I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Posts Tagged ‘galih sedayu

Nyala Bandung Kala Malam

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

*lirik lagu ini dinyanyikan pertama kali oleh willy derby & kemudian dilantunkan kembali oleh wieteke van dort

Hallo! Bandoeng!

t Oude moedertje zat bevend
Op het telegraafkantoor
Vriend’lijk sprak de ambt’naar
Juffrouw, aanstonds geeft Bandoeng gehoor
Trillend op haar stramme benen
Greep zij naar de microfoon
En toen hoorde zij, o wonder
Zacht de stem van hare zoon

Hallo! Bandoeng!
Ja moeder hier ben ik!
Dag liefste jongen,zegt zij met een snik
Hallo, hallo!
Hoe gaat het oude vrouw?
Dan zegt ze alleen:
Ik verlang zo erg naar jou!

Jongenlief, vraagt ze,hoe gaat het Met je kleine bruine vrouw?
Best hoor, zegt hij,en we spreken
Elke dag hier over jou
En m’n kleuters zeggen ’s avonds
Voor het slapen gaan een gebed
Voor hun onbekende opoe
Met een kus op jouw portret

Wacht eens, moeder, zegt hij lachend
‘k Bracht mijn jongste zoontje mee
Even later hoort ze duidelijk
Opoe lief, tabeh, tabeh!
Maar dan wordt het haar te machtig
Zachtjes fluistert ze:
O Heer Dank dat ‘k dat heb mogen horen…
En dan valt ze wenend neer

Hallo! Bandoeng!
Ja moeder hier ben ik!
Ze antwoordt niet.
Hij hoort alleen ‘n snik
Hallo! Hallo!…klinkt over verre zee
Zij is niet meer en het kindje roept: Tabeh

Bandung, 28 Januari 2014

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2014 by galih sedayu 
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

March 23, 2014 at 2:02 pm

Oh Borobudur

leave a comment »

oleh galih sedayu

Candi Borobudur. Keajaiban dunia ini sungguh ada nyata di bumi pertiwi yang kita pijak. Yang lama sudah sering dielukan dan kerap menjadi kebanggaan tanah air tercinta. Bahkan ketika Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra memiliki mimpi & kemudian membangunnya sekitar tahun 800 masehi. Candi seluas 123 x 123 meter persegi dengan 504 patung Buddha, 72 stupa berlubang dan 1 stupa yang menjadi mahkotanya tersebut, telah diakui sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO. Sejak ditemukan oleh Sir Thomas Stamford Raffles yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Pulau Jawa pada tahun 1814, Borobudur menjadi semakin harum namanya di belantara dunia. Candi Borobudur yang megah ini berjarak sekitar 40 kilometer (25 mil) arah barat laut dari Kota Yogyakarta. Terletak di atas bukit dimana borobudur seolah-olah dikawal oleh dua pasang gunung kembar yang mistis yakni Gunung Sundoro-Sumbing di sebelah barat laut dan Gunung Merbabu-Merapi di sebelah timur laut.

Namun sayang, warisan sejarah tersebut saat ini perlahan-lahan seperti dimutilasi. Banyak bagian tubuh patung Buddha yang bersemayam di sana kini mulai hilang. Terutama pada bagian kepala dan tangan patung Buddha tersebut yang lenyap entah kemana. Entah mengapa, bahwa di dunia ini masih ada orang-orang yang memilih untuk menjadi seorang perusak sekaligus pencuri artefak historis sebuah bangsa. Yang barangkali hanya demi alasan setumpuk uang, mereka rela menodai keluhuran dan kemuliaan sebuah warisan dunia yang semestinya masih bisa dipertahankan.

Sesungguhnya borobudur adalah sabda yang sudah menjadi daging dan tinggal di antara kita sejak lama. Yang hendaknya mesti kita rawat supaya bangsa kita dapat menikmati janji para leluhur sebelumnya. Agar kita selanjutnya dapat menanamkan pengertian akan keselamatan bagi generasi penerus bangsa. Sehingga Borobudur selalu dapat menyinari bangsa kita tatkala meringkuk dalam kegelapan. Dan mengajarkan kita bahwa Indonesia memang patut dibanggakan.

@galihsedayu | yogyakarta 4 maret 2014

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

Copyright (c) 2014 by galih sedayu 
All Right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

March 17, 2014 at 1:34 pm

Perjalanan Mensyukuri Kehidupan | “Through Flowery Eyes” Book by Ria Pasaman

with 2 comments

Teks : galih sedayu

Ria Pasaman adalah satu dari sekian banyak traveller, seseorang yang gemar bepergian jauh untuk mendatangi serta menjelajahi tempat-tempat wisata yang ada di dalam maupun di luar negeri. Namun sesungguhnya ia bukanlah sekedar traveller biasa. Baginya berkeliling dunia adalah sebuah proses menikmati sekaligus wujud syukur dan rasa cintanya terhadap alam semesta. Karenanya ia memilih fotografi sebagai media rekam segala apa yang dilihatnya. Tak heran bila kemanapun ia pergi, kamera menjadi teman setia sejati yang selalu dibawa. Apalagi memotret adalah sebuah hobi yang sudah ia gemari sejak masih dibangku SMP.

Sejak kecil, sang ayah seringkali mengajak Ria dan keluarganya bepergian. Banyak kenangan indah yang ia dapatkan dari perjalanan-perjalanan tersebut. Namun, ada satu kenangan yang masih membekas indah di hatinya, yaitu saat ia dan sang ayah berkunjung ke World Trade Centre di Kota New York pada tahun 1979. Ketika berada di atas ketinggian gedung kembar tersebut, ia begitu kagum saat melihat indahnya pencakar langit yang menjulang tinggi. Dan saat itulah ia pun menyadari betapa indahnya dunia yang dilihat melalui matanya. Momen itulah pada akhirnya yang melahirkan mimpi dan keinginan yang begitu besar untuk dapat melakukan perjalanan ke seluruh penjuru dunia. Ia ingin dapat mempelajari adat istiadat masyarakat dari berbagai negara yang kelak dikunjunginya.

Harus diakui bahwa Ria jatuh cinta dan sangat menyukai travelling. Tapi yang dicintainya bukanlah jenis travelling yang dikejar-kejar oleh waktu atau yang dilakukan dalam waktu yang singkat. Ia adalah seseorang yang ingin menikmati keindahan dengan tempo dan ritme-nya sendiri, tanpa diburu-buru. Ia begitu menikmati perjalanannya ke tempat-tempat bersejarah, menjelajahi  pasar tradisional, atau saat menyelam (diving) ke dalam laut sambil berenang bersama ikan-ikan cantik maupun whale shark seperti yang dilakukan olehnya di Nabire, Papua. Terbang di ketinggian 2000 meter dengan menggunakan pesawat jenis Ultralight di Nepal pun dilakukannya, hanya karena rasa penasarannya untuk menyentuh awan. Namun, ditengah semua petualangan tersebut, traveller yang satu ini tetap bisa meluangkan waktu sejenak sembari minum secangkir cappuccino serta menikmati santapan khas yang dihidangkan sebuah café di suatu negara. Biasanya sebelum bepergian jauh, ia mempelajari terlebih dahulu tempat-tempat yang akan dikunjungi. Dari mulai mengetahui suhu setempat agar ia tahu pakaian apa yang akan dibawanya sehingga dapat menyesuaikan dengan cuaca di sana. Serta menyusun rencana kunjungan hari demi hari sehingga waktu yang ia miliki tak akan terbuang sia-sia.

Ria Flowery demikianlah julukan yang melekat dalam dirinya. Nama unik itu muncul karena kecintaannya terhadap bunga-bunga dari mulai warna, wangi, hingga keunikan bentuk daun beserta putiknya. Saat perjalanan dimanapun, misalnya di sebuah pedesaan, sebisa mungkin ia akan berhenti untuk memotret bunga-bunga indah yang dilihatnya. Ketika berada di Tuscany, Itali, ia sengaja berhenti saat melihat himpunan bunga matahari yang sedang merekah indah di sebuah ladang yang luas. Butterflowery adalah julukan lain untuk Ria yang diberikan sahabatnya.  Ria bagaikan seekor kupu kupu nan lincah  yang  terbang kesana kemari tanpa lelah dan hinggap di atas bunga-bunga untuk melihat keindahan dunia. Dari situlah muncul julukan Butterflowery, julukan yang benar-benar menangkap esensi dari seorang Ria Pasaman.

Keunikan lain yang dimiliki oleh Ria adalah gaya berbusana ketika melakukan travelling. Atribut fesyen dengan motif dan nuansa bunga seperti baju, tas, koper, topi serta  payung warna warni selalu menjadi ciri khas yang melekat dalam dirinya ketika ia bepergian. Busana tradisional khas Indonesia pun selalu ia kenakan di setiap kesempatan perjalanannya. Dari mulai kain tenun asal Bali, Makasar dan Nusa Tenggara Timur hingga kain songket asal Palembang dan Padang. Tak sungkan ia berdandan bak wanita bali ketika mengunjungi Danau Bedugul di Negeri Dewata tersebut. Begitu juga dengan senang hati ia akan mengenakan kain sari saat mengunjungi Taj Mahal di Agra, India. Atau mengenakan baju kimono saat menyusuri keindahan kota tua di Kyoto, Jepang.

Di usianya yang genap mencapai setengah abad, tepatnya di bulan Maret 2014, terhitung ada sekitar 42 negara dengan ratusan kota yang sudah ia lihat, sentuh dan rasakan. Kini saatnya ia ingin berbagi kebahagiaan & pengalaman perihal perjalanan yang telah dilakukannya. Rasa syukur tak terkira atas semuanya itu dipersembahkan olehnya melalui sebuah buku fotografi. Harapannya, buku foto ini dapat menjadi rekaman abadi dan kenangan berarti bagi dirinya beserta keluarga serta para sahabat yang dicintainya. Selain tentunya menyumbangkan sebuah jejak kecil bagi dunia fotografi Indonesia. Selama ada nafas yang masih bisa ia hirup, selama ada kaki yang masih bisa ia jejakkan, matanya tak kan pernah berhenti untuk merekam dan terus merekam keindahan abadi yang dimiliki planet ini. Seperti sekuntum bunga yang sedang mekar, semerbak mewangi dan mengharumi bumi.

*Tulisan ini dibuat sebagai pengantar dari kurator untuk buku foto “through flowery eyes” karya ria pasaman

Bandung, 7 Februari 2014

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) by ria pasaman
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Perayaan Komunal Sekaligus Peringatan Braga

leave a comment »

oleh galih sedayu

Setelah Dago Car Free Day, kini Bandung punya perayaan baru yang bertajuk Braga Culinary Night. Bila Dago Car Free Day membuka akses bagi publik dengan cara menutup sebuah jalan pada pagi hari setiap minggu,  maka Braga Culinary Night pun membuka akses bagi publik dengan cara menutup sebuah jalan pada malam hari setiap minggu menurut rencananya. Alhasil Braga kini mulai dikepung dengan sejumlah kegiatan rutin yang bersifat festival dari mulai musik, seni, budaya, hingga kuliner yang kini sedang diusung oleh Braga Culinary Night. Sejak dulu kawasan Braga barangkali dapat diibaratkan dengan bagian tubuh Kota Bandung yang paling sexy. Betapa tidak karena bagi sebagian besar turis asing, nama Kawasan Braga pun lebih dikenal ketimbang nama Kota Bandung. Bahkan di era kepemimpinan Bandung yang terdahulu, roda pembangunan yang digulirkan di kawasan tersebut dapat dikatakan tersesat atau kehilangan arah. Dari mulai pemasangan paving batu andesit yang kontroversial hingga pembangunan hotel mewah yang tiba-tiba berdiri tegak seolah-olah sedang menyombongkan diri di antara bangunan-bangunan bersejarah yang ditutup dan terkunci rapat. Belum lagi sejumlah konflik sosial yang mengendap di antara kelompok warga yang bermukim di sana. Namun demikian kita sebagai warga Bandung seharusnya percaya bahwa Braga harus memiliki nilai dan martabatnya sebagai salah satu ruang aktif Kota Bandung. Janganlah kita justru dengan sengaja menanggalkan pakaian Braga sampai telanjang dengan mengatasnamakan perubahan. Sudah sepantasnyalah kita menjadikan Braga sebagai pintu harapan bagi Kota Bandung. Lakukanlah semua aksi yang baik itu akan peringatan kepada Braga, demi Bandung yang selalu kita elukan, demi Bandung yang selalu kita jaga, demi Bandung yang selalu menjadi milik kita.

@galihsedayu | Bandung 11 Januari 2014

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

Copyright (c) 2014 by galih sedayu 
All Right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

January 11, 2014 at 5:13 pm

Antusiasme Muda Bandung Menyambut Taman Skate

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Aktivitas di bawah kolong jembatan bukanlah milik gelandangan ataupun tuna wisma lagi. Setidaknya citra seperti itu yang ingin dihapus di Kota Bandung. Kini Bandung memiliki sebuah taman yang diperuntukkan bagi komunitas skate. Di bawah kolong jembatan, di area Taman Pasopati, bertetangga dengan Taman Jomblo, hadir di sana sebuah taman dengan tema Taman Skate. Peresmian Taman Skate ini juga dihadiri langsung oleh Ridwan Kamil yang menjadi pemimpin Kota Bandung selama 5 tahun ke depan. Alhasil energi anak-anak muda Bandung yang menyukai permainan skate ini langsung menyeruak di ruang publik terbuka tersebut. Berbagai komunitas skate dengan karakter dan dandanan uniknya serta merta menyambut dengan suka ria Taman Skate tersebut. Bahkan Abdul, seorang anak yang baru menginjak usia 2 tahun, ikut menyambangi taman ini karena memang sejak kecil ia sangat menggemari olahraga & permainan tersebut. Terlebih lagi karena ayah Abdul adalah seorang pemain skateboard profesional. Senang rasanya apabila energi & semangat menggelora yang hadir dari tubuh & jiwa anak-anak muda Bandung tersebut menjadi tertampung di sana. Namun demikian pembangunan Taman Skate ini baru tahap awal saja. Setelah taman skate pertama ini akan dibuat Taman Skate dengan skala internasional untuk lebih mengakomodir kebutuhan para skateboarder yang telah memiliki berbagai prestasi. Mari kita bakar semangat anak-anak muda ini agar Kota Bandung selalu menjadi juaranya.

Bandung, 5 Januari 2014

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

 copyright (c) 2014 by galih sedayu 
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

January 6, 2014 at 6:29 am

Mencari Jodoh Di Taman Jomblo

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Bandung memang ga ada matinya. Selain memiliki anak-anak muda yang kreatif, Kota Bandung  menyimpan pula anak-anak muda yang jomblo. Yang kreatif tidak perlu kita pusingkan lagi. Yang jomblo ini kadang suka menjadi masalah. Karena hati mereka biasanya selalu galau dan ga bisa move on, terutama yang baru diputusin oleh pacarnya. Namun demikian, para jomblo di Kota Bandung kini tak perlu kuatir lagi. Tepatnya di bawah kolong Jembatan Pasopati Bandung, di samping Balubur Town Square jalan tamansari, kini terdapat sebuah taman yang diperuntukkan khusus untuk para jomblo Kota Bandung. Meskipun di sana sudah tertera nama Taman Pasopati, tetapi Ridwan Kamil sebagai Wali Kota Bandung memberikan tema untuk taman tersebut menjadi Taman Jomblo. Dan nama itu pun menjadi sah karena diresmikan oleh Ridwan Kamil secara langsung pada hari Sabtu 4 Januari 2014, tepat sebelum derita para jomblo menghadapi malam mingguan. Di Taman Jomblo ini terdapat sejumlah tempat duduk berbentuk kotak 3 dimensi dengan warna-warna yang beragam bila dilihat dari berbagai sisi. Tempat duduk ini memang sengaja disediakan bagi para jomblo Kota Bandung untuk menikmati kesendiriannya. Tempat duduk ini ada yang tinggi dan ada yang rendah. Tempat duduk yang rendah barangkali untuk digunakan oleh para jomblo junior. Sedangkan tempat duduk yang tinggi barangkali untuk digunakan oleh para jomblo senior yang telah menyendiri selama puluhan tahun lamanya. Diharapkan di tempat ini mereka bisa mencari jodohnya kelak ketimbang melakukan aktivitas yang biasanya sering dilakukan oleh para jomblo seperti memainkan hand phone (meski tidak ada telpon maupun pesan yang masuk), melamun, ngomong sendiri dan bersenda-gurau dengan nyamuk-nyamuk nakal. Selamat berbahagia buat para jomblo Kota Bandung. Semoga taman ini dapat menjadi pelipur lara dan menjadi ruang ekspresi dan aktivitas tebar pesona bagi kaum jomblo Kota Bandung. Namun perlu diingat, bahwa menjadi jomblo adalah nasib namun menjadi sendiri adalah pilihan. Karenanya jadilah jomblo yang teladan untuk kebaikan Kota Bandung.

Bandung, 5 Januari 2014

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

Copyright (c) 2014 by galih sedayu 
All Right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

January 5, 2014 at 6:25 am

Tahun Baru Bandung Baru

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Semoga Bandung memperoleh hikmat. Semoga Bandung memberikan tawa. Semoga Bandung membawa perubahan. Semoga Bandung menyimpan harapan. Semoga Bandung menyanyikan keceriaan. Semoga Bandung meniupkan kesejahteraan. Semoga Bandung menyiratkan bahagia. Semoga Bandung menebus kesalahan. Semoga Bandung mengaruniakan toleransi. Semoga Bandung memberitakan kebaikan. Semoga Bandung menyeimbangkan alam. Semoga Bandung mempercantik kota. Semoga Bandung mencetak keunggulan. Semoga Bandung mendapatkan keharuman. Semoga Bandung mendamaikan warga. Semoga Bandung menyuarakan keadilan. Semoga Bandung menjawab doa. Semoga Bandung menurunkan kasih. Semoga Bandung mempersembahkan karya. Semoga Bandung menumpahkan rejeki. Semoga Bandung mewujudkan mimpi. Semoga Bandung melahirkan juara. Semoga Bandung menginspirasi dunia.

Bandung, 1 Januari 2014

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2014 by galih sedayu 
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

January 1, 2014 at 12:56 pm