I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Membedah Film Jazz Seen

leave a comment »

Teks : galih sedayu

William Claxton. Dilahirkan tahun 1930 di Califonia bagian Selatan oleh seorang Ibu yang mantan penyanyi semi profesional. Sejak usia tujuh tahun, Claxton sudah terpesona dengan musik jazz yang dimainkan oleh Cab Calloway & Lena Horne. Beranjak remaja, Claxton mulai melihat pertunjukkan musik jazz seperti Albert Ammons, Pete Johnson, Art Tatum & Fats Waller. Selanjutnya, nama-nama band tahun 1940 seperti Billie Holiday & Lester Young, Coleman Hawkins, Dizzy & Bird, Bud Powell menjadi idola bagi Claxton. Saat itulah salah seorang teman Claxton kala remaja yang bernama Richard Lang memperkenalkan fotografi.

Akhirnya, Claxton terus berkarya melalui fotografi. Hampir semua album cover musisi jazz ternama dibuat oleh Claxton. Pada tahun 1960, Kritikus & Penerbit asal Jerman yaitu Joachim Berendt mengajak Claxton berkeliling Amerika untuk memotret jazz. Hasilnya adalah sebuah buku yang diterbitkan di Eropa dengan judul Jazz-Life dengan teks terjemahan Jerman, Perancis & Itali.

Pada suatu waktu, Claxton mendapat tugas pemotretan dari sebuah majalah. Claxton bertemu dengan seorang aktris muda yang bernama Peggy Moffit. Saat itu Claxton menyarankan Peggy untuk menjadi model fashion. Peggy Moffit mewujudkannya dan bahkan tidak diduga-duga menjadi istri tercinta Claxton.

Herman Leonard & William Gottlieb adalah dua orang fotografer yang banyak memberi pengaruh bagi karya-karya Claxton. Claxton juga sering berdiskusi tentang fotografi bersama fotografer ternama Helmut Newton. Bahkan fotografer David Bailey pun terinspirasi untuk memotret kembali (setelah fotografi ditinggalkan untuk melukis) karena Claxton.

Karya-karya foto Claxton yang sangat menakjubkan dapat dilihat pada foto Art Pepper yang berjalan sambil menyandang saxophone pada pagi hari di fargo street. Saat itu Art Pepper baru saja dibebaskan dari penjara karena kasus narkoba. Lalu ekpresi malu-malu seorang Diana Krall yang sempat terekam oleh jepretan kamera Claxton ketika Krall diminta berpose memegang tangan Russell Malone pada sebuah sesi pemotretan.

Di akhir film Jazz Seen, Claxton berkata bahwa tanpa kamera pun dia selalu ingin merekam moment di setiap kedipan matanya. Kalau memang benar, kamera hanyalah sebuah alat. Mata kitalah yang sebenarnya merekam semua peristiwa yang terjadi dalam hidup.

*Tulisan ini diberikan pada acara diskusi & bedah film fotografi JAZZ SEEN karya William Claxton yang diselenggarakan oleh INOVA school of photography pada tanggal 15 januari 2007 di alabene hall-bandung

Bandung, 7 Januari 2007

Written by Admin

January 21, 2010 at 11:25 am

Awal Kelahiran

leave a comment »

Teks : galih sedayu

Etos jiwa muda, semangat baja serta pencinta seni yang melekat selama ini, selalu memacu kami untuk mencurahkan segala tenaga dan pikiran yang kemudian dituangkan dalam sebuah karya fotografi, demi sebuah entitas yang disebut Komunitas Pemotret Bandung (KPB).
Tampaknya heterogenitas yang kami miliki tidak menjadi dinding penghalang untuk menyatu dalam ultra-dedikasi di kancah dunia fotografi yang kini semakin marak. Berangkat dari sebuah kebebasan dan harapan yang menggebu-gebu, kami kembali hadir untuk mempersembahkan karya-karya kami dalam bentuk pameran foto untuk ketiga kalinya.

Kali ini masalah kesehatan ibu hamil dan bayi menyusui menjadi sorotan yang menggugah hati kami guna mengangkat dan merekam segala realita hidup yang eksis di dalamnya. Pameran foto ini diberi tajuk “Peduli Ibu Hamil, Bersalin dan Menyusui “.
Menurut data terbaru dari Maternal & Neonatal Health (MNH), sebuah lembaga masyarakat yang bergerak di bidang kesehatan ibu hamil, diperoleh data bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) hamil cukup tinggi di jawa-barat yaitu 390 per seratus ribu jiwa. Sedangkan pada tingkat nasional rata-rata 373 per seratus ribu jiwa. Hal inilah yang akan kami coba visualisasikan melalui media fotografi baik itu mengenai aktivitas dan interaksi sosial maupun segala problema yang ada di dalamnya dengan suatu asa yang besar bahwa semoga masyarakat kita dapat terbuka mata hatinya untuk berbuat sesuatu yang lebih baik.

Meskipun materi pameran ini kami coba gapai dengan pendekatan dokumentasi jurnalistik, tapi lebih dari itu kami berupaya untuk merekam suatu “Kedalaman”, yang mencoba untuk tidak terpaku pada suatu pakem fotografi tertentu, dimana tetap mengacu pada obyek foto yang relevan dengan masalah yang primordial. Memang kami menyadari bahwa pameran ini tidak memberikan suatu kontribusi ataupun solusi yang konkrit untuk mengatasi akar permasalahannya. Tetapi harapan itu tetap ada bahwa karya-karya kecil yang kami buat dapat menjadi lentera yang menyinari gelapnya gua dalam konteks masalah kesehatan ibu hamil dan bayi.

Walau bagaimanapun juga proses kreativitas dan seni yang kami miliki itupun terus berlanjut. Bahkan pada detik-detik di saat kami sedang memikirkannya. Dimana secara tidak langsung itu semua merupakan proses pembelajaran bagi kami untuk mendapatkan suatu perspektif dan paradigma baru nan segar dalam dunia kami.
Karna cara yang terbaik untuk memulai adalah dengan melakukannya, maka kami coba lakukan dengan cara kami….dalam dunia fotografi.
Fotografi bergerak!!

*Tulisan ini diberikan sebagai Kata Pengantar Pameran Foto “Bandung Sehari #1” yang diselenggarakan oleh Komunitas Pemotret Bandung (KPB) di Bandung Indah Plaza pada bulan Oktober 2001

Bandung, 7 Oktober 2001

Written by Admin

January 21, 2010 at 10:59 am

Hello world!

leave a comment »

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Written by Admin

January 21, 2010 at 10:47 am