I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Archive for the ‘Membaca Sunda’ Category

Membaca Sunda

with 2 comments

Foto & Teks : galih sedayu

Berbicara perihal masyarakat adat, sepertinya selalu menjadi isu yang sexy untuk diperbincangkan terutama bila dibandingkan dengan masyarakat urban yang  kerap dicekoki oleh serbuan budaya modern. Meski sebenarnya, upaya untuk membanding-bandingkan kelebihan antara masyarakat adat & urban tidaklah relevan karena masing-masing komunitas memiliki karakter yang unik & berbeda. Misalnya saja dalam hal kreativitas, masyarakat adat masih bertumpu kepada tanah & air yang mereka miliki untuk menciptakan produk kreatifnya. Tapi bagi masyarakat urban, karena tanah & air di perkotaan semakin sulit didapat, mau tidak mau mereka harus mengandalkan sumber daya manusia yang ada. Sejatinya, segala komunitas masyarakat itu seharusnya hidup dalam tatanan nilai yang sama dan egaliter. Hal yang terjadi saat ini adalah, atas nama perkembangan ilmu & teknologi, sebagian masyarakat urban menganggap masyarakat adat dengan segala aset & aktivitas budayanya hanya sekedar atau menjadi Tongtonan atau pertunjukkan belaka. Sementara dari perspektif masyarakat adat, semua hal yang mereka miliki diharapkan bisa menjadi Tungtunan atau panutan bagi masyarakat. Pada kenyataannya pun, masyarakat adat kerap dijadikan komoditi atau kepentingan imagologi semata bagi para politikus untuk dijadikan tameng serta kekuatan masa. Begitu pula dengan masyarakat adat sunda. Bila dikaji lebih jauh, ternyata banyak sekali permasalahan yang masih melekat di dalamnya. Menyangkut pengertian Sunda itu sendiri misalnya. Kata Sunda kadang masih dianggap sebagai sebuah pemisah terlebih bila dikaitkan dengan keberadaan suku tertentu. Padahal bila kata Sunda itu diartikan sebagai bumi atau negara, bahkan sebuah falsafah, tentunya semangat kesatuan lah yang selalu hadir untuk tetap membalut erat keberagaman di dalam kehidupan masyarakatnya. Tepatnya tanggal 28 Mei 2012 hingga 2 Juni 2012, telah digelar sebuah Festival Masyarakat Adat Tatar Sunda yang bertempat di Pasir Impun, Bandung. Selama 6 hari, kita dapat menyaksikan segala aktivitas seni &  budaya yang diusung oleh sekitar 15 Kampung Adat yang ada di Jawa Barat. Foto cerita ini merupakan sebuah kumpulan refleksi simbol & potret tentang keberadaan masyarakat adat sunda yang berkumpul di sana. Gambar-gambar hening yang ditampilkan dalam foto cerita ini, merupakan sebuah upaya untuk menangkap citraan tentang masyarakat adat tatkala berbaur dengan masyarakat urban. Sehingga menggelitik hati untuk melontarkan sebuah pertanyaan, apakah sebenarnya saat ini kita perlu untuk belajar dari keberadaan masyarakat adat sunda dengan segala nilai kearifan lokal yang dimilikinya? Atau mungkin kita menjadi bertanya, bila melihat pada kenyataannya masyarakat adat tersebut yang justru semakin terhipnotis oleh budaya modern? Silakan menjawab.

Bandung, 3 Juni 2012

copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Advertisements

Written by Admin

June 15, 2012 at 3:42 pm