Perayaan Komunal Sekaligus Peringatan Braga
oleh galih sedayu
Setelah Dago Car Free Day, kini Bandung punya perayaan baru yang bertajuk Braga Culinary Night. Bila Dago Car Free Day membuka akses bagi publik dengan cara menutup sebuah jalan pada pagi hari setiap minggu, maka Braga Culinary Night pun membuka akses bagi publik dengan cara menutup sebuah jalan pada malam hari setiap minggu menurut rencananya. Alhasil Braga kini mulai dikepung dengan sejumlah kegiatan rutin yang bersifat festival dari mulai musik, seni, budaya, hingga kuliner yang kini sedang diusung oleh Braga Culinary Night. Sejak dulu kawasan Braga barangkali dapat diibaratkan dengan bagian tubuh Kota Bandung yang paling sexy. Betapa tidak karena bagi sebagian besar turis asing, nama Kawasan Braga pun lebih dikenal ketimbang nama Kota Bandung. Bahkan di era kepemimpinan Bandung yang terdahulu, roda pembangunan yang digulirkan di kawasan tersebut dapat dikatakan tersesat atau kehilangan arah. Dari mulai pemasangan paving batu andesit yang kontroversial hingga pembangunan hotel mewah yang tiba-tiba berdiri tegak seolah-olah sedang menyombongkan diri di antara bangunan-bangunan bersejarah yang ditutup dan terkunci rapat. Belum lagi sejumlah konflik sosial yang mengendap di antara kelompok warga yang bermukim di sana. Namun demikian kita sebagai warga Bandung seharusnya percaya bahwa Braga harus memiliki nilai dan martabatnya sebagai salah satu ruang aktif Kota Bandung. Janganlah kita justru dengan sengaja menanggalkan pakaian Braga sampai telanjang dengan mengatasnamakan perubahan. Sudah sepantasnyalah kita menjadikan Braga sebagai pintu harapan bagi Kota Bandung. Lakukanlah semua aksi yang baik itu akan peringatan kepada Braga, demi Bandung yang selalu kita elukan, demi Bandung yang selalu kita jaga, demi Bandung yang selalu menjadi milik kita.
@galihsedayu | Bandung 11 Januari 2014
Copyright (c) 2014 by galih sedayu
All Right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Antusiasme Muda Bandung Menyambut Taman Skate
Teks & Foto : galih sedayu
Aktivitas di bawah kolong jembatan bukanlah milik gelandangan ataupun tuna wisma lagi. Setidaknya citra seperti itu yang ingin dihapus di Kota Bandung. Kini Bandung memiliki sebuah taman yang diperuntukkan bagi komunitas skate. Di bawah kolong jembatan, di area Taman Pasopati, bertetangga dengan Taman Jomblo, hadir di sana sebuah taman dengan tema Taman Skate. Peresmian Taman Skate ini juga dihadiri langsung oleh Ridwan Kamil yang menjadi pemimpin Kota Bandung selama 5 tahun ke depan. Alhasil energi anak-anak muda Bandung yang menyukai permainan skate ini langsung menyeruak di ruang publik terbuka tersebut. Berbagai komunitas skate dengan karakter dan dandanan uniknya serta merta menyambut dengan suka ria Taman Skate tersebut. Bahkan Abdul, seorang anak yang baru menginjak usia 2 tahun, ikut menyambangi taman ini karena memang sejak kecil ia sangat menggemari olahraga & permainan tersebut. Terlebih lagi karena ayah Abdul adalah seorang pemain skateboard profesional. Senang rasanya apabila energi & semangat menggelora yang hadir dari tubuh & jiwa anak-anak muda Bandung tersebut menjadi tertampung di sana. Namun demikian pembangunan Taman Skate ini baru tahap awal saja. Setelah taman skate pertama ini akan dibuat Taman Skate dengan skala internasional untuk lebih mengakomodir kebutuhan para skateboarder yang telah memiliki berbagai prestasi. Mari kita bakar semangat anak-anak muda ini agar Kota Bandung selalu menjadi juaranya.
Bandung, 5 Januari 2014
copyright (c) 2014 by galih sedayu
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Mencari Jodoh Di Taman Jomblo
Teks & Foto : galih sedayu
Bandung memang ga ada matinya. Selain memiliki anak-anak muda yang kreatif, Kota Bandung menyimpan pula anak-anak muda yang jomblo. Yang kreatif tidak perlu kita pusingkan lagi. Yang jomblo ini kadang suka menjadi masalah. Karena hati mereka biasanya selalu galau dan ga bisa move on, terutama yang baru diputusin oleh pacarnya. Namun demikian, para jomblo di Kota Bandung kini tak perlu kuatir lagi. Tepatnya di bawah kolong Jembatan Pasopati Bandung, di samping Balubur Town Square jalan tamansari, kini terdapat sebuah taman yang diperuntukkan khusus untuk para jomblo Kota Bandung. Meskipun di sana sudah tertera nama Taman Pasopati, tetapi Ridwan Kamil sebagai Wali Kota Bandung memberikan tema untuk taman tersebut menjadi Taman Jomblo. Dan nama itu pun menjadi sah karena diresmikan oleh Ridwan Kamil secara langsung pada hari Sabtu 4 Januari 2014, tepat sebelum derita para jomblo menghadapi malam mingguan. Di Taman Jomblo ini terdapat sejumlah tempat duduk berbentuk kotak 3 dimensi dengan warna-warna yang beragam bila dilihat dari berbagai sisi. Tempat duduk ini memang sengaja disediakan bagi para jomblo Kota Bandung untuk menikmati kesendiriannya. Tempat duduk ini ada yang tinggi dan ada yang rendah. Tempat duduk yang rendah barangkali untuk digunakan oleh para jomblo junior. Sedangkan tempat duduk yang tinggi barangkali untuk digunakan oleh para jomblo senior yang telah menyendiri selama puluhan tahun lamanya. Diharapkan di tempat ini mereka bisa mencari jodohnya kelak ketimbang melakukan aktivitas yang biasanya sering dilakukan oleh para jomblo seperti memainkan hand phone (meski tidak ada telpon maupun pesan yang masuk), melamun, ngomong sendiri dan bersenda-gurau dengan nyamuk-nyamuk nakal. Selamat berbahagia buat para jomblo Kota Bandung. Semoga taman ini dapat menjadi pelipur lara dan menjadi ruang ekspresi dan aktivitas tebar pesona bagi kaum jomblo Kota Bandung. Namun perlu diingat, bahwa menjadi jomblo adalah nasib namun menjadi sendiri adalah pilihan. Karenanya jadilah jomblo yang teladan untuk kebaikan Kota Bandung.
Bandung, 5 Januari 2014
Copyright (c) 2014 by galih sedayu
All Right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Fiki Satari | Chairman of Indonesia Creative Cities Network & Special Staff of the Ministry of the Cooperatives and SMEs

Kastela Port, Ternate – 31 July 2019

Ternate – July 2019

Seger Beach, Lombok – August 2016

Sidoarjo, East Java – March 2016

Butcher’s Bill Cafe, Bandung – 2015
Studio of Air Foto Network, Bandung – 2015

Hamamatsu, Japan – 10 June 2014
Tokyo, Japan – 9 June 2014
Braga, Bandung – 2013
Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
Drama Pembajakan Angkot Bandung
Teks & Foto : galih sedayu
Fakta bahwa Kota Bandung dengan jumlah penduduk yang telah mencapai sekitar 2,7 juta jiwa saat ini adalah nyata terjadi. Dan kemudian fakta lain yang mengungkapkan bahwa ada sekitar 200 ribu unit mobil ditambah 500 ribu unit sepeda motor yang digunakan oleh warga Bandung sebagai kendaraan pribadi adalah benar adanya. Dengan luas wilayah Kota Bandung yang hanya sekitar 167,30 kilometer persegi, fenomena “macet” adalah sebuah akibat yang memang harus kita tanggung sebagai konsekuensinya.
Belum lagi tercatat sekitar 70 ribu orang yang melancong ke Kota Bandung setiap minggunya. Atas nama sebuah budaya weekend (meski lebih tepat disebut sebagai budaya konsumtif), mereka pun sebagian besar membawa mobil pribadinya masuk ke jalan-jalan Kota Bandung. Dari mulai memanjakan mulut dengan menikmati wisata kuliner hingga berbondong-bondong untuk membelanjakan pundi-pundi yang dimilikinya di pusat-pusat keramaian kota kembang tersebut.
Melihat kenyataan ini, semua orang pasti akan bertanya-tanya bagaimana sebenarnya cara untuk mengatasi permasalahan kemacetan tersebut. Dan seperti biasa, akan selalu banyak jawaban yang muncul berupa himpunan solusi perihal pertanyaan tersebut. Meski kita tahu benar bahwa sangatlah jarang usulan solusi yang disertai dengan tindakan yang sunguh-sungguh nyata.
Tentunya teori ini sudah menjadi catatan kita bersama, bahwa salah satu cara untuk mengatasi macet yaitu dengan memanfaatkan moda transportasi umum. Dimana angkutan kota adalah salah satu obat penawar permasalahan kemacetan ini. Bila Kota Jakarta menyebut angkutan kota ini dengan panggilan mikrolet, Surabaya dengan bemo, Makassar dengan pete-pete, Medan dengan sudako, Samarinda dengan taksi, maka di Kota Bandung panggilan tersayangnya adalah angkot. Sungguh manisnya sebutan itu.
Namun sayangnya, citra angkot di Kota Bandung ini sangatlah mengenaskan. Sebanyak 5.521 angkot yang beroperasi di 38 jalur di Kota Bandung mencuatkan berbagai permasalahan. Umumnya para penumpang yang menggunakan angkot di Bandung mengeluhkan sejumlah masalah yang terjadi dari mulai supir angkot yang terlalu lama ngetem, supir angkot yang ugal-ugalan, supir angkot yang merokok, hingga supir angkot yang tidak ramah. Tak heran memang kemudian muncul berbagai sindiran kepada para supir angkot. Salah satunya berbunyi seperti ini, “Tuhan menciptakan manusia, setan dan supir angkot”. Meski demikian, sebenarnya tidak semua supir angkot memiliki citra negatif seperti itu. Masalah lain adalah tarif angkot yang terlalu mahal, fasilitas angkot yang kurang memadai, tidak ada tempat perhentian angkot yang teratur, dan lain sebagainya.
Untuk itulah Riset Indie sebagai salah satu stakeholder Kota Bandung yang mewakili semangat komunitas, menggagas sebuah program yang bernama Angkot Day. Bersama Bandung Creative City Forum (BCCF), Riset Indie mencanangkan sebuah hari dimana angkot gratis, tertib, aman, nyaman dan tidak ngetem. Angkot Day merupakan bagian dari sebuah proyek penelitian yang bertujuan untuk mencoba mencari alternatif model bisnis industri angkot yang lebih sustainable agar angkot bisa kembali berjalan baik sehingga mampu menjadi solusi permasalahan Urban Mobility di Kota Bandung. Program Angkot Day ini juga merupakan rangkaian Pre-Event menuju Design Action Bandung, sebuah workshop & konferensi internasional perihal Design Thinking yang akan diadakan oleh Bandung Creative City Forum (BCCF) pada tanggal 1-3 Oktober 2013 mendatang di Kota Bandung.
Pada program eksperimen Angkot Day ini, Riset Indie melakukan pengumpulan data melalui kuesioner dan survey kualitatif untuk kemudian diolah sehingga dapat ditindaklanjuti secara lebih permanen. Harapannya bahwa program ini dapat menularkan ide bahwa tatkala manajemen angkot dijalankan dengan baik & tepat, pada akhirnya mampu menghasilkan moda transportasi umum yang nyaman, aman, tertib dan menjadi solusi alternatif kemacetan lalu-lintas di Kota Bandung. Barangkali dalam bahasa sederhananya adalah sebentuk upaya meningkatkan derajat dan memberikan value bagi angkot di Kota Bandung.
Tepatnya tanggal 20 September 2013 dari pukul 7 pagi hingga pukul 7 malam, program Angkot Day ini digelar. Lebih kurang 200 unit angkot dengan jurusan kelapa – dago diberi stiker khusus program Angkot Day. Semua penumpang yang menggunakan angkot jurusan kelapa-dago pada hari itu digratiskan. Namun para penumpang diberikan syarat agar mereka harus tersenyum, ramah, memberhentikan angkot pada tempatnya dan mengisi kuesioner yang diberikan oleh panitia.
Pada hari itu pula, supir angkot diwajibkan untuk tidak mengetem, tidak boleh merokok, tidak boleh menyetir ugal-ugalan, serta mesti menghadirkan keramahan kepada para penumpang. Sebagai gantinya, biaya bensin, biaya setoran & biaya tarif angkot akan ditanggung oleh pihak penyelenggara yang baik hati.
Dukungan dari Pemerintah Kota Bandung terhadap program Angkot Day ini pun terlihat dengan jelas. Bahkan Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil ikut ambil bagian pada program ini dengan menjadi supir angkot secara suka rela. Alhasil momen langka ini menjadi pengalaman pertama baginya setelah menjabat menjadi pemimpin nomor satu di Kota Bandung, 4 hari setelah dirinya dilantik.
Mari kita tunggu, apakah program Angkot Day ini dapat menyentuh kesadaran bagi seluruh komponen Kota Bandung. Bahwa sesungguhnya kita harus mulai merajut asa dan menjalin mimpi demi perubahan Kota Bandung yang lebih sempurna. Bukan dengan mengeluh, bukan dengan mencaci, bukan dengan hujatan, melainkan dengan sebuah budaya mencari solusi. Mencintai kota adalah dengan menghamilkan solusi dan melahirkan tindakan nyata. Karena kita percaya akan Bandung. Dengan segala persekutuan, kebangkitan dan kebahagiaan yang diwujudkan bersama.
Bandung, 20 September 2013
copyright (c) 2013 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.















































































































