Archive for the ‘10) SEMESTA TULISAN FOTOGRAFI’ Category
Ketika Minoritas Menjadi Mayoritas
Teks : galih sedayu
Kaum minoritas manapun di jagad raya ini selalu mempunyai asa dan mimpi yang sama yaitu sebuah kebebasan & pengakuan dari manusia lain yang hidup berdampingan dengan mereka. Spirit tous les hommes egaux et libre (manusia dilahirkan sama dan merdeka) menjadi landasan untuk menegakkan bendera kesetaraan yang selalu mereka perjuangkan.
Kaum queer yang di jaman sekarang ini dapat diartikan sekelompok orang gay, lesbian, biseksual, transeksual & minoritas seksual lainnya menjadi salah satu kaum minoritas yang mengusung nilai-nilai kebebasan tersebut meski tentunya ada keterbatasan.
Fotografi dengan sifatnya yang mampu merekam secara visual baik dengan simbol, kesaksian hidup, dan fenomena yang hadir di dalamnya menjadikan sebuah isu dapat terangkat ke permukaan sehingga menjelaskan apa yang sebelumnya masih absurd atau belum dimengerti sedikitpun. Berangkat dari kesadaran kolektif tersebut, queer menjadi isu yang coba diketengahkan dan diinterpretasikan melalui medium fotografi.
Dalam sebuah pameran fotografi yang bertajuk “What is Queer?”, sekelompok anak muda dengan latar belakang yang beragam mencoba menyeruakkan apa yang selama ini disebut sebagai queer. Mereka mencoba mentafsirkan definisi queer menurut persepsi & perspektif individu yang dituangkan kedalam karya-karya fotografi sebanyak 21 buah.
Seperti terlihat pada karya foto yang berjudul “Topeng” karya Teddy Purnama. Queer diibaratkan sebuah topeng (yang digambarkan dari sebuah daun kering berwarna coklat) yang dikenakan sebagai upaya untuk menyembunyikan identitas diri si empunya topeng. Dimana topeng tersebut tergeletak begitu saja di jalan aspal yang berlubang, sehingga foto tersebut seolah-olah menjadi berbunyi seperti sekelompok orang tertentu yang mencoba menyembunyikan jati diri dari lingkungannya tetapi tetap terinjak-injak.
Tafsiran lain tentang queer dapat kita lihat pada foto seri yang berjudul “I am her” dan “I am him” karya Ferancis. Si pemotret mencoba mengusung sebuah permasalahan krisis jati diri yang pada umumnya dimiliki oleh kaum queer, seorang insan manusia yang merasa menjadi laki-laki tetapi terjebak di dalam tubuh wanita begitupun sebaliknya seorang insan manusia yang merasa dirinya wanita tetapi terjebak di dalam tubuh seorang laki-laki. Alhasil boneka mainan bermerk lego tersebut menjadi representatif simbol secara fotografis untuk mendeskripsikan kegelisahan kaum queer tersebut. Isu ini juga sempat diangkat ke layar kaca melalui film yang berjudul “Boys don’t cry’ yang dilakoni aktris Hilary Swank.
Lain halnya dengan semiotik yang ditampilkan oleh Arie melalui karya fotonya yang menyuguhkan sebuah pagar berduri dengan latar belakang langit biru berawan sebagai bentuk pernyataan ‘menutup diri’ maupun ‘diri yang ditutup’ dari dunia luar yang dilakukan oleh kaum queer tersebut.
Permasalahan-permasalahan yang dialami oleh kaum minoritas tersebut tidak akan pernah selesai selama dunia dan manusia yang hidup di dalamnya belum bisa ‘menerima’ kehadiran mereka yang (dianggap) berbeda.
Mengutip kalimat yang diucapkan oleh Eckhart Tolle dalam bukunya yang berjudul The Power of Now, bahwa kita berada di sini agar tujuan Ilahi di alam semesta menjadi terungkap. Itulah sebabnya mengapa kita semua (sebagai manusia) begitu berarti.
Dan fotografi akan selalu merekam pemaknaan & semua kesaksian itu dengan penuh kesadaran. Fotografi bergerak!!
*Tulisan ini diberikan sebagai Kata Pengantar pada saat What is Queer Photo Exhibition di CCF Gallery pada tanggal 18 Februari 2008
Bandung, 4 Februari 2008
Humanography
Teks : galih sedayu
Adalah sekedar ‘bahasa’ yang kebetulan saya gunakan untuk merepresentasikan karya foto yang menggali spirit, hati dan jiwa manusia dalam kehidupan semesta masa kini. Termasuk di dalamnya foto-foto yang berupa profil manusia individu dan aktivitas manusia dengan segala interaksinya. Ketika fotografi mampu merekam realita yang terjadi di sekitar kita dengan hanya sepersekian detik saja, di saat itulah seorang manusia memiliki tanggung jawab terhadap karya foto yang diciptakan atas respon publik yang melihatnya sebagai hasil visual dari fotografi.
Meski hal-hal teknis bukan menjadi dosa dalam fotografi, ada baiknya kita mulai melihat keluar dari hal-hal teknis tersebut (yang kadang menyesatkan). Saat kita hendak menciptakan sebuah foto, kita tidak hanya dituntut untuk menyelesaikan karya foto itu saja akan tetapi kita harus mampu memahami tentang karya foto yang kita buat. Karena itu menurut saya karya foto itu ada dua, yaitu karya foto yang baik dan karya foto yang bermakna.
Fotografi yang diperkenalkan ke dunia sejak tahun 1839 secara sadar atau tidak sangat memberikan kontribusi kepada sejarah peradaban manusia di bumi. Fotografi secara gamblang dan dengan mudahnya merekam wajah-wajah manusia yang menghias cerita dunia. Wajah yang bengis seperti Adolf Hitler, yang lucu seperti Mr.Bean, yang sexi seperti Madonna, yang kaya seperti Bill Gates dan yang sensasional seperti Sumanto (dari Indonesia tentunya).
Fotografi pun berfungsi menghasilkan sebuah citra yang pada akhirnya menimbulkan opini manusia yang beragam pula. Seperti film Flags of Our Father yang disutradarai oleh Clint Eastwood. Film ini sebenarnya mengetengahkan citra foto dari sekelompok tentara yang mengibarkan bendera Amerika Serikat di sebuah puncak bukit. Lalu ada film Afghan Girl yang menceritakan seorang fotografer dari National Geographic, Steve Mccury yang mencari jejak wajah seorang gadis cilik dari sebuah foto yang diambilnya di Afghanistan setelah 17 tahun lamanya.
Mengapa citra tersebut begitu kuat, jawabannya adalah karena ada cerita mengenai manusia (human) di dalamnya. Kehadiran manusia di jagat raya ini memberikan harapan kepada sebuah perdamaian yang telah lama didambakan bahkan sebelum Karl May menulis bukunya yang berjudul Peace on Earth (Damai di bumi) dengan tokohnya kepala suku Winetou dan sebelum seorang Seneca yang pernah berkata bahwa dimana ada seorang manusia maka disana akan ada kesempatan untuk kebaikan hati.
Bila terkadang kita sebagai manusia melihat masa lalu dengan penuh penyesalan atau melihat masa depan dengan penuh ketakutan, tinggalkan lah perasaan itu. Marilah kita sebagai manusia melihat masa kini dengan penuh kesadaran dan fotografi dapat membantu untuk merekam segala realitas kesadaran tersebut.
*Tulisan ini diberikan sebagai bahan Seminar Foto pada salah satu agenda kegiatan Pameran Fotografi ” Sudut Pandang ” karya JEPRET, klub fotografi kampus Universitas Islam Bandung (Unisba) pada tanggal 12 Desember 2007 di Student Centre Unisba Bandung
Bandung, 5 Desember 2007
Awal Kelahiran
Teks : galih sedayu
Etos jiwa muda, semangat baja serta pencinta seni yang melekat selama ini, selalu memacu kami untuk mencurahkan segala tenaga dan pikiran yang kemudian dituangkan dalam sebuah karya fotografi, demi sebuah entitas yang disebut Komunitas Pemotret Bandung (KPB).
Tampaknya heterogenitas yang kami miliki tidak menjadi dinding penghalang untuk menyatu dalam ultra-dedikasi di kancah dunia fotografi yang kini semakin marak. Berangkat dari sebuah kebebasan dan harapan yang menggebu-gebu, kami kembali hadir untuk mempersembahkan karya-karya kami dalam bentuk pameran foto untuk ketiga kalinya.
Kali ini masalah kesehatan ibu hamil dan bayi menyusui menjadi sorotan yang menggugah hati kami guna mengangkat dan merekam segala realita hidup yang eksis di dalamnya. Pameran foto ini diberi tajuk “Peduli Ibu Hamil, Bersalin dan Menyusui “.
Menurut data terbaru dari Maternal & Neonatal Health (MNH), sebuah lembaga masyarakat yang bergerak di bidang kesehatan ibu hamil, diperoleh data bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) hamil cukup tinggi di jawa-barat yaitu 390 per seratus ribu jiwa. Sedangkan pada tingkat nasional rata-rata 373 per seratus ribu jiwa. Hal inilah yang akan kami coba visualisasikan melalui media fotografi baik itu mengenai aktivitas dan interaksi sosial maupun segala problema yang ada di dalamnya dengan suatu asa yang besar bahwa semoga masyarakat kita dapat terbuka mata hatinya untuk berbuat sesuatu yang lebih baik.
Meskipun materi pameran ini kami coba gapai dengan pendekatan dokumentasi jurnalistik, tapi lebih dari itu kami berupaya untuk merekam suatu “Kedalaman”, yang mencoba untuk tidak terpaku pada suatu pakem fotografi tertentu, dimana tetap mengacu pada obyek foto yang relevan dengan masalah yang primordial. Memang kami menyadari bahwa pameran ini tidak memberikan suatu kontribusi ataupun solusi yang konkrit untuk mengatasi akar permasalahannya. Tetapi harapan itu tetap ada bahwa karya-karya kecil yang kami buat dapat menjadi lentera yang menyinari gelapnya gua dalam konteks masalah kesehatan ibu hamil dan bayi.
Walau bagaimanapun juga proses kreativitas dan seni yang kami miliki itupun terus berlanjut. Bahkan pada detik-detik di saat kami sedang memikirkannya. Dimana secara tidak langsung itu semua merupakan proses pembelajaran bagi kami untuk mendapatkan suatu perspektif dan paradigma baru nan segar dalam dunia kami.
Karna cara yang terbaik untuk memulai adalah dengan melakukannya, maka kami coba lakukan dengan cara kami….dalam dunia fotografi.
Fotografi bergerak!!
*Tulisan ini diberikan sebagai Kata Pengantar Pameran Foto “Bandung Sehari #1” yang diselenggarakan oleh Komunitas Pemotret Bandung (KPB) di Bandung Indah Plaza pada bulan Oktober 2001
Bandung, 7 Oktober 2001
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!