I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Archive for the ‘Menunggu Sebuah Perayaan’ Category

Menunggu Sebuah Perayaan

with one comment

Teks & Foto : galih sedayu

Sejak tahun 2004 yang lalu, setiap tahunnya kota bandung selalu ditunjuk dan dipercaya oleh pemerintah indonesia lewat kementrian pariwisata dan budayanya sebagai tempat untuk dilangsungkannya sebuah helaran akbar seni & budaya tanah air yang bertajuk Kemilau Nusantara. Termasuk tahun 2010 ini ketika kota bandung merayakan hari jadinya yang ke-200 tahun. Helaran Kemilau Nusantara tahun ini diadakan di Monumen Perjuangan Jawa Barat tepatnya pada tanggal 23 Oktober 2010 yang hanya diikuti oleh 5 propinsi dari seluruh indonesia. Tentunya hal ini menjadi sorotan yang patut dipertanyakan karena data yang ada menunjukkan dari tahun ke tahun peserta helaran Kemilau Nusantara selalu cenderung menurun. Mengapa demikian? Sepertinya kita semua telah mengetahui apa jawaban pasti dari pertanyaan tersebut terlebih ketika menyangkut segala sesuatu yang erat kaitannya dengan urusan pemerintahan atau birokrasi. Tetapi biarlah kita kesampingkan sejenak masalah itu.

Agaknya segala permasalahan seni & budaya pun setidaknya ikut dipikirkan oleh para petualang cahaya atau yang lebih akrab dengan sebutan fotografer/pemotret. Setidaknya kaum ini tidak pernah bosan untuk merekam segala atraksi dan pertunjukkan yang digelar pada saat acara Kemilau Nusantara tersebut. Entah itu hanya sekedar hunting, mengikuti lomba foto, tugas liputan atau mungkin sebuah proyek pribadi sang pemotret. Termasuk oleh saya sendiri yang mencoba untuk membuat sebuah Photo Story tentang aktivitas lain para peserta helaran sebelum mereka tampil. Karena bagi saya di sanalah kerap hadir momen-momen menarik yang merangsang jari untuk menekan shutter kamera. Bagai melihat sebuah kehidupan lain di belakang layar. Seperti kasih sayang seorang kakek yang rela untuk mengantar cucunya melihat helaran kemilau nusantara. Pemanasan dan latihan para peserta sebelum mereka mendapat giliran tampil. Dan lain sebagainya.

Untuk itulah fotografi dengan kesederhanaannya membekukan semua adegan tersebut untuk dapat dibagikan kembali ke dalam bentuk visual foto yang abadi. Sehingga di dalamnya selalu ada informasi, komunikasi dan pesan dari sang pemotret agar terjadi dialog yang bergulir demi kelangsungan fotografi dan isu yang diangkatnya. Yang tidak pernah ada kata salah atau benar melainkan kata “yang selalu ada”. Yang kelak menjadi jejak, kenangan dan pertanda kehadiran dari sebuah peristiwa apapun di dunia. Hingga akhir menutup mata.

Bandung, 24 Oktober 2010

copyright (c) 2010 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Advertisements

Written by Admin

October 31, 2010 at 2:13 pm