I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Archive for the ‘Benua Komunitas Kota Bandung’ Category

Benua Komunitas Kota Bandung

leave a comment »

Tulisan : galih sedayu

Society as a whole is mainly responsible. And society as whole should pay the cost”
– Henry S. Churchill (The City is the People) 

Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is ge-bouwd!” (Coba usahakan, bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota!), begitulah sabda yang keluar dari mulut seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang bernama Daendels, tatkala ia menyambangi sebuah dusun yang tadinya sepi, namun kini sim salabim ala kadabra menjadi sebuah kota nan ramai yang bernama Bandung. Kejadian bersejarah ini tepatnya terjadi pada tahun 1810, saat Daendels yang menjadi penguasa nusantara kala itu sedang berjalan kaki dengan ditemani oleh Bupati Bandung Wiranatakusumah II. Tongkat kayu yang ditancapkan oleh seorang Daendels seraya menyerukan perintah di sebuah tempat yang kini dikenal sebagai Tugu Nol Kilometer di Jalan Asia Afrika Bandung, seolah menjadi sebuah simbol kelahiran dan saksi bisu berdiri tegaknya Kota Bandung. Hingga kini, perubahan pun selalu hadir dalam raga Kota Bandung. Bahkan sepertinya telah dinubuatkan oleh para sesepuh sunda sesuai dengan “cacandran” (tanda-tanda jaman) dalam “Uga Bandung” (ramalan bandung) yang menyebutkan bahwa “Bandung heurin ku tangtung(bandung padat penduduknya). Namun yang menarik selama perkembangannya, predikat yang melekat erat dalam tubuh Kota Bandung adalah sebagai Kota Kreatif. Bila menelusuri sejarahnya, ternyata citra kota kreatif tersebut tidak bisa dilepaskan dari kekuatan komunitas yang menjadikan Kota Bandung bisa seperti sekarang ini.

Perubahan tentunya menggerakkan kekuatan warga yang semula diam. Setelah tetuah Daendels, pembangunan Kota Bandung terus berlanjut dan roda perekonomian pun semakin berputar. Apalagi setelah jalur kereta api singgah di bandung pada tahun 1884, sejumlah toko terus menghuni di sepanjang Groote-Postweg (Jalan Asia Afrika dan Jalan Sudirman sekarang). Dari mulai Toko “De Vries”, Toko “Oey Boen”, Toko “Ziekel”, Toko “Salomon & Son”, Toko “Thiem” dan Toko “Baqiu”. Nama Kota Bandung pun semakin harum tatkala menjadi tuan rumah kehormatan sebuah acara bergengsi yakni “Kongres Pengusaha Gula” seluruh Hindia Belanda pada tahun 1896. Sehingga para delegasi kongres tersebut kala itu menjuluki bandung dengan sebutan “De Bloem der Indische Bergsteden” (Bunganya Kota Pegunungan di Hindia Belanda). Barangkali itulah sebabnya muncul istilah “Bandung Kota Kembang” yang masih dipuja hingga kini.

Pada akhir abad XIX, Kota Bandung diatur oleh dua orang nahkoda. Untuk roda pemerintahan yang menyangkut kepentingan warga Kota Bandung dari bangsa pribumi ditangani oleh seorang Bupati atau “Dalem” Bandung. Sedangkan roda pemerintahan yang menyangkut kepentingan bangsa Belanda dan Timur Asing (Cina, Arab & India) ditangani oleh seorang Asisten Residen Priangan yang kala itu dijabat oleh Tuan Pieter Sijthoff. Pada tahun 1898, Pieter Sijthoff mengajak warga kotanya untuk mendirikan sebuah perkumpulan yang bernama “Vereeniging tot Nut van Bandoeng en Omstreken” (Perkumpulan Kesejahteraan Masyarakat Bandung dan Sekitarnya). Berkat bantuan perkumpulan ini, pembangunan Kota Bandung di bidang pendidikan, sosial, kebudayaan mulai dilaksanakan dengan tujuan agar dapat meningkatkan kesejahteraan Kota Bandung yang pada sekitar tahun 1900 hanya memiliki penduduk sekitar 28.963 jiwa. Sehingga dalam perjalanan panjangnya Kota Bandung memperoleh statusnya sebagai Gemeente (Kotapraja) pada tanggal 1 April 1906.

Meski setelah itu Kota Bandung dikelola oleh Gemeente Bandung, namun Perkumpulan Kesejahteraan Masyarakat Bandung dan Sekitarnya masih tetap membantu dan mendampingi pemerintah kota. Hanya saja namanya berubah menjadi “Comite tot Behartiging van Bandoeng’s Belangen” (Komite Guna Mengurus Kepentingan Kota Bandung). Perlahan namun pasti, ternyata perkumpulan ini berhasil menumbuhkan Bandung dari “een kleine bergdessa” (sebuah desa pegunungan kecil), lalu menjadi “kottaje” (kota mungil) dan kemudian menjadi kota besar dengan julukan “Parijs van Java”. Pada kurun waktu sekitar tahun 1920, “Komite Guna Mengurus Kepentingan Kota Bandung” telah mampu melepaskan diri dari pemerintah kota dan berdiri mandiri sebagai perkumpulan swasta dengan nama “Bandoeng Vooruit” (Bandung Maju). Organisasi Bandung Maju ini bermitra dengan pemerintah demi membangun kotanya. Dan seperti layaknya sebuah kota, perayaan selalu menjadi simbol dari hasil pembangunan kota. Mulai tahun 1920, Kota Bandung memiliki perayaan pesta tahunan “Jaarbeurs” (Bursa Tahunan) di setiap bulan Juni-Juli yang berupa atraksi wisata, pameran produk industri maupun pertanian, festival seni budaya dari seluruh penjuru nusantara.

Pada tahun 1923, ada sebuah terobosan baru di bidang teknologi komunikasi dimana orang bisa melakukan pembicaraan dengan Radio Telefoni. Sehingga seorang Belanda di Bandung bisa langsung mengobrol dengan sanak saudaranya di Holland. Tentunya kemajuan Kota Bandung pun semakin pesat dengan adanya penemuan tersebut. Namun yang menariknya sebenarnya muncul sebuah kisah yang mengharukan pasca penemuan radio telfoni tersebut. Alkisah ada seorang ibu tua di Belanda yang sangat merindukan putra tunggalnya yang sedang berada di Indonesia (Nusantara). Setelah berhasil menabung selama setahun, ibu tua tersebut akhirnya mampu membayar ongkos percakapan radio telefoni itu selama 3 menit. Saat tersambung dengan anaknya, ibu tua tersebut tiba-tiba terdiam terpaku dan hanya sempat mengucap “Anakku sayang, aku amat rindu padamu”. Dan kemudian sambungan telefon itu pun terputus karena waktunya telah habis. Kisah inilah yang mengilhami seorang komponis untuk menciptakan lagu yang berjudul “Hallo Bandoeng” yang dinyanyikan oleh Willy Derby penyanyi terkenal jaman itu.

Sejak tanggal 1 Oktober 1926, Kota Bandung tidak lagi dipimpin oleh seorang Asisten Residen karena perubahan status Kota Bandung dari “Gemeente” menjadi “Stadsgemeente” berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Pimpinan kota akhirnya dipegang oleh seorang “Burgemeester” (Walikota). Tercatat sejumlah nama walikota Bandoeng Tempo Doeloe yang pernah memimpin yakni B. Coops, S.A. Rietsma (Pjs.), Ir. J. E. A. von Wolzogen Kuhr, Mr. J.M. Wesselink dan N. Beets. Saat N. Beets menjadi Walikota Bandung, pada tahun 1937 ia melakukan kampanye yang masif untuk mempromosikan Kota Bandung. Saat itu Walikota N. Beets berseru kira-kira seperti ini “Wahai warga Bandung, bantulah untuk memajukan kota kita. Seluruh warga harus mau ikut membantu dan berpartisipasi dalam mempromosikan Bandung. Ada berbagai macam cara antara lain dengan menceritakan Kota Bandung melalui surat dan tulisan. Agar setiap saat, semua orang yang datang selalu mengingat akan kecantikan alam Kota Bandung yang sejuk, permai dan menakjubkan”.

Setelah itu komunitas Bandung Maju pun turut dan gencar melakukan promosi Kota Bandung hingga ke seluruh pelosok nusantara bahkan manca negara melalui majalah “Mooi Bandoeng” (Bandung Permai). Makanya tak heran bila pada tahun 1938, Perdana Menteri Perancis George Clemenceau serta bintang film Charlie Chaplin dan Paulette Goddard pernah menyambangi Kota Bandung. Bahkan dalam kurun waktu tersebut, sejarah mencatat nama-nama artis, budayawan, ilmuwan, negarawan dam musikus kelas dunia seperti Godowsky, Vera Janacopoulus, Arthur Zimbalist, Paul Weingarten, Kindler, Tansman, Friedmann, Brailowski, Smeterlin, Feuerstein, Szigeti, Jose Iturbi, Heifetz, Rubinstein, Hubermann, Platigorski, Slobotskaja, Segovia, Lili Krauss, Szymon Goldberg, Nicolai Orloff, Marechal, Eugina Wellerson, Lola Bobesco, de Sakharofs, Chenkine, Anna el Tour dan Ruth Draper. Pada tahun 1941, tercatat ada sekitar 200.000 wisatawan yang mengunjungi Kota Bandung yang saat itu populasi penduduknya sekitar 226.877 jiwa. Sebanyak lima juta gulden pun diraup oleh bandung pada masa itu hanya dari sektor pariwisata saja. Karenanya, banyak ungkapan yang lahir pada zaman gerakan komunitas Bandung Maju ini. Misalnya saja ungkapan Kota Bandung yang berbunyi Bandoeng is het paradijs der aardsche schoonen. Daarom is het goed daar te wonen” (Bandung adalah sorga permai di atas dunia. Itulah sebabnya, baik untuk bermukim di sana) serta ungkapan “Don’t come to Bandoeng, if you left a wife at home”. Dari sejarah singkat perihal perkembangan Kota Bandung di masa kolonial ini, kita dapat melihat bagaimana sebenarnya peran berharga sebuah komunitas atau perkumpulan yang ditunjukkan oleh “Bandoeng Vooruit” (Bandung Maju) dalam membangun kotanya sehingga pada akhirnya secara tidak langsung mereka ikut berkontribusi terhadap perkembangan ekonomi Kota Bandung.

Lain dulu lain sekarang tentunya bila melihat wajah Kota Bandung. Namun sesungguhnya ada yang tidak pernah berubah sejak dulu bila berbicara perihal Kota Bandung. Ialah kehadiran komunitas yang selalu ada dalam menggerakkan Kota Bandung. Di era milenium kedua, Kota Bandung memiliki segudang komunitas dengan latar belakang dan disiplin yang berbeda. Tentunya sangat lah sulit untuk memetakan satu persatu apa saja komunitas yang mendiami Bandung saat ini. Namun bila kita melakukan pengamatan dari simpul komunitas-komunitas tersebut, barangkali nama Bandung Creative City Forum (BCCF) bisa menjadi salah satu acuan pemetaan komunitas Bandung. BCCF sendiri lahir pada akhir tahun 2008 dan merupakan perkumpulan komunitas pertama di Indonesia yang mengusung semangat kreativitas demi membangun kotanya. Lewat sebuah festival kota yang bertajuk “Helarfest”, berbagai komunitas yang tadinya berjalan masing-masing kini mulai bergandengan tangan dan bersatu. Barangkali benarlah adanya pepatah yang mengatakan bahwa “sebatang anak panah akan mudah dipatahkan, tetapi tidak demikian halnya apabila mereka terikat erat menjadi satu”. Setelah Helarfest tersebut, geliat perkembangan komunitas di Kota Bandung pun semakin semarak.

Karena prinsip 3C (Conection, Collaboration, Commerce) adalah kata kunci yang dipercaya ampuh untuk membangun Kota Bandung, maka pola sinergitas Quadro Helix (Academic, Goverment, Bussiness, Community) diterapkan oleh BCCF dalam menjalankan semua programnya. Tercatat sudah nama-nama komunitas, jejaring & pelaku kreatif baik yang hanya bersinggungan maupun telah berkolaborasi secara nyata seperti Agritektur, Air Foto Network, Airplane Systm, Aisec Bandung, Akademi Berbagi Bandung, Amygdala, Bandung Beatbox, Bandung Berkebun, Bandung Blues Society, Bandung Cycle Chic, Bandung Foodtruck, Bandung High Tech Valley, Batik Fractal, Bandung Heritage, Bandung Hobbies, Bandung Kayak Community, Bandung Street Dancer, Barudak Urban Light (BULB) Bandung, Bengkel Kostum, Bidik Photography, Bike Bdg, Bikers Brotherhood, Boeminini, Btari, Culindra, C-Gen, Common Room, Conture, Design Hub, Doku, Ecoethno, Embarra Film, Epik, Fight Bdg, Forum Kabaret Bandung, FOWAB, Glintz, Growbox, Happy Farmer (Supported by JKMP4), House The House, Indorunners Bandung, J-Batik, Jendela Ide, Labo Mori, Kampung Kreatif Cicadas, Kampung Kreatif Cicukang, Kampung Kreatif Dago Pojok, Kampung Kreatif Leuwianyar, Kampung Kreatif Linggawastu, Kampung Kreatif Pasundan, Kampung Kreatif Taman Sari, Kampung Kreatif Pulosari, Karang Taruna Bandung, Keroncong Merah Putih, Komikara, Komunitas Action Figure Bandung, Komunitas Anti Rokok, Komik CAB, Komunitas Cika-Cika, Komunitas Diet Kantong Plastik, Komunitas Diffable Bandung, Kelas Inspirasi Bandung, Komunitas Egrang STSI, Komunitas Hijabers Bandung, Komunitas Hoong, Komunitas Jeprut Bandung, Komunitas Karinding, Komunitas Layar Kita, Komunitas Lempar Pisau (Lempis) Bandung, Komunitas Kuncup Padang Ilalang (KAIL), Komunitas Taboo, Kravity, Kriya Nusantara, Levitasi Hore Bandung, Mahanagari, Mahidara, Media Wave, Ngadu Ide, Parkour Bandung, Pensil Kertas, Perhimpunan Amatir Foto (PAF), Peta Kita, Picu Pacu, Pita, Pori Keramik, ProCodeCG, Riset Indie, Rumah Cemara, Ruang Film Bandung, Rumah Nusantara, Robot Hijau, Sahabat Kota, Sanggar Olah Seni (SOS) Babakan Siliwangi, Sanggar Origami Indonesia, Sembilan Matahari, Sindikat Kuliner, Studio Keramik 181, Taman Foto Bdg, Taskuni, Tarung Drajat Bandung, Tedx Bandung, Tegep Boots, Tinker Games, Urban Jedi Bandung, Waningadoe, Wanna Be Dancer, Warung Imajinasi, Wayang Tavip, Woodka, YPBB Bandung, Y-Plan Bdg dan Yayasan Pilar Peradaban. Masing-masing komunitas ini tentunya menciptakan sejarah dan menjadikan kitab peradaban tersendiri bagi Kota Bandung.

Banyak jejak yang telah direkam tatkala komunitas kreatif bandung ini bergerak dan berkarya demi memuliakan kotanya. Salah satunya ketika mereka hadir untuk mengaktivasi “Hutan Kota Dunia Babakan Siliwangi” sebagai bagian dari gerakan mengembalikan ruang publik kepada empunya yakni warga bandung. Saat itu, hutan tersebut telah dikelola oleh sebuah perusahaan yang akan segera menyulapnya menjadi kawasan dan ruang-ruang komersil. Alhasil berbagai gempuran melalui cara-cara kreatif pun muncul demi mempertahankan hutan babakan siliwangi tersebut dari keserakahan penguasa. Dari mulai mengelupas aspal jalan & menanaminya dengan pepohonan, mendesain & membangun jembatan gantung (forest walk), membuat sebuah konser musik & permainan laser (lightchestra), hingga membuat mural kolektif di setiap pagar seng yang menutupi hutan kota satu-satunya yang ada di bandung tersebut. Namun akhirnya, perjuangan ini tidaklah sia-sia. Pada tahun 2013, hutan kota dunia babakan siliwangi secara resmi dikembalikan kepada pemerintah kota dan warga bandung.

Jejak lain yakni tatkala komunitas sahabat kota membuat kegiatan yang bertajuk “Riung Gunung” berupa edukasi bagi anak-anak berusia 8 s/d 11 tahun untuk melihat Kota Bandung di masa depan. Sekitar 40 orang anak yang berpartisipasi dalam kegiatan ini diajak untuk berkeliling Kota Bandung selama 6 hari lamanya untuk melihat segala permasalahan yang ada. Mereka mengunjungi pasar tradisional, tempat penampungan sampah, rumah sakit, taman kota, terminal, dan lain-lain. Di hari ke-7 mereka diwajibkan untuk memberikan ide dan solusinya dalam menyelesaikan permasalahan Kota Bandung yang dituangkan melalui maket-maket yang dibuat sendiri. Kemudian maket kreasi anak-anak tersebut dipamerkan di Selasar Sunaryo sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap publik. Mereka pun wajib untuk memperagakan hasil pemetaan masalah berikut solusinya dengan cara “Fun Theory” sembari bermain dalam sebuah pentas di hadapan pengunjung.

Kemudian ada jejak satu lagi yang diinisiasi oleh komunitas “Riset Indie” berupa drama pembajakan angkot bandung. Riset Indie mencanangkan sebuah hari dimana angkot gratis, tertib, aman, nyaman dan tidak ngetem. Angkot Day merupakan bagian dari sebuah proyek penelitian yang bertujuan untuk mencoba mencari alternatif model bisnis industri angkot yang lebih sustainable, agar angkot bisa kembali berjalan baik sehingga mampu menjadi solusi permasalahan Urban Mobility di Kota Bandung. Pada program eksperimen Angkot Day ini, Riset Indie melakukan pengumpulan data melalui kuesioner dan survey kualitatif untuk kemudian diolah sehingga dapat ditindaklanjuti secara lebih permanen. Harapannya bahwa program ini dapat menularkan ide bahwa tatkala manajemen angkot dijalankan dengan baik & tepat, pada akhirnya mampu menghasilkan moda transportasi umum yang nyaman, aman, tertib serta menjadi solusi alternatif kemacetan lalu-lintas di Kota Bandung. Barangkali dalam bahasa sederhananya adalah sebentuk upaya meningkatkan derajat dan memberikan value bagi angkot di Kota Bandung. Kala itu lebih kurang 200 unit angkot dengan jurusan kelapa – dago diberi stiker khusus program Angkot Day. Semua penumpang yang menggunakan angkot jurusan kelapa-dago pada hari itu digratiskan. Namun para penumpang diberikan syarat agar mereka harus tersenyum, ramah, memberhentikan angkot pada tempatnya dan mengisi kuesioner yang diberikan oleh panitia. Pada hari itu pula, supir angkot diwajibkan untuk tidak mengetem, tidak boleh merokok, tidak boleh menyetir ugal-ugalan, serta mesti menghadirkan keramahan kepada para penumpang. Sebagai gantinya, biaya bensin, biaya setoran & biaya tarif angkot akan ditanggung oleh pihak penyelenggara yang baik hati. Inilah sebenarnya gerakan kreatif yang dimiliki oleh komunitas bandung.

Tak heran bila daya komunitas Bandung inipun sempat menyihir para pemimpin untuk bertatap muka langsung dengan mereka karena keingin-tahuannya. Dari mulai Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, Menteri Pemuda dan Olah Raga Roy Suryo hingga seorang Presiden Jokowi yang ngebet ingin merasakan energi komunitas bandung tersebut. Beruntung saat ini Bandung dipimpin oleh seorang Walikota yang berasal dari kelompok komunitas kreatif, dimana pada umunya para pemimpin pendahulu sebelumnya merupakan seseorang yang berasal dari kelompok politikus. Ridwan Kamil yang menjabat sebagai Walikota Bandung saat ini (periode 2013-2018) adalah seorang arsitek dan pernah menjabat sebagai ketua Bandung Creative City Forum (BCCF) di periode tahun 2008-2012. Seorang arsitek tentunya menerapkan pemikiran ini “Dalam merancang sesuatu, berpikirlah dalam konteks yang lebih besar dan terdekat. Kursi dalam sebuah kamar, kamar dalam sebuah rumah, rumah dalam sebuah lingkungan, dan lingkungan dalam sebuah kota”. Karena latar belakang arsitek inilah, tak heran banyak terobosan-terobosan kreatif yang dilakukan olehnya dalam membangun dan mengubah wajah kotanya. Misalnya saja taman-taman kota yang tadinya banyak menganggur, kini mulai dibenahi infrastrukturnya dan diberikan tema-tema tertentu agar lebih menarik bagi warga Kota Bandung untuk kemudian membantu mengaktivasinya. Tercatat ada sejumlah taman kota yang dibenahi dari mulai Taman Alun-Alun Bandung, Taman Film Bandung, Taman Foto Bandung, Taman Jomblo, Taman Kandagapuspa, Taman Lansia, Taman Musik, Taman Persib, Taman Super Hero, Taman Vanda, Pet Park dan Skate Park. Apa yang terjadi setelah taman kota ini dibenahi? Banyak hal tentunya. Sebagai contoh ketika ruang negatif di bawah kolong jembatan pasupati disulap menjadi taman film bandung, taman ini langsung diserbu oleh warga. Bahkan acara nonton bareng (nobar) pun sering digelar bila pemain Persib sedang berlaga. Dari sanalah ekonomi diciptakan. Menurut cerita masyarakat setempat, pendapatan dari parkir motor saja bisa mencapai Rp 3 juta per harinya bila sedang ramai didatangi pengunjung. Regulasi yang diterbitkan oleh pemerintah Kota Bandung seperti dalam hal membenahi pedagang kaki lima (PKL), kemudian regulasi yang mewajibkan denda bagi siapapun warga yang membuang sampah secara sembarangan, tentunya merupakan kebijakan strategis dalam menata Kota Bandung. Karena di saat berbagai infrastruktur Kota Bandung sedang giat-giatnya dibangun, tentunya harus dibarengi pula oleh penerapan kedisplinan warga kota dalam memelihara ruang-ruang fisik yang ada.

Barangkali yang patut dipikirkan oleh pemerintah Kota Bandung saat ini adalah mencari landasan atau dasar sebagai tempat memijakkan langkahnya ke depan. Dalam hal ini pemerintah Kota Bandung mesti mengetahui arah pembangunan yang ingin dicapai melalui sebuah strategi sejarah yang tepat. Seperti halnya Presiden Jokowi membuat sebuah strategi pembangunan poros maritim, karena sesungguhnya sejarah mencatat bahwasanya nenek moyang kita adalah seorang pelaut. Karenanya perekonomian sektor maritim menjadi salah satu upaya yang coba diperjuangkan. Bila melihat sejarah Kota Bandung, sesungguhnya sejak dulu kota ini merupakan destinasi para pelancong dari berbagai pelosok tanah air dan manca negara. Sehingga perekonomian sektor jasa yang erat kaitannya dengan perdagangan dan pariwisata dapat menjadi salah satu yang dapat diandalkan. Sektor jasa ini tentunya bertumpu sangat besar kepada kekuatan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing. Sebagaimana disebutkan oleh orang bijak bahwa “Harmoni kanak-kanak adalah karunia alam, sedangkan harmoni kedua bersumber dari karya dan budaya jiwa manusia”. Oleh karena itu ide dan pikiran yang dihasilkan oleh sumber daya manusia ini dipercaya dapat menghasilkan sebuah ekonomi lain yang bernama “Ekonomi Kreatif”. Meski sebenarnya, ekonomi kreatif ini masih dianggap seperti cacing karena kontribusi dan nilai ekonomi yang diberikan belumlah luar biasa. Namun kita harus percaya bahwa cacing ini adalah cacing yang sangat berharga ke depannya. Bila sebuah kota dapat kita analogikan sebagai tanah, tentunya cacing-cacing inilah yang akan menggemburkan dan menyuburkan tanah tersebut. Adalah komunitas yang sejatinya dapat melahirkan cacing-cacing kecil, yang kelak dapat menumbuhkan ekonomi Kota Bandung. Dengan segala keunikan, keutuhan, kemanfaatan dan pemahaman akan komunitas tersebut, Kota Bandung tentunya tidak perlu kuatir akan ditinggalkan layu. Namun sebaliknya, Kota Bandung akan selalu tumbuh mekar, mewangi dan semerbak walau bersama hujan deras dan terpaan angin.

Daftar Pustaka
Bandung Creative City Forum (BCCF). 2008-2014. Catatan Sejarah & Program BCCF 
Kementrian Pariwisata & Ekonomi Kreatif Indonesia. 2014. Buku Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif. “Ekonomi Kreatif : Kekuatan Baru Indonesia Menuju 2025″. 
-Haryoto Kunto. 1986. Semerbak Bunga di Bandung Raya.

* Tulisan ini dibuat sebagai salah satu isi materi buku “Bandung Motekar” yang disusun oleh Komite Pengembangan Ekonomi Kreatif Kota Bandung

@galihsedayu | bandung, 17 januari 2015

Advertisements

Written by Admin

January 16, 2015 at 1:49 pm