I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Nuansa Pagi Di Victoria Park

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Cuaca dingin yang menyentuh 7 derajat celcius menyambut pagi tatkala saya beroleh kesempatan menginjakkan kaki di area Victoria Park yang lokasinya berada di Causeway Bay, Pennington Street, Hongkong. Meski matahari bersinar telanjang, namun hawa dingin itu tetap terasa menembus tubuh saya yang barangkali terbiasa hidup di iklim tropis. Victoria Park adalah taman terbesar di Pulau Hongkong dengan luas sekitar 19 hektar. Ratu Victoria dari Inggris dijadikan nama taman tersebut sekaligus dibuatkan patung lilinnya yang berada di pintu gerbang utama taman. Taman ini kerap dijadikan tempat peringatan tahun baru Imlek dan pameran bunga setiap tahunnya. Menurut sejarahnya, dulunya taman ini adalah tempat penampungan angin topan yang digunakan sebagai tempat berlindung bagi kapal nelayan dan kapal pesiar. Pada hari minggu dan hari libur, biasanya taman ini menjadi tempat berkumpulnya para pekerja rumah tangga yang kebanyakan berasal dari Indonesia. Victoria Park menjadi sebuah oase hijau di tengah gedung pencakar langit yang tinggi menjulang dan mengepungnya. Penggalan-penggalan momen bisa kita lihat dan rekam di sana. Dari mulai orang-orang yang melakukan aktivitas tai chi, jogging, membaca koran, berolah raga, ataupun hanya sekedar berdiri berjemur sembari merasakan hangatnya mentari. Wilujeung enjing wahai Victoria Park.

Victoria Park, Hongkong, 1 Februari 2018

24KaryaFoto

***

Text & Photographs : galih sedayu

Cold weather that touched 7 degrees celcius welcomed the morning when I had the opportunity to set foot in Victoria Park area located in Causeway Bay, Pennington Street, Hongkong. Although the sun was shining naked, but the cold was still penetrating my body that perhaps used to live in a tropical climate. Victoria Park is Hong Kong’s largest park with an area of about 19 hectares. Queen Victoria of England made the name of the park as well as made a wax statue that is in the main gate of the park. This park is often used as a place of celebration of Lunar New Year and flower exhibition every year. Historically, this park was once a cyclone shelter used as a shelter for fishing boats and cruise ships. On Sundays and public holidays, this park usually becomes a gathering place for domestic workers mostly from Indonesia. Victoria Park becomes a green oasis in the middle of a towering high skyscraper and surround it. Fragments of moments we can see and record there. People doing tai chi, jogging, reading newspapers, exercising, or just standing basking while feeling the warmth of the sun. Good Morning Victoria Park.

Victoria Park, Hongkong, 1 February 2018

24Photographs

DSCF2136

DSCF2181

DSCF2155

DSCF2223

DSCF2282

DSCF2293

DSCF2249

DSCF2229

DSCF2201

DSCF2146

DSCF2157

DSCF2119

DSCF2211

DSCF2216

DSCF2164

DSCF2240

DSCF2255

DSCF2263

DSCF2273

DSCF2281

DSCF2285

DSCF2286

DSCF2291

DSCF2295

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

February 23, 2018 at 5:30 am

Warisan Leluhur Dunia Di Shirakawa-go

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu

Negara yang besar tentunya tak akan abai terhadap warisan budaya yang dimilikinya. Karena di sanalah sesungguhnya kita dapat menemukan jejak karya bangsa yang diciptakan oleh para leluhurnya. Shirakawa-go, salah satu desa bersejarah yang dimiliki oleh Negeri Matahari Terbit, Jepang adalah salah satunya. Rumah-rumah tradisional yang berusia sekitar 200 tahun telah menjadi saksi biksu bagi keberadaannya. Dengan ciri yang unik, yakni atap rumah yang membentuk segitiga sama kaki, terbuat dari jalinan jerami yang ditumpuk hingga tebal, menjadikan rumah dengan model yang disebut gassho-zukuri (tangan yang berdoa) itu menjadi magnet wisatawan dunia. Terletak di lembah Sungai Shogawa dan dikelilingi pegunungan, Shirakawa-go selalu mengalami musim dingin dengan hujan salju yang hebat. Letak persisnya berada di pegunungan Hakusan yang membentang dari prefektur Gifu hingga prefektur Yoyama. Dengan atap yang memiliki kemiringan sekitar 60 derajat itu, tumpukan salju tentunya akan cepat runtuh. Apalagi perancang rumah gassho-zukuri di masa lampau memang sangat memikirkan bentuk rumah dengan kondisi alam tersebur. Salah satunya adalah semua atap rumah di desa tersebur menghadap ke timur dan barat yang bertujuan agar salju yang menumpuk bisa segera mencair bila terkena sinar matahari. Karena atap menghadap arah matahari, semua ventilasi yang terletak di loteng mengarah ke selatan dan utara. Dengan begitu aliran udara dan angin bebas keluar masuk sehingga menciptakan sistem ventilasi yang terbaik. Seperti kebanyakan rumah tradisional Jepang lainnya, rumah gassho-zukuri menggunakan kayu. Uniknya, untuk menyatukan antara bagian satu dengan yang lain tidak satupun paku yang digunakan. Semua disatukan dengan tali yang terbuat dari jerami yang dijalin atau neso, istilah untuk menyebut cabang pohon yang dilunakkan. Pada tanggal 9 Desember 1995, UNESCO menetapkan rumah gassho-zukuri di Shirakawa-go dan Gokayama sebagai bagian dari Situs Kebudayaan Dunia. Shirakawa-go memiliki jumlah rumah bergaya gassho-zukuri terbanyak dibanding dengan dua desa bersejarah lainnya. Hingga saat ini, rumah-rumah gassho-zukuri ini masih digunakan sebagai tempat tinggal. Kuil Buddha, gubuk, itakura (gudang), Kuil Shinto, dan saluran air, adalah beberapa objek lain yang wajib dijaga dan dipertahankan. Bagi siapapun yang ingin melihat & belajar perihal kearifan bangsa Jepang, Shirakawa-go adalah tempatnya. Sebuah perkampungan kecil nan indah yang menawarkan perasaan syukur dan kebahagiaan.

Shirakawa-go, Jepang, 4 Februari 2018

***

A Great Country certainly will not ignore the cultural heritage it has. Because that’s where we can actually find traces of the works of the nation created by the ancestors. Shirakawa-go, one of the historic villages owned by the Land of the Rising Sun, Japan is one of them. Traditional houses of about 200 years have been a monk’s witness to its existence. With a unique feature, the roof of a house that forms an equilateral triangle, made of straw braids stacked to the thickness, making the house with a model called gassho-zukuri (praying hands) it becomes a magnet of world tourists. Located in the Shogawa River valley and surrounded by mountains, Shirakawa-go always experiences winter with great snowfall. The exact location is in the Hakusan mountains stretching from Gifu prefecture to Yoyama prefecture. With a roof that has a slope of about 60 degrees, the pile of snow will certainly quickly collapse. Moreover, the designer of gassho-zukuri house in the past is very thinking about the shape of the house with the natural conditions. One of them is all the roof of the house in the village facing east and west which aims to accumulate snow that can immediately melt when exposed to the sun. Because the roof is facing the sun, all the vents located in the attic are heading south and north. That way the air and wind flow freely in and out, creating the best ventilation system. Like most other traditional Japanese houses, gassho-zukuri houses use wood. Uniquely, to unite between one part with another none of the nails are used. All put together with a strap made of straw woven or neso, a term to refer to softened tree branches. On December 9, 1995, UNESCO designated gassho-zukuri houses in Shirakawa-go and Gokayama as part of the World Cultural Site. Shirakawa-go has the largest number of gassho-zukuri-style houses compared to two other historic villages. Until now, these gassho-zukuri houses are still used as shelter. Buddhist temples, huts, itakura (warehouse), Shinto Temple, and waterways, are some other objects that must be maintained and maintained. For anyone who wants to see & learn about Japanese wisdom, Shirakawa-go is the place. A small, beautiful village that offers a feeling of gratitude and happiness.

Shirakawa-go, Japan, February, 4, 2018

DSCF2855

DSCF2863

DSCF2906

DSCF2867

DSCF2869

DSCF2889

DSCF2895

DSCF2899

DSCF2908

DSCF2912

DSCF2917

DSCF2919

DSCF2924

DSCF2925

DSCF2938

DSCF2941

DSCF2953

DSCF2959

DSCF2962

DSCF2966

DSCF3005

DSCF3008

DSCF3029

DSCF3050

DSCF3053

DSCF3054

DSCF3070

DSCF3090

DSCF3091

DSCF3076

DSCF3092

DSCF3098

DSCF3100

DSCF3108

DSCF3115

DSCF3118

DSCF3122

DSCF3128

DSCF3141

DSCF3152

DSCF3197

DSCF3208

DSCF3220

DSCF3224

DSCF3241

DSCF3245

DSCF3252

DSCF3257

DSCF3259

DSCF3171

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

February 15, 2018 at 11:24 am

Sensasi Menyengat Bangkok

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu

กรุงเทพมหานคร อมรรัตนโกสินทร์ มหินทรายุธยา มหาดิลกภพ นพรัตนราชธานีบูรีรมย์ อุดมราชนิเวศน์มหาสถาน อมรพิมานอวตารสถิต สักกะทัตติยวิษณุกรรมประสิทธิ์ (Krungthepmahanakhon Amonrattanakosin Mahintharayutthaya Mahadilokphop Noppharatratchathaniburirom Udomratchaniwetmahasathan Amonphimanawatansathit Sakkathattiyawitsanukamprasit). Kota Malaikat, Kota Besar Yang Abadi, Kota Megah Dari Sembilan Permata, Singgasana Raja, Kota Istana Kerajaan, Rumah Para Dewa Yang Berinkarnasi. Begitulah mereka menyebut Kota Bangkok yang merupakan ibukota Negara Thailand atau Negeri Gajah Putih ini. Kota yang dalam bahasa Thai disebut dengan Krung Thep Maha Nakhon ini memiliki populasi penduduk di atas 8 juta jiwa dengan luas area sekitar 1568,7 m². Kota yang rata-rata memiliki cuaca panas sepanjang tahun ini terkenal akan atmosfir jalanannya yang memikat para turis mancanegara. Dari mulai kuliner, budaya, fesyen, hingga kehidupan malamnya yang menjadi magnet setiap orang. Ribuan cerita bisa kita peroleh di sana. Pedagang kaki lima hampir menyerupai dekorasi yang menghiasi setiap sudut Kota Bangkok. Tuk Tuk atau “Sam Lor”, kendaraan roda tiga yang menyerupai bajaj kalau di Indonesia, merupakan transportasi khas di kota ini yang paling cocok untuk menghindari kemacetan. Pasar Chatuchak yang hanya buka setiap hari Sabtu & Minggu juga merupakan salah satu destinasi yang kerap dikunjungi oleh para pendatang. Kota yang murah & ramah adalah kesan yang saya dapatkan tatkala menginjakkan kaki di sana meski kadang kota ini terkesan berantakan. Dan saya pun baru menyadari betapa masyarakatnya sangat mencintai Sang Raja terutama Raja Bhumibol Adulyadej atau Raja Rama IX yang juga menyukai fotografi. Setelah Raja Bhumibol memimpin Thailand selama 60 tahun sejak tanggal 9 Juni 1946, ia pun wafat di usia 88 tahun pada tanggal 13 Oktober 2016. Selama satu tahun warga Thailand berduka atas kepergiannya. Saat ini tahta kerajaan digantikan oleh putranya yang bernama Putra Mahkota Maha Vajiralongkorn. Ah…Momen singgah di Kota Bangkok memang sangat membekas di hati. Barangkali itupun yang menjadi alasan grup Band Rush menciptakan lagu A Passage To Bangkok. “We’re on the train to Bangkok. Aboard the Thailand Express. We’ll hit the stops along the way. We only stop for the best”.

Bangkok, 16 – 17 Desember 2016 ; 26 – 28 Oktober 2017 ; 15 – 20 November 2017

#47KaryaFoto

***

กรุงเทพมหานคร อมรรัตนโกสินทร์ มหินทรายุธยา มหาดิลกภพ นพรัตนราชธานีบูรีรมย์ อุดมราชนิเวศน์มหาสถาน อมรพิมานอวตารสถิต สักกะทัตติยวิษณุกรรมประสิทธิ์ (Krungthepmahanakhon Amonrattanakosin Mahintharayutthaya Mahadilokphop Noppharatratchathaniburirom Udomratchaniwetmahasathan Amonphimanawatansathit Sakkathattiyawitsanukamprasit). The City of Angels, The Immortal Great City, The Magnificent City Of The Nine Gems, The King’s Throne, The City Of The Royal Palace, The House Of The Incarnate Gods. That’s how they call the City of Bangkok which is the capital of the State of Thailand or the State of the White Elephant. The city is in Thai called Krung Thep Maha Nakhon has a population of over 8 million people with an area of ​​about 1568.7 m². The average city that has hot weather all the year is famous for its street atmosphere that attracts foreign tourists. From the start of culinary, culture, fashion, to the night life that became the magnet of everyone. Thousands of Stories we can get there. Street vendors almost resemble the decoration that adorns every corner of Bangkok City. Tuk Tuk or “Sam Lor”, a three-wheeled vehicle that resembles a bajaj if in Indonesia, is a typical transportation in this city is best suited to avoid traffic. Chatuchak market which is only open every Saturday & Sunday is also one of the destinations frequented by migrants. The cheap & friendly city is the impression I get when I set foot there although sometimes the city seems messy. And I just realized how much the people love the King especially King Bhumibol Adulyadej or King Rama IX who also love photography. After King Bhumibol led Thailand for 60 years from June 9, 1946, he died at the age of 88 on October 13, 2016. For one year the Thai citizens mourned his departure. Today the royal throne is replaced by his son, Crown Prince Maha Vajiralongkorn. Ah … The moment of transit in the city of Bangkok is very imprinted in the heart. Perhaps that’s why the Band Rush group created the song A Passage To Bangkok. “We’re on the train to Bangkok. Aboard the Thailand Express. We’ll hit the stops along the way. We only stop for the best “.

Bangkok, 16 – 17 December 2016 ; 26 – 28 October 2017 ; 15 – 20 November 2017

#47Photographs

DSCF9061

DSCF8418

IMG_4172_blog

IMG_4161_blog

IMG_4145_blog

DSCF7563

DSCF8214

IMG_4200_blog

DSCF8223

DSCF8226

IMG_4211_blog

DSCF8235

DSCF8402

DSCF8423

DSCF8428

IMG_4740_blog

DSCF8828

DSCF7752

DSCF7760

DSCF9492

DSCF9496

DSCF9483

DSCF9321

DSCF9329

DSCF9344

DSCF9351

DSCF9363

DSCF9389

DSCF9394

DSCF9411

DSCF7541

DSCF7546

DSCF7545

DSCF7575

DSCF7677

DSCF7669

DSCF7608

DSCF7946

DSCF7952

DSCF7953

DSCF9119

DSCF9174

DSCF9200

DSCF9203

DSCF9209

DSCF9188

DSCF9098

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

January 27, 2018 at 3:08 am

3 April 2016 : Baptism of Thalia

leave a comment »

pembaptisan thalia

3 April 2016.


Tepat hari ini putriku terkasih dibaptis.

Eleonora menjadi nama baptisnya yang abadi. Sehingga genaplah nama yang diberikan oleh mendiang Sang Ibu, “Eleonora Thalia Sedayu”.

Eleonora memiliki arti sinar atau terang. Dengan harapan agar sinarnya mengandung kehangatan sang ibu Christine Listya Sedayu.
Thalia memiliki arti tumbuh dengan baik serta sedayu memiliki arti siap sedia demi melakukan kebaikan.

Kiranya kelak thalia tumbuh dewasa sehingga menjadi terang bagi sesamanya & selalu mewartakan kebaikan bagi dunia.

Nak, imanmu lah kelak yang akan menjadikan dirimu manusia sesungguhnya. Perlakukanlah sesamamu dengan rasa adil. Jangan pernah melihat pribadi siapapun hanya dari suku, agama maupun status sosialnya.

Hadirkan lah empati dalam setiap detak jantung kehidupanmu. Niscaya hidupmu selalu penuh syukur dan bahagia.

Meski ibumu telah tiada, namun jangan pernah kuatir karna ayah akan selalu menjagamu dan akan selalu ada bersamamu dalam suka dan duka.

Spread your wings…thalia /m\

 

Written by Admin

December 24, 2017 at 4:11 am

23 Desember : Doa Kepulangan Tya & Kelahiran Thalia

leave a comment »

23 Desember 2017

Dear Tya…

Tetaplah menjadi sang pewarta kehangatan,
Tetaplah menjadi sang pengingat syukur,
Tetaplah menjadi sang penghantar tawa,
Tetaplah menjadi sang penawar rindu,
Tetaplah menjadi sang penguat hati,
Tetaplah menjadi sang pengisi cinta,
Tetaplah menjadi sang pelipur lara,
Yang dihembuskan dari surga.

Dear Thalia…

Karena engkau adalah api kehangatan,
Kerana engkau adalah gelombang syukur,
Karena engkau adalah sumber tawa,
Karena engkau adalah mentari rindu,
Karena engkau adalah cahaya hati,
Karena engkau adalah lubuk cinta,
Karena engkau adalah penghapus lara,
Yang dititiskan ke bumi.

Allah, Sang Semesta, & Sumber Segala Kasih…

Aku panjatkan doa & harapan bagi kedua bidadariku,
Dengan segenap hati dan segenap jiwa,
Bagi sang istri tersayang yang telah bersamaMu,
Bagi sang putri tersayang yang sedang bersamaku,
Kiranya berkat dan rahmat Ilahi senantiasa menyertai mereka berdua,
Baik dalam keabadian maupun dalam masa kehidupan,
Sebagaimana kehendak & rencana yang sesungguhnya menjadi misteri abadiMu.

Terima kasih Sang Kuasa, Pencipta langit & bumi.

23 Desember 2015, Mengenang kepergian & kedatangan.
23 Desember 2017, Mengenang anugerah & karunia.

Panjang bahagianya serta mulia…
Christine Listya Sedayu

Panjang syukurnya serta mulia…
Eleonora Thalia Sedayu

#2TahunKepulanganTya
#2TahunKelahiranThalia

Written by Admin

December 24, 2017 at 3:56 am

Agar Menjadi Tubuh Kota | My Personal Book Project : Bandung From Spaces To Places

leave a comment »

Teks : galih sedayu

Manusia dimana pun akan selalu membutuhkan ruang. Tak terkecuali warga yang menghuni sebuah kota. Baik secara komunal maupun individual, mereka mendambakan ruang yang menjadi tempat untuk berpijak dan menciptakan peradaban. Ruang yang kemudian digunakan untuk berkoloni, berinteraksi dan berekspresi agar mereka tetap dapat menggerakkan sebuah kota. Bandung adalah contoh nyata sebuah kota yang selalu bergerak. Dengan menyandang predikat sebagai kota kreatif, tentunya Bandung memiliki banyak ruang publik yang sangat inspiratif. Dari mulai bangunan bersejarah beserta jalan-jalan kotanya, hutan, taman, kampung beserta lapangan dan sungainya yang menggenapkan keutuhan sebuah kota. Coba kita simak sedikit cerita, fakta dan pandangan perihal ruang-ruang publik yang ada di Kota Bandung tersebut.

Sebuah kota tanpa bangunan bersejarah ibarat tubuh manusia tanpa kepala & ingatannya”

Karenanya tatkala sekelompok manusia yang congkak dan dungu berlomba untuk merubuhkan bangunan-bangunan bersejarah kotanya hanya demi uang, maka aksi perlawanan terhadap mereka pun sudah semestinya muncul. Wajar saja memang karena gerakan yang ingin menyelamatkan gedung-gedung tua itu mesti terus selamanya didukung agar kota yang kita huni tetap menjadi waras. Salah satu yang menjadi magnet bagi Kota Bandung adalah keberadaan gedung-gedung tua yang tak kunjung henti selalu mempesona mata manusia. Gedung-gedung tua yang menawan tersebut tersebar di berbagai kawasan Kota Bandung. Dalam buku “100 Bangunan Cagar Budaya di Bandung” yang disusun & diterbitkan oleh Harastoeti DH pada tahun 2011, gedung-gedung tua tersebut dibagi ke dalam kawasan pusat kota, kawasan pecinan/perdagangan, kawasan pertahanan & keamanan/militer, kawasan etnik sunda, kawasan perumahan villa & non-villa serta kawasan industri. Sesungguhnya saat ini perlu adanya upaya-upaya aktif warga untuk kembali menghidupkan bangunan-bangunan tua & bersejarah di Kota Bandung yang telah lama terbengkalai. Untuk kemudian memperkenalkannya kepada anak-anak kita supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian. Supaya anak-anak yang lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka. Supaya mereka menaruh kepercayaan kepada setiap kotanya dan dengan teguh melestarikannya. Karenanya kita perlu menyadari bahwa cinta tidak bisa diberitakan di dalam kubur bangunan tua sebuah kota. Ia akan hidup ketika seluruh warga dapat dengan bebas mengunjungi dan menaruh harapan-harapannya pada gedung-gedung tua sebuah kota. Hingga Kota Bandung akan ada untuk selama-lamanya dan takhtanya seperti matahari & bulan di depan mata, sebagai saksi yang setia di awan-awan.

Sebuah kota tanpa hutan ibarat tubuh manusia tanpa jantung & paru-parunya”

Kawasan Babakan Siliwangi (Lebak Siliwangi) yang terletak di bagian utara kota Bandung tepatnya di jalan Babakan Siliwangi (tembusan jalan Tamansari melewati jalan Ganesha) adalah hutan kota satu-satunya yang masih tersisa di kota ini. Bila kita berbicara perihal hutan kota Babakan Siliwangi, beberapa fakta pun hadir secara nyata di sana. Di masa lalu, terdapat dua belas mata air di kawasan hutan kota Babakan Siliwangi, dimana kini hanya tersisa satu mata air saja. Di kawasan hutan kota ini terjadi pula penurunan permukaaan air tanah, dari 22,99 meter menjadi 14,35 meter (data tahun 1999). Bila lahan hutan kota ini menghilang, akan menyebabkan semakin menurunnya permukaan air tanah karena berkurangnya lahan resapan. Fakta yang lain berbicara bahwasanya hutan kota Babakan Siliwangi merupakan habitat bagi 120 jenis tumbuhan dan 149 jenis hewan serta merupakan tempat singgah bagi enam jenis burung migrasi. Bila kawasan hutan kota ini menghilang, maka jalur migrasi burung-burung ini akan terpotong. Pepohonan yang tumbuh di kawasan Hutan Kota Babakan Siliwangi antara lain adalah Pohon Cola (Cola nitida) dan Pohon Sempur (Dillenia Indica L.), dan Pohon Flamboyan (Delonix Regia) yang paling dominan tumbuh di sana. Tumbuhan yang ada di kawasan hutan kota ini berfungsi sebagai penyaring polusi dan suara. Siapa pun warga yang berada di tengah hutan kota ini, dapat merasakan ketenangan, meskipun jaraknya sangat dekat ke jalan raya yang ramai. Luas kanopi dari pepohonan yang tumbuh di lahan hutan kota ini mencapai hingga 5 Hektar, sementara luas dari Babakan Siliwangi adalah 3,8 Hektar. Tutupan kanopi ini merupakan peneduh, dan sebenarnya dapat menjadi pengurang stress pada manusia yang berada di sekitarnya, karena pepohonan ini menghasilkan udara yang kaya dengan oksigen. Fungsi pepohonan di hutan kota dunia Babakan Siliwangi adalah sebagai penyerap CO2 terhitung hingga 13.680 Kg per hari, sementara melepaskan pula O2 sebesar 9.120 Kg per harinya. Bila harga O2 murni mencapai Rp.25.000,- per liter, maka nilai ekonomis dari hutan kota Babakan Siliwangi mencapai Rp.148.000.000,-. Dari perhitungan ini, dapat diperkirakan bahwa bila kawasan hutan kota Babakan Siliwangi berkurang bahkan hingga 20%-nya saja, maka kerugian Kota Bandung dapat mencapai 10 Milyar Rupiah.

Kemudian sudah sejak lama sebenarnya warga Kota Bandung berjuang demi menyelamatkan Hutan Babakan Siliwangi dari sekelompok pengusaha yang akan menjadikannya sebagai ruang komersil. Berbagai upaya warga pun telah dikerahkan demi mengembalikan pengelolaan hutan kota tersebut dari pihak swasta ke pihak pemerintah dan warga Bandung. Dari mulai aktivasi ruang publik hutan yang dilakukan oleh jejaring komunitas hingga deklarasi Hutan Babakan Siliwangi menjadi Hutan Kota Dunia (World City Forest) yang telah disepakati bersama antara United Nations Environment Programme (UNEP) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kementrian Lingkungan Hidup Indonesia dan Pemerintah Kota Bandung. Dan di tahun ini kabar gembira pun datang menjemput dimana Hutan Kota Dunia Babakan Siliwangi telah dikembalikan pengelolaannya sehingga kembali menjadi milik warga Kota Bandung. Namun demikian, fakta penting yang memiliki nilai bagi Kota Bandung sesungguhnya adalah bagaimana sebenarnya hutan kota dunia Babakan Siliwangi ini menjadi sebuah tempat untuk membangun hubungan manusia dengan alam seutuhnya. Maka dari itu sudah sepatutnya warga Kota Bandung mengucap syukur atas pemberian Sang Semesta dengan sekian banyak kelimpahan yang dimiliki oleh hutan kota dunia Babakan Siliwangi. Karenanya kabarkanlah keselamatan hutan kota ini dari hari ke hari, ceritakanlah kemuliannya kepada semua orang dan bersatulah untuk terus menjaganya dari keserakahan para penguasa yang bodoh. Sebab keagungan dan semarak selalu ada di dalamnya. Sebab kekuatan dan kehormatan ada di tempatnya yang tersembunyi. Sebab anak cucu kita perlu diajari dan merasakan rindangnya hutan.

Sebuah kota tanpa taman ibarat tubuh manusia tanpa hati & sanubarinya”

Bandung juga merupakan sebuah kota yang memiliki begitu banyak taman. Bahkan julukan Bandung sebagai “Parijs van Java” konon didapat karena taman-taman yang dimiliki kota ini sangat menyerupai Kota Paris. Bila kita melihat sejarahnya, taman kota yang lahir pertama kali di kota Bandung adalah “Pieters Park” yang dibangun pada tahun 1885 oleh Meneer R.Teuscher. Kala itu untuk menjaga kesuburan dan kelembaban tanah di sekitar “Pieters Park”, maka dibangunlah sebuah kanal yang memanjang di tepi utara taman. Air yang mengalir pada saluran kanal tersebut bersumber dari sungai cikapayang. Kemudian air dari cikapayang tersebut dialirkan menuju 4 buah taman di kota Bandung yaitu Ijzerman Park (Taman Ganesa), Pieters Park (Taman Merdeka), Molukken Park (Taman Maluku) dan Insulide Park (Taman Nusantara). Saat ini nama “Pieters Park” berubah menjadi Taman Merdeka dengan ciri khas patung badak putih yang menghuni taman kota tersebut. Menurut data dari Dinas Pemakaman dan Pertamanan Kota Bandung, ada sekitar 604 buah Taman di Kota Bandung dan baru sekitar 40% yang bisa dikelola oleh pemerintah. Tak heran memang bila saat ini kita masih melihat begitu banyak taman kota yang menganggur. Bila malam datang, taman-taman itu kerap melahirkan citra negatif seperti gelap, rawan, tempat maksiat, dan lain sebagainya. Untuk itulah semestinya kita hadir di sini bukan untuk mengeluh. Warga kota Bandung sudah semestinya menyikapi masalah ini dan turut mengambil peran demi keberlangsungan taman kota yang semakin terabaikan ini. Sesungguhnya taman-taman kota itu sama seperti kita manusia. Ia tak mau kesepian di tengah panas teriknya sinar mentari. Ia tak mau sendirian di dalam gelap malam & dinginnya sinar rembulan. Ia tak mau meratap sedih dengan kertak gigi yang ketakutan. Karena baginya cinta kita semua adalah lampu taman yang abadi. Demikianlah hendaknya kita sebagai warga mesti selalu mau membuka mata sebagai pelita tubuh demi menjaga dan merawat taman-taman kota yang ada. Setiap pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik. Begitu pula setiap taman yang dirawat dengan penuh kasih akan menciptakan kota yang bahagia. Celakalah kota Bandung ini bila para warganya tidak mau peduli terhadap tamannya sendiri. Karenanya tatkala taman kota meniup seruling bagi kita, hendaknyalah kita menari. Dan taman-taman itulah yang sesungguhnya menjadi ruang masa depan bagi anak cucu kita nanti.

Sebuah kota tanpa kampung ibarat tubuh manusia tanpa jiwa & raganya”

Pemantik semangat perubahan kota itu sesungguhnya tidak hanya datang dari otak-otak masyarakat kreatif yang tinggal di pusat kota saja. Himpunan Kampung Urban yang biasanya terpinggirkan dan dipandang sebelah mata oleh sebagian orang, ternyata dapat menjadi sebuah pusat energi kreatif pula yang membentuk peradaban kota. Kampung pun dapat menjadi ruang publik yang eksotis. Meski kadang kelompok kampung ini terpaksa hidup terhimpit oleh tembok arogansi yang mengatasnamakan pembangunan kota. Mereka inilah sebenarnya yang diharapkan mampu untuk melawan segala superioritas dan rasa kecongkakan sekelompok orang/pengusaha yang berfikiran dangkal yang hanya memikirkan bagaimana menciptakan sejumlah ruang komersil di sebuah kota. Keberadaan Kampung Kota adalah sebentuk kesadaran kolektif yang menawarkan sebuah pemikiran sekaligus getaran emosional bagi masyarakat kota dimanapun. Bahwa nun di kaki langit urban sebuah kota, masih ada dimensi lain yang merindukan keintiman di sana serta masih ada artefak peradaban yang merindukan sebuah perubahan. Karena sesungguhnya persoalan yang ingin mereka komentari adalah sebentuk masa depan yang terhalang. Masa depan sebuah kampung yang mungkin tertutup oleh tembok, debu & suara bising pembangunan. Serta ketidak adilan bagi mereka yang hendak membungkam suara-suara protes warga. Walaubagaimanapun hari esok dan keberlangsungan Kampung Kota hanya ada pada upaya keras yang diperlihatkan oleh warganya. Juga solidaritas dan empati dari komunitas kotanya. Dan tentunya kemauan baik serta tindakan nyata dari pemerintahnya. Dalam kekuatan itulah semestinya kita percaya.

Sebuah kota tanpa sungai ibarat tubuh manusia tanpa darah & nadinya”

Sungai merupakan salah satu ruang publik kota yang memiliki pesona & keindahan menawan bila dikelola dengan baik. Karena di sanalah kita dapat mensyukuri bahwasanya air sungai yang mengalir jauh tersebut dapat memiliki sejumlah fungsi bagi warga sebuah kota. Dari mulai drainase, penggelontor kotoran limbah, obyek wisata, penyedia air baku, pemanfaatan energi air serta sarana irigasi pertanian. Namun sayang bahwa keberadaan Sungai di Kota Bandung malahan kerap menghamilkan bencana dan melahirkan musibah bagi warganya. Terutama ketika musim penghujan tiba. Luapan air dari sungai-sungai yang membelah Kota Bandung justru membawa teror banjir bagi warganya. Belum lagi genangan sampah yang dibawa serta oleh air sungai tersebut. Tentunya kita tidak bisa serta merta menyalahkan alam dalam hal bencana tersebut. Karena ironisnya, banjir itu timbul justru akibat ulah kita sendiri. Entah itu karena warga yang kerap membuang sampah ke sungai ataupun karena penebangan pohon secara membabi buta sehingga menghilangkan daerah resapan air. Menurut data, ada sekitar 61 sungai dan 46 anak sungai dengan total panjang 252,55 km yang terdapat di Kota Bandung. Bila kita menyebut nama sungai di Kota Bandung, tentunya nama sungai Cikapundung tidak bisa dilupakan dalam memori kita. Sungai Cikapundung adalah salah satu sungai besar yang membelah Kota Bandung dengan panjang sekitar 15,5 km. Sungai Cikapundung memiliki luas daerah tangkapan di bagian hulu sebesar 111,3 Km2, di bagian tengah seluas 90,4 Km dan di bagian hilir seluas 76,5 Km2. Sedangkan panjang sungai Cikapundung dari hulu Maribaya sampai hilir Citarum mencapai 28 km. Untuk itulah perlu ada upaya untuk menjaga dan mengaktivasi sungai-sungai yang ada di Kota Bandung dengan melibatkan kekuatan kreatif warganya. Tentunya kita tidak bisa melakukan hal itu semua sekaligus. Hanya dengan metoda seperti akupuntur lah, secara realistis dapat kita lakukan terhadap sungai-sungai yang kita miliki saat ini. Semestinya upaya untuk mengaktivasi sungai kota tersebut mesti sejalan dengan upaya untuk menjaga kebersihan sungai. Sungai yang bersih dan jernih sesungguhnya adalah ruang dan tempat kita bercermin. Dan harapannya cermin dari air sungai itu merefleksikan tawa, canda dan keceriaan warga kota ketika mengunjungi sungainya. Siapakah yang akan mendengar jikalau sungai berteriak karena kering atau banjir serta alur alirannya menangis bersama-sama karena kotoran sampah? Karena tentunya kita pun tak ingin air sungai naik sampai ke leher dan kita tenggelam ke dalam sungai yang penuh lumpur. Oleh karena itu bila kita ingin berbuat sesuatu, mulailah keluar dari rumah dan datanglah ke sungai. Kenalilah sungai-sungai yang ada di kotamu dengan melihat dan menyentuhnya. Niscaya setelah itu rasa sayang akan muncul sebagaimana kisah cinta anak manusia. Dan kemudian rasa sayang itu lah yang akan membuat kita untuk melahirkan sikap peduli dan menjaga sungai. Sehingga pada akhirnya kita akan melihat sungai-sungai yang diserbu oleh para warganya. Yang menanti untuk dihamili oleh sebuah budaya baru. 

Untuk itulah melalui buku foto ini, berbagai cuplikan imaji perihal sebagian ruang publik dan aktivasi yang dilakukan oleh warga Kota Bandung dicatat kembali secara visual. Sekaligus menawarkan harapan di sana agar dapat menjadi awal bagi kita untuk mulai menciptakan sebuah budaya perubahan yang dilakukan di ruang publik. Sekiranya masih ada warga yang mau keluar rumah untuk melihat dan menyentuh ruang-ruang kotanya, maka di sanalah terdapat kota yang bahagia. Kota Bandung menganugerahkan sejumlah energi dan kekuatan sosial melalui komunitas yang dimilikinya. Hal ini mengajarkan bahwasanya kita tidak bisa sendirian untuk membangun ruang publik yang nyaman dan bernilai bagi Kota Bandung. Langkah laku manusia selalu terbentang dan terbuka lebar di Kota Bandung. Warga Bandung yang memilih hidup untuk selama-lamanya harus mau menciptakan segala-galanya bersama-sama. Karena Bandung Kita adalah segala pikiran kita yang menjadi tindakan kita.

bdg from spaces to places_gs

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

December 21, 2017 at 2:10 am

I’LL FOLLOW THE SUN | Love, Light, Live by galih sedayu

leave a comment »

SHORT BIO: Consultant and Observer of Creative Cities in Indonesia ; Founder of Ruang Kolaborasa (since 2010), a creative collective inisiative, providing solutions for impactful program and cultural movement for community growth ; Chairman of the Bandung Creative Economy Planning and Development Committee (2026-2029), a multi-stakeholder coordinating body established to strengthen, advance the creative economy ecosystem, and a strategic enabler, ensuring that creativity becomes a driving force for economic growth and cultural vitality in Bandung City ; Chairman of the Board of Curators of the Bandung Creator Awards (2024-2025), an annual recognition program dedicated to honoring creative economy practitioners and creators in Bandung City who have demonstrated outstanding contribution, consistency, and impact within the creative ecosystem ; Co-founder and member of Indonesia Creative Cities Network / ICCN (since 2015), a hub organisation for cross-creative communities network, connecting 200+ cities/regencies from all over Indonesia as powerful catalysts for collective best practise of creative cities ; Indonesia Selection Team of UNESCO Creative Cities Network for Ministry of Tourism and Creative Economy (2022-2025) ; Steering Committe and Creative Consultant for several festivals such as Indonesia Creative Cities Festival, Wonderful Indonesia Festival (Malaysia, Thailand, and Japan), and Asian-African Festival ; Curator of Karisma Event Nusantara / KEN for Ministry of Tourism and Creative Economy (2021-2023) ; Curator and Mentor of Wonderful Indonesia Scale-Up Hub (WISH) for Ministry of Tourism (2025) ; Documentary Photographer for creative cities, culture and tourism ; Mentor, speaker, and facilitated workshops on the creative economy, creative cities, and cities festival across Indonesia (sumatera, java, flores, bali, sulawesi, kalimantan, and papua islands) ; Love collaborating with local creative communities, best practise and policy of the impacts of creative cities, network, and hubs ; With creative experience background over 25 years, I believe that creative cities are not about sensations but solutions, seeing creative cities not as an object but connectedness, and also creative cities are about cultural movements.

***

MENTORS AND SPEAKERS: Mentors and Speakers (Creative City ; Event Management ; Photography ; Tourism and Creative Economy) for Several Cities such as Tanjung Redeb (Berau Regency) – East Kalimantan (2025) ; Semarang – Central Java (2025) ; Palu City  – Central Sulawesi (2025) ; Garut Regency – West Java (2025) ; Padang City – West Sumatera (2025) ; Ternate – North Maluku (2024) ; Tapin District – South Kalimantan (2024) ; Subang Regency – West Java (2024) ; Bengkulu City – Sumatera (2024) ; Jayapura City – Papua (2024) ; Depok City – West Java (2024) ; Cimahi City – West Java (2024) ; Bandar Lampung City – Lampung (2024) ; Paser District – East Kalimantan (2024) ; Padang City – West Sumatera (2024) ; Medan – North Sumatera (2024) ; Sukabumi City – West Java (2024) ; Balikpapan City – East Kalimantan (2024) ; Berau Regency – East Kalimantan (2024) ; Brebes Regency – Central Java (2024) ; Tegal City – Central Java (2024) ; Donggala Regency – Central Sulawesi (2024) ; Sorong City – Papua Barat Daya (2024) ; Gorontalo City – Sulawesi (2023) ; Kutai Kartanegara Regency – East Kalimantan (2023) ; Sangatta, Kutai Timur Regency – East Kalimantan (2023) ; Toba Regency – North Sumatera (2023) ; Maumere Regency – East Nusa Tenggara (2023) ; Polewali Mandar Regency – West Sulawesi (2023) ; Enrekang Regency – South Sulawesi (2023) ; Purworejo Regency – Central Java (2023) ; Labuan Bajo – Manggarai Barat District – East Nusa Tenggara (2023) ; Semarang City – Central Java (2023) ; Ampana – Tojo Una-Una Regency – Central Sulawesi (2023) ; Lumajang Regency – East Java (2023) ; Cipanas City – West Java (2023) ; Larantuka, Flores Timur Regency – East Nusa Tenggara (2022) ; Barabai, Hulu Sungai Tengah Regency – South Kalimantan (2022) ; Batam City – Kepulauan Riau (2022) ; Denpasar City – Bali (2022) ; Kendari City – Sulawesi Tenggara (2022) ; Kupang City – East Nusa Tenggara (2022) ; Cianjur City – West Java (2021) ; Makassar City – South Sulawesi (2021) ; Manado City – North Sulawesi (2021) ; Pontianak – West Kalimantan (2017) ; Pekalongan – Central Java (2017) ; Kendari – Sulawesi Tenggara (2016) ; Bekasi – West Java (2014) ; Jakarta – Daerah Khusus Ibukota (2014) ; Tasikmalaya – West Java (2013) ; Bogor – West Java (2009)

***

CURATORS: Chief Curator of Bandung Creator Awards (2025) ; Curator of Wonderful Indonesia Scale-Up Hub for Ministry of Tourism (2025) ; Chief Curator of Ternate Spice City Ideathon (2024) ; Chief Curator of Bandung Creator Awards (2024) ; Chief Curator of Bandung Creative Week (2024) ; Chief Curator of Bandung Calendar of Event / COE (2024) ; Curator and National Selection Team of UNESCO Creative Cities Network for Ministry of Tourism and Creative Economy (2022-2025) ; Curator of Karisma Event Nusantara / KEN for Ministry of Tourism and Creative Economy (2021-2023) ; Chief Curator at Floratama Event Ideathon (2022-2023) ; Curator of Calendar of Event for Ministry of Tourism and Creative Economy (2019-2020) ; Curator of Asian Games Photo Exhibition / Energy of Asia for Ministry of Communication and Information Technology of Indonesia (2018) ; Curator of Art Exhibition / Mind Reflection for Lawangwangi Creative Space (2017) ; Curator of Bandung 1955 Exhibition for Paul Tedjasurja (2015) ; Curator of Bandung Creative Awards for Bandung City Goverment (2014) ; Curator of Bandung Nu Urang Exhibition for Bandung City Goverment (2014) ; Curator of Through Flowery Eyes Photo Exhibition (2014) ; Curator of Menuju Bandung Juara Exhibition for Ridwan Kamil (2013) ; Curator of Art Deco kiwari Exhibition for Roemah Seni Sarasvati (2013) ; Curator of International Photo Exhibition of ROC’s 1st Century / Retracing Our Steps for Taipei Economic and Trade Office (2012) ; Curator of Save Our Heritage Photo Exhibition for Grand Royal Panghegar (2011) ; Curator of Tribute To Nature Exhibition for Teh Kotak (2011) ; Curator of Hidup Persib Photo Exhibition at Gedung Indonesia Menggugat (2008)

***

JURIES: Jury of Indonesia Tourism Competition (2023-2025) ; Jury of Buol Batik Design Competition (2025) ; Jury of PsyCompilation National Competiton (2024-2025) ; Jury of Creative Event Proposal Competition (CREO) : “Environmental Friendly Festival” (2022-2023) ; Jury of Bandung City Anniversary Logo Design Competition (2021-2022) ; Jury of Event Proposal “It’s Time for Labuan Bajo” (2022) ; Jury of Space All Contest by Art Therapy Centre (2021) ; Jury of Sustainable City Poster & Video Competition with Indonesian Local Wisdom (2020) ; Jury of Hyundai Start-Up Challenge (2019) ; Jury of Urban Life Portrait Competition (2019) ; Jury of Positive Psychology Short Film Contest (2019) ; Bandung Creative Exposition (BCX) Contest (2018) ; Jury of Asian Games Photo Contest by Ministry of Communication and Information (2018) ; Jury of Indonesian Entrepreneurship Competition by Ministry of Education and Culture (2016) ; Jury of Fotogenic Survivor Contest by Priangan Cancer Care Foundation (2016) ; Jury of Crafashtival Competition by Bank BJB (2015) ; Jury of Jakarta Kita Awards (2012) ; Jury of Nyaah Ka Kolot Competition (2010-2015) ; Jury of Save Our Heritage Competition (2011) ; Jury of Tribute to Nature by Teh Kotak (2011) ; Jury of Indonesian Railways Competition by KAI (2009) ; Jury of Save Karst Citatah Competition by Kelompok Riset Cekungan Bandung (2008) ; Jury of Kemilau Nusantara Competition (2007-2012) ; Jury of Braga Fest Competition (2006)

***

CREATIVE CONSULTANTS: Chief Creative Concultant of Roadmap for Spice City Ternate (2025) ; Chief Creative Consultant of Creative Economy Roadmap for Subang Regency Goverment (2025) ; Chief Creative Consultant of Spice City Program for Ternate City Goverment (2024)  ; Chief Creative Consultant of Spice City Roadmap for Ternate City Goverment (2023) ; Chief Creative Consultant of City Branding for Hulu Sungai Tengah / HST District Goverment (2023) ; Creative Consultant Team of Let’s Go Gelato (2022) ; Chief Creative Consultant of Ambon City Roadmap for Ministry of Tourism and Creative Economy of the Republic of Indonesia (2020) ; Chief Creative Consultant of UKM Awards for Ministry of Cooperatives and Small and Medium Enterprises of the Republic of Indonesia (2020) ; Creative Consultant Team of Event Management Guidebook for Ministry of Tourism and Creative Economy of the Republic of Indonesia (2020) ; Creative Consultant Team of Ternate City Branding for Indonesia Creative Cities Network / ICCN ; Creative Consultant Team and Asesor of Creative Hub for West Java Provincial Government (2019) ; Chief Creative Consultant of Bandung Creative Belt for Bandung City Govermenment (2018) ; Chief Creative Consultant of Cijaringao Placemaking for Saung Angklung Udjo (2018) ; Creative Consultant Team at Bandung Creative Hub / BCH for Bandung City Goverment (2017) ; Chief Creative Consultant of Mata Warga for Bandung Creative City Forum / BCCF (2016) ; Chief Creative Consultant of Creative Economy Development Book for Bandung City Goverment (2014) ; Creative Consultant Team of Bandung Creative Economy Roadmap for Bandung City Goverment (2014) ; Creative Consultant Team of Bandung Creative Awards for Bandung City Goverment (2014) ; Creative Consultant Team of UNESCO Bandung City of Design for Bandung City Goverment (2013) ; Creative Consultant Team of Bandung Creative Village for Bandung Creative City Forum / BCCF (2012) ; Creative Consultant Team of Wargajakarta.com (2012) ; Chief Creative Consultant Team of PT. Ultra Jaya (2012) ; Chief Creative Consultant of Bandung Photography Park (2011) ; Chief Creative Consultant of PT. Astra Honda Motor (2010) ; Chief Creative Consultant of TelingaMata Communications (2007-2010) ; Chief Creative Consultant of PT. Pos Indonesia (2006-2011)

***

EVENTS AND FESTIVALS: Creative Director of Anugerah Kreator Bandung (2025) ; Steering Committee of Indonesia Creative Cities Festival #8 at Malang Raya (2025) ; Steering Committee of Indonesia Creative Cities Festival #7 at Tangerang Selatan, Banten (2024) ; Chief Steering Committee of Bandung Creative Week (2024) ; Steering Committee of Indonesia Creative Cities Festival #6 at Banjarmasin, South Kalimantan (2023) ; Steering Committee of Indonesia Creative Cities Festival / ICCF #5 at Kendari, Sulawesi Tenggara (2022) ; Steering Committee of Indonesia Creative Cities Festival / ICCF #4 at Pekanbaru, Riau (2021) ; Steering Committee of Indonesia Creative Cities Festival / ICCF #3 at Denpasar, Bali (2020) ; Festival Director of Cigadung Creative Festival at C59 Factory (2019) ; Festival Director of Rempug Jukung Festival at Bandung Creative Hub / BCH (2019) ; Steering Committee of Indonesia Creative Cities Festival / ICCF #2 at Ternate, North Maluku (2019) ; Festival Director of Rawayan World Music Festival at Cijaringao, West Java (2018) ; Creative Director of Indonesia Week at Nagoya City, Japan (2018) ; Steering Committee of Indonesia Creative Cities Festival / ICCF #1 at Sleman, Daerah Istimewa Yogjakarta (2018) ; Creative Director of Bandung Creative Hub Fest (2017) ; Festival Director of Wonderful Indonesia Festival at Bangkok City, Thailand (2017) ; Steering Committee of Indonesia Creative Cities Conference / ICCC #3 at Makassar, South Sulawesi (2017); Steering Committee of Indonesia Creative Cities Conference / ICCC #2 at Malang, East Java (2016) ; Festival Director of Asian African Carnifal at Bandung City, West Java (2015-2017) ; Steering Committee of Indonesia Creative Cities Conference / ICCC #1 at Surakarta, Central Java (2015) ; Festival Director of Indonesia Festival at Penang City, Malaysia (2015) ; Festival Director of Bandung Light Fest at Bandung City, West Java (2015) ; Festival Director of Crafashtival at Bandung City, West Java (2015) ; Festival Director of Milangkala Bandung Festivals at Bandung City, West Java (2015) ; Festival Director of Solidarity Day at Bandung City, West Java (2015) ; Festival Director of Ngora Bandung Festival at Bandung City, West Java (2014) ; Festival Director of Bandung Caang Festival at Bandung City, West java (2014) ; Chief Steering Committee of Jabar Ngagaya Festival at Bandung City, West Java (2014) ; Creative Director of Fashionary for Bandung Creative City Forum at Bandung City, West Java (2013) ; Festival Director of Helar Fest for Bandung Creative City Forum at Bandung City, West Java (2012)

***

BOOKS & JOURNALS: Book Editor and Curator of Indonesia Gastronomy Tour for WISH Program (2025) ; Book Editor and Conceptor of Ternate Spice City (2024) ; Book Editor and Conceptor of Barabai The Heart of Borneo (2023) ; Book Editor and Conceptor of Asian Games / Energy of Asia (2018) ; Book Author and Conceptor of Deus Providebit (2016) ; Book Author and Conceptor of Home of Creative Minds (2015) ; Book Author and Conceptor of Moments of Asian-African Conference / Bandung 1955 (2015) ; Book Author and Conceptor of Bandung Nu Urang (2014) ; Book Author and Conceptor of Bandung From Spaces to Places (2014) ; Book Author and Conceptor of Through Flowery Eyes (2014) ; Book Author and Conceptor of Menuju Bandung Juara (2013) ; Book Author and Conceptor of Art Deco Kiwari (2012) ; Book Editor and Conceptor of Top 30 Bandung Industry Centre (2012) ; Book Author and Conceptor of Angklung Udjo (2011) ; Book Author and Conceptor of Save Our Heritage (2011) ; Book Author and Conceptor of Tribute To Nature (2010) ; Book Author and Conceptor of Selamatkan Karst Citatah (2009) ; Book Author and Conceptor of Hidup Persib (2008)

***

CREATIVITY: Creativity is the art of being authentic. It is not a rare gift bestowed upon a few, but a way of working, thinking, and responding to the world. Creativity emerges when individuals dare to be honest with their experiences, perspectives, and values, translating what is deeply personal into something meaningful and shared. In this sense, creativity is not about imitation or perfection, but about sincerity, about showing up as oneself and allowing ideas to grow from that truth. Creativity is cultivated through practice, discipline, and openness. It is a process shaped by curiosity, reflection, and the courage to experiment. Like any way of working, it can be learned, refined, and strengthened over time. What makes creativity endure is not talent alone, but consistency and intention: the willingness to observe closely, question assumptions, and connect ideas across boundaries. At its deepest level, creativity needs culture as its primary root. Culture provides the language, symbols, memories, and values that give ideas their meaning. Without culture, creativity loses its grounding and becomes detached from context. When creativity grows from culture, it carries identity, wisdom, and continuity, honoring the past while shaping the future. In this way, creativity becomes not only an act of expression, but a living dialogue between authenticity, work, and cultural roots.

Written by Admin

December 12, 2017 at 5:31 am

Posted in Uncategorized