I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Archive for the ‘MY WRITTINGS’ Category

Mata Warga : Kolaborasi & Blusukan Fotografi Warga Kampung

leave a comment »

Teks : galih sedayu
Foto : Air Foto Network [AFN]

Bila kita menganalogikan Kota Bandung sebagai sebuah pohon yang besar, maka akar-akar pohon yang dimilikinya dapat diumpamakan sebagai himpunan Kampung Kota yang tentunya bertugas menopang batang pohon tersebut agar tetap berdiri tegak dan memastikan daunnya tumbuh dengan baik. Oleh karenanya, kampung dan kota itu sejatinya selalu hidup bersama, tak ada yang lebih unggul, tak ada yang lebih diutamakan, tak ada yang lebih dinomor satukan. Namun pada praktiknya, khususnya dalam konteks pembangunan sebuah kota, terkadang perhatian terhadap ruang kampung seolah-olah menjadi seperti anak tiri, sehingga kerap jarang tersentuh serta cenderung diabaikan. Untuk itulah keroyokan program-program kreatif yang mengangkat isu perihal keberadaan kampung atau wilayah kecil di sebuah kota, perlu dihadirkan agar azas pemerataan pembangunan dapat terwujud.

Berita baiknya, saat ini mulai hadir program-program yang bersinggungan dengan kampung di Kota Bandung. Salah satunya adalah program Kampung Kreatif yang diinisiasi oleh komunitas / warga Bandung berkolaborasi dengan pihak pemerintah, pihak akademisi, pihak bisnis dan pihak media. Sinergitas “Penta Helix” inilah yang diharapkan mampu mendobrak ketiadaan konektivitas antar warga dalam membangun kotanya. Program Kampung Kreatif ini sesungguhnya merupakan gagasan universal, sehingga rasanya tidak perlu lagi diperdebatkan dengan mempertanyakan kembali, siapakah yang pertama kali melahirkan program ini ataupun siapakah yang berhak menjalankan program ini. Selama tujuannya baik, rasanya siapapun dapat melakukannya bagi Kota Bandung.

Seiring dengan waktu berjalan, sadar atau tidak, Kampung Kreatif ini ibarat menjadi lokomotif bagi program kreatif yang lain. Letupan-letupan kecil yang disuarakan ke dalam bentuk program demi merespon ruang kampung ini pun menjadi gerbong-gerbongnya. Namun rel ataupun jalurnya tetap sama serta memiliki tujuan yang sama pula. Salah satunya adalah program “Mata Warga”. Program yang diinisiasi oleh Bandung Creative City Forum {BCCF}, Air Foto Network {AFN}, Komite Ekonomi Kreatif Kota Bandung, dan Karang Taruna Kota Bandung ini merupakan sebuah program kolaborasi warga melalui fotografi. Dimana program Mata Warga ini menggunakan sebuah metodologi atau cara yang melibatkan komunitas / warga kampung secara aktif melalui media fotografi, dengan tujuan untuk melakukan perubahan sosial terhadap lingkungan sekitarnya secara kreatif. Di dunia fotografi, program ini biasa dikenal dengan sebutan “Participatory Photo Project”.

Karena salah satu fitrah disiplin dalam ilmu maupun bidang apapun adalah kebermanfaatannya bagi masyarakat, maka fotografi pun dipilih sebagai jembatan penghubung komunikasi warga kampung tersebut. Proses program Mata Warga ini dimulai dengan (1) Pelatihan dasar memotret bagi warga kampung ; (2) Diskusi untuk mengumpulkan data & analisa sederhana mengenai lingkungan sekitar ; (3) Melibatkan komunitas & persiapan pemotretan ; (4) Memotret sebuah isu yang ada di lingkungan sekitar ; (5) Presentasi karya foto hasil warga ; (6) Kurasi foto & pembuatan buku ; yang pada akhirnya diharapkan muncul proses diseminasi & perubahan sosial dari warganya. Tujuan program Mata Warga ini adalah membantu warga kampung untuk merekam dan merefleksikan potensi kampung serta menghadirkan perhatian komunitas terhadap lingkungannya ; Menyampaikan pengetahuan yang baik sekaligus kritik yang membangun perihal isu lingkungan melalui diskusi fotografi ; serta Menyentuh dan menjangkau pembuat kebijakan (dalam hal ini adalah pemerintah).

Lima (5) Kampung yang terdapat di Kecamatan Cijawura, Kecamatan Arcamanik, Kecamatan Lengkong, Kecamatan Batununggal, dan Kecamatan Kiaracondong di Kota Bandung, menjadi titik-titik akupuntur yang disasar melalui program Mata Warga ini. Pelatihan foto warga kampung dalam program Mata Warga pertama kali dimulai pada tanggal 27 Oktober 2016 di Kecamatan Cijawura, yang kedua digelar pada tanggal 10 Juni 2017 di Kecamatan Arcamanik, yang ketiga digelar pada tanggal 11 Juni 2017 di Kecamatan Lengkong, yang keempat digelar pada tanggal 15 Juli 2017 di Kecamatan Batununggal, dan yang kelima (terakhir) digelar pada tanggal 22 Juli 2017 di Kecamatan Kiaracondong. Program ini dibantu pula oleh sejumlah relawan yang menjadi pengajar dan fasilitator warga kampung tersebut. Para relawan tersebut adalah Alfian Widiantono, galih sedayu, Ruli Suryono & Sudarmanto Edris yang bertindak sebagai relawan pengajar fotografi, serta Agung Yunia, Kandi Sekar Wulan, Pandu Putra Pranawa & Shinta S Putri yang bertindak sebagai relawan fasilitator.

Banyak fakta, tempat & peristiwa menarik yang didapat dari masing-masing wilayah tersebut. Misalnya saja kue ondel-ondel yang sangat enak bisa kita rasakan di wilayah kampung Kecamatan Cijaura ; Jurig Walungan atau pasukan pembersih sampah sungai bisa kita temukan di wilayah kampung Kecamatan Arcamanik, Gang Ronghok yakni sebuah gang sempit yang hanya bisa dilalui oleh seorang saja bisa kita alami di wilayah kampung Kecamatan Lengkong, Lomba ketangkasan burung merpati bisa kita saksikan di wilayah kampung Kecamatan Batununggal ; Wahana permainan anak yang dikemas seperti pasar malam di samping tempat pembuangan sampah bisa kita lihat di wilayah kampung Kecamatan Kiaracondong. Belum lagi puluhan cerita warga yang membuat kita terpesona bak menyimak sebuah dongeng yang dituturkan oleh seorang kakek kepada cucunya.

Sebagai bentuk pertanggung-jawaban moral kepada Kota Bandung, maka seluruh cuplikan mata yang telah menjadi imaji hasil karya warga kampung tersebut, kami persembahkan ke dalam sebuah jejak literasi berupa buku. Buku ini kiranya dapat menjadi sumber ingatan & pengetahuan abadi, agar kelak setiap warga dapat selalu memberikan yang terbaik bagi kampungnya masing-masing. Sehingga perubahan sosial dapat terus dilakukan demi mengurai berbagai permasalahan yang ada dengan mengacu kepada informasi & gambar yang terekam dalam buku tersebut. Meski fotografi tak kan dapat mengubah sebuah kota, namun sesungguhnya fotografi dapat mengubah cara kita melihat sebuah kota. Dan itu semua dapat dimulai dari mata kita masing-masing. Karena dari mata, kemudian turun ke hati dan kemudian lahir menjadi empati.

Bandung, 7 Desember 2017

***

Text : galih sedayu
Photography : Air Foto Network [AFN]

If we analyze the city of Bandung as a big tree, then the roots of the tree can be likened to the set of Kampong / Village which certainly in charge of supporting the tree trunk to remain standing upright and ensure the leaves grow well. Therefore, the kampong and the city are actually always living together, no one is superior, no one takes precedence, no one is more united. But in practice, especially in the context of the development of a city, sometimes the attention to the kampong space seems to be like a stepchild, so it is often rarely touched and tends to be ignored. For that reason the creative programs that raise the issue of the existence of a kampong or a small area in a city, need to be presented so that the principle of even distribution of development can be realized.

The good news, currently starting to present programs that intersect with Kampong in the city of Bandung. One of them is the “Creative Kampong” program initiated by the community / citizens of Bandung in collaboration with the government, the academics, the business side and the media. This “Penta Helix” Synergy is expected to break the lack of connectivity between citizens in building the city. This Creative Kampong program is actually a universal idea, so it does not need to be debated anymore by questioning who was the first to give birth to this program or who is eligible to run this program. As long as the goal is good, it feels anyone can do it for the city of Bandung.

Along with running time, consciously or not, Creative Kampong is like a locomotive for other creative programs. Small explosions voiced into the form of a program to respond to this kampong space became his carriages. But the rail or track remains the same and has the same goal. One is the “Mata Warga / Citizen Eye” program. Program that initiated by Bandung Creative City Forum {BCCF}, Air Foto Network {AFN}, and Bandung Creative Economy Committee is a citizen collaboration program through photography. Where this Program uses a methodology or a way that involves the community / villagers actively through the media of photography, with the aim to make social changes to the surrounding environment creatively. In the world of photography, this program is commonly known as “Participatory Photo Project”.

Because one of the nature of discipline in science and any field is its usefulness for the community, then photography was chosen as a bridge connecting communications residents of the village. This Mata Warga program process begins with (1) basic training of photographing for the villagers ; (2) Discussion to collect simple data & analysis on the surrounding environment ; (3) Involving community & photographing preparation; (4) Taking pictures of an existing issue in the neighborhood ; (5) Presentation of photographs of residents’ results ; (6) Curation photo & book making ; which in turn is expected to appear dissemination process & social change from its citizens. The objective of this program is to help villagers to record and reflect the potential of the village and to bring the community’s attention to the environment ; Convey good knowledge as well as constructive criticism of environmental issues through photography discussions; and Touch and reach policy makers (in this case is government).

Five (5) Kampong in Cijawura District, Arcamanik District, Lengkong District, Batununggal District, and Kiaracondong District in Bandung City, become acupuncture points targeted through Mata Warga program. Photo training of the villagers in the Mata Mata program was first started on 27 October 2016 in Cijawura District, the second was held on 10 June 2017 in Arcamanik District, the third was held on 11 June 2017 in Lengkong District , the fourth was held on the 15th July 2017 in Batununggal District, and the fifth (last) was held on July 22, 2017 in Kiaracondon District. This program is also assisted by a number of volunteers who became teachers and facilitators of the villagers. The volunteers are Alfian Widiantono, galih sedayu, Ruli Suryono & Sudarmanto Edris who acts as volunteer of photography lecturer, and Agung Yunia, Kandi Sekar Wulan, Pandu Putra Pranawa & Shinta S Putri who act as volunteer facilitators.

Many interesting facts, places and events gained from each of these areas. For example, Delicious ondel-ondel cakes that we can feel in the Cijawura Kampong area ; Jurig Walungan or river rubbish cleaning troops can be found in the Arcamanik Kampong area : Gang Ronghok a narrow alley that can only be passed by a person we can experience in the Lengkong Kampong Area, pigeon dexterity race that we can see in the Batununggal Kampong area ; Children’s games are packed like a night market next to a landfill that we can see in the Kiaracondong Kampong area. Not to mention dozens of stories of citizens who make us fascinated like listening to a fairy tale told by a grandfather to his grandson.

As a form of moral responsibility to the city of Bandung, then the entire footage of the eye that has become the image of the work of the villagers, we dedicate into a literacy trail of books. This book may be a source of lasting memory & knowledge, so that every citizen can always give the best for his or her own village. So that social change can continue to be done in order to parse various existing problems with reference to information & images recorded in the book. Although photography can not change a city, photography can actually change the way we see a city. And it can all start from our own eyes. Because from the eye, then down to the heart and then born into empathy.

Bandung, December 7, 2017

* Mata Warga Kecamatan Cijawura

06

08

15

12

13

22

18

24

* Mata Warga Kecamatan Arcamanik

DSCF3346

DSCF3374

DSCF3364

DSCF3388

DSCF3423

DSCF3437

DSCF3366

* Mata Warga Kecamatan Lengkong

DSCF3508

DSCF3522

DSCF3534

DSCF3538

DSCF3537

DSCF3550

DSCF3526

* Mata Warga Kecamatan Batununggal

DSCF4445

DSCF4479

DSCF4500

DSCF4506

DSCF4492

* Mata Warga Kecamatan Kiaracondong

DSCF4668

DSCF4701

DSCF4883

DSCF4910

DSCF4899

DSCF4985

DSCF4730

Copyright (c) by galih sedayu & AFN
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer & AFN.

Advertisements

Menangkap Pikiran, Merasakan Semesta | Teks Pengantar “Mind Reflection” | Art Exhibition by Andra Semesta

leave a comment »

Menangkap Pikiran, Merasakan Semesta

Teks : galih sedayu

Andra Semesta. Begitulah seorang perupa & pekerja kreatif muda ini disebut namanya. Layaknya kaum muda yang mewakili jiwa jamannya, Ardiandra Achmadi Semesta yang lahir di Kota Batavia pada tanggal 28 April 1991 ini, sudah sejak lama memuja musik dan bahkan terhubung intim dengannya. Musik menjadi jendela ide yang pertama kali ia buka sekaligus menjadi sahabat sejati yang menemaninya berkarya dalam setiap sapuan kuas yang ditorehkan olehnya atas kanvas kosong. Berkat kemampuan sinestesia Andra, himpunan nada & suara yang ia dengar dari sebuah lagu, direfleksikan kembali olehnya ke dalam sebuah bentuk bunyi visual sehingga melahirkan karya-karya lukis yang cenderung abstrak, ekspresif serta penuh warna.

Saat ini produk seni rupa termasuk karya lukisan menjadi salah satu produk sub sektor Industri Kreatif yang tentunya memiliki peran tersendiri dalam memberikan kontribusi terhadap pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Ada 16 sub sektor Industri Kreatif yang menjadi tanggung jawab pemerintah kita melalui Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang dibentuknya sejak tahun 2015. Dari mulai Aplikasi & Pengembang Permainan ; Arsitektur ; Desain Interior ; Desain Komunikasi Visual ; Desain Produk ; Fashion ; Film, Animasi & Video ; Fotografi ; Kriya ; Kuliner ; Musik ; Penerbitan ; Periklanan ; Seni Pertunjukkan ; Seni Rupa ; Televisi & Radio. Namun perbincangan seni rupa sebagai salah satu gerbong dari industri kreatif ini kerap menjadi topik seru yang tak kan pernah ada ujungnya untuk dibahas. Entah itu isu yang menyangkut proses penciptaan hingga nilai transaksional yang terjadi di sana.

Walaupun begitu, sebagian para pekerja kreatif bahkan seperti tidak ambil pusing dan memilih untuk berkarya saja seperti yang dilakukan oleh Andra Semesta melalui Pameran Tunggalnya yang ketiga dengan tajuk “Mind Relection”. Bertempat di Lawangwangi Creative Space, Bandung, kegelisahan dan buah pikiran Andra dipersembahkan olehnya ke dalam karya-karya lukis hasil dari sentuhan tangan & guratan hatinya. Seluruh karya Andra tersebut dipamerkan selama seminggu dan berlangsung dari tanggal 27 April hingga 2 Mei 2017. Sebelumnya Andra pun sempat menggelar Pameran karya miliknya diantaranya Noises by GAP “Sonic Sun” album release show yang bertempat di The Goods Dept. Plaza Indonesia, Jakarta (18 Juli 2011) ; Painting BA 1st Year Corridor Show di Wimbledon College of the Arts, London (6-12 Maret 2012) ; Pameran Tunggal “Mandala : Visualisasi Musik” di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki (22-29 Mei 2015) ; serta Pameran Tunggal “Peleburan Rupa, Nada dan Kata” di Cemara 6 Galeri (29 Maret – 11 April 2016).

Puluhan karya Andra Semesta yang dipamerkan tersebut ibarat sebuah konser visual yang pertama kali disuguhkan olehnya di Kota Paris Van Java ini. Kolaborasa antara kepekaan andra dengan magnet lagu ini menjadi repertoar utuh dalam sebuah pertunjukkan visual miliknya. Kita bisa simak bagaimana lagu “Blonde” dari Frank Ocean ; “Goodness” dari The Hotelier ; “22, A Million” dari Bon Iver ; My Beautiful Dark Twisted Fantasy” dari Kanye West ; “Codes and Keys” dari Death Cab For Cutie ; “The Haunted Man” dari Bat For Lashes ; “The Terror” dari The Flaming Lips dan masih banyak lagi, seperti ber-reinkarnasi ke dalam jejak karya yang dipamerkan oleh Andra Semesta.

Bila kita telisik, hampir sebagian karya Andra Semesta menggunakan kanvas yang berbentuk lingkaran. Entah mengapa ia begitu terobsesi dengan bentuk yang ia sebut dengan mandala. Baginya filosofi spiritual & psikologis sangat melekat dengan bentuk mandala tersebut. Barangkali karena pikirannya yang terus berputar, sehingga alam bawah sadarnya merekam sebuah pola jejak putaran yang menyerupai bentuk lingkaran atau mandala tersebut. Seperti hidup yang selalu berputar, begitu pula agaknya jalan pikiran seorang Andra. Ia sepertinya ingin berdialog dengan musik selamanya. Dengan mengutip sepenggal bait lagu “If” yang ditulis oleh David Gates & dipopulerkan oleh kelompok musik Bread, mungkin kalimat ini yang ingin diutarakan oleh Andra Semesta kepada musik yang menjadi separuh nafasnya,

If a picture paints a thousand words, then why can’t I paint you?”.

poster-pameran-andra_blog

mind reflection_andra semesta

01_blog

02_blog

03_blog

04_blog

05_blog

06_blog

Copy right (c) 2017. All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means without prior permission from Andra Semesta & Ruang Kolaborasa.

Written by Admin

April 25, 2017 at 1:17 pm

Paul Tedjasurja, Mata Sejarah dan Sang Pewarta Kesetiaan

with 7 comments

 

Teks & Foto oleh galih sedayu

Pada suatu malam yang dingin di Kota Bandung, di pertengahan bulan April tahun 1955, seorang pemuda sederhana berusia 25 tahun tengah mempersiapkan peralatan tempur fotografinya demi mengabadikan sebuah peristiwa yang sangat bersejarah yakni Konperensi Asia Afrika (KAA) Bandung. Kamera Leica III F seberat 1,5 kg, lampu kilat seberat 8 kg, perangkat aki untuk pencahayaan tambahan (blitz) serta sejumlah roll film hitam putih menjadi saksi bisu perhelatan KAA yang kini telah menjadi peristiwa legendaris di dunia. Di hari senin yang cerah, tanggal 18 April 1955, tepat pukul 07.00 pagi, pemuda tersebut langsung bergegas menuju Gedung Merdeka Bandung di Jalan Asia Afrika dengan menunggangi motor 250 cc merk Jawa miliknya. Saat itu ratusan warga baik dari dalam Kota Bandung maupun dari luar Kota Bandung sudah berkerumun berdiri dan berbaris rapi di sisi-sisi jalan Asia Afrika sembari menunggu kedatangan para tamu delegasi KAA. Sekitar pukul 08.00 pagi, akhirnya para undangan yang dihadiri 29 negara peserta KAA tersebut mulai keluar dari persinggahannya di Hotel Savoy Homann yang juga terletak di Jalan Asia Afrika. Mereka semua berjalan kaki menuju Gedung Merdeka yang letaknya tidak terlalu jauh dari Hotel Savoy Homann. Kala itu sejumlah wajah para pemimpin dunia pun tercatat dan terekam oleh mata pemuda ini dari mulai Jawaharlal Nehru (India), Chou En Lai (Cina), Gamal Abdel Nasser (Mesir), Norodom Sihanouk (Kamboja), U Nu (Birma) dan lain sebagainya. Sekira pukul 10.00 pagi, sebuah mobil buick buatan tahun 1945 berhenti di persimpangan Jalan Braga & Jalan Asia Afrika (Tepat di depan Apotek Kimia Farma Braga Sekarang).

Tak lama kemudian muncul dari dalam mobil tersebut, Presiden & Wakil Presiden pertama negara Indonesia yakni Bung Karno & Bung Hatta, sebagai tuan rumah yang akan membuka kegiatan KAA. Kemudian pemuda itu pun mengikuti kedua tokoh tersebut hingga masuk ke dalam Gedung Merdeka yang menjadi tempat utama kegiatan KAA yang berlangsung dari tanggal 18 – 24 April 1955. Dan dari dalam gedung itulah, sejarah mencatat nama baik Bandung dan Indonesia kala itu. Rentetan kejadian dan momen yang sangat langka itu, secara apik berhasil dibekukan oleh pemuda yang penuh semangat tersebut. Dimana karya foto hasil bidikan pemuda itu kini telah menjadi bukti nyata keharuman dan kebesaran peristiwa KAA yang terjadi 60 tahun silam.

Paul Tedjasurja. Itulah nama pemuda tersebut yang kini telah menjadi tokoh legenda Kota Bandung, yang berhasil merekam sekitar 300 gambar perihal kegiatan KAA dari mulai suasana konperensi hingga para tokoh dunia yang hadir waktu itu. Saat peristiwa KAA berlangsung, Paul Tedjasurja yang akrab dipanggil dengan sebutan Om Paul ini masih menjadi fotografer lepas atau Freelance di berbagai media cetak. Salah satunya adalah Media Pikiran Rakyat (PR) yang kerap menggunakan kontribusi karya foto milik Paul. Menurut Paul, ada beberapa rekan fotografer lain yang turut pula mengabadikan momen KAA tersebut yakni Dr. Koo Kian Giap (Antara), Lan Ke Tung (PAF/Antara), Johan Beng (Antara), dan AS James. Namun kini mereka semua telah tiada. Sesungguhnya, pendokumentasian peristiwa KAA yang dilakukan Paul tersebut merupakan momen perdana atau pertama kalinya ia memotret kegiatan bertaraf internasional. Ketika Paul meliput acara pembukaan KAA, ia pun menuturkan bahwa selama di dalam Gedung Merdeka, para wartawan tulis dan foto diminta untuk tidak boleh terlalu dekat dengan para delegasi negara sehingga mereka ditempatkan di sebuah balkon khusus di sana. Acara pembukaan KAA tersebut berakhir sekitar pukul 13.00 siang yang dilanjutkan dengan penyelenggaraan sidang di Gedung Dwi Warna (sekarang menjadi kantor wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Jawa Barat) yang terletak di Jalan Diponegoro Bandung.

Menjelang sore, Paul pun bergegas pergi untuk mencuci dan mencetak roll film hasil rekamannya yang dilakukan di kamar gelap sebuah ruangan, yang berlokasi di Jalan Naripan No.4 Bandung (Kini menjadi halaman parkir Bank Jabar). Untuk proses tersebut, Paul melakukannya dengan cepat selama kira-kira setengah jam agar hasil fotonya dapat segera dikirim ke redaksi PR sebelum pukul 4 sore. Kala itu pula, seorang fotografer AP sempat meminta tolong kepada Paul untuk dapat membantu mencetak foto-fotonya. Setelah semuanya selesai, Paul pun kembali mendatangi resepsi yang digelar untuk menjamu para tamu delegasi negara peserta KAA.

Surabaya menjadi kota kelahiran seorang Paul Tedjasurja, tepatnya pada tanggal 19 Agustus 1930. Ketika Indonesia merdeka tahun 1945, ia masih duduk di bangku sekolah MULO (sekolah belanda setingkat SMP) di daerah Praban yang kini terletak di sekitar SMP 3 Surabaya. Ia pun menuturkan bahwa pada tanggal 7 November 1945, Jenderal Mansergh NICA kala itu menjatuhkan ultimatum lewat selebaran yang dijatuhkan dari ketinggian pesawat di atas langit biru surabaya. Ia ingat benar dengan peristiwa tersebut karena saat itu ia pun ikut berebut memunguti selebaran tersebut bersama kawan-kawannya. Setelah ia lulus sekolah menengah pada tahun 1949, ia pun hijrah dari Kota Surabaya menuju Kota Bandung atas ajakan seorang pamannya dikarenakan ayahnya yang bekas tahanan Kenpeitai, Jepang meninggal dunia setelah menderita sakit-sakitan selama kurang lebih 5 tahun. Di Kota Bandung lah, ia mulai jatuh cinta kepada dunia fotografi dan mulai belajar memotret sejak berumur 21 tahun. Ia pun kemudian menjalani kehidupannya sebagai pewarta lepas di sebuah majalah yang bernama “Gembira” serta menjadi pewarta lepas di sebuah agensi yang bernama “Preanger Foto” yang bertugas memasok karya foto ke perusahaan Jawatan Penerangan Jawa Barat, dimana calon mertuanya bekerja di sana.

Njoo Swie Goan adalah nama calon mertua Paul yang pertama kali mengajarinya ilmu fotografi. Njoo sendiri sebenarnya merupakan anggota Perhimpunan Amatir Foto (PAF), yaitu sebuah klub foto tertua di Indonesia yang hingga kini masih ada. Njoo terkenal dengan hasil karya fotonya yang berani tatkala merekam peristiwa keganasan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) dengan tokohnya Kapten Westerling yang terjadi di bandung pada bulan januari 1950. Berkat Njoo itulah, Paul muda dibekali kamera Leica III F yang menjadi kamera pertama miliknya untuk digunakan dalam meliput kegiatan KAA tahun 1955. Ia menyebutkan bahwa kamera Leica tersebut saat itu merupakan satu-satunya tustel yang kecil dan bisa menghasilkan frame dalam format panjang atau format panorama. Sayangnya, pada tahun 2000 kamera tersebut ia jual kepada seorang kolektor seharga ratusan ribu rupiah saja dan ditukar dengan beberapa lensa. Yang lebih mengenaskan adalah pada saat peringatan 30 tahun KAA pada tahun 1985, dimana ia kehilangan sejumlah karya foto KAA 1955 beserta negatif miliknya, yang dipinjam oleh seseorang dari pemerintah dan hingga kini tidak pernah dikembalikan dan tidak pernah jelas rimbanya. Kemudian malang kembali menimpanya, dimana semua album dan negatif foto yang dimilikinya, termasuk dokumentasi KAA 1955 ludes terbakar tatkala redaksi Pikiran Rakyat di Jalan Soekarno Hatta 147 Bandung mengalami musibah kebakaran pada tanggal 4 Oktober 2014. Beruntung ketika pada bulan April tahun 2005, sebagian file negatif miliknya telah disimpan dalam format file digital dan diselamatkan oleh beberapa sahabatnya untuk kemudian digunakan dalam Pameran 50 Tahun KAA. 

Namun ajaibnya ia masih tetap bisa tersenyum atas segala kejadian pahit yang menimpanya. Ia pun merasa bersyukur dalam hidupnya bahwa ia masih memiliki pengalaman yang menyenangkan hati. Salah satunya selama memotret kegiatan KAA 1955, tatkala seorang wartawan asing menjadikan pundaknya sebagai tripod atau penyangga kamera saat berada di bandara Hussein Sastranegara. Meskipun begitu ia tidak marah dan dengan senang hati melakukan hal tersebut demi solidaritas terhadap rekan seperjuangannya. Bila kita bayangkan peristiwa tersebut, barangkali momen itu adalah sebuah pemandangan langka yang jarang kita lihat dewasa ini.

Kiprah Paul Tedjasurja sebagai seorang pewarta foto sebenarnya sudah mulai tercium oleh berbagai media di jamannya. Terbukti ketika ia masih menyimpan dengan baik kliping dari sebuah majalah “Gembira” yang memuat profilnya pada tanggal 11 Februari 1956. Di dalam majalah tersebut, dimuat foto Paul muda yang terlihat sedang mengintip jendela pembidik kamera Leica miliknya. Dan di dalam majalah tersebut diberitakan seperti ini,

Memperkenalkan :

WARTAWAN FOTO KITA

Bagi penduduk kota Bandung dan sekitarnja ia sudah tjukup dikenal. Baik dikalangan djembel maupun dikalangan ningratnja. Atau bagi parapeladjari mahasiswa maupun diorganisasi bahkan sampai kepada kalangan Angkatan Perangnja.

Kemudian di bawah foto Paul Tedjasurya tertulis seperti ini,

Paul sedang beraksi ketika ada pertandingan poloair dipemandian Tjihampelas Bandung.

Lihat duduk seenaknja dispringlank jang paling atas, dan tjoba gojang sedikit sadja pangkal papan itu pasti ia akan terdjun kedasar pemandian.

Pun tjoba lihat persiapan jang selalu dibawanja kalau ia bertugas.

Toestel Leica dengan telelensanja dan resvre Super Ikonta tamabah satu tas berisi pilem2 dan lain jang diperlukan untuk melantjarkan kerdjanya.

Tahan tuh ………………………………………………………..

Lalu berita tentang Paul Tedjasurya tertulis seperti ini,

Sebab hampir pada tiap upatjara umum apa sadja atau pada kedjadian2 penting dia selalu muntjul dengan “sendjata”nja, untuk hilir mudik di tempat tsb. Guna “menembaki” sesuatunja jang dianggap djadi objek jang baik.

Itulah Sdr.Paul The jang selalu dipanggil oleh rekan wartawan lain dengan Bung Paul. Ia adalah wartawanfoto dari Preanger Studio Bdg, inklusip

wartawanfoto madjalah kita : “GEMBIRA”.

Makanja kalau selama ini Tuan atjap menemukan gambar2 jang tertera dihalaman madjalah kita ini, baik dihalaman tengah atau dihalaman lain jang tak bertanda, itu adalah hasil dari “tembakan2”nja.

Djadi wartafoto melelahkan sekali – katanja – dan kadangkala mendjemukan. Tjoba – katanja lagi – kalau sedang menghadiri suatu upatjara atau lain perajaan apa sadja, saja harus menunggu sampai babak terakhir. Beruntung kalau upatjara itu berdjalan dengan landjar, tapi paling mendjengkelkan kalau sudah djam karet jang dipergunakan dan ditambahi dengan pertelean yang bertele-tele. Kalau wartawan tulis bisa meninggalkan itu lalu esoknja bisa meminta berita selengkapnja, tapi bagi kami – wartawanfoto – hal ini tak mungkin, tertambah tak sampai hati meninggalkan upatjara itu atau lainnja sebelum habis.

Memang utjapan ini ada betulnja. Sebab tak djarang dia pulang larutmalam, kalau sudah menghadiri satu perajaan atau lainnja, jang mungkin termasuk upatjara jang memakai djam karet dan bertele-tele pula. Kadang lewat djam malam, sedang selalu pula ia pada siangnja hanja mengaso satu atau dua djam sadja. Malah tak djarang ia nonstop dari pagi sampai tengah malam terus2an tjetrak-tjetrek dengan alatnja. Bergantung dengan banyaknja undangan jang semua harus didatangi dan minta semua diabadikan.

Namun demikian Paul tidak pernah lelah kelihatan. Ia menjadari bahwa wartawan adalah trompet masjarakat. Abdi rakjat. Dan sama dimengerti bahwa wartawan tulis hanja bisa muat berita disuratkabar untuk dibatja, tapi tidak mendalam kesan akan sesuatunja kalau tidak ada gambar2nja.

Last but not least : bahwa wartawan fotolah jang paling berbahagianja diantara wartawan2 lainnja. Tjona sadja, kalau tiap menghadiri satu perajaan dll, baru sadja dia masuk sudah banjak – jang minta diopname walaupun simanusia itu bukan orang penting pada upatjara tsb. Dan jang begini ini sudah terang menimbulkan keirian pada wartawan2 tulis lainnja. (JW).

Meski Paul Tedjasurja sudah menjadi kontributor koran Pikiran Rakyat sejak tahun 1953, namun baru pada tahun 1985, ia secara resmi menjadi wartawan Pikiran Rakyat dan sejak saat itu telah mengabdi selama kurang lebih 20 tahun lamanya. Berkat dedikasinya terhadap PAF dan dunia fotografi pula, pada tahun 1997 bersamaan dengan HUT PAF ke-73, ia mendapat gelar kehormatan Honorary Perhimpunan Amatir Foto (Hon.PAF). Penghargaan ini diberikan oleh Dewan Pertimbangan Gelar PAF kepada Paul Tedjasurja yang bernomor anggota PAF 026, yang disaksikan oleh 217 anggota PAF yang hadir di Cisarua Lembang. Selain fotografi, ternyata ia pun memiliki hobi lain yaitu mengumpulkan perangko. Uniknya, ia menggabungkan kedua hobi antara fotografi dan mengumpulkan perangko ini yang sering disebut sebagai Foto-Filateli. Boleh jadi Paul Tedjasurja adalah orang pertama di Indonesia yang memadukan obyek foto dengan filateli dan autogram. Karenanya sebelum KAA berlangsung, ia pun sudah memotret Gedung Merdeka sebagai tempat berlangsungnya konperensi tersebut. Bertepatan dengan pembukaan konperensi, pihak Pos & Giro (Pos Telepon dan Telegram / PTT pada waktu itu), menerbitkan perangko seri KAA. Kemudian Paul pun membeli beberapa edisi perangko tersebut, untuk kemudian ditempelkan di belakang foto Gedung Merdeka yang telah ia persiapkan sekaligus meminta stempel hari pertama kepada petugas PTT setempat. Foto perangkonya ini tentunya memiliki nilai lebih dibandingkan dengan sampul hari pertama (first day cover) yang biasa. Tak heran bila Paul dapat membiayai kuliah anaknya di Universitas Katolik Parahyangan berkat menjual koleksi perangkonya tersebut.

Paul Tedjasurja saat ini tinggal dan menetap di sebuah rumah sederhana nan nyaman yang terletak di Komplek Kopo Permai Bandung. Hidup damai bersama istri tercintanya Nyonya Herawati, seolah dibuktikan di dalam kartu namanya yang tertulis nama Paul Tedjasurja dan istri. Ia pun telah dikarunia 3 orang anak dan saat ini telah menjadi kakek dari 6 orang cucu yang dimilikinya. Meski usianya kini genap 85 tahun, namun tubuhnya masih tampak sehat dan daya ingatnya pun masih cukup tajam. Sekarang dan selamanya, Paul Tedjasurja adalah sebuah contoh sejati bagi pewarta kesetiaan. Nama dan karyanya akan selalu hidup dan menjadi berkat abadi dalam peradaban fotografi kita. Dengan pengantaraan cahaya yang menerangi Paul Tedjasurja, marilah kita selalu mengenangkannya dalam laku dan sikap kita.

Sumber Tulisan
Wawancara dengan Paul Tedjasurya. Bandung, 25 Maret 2015.
– Media Indonesia. 25 April 2005. “Semangat Paul Setelah 50 Tahun”.
Suara Pembaharuan. 20 April 2005. “Paul Ingin Hadir di Gedung Merdeka”.
– Pikiran Rakyat. 18 April 2005. “Jepretan Om Paul Abadikan KAA 1955”. 
– Kompas. 18 September 1996. “Paul Tedja Surya : The Public Eye”. 
– Majalah Fotomedia. Februari 1995. “Paul Tejasurya : Wartawan Foto Dari Kota Kembang”. 
– Majalah Gembira. 11 Pebruari 1956. “Wartawan Foto Kita”. 

@galihsedayu | bandung, 25 maret 2015

 paul tedjasurya

paul tedjasurya

paul tedjasurya

paul tedjasurya

paul tedjasurya

paul tedjasurya

paul tedjasurya

paul tedjasurya

paul tedjasurya

Copyright (c) 2015 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Nyanyian Pemersatu Dari Lubuk Hati Soeria Disastra

leave a comment »

Teks & Foto oleh galih sedayu

Umurnya sudah genap berusia 72 tahun, namun tubuhnya masih kelihatan tegap dan perawakannya pun masih tergolong sehat dan bugar. Meski rambutnya sudah mulai memutih, namun raut wajahnya masih memancarkan keramahan yang menghangatkan. Penampilannya sangat sederhana, dengan kemeja tangan pendek bermotif garis lurus serta celana panjang berbahan kain yang dikenakannya. Teh hangat yang langsung dituangkan olehnya sendiri ke dalam gelas-gelas kecil serta suguhan pisang yang diberikan, menjadikan bukti bahwa betapa baiknya manusia satu ini. Itulah sosok seorang Soeria Disastra, tatkala saya dan beberapa teman berkesempatan menyambangi rumah sekaligus toko peralatan musik miliknya yang terletak di Jalan Kepatihan No.61 Bandung. Soeria Disastra adalah seorang tokoh Tionghoa yang kerap disebut sebagai “seniman pemersatu”. Ia sangat menyukai sastra, yang sekaligus digunakan olehnya sebagai jembatan untuk menyambungkan berbagai perbedaan budaya. Kesusastraan Tionghoa, Sunda & Indonesia dilebur olehnya menjadi sebuah entitas penting dalam upaya mempersatukan keberagaman. Beratus-ratus puisi dan puluhan prosa telah ia terjemahkan ke dalam berbagai macam bahasa serta menerbitkannya ke dalam sejumlah buku. Diantaranya Antologi Prosa & Puisi, “Senja di Nusantara” (2004), Terjemahan Puisi Baru Tiongkok “Tirai Bambu” (2006), dan sebuah buku berbahasa Tionghoa yang berjudul “Tak Pernah Aku Melihat Bulan” (2010). Karena jejak-jejak karya yang lahir darinya, ia pun terpilih sebagai salah satu dari sepuluh finalis Danamon Awards pada tahun 2010, yakni sebuah ajang penghargaan bagi tokoh-tokoh yang dianggap penting dalam gerakan kemanusiaan di bumi pertiwi.

Dalam pertemuan tersebut, Soeria banyak bercerita perihal berbagai pengalamannya waktu kecil. Salah satu yang menarik adalah peristiwa yang ia alami ketika masih duduk di bangku sekolah menengah dasar. Kala itu ia bersama seorang temannya, sedang bermain di area sekitar gedung merdeka Kota Bandung. Meski momen itu bertepatan dengan penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) pada tahun 1955, Soeria kecil melihat bahwa suasana pada saat itu tidaklah begitu ramai. Kemudian ia menuturkan bahwa saat itu pula ia bertemu secara tidak sengaja dengan Chou En Lai, yakni Perdana Mentri Republik Rakyat Tiongkok yang sedang berjalan ditemani oleh para pengawalnya di sekitar Gedung Merdeka. Karena Nama Chou En Lai begitu sangat populer dan sering diajarkan di sekolah-sekolah Tionghoa, Soeria pun langsung mengenali sosok perdana mentri tersebut dan dengan serta merta memanggil nama Chou En Lai. Menurut Soeria, saat itu Chou En Lai hanya menengok ke arahnya sekejap dan kemudian kembali berjalan bersama para pengawalnya. Meski peristiwa itu hanya berlangsung singkat, namun ingatan tersebut masih membekas hingga kini di dalam kepala seorang Soeria Disastra.

Soeria Disastra lahir dan menetap di Kota Bandung meskipun seringkali ia berpindah-pindah tempat. Ia banyak mengeyam pendidikan di sekolah-sekolah Tionghoa dari mulai tingkat sekolah dasar, menengah hingga umum. Karena minatnya yang tinggi terhadap budaya dan bahasa, ia pun akhirnya memilih kampus Akademi Bahasa Asing (ABA) di Jalan Cihampelas Bandung yang sekarang namanya menjadi Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA). Setelah lulus kuliah, ia mulai fokus untuk mengelola usaha pribadi yang digelutinya sampai saat ini. Ia pun turut aktif dalam Komunitas Sastra Tionghoa Indonesia dan mengelola Paduan Suara Kota Kembang yang sejak dulu didirikan. Kini, Soeria tengah membantu penyusunan buku sejarah yang akan dibuat dalam rangka memperingati Konferensi Asia Afrika yang ke-60 tahun. Bahkan ia pun sengaja menciptakan lirik lagu yang berjudul “Bangkit dan Terbang Asia Afrika” sebagai salah satu persembahan yang diberikan olehnya bagi warga Kota Bandung dan bangsa Asia Afrika. Soeria berharap bahwa nilai-nilai Dasa Sila Bandung yang telah dihasilkan dari Konferensi Asia Afrika tahun 1955, dapat diterapkan dan dilaksanakan dengan baik oleh kita semua. Ia pun sangat menaruh harapan bahwa Bandung dapat menjadi simbol pemersatu bangsa Asia Afrika meski dengan berbagai perbedaan budaya. Bila Kota Jakarta adalah ibukota negara Indonesia, namun Bandung adalah ibukota Asia Afrika. Tentunya tanggung-jawab besar itu mesti kita pikul bersama. Karena sesungguhnya kekuatan Bandung itu adalah Kolaborasi yang menjadi Aksi.

@galihsedayu | Bandung, 23 Maret 2015

soeria disastra

soeria disastra

sorie disastra

Copyright (c) 2015 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

March 24, 2015 at 4:31 am

Jembatan Baru Antara Bandung dan Badan Ekonomi Kreatif Indonesia

leave a comment »

Sebuah catatan kecil dari acara jorowok bdg (ngobrol santai “ekonomi kreatif sebagai daya kompetitif kota-kota dunia” bersama triawan munaf dan ridwan kamil) di simpul space BCCF

Teks oleh galih sedayu | Foto oleh Sandhana Andrio & Dudi Sugandi

Simpul Space, sebuah ruang jejaring komunitas yang dikelola oleh Bandung Creative City Forum (BCCF), kala itu terlihat ramai dan penuh sesak dipenuhi berbagai komunitas yang hadir dalam acara Jorowok Bdg. Tepatnya pada hari sabtu tanggal 21 Februari 2015, ratusan individu terlihat menyeruak hingga memadati Simpul Space BCCF sejak pukul satu siang. Acara rutin Jorowok Bdg yang diinisiasi oleh BCCF tersebut kali ini memang berbeda, dimana narasumber yang diundang adalah Kepala Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Triawan Munaf dan Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil. Adapun topik yang dibahas dalam acara ngobrol santai saat itu adalah “Ekonomi Kreatif Sebagai Daya Kompetitif Kota-Kota Dunia”.

Acara akhirnya baru dimulai sekitar pukul setengah empat sore. Selain Triawan Munaf & Ridwan Kamil, terlihat beberapa tokoh kota bandung seperti Ipong Witono, Aat Soeratin, Hari Pochang, Irvan Noeman dan Taufik Hidayat Udjo turut meramaikan acara tersebut. Sebelum acara dimulai, seperti biasa lagu wajib Indonesia Raya berkumandang yang dinyanyikan oleh semua orang yang berada di sana. Setelah itu suguhan apik dari Saung Angklung Udjo berupa “Grand Angklung” dimainkan oleh Wildan, seorang pemain angklung pria sembari berduet harmonis dengan Eya Grimonia, seorang pemain biola wanita. Kemudian persembahan kedua dilanjut berupa penampilan kabaret dengan tema “World of Culture” dari siswa siswi SMA 11 yang tergabung di komunitas Forum Kabaret Bandung. Lalu setelah itu, video profil motion graphic tentang program BCCF pun ditampilkan di hadapan para pengunjung. Dan sesudahnya, wakil ketua BCCF sekaligus direktur Helarfest, Tegep Octaviansyah atau yang lebih beken disebut Tegep Boots menyampaikan paparannya mengenai rangkaian festival kota demi memeriahkan 60 tahun perayaan Konferensi Asia Afrika (KAA) pada bulan april 2015 nanti.

Setelah semua seremoni selesai, acara utama Jorowok Bdg pun dimulai yang dimoderatori oleh direktur program BCCF, galih sedayu. Pada kesempatan pertama, Triawan Munaf memaparkan cerita perihal pembentukan Badan Ekonomi Kreatif. Triawan mengatakan bahwa ia dipilih langsung oleh “Rembug Kreatif”, sebuah kelompok yang terdiri dari para pelaku dan jejaring industri kreatif di Indonesia. Bila melihat riwayat hidupnya, Triawan Munaf lahir di kota Bandung pada tanggal 28 November 1958 yang silam. Di awal karirnya, ia sempat tergabung dengan sebuah band asal Bandung yang bernama “Giant Step”. Setelah itu ia mulai berkarir secara profesional di dunia periklanan. Triawan Munaf sendiri dilantik oleh Presiden Jokowi pada tanggal 26 Januari 2015 berdasarkan Keputusan Presiden No. 9/P Tahun 2015.

Dalam presentasinya, Triawan Munaf menyebutkan bahwa visi dari Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia adalah “INDONESIA menjadi salah satu kekuatan utama dunia dalam Ekonomi Kreatif di tahun 2030”. Triawan juga menyebutkan bahwa misi dari Badan Ekonomi Kreatif ini yaitu 1) Menyatukan seluruh aset dan potensi kreatif Indonesia untuk mencapai ekonomi kreatif yang mandiri ; 2) Menciptakan iklim yang konduksif bagi pengembangan industri kreatif ; 3) Mendorong inovasi di bidang kreatif yang memiliki nilai tambah dan daya saing di dunia internasional ; 4) Membuka wawasan dan apresiasi masyarakat terhadap segala aspek yang berhubungan dengan ekonomi kreatif ; 5) Membangun kesadaran dan apresiasi terhadap hak kekayaan intelektual, termasuk perlindungan hukum terhadap hak cipta ; 6) Merancang dan melaksanakan strategi yang spesifik untuk menempatkan Indonesia dalam peta ekonomi kreatif dunia.

Badan Ekonomi Kreatif ini sendiri bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Dimana Kepala Badan Ekonomi Kreatif ini membawahi Wakil Kepala, Sekretaris, dan beberapa Deputi yang terdiri dari Deputi Riset, Edukasi & Pengembangan ; Deputi Akses Permodalan ; Deputi Infrastruktur ; Deputi Pemasaran & Internasional ; Deputi HKI & Penegakan Hukum Karya Indonesia ; serta Deputi Hubungan Antar Lembaga & Wilayah. Kemudian para Deputi ini membawahi sebuah Team (War Room) yakni perwakilan dari 11 group sub sektor yang terdiri dari 33 s/d 55 orang. Agar program yang dijalankan oleh Badan Ekonomi Kreatif ini lebih fokus dan terarah, maka dari 16 sub sektor industri kreatif yang ada di Indonesia, akan diprioritaskan terlebih dahulu kepada sub sektor industri yang termasuk ke dalam program “Inisiatif Strategis” yaitu Film, Aplikasi Digital, Musik (FAM) serta sub sektor industri kuliner dengan jargonnya Rasa Indonesia Mendunia dan craft (kerajinan tangan) dengan jargonnya Kriya Indonesia Mendunia. Sedangkan untuk program “Infrastruktur”, akan lebih difokuskan kepada Pusat Data & Aset ; Pusat Logistik ; Pilot Project “Kota Kreatif” ; Sosialisasi Lembaga Manajemen Kolektif ; Pusat Pertunjukkan ; serta Pusat Permodalan Ekonomi Kreatif. Kemudian untuk program “Event”, yang menjadi prioritas adalah event Asian Games 2018 dan World Craft Festival. Ada berita baik yang disampaikan oleh Triawan Munaf pada acara Jorowok Bdg. Ia mengatakan bahwa saat ini yang namanya ide atau gagasan kreatif dapat dijadikan agunan untuk memperoleh modal. Meski demikian mekanismenya masih belum disusun secara tuntas. Dalam kesempatan tersebut, Triawan Munaf mengatakan bahwa Badan Ekonomi Kreatif sangat memerlukan kolaborasi Bandung beserta komunitasnya untuk menjalankan program-programnya terutama di program Pilot Project “Kota Kreatif”.

Sementara dalam acara Jorowok Bdg tersebut, Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil memaparkan perihal “Managing Bandung” yang dijabarkan melalui 3 hal utama yakni Innovation, Decentralisation dan Collaboration. Ia mengatakan bahwa Bandung berencana membangun “Creative Centre” dan “Innovative Centre” demi mendukung pengembangan ekonomi kreatif Indonesia. Dalam hal ini, rencana tersebut terpacu kepada Thailand Creative & Design Centre (TCDC) yang sudah ada di negara Thailand. Meski Thailand sudah selangkah lebih maju dari Indonesia, namun Ridwan Kamil mengatakan bahwa “kita tidak perlu kuatir, tapi kita harus mampu mengejar Thailand di pengkolan”, begitu ucapnya sambil bercanda. Creative Centre ini merupakan sebuah gedung bertingkat yang terdiri dari berbagai ruang yang diperuntukkan bagi komunitas, perpustakaan, kelas, toko yang menjual produk kreatif bandung, cafe, dan lain sebagainya. “Ground Breaking” gedung yang terletak di Jalan Laswi (sebelah rumah makan bumbu desa) ini rencananya akan dilakukan pada bulan April 2015 nanti. Karenanya ia berharap agar Presiden Jokowi dapat hadir untuk melihat salah satu contoh pembangunan Creative Centre yang baru pertama kali ada di Indonesia. Setelah pembangunan Creative Centre selesai, ia akan melanjutkan pembangunan Innovative Centre, yang berfungsi sebagai workshop atau laboratorium bagi para pelaku industri kreatif di kota bandung.

Selain itu Ridwan Kamil memperlihatkan slide perihal rencana pembangunan kawasan Bandung Technopolis di daerah Gedebage, yang akan menjadi sebuah kota baru di masa mendatang. Ia pun menyebutkan bahwa rencana yang telah dibuat olehnya bukanlah sebuah “mimpi” melainkan “visi”. Ia mengatakan perbedaan antara mimpi dan visi adalah bahwa mimpi itu masih sebatas angan-angan atau keinginan saja sedangkan visi adalah mimpi yang dipersiapkan dan dijalankan. Oleh karenanya ia pun sempat berujar bahwa batas kreativitas adalah imajinasi. Imajinasi inilah yang diharapkan dapat menjadi bahan bakar bagi perkembangan industri kreatif. Di akhir presentasinya, Ridwan Kamil mengatakan bahwa Bandung sangat siap dan terbuka untuk berkolaborasi dengan Badan Ekonomi Kreatif untuk membantu mewujudkan cita-cita demi mengembangkan ekonomi kreatif Indonesia.

Melihat hal ini semua, sudah semestinya kita patut memberikan kepercayaan penuh kepada Badan Ekonomi Kreatif yang saat ini dipimpin oleh Triawan Munaf, untuk menjalankan program-programnya ke depan. Setelah Trust ini terbentuk, hendaknya lah “kolaborasi” bahkan “kolaborasa” dapat terjalin agar ekonomi kreatif di Indonesia dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Connection, Collaboration, Commerce. Kira-kira begitulah kata kunci untuk meraih cita-cita mulia ekonomi kreatif Indonesia. Akhir kata, tangan & hati Bandung selalu terbuka untuk membuktikan mimpi yang kini menjadi visi tersebut, sehingga karya dan jejak terbaik akan selalu dapat ditorehkan dengan manis ke dalam peradaban ekonomi kreatif Indonesia.

@galihsedayu | Bandung, 21 Februari 2015

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

jorowok bdg rk & tm

Copyright (c) 2015 by bccf
All right reserved. No part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from writer & photographer.

Benua Komunitas Kota Bandung

leave a comment »

Tulisan : galih sedayu

Society as a whole is mainly responsible. And society as whole should pay the cost”
– Henry S. Churchill (The City is the People) 

Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is ge-bouwd!” (Coba usahakan, bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota!), begitulah sabda yang keluar dari mulut seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang bernama Daendels, tatkala ia menyambangi sebuah dusun yang tadinya sepi, namun kini sim salabim ala kadabra menjadi sebuah kota nan ramai yang bernama Bandung. Kejadian bersejarah ini tepatnya terjadi pada tahun 1810, saat Daendels yang menjadi penguasa nusantara kala itu sedang berjalan kaki dengan ditemani oleh Bupati Bandung Wiranatakusumah II. Tongkat kayu yang ditancapkan oleh seorang Daendels seraya menyerukan perintah di sebuah tempat yang kini dikenal sebagai Tugu Nol Kilometer di Jalan Asia Afrika Bandung, seolah menjadi sebuah simbol kelahiran dan saksi bisu berdiri tegaknya Kota Bandung. Hingga kini, perubahan pun selalu hadir dalam raga Kota Bandung. Bahkan sepertinya telah dinubuatkan oleh para sesepuh sunda sesuai dengan “cacandran” (tanda-tanda jaman) dalam “Uga Bandung” (ramalan bandung) yang menyebutkan bahwa “Bandung heurin ku tangtung(bandung padat penduduknya). Namun yang menarik selama perkembangannya, predikat yang melekat erat dalam tubuh Kota Bandung adalah sebagai Kota Kreatif. Bila menelusuri sejarahnya, ternyata citra kota kreatif tersebut tidak bisa dilepaskan dari kekuatan komunitas yang menjadikan Kota Bandung bisa seperti sekarang ini.

Perubahan tentunya menggerakkan kekuatan warga yang semula diam. Setelah tetuah Daendels, pembangunan Kota Bandung terus berlanjut dan roda perekonomian pun semakin berputar. Apalagi setelah jalur kereta api singgah di bandung pada tahun 1884, sejumlah toko terus menghuni di sepanjang Groote-Postweg (Jalan Asia Afrika dan Jalan Sudirman sekarang). Dari mulai Toko “De Vries”, Toko “Oey Boen”, Toko “Ziekel”, Toko “Salomon & Son”, Toko “Thiem” dan Toko “Baqiu”. Nama Kota Bandung pun semakin harum tatkala menjadi tuan rumah kehormatan sebuah acara bergengsi yakni “Kongres Pengusaha Gula” seluruh Hindia Belanda pada tahun 1896. Sehingga para delegasi kongres tersebut kala itu menjuluki bandung dengan sebutan “De Bloem der Indische Bergsteden” (Bunganya Kota Pegunungan di Hindia Belanda). Barangkali itulah sebabnya muncul istilah “Bandung Kota Kembang” yang masih dipuja hingga kini.

Pada akhir abad XIX, Kota Bandung diatur oleh dua orang nahkoda. Untuk roda pemerintahan yang menyangkut kepentingan warga Kota Bandung dari bangsa pribumi ditangani oleh seorang Bupati atau “Dalem” Bandung. Sedangkan roda pemerintahan yang menyangkut kepentingan bangsa Belanda dan Timur Asing (Cina, Arab & India) ditangani oleh seorang Asisten Residen Priangan yang kala itu dijabat oleh Tuan Pieter Sijthoff. Pada tahun 1898, Pieter Sijthoff mengajak warga kotanya untuk mendirikan sebuah perkumpulan yang bernama “Vereeniging tot Nut van Bandoeng en Omstreken” (Perkumpulan Kesejahteraan Masyarakat Bandung dan Sekitarnya). Berkat bantuan perkumpulan ini, pembangunan Kota Bandung di bidang pendidikan, sosial, kebudayaan mulai dilaksanakan dengan tujuan agar dapat meningkatkan kesejahteraan Kota Bandung yang pada sekitar tahun 1900 hanya memiliki penduduk sekitar 28.963 jiwa. Sehingga dalam perjalanan panjangnya Kota Bandung memperoleh statusnya sebagai Gemeente (Kotapraja) pada tanggal 1 April 1906.

Meski setelah itu Kota Bandung dikelola oleh Gemeente Bandung, namun Perkumpulan Kesejahteraan Masyarakat Bandung dan Sekitarnya masih tetap membantu dan mendampingi pemerintah kota. Hanya saja namanya berubah menjadi “Comite tot Behartiging van Bandoeng’s Belangen” (Komite Guna Mengurus Kepentingan Kota Bandung). Perlahan namun pasti, ternyata perkumpulan ini berhasil menumbuhkan Bandung dari “een kleine bergdessa” (sebuah desa pegunungan kecil), lalu menjadi “kottaje” (kota mungil) dan kemudian menjadi kota besar dengan julukan “Parijs van Java”. Pada kurun waktu sekitar tahun 1920, “Komite Guna Mengurus Kepentingan Kota Bandung” telah mampu melepaskan diri dari pemerintah kota dan berdiri mandiri sebagai perkumpulan swasta dengan nama “Bandoeng Vooruit” (Bandung Maju). Organisasi Bandung Maju ini bermitra dengan pemerintah demi membangun kotanya. Dan seperti layaknya sebuah kota, perayaan selalu menjadi simbol dari hasil pembangunan kota. Mulai tahun 1920, Kota Bandung memiliki perayaan pesta tahunan “Jaarbeurs” (Bursa Tahunan) di setiap bulan Juni-Juli yang berupa atraksi wisata, pameran produk industri maupun pertanian, festival seni budaya dari seluruh penjuru nusantara.

Pada tahun 1923, ada sebuah terobosan baru di bidang teknologi komunikasi dimana orang bisa melakukan pembicaraan dengan Radio Telefoni. Sehingga seorang Belanda di Bandung bisa langsung mengobrol dengan sanak saudaranya di Holland. Tentunya kemajuan Kota Bandung pun semakin pesat dengan adanya penemuan tersebut. Namun yang menariknya sebenarnya muncul sebuah kisah yang mengharukan pasca penemuan radio telfoni tersebut. Alkisah ada seorang ibu tua di Belanda yang sangat merindukan putra tunggalnya yang sedang berada di Indonesia (Nusantara). Setelah berhasil menabung selama setahun, ibu tua tersebut akhirnya mampu membayar ongkos percakapan radio telefoni itu selama 3 menit. Saat tersambung dengan anaknya, ibu tua tersebut tiba-tiba terdiam terpaku dan hanya sempat mengucap “Anakku sayang, aku amat rindu padamu”. Dan kemudian sambungan telefon itu pun terputus karena waktunya telah habis. Kisah inilah yang mengilhami seorang komponis untuk menciptakan lagu yang berjudul “Hallo Bandoeng” yang dinyanyikan oleh Willy Derby penyanyi terkenal jaman itu.

Sejak tanggal 1 Oktober 1926, Kota Bandung tidak lagi dipimpin oleh seorang Asisten Residen karena perubahan status Kota Bandung dari “Gemeente” menjadi “Stadsgemeente” berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Pimpinan kota akhirnya dipegang oleh seorang “Burgemeester” (Walikota). Tercatat sejumlah nama walikota Bandoeng Tempo Doeloe yang pernah memimpin yakni B. Coops, S.A. Rietsma (Pjs.), Ir. J. E. A. von Wolzogen Kuhr, Mr. J.M. Wesselink dan N. Beets. Saat N. Beets menjadi Walikota Bandung, pada tahun 1937 ia melakukan kampanye yang masif untuk mempromosikan Kota Bandung. Saat itu Walikota N. Beets berseru kira-kira seperti ini “Wahai warga Bandung, bantulah untuk memajukan kota kita. Seluruh warga harus mau ikut membantu dan berpartisipasi dalam mempromosikan Bandung. Ada berbagai macam cara antara lain dengan menceritakan Kota Bandung melalui surat dan tulisan. Agar setiap saat, semua orang yang datang selalu mengingat akan kecantikan alam Kota Bandung yang sejuk, permai dan menakjubkan”.

Setelah itu komunitas Bandung Maju pun turut dan gencar melakukan promosi Kota Bandung hingga ke seluruh pelosok nusantara bahkan manca negara melalui majalah “Mooi Bandoeng” (Bandung Permai). Makanya tak heran bila pada tahun 1938, Perdana Menteri Perancis George Clemenceau serta bintang film Charlie Chaplin dan Paulette Goddard pernah menyambangi Kota Bandung. Bahkan dalam kurun waktu tersebut, sejarah mencatat nama-nama artis, budayawan, ilmuwan, negarawan dam musikus kelas dunia seperti Godowsky, Vera Janacopoulus, Arthur Zimbalist, Paul Weingarten, Kindler, Tansman, Friedmann, Brailowski, Smeterlin, Feuerstein, Szigeti, Jose Iturbi, Heifetz, Rubinstein, Hubermann, Platigorski, Slobotskaja, Segovia, Lili Krauss, Szymon Goldberg, Nicolai Orloff, Marechal, Eugina Wellerson, Lola Bobesco, de Sakharofs, Chenkine, Anna el Tour dan Ruth Draper. Pada tahun 1941, tercatat ada sekitar 200.000 wisatawan yang mengunjungi Kota Bandung yang saat itu populasi penduduknya sekitar 226.877 jiwa. Sebanyak lima juta gulden pun diraup oleh bandung pada masa itu hanya dari sektor pariwisata saja. Karenanya, banyak ungkapan yang lahir pada zaman gerakan komunitas Bandung Maju ini. Misalnya saja ungkapan Kota Bandung yang berbunyi Bandoeng is het paradijs der aardsche schoonen. Daarom is het goed daar te wonen” (Bandung adalah sorga permai di atas dunia. Itulah sebabnya, baik untuk bermukim di sana) serta ungkapan “Don’t come to Bandoeng, if you left a wife at home”. Dari sejarah singkat perihal perkembangan Kota Bandung di masa kolonial ini, kita dapat melihat bagaimana sebenarnya peran berharga sebuah komunitas atau perkumpulan yang ditunjukkan oleh “Bandoeng Vooruit” (Bandung Maju) dalam membangun kotanya sehingga pada akhirnya secara tidak langsung mereka ikut berkontribusi terhadap perkembangan ekonomi Kota Bandung.

Lain dulu lain sekarang tentunya bila melihat wajah Kota Bandung. Namun sesungguhnya ada yang tidak pernah berubah sejak dulu bila berbicara perihal Kota Bandung. Ialah kehadiran komunitas yang selalu ada dalam menggerakkan Kota Bandung. Di era milenium kedua, Kota Bandung memiliki segudang komunitas dengan latar belakang dan disiplin yang berbeda. Tentunya sangat lah sulit untuk memetakan satu persatu apa saja komunitas yang mendiami Bandung saat ini. Namun bila kita melakukan pengamatan dari simpul komunitas-komunitas tersebut, barangkali nama Bandung Creative City Forum (BCCF) bisa menjadi salah satu acuan pemetaan komunitas Bandung. BCCF sendiri lahir pada akhir tahun 2008 dan merupakan perkumpulan komunitas pertama di Indonesia yang mengusung semangat kreativitas demi membangun kotanya. Lewat sebuah festival kota yang bertajuk “Helarfest”, berbagai komunitas yang tadinya berjalan masing-masing kini mulai bergandengan tangan dan bersatu. Barangkali benarlah adanya pepatah yang mengatakan bahwa “sebatang anak panah akan mudah dipatahkan, tetapi tidak demikian halnya apabila mereka terikat erat menjadi satu”. Setelah Helarfest tersebut, geliat perkembangan komunitas di Kota Bandung pun semakin semarak.

Karena prinsip 3C (Conection, Collaboration, Commerce) adalah kata kunci yang dipercaya ampuh untuk membangun Kota Bandung, maka pola sinergitas Quadro Helix (Academic, Goverment, Bussiness, Community) diterapkan oleh BCCF dalam menjalankan semua programnya. Tercatat sudah nama-nama komunitas, jejaring & pelaku kreatif baik yang hanya bersinggungan maupun telah berkolaborasi secara nyata seperti Agritektur, Air Foto Network, Airplane Systm, Aisec Bandung, Akademi Berbagi Bandung, Amygdala, Bandung Beatbox, Bandung Berkebun, Bandung Blues Society, Bandung Cycle Chic, Bandung Foodtruck, Bandung High Tech Valley, Batik Fractal, Bandung Heritage, Bandung Hobbies, Bandung Kayak Community, Bandung Street Dancer, Barudak Urban Light (BULB) Bandung, Bengkel Kostum, Bidik Photography, Bike Bdg, Bikers Brotherhood, Boeminini, Btari, Culindra, C-Gen, Common Room, Conture, Design Hub, Doku, Ecoethno, Embarra Film, Epik, Fight Bdg, Forum Kabaret Bandung, FOWAB, Glintz, Growbox, Happy Farmer (Supported by JKMP4), House The House, Indorunners Bandung, J-Batik, Jendela Ide, Labo Mori, Kampung Kreatif Cicadas, Kampung Kreatif Cicukang, Kampung Kreatif Dago Pojok, Kampung Kreatif Leuwianyar, Kampung Kreatif Linggawastu, Kampung Kreatif Pasundan, Kampung Kreatif Taman Sari, Kampung Kreatif Pulosari, Karang Taruna Bandung, Keroncong Merah Putih, Komikara, Komunitas Action Figure Bandung, Komunitas Anti Rokok, Komik CAB, Komunitas Cika-Cika, Komunitas Diet Kantong Plastik, Komunitas Diffable Bandung, Kelas Inspirasi Bandung, Komunitas Egrang STSI, Komunitas Hijabers Bandung, Komunitas Hoong, Komunitas Jeprut Bandung, Komunitas Karinding, Komunitas Layar Kita, Komunitas Lempar Pisau (Lempis) Bandung, Komunitas Kuncup Padang Ilalang (KAIL), Komunitas Taboo, Kravity, Kriya Nusantara, Levitasi Hore Bandung, Mahanagari, Mahidara, Media Wave, Ngadu Ide, Parkour Bandung, Pensil Kertas, Perhimpunan Amatir Foto (PAF), Peta Kita, Picu Pacu, Pita, Pori Keramik, ProCodeCG, Riset Indie, Rumah Cemara, Ruang Film Bandung, Rumah Nusantara, Robot Hijau, Sahabat Kota, Sanggar Olah Seni (SOS) Babakan Siliwangi, Sanggar Origami Indonesia, Sembilan Matahari, Sindikat Kuliner, Studio Keramik 181, Taman Foto Bdg, Taskuni, Tarung Drajat Bandung, Tedx Bandung, Tegep Boots, Tinker Games, Urban Jedi Bandung, Waningadoe, Wanna Be Dancer, Warung Imajinasi, Wayang Tavip, Woodka, YPBB Bandung, Y-Plan Bdg dan Yayasan Pilar Peradaban. Masing-masing komunitas ini tentunya menciptakan sejarah dan menjadikan kitab peradaban tersendiri bagi Kota Bandung.

Banyak jejak yang telah direkam tatkala komunitas kreatif bandung ini bergerak dan berkarya demi memuliakan kotanya. Salah satunya ketika mereka hadir untuk mengaktivasi “Hutan Kota Dunia Babakan Siliwangi” sebagai bagian dari gerakan mengembalikan ruang publik kepada empunya yakni warga bandung. Saat itu, hutan tersebut telah dikelola oleh sebuah perusahaan yang akan segera menyulapnya menjadi kawasan dan ruang-ruang komersil. Alhasil berbagai gempuran melalui cara-cara kreatif pun muncul demi mempertahankan hutan babakan siliwangi tersebut dari keserakahan penguasa. Dari mulai mengelupas aspal jalan & menanaminya dengan pepohonan, mendesain & membangun jembatan gantung (forest walk), membuat sebuah konser musik & permainan laser (lightchestra), hingga membuat mural kolektif di setiap pagar seng yang menutupi hutan kota satu-satunya yang ada di bandung tersebut. Namun akhirnya, perjuangan ini tidaklah sia-sia. Pada tahun 2013, hutan kota dunia babakan siliwangi secara resmi dikembalikan kepada pemerintah kota dan warga bandung.

Jejak lain yakni tatkala komunitas sahabat kota membuat kegiatan yang bertajuk “Riung Gunung” berupa edukasi bagi anak-anak berusia 8 s/d 11 tahun untuk melihat Kota Bandung di masa depan. Sekitar 40 orang anak yang berpartisipasi dalam kegiatan ini diajak untuk berkeliling Kota Bandung selama 6 hari lamanya untuk melihat segala permasalahan yang ada. Mereka mengunjungi pasar tradisional, tempat penampungan sampah, rumah sakit, taman kota, terminal, dan lain-lain. Di hari ke-7 mereka diwajibkan untuk memberikan ide dan solusinya dalam menyelesaikan permasalahan Kota Bandung yang dituangkan melalui maket-maket yang dibuat sendiri. Kemudian maket kreasi anak-anak tersebut dipamerkan di Selasar Sunaryo sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap publik. Mereka pun wajib untuk memperagakan hasil pemetaan masalah berikut solusinya dengan cara “Fun Theory” sembari bermain dalam sebuah pentas di hadapan pengunjung.

Kemudian ada jejak satu lagi yang diinisiasi oleh komunitas “Riset Indie” berupa drama pembajakan angkot bandung. Riset Indie mencanangkan sebuah hari dimana angkot gratis, tertib, aman, nyaman dan tidak ngetem. Angkot Day merupakan bagian dari sebuah proyek penelitian yang bertujuan untuk mencoba mencari alternatif model bisnis industri angkot yang lebih sustainable, agar angkot bisa kembali berjalan baik sehingga mampu menjadi solusi permasalahan Urban Mobility di Kota Bandung. Pada program eksperimen Angkot Day ini, Riset Indie melakukan pengumpulan data melalui kuesioner dan survey kualitatif untuk kemudian diolah sehingga dapat ditindaklanjuti secara lebih permanen. Harapannya bahwa program ini dapat menularkan ide bahwa tatkala manajemen angkot dijalankan dengan baik & tepat, pada akhirnya mampu menghasilkan moda transportasi umum yang nyaman, aman, tertib serta menjadi solusi alternatif kemacetan lalu-lintas di Kota Bandung. Barangkali dalam bahasa sederhananya adalah sebentuk upaya meningkatkan derajat dan memberikan value bagi angkot di Kota Bandung. Kala itu lebih kurang 200 unit angkot dengan jurusan kelapa – dago diberi stiker khusus program Angkot Day. Semua penumpang yang menggunakan angkot jurusan kelapa-dago pada hari itu digratiskan. Namun para penumpang diberikan syarat agar mereka harus tersenyum, ramah, memberhentikan angkot pada tempatnya dan mengisi kuesioner yang diberikan oleh panitia. Pada hari itu pula, supir angkot diwajibkan untuk tidak mengetem, tidak boleh merokok, tidak boleh menyetir ugal-ugalan, serta mesti menghadirkan keramahan kepada para penumpang. Sebagai gantinya, biaya bensin, biaya setoran & biaya tarif angkot akan ditanggung oleh pihak penyelenggara yang baik hati. Inilah sebenarnya gerakan kreatif yang dimiliki oleh komunitas bandung.

Tak heran bila daya komunitas Bandung inipun sempat menyihir para pemimpin untuk bertatap muka langsung dengan mereka karena keingin-tahuannya. Dari mulai Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, Menteri Pemuda dan Olah Raga Roy Suryo hingga seorang Presiden Jokowi yang ngebet ingin merasakan energi komunitas bandung tersebut. Beruntung saat ini Bandung dipimpin oleh seorang Walikota yang berasal dari kelompok komunitas kreatif, dimana pada umunya para pemimpin pendahulu sebelumnya merupakan seseorang yang berasal dari kelompok politikus. Ridwan Kamil yang menjabat sebagai Walikota Bandung saat ini (periode 2013-2018) adalah seorang arsitek dan pernah menjabat sebagai ketua Bandung Creative City Forum (BCCF) di periode tahun 2008-2012. Seorang arsitek tentunya menerapkan pemikiran ini “Dalam merancang sesuatu, berpikirlah dalam konteks yang lebih besar dan terdekat. Kursi dalam sebuah kamar, kamar dalam sebuah rumah, rumah dalam sebuah lingkungan, dan lingkungan dalam sebuah kota”. Karena latar belakang arsitek inilah, tak heran banyak terobosan-terobosan kreatif yang dilakukan olehnya dalam membangun dan mengubah wajah kotanya. Misalnya saja taman-taman kota yang tadinya banyak menganggur, kini mulai dibenahi infrastrukturnya dan diberikan tema-tema tertentu agar lebih menarik bagi warga Kota Bandung untuk kemudian membantu mengaktivasinya. Tercatat ada sejumlah taman kota yang dibenahi dari mulai Taman Alun-Alun Bandung, Taman Film Bandung, Taman Foto Bandung, Taman Jomblo, Taman Kandagapuspa, Taman Lansia, Taman Musik, Taman Persib, Taman Super Hero, Taman Vanda, Pet Park dan Skate Park. Apa yang terjadi setelah taman kota ini dibenahi? Banyak hal tentunya. Sebagai contoh ketika ruang negatif di bawah kolong jembatan pasupati disulap menjadi taman film bandung, taman ini langsung diserbu oleh warga. Bahkan acara nonton bareng (nobar) pun sering digelar bila pemain Persib sedang berlaga. Dari sanalah ekonomi diciptakan. Menurut cerita masyarakat setempat, pendapatan dari parkir motor saja bisa mencapai Rp 3 juta per harinya bila sedang ramai didatangi pengunjung. Regulasi yang diterbitkan oleh pemerintah Kota Bandung seperti dalam hal membenahi pedagang kaki lima (PKL), kemudian regulasi yang mewajibkan denda bagi siapapun warga yang membuang sampah secara sembarangan, tentunya merupakan kebijakan strategis dalam menata Kota Bandung. Karena di saat berbagai infrastruktur Kota Bandung sedang giat-giatnya dibangun, tentunya harus dibarengi pula oleh penerapan kedisplinan warga kota dalam memelihara ruang-ruang fisik yang ada.

Barangkali yang patut dipikirkan oleh pemerintah Kota Bandung saat ini adalah mencari landasan atau dasar sebagai tempat memijakkan langkahnya ke depan. Dalam hal ini pemerintah Kota Bandung mesti mengetahui arah pembangunan yang ingin dicapai melalui sebuah strategi sejarah yang tepat. Seperti halnya Presiden Jokowi membuat sebuah strategi pembangunan poros maritim, karena sesungguhnya sejarah mencatat bahwasanya nenek moyang kita adalah seorang pelaut. Karenanya perekonomian sektor maritim menjadi salah satu upaya yang coba diperjuangkan. Bila melihat sejarah Kota Bandung, sesungguhnya sejak dulu kota ini merupakan destinasi para pelancong dari berbagai pelosok tanah air dan manca negara. Sehingga perekonomian sektor jasa yang erat kaitannya dengan perdagangan dan pariwisata dapat menjadi salah satu yang dapat diandalkan. Sektor jasa ini tentunya bertumpu sangat besar kepada kekuatan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing. Sebagaimana disebutkan oleh orang bijak bahwa “Harmoni kanak-kanak adalah karunia alam, sedangkan harmoni kedua bersumber dari karya dan budaya jiwa manusia”. Oleh karena itu ide dan pikiran yang dihasilkan oleh sumber daya manusia ini dipercaya dapat menghasilkan sebuah ekonomi lain yang bernama “Ekonomi Kreatif”. Meski sebenarnya, ekonomi kreatif ini masih dianggap seperti cacing karena kontribusi dan nilai ekonomi yang diberikan belumlah luar biasa. Namun kita harus percaya bahwa cacing ini adalah cacing yang sangat berharga ke depannya. Bila sebuah kota dapat kita analogikan sebagai tanah, tentunya cacing-cacing inilah yang akan menggemburkan dan menyuburkan tanah tersebut. Adalah komunitas yang sejatinya dapat melahirkan cacing-cacing kecil, yang kelak dapat menumbuhkan ekonomi Kota Bandung. Dengan segala keunikan, keutuhan, kemanfaatan dan pemahaman akan komunitas tersebut, Kota Bandung tentunya tidak perlu kuatir akan ditinggalkan layu. Namun sebaliknya, Kota Bandung akan selalu tumbuh mekar, mewangi dan semerbak walau bersama hujan deras dan terpaan angin.

Daftar Pustaka
Bandung Creative City Forum (BCCF). 2008-2014. Catatan Sejarah & Program BCCF 
Kementrian Pariwisata & Ekonomi Kreatif Indonesia. 2014. Buku Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif. “Ekonomi Kreatif : Kekuatan Baru Indonesia Menuju 2025″. 
-Haryoto Kunto. 1986. Semerbak Bunga di Bandung Raya.

* Tulisan ini dibuat sebagai salah satu isi materi buku “Bandung Motekar” yang disusun oleh Komite Pengembangan Ekonomi Kreatif Kota Bandung

@galihsedayu | bandung, 17 januari 2015

Written by Admin

January 16, 2015 at 1:49 pm

Bandung Menyihir Jokowi

leave a comment »

Teks : galih sedayu | Foto : Dudi Sugandi & Ihsan Achdiat

Badan Ekonomi Kreatif akan segera saya launching minggu depan. Dan badan ini akan langsung berada di bawah pengawasan presiden”. Begitulah kira-kira statement seorang Presiden Jokowi di hadapan berbagai komunitas kreatif tatkala ia blusukan ke kota Bandung. Tepatnya pada hari senin tanggal 12 Januari 2015, Jokowi menyambangi simpul space #3 di kota Bandung yang merupakan ruang jejaring komunitas dan basecamp-nya Bandung Creative City Forum (BCCF). Sejak pukul 2 siang, terlihat ratusan orang komunitas dari berbagai jaringan di kota Bandung telah hadir memenuhi halaman depan Simpul Space.

Tercatat nama-nama komunitas & jejaring kreatif yang hadir seperti Bikers Brotherhood, Bandung Foodtruck, Sembilan Matahari, Ruang Film Bandung, Embarra Film, Amygdala, Taskuni, Fight Bdg, Doku, Taman Foto Bdg, Bidik Photography, Perhimpunan Amatir Foto (PAF), Air Foto Network, Btari, Komikara, Kriya Nusantara, Indorunners Bandung, Rumah Cemara, Media Wave, Pita, Labo Mori, Forum Kabaret Bandung, Mahanagari, Ngadu Ide, Rumah Nusantara, ProCodeCG, Sahabat Kota, Culindra, Y-Plan Bdg, Wanna Be Dancer, Karang Taruna Bandung, Kampung Dago Pojok, Kampung Pasundan, Happy Farmer (Supported by JKMP4) dan Bandung High Tech Valley.

Beberapa komunitas dan pelaku kreatif pun ikut meramaikan acara kunjungan Jokowi tersebut dengan memamerkan produk beserta aktivitasnya. Dari mulai Tegep Boots, Airplane Systm, Batik Fractal, Common Room, Sanggar Origami Indonesia, ProCodeCG, Kampung Kreatif Linggawastu, Yayasan Pilar Peradaban, Pori Keramik, Tinker Games, Komik CAB, Waningadoe, Woodka, Studio Keramik 181, Glintz, Jendela Ide, Riset Indie, Growbox dan Peta Kita. Tampak pula unjuk kabisa dan penampilan dari komunitas seperti komunitas egrang asuhan kang Obin, komunitas hoong asuhan kang Zaini Alif, dan komunitas karinding asuhan kang Man Jasad. Uniknya, hanya dibutuhkan waktu sekitar 24 jam untuk menghimpun komunitas dan mempersiapkan acara kunjungan Jokowi yang sangat mendadak tersebut. Barangkali, inilah salah satu bukti kekuatan jaringan komunitas kreatif di kota Bandung.

Sekitar pukul 6 sore, Jokowi baru terlihat tiba di Simpul Space dengan didahului iring-iringan pasukan pengawal kepresidenan. Kedatangan Jokowi kala itu didampingi pula oleh Menteri BUMN, Gubernur Jawa Barat, Kapolda Jawa Barat dan Pangdam Siliwangi. Sementara ratusan komunitas yang sudah menunggu lebih dari 4 jam masih terlihat antusias menyambut kedatangan Jokowi. Setibanya di Simpul Space, Jokowi langsung masuk ke dalam ruang pameran untuk melihat kreasi dari komunitas dan pelaku kreatif kota Bandung. Di sana Jokowi terlihat membeli beberapa produk semisal sepatu dan baju dari Airplane Systm dan 1000 unit listrik mandiri rakyat (Limar) dari yayasan pilar peradaban. Meski waktu kunjungan Jokowi yang diberikan pasukan pengawal presiden (paspampres) hanya 30 menit, namun ternyata hampir sekitar 2 jam lamanya Jokowi menghabiskan waktunya untuk berdiskusi dan melakukan tanya jawab dengan para komunitas tersebut.

Sebagai contoh, sebanyak 3 kali Jokowi meminta penjelasan ulang kepada kang Muhammad Lukman (Luki) yang merupakan salah satu pemilik Batik Fractal untuk menjelaskan produknya. Dengan sabar, kang Luki pun menjelaskan bahwa pada dasarnya motif batik fractal itu dibuat dengan menggunakan software khusus yang memanfaatkan pola pengulangan yang dimiliki motif batik pada umumnya. Lalu Jokowi pun bertanya kepada kang Gustaff H Iskandar, salah satu pendiri Common Room mengenai apa langkah kongkret untuk pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Kang Gustaff pun menjawab bahwa negara harus mendukung anak muda dan diperlukan ruang kreatif di daerah termasuk di desa, serta diperlukan infrastruktur yang baik agar karya anak muda di daerah bisa diakses oleh pasar yang lebih luas. Ketika Jokowi berdiskusi dengan komunitas Thinker Games yang diwakili oleh kang Aji, beliau mengatakan bahwa games dan animasi merupakan masa depan industri kreatif indonesia yang sangat menjanjikan. Terakhir Jokowi berbisik kepada kang Fiki Satari selaku ketua Bandung Creative City Forum (BCCF) dengan mengatakan bahwa hal baik ini mesti ditindaklanjuti dan berjanji akan mengundang komunitas untuk bertemu di istana.

Setelah Jokowi selesai meninjau dan berdialog santai dengan para komunitas di ruang pameran Simpul Space, kemudian sebelum pulang ia menyampaikan pidato singkatnya di depan para komunitas kreatif bandung. Jokowi menyebutkan bahwa ia sangat senang dan bangga melihat karya komunitas kota bandung. Jokowi pun menyarankan bahwa perlu adanya sistem marketing secara baik untuk dapat membantu memasarkan produk-produk tersebut. Jokowi pun sempat mengutarakan kesedihannya karena ada beberapa produk dan brand lokal indonesia yang sahamnya dibeli oleh pemodal asing. Saat itu Jokowi mengatakan bahwa seharusnya kita jangan mudah tergiur atau kaget bila tiba-tiba produk kita ditawarkan dengan nilai yang sangat tinggi oleh para pemodal asing. Apabila kita mau bersabar untuk menunggu 3 sampai 5 tahun lagi, bukan mustahil pendapatan kita dari penjualan produk tersebut bisa berkali-kali lipat. Karenanya, menurut Jokowi pemerintah mesti hadir dan mengambil peran untuk dapat membantu menyelesaikan permasalahan seperti ini. Salah satunya adalah pembentukan Badan Ekonomi Kreatif yang telah lama diusulkan.

Bila melihat peristiwa kunjungan Jokowi yang serba tiba-tiba ini, barangkali kota Bandung dengan segudang komunitas kreatifnya memang menyimpan dan memiliki kuasa sihir yang dapat memikat siapapun yang melihatnya. Dan kali ini, seorang presiden yang bernama Jokowi telah terkena sihirnya.

@galihsedayu | bandung, 12 januari 2015

jokowi

(Dari kiri ke kanan) Dudi Sugandi (Tim Media BCCF), Fiki Satari (Ketua BCCF), Tegep Octaviansyah (Wakil Ketua BCCF), Galih Sedayu (Direktur Program BCCF), Taufik Hidayat (Saung Angklung Udjo), Gustaff H Iskandar (Common Room), Triawan Munaf (Rembug Kreatif), Rahmat Jabaril (Komunitas Taboo) berpose bersama Komunitas Hoong & Egrang STSI

jokowi

Para komunitas dari berbagai jaringan kota Bandung yang hadir di Simpul Space #3

jokowi

Jokowi tiba di Simpul Space #3 BCCF dan langsung disambut dengan antusias oleh para komunitas yang telah menunggu selama kurang lebih 4 jam

jokowi

Jokowi di dampingi oleh Gubernur Jawa Barat berbincang dengan Fiki Satari saat mengunjungi booth Airplane Systm

jokowi

Jokowi meminta penjelasan berulang kali dari Muhammad Lukman (Luki) mengenai Batik Fractal

jokowi

Jokowi berdialog singkat dengan Gustaff H Iskandar ketika mengunjungi booth Common Room

jokowi

Jokowi mengunjungi Simpul Institute BCCF untuk melihat kelas origami asuhan Maya Hirai

jokowi

Kang Ujang (Uko) dari yayasan pilar peradaban tengah menjelaskan produk listrik mandiri rakyat (Limar) kepada Jokowi

jokowi

Jokowi melihat produk dan kreasi karya Kampung Kreatif Linggawastu

jokowi

Jokowi didampingi oleh Sekjen BCCF Tita Larasati meninjau booth Pori Keramik

jokowi

Aji dari komunitas Tinker Games menjelaskan produk dan karyanya kepada Jokowi

jokowi

Mas Ipong Witono & Kang Aat Soeratin dari Rumah Nusantara meminta Jokowi untuk memberikan tanda tangan di sebuah buku

jokowi

Jokowi tengah berdiskusi dengan Kang Andar Manik dari Komunitas Jendela Ide

jokowi

Seterhen Akbar (Saska) sedang menjelaskan kegiatan komunitas Riset Indie kepada Jokowi

jokowi

Direktur Program BCCF galih sedayu meminta Jokowi untuk menandatangani plakat sebagai simbol kunjungan Jokowi ke Simpul Space BCCF

jokowi

Suasana komunitas yang hadir memenuhi halaman depan Simpul Space sesaat sebelum Jokowi memberikan pidato singkatnya

jokowi

Jokowi memberikan pernyataan dan pandangannya tentang industri kreatif di hadapan para komunitas kota bandung di halaman depan Simpul Space

copyright (c) 2015
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from writter & photographers

Written by Admin

January 13, 2015 at 1:36 pm