I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Archive for the ‘Ketika Minoritas Menjadi Mayoritas’ Category

Ketika Minoritas Menjadi Mayoritas

leave a comment »

Teks : galih sedayu

Kaum minoritas manapun di jagad raya ini selalu mempunyai asa dan mimpi yang sama yaitu sebuah kebebasan & pengakuan dari manusia lain yang hidup berdampingan dengan mereka. Spirit tous les hommes egaux et libre (manusia dilahirkan sama dan merdeka) menjadi landasan untuk menegakkan bendera kesetaraan yang selalu mereka perjuangkan.
Kaum queer yang di jaman sekarang ini dapat diartikan sekelompok orang gay, lesbian, biseksual, transeksual & minoritas seksual lainnya menjadi salah satu kaum minoritas yang mengusung nilai-nilai kebebasan tersebut meski tentunya ada keterbatasan.

Fotografi dengan sifatnya yang mampu merekam secara visual baik dengan simbol, kesaksian hidup, dan fenomena yang hadir di dalamnya menjadikan sebuah isu dapat terangkat ke permukaan sehingga menjelaskan apa yang sebelumnya masih absurd atau belum dimengerti sedikitpun. Berangkat dari kesadaran kolektif tersebut, queer menjadi isu yang coba diketengahkan dan diinterpretasikan melalui medium fotografi.

Dalam sebuah pameran fotografi yang bertajuk “What is Queer?”, sekelompok anak muda dengan latar belakang yang beragam mencoba menyeruakkan apa yang selama ini disebut sebagai queer. Mereka mencoba mentafsirkan definisi queer menurut persepsi & perspektif individu yang dituangkan kedalam karya-karya fotografi sebanyak 21 buah.

Seperti terlihat pada karya foto yang berjudul “Topeng” karya Teddy Purnama. Queer diibaratkan sebuah topeng (yang digambarkan dari sebuah daun kering berwarna coklat) yang dikenakan sebagai upaya untuk menyembunyikan identitas diri si empunya topeng. Dimana topeng tersebut tergeletak begitu saja di jalan aspal yang berlubang, sehingga foto tersebut seolah-olah menjadi berbunyi seperti sekelompok orang tertentu yang mencoba menyembunyikan jati diri dari lingkungannya tetapi tetap terinjak-injak.

Tafsiran lain tentang queer dapat kita lihat pada foto seri yang berjudul “I am her” dan “I am him” karya Ferancis. Si pemotret mencoba mengusung sebuah permasalahan krisis jati diri yang pada umumnya dimiliki oleh kaum queer, seorang insan manusia yang merasa menjadi laki-laki tetapi terjebak di dalam tubuh wanita begitupun sebaliknya seorang insan manusia yang merasa dirinya wanita tetapi terjebak di dalam tubuh seorang laki-laki. Alhasil boneka mainan bermerk lego tersebut menjadi representatif simbol secara fotografis untuk mendeskripsikan kegelisahan kaum queer tersebut. Isu ini juga sempat diangkat ke layar kaca melalui film yang berjudul “Boys don’t cry’ yang dilakoni aktris Hilary Swank.

Lain halnya dengan semiotik yang ditampilkan oleh Arie melalui karya fotonya yang menyuguhkan sebuah pagar berduri dengan latar belakang langit biru berawan sebagai bentuk pernyataan ‘menutup diri’ maupun ‘diri yang ditutup’ dari dunia luar yang dilakukan oleh kaum queer tersebut.

Permasalahan-permasalahan yang dialami oleh kaum minoritas tersebut tidak akan pernah selesai selama dunia dan manusia yang hidup di dalamnya belum bisa ‘menerima’ kehadiran mereka yang (dianggap) berbeda.

Mengutip kalimat yang diucapkan oleh Eckhart Tolle dalam bukunya yang berjudul The Power of Now, bahwa kita berada di sini agar tujuan Ilahi di alam semesta menjadi terungkap. Itulah sebabnya mengapa kita semua (sebagai manusia) begitu berarti.
Dan fotografi akan selalu merekam pemaknaan & semua kesaksian itu dengan penuh kesadaran. Fotografi bergerak!!

*Tulisan ini diberikan sebagai Kata Pengantar pada saat What is Queer Photo Exhibition di CCF Gallery pada tanggal 18 Februari 2008

Bandung, 4 Februari 2008

Advertisements

Written by Admin

January 21, 2010 at 12:14 pm