Archive for December 2017
3 April 2016 : Baptism of Thalia

3 April 2016.
Tepat hari ini putriku terkasih dibaptis.
Eleonora menjadi nama baptisnya yang abadi. Sehingga genaplah nama yang diberikan oleh mendiang Sang Ibu, “Eleonora Thalia Sedayu”.
Eleonora memiliki arti sinar atau terang. Dengan harapan agar sinarnya mengandung kehangatan sang ibu Christine Listya Sedayu.
Thalia memiliki arti tumbuh dengan baik serta sedayu memiliki arti siap sedia demi melakukan kebaikan.
Kiranya kelak thalia tumbuh dewasa sehingga menjadi terang bagi sesamanya & selalu mewartakan kebaikan bagi dunia.
Nak, imanmu lah kelak yang akan menjadikan dirimu manusia sesungguhnya. Perlakukanlah sesamamu dengan rasa adil. Jangan pernah melihat pribadi siapapun hanya dari suku, agama maupun status sosialnya.
Hadirkan lah empati dalam setiap detak jantung kehidupanmu. Niscaya hidupmu selalu penuh syukur dan bahagia.
Meski ibumu telah tiada, namun jangan pernah kuatir karna ayah akan selalu menjagamu dan akan selalu ada bersamamu dalam suka dan duka.
Spread your wings…thalia /m\
23 Desember : Doa Kepulangan Tya & Kelahiran Thalia
23 Desember 2017
Dear Tya…
Tetaplah menjadi sang pewarta kehangatan,
Tetaplah menjadi sang pengingat syukur,
Tetaplah menjadi sang penghantar tawa,
Tetaplah menjadi sang penawar rindu,
Tetaplah menjadi sang penguat hati,
Tetaplah menjadi sang pengisi cinta,
Tetaplah menjadi sang pelipur lara,
Yang dihembuskan dari surga.
Dear Thalia…
Karena engkau adalah api kehangatan,
Kerana engkau adalah gelombang syukur,
Karena engkau adalah sumber tawa,
Karena engkau adalah mentari rindu,
Karena engkau adalah cahaya hati,
Karena engkau adalah lubuk cinta,
Karena engkau adalah penghapus lara,
Yang dititiskan ke bumi.
Allah, Sang Semesta, & Sumber Segala Kasih…
Aku panjatkan doa & harapan bagi kedua bidadariku,
Dengan segenap hati dan segenap jiwa,
Bagi sang istri tersayang yang telah bersamaMu,
Bagi sang putri tersayang yang sedang bersamaku,
Kiranya berkat dan rahmat Ilahi senantiasa menyertai mereka berdua,
Baik dalam keabadian maupun dalam masa kehidupan,
Sebagaimana kehendak & rencana yang sesungguhnya menjadi misteri abadiMu.
Terima kasih Sang Kuasa, Pencipta langit & bumi.
23 Desember 2015, Mengenang kepergian & kedatangan.
23 Desember 2017, Mengenang anugerah & karunia.
Panjang bahagianya serta mulia…
Christine Listya Sedayu
Panjang syukurnya serta mulia…
Eleonora Thalia Sedayu
Agar Menjadi Tubuh Kota | My Personal Book Project : Bandung From Spaces To Places
Teks : galih sedayu
Manusia dimana pun akan selalu membutuhkan ruang. Tak terkecuali warga yang menghuni sebuah kota. Baik secara komunal maupun individual, mereka mendambakan ruang yang menjadi tempat untuk berpijak dan menciptakan peradaban. Ruang yang kemudian digunakan untuk berkoloni, berinteraksi dan berekspresi agar mereka tetap dapat menggerakkan sebuah kota. Bandung adalah contoh nyata sebuah kota yang selalu bergerak. Dengan menyandang predikat sebagai kota kreatif, tentunya Bandung memiliki banyak ruang publik yang sangat inspiratif. Dari mulai bangunan bersejarah beserta jalan-jalan kotanya, hutan, taman, kampung beserta lapangan dan sungainya yang menggenapkan keutuhan sebuah kota. Coba kita simak sedikit cerita, fakta dan pandangan perihal ruang-ruang publik yang ada di Kota Bandung tersebut.
“Sebuah kota tanpa bangunan bersejarah ibarat tubuh manusia tanpa kepala & ingatannya”
Karenanya tatkala sekelompok manusia yang congkak dan dungu berlomba untuk merubuhkan bangunan-bangunan bersejarah kotanya hanya demi uang, maka aksi perlawanan terhadap mereka pun sudah semestinya muncul. Wajar saja memang karena gerakan yang ingin menyelamatkan gedung-gedung tua itu mesti terus selamanya didukung agar kota yang kita huni tetap menjadi waras. Salah satu yang menjadi magnet bagi Kota Bandung adalah keberadaan gedung-gedung tua yang tak kunjung henti selalu mempesona mata manusia. Gedung-gedung tua yang menawan tersebut tersebar di berbagai kawasan Kota Bandung. Dalam buku “100 Bangunan Cagar Budaya di Bandung” yang disusun & diterbitkan oleh Harastoeti DH pada tahun 2011, gedung-gedung tua tersebut dibagi ke dalam kawasan pusat kota, kawasan pecinan/perdagangan, kawasan pertahanan & keamanan/militer, kawasan etnik sunda, kawasan perumahan villa & non-villa serta kawasan industri. Sesungguhnya saat ini perlu adanya upaya-upaya aktif warga untuk kembali menghidupkan bangunan-bangunan tua & bersejarah di Kota Bandung yang telah lama terbengkalai. Untuk kemudian memperkenalkannya kepada anak-anak kita supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian. Supaya anak-anak yang lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka. Supaya mereka menaruh kepercayaan kepada setiap kotanya dan dengan teguh melestarikannya. Karenanya kita perlu menyadari bahwa cinta tidak bisa diberitakan di dalam kubur bangunan tua sebuah kota. Ia akan hidup ketika seluruh warga dapat dengan bebas mengunjungi dan menaruh harapan-harapannya pada gedung-gedung tua sebuah kota. Hingga Kota Bandung akan ada untuk selama-lamanya dan takhtanya seperti matahari & bulan di depan mata, sebagai saksi yang setia di awan-awan.
“Sebuah kota tanpa hutan ibarat tubuh manusia tanpa jantung & paru-parunya”
Kawasan Babakan Siliwangi (Lebak Siliwangi) yang terletak di bagian utara kota Bandung tepatnya di jalan Babakan Siliwangi (tembusan jalan Tamansari melewati jalan Ganesha) adalah hutan kota satu-satunya yang masih tersisa di kota ini. Bila kita berbicara perihal hutan kota Babakan Siliwangi, beberapa fakta pun hadir secara nyata di sana. Di masa lalu, terdapat dua belas mata air di kawasan hutan kota Babakan Siliwangi, dimana kini hanya tersisa satu mata air saja. Di kawasan hutan kota ini terjadi pula penurunan permukaaan air tanah, dari 22,99 meter menjadi 14,35 meter (data tahun 1999). Bila lahan hutan kota ini menghilang, akan menyebabkan semakin menurunnya permukaan air tanah karena berkurangnya lahan resapan. Fakta yang lain berbicara bahwasanya hutan kota Babakan Siliwangi merupakan habitat bagi 120 jenis tumbuhan dan 149 jenis hewan serta merupakan tempat singgah bagi enam jenis burung migrasi. Bila kawasan hutan kota ini menghilang, maka jalur migrasi burung-burung ini akan terpotong. Pepohonan yang tumbuh di kawasan Hutan Kota Babakan Siliwangi antara lain adalah Pohon Cola (Cola nitida) dan Pohon Sempur (Dillenia Indica L.), dan Pohon Flamboyan (Delonix Regia) yang paling dominan tumbuh di sana. Tumbuhan yang ada di kawasan hutan kota ini berfungsi sebagai penyaring polusi dan suara. Siapa pun warga yang berada di tengah hutan kota ini, dapat merasakan ketenangan, meskipun jaraknya sangat dekat ke jalan raya yang ramai. Luas kanopi dari pepohonan yang tumbuh di lahan hutan kota ini mencapai hingga 5 Hektar, sementara luas dari Babakan Siliwangi adalah 3,8 Hektar. Tutupan kanopi ini merupakan peneduh, dan sebenarnya dapat menjadi pengurang stress pada manusia yang berada di sekitarnya, karena pepohonan ini menghasilkan udara yang kaya dengan oksigen. Fungsi pepohonan di hutan kota dunia Babakan Siliwangi adalah sebagai penyerap CO2 terhitung hingga 13.680 Kg per hari, sementara melepaskan pula O2 sebesar 9.120 Kg per harinya. Bila harga O2 murni mencapai Rp.25.000,- per liter, maka nilai ekonomis dari hutan kota Babakan Siliwangi mencapai Rp.148.000.000,-. Dari perhitungan ini, dapat diperkirakan bahwa bila kawasan hutan kota Babakan Siliwangi berkurang bahkan hingga 20%-nya saja, maka kerugian Kota Bandung dapat mencapai 10 Milyar Rupiah.
Kemudian sudah sejak lama sebenarnya warga Kota Bandung berjuang demi menyelamatkan Hutan Babakan Siliwangi dari sekelompok pengusaha yang akan menjadikannya sebagai ruang komersil. Berbagai upaya warga pun telah dikerahkan demi mengembalikan pengelolaan hutan kota tersebut dari pihak swasta ke pihak pemerintah dan warga Bandung. Dari mulai aktivasi ruang publik hutan yang dilakukan oleh jejaring komunitas hingga deklarasi Hutan Babakan Siliwangi menjadi Hutan Kota Dunia (World City Forest) yang telah disepakati bersama antara United Nations Environment Programme (UNEP) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kementrian Lingkungan Hidup Indonesia dan Pemerintah Kota Bandung. Dan di tahun ini kabar gembira pun datang menjemput dimana Hutan Kota Dunia Babakan Siliwangi telah dikembalikan pengelolaannya sehingga kembali menjadi milik warga Kota Bandung. Namun demikian, fakta penting yang memiliki nilai bagi Kota Bandung sesungguhnya adalah bagaimana sebenarnya hutan kota dunia Babakan Siliwangi ini menjadi sebuah tempat untuk membangun hubungan manusia dengan alam seutuhnya. Maka dari itu sudah sepatutnya warga Kota Bandung mengucap syukur atas pemberian Sang Semesta dengan sekian banyak kelimpahan yang dimiliki oleh hutan kota dunia Babakan Siliwangi. Karenanya kabarkanlah keselamatan hutan kota ini dari hari ke hari, ceritakanlah kemuliannya kepada semua orang dan bersatulah untuk terus menjaganya dari keserakahan para penguasa yang bodoh. Sebab keagungan dan semarak selalu ada di dalamnya. Sebab kekuatan dan kehormatan ada di tempatnya yang tersembunyi. Sebab anak cucu kita perlu diajari dan merasakan rindangnya hutan.
“Sebuah kota tanpa taman ibarat tubuh manusia tanpa hati & sanubarinya”
Bandung juga merupakan sebuah kota yang memiliki begitu banyak taman. Bahkan julukan Bandung sebagai “Parijs van Java” konon didapat karena taman-taman yang dimiliki kota ini sangat menyerupai Kota Paris. Bila kita melihat sejarahnya, taman kota yang lahir pertama kali di kota Bandung adalah “Pieters Park” yang dibangun pada tahun 1885 oleh Meneer R.Teuscher. Kala itu untuk menjaga kesuburan dan kelembaban tanah di sekitar “Pieters Park”, maka dibangunlah sebuah kanal yang memanjang di tepi utara taman. Air yang mengalir pada saluran kanal tersebut bersumber dari sungai cikapayang. Kemudian air dari cikapayang tersebut dialirkan menuju 4 buah taman di kota Bandung yaitu Ijzerman Park (Taman Ganesa), Pieters Park (Taman Merdeka), Molukken Park (Taman Maluku) dan Insulide Park (Taman Nusantara). Saat ini nama “Pieters Park” berubah menjadi Taman Merdeka dengan ciri khas patung badak putih yang menghuni taman kota tersebut. Menurut data dari Dinas Pemakaman dan Pertamanan Kota Bandung, ada sekitar 604 buah Taman di Kota Bandung dan baru sekitar 40% yang bisa dikelola oleh pemerintah. Tak heran memang bila saat ini kita masih melihat begitu banyak taman kota yang menganggur. Bila malam datang, taman-taman itu kerap melahirkan citra negatif seperti gelap, rawan, tempat maksiat, dan lain sebagainya. Untuk itulah semestinya kita hadir di sini bukan untuk mengeluh. Warga kota Bandung sudah semestinya menyikapi masalah ini dan turut mengambil peran demi keberlangsungan taman kota yang semakin terabaikan ini. Sesungguhnya taman-taman kota itu sama seperti kita manusia. Ia tak mau kesepian di tengah panas teriknya sinar mentari. Ia tak mau sendirian di dalam gelap malam & dinginnya sinar rembulan. Ia tak mau meratap sedih dengan kertak gigi yang ketakutan. Karena baginya cinta kita semua adalah lampu taman yang abadi. Demikianlah hendaknya kita sebagai warga mesti selalu mau membuka mata sebagai pelita tubuh demi menjaga dan merawat taman-taman kota yang ada. Setiap pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik. Begitu pula setiap taman yang dirawat dengan penuh kasih akan menciptakan kota yang bahagia. Celakalah kota Bandung ini bila para warganya tidak mau peduli terhadap tamannya sendiri. Karenanya tatkala taman kota meniup seruling bagi kita, hendaknyalah kita menari. Dan taman-taman itulah yang sesungguhnya menjadi ruang masa depan bagi anak cucu kita nanti.
“Sebuah kota tanpa kampung ibarat tubuh manusia tanpa jiwa & raganya”
Pemantik semangat perubahan kota itu sesungguhnya tidak hanya datang dari otak-otak masyarakat kreatif yang tinggal di pusat kota saja. Himpunan Kampung Urban yang biasanya terpinggirkan dan dipandang sebelah mata oleh sebagian orang, ternyata dapat menjadi sebuah pusat energi kreatif pula yang membentuk peradaban kota. Kampung pun dapat menjadi ruang publik yang eksotis. Meski kadang kelompok kampung ini terpaksa hidup terhimpit oleh tembok arogansi yang mengatasnamakan pembangunan kota. Mereka inilah sebenarnya yang diharapkan mampu untuk melawan segala superioritas dan rasa kecongkakan sekelompok orang/pengusaha yang berfikiran dangkal yang hanya memikirkan bagaimana menciptakan sejumlah ruang komersil di sebuah kota. Keberadaan Kampung Kota adalah sebentuk kesadaran kolektif yang menawarkan sebuah pemikiran sekaligus getaran emosional bagi masyarakat kota dimanapun. Bahwa nun di kaki langit urban sebuah kota, masih ada dimensi lain yang merindukan keintiman di sana serta masih ada artefak peradaban yang merindukan sebuah perubahan. Karena sesungguhnya persoalan yang ingin mereka komentari adalah sebentuk masa depan yang terhalang. Masa depan sebuah kampung yang mungkin tertutup oleh tembok, debu & suara bising pembangunan. Serta ketidak adilan bagi mereka yang hendak membungkam suara-suara protes warga. Walaubagaimanapun hari esok dan keberlangsungan Kampung Kota hanya ada pada upaya keras yang diperlihatkan oleh warganya. Juga solidaritas dan empati dari komunitas kotanya. Dan tentunya kemauan baik serta tindakan nyata dari pemerintahnya. Dalam kekuatan itulah semestinya kita percaya.
“Sebuah kota tanpa sungai ibarat tubuh manusia tanpa darah & nadinya”
Sungai merupakan salah satu ruang publik kota yang memiliki pesona & keindahan menawan bila dikelola dengan baik. Karena di sanalah kita dapat mensyukuri bahwasanya air sungai yang mengalir jauh tersebut dapat memiliki sejumlah fungsi bagi warga sebuah kota. Dari mulai drainase, penggelontor kotoran limbah, obyek wisata, penyedia air baku, pemanfaatan energi air serta sarana irigasi pertanian. Namun sayang bahwa keberadaan Sungai di Kota Bandung malahan kerap menghamilkan bencana dan melahirkan musibah bagi warganya. Terutama ketika musim penghujan tiba. Luapan air dari sungai-sungai yang membelah Kota Bandung justru membawa teror banjir bagi warganya. Belum lagi genangan sampah yang dibawa serta oleh air sungai tersebut. Tentunya kita tidak bisa serta merta menyalahkan alam dalam hal bencana tersebut. Karena ironisnya, banjir itu timbul justru akibat ulah kita sendiri. Entah itu karena warga yang kerap membuang sampah ke sungai ataupun karena penebangan pohon secara membabi buta sehingga menghilangkan daerah resapan air. Menurut data, ada sekitar 61 sungai dan 46 anak sungai dengan total panjang 252,55 km yang terdapat di Kota Bandung. Bila kita menyebut nama sungai di Kota Bandung, tentunya nama sungai Cikapundung tidak bisa dilupakan dalam memori kita. Sungai Cikapundung adalah salah satu sungai besar yang membelah Kota Bandung dengan panjang sekitar 15,5 km. Sungai Cikapundung memiliki luas daerah tangkapan di bagian hulu sebesar 111,3 Km2, di bagian tengah seluas 90,4 Km dan di bagian hilir seluas 76,5 Km2. Sedangkan panjang sungai Cikapundung dari hulu Maribaya sampai hilir Citarum mencapai 28 km. Untuk itulah perlu ada upaya untuk menjaga dan mengaktivasi sungai-sungai yang ada di Kota Bandung dengan melibatkan kekuatan kreatif warganya. Tentunya kita tidak bisa melakukan hal itu semua sekaligus. Hanya dengan metoda seperti akupuntur lah, secara realistis dapat kita lakukan terhadap sungai-sungai yang kita miliki saat ini. Semestinya upaya untuk mengaktivasi sungai kota tersebut mesti sejalan dengan upaya untuk menjaga kebersihan sungai. Sungai yang bersih dan jernih sesungguhnya adalah ruang dan tempat kita bercermin. Dan harapannya cermin dari air sungai itu merefleksikan tawa, canda dan keceriaan warga kota ketika mengunjungi sungainya. Siapakah yang akan mendengar jikalau sungai berteriak karena kering atau banjir serta alur alirannya menangis bersama-sama karena kotoran sampah? Karena tentunya kita pun tak ingin air sungai naik sampai ke leher dan kita tenggelam ke dalam sungai yang penuh lumpur. Oleh karena itu bila kita ingin berbuat sesuatu, mulailah keluar dari rumah dan datanglah ke sungai. Kenalilah sungai-sungai yang ada di kotamu dengan melihat dan menyentuhnya. Niscaya setelah itu rasa sayang akan muncul sebagaimana kisah cinta anak manusia. Dan kemudian rasa sayang itu lah yang akan membuat kita untuk melahirkan sikap peduli dan menjaga sungai. Sehingga pada akhirnya kita akan melihat sungai-sungai yang diserbu oleh para warganya. Yang menanti untuk dihamili oleh sebuah budaya baru.
Untuk itulah melalui buku foto ini, berbagai cuplikan imaji perihal sebagian ruang publik dan aktivasi yang dilakukan oleh warga Kota Bandung dicatat kembali secara visual. Sekaligus menawarkan harapan di sana agar dapat menjadi awal bagi kita untuk mulai menciptakan sebuah budaya perubahan yang dilakukan di ruang publik. Sekiranya masih ada warga yang mau keluar rumah untuk melihat dan menyentuh ruang-ruang kotanya, maka di sanalah terdapat kota yang bahagia. Kota Bandung menganugerahkan sejumlah energi dan kekuatan sosial melalui komunitas yang dimilikinya. Hal ini mengajarkan bahwasanya kita tidak bisa sendirian untuk membangun ruang publik yang nyaman dan bernilai bagi Kota Bandung. Langkah laku manusia selalu terbentang dan terbuka lebar di Kota Bandung. Warga Bandung yang memilih hidup untuk selama-lamanya harus mau menciptakan segala-galanya bersama-sama. Karena Bandung Kita adalah segala pikiran kita yang menjadi tindakan kita.

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.
I’LL FOLLOW THE SUN | Love, Light, Live by galih sedayu
SHORT BIO: Founder of Ruang Kolaborasa (since 2010), a creative collective inisiative, providing solutions for impactful program and cultural movement for community growth ; Chairman of the Bandung Creative Economy Planning and Development Committee (2026-2029), a multi-stakeholder coordinating body established to strengthen, advance the creative economy ecosystem, and a strategic enabler, ensuring that creativity becomes a driving force for economic growth and cultural vitality in Bandung City ; Chairman of the Board of Curators of the Bandung Creator Awards (2024-2025), an annual recognition program dedicated to honoring creative economy practitioners and creators in Bandung City who have demonstrated outstanding contribution, consistency, and impact within the creative ecosystem ; Co-founder and member of Indonesia Creative Cities Network / ICCN (since 2015), a hub organisation for cross-creative communities network, connecting 200+ cities/regencies from all over Indonesia as powerful catalysts for collective best practise of creative cities ; Indonesia Selection Team of UNESCO Creative Cities Network for Ministry of Tourism and Creative Economy (2022-2025) ; Steering Committe and Creative Consultant for several festivals such as Indonesia Creative Cities Festival, Wonderful Indonesia Festival (Malaysia, Thailand, and Japan), and Asian-African Festival ; Curator of Karisma Event Nusantara / KEN for Ministry of Tourism and Creative Economy (2021-2023) ; Curator and Mentor of Wonderful Indonesia Scale-Up Hub (WISH) for Ministry of Tourism (2025) ; Documentary Photographer for creative cities, culture and tourism ; Mentor, speaker, and facilitated workshops on the creative economy, creative cities, and cities festival across Indonesia (sumatera, java, flores, bali, sulawesi, kalimantan, and papua islands) ; Love collaborating with local creative communities, best practise and policy of the impacts of creative cities, network, and hubs ; With creative experience background over 25 years, I believe that creative cities are not about sensations but solutions, seeing creative cities not as an object but connectedness, and also creative cities are about cultural movements.
***
CURATORS: Chief Curator of Bandung Creator Awards (2025) ; Curator of Wonderful Indonesia Scale-Up Hub for Ministry of Tourism (2025) ; Chief Curator of Ternate Spice City Ideathon (2024) ; Chief Curator of Bandung Creator Awards (2024) ; Chief Curator of Bandung Creative Week (2024) ; Chief Curator of Bandung Calendar of Event / COE (2024) ; Curator and National Selection Team of UNESCO Creative Cities Network for Ministry of Tourism and Creative Economy (2022-2025) ; Curator of Karisma Event Nusantara / KEN for Ministry of Tourism and Creative Economy (2021-2023) ; Chief Curator at Floratama Event Ideathon (2022-2023) ; Curator of Calendar of Event for Ministry of Tourism and Creative Economy (2019-2020) ; Curator of Asian Games Photo Exhibition / Energy of Asia for Ministry of Communication and Information Technology of Indonesia (2018) ; Curator of Art Exhibition / Mind Reflection for Lawangwangi Creative Space (2017) ; Curator of Bandung 1955 Exhibition for Paul Tedjasurja (2015) ; Curator of Bandung Creative Awards for Bandung City Goverment (2014) ; Curator of Bandung Nu Urang Exhibition for Bandung City Goverment (2014) ; Curator of Through Flowery Eyes Photo Exhibition (2014) ; Curator of Menuju Bandung Juara Exhibition for Ridwan Kamil (2013) ; Curator of Art Deco kiwari Exhibition for Roemah Seni Sarasvati (2013) ; Curator of International Photo Exhibition of ROC’s 1st Century / Retracing Our Steps for Taipei Economic and Trade Office (2012) ; Curator of Save Our Heritage Photo Exhibition for Grand Royal Panghegar (2011) ; Curator of Tribute To Nature Exhibition for Teh Kotak (2011) ; Curator of Hidup Persib Photo Exhibition at Gedung Indonesia Menggugat (2008)
***
JURIES: Jury of Indonesia Tourism Competition (2023-2025) ; Jury of Buol Batik Design Competition (2025) ; Jury of PsyCompilation National Competiton (2024-2025) ; Jury of Creative Event Proposal Competition (CREO) : “Environmental Friendly Festival” (2022-2023) ; Jury of Bandung City Anniversary Logo Design Competition (2021-2022) ; Jury of Event Proposal “It’s Time for Labuan Bajo” (2022) ; Jury of Space All Contest by Art Therapy Centre (2021) ; Jury of Sustainable City Poster & Video Competition with Indonesian Local Wisdom (2020) ; Jury of Hyundai Start-Up Challenge (2019) ; Jury of Urban Life Portrait Competition (2019) ; Jury of Positive Psychology Short Film Contest (2019) ; Bandung Creative Exposition (BCX) Contest (2018) ; Jury of Asian Games Photo Contest by Ministry of Communication and Information (2018) ; Jury of Indonesian Entrepreneurship Competition by Ministry of Education and Culture (2016) ; Jury of Fotogenic Survivor Contest by Priangan Cancer Care Foundation (2016) ; Jury of Crafashtival Competition by Bank BJB (2015) ; Jury of Jakarta Kita Awards (2012) ; Jury of Nyaah Ka Kolot Competition (2010-2015) ; Jury of Save Our Heritage Competition (2011) ; Jury of Tribute to Nature by Teh Kotak (2011) ; Jury of Indonesian Railways Competition by KAI (2009) ; Jury of Save Karst Citatah Competition by Kelompok Riset Cekungan Bandung (2008) ; Jury of Kemilau Nusantara Competition (2007-2012) ; Jury of Braga Fest Competition (2006)
***
MENTORS AND SPEAKERS: Mentors and Speakers (Creative City ; Event Management ; Photography ; Tourism and Creative Economy) for Several Cities such as Tanjung Redeb (Berau Regency) – East Kalimantan (2025) ; Semarang – Central Java (2025) ; Palu City – Central Sulawesi (2025) ; Garut Regency – West Java (2025) ; Padang City – West Sumatera (2025) ; Ternate – North Maluku (2024) ; Tapin District – South Kalimantan (2024) ; Subang Regency – West Java (2024) ; Bengkulu City – Sumatera (2024) ; Jayapura City – Papua (2024) ; Depok City – West Java (2024) ; Cimahi City – West Java (2024) ; Bandar Lampung City – Lampung (2024) ; Paser District – East Kalimantan (2024) ; Padang City – West Sumatera (2024) ; Medan – North Sumatera (2024) ; Sukabumi City – West Java (2024) ; Balikpapan City – East Kalimantan (2024) ; Berau Regency – East Kalimantan (2024) ; Brebes Regency – Central Java (2024) ; Tegal City – Central Java (2024) ; Donggala Regency – Central Sulawesi (2024) ; Sorong City – Papua Barat Daya (2024) ; Gorontalo City – Sulawesi (2023) ; Kutai Kartanegara Regency – East Kalimantan (2023) ; Sangatta, Kutai Timur Regency – East Kalimantan (2023) ; Toba Regency – North Sumatera (2023) ; Maumere Regency – East Nusa Tenggara (2023) ; Polewali Mandar Regency – West Sulawesi (2023) ; Enrekang Regency – South Sulawesi (2023) ; Purworejo Regency – Central Java (2023) ; Labuan Bajo – Manggarai Barat District – East Nusa Tenggara (2023) ; Semarang City – Central Java (2023) ; Ampana – Tojo Una-Una Regency – Central Sulawesi (2023) ; Lumajang Regency – East Java (2023) ; Cipanas City – West Java (2023) ; Larantuka, Flores Timur Regency – East Nusa Tenggara (2022) ; Barabai, Hulu Sungai Tengah Regency – South Kalimantan (2022) ; Batam City – Kepulauan Riau (2022) ; Denpasar City – Bali (2022) ; Kendari City – Sulawesi Tenggara (2022) ; Kupang City – East Nusa Tenggara (2022) ; Cianjur City – West Java (2021) ; Makassar City – South Sulawesi (2021) ; Manado City – North Sulawesi (2021) ; Pontianak – West Kalimantan (2017) ; Pekalongan – Central Java (2017) ; Kendari – Sulawesi Tenggara (2016) ; Bekasi – West Java (2014) ; Jakarta – Daerah Khusus Ibukota (2014) ; Tasikmalaya – West Java (2013) ; Bogor – West Java (2009)
***
CREATIVE CONSULTANTS: Chief Creative Concultant of Roadmap for Spice City Ternate (2025) ; Chief Creative Consultant of Creative Economy Roadmap for Subang Regency Goverment (2025) ; Chief Creative Consultant of Spice City Program for Ternate City Goverment (2024) ; Chief Creative Consultant of Spice City Roadmap for Ternate City Goverment (2023) ; Chief Creative Consultant of City Branding for Hulu Sungai Tengah / HST District Goverment (2023) ; Creative Consultant Team of Let’s Go Gelato (2022) ; Chief Creative Consultant of Ambon City Roadmap for Ministry of Tourism and Creative Economy of the Republic of Indonesia (2020) ; Chief Creative Consultant of UKM Awards for Ministry of Cooperatives and Small and Medium Enterprises of the Republic of Indonesia (2020) ; Creative Consultant Team of Event Management Guidebook for Ministry of Tourism and Creative Economy of the Republic of Indonesia (2020) ; Creative Consultant Team of Ternate City Branding for Indonesia Creative Cities Network / ICCN ; Creative Consultant Team and Asesor of Creative Hub for West Java Provincial Government (2019) ; Chief Creative Consultant of Bandung Creative Belt for Bandung City Govermenment (2018) ; Chief Creative Consultant of Cijaringao Placemaking for Saung Angklung Udjo (2018) ; Creative Consultant Team at Bandung Creative Hub / BCH for Bandung City Goverment (2017) ; Chief Creative Consultant of Mata Warga for Bandung Creative City Forum / BCCF (2016) ; Chief Creative Consultant of Creative Economy Development Book for Bandung City Goverment (2014) ; Creative Consultant Team of Bandung Creative Economy Roadmap for Bandung City Goverment (2014) ; Creative Consultant Team of Bandung Creative Awards for Bandung City Goverment (2014) ; Creative Consultant Team of UNESCO Bandung City of Design for Bandung City Goverment (2013) ; Creative Consultant Team of Bandung Creative Village for Bandung Creative City Forum / BCCF (2012) ; Creative Consultant Team of Wargajakarta.com (2012) ; Chief Creative Consultant Team of PT. Ultra Jaya (2012) ; Chief Creative Consultant of Bandung Photography Park (2011) ; Chief Creative Consultant of PT. Astra Honda Motor (2010) ; Chief Creative Consultant of TelingaMata Communications (2007-2010) ; Chief Creative Consultant of PT. Pos Indonesia (2006-2011)
***
EVENTS AND FESTIVALS: Creative Director of Anugerah Kreator Bandung (2025) ; Steering Committee of Indonesia Creative Cities Festival #8 at Malang Raya (2025) ; Steering Committee of Indonesia Creative Cities Festival #7 at Tangerang Selatan, Banten (2024) ; Chief Steering Committee of Bandung Creative Week (2024) ; Steering Committee of Indonesia Creative Cities Festival #6 at Banjarmasin, South Kalimantan (2023) ; Steering Committee of Indonesia Creative Cities Festival / ICCF #5 at Kendari, Sulawesi Tenggara (2022) ; Steering Committee of Indonesia Creative Cities Festival / ICCF #4 at Pekanbaru, Riau (2021) ; Steering Committee of Indonesia Creative Cities Festival / ICCF #3 at Denpasar, Bali (2020) ; Festival Director of Cigadung Creative Festival at C59 Factory (2019) ; Festival Director of Rempug Jukung Festival at Bandung Creative Hub / BCH (2019) ; Steering Committee of Indonesia Creative Cities Festival / ICCF #2 at Ternate, North Maluku (2019) ; Festival Director of Rawayan World Music Festival at Cijaringao, West Java (2018) ; Creative Director of Indonesia Week at Nagoya City, Japan (2018) ; Steering Committee of Indonesia Creative Cities Festival / ICCF #1 at Sleman, Daerah Istimewa Yogjakarta (2018) ; Creative Director of Bandung Creative Hub Fest (2017) ; Festival Director of Wonderful Indonesia Festival at Bangkok City, Thailand (2017) ; Steering Committee of Indonesia Creative Cities Conference / ICCC #3 at Makassar, South Sulawesi (2017); Steering Committee of Indonesia Creative Cities Conference / ICCC #2 at Malang, East Java (2016) ; Festival Director of Asian African Carnifal at Bandung City, West Java (2015-2017) ; Steering Committee of Indonesia Creative Cities Conference / ICCC #1 at Surakarta, Central Java (2015) ; Festival Director of Indonesia Festival at Penang City, Malaysia (2015) ; Festival Director of Bandung Light Fest at Bandung City, West Java (2015) ; Festival Director of Crafashtival at Bandung City, West Java (2015) ; Festival Director of Milangkala Bandung Festivals at Bandung City, West Java (2015) ; Festival Director of Solidarity Day at Bandung City, West Java (2015) ; Festival Director of Ngora Bandung Festival at Bandung City, West Java (2014) ; Festival Director of Bandung Caang Festival at Bandung City, West java (2014) ; Chief Steering Committee of Jabar Ngagaya Festival at Bandung City, West Java (2014) ; Creative Director of Fashionary for Bandung Creative City Forum at Bandung City, West Java (2013) ; Festival Director of Helar Fest for Bandung Creative City Forum at Bandung City, West Java (2012)
***
BOOKS & JOURNALS: Book Editor and Curator of Indonesia Gastronomy Tour for WISH Program (2025) ; Book Editor and Conceptor of Ternate Spice City (2024) ; Book Editor and Conceptor of Barabai The Heart of Borneo (2023) ; Book Editor and Conceptor of Asian Games / Energy of Asia (2018) ; Book Author and Conceptor of Deus Providebit (2016) ; Book Author and Conceptor of Home of Creative Minds (2015) ; Book Author and Conceptor of Moments of Asian-African Conference / Bandung 1955 (2015) ; Book Author and Conceptor of Bandung Nu Urang (2014) ; Book Author and Conceptor of Bandung From Spaces to Places (2014) ; Book Author and Conceptor of Through Flowery Eyes (2014) ; Book Author and Conceptor of Menuju Bandung Juara (2013) ; Book Author and Conceptor of Art Deco Kiwari (2012) ; Book Editor and Conceptor of Top 30 Bandung Industry Centre (2012) ; Book Author and Conceptor of Angklung Udjo (2011) ; Book Author and Conceptor of Save Our Heritage (2011) ; Book Author and Conceptor of Tribute To Nature (2010) ; Book Author and Conceptor of Selamatkan Karst Citatah (2009) ; Book Author and Conceptor of Hidup Persib (2008)
Mata Warga : Kolaborasi & Blusukan Fotografi Warga Kampung
Teks : galih sedayu
Foto : Air Foto Network [AFN]
Bila kita menganalogikan Kota Bandung sebagai sebuah pohon yang besar, maka akar-akar pohon yang dimilikinya dapat diumpamakan sebagai himpunan Kampung Kota yang tentunya bertugas menopang batang pohon tersebut agar tetap berdiri tegak dan memastikan daunnya tumbuh dengan baik. Oleh karenanya, kampung dan kota itu sejatinya selalu hidup bersama, tak ada yang lebih unggul, tak ada yang lebih diutamakan, tak ada yang lebih dinomor satukan. Namun pada praktiknya, khususnya dalam konteks pembangunan sebuah kota, terkadang perhatian terhadap ruang kampung seolah-olah menjadi seperti anak tiri, sehingga kerap jarang tersentuh serta cenderung diabaikan. Untuk itulah keroyokan program-program kreatif yang mengangkat isu perihal keberadaan kampung atau wilayah kecil di sebuah kota, perlu dihadirkan agar azas pemerataan pembangunan dapat terwujud.
Berita baiknya, saat ini mulai hadir program-program yang bersinggungan dengan kampung di Kota Bandung. Salah satunya adalah program Kampung Kreatif yang diinisiasi oleh komunitas / warga Bandung berkolaborasi dengan pihak pemerintah, pihak akademisi, pihak bisnis dan pihak media. Sinergitas “Penta Helix” inilah yang diharapkan mampu mendobrak ketiadaan konektivitas antar warga dalam membangun kotanya. Program Kampung Kreatif ini sesungguhnya merupakan gagasan universal, sehingga rasanya tidak perlu lagi diperdebatkan dengan mempertanyakan kembali, siapakah yang pertama kali melahirkan program ini ataupun siapakah yang berhak menjalankan program ini. Selama tujuannya baik, rasanya siapapun dapat melakukannya bagi Kota Bandung.
Seiring dengan waktu berjalan, sadar atau tidak, Kampung Kreatif ini ibarat menjadi lokomotif bagi program kreatif yang lain. Letupan-letupan kecil yang disuarakan ke dalam bentuk program demi merespon ruang kampung ini pun menjadi gerbong-gerbongnya. Namun rel ataupun jalurnya tetap sama serta memiliki tujuan yang sama pula. Salah satunya adalah program “Mata Warga”. Program yang diinisiasi oleh Bandung Creative City Forum {BCCF}, Air Foto Network {AFN}, Komite Ekonomi Kreatif Kota Bandung, dan Karang Taruna Kota Bandung ini merupakan sebuah program kolaborasi warga melalui fotografi. Dimana program Mata Warga ini menggunakan sebuah metodologi atau cara yang melibatkan komunitas / warga kampung secara aktif melalui media fotografi, dengan tujuan untuk melakukan perubahan sosial terhadap lingkungan sekitarnya secara kreatif. Di dunia fotografi, program ini biasa dikenal dengan sebutan “Participatory Photo Project”.
Karena salah satu fitrah disiplin dalam ilmu maupun bidang apapun adalah kebermanfaatannya bagi masyarakat, maka fotografi pun dipilih sebagai jembatan penghubung komunikasi warga kampung tersebut. Proses program Mata Warga ini dimulai dengan (1) Pelatihan dasar memotret bagi warga kampung ; (2) Diskusi untuk mengumpulkan data & analisa sederhana mengenai lingkungan sekitar ; (3) Melibatkan komunitas & persiapan pemotretan ; (4) Memotret sebuah isu yang ada di lingkungan sekitar ; (5) Presentasi karya foto hasil warga ; (6) Kurasi foto & pembuatan buku ; yang pada akhirnya diharapkan muncul proses diseminasi & perubahan sosial dari warganya. Tujuan program Mata Warga ini adalah membantu warga kampung untuk merekam dan merefleksikan potensi kampung serta menghadirkan perhatian komunitas terhadap lingkungannya ; Menyampaikan pengetahuan yang baik sekaligus kritik yang membangun perihal isu lingkungan melalui diskusi fotografi ; serta Menyentuh dan menjangkau pembuat kebijakan (dalam hal ini adalah pemerintah).
Lima (5) Kampung yang terdapat di Kecamatan Cijawura, Kecamatan Arcamanik, Kecamatan Lengkong, Kecamatan Batununggal, dan Kecamatan Kiaracondong di Kota Bandung, menjadi titik-titik akupuntur yang disasar melalui program Mata Warga ini. Pelatihan foto warga kampung dalam program Mata Warga pertama kali dimulai pada tanggal 27 Oktober 2016 di Kecamatan Cijawura, yang kedua digelar pada tanggal 10 Juni 2017 di Kecamatan Arcamanik, yang ketiga digelar pada tanggal 11 Juni 2017 di Kecamatan Lengkong, yang keempat digelar pada tanggal 15 Juli 2017 di Kecamatan Batununggal, dan yang kelima (terakhir) digelar pada tanggal 22 Juli 2017 di Kecamatan Kiaracondong. Program ini dibantu pula oleh sejumlah relawan yang menjadi pengajar dan fasilitator warga kampung tersebut. Para relawan tersebut adalah Alfian Widiantono, galih sedayu, Ruli Suryono & Sudarmanto Edris yang bertindak sebagai relawan pengajar fotografi, serta Agung Yunia, Kandi Sekar Wulan, Pandu Putra Pranawa & Shinta S Putri yang bertindak sebagai relawan fasilitator.
Banyak fakta, tempat & peristiwa menarik yang didapat dari masing-masing wilayah tersebut. Misalnya saja kue ondel-ondel yang sangat enak bisa kita rasakan di wilayah kampung Kecamatan Cijaura ; Jurig Walungan atau pasukan pembersih sampah sungai bisa kita temukan di wilayah kampung Kecamatan Arcamanik, Gang Ronghok yakni sebuah gang sempit yang hanya bisa dilalui oleh seorang saja bisa kita alami di wilayah kampung Kecamatan Lengkong, Lomba ketangkasan burung merpati bisa kita saksikan di wilayah kampung Kecamatan Batununggal ; Wahana permainan anak yang dikemas seperti pasar malam di samping tempat pembuangan sampah bisa kita lihat di wilayah kampung Kecamatan Kiaracondong. Belum lagi puluhan cerita warga yang membuat kita terpesona bak menyimak sebuah dongeng yang dituturkan oleh seorang kakek kepada cucunya.
Sebagai bentuk pertanggung-jawaban moral kepada Kota Bandung, maka seluruh cuplikan mata yang telah menjadi imaji hasil karya warga kampung tersebut, kami persembahkan ke dalam sebuah jejak literasi berupa buku. Buku ini kiranya dapat menjadi sumber ingatan & pengetahuan abadi, agar kelak setiap warga dapat selalu memberikan yang terbaik bagi kampungnya masing-masing. Sehingga perubahan sosial dapat terus dilakukan demi mengurai berbagai permasalahan yang ada dengan mengacu kepada informasi & gambar yang terekam dalam buku tersebut. Meski fotografi tak kan dapat mengubah sebuah kota, namun sesungguhnya fotografi dapat mengubah cara kita melihat sebuah kota. Dan itu semua dapat dimulai dari mata kita masing-masing. Karena dari mata, kemudian turun ke hati dan kemudian lahir menjadi empati.
Bandung, 7 Desember 2017
***
Text : galih sedayu
Photography : Air Foto Network [AFN]
If we analyze the city of Bandung as a big tree, then the roots of the tree can be likened to the set of Kampong / Village which certainly in charge of supporting the tree trunk to remain standing upright and ensure the leaves grow well. Therefore, the kampong and the city are actually always living together, no one is superior, no one takes precedence, no one is more united. But in practice, especially in the context of the development of a city, sometimes the attention to the kampong space seems to be like a stepchild, so it is often rarely touched and tends to be ignored. For that reason the creative programs that raise the issue of the existence of a kampong or a small area in a city, need to be presented so that the principle of even distribution of development can be realized.
The good news, currently starting to present programs that intersect with Kampong in the city of Bandung. One of them is the “Creative Kampong” program initiated by the community / citizens of Bandung in collaboration with the government, the academics, the business side and the media. This “Penta Helix” Synergy is expected to break the lack of connectivity between citizens in building the city. This Creative Kampong program is actually a universal idea, so it does not need to be debated anymore by questioning who was the first to give birth to this program or who is eligible to run this program. As long as the goal is good, it feels anyone can do it for the city of Bandung.
Along with running time, consciously or not, Creative Kampong is like a locomotive for other creative programs. Small explosions voiced into the form of a program to respond to this kampong space became his carriages. But the rail or track remains the same and has the same goal. One is the “Mata Warga / Citizen Eye” program. Program that initiated by Bandung Creative City Forum {BCCF}, Air Foto Network {AFN}, and Bandung Creative Economy Committee is a citizen collaboration program through photography. Where this Program uses a methodology or a way that involves the community / villagers actively through the media of photography, with the aim to make social changes to the surrounding environment creatively. In the world of photography, this program is commonly known as “Participatory Photo Project”.
Because one of the nature of discipline in science and any field is its usefulness for the community, then photography was chosen as a bridge connecting communications residents of the village. This Mata Warga program process begins with (1) basic training of photographing for the villagers ; (2) Discussion to collect simple data & analysis on the surrounding environment ; (3) Involving community & photographing preparation; (4) Taking pictures of an existing issue in the neighborhood ; (5) Presentation of photographs of residents’ results ; (6) Curation photo & book making ; which in turn is expected to appear dissemination process & social change from its citizens. The objective of this program is to help villagers to record and reflect the potential of the village and to bring the community’s attention to the environment ; Convey good knowledge as well as constructive criticism of environmental issues through photography discussions; and Touch and reach policy makers (in this case is government).
Five (5) Kampong in Cijawura District, Arcamanik District, Lengkong District, Batununggal District, and Kiaracondong District in Bandung City, become acupuncture points targeted through Mata Warga program. Photo training of the villagers in the Mata Mata program was first started on 27 October 2016 in Cijawura District, the second was held on 10 June 2017 in Arcamanik District, the third was held on 11 June 2017 in Lengkong District , the fourth was held on the 15th July 2017 in Batununggal District, and the fifth (last) was held on July 22, 2017 in Kiaracondon District. This program is also assisted by a number of volunteers who became teachers and facilitators of the villagers. The volunteers are Alfian Widiantono, galih sedayu, Ruli Suryono & Sudarmanto Edris who acts as volunteer of photography lecturer, and Agung Yunia, Kandi Sekar Wulan, Pandu Putra Pranawa & Shinta S Putri who act as volunteer facilitators.
Many interesting facts, places and events gained from each of these areas. For example, Delicious ondel-ondel cakes that we can feel in the Cijawura Kampong area ; Jurig Walungan or river rubbish cleaning troops can be found in the Arcamanik Kampong area : Gang Ronghok a narrow alley that can only be passed by a person we can experience in the Lengkong Kampong Area, pigeon dexterity race that we can see in the Batununggal Kampong area ; Children’s games are packed like a night market next to a landfill that we can see in the Kiaracondong Kampong area. Not to mention dozens of stories of citizens who make us fascinated like listening to a fairy tale told by a grandfather to his grandson.
As a form of moral responsibility to the city of Bandung, then the entire footage of the eye that has become the image of the work of the villagers, we dedicate into a literacy trail of books. This book may be a source of lasting memory & knowledge, so that every citizen can always give the best for his or her own village. So that social change can continue to be done in order to parse various existing problems with reference to information & images recorded in the book. Although photography can not change a city, photography can actually change the way we see a city. And it can all start from our own eyes. Because from the eye, then down to the heart and then born into empathy.
Bandung, December 7, 2017
* Mata Warga Kecamatan Cijawura








* Mata Warga Kecamatan Arcamanik







* Mata Warga Kecamatan Lengkong







* Mata Warga Kecamatan Batununggal





* Mata Warga Kecamatan Kiaracondong







Copyright (c) by galih sedayu & AFN
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer & AFN.



