I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Archive for the ‘Rekam Jejak 100 Tahun Republik Cina’ Category

Rekam Jejak 100 Tahun Republik Cina

leave a comment »

Teks : galih sedayu

Meletusnya salah satu peristiwa besar bersejarah di dunia yakni Revolusi Cina (Xìnhài Gémìng)  pada tanggal 10 Oktober 1911, meninggalkan sebuah nama besar yang selalu melekat di dinding sejarah Cina Modern. Dialah Sun Yat-sen (1866 – 1925), seorang anak petani miskin kelahiran  Guang Dong Cina, yang berhasil meruntuhkan kekaisaran Dinasti Qing (1644 – 1911) yang sangat korup dan penuh intrik di bawah kepemimpinan Kaisar Pu Yi yang saat itu masih berumur 5 tahun. Sebuah film bertajuk “The Last Emperor” yang diproduksi tahun 1987 hasil sentuhan sutradara Bernardo Bertolucci ataupun film “1911 Revolution” yang dibintangi oleh Jackie Chan (yang berperan sebagai Huang Xing) & Winston Chao (yang berperan sebagai Sun Yat-sen), dapat menjadi gambaran nyata tentang peristiwa bersejarah tersebut. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 12 Februari 1912 ini sekaligus menjadi pertanda berakhirnya sistem pemerintahan monarki (kerajaan) di Cina yang telah berlangsung selama berabad-abad, dan kemudian digantikan oleh sistem republik yang diusung oleh Sun Yat-sen. Akhirnya Sun Yat-sen pun menjadi tokoh yang paling berjasa di dalam kelahiran Republik Cina pada tahun 1912 hingga kemudian ia pun menjabat menjadi presiden Republik Cina pada tahun 1923 hingga tahun 1925. Setelah Sun Yat-sen wafat pada tanggal 12 Maret 1925, perjuangan untuk menyatukan Cina berhasil diteruskan oleh Chiang Kai Shek di bawah pemerintahan nasionalis Kuomintang. Meski akhirnya Chiang Kai Shek mesti tersingkir ke Pulau Formosa (Taiwan) setelah meletusnya perang saudara antara kelompok nasionalis dengan komunis. Tetapi dengan tetap merayakan hari kemerdekaan yang berlangsung hingga kini setiap tanggal 10 Oktober (10-10) yang terkenal dengan sebutan “Double Ten” di Taiwan.

Sun Yat-sen membekali masyarakat Cina dengan tiga prinsip rakyat (San Min Cu I) yang juga menjadi azas ideologi politiknya. Tiga prinsip tersebut yang telah lama divisikan oleh Sun Yat-sen sejak ia mendirikan T’ung meng Hui (Liga Revolusioner Gabungan) pada tahun 1905 terdiri dari Nasionalisme (Minzu), Demokrasi (Minquan), dan Sosialisme/Kesejahteraan Rakyat (Minsheng). Prinsip Sun Yat-sen ini pun menginspirasi Tokoh Proklamator Indonesia, Bung Karno, untuk kemudian diterapkan dalam merumuskan pancasila. Bung Karno pun mengakui hal tersebut seperti yang ia utarakan dalam rapat BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945. Dimana antara lain Bung karno menyatakan bahwa ketika ia berumur 16 tahun, saat duduk di bangku sekolahan H.B.S. di Surabaya pada tahun 1918, ajaran tentang kebangsaan dari Sun Yat-sen di dalam tulisannya “San Min Cu I” atau “The THREE people’s Principles”, benar-benar tertanam di dalam dirinya. Sehingga Bung Karno pun berujar kala itu, “Maka oleh karena itu, jikalau seluruh bangsa Tionghoa menganggap Dr.Sun Yat Sen sebagai penganjurnya, yakinlah bahwasanya Bung Karno juga seorang Indonesia yang dengan perasaan hormat dengan sehormat-hormatnya merasa berterima kasih kepada Dr. Sun Yat Sen, sampai masuk ke liang kubur.” Kemudian prinsip “San Min Cu I” yang diusung oleh Sun Yat-sen ini digabungkan dengan ajaran dari guru Bung Karno yaitu A.Baars dari Belanda yang menyatakan “Jangan berpaham kebangsaan, tetapi berpahamlah rasa kemanusiaan seluruh dunia.” Sehingga dari kedua orang inilah Bung Karno mengolah dan merumuskan sila-sila dari Pancasila menjadi: Kebangsaan Indonesia (yang kemudian menjadi “Persatuan Indonesia”), Peri Kemanusiaan (yang kemudian menjadi Kemanusiaan yang adil dan beradab), Mufakat atau demokrasi (yang kemudian menjadi Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan). Kemudian Bung Karno menambahkannya sendiri dengan azas Ketuhanan (yang kemudian menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa).

Tahun 2012 ini menjadi genap seabad sejak Sun Yat-sen mendirikan Republik Cina pada tahun 1912. Untuk memperingati 100 tahun perjuangan rakyat Republik Cina serta seraya mengumandangkan simbol kebebasan yang mereka perjuangkan ke seluruh dunia, maka Pameran Foto yang bertajuk “Retracing Our Steps – A Photo Journey through  the ROC’s 1stCentury”digelar di Kota Bandung. Pameran Foto ini diselenggarakan berkat kerja sama antara Taipei Economic & Trade Office (TETO) Jakarta, Goverment Information Office (GIO), dan APC Institute serta didukung oleh Taiwan Business Club Bandung & Galeri Foto Jurnalistik Antara. Pameran Foto “Retracing Our Steps” ini berlangsung sejak tanggal 29 Maret 2012 (yang menjadi hari pemuda Republik Cina) hingga 11 April 2012 di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan No.5 Bandung. Gedung Indonesia Menggugat (GIM) menjadi tempat yang dipilih untuk penyelenggaraan Pameran Foto ini, atas dasar kesamaan semangat kebebasan yang lahir dari gedung bersejarah ini. Dimana Gedung Indonesia Menggugat tersebut dahulu merupakan gedung ruang peradilan Belanda yang bernama “Landraad”, yang merupakan tempat Bung Karno ditangkap dan diadili pada tanggal 4 Juni 1927 demi memperjuangkan sebuah kemerdekaan. Sebanyak 40 buah karya foto yang mengulas sejarah Republik Cina sejak 100 tahun silam hingga masa kini, disuguhkan bagi masyarakat yang ingin mengenal banyak tentang negara Taiwan atau Republik Cina. Pameran Foto ini sesungguhnya merupakan sebuah pesan kepada dunia mengenai arti sebuah kedaulatan negara dan pentingnya membangun hubungan antar manusia di dunia. Yang bebas dari belenggu tirani serta jauh dari tubuh yang terkekang. Karena walaubagaimanapun merdeka adalah jawaban satu-satunya.

Bandung, 28 Maret 2012

Advertisements

Written by Admin

April 3, 2012 at 3:12 pm