokowi-JK Akbar Faisal.
Dari Rumah Transisi inilah kemudian muncul gagasan membentuk tim Pokja Ekonomi Kreatif dengan maksud untuk memberikan rekomendasi kepada presiden sehubungan dengan hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi kreatif Indonesia. Beberapa nama tim Pokja Ekonomi Kreatif ini berasal dari Bandung (Jawa Barat) yakni Dwinita Larasati & Fiki Satari. Namun kemudian, setelah Jokowi dilantik menjadi presiden dan mengumumkan susunan kabinet kementrian pada tanggal 26 Oktober 2014 yang lalu, ternyata tak ada nama Kementerian Ekonomi Kreatif. Bukan hanya itu saja, nomenklatur “ekonomi kreatif” juga menghilang dari Kementerian Pariwisata yang pada kabinet sebelumnya bernama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Kontan saja setelah itu banyak komentar penuh kecewa yang terlontar dari mulut para pelaku ekonomi kreatif di Indonesia. Salah satunya muncul dari musisi Ahmad Dhani yang mengaku kecewa terhadap susunan Kabinet Kerja yang dibentuk oleh Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Sedemikian kecewanya, menurut pentolan grup band “Dewa” itu ia akan membentuk sendiri Kementerian Seni dan Industri Kreatif. Padahal sebelumnya, Ekonomi Kreatif adalah salah satu andalan Jokowi selama masa kampanye pemilihan presiden yang lalu. Saat itu Jokowi berulang kali menyampaikan bahwa potensi budaya yang besar dan kreativitas anak muda Indonesia perlu dikembangkan dan diwadahi karena bisa menjadi modal kuat bagi bangsa Indonesia bersaing di pentas dunia. Selain memperkuat pengaruh identitas budaya Indonesia, pengembangan Ekonomi Kreatif secara maksimal juga menjadi saluran meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian karena bisa menyerap banyak tenaga kerja. Pada saat itu pula, Jokowi sempat menyatakan akan mempertimbangkan untuk membentuk Kementerian Ekonomi Kreatif.
Untungnya api kekecewaan tersebut mulai mereda setelah pemerintah mengeluarkan pernyataan bahwa sesungguhnya akan dibentuk sebuah “Badan Ekonomi Kreatif” yang akan mewadahi kepentingan para pelaku ekonomi kreatif Indonesia. Menurut Presiden Joko Widodo di sela-sela acara “Kompas 100 CEO Forum” di Jakarta pada tanggal 7 November 2014 yang lalu, ia akan membentuk Badan Ekonomi Kreatif yang langsung berada di bawah presiden. Karena menurut Jokowi, industri kreatif memiliki potensi yang besar, namun belum digarap secara serius. Jokowi menuturkan bahwa pembentukan badan ini juga merupakan aspirasi dari pelaku industri kreatif. Jokowi pun mencontohkan industri kreatif di Korea Selatan seperti K-Pop yang disiapkan selama 13 tahun. Menurutnya, produk itu tidak muncul secara mendadak, tetapi direncanakan betul. Tentunya dengan melihat ini semua, kita berharap agar pembentukan Badan Ekonomi Kreatif atau apapun namanya, dapat segera terjadi. Selama tim yang bekerja adalah orang-orang profesional yang dapat mengembangkan ekonomi kreatif di Indonesia, sudah sepatutnyalah kita dukung bersama. Yang terpenting adalah bahwa pemerintah mesti hadir dan dapat menjadi penentu kebijakan atau regulator agar potensi para pelaku ekonomi kreatif ini dapat terpetakan dan terus berkembang.
Meski polemik perihal ekonomi kreatif ini terus berlanjut, prestasi dan jejak karya anak-anak bangsa yang mengatasnamakan dirinya sebagai pelaku ekonomi kreatif Indonesia terus menyeruak, seolah membuktikan bahwa mereka tetap eksis berkarya tanpa ada atau tidak adanya kehadiran pemerintah. Sebagai contoh terjadi di kota Bandung, Jawa Barat. Mewakili subsektor industri kreatif di bidang film, foto & video, Adi Panuntun dan Debbie Rivinandya, dua warga Bandung yang tergabung dalam tim kreatif bernama Sembilan Matahari, berhasil mengharumkan nama Indonesia seusai menyabet juara pertama Best Light Designers untuk kategori klasik dalam Art Vision Contest di Moscow International Festival “Circle of Light” yang berlangsung pada tanggal 10-14 Oktober 2014 di kota Moskow, Rusia. Acara ini merupakan festival akbar tahunan internasional, yang diselenggarakan seiring dengan kemajuan dan perkembangan teknologi pencahayaan modern. Kemudian yang mewakili subsektor industri kreatif di bidang teknologi informasi (IT) ada nama Cybreed (PT Multidaya Teknologi Nusantara), yakni startup asal Bandung yang memenangkan kompetisi “Get in the Ring” di Rotterdam, Belanda. Adalah Gibran Huzaifah (CEO), Muhammad Ihsan Akhirulsyah (CFO), Chrisna Aditya (CTO), dan Sulthan (Mechanical Engineer) yang melalui perusahaan kreatif Cybreed-nya, mencoba fokus dalam pengembangan inovasi teknologi di bidang akuakultur dan agrikultur. Saat ini mereka berkesempatan untuk mengikuti pertemuan startup dan investor terbesar di Eurasia, Slush yang diadakan di Helsinki, Finlandia. Salah satu produk teknologi yang dihasilkan oleh Cybreed mereka sebut dengan nama eFishery yaitu alat pemberi pakan otomatis untuk segala jenis ikan dan udang, sebuah sistem yang bisa memberi pakan secara otomatis, mendeteksi nafsu makan ikan dan mengirimkan laporan pemberian pakan ke internet dan dapat diakses dari manapun. Mewakili subsektor industri kreatif di bidang arsitektur tentunya ada nama Ridwan Kamil, yang lahir dari golongan komunitas kreatif dan saat ini menjabat sebagai wali kota Bandung periode 2013-2018. Dalam blog pribadinya (daydreamer’s diary), pada tahun 2008 sebelum ia menjadi wali kota bandung, ia sempat mengungkapkan opininya bahwa ”Bandung Kota Dunia bukanlah hanya mimpi. Kita sudah punya modal awal yaitu aliran sumber daya manusia yang kreatif dan kompetitif berkelas dunia. Modal ini harus disempurnakan dengan kualitas sarana kota yang berkelas dunia pula. Inilah reposisi dan wajah baru Bandung di era milenium. Wajah baru yang menyempurnakan era Bandung sebagai wajah pemersatu Asia Afrika tahun 1955. Jangan biarkan mimpi ini mati sebagai mimpi. Mari sama-sama bekerja keras menghadiahkan masa depan yang indah untuk generasi cucu kita”. Nampaknya pandangan visioner yang lahir dari mata seorang Ridwan Kamil tersebut, justru membawanya kepada sebuah tugas yang akhirnya harus dilakukan olehnya sendiri sebagai seorang pemimpin.
Dengan jumlah penduduk Indonesia yang kini mencapai 240 juta jiwa, dimana sekitar 70 % populasinya didominasi oleh warga dengan usia produktif, tentunya tumpuan harapan bangsa ke depan tersimpan di atas pundak para pemudanya. Dengan berbekal kemampuan (skill), pengetahuan (knowledge) dan sikap (attitude) yang baik, tentunya masyarakat kreatif Indonesia dapat terwujud dan mampu berjaya baik di negeri sendiri maupun di kancah internasional. Sembari meramu semangat berjejaring (connection) & kolaborasi (collaboration) yang pada akhirnya akan menghasilkan ekonomi kreatif itu sendiri (commerce). Dan perlu disadari bahwa prinsip ekonomi kreatif itu bukanlah semata nilai transaksional belaka (seperti yang pada umumnya pemerintah pikir) melainkan ada kehadiran nilai-nilai lain seperti nilai sosial, budaya, empati, etika, toleransi, inspirasi, lokalitas, berbagi dan lain sebagainya yang tidak bisa diukur oleh uang. Namun semuanya merupakan entitas nilai yang sangat berharga tanpa kita harus merasa kehilangan identitas sebagai bangsa Indonesia yang selalu siap bergerak dalam menyikapi perubahan dunia. Intinya, bangsa kita mesti siap untuk tumbuh menjadi manusia yang unggul dan berdaya saing. Bagaimana caranya? Ki Hadjar Dewantoro, seorang tokoh pendidikan nasional, pernah mengajarkan perihal pentingnya mengembangkan dan menerapkan konsep Niteni (kebiasaan untuk melihat segala sesuatu yang baik), Niroke (kebiasaan untuk meniru kebaikan dari segala sesuatu yang kita lihat), dan Nambahi (kebiasaan untuk menciptakan inovasi dalam hal apapun). Karenanya, untuk menumbuhkan ekonomi kreatif Indonesia yang subur, tentunya bukan dengan cara-cara instan atau potong kompas. Menumbuhkan sebuah pohon yang besar tidak seperti mengucapkan mantera ajaib “Sim Salabim, Ala Kadabra” dan kemudian pohon itu tumbuh dengan sendirinya. Ada sebuah proses panjang yang harus dijalankan, ada sebuah jalan berliku yang harus dilalui, ada sebuah tebing curam yang harus didaki. Apalagi yang sedang berusaha kita tanam dan tumbuhkan ini bukanlah pohon sembarang pohon, melainkan pohon yang bernama manusia. Namun bila bangsa kita berhasil menanam, menumbuhkan & merawat pohon manusia tersebut, sesungguhnya bumi pertiwi yang kita cintai ini pada akhirnya akan memetik buah manis yang bernama kemakmuran.
A creative person is motivated by the desire to achieve, not by the desire to beat others.
– Ayn Rand –
@galihsedayu | Bandung, 29 November 2014
Daftar Pustaka
> Howkins, John. 2001. The Creative Economy, How People Make Money from Ideas.
> Kementrian Pariwisata & Ekonomi Kreatif Indonesia. 2014. Buku Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif. “Ekonomi Kreatif : Kekuatan Baru Indonesia Menuju 2025″.
> Kementrian Perdagangan Indonesia. 2009. Buku Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif. “Pengembangan Industri Kreatif Menuju Visi Ekonomi Kreatif Indonesia 2025″.
> Komite Pengembangan Ekonomi Kreatif Jawa Barat. 2013. Buku Rekomendasi Kebijakan Pengembangan Ekonomi Kreatif. “Ekonomi Kreatif Jabar”.
> Moelyono, Mauled. 2010. Menggerakkan Ekonomi Kreatif. Antara Tuntutan dan Kebutuhan.
Gerakan Komunitas & Solusi Permasalahan Kota
Teks : galih sedayu
“We don’t heal in isolation, but in community”
-S. Kelley Harrell-
Sebuah Kota sejatinya bukan hanya menjadi sebuah ruang dan tempat bernaung semata dari sebuah tatanan komunitas atau masyarakat. Semestinya ia dapat menjadi sebuah energi dan harapan bagi komunitas yang memilih untuk tinggal di dalamnya. Sehingga roh kota tersebut dapat selalu bergerak, berubah dan mengalir tanpa batas yang ditunjukkan oleh sejumlah letupan kreativitas komunitas tersebut. Karenanya kehadiran komunitas ini menjadi sangat berharga bagi keberlangsungan sebuah kota. Mengapa demikian? Karena sesungguhnya merekalah yang menjadi roda-roda yang membuat kota tersebut tetap berputar dan terus berjalan.
Bandung sebagai Ibu Kota Provinsi Jawa Barat adalah salah satu contoh kota dengan segudang komunitas yang terus menetas hingga menelurkan himpunan kreativitas yang unik dan beragam. Sebagaimana konsekuensi sebuah kota yang sedang berkembang, tubuh Kota Bandung saat ini mulai terkoyak dengan seabrek persoalan yang ada. Dari mulai isu kemacetan, ruang-ruang publik yang menganggur, polusi udara, konflik sosial, kemerosotan moral dan lain sebagainya. Disinilah sebenarnya komunitas memiliki peluang atau setidaknya (bagi mereka) hal tersebut melahirkan tantangan baru untuk mulai memikirkan cara kreatif memecahkan permasalahan kota tersebut. Karena walaubagaimanapun, komunitas harus menyadari bahwa mereka tidak bisa mengandalkan pemerintahan yang konservatif untuk membuat sebuah kota yang tenteram & nyaman. Perlu sebuah dobrakan-dobrakan kecil yang diekspresikan melalui cara-cara kreatif ala komunitas.
Tanpa disadari atau tidak, ternyata saat ini di Kota Bandung mulai bermunculan embrio-embrio gerakan komunitas yang memiliki tanggung-jawab serta mencirikan hasrat meraih cita-cita sosial bagi kotanya. Dari mulai Komunitas Bandung Berkebun dengan gerakan menanam tanaman produktif di lahan-lahan menganggur kota. Dimana setiap 3 bulan sekali komunitas ini mengajak warga kota dari mulai anak-anak, pemuda & orang tua untuk merayakan panen secara bersama-sama. Lalu ada Komunitas Metal Ujung Berung yang menghidupkan kembali kesenian musik tradisional sunda yang bernama karinding. Bahkan saat ini demam karinding sudah mulai menjalar kepada anak-anak muda yang sebelumnya ogah mempelajari alat musik tradisional apapun. Kemudian ada Komunitas Taman Foto Bandung yang kerap mengaktifkan taman-taman kota yang (biasanya) kesepian. Komunitas ini melakukan aktivitas kreatifnya dari mulai pameran, workshop, diskusi & sarasehan fotografi sehingga menjadikan taman tersebut sebagai rumah kreatif bagi komunitasnya. Lain halnya dengan Komunitas Bike Bdg yang mencoba menawarkan solusi kemacetan kota dengan bersepeda. Tidak hanya itu, mereka mampu untuk menggalang dana dan berhasil membangun sejumlah shelter sepeda di Kota Bandung dan kemudian mengelola jasa penyewaan sepeda bagi warga kota. Cerita lain dari sebuah komunitas yang bernama Bandung Inisiatip, dimana mereka menggagas sebuah gerakan menyelamatkan hutan kota. Pada awalnya mereka menyelenggarakan sebuah sayembara desain kawasan hutan Babakan Siliwangi. Hasil sayembara itu pun kemudian dilanjutkan & dikolaborasikan bersama Bandung Creative City Forum (BCCF) yakni sebuah perkumpulan komunitas kreatif kota bandung, menjadi sebuah program pembangunan jembatan hutan kota Babakan Siliwangi (Forest Walk). Pembangunan jembatan gantung di tengah hutan ini sekaligus menjadi simbol dari sebuah kesepakatan bersama antara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kementrian Lingkungan Hidup Indonesia & Pemerintah Kota Bandung yang menyatakan bahwa Kawasan Babakan Siliwangi diresmikan menjadi Hutan Kota Dunia (World City Forest). Gerakan ini menjadi sebentuk perlawanan warga untuk melindungi hutan kotanya agar tidak dijadikan ruang komersil oleh para pengusaha hitam dan anarkis dangkal yang selalu menebar horor. Dan masih banyak lagi sebenarnya komunitas-komunitas yang membawa angin perubahan bagi kotanya.
Inilah sebenarnya inti kekuatan komunitas. Mereka harus berani melawan kondisi kota yang menjadi tidak seimbang. Komunitas harus mampu menciptakan ide-ide sederhana demi memecahkan sedikit atau banyak persoalan kota tanpa harus kehilangan rasa senang dan kenikmatan menjalani aktivitasnya masing-masing. Ketika agresivitas positif komunitas ini semakin terkumpul, niscaya sebuah kota tidak akan oleng navigasinya. Selama kita menyadari bahwa kita tidak bisa sendirian menyelesaikan semua permasalahan kota. Dan komunitas semestinya menjadi salah satu jawabannya.
*Tulisan ini diberikan sebagai salah satu kontribusi di dalam buku yang disusun oleh Komite Pengembangan Ekonomi Kreatif Jawa Barat.
Bandung 19 September 2012
















