I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Archive for the ‘MY PHOTO STORY’ Category

Inilah Anfield, Kita Adalah Liverpool

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Tatkala memasuki Anfield Stadium untuk pertama kalinya, rasa takjub pun langsung melekat di hati karena saya bagaikan berada di sebuah dunia lain yang amat sangat keramat. Betapa tidak, stadion yang dibangun sejak tahun 1884 ini merupakan salah satu stadion bola tertua di Inggris. Stadion yang terletak di kota Liverpool, Marseyside, Inggris ini berjarak sekitar 3 kilometer dari Stasiun Kereta Liverpool Lime Street. Anfield Stadium sejak lama telah menjadi markas utama legenda klub sepakbola Inggris, Liverpool F.C yang berdiri sejak tahun 1892, meskipun pada awalnya stadion ini adalah markas dari klub sepakbola kota Liverpool lainnya yakni Everton. Anfield Stadium sendiri dirancang oleh seorang Arsitek terkenal yang bernama Archibald Leitchd. Pada saat membangun stadion ini, Sang Arsitek sengaja meletakkan lampu berwarna merah dan putih di setiap sisi stadion yang menjadi keunikannya dan lampu tersebut biasanya dinyalakan pada malam hari. Saat ini Anfield Stadium memiliki sempat buah tribun yaitu The Spion Kop, Main Stand, Anfield Road, dan Kenny Dalglish Stand, serta dapat menampung penonton sebanyak 54 ribu lebih.

Sesaat setelah memasuki gerbang pagar Anfield Stadium, patung manajer legendaris Liverpool periode 1959-1974, Bill Shankly terlihat menyambut kedatangan pengunjung di depan logo besar The Kop. Patung perunggu setinggi 2,4 meter ini didirikan pada tanggal 3 Desember 1997 yang menggambarkan Bill Shankly dengan pose terkenal yang ia lakukan ketika menerima tepuk tangan dari para penggemarnya. Di bawah patung ini tertulis kalimat “Bill Shankly – He Made The People Happy”. Patung ini memang layak berdiri kokoh di sana karena di bawah besutan manajer legendaris inilah, klub berjuluk ”The Reds” tersebut berhasil meraih 31 dari 63 piala bergengsi sepakbola.

Di luar stadion juga terdapat tugu peringatan tragedi Hillsborough yang selalu dihiasi dengan karangan bunga sebagai bentuk penghormatan kepada 96 orang suporter Liverpool yang tewas terjepit di antara penonton saat menyaksikan laga semifinal Piala FA antara Liverpool dan Nottingham Forest pada tanggal 15 April 1989. Kemudian di luar stadion ini hadir pula patung John Houlding yang mengenakan seragam sebagai walikota di 96 Avenue, dimana ia merupakan tokoh pemilik Anfield Stadium pada saat pertama kali berdiri. Patung perunggu ini berukuran tujuh kaki dan dibuat oleh pematung asli Liverpool bernama Tom Murphy, yang juga merupakan pembuat patung Bill Shankly.

Bila kita masuk ke dalam stadion Anfield, kita akan banyak menemukan berbagai artefak visual dan ruang-ruang bersejarah perihal Liverpool F.C. Dari mulai himpunan bendera besar yang bertuliskan “Liverpool the Cream of Europe” ataupun “Liverpool FC Make the People Happy”. Hingga ke ruang ganti pemain dengan deretan kostum yang ditata sesuai tempat duduk pemain, dimana kaos para pemain tergantung rapi di tiga sisi dinding ruangan yang didominasi warna merah. Kemudian sebelum menuju lapangan hijau, terdapat lorong dengan sebuah plakat bergambar lambang Liverpool FC di dinding yang bertuliskan ”This Is Anfield”. Tulisan itu sendiri sesungguhnya memberi pesan peringatan sekaligus upaya intimidasi kepada pemain lawan bahwa mereka sedang bermain di kandang Liverpool FC.

Tak heran memang bila daya magnet Anfield Stadium ini dapat menarik pengunjung dari seluruh penjuru dunia untuk menginjakkan kakinya di sana. Bagi penganut agama sepakbola, mengunjungi Anfield tentunya ibarat melakukan ziarah ke tanah suci. Karena di tempat itulah berbagai doa dan harapan senantiasa dipanjatkan atas ribuan kisah manusia dengan berbagai ceritanya dalam nama sepakbola. Dan bagi saya, satu keajaiban yang paling sangat dirasakan tatkala datang ke Anfield Stadium ini adalah bahwa kita tak akan pernah merasa sendirian. This is Anfield, We are Liverpool.

Liverpool, 1 & 3 September 2019

DSCF6672

DSCF6610

DSCF6588

DSCF6653

DSCF5939

DSCF6659

DSCF6646

DSCF6642

DSCF6595

DSCF6606

DSCF6615

DSCF6621

DSCF6624

DSCF6627

DSCF5649

DSCF5666

DSCF5672

DSCF5677

DSCF5683

DSCF5688

DSCF5692

DSCF5693

DSCF5694

DSCF5695

DSCF5699

DSCF5705

DSCF5711

DSCF5713

DSCF5714

DSCF5715

DSCF5716

DSCF5717

DSCF5766

DSCF5895

DSCF5899

DSCF5753

DSCF5755

DSCF5779

DSCF5790

DSCF5792

DSCF5796

DSCF5798

DSCF5802

DSCF5810

DSCF5819

DSCF5823

DSCF5825

DSCF5830

DSCF5837

DSCF5842

DSCF5851

DSCF5855

DSCF5869

DSCF5874

DSCF6677

DSCF6680

DSCF5817

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

 

Menjala Cahaya Kota London

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu

Sejauh mata memandang serta ditemani oleh kaki yang berjalan menapaki sebagian sudut ruang Kota London, sedekat ini pula hati senantiasa terhibur karena segala pesona yang dihadirkan di sana. Setiap detik sesaat kamera akan menangkap cahaya, jantung pun serasa berdegup kencang seolah tengah menanti kekasih pujaan yang lama tak bersua dalam adegan keseharian melalui tubuh kota ini.

London yang merupakan ibu kota inggris dan britania raya ini memang layak dijuluki sebagai kota kreatif dunia. Kota tua yang yang telah menjadi pemukiman utama selama dua milenium sejak didirikan oleh Romawi pada abad ke-1 dengan sebutan Londinium, kini menjelma menjadi pusat pendidikan terbesar di eropa yang memiliki lebih dari 40 universitas. Kota megah yang berdiri kokoh di sepanjang Sungai Thames ini memiliki keunggulan kelas dunia di berbagai bidang diantaranya kesenian, bisnis, hiburan, kesehatan, mode, pariwisata, transportasi, dan media.

Jaringan kereta api bawah tanah (underground) yang dimiliki Kota London merupakan jejak peninggalan yang tertua di dunia. Rumah penduduk zaman Victoria yang masih ditinggali pun tersebar di berbagai belahan Kota London. Belum lagi berbagai bangunan sejarah yang dengan indahnya menghiasi kota, turut menciptakan karakter Kota London sebagai Kota Heritage Dunia.

Sebagai orang yang baru pertama kali menghirup udara di Kota London, kesan modern dan kuno bercampur aduk menjadi satu dalam kasat mata awam. Pemandangan di depan Buckingham Palace penuh dengan turis-turis dari berbagai negara yang ingin menyaksikan istana megah yang dihuni oleh Ratu Inggris Elizabeth beserta atraksi Penjaga Ratu (Queen’s Guard). Tentara inggris yang mengenakan seragam berwarna merah menyala, celana panjang hitam dengan topi hitam besar yang ditutupi dengan kulit beruang asli ini, menjadi penjaga istana dengan berdiri tegak sambil sesekali berjalan dengan gerakan berbaris di depan pintu istana.

Kota London juga memiliki situs warisan dunia yang bernama Tower Bridge dengan ukuran panjang 244 m dan tinggi 65 m. Jembatan dengan gaya arsitektur khas Victoria ini menjadi salah satu ikon Kota London yang menopang sebuah jalan raya yang melintasi Sungai Thames. Setiap tahunnya lebih dari 600.000 orang dari seluruh penjuru dunia datang mengunjungi lambang kemegahan Kota London tersebut.

Selain itu Kota London masih menyimpan berbagai destinasi wisata yang sangat menarik. Sebut saja dari mulai British Museum, museum terbesar di dunia yang menyimpan barang-barang artefak dari seluruh penjuru dunia ; Trafalgar Square, alun-alun terbesar dan terkenal di London ; Camden Market, kawasan belanja dengan harga barang yang murah ; China Town, pusat kuliner Cina & Asia ; St. Anne’s Churchyard, sebuah taman untuk umum yang disebut juga St. Anne’s Gardens ; hingga Stamford Bridge, markas besar klub sepakbola Chelsea.

Ingin sekali rasanya berdansa lebih lama bersama waktu di sana. Sembari mensyukuri betapa agung karya ciptaan-Nya. Langit, buana semesta, beserta udara yang kuhirup bersama mentari. Terima kasih kepada cahaya yang telah menuntunku ke sana. Kiranya ada masa yang akan membawaku kembali dalam ribuan kenangan itu.

London – England, 30-31 August & 7 September 2019

DSCF4879

DSCF4882

DSCF4909

DSCF4920

DSCF4924

DSCF4947

DSCF4968

DSCF4994

DSCF4999

DSCF5008

DSCF5011

DSCF5030

DSCF5096

DSCF5110

DSCF5115

DSCF5118

DSCF5174

DSCF5125

DSCF5132

DSCF5142

DSCF5176

DSCF5180

DSCF5194

DSCF5215

DSCF5221

DSCF5228

DSCF5232

DSCF5243

DSCF5425

DSCF5434

IMG_8586_blog

DSCF7652

DSCF7099

IMG_8635_blog

DSCF7105

DSCF7144

DSCF7150

DSCF7158

DSCF7164

DSCF7180

DSCF7194

DSCF7204

DSCF7210

DSCF7223

DSCF7232

DSCF7233

DSCF7271

IMG_8602_blog

DSCF7455

DSCF7398

DSCF7511

DSCF7525

IMG_7697

DSCF4808

DSCF4764

DSCF4774

DSCF4791

DSCF5438

IMG_8606_blog

DSCF7059

DSCF7071

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

October 27, 2019 at 12:43 pm

Salam Pesona Nagoya

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Nagoya, kota terbesar keempat di negara Jepang setelah Tokyo, Yokohama, dan Osaka dalam jumlah penduduk ini memang menawarkan sebuah pesona tersendiri. Ibukota dari Prefektur Aichi ini letaknya di sekitar pesisir Samudra Pasifik Wilayah Chubu. Lokasi Nagoya menjadi strategis karena berada di antara Kota Tokyo & Kyoto. Beruntung saya bisa melangkahkan kaki di sana dan beroleh kesempatan untuk merekam denyut jantung Kota Nagoya yang sangat teratur. Kota yang bersih, bangunan yang sangat terawat, serta beragam makanan lezat yang dijajakan menjadikan saya kerasan untuk menghuni kota ini meski hanya beberapa saat saja. Tak seperti di Indonesia, kawanan burung gagak hitam yang dibiarkan hidup liar di kota ini tidak menjadikan Nagoya berkesan angker. Citra polisi pun menjadi lebih terhormat dan tidak mengintimidasi karena mereka hanya menggunakan sepeda saat melakukan patroli keamanan meski sesungguhnya sangat jarang sekali terjadi tindakan kriminal di sana. Seperti kultur orang jepang pada umumnya, hampir setiap waktu saya melihat aktivitas keseharian warga yang berjalan kaki dan bersepeda. Sesekali saya menangkap momen warga yang menggembalakan anjing piarannya di pagi hari. Di Nagoya saya seperti menghirup oksigen bersih tanpa polusi asap maupun polusi suara. Dan akhirnya hanya kalimat ini yang pantas menjadi penutup cerita singkatnya. Ke Nagoya aku kan kembali.

Nagoya, Jepang ; Februari, April, Mei 2018

DSCF2312

DSCF2331

DSCF2453

DSCF2485

DSCF2511

DSCF2531

DSCF2551

DSCF2641

DSCF2651

DSCF2654

DSCF2734

DSCF2737

DSCF2744

DSCF2751

DSCF2762

DSCF2766

DSCF3326

DSCF3357

DSCF3362

DSCF5327

DSCF5341

DSCF5357

DSCF5359

DSCF5371

DSCF5388

DSCF5395

DSCF5410

DSCF5413

DSCF5450

DSCF5456

DSCF5502

DSCF6164

DSCF6194

DSCF6935

DSCF6943

DSCF6948

DSCF6971

DSCF7808

DSCF7816

DSCF7822

DSCF7826

DSCF7829

DSCF7831

DSCF7834

DSCF7841

DSCF7849

DSCF7853

DSCF7859

DSCF7867

DSCF7869

Copyright (c) 2018 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

September 30, 2018 at 1:46 pm

Nuansa Pagi Di Victoria Park

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Cuaca dingin yang menyentuh 7 derajat celcius menyambut pagi tatkala saya beroleh kesempatan menginjakkan kaki di area Victoria Park yang lokasinya berada di Causeway Bay, Pennington Street, Hongkong. Meski matahari bersinar telanjang, namun hawa dingin itu tetap terasa menembus tubuh saya yang barangkali terbiasa hidup di iklim tropis. Victoria Park adalah taman terbesar di Pulau Hongkong dengan luas sekitar 19 hektar. Ratu Victoria dari Inggris dijadikan nama taman tersebut sekaligus dibuatkan patung lilinnya yang berada di pintu gerbang utama taman. Taman ini kerap dijadikan tempat peringatan tahun baru Imlek dan pameran bunga setiap tahunnya. Menurut sejarahnya, dulunya taman ini adalah tempat penampungan angin topan yang digunakan sebagai tempat berlindung bagi kapal nelayan dan kapal pesiar. Pada hari minggu dan hari libur, biasanya taman ini menjadi tempat berkumpulnya para pekerja rumah tangga yang kebanyakan berasal dari Indonesia. Victoria Park menjadi sebuah oase hijau di tengah gedung pencakar langit yang tinggi menjulang dan mengepungnya. Penggalan-penggalan momen bisa kita lihat dan rekam di sana. Dari mulai orang-orang yang melakukan aktivitas tai chi, jogging, membaca koran, berolah raga, ataupun hanya sekedar berdiri berjemur sembari merasakan hangatnya mentari. Wilujeung enjing wahai Victoria Park.

Victoria Park, Hongkong, 1 Februari 2018

24KaryaFoto

***

Text & Photographs : galih sedayu

Cold weather that touched 7 degrees celcius welcomed the morning when I had the opportunity to set foot in Victoria Park area located in Causeway Bay, Pennington Street, Hongkong. Although the sun was shining naked, but the cold was still penetrating my body that perhaps used to live in a tropical climate. Victoria Park is Hong Kong’s largest park with an area of about 19 hectares. Queen Victoria of England made the name of the park as well as made a wax statue that is in the main gate of the park. This park is often used as a place of celebration of Lunar New Year and flower exhibition every year. Historically, this park was once a cyclone shelter used as a shelter for fishing boats and cruise ships. On Sundays and public holidays, this park usually becomes a gathering place for domestic workers mostly from Indonesia. Victoria Park becomes a green oasis in the middle of a towering high skyscraper and surround it. Fragments of moments we can see and record there. People doing tai chi, jogging, reading newspapers, exercising, or just standing basking while feeling the warmth of the sun. Good Morning Victoria Park.

Victoria Park, Hongkong, 1 February 2018

24Photographs

DSCF2136

DSCF2181

DSCF2155

DSCF2223

DSCF2282

DSCF2293

DSCF2249

DSCF2229

DSCF2201

DSCF2146

DSCF2157

DSCF2119

DSCF2211

DSCF2216

DSCF2164

DSCF2240

DSCF2255

DSCF2263

DSCF2273

DSCF2281

DSCF2285

DSCF2286

DSCF2291

DSCF2295

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

February 23, 2018 at 5:30 am

Warisan Leluhur Dunia Di Shirakawa-go

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu

Negara yang besar tentunya tak akan abai terhadap warisan budaya yang dimilikinya. Karena di sanalah sesungguhnya kita dapat menemukan jejak karya bangsa yang diciptakan oleh para leluhurnya. Shirakawa-go, salah satu desa bersejarah yang dimiliki oleh Negeri Matahari Terbit, Jepang adalah salah satunya. Rumah-rumah tradisional yang berusia sekitar 200 tahun telah menjadi saksi biksu bagi keberadaannya. Dengan ciri yang unik, yakni atap rumah yang membentuk segitiga sama kaki, terbuat dari jalinan jerami yang ditumpuk hingga tebal, menjadikan rumah dengan model yang disebut gassho-zukuri (tangan yang berdoa) itu menjadi magnet wisatawan dunia. Terletak di lembah Sungai Shogawa dan dikelilingi pegunungan, Shirakawa-go selalu mengalami musim dingin dengan hujan salju yang hebat. Letak persisnya berada di pegunungan Hakusan yang membentang dari prefektur Gifu hingga prefektur Yoyama. Dengan atap yang memiliki kemiringan sekitar 60 derajat itu, tumpukan salju tentunya akan cepat runtuh. Apalagi perancang rumah gassho-zukuri di masa lampau memang sangat memikirkan bentuk rumah dengan kondisi alam tersebur. Salah satunya adalah semua atap rumah di desa tersebur menghadap ke timur dan barat yang bertujuan agar salju yang menumpuk bisa segera mencair bila terkena sinar matahari. Karena atap menghadap arah matahari, semua ventilasi yang terletak di loteng mengarah ke selatan dan utara. Dengan begitu aliran udara dan angin bebas keluar masuk sehingga menciptakan sistem ventilasi yang terbaik. Seperti kebanyakan rumah tradisional Jepang lainnya, rumah gassho-zukuri menggunakan kayu. Uniknya, untuk menyatukan antara bagian satu dengan yang lain tidak satupun paku yang digunakan. Semua disatukan dengan tali yang terbuat dari jerami yang dijalin atau neso, istilah untuk menyebut cabang pohon yang dilunakkan. Pada tanggal 9 Desember 1995, UNESCO menetapkan rumah gassho-zukuri di Shirakawa-go dan Gokayama sebagai bagian dari Situs Kebudayaan Dunia. Shirakawa-go memiliki jumlah rumah bergaya gassho-zukuri terbanyak dibanding dengan dua desa bersejarah lainnya. Hingga saat ini, rumah-rumah gassho-zukuri ini masih digunakan sebagai tempat tinggal. Kuil Buddha, gubuk, itakura (gudang), Kuil Shinto, dan saluran air, adalah beberapa objek lain yang wajib dijaga dan dipertahankan. Bagi siapapun yang ingin melihat & belajar perihal kearifan bangsa Jepang, Shirakawa-go adalah tempatnya. Sebuah perkampungan kecil nan indah yang menawarkan perasaan syukur dan kebahagiaan.

Shirakawa-go, Jepang, 4 Februari 2018

***

A Great Country certainly will not ignore the cultural heritage it has. Because that’s where we can actually find traces of the works of the nation created by the ancestors. Shirakawa-go, one of the historic villages owned by the Land of the Rising Sun, Japan is one of them. Traditional houses of about 200 years have been a monk’s witness to its existence. With a unique feature, the roof of a house that forms an equilateral triangle, made of straw braids stacked to the thickness, making the house with a model called gassho-zukuri (praying hands) it becomes a magnet of world tourists. Located in the Shogawa River valley and surrounded by mountains, Shirakawa-go always experiences winter with great snowfall. The exact location is in the Hakusan mountains stretching from Gifu prefecture to Yoyama prefecture. With a roof that has a slope of about 60 degrees, the pile of snow will certainly quickly collapse. Moreover, the designer of gassho-zukuri house in the past is very thinking about the shape of the house with the natural conditions. One of them is all the roof of the house in the village facing east and west which aims to accumulate snow that can immediately melt when exposed to the sun. Because the roof is facing the sun, all the vents located in the attic are heading south and north. That way the air and wind flow freely in and out, creating the best ventilation system. Like most other traditional Japanese houses, gassho-zukuri houses use wood. Uniquely, to unite between one part with another none of the nails are used. All put together with a strap made of straw woven or neso, a term to refer to softened tree branches. On December 9, 1995, UNESCO designated gassho-zukuri houses in Shirakawa-go and Gokayama as part of the World Cultural Site. Shirakawa-go has the largest number of gassho-zukuri-style houses compared to two other historic villages. Until now, these gassho-zukuri houses are still used as shelter. Buddhist temples, huts, itakura (warehouse), Shinto Temple, and waterways, are some other objects that must be maintained and maintained. For anyone who wants to see & learn about Japanese wisdom, Shirakawa-go is the place. A small, beautiful village that offers a feeling of gratitude and happiness.

Shirakawa-go, Japan, February, 4, 2018

DSCF2855

DSCF2863

DSCF2906

DSCF2867

DSCF2869

DSCF2889

DSCF2895

DSCF2899

DSCF2908

DSCF2912

DSCF2917

DSCF2919

DSCF2924

DSCF2925

DSCF2938

DSCF2941

DSCF2953

DSCF2959

DSCF2962

DSCF2966

DSCF3005

DSCF3008

DSCF3029

DSCF3050

DSCF3053

DSCF3054

DSCF3070

DSCF3090

DSCF3091

DSCF3076

DSCF3092

DSCF3098

DSCF3100

DSCF3108

DSCF3115

DSCF3118

DSCF3122

DSCF3128

DSCF3141

DSCF3152

DSCF3197

DSCF3208

DSCF3220

DSCF3224

DSCF3241

DSCF3245

DSCF3252

DSCF3257

DSCF3259

DSCF3171

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

February 15, 2018 at 11:24 am

Sensasi Menyengat Bangkok

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu

กรุงเทพมหานคร อมรรัตนโกสินทร์ มหินทรายุธยา มหาดิลกภพ นพรัตนราชธานีบูรีรมย์ อุดมราชนิเวศน์มหาสถาน อมรพิมานอวตารสถิต สักกะทัตติยวิษณุกรรมประสิทธิ์ (Krungthepmahanakhon Amonrattanakosin Mahintharayutthaya Mahadilokphop Noppharatratchathaniburirom Udomratchaniwetmahasathan Amonphimanawatansathit Sakkathattiyawitsanukamprasit). Kota Malaikat, Kota Besar Yang Abadi, Kota Megah Dari Sembilan Permata, Singgasana Raja, Kota Istana Kerajaan, Rumah Para Dewa Yang Berinkarnasi. Begitulah mereka menyebut Kota Bangkok yang merupakan ibukota Negara Thailand atau Negeri Gajah Putih ini. Kota yang dalam bahasa Thai disebut dengan Krung Thep Maha Nakhon ini memiliki populasi penduduk di atas 8 juta jiwa dengan luas area sekitar 1568,7 m². Kota yang rata-rata memiliki cuaca panas sepanjang tahun ini terkenal akan atmosfir jalanannya yang memikat para turis mancanegara. Dari mulai kuliner, budaya, fesyen, hingga kehidupan malamnya yang menjadi magnet setiap orang. Ribuan cerita bisa kita peroleh di sana. Pedagang kaki lima hampir menyerupai dekorasi yang menghiasi setiap sudut Kota Bangkok. Tuk Tuk atau “Sam Lor”, kendaraan roda tiga yang menyerupai bajaj kalau di Indonesia, merupakan transportasi khas di kota ini yang paling cocok untuk menghindari kemacetan. Pasar Chatuchak yang hanya buka setiap hari Sabtu & Minggu juga merupakan salah satu destinasi yang kerap dikunjungi oleh para pendatang. Kota yang murah & ramah adalah kesan yang saya dapatkan tatkala menginjakkan kaki di sana meski kadang kota ini terkesan berantakan. Dan saya pun baru menyadari betapa masyarakatnya sangat mencintai Sang Raja terutama Raja Bhumibol Adulyadej atau Raja Rama IX yang juga menyukai fotografi. Setelah Raja Bhumibol memimpin Thailand selama 60 tahun sejak tanggal 9 Juni 1946, ia pun wafat di usia 88 tahun pada tanggal 13 Oktober 2016. Selama satu tahun warga Thailand berduka atas kepergiannya. Saat ini tahta kerajaan digantikan oleh putranya yang bernama Putra Mahkota Maha Vajiralongkorn. Ah…Momen singgah di Kota Bangkok memang sangat membekas di hati. Barangkali itupun yang menjadi alasan grup Band Rush menciptakan lagu A Passage To Bangkok. “We’re on the train to Bangkok. Aboard the Thailand Express. We’ll hit the stops along the way. We only stop for the best”.

Bangkok, 16 – 17 Desember 2016 ; 26 – 28 Oktober 2017 ; 15 – 20 November 2017

#47KaryaFoto

***

กรุงเทพมหานคร อมรรัตนโกสินทร์ มหินทรายุธยา มหาดิลกภพ นพรัตนราชธานีบูรีรมย์ อุดมราชนิเวศน์มหาสถาน อมรพิมานอวตารสถิต สักกะทัตติยวิษณุกรรมประสิทธิ์ (Krungthepmahanakhon Amonrattanakosin Mahintharayutthaya Mahadilokphop Noppharatratchathaniburirom Udomratchaniwetmahasathan Amonphimanawatansathit Sakkathattiyawitsanukamprasit). The City of Angels, The Immortal Great City, The Magnificent City Of The Nine Gems, The King’s Throne, The City Of The Royal Palace, The House Of The Incarnate Gods. That’s how they call the City of Bangkok which is the capital of the State of Thailand or the State of the White Elephant. The city is in Thai called Krung Thep Maha Nakhon has a population of over 8 million people with an area of ​​about 1568.7 m². The average city that has hot weather all the year is famous for its street atmosphere that attracts foreign tourists. From the start of culinary, culture, fashion, to the night life that became the magnet of everyone. Thousands of Stories we can get there. Street vendors almost resemble the decoration that adorns every corner of Bangkok City. Tuk Tuk or “Sam Lor”, a three-wheeled vehicle that resembles a bajaj if in Indonesia, is a typical transportation in this city is best suited to avoid traffic. Chatuchak market which is only open every Saturday & Sunday is also one of the destinations frequented by migrants. The cheap & friendly city is the impression I get when I set foot there although sometimes the city seems messy. And I just realized how much the people love the King especially King Bhumibol Adulyadej or King Rama IX who also love photography. After King Bhumibol led Thailand for 60 years from June 9, 1946, he died at the age of 88 on October 13, 2016. For one year the Thai citizens mourned his departure. Today the royal throne is replaced by his son, Crown Prince Maha Vajiralongkorn. Ah … The moment of transit in the city of Bangkok is very imprinted in the heart. Perhaps that’s why the Band Rush group created the song A Passage To Bangkok. “We’re on the train to Bangkok. Aboard the Thailand Express. We’ll hit the stops along the way. We only stop for the best “.

Bangkok, 16 – 17 December 2016 ; 26 – 28 October 2017 ; 15 – 20 November 2017

#47Photographs

DSCF9061

DSCF8418

IMG_4172_blog

IMG_4161_blog

IMG_4145_blog

DSCF7563

DSCF8214

IMG_4200_blog

DSCF8223

DSCF8226

IMG_4211_blog

DSCF8235

DSCF8402

DSCF8423

DSCF8428

IMG_4740_blog

DSCF8828

DSCF7752

DSCF7760

DSCF9492

DSCF9496

DSCF9483

DSCF9321

DSCF9329

DSCF9344

DSCF9351

DSCF9363

DSCF9389

DSCF9394

DSCF9411

DSCF7541

DSCF7546

DSCF7545

DSCF7575

DSCF7677

DSCF7669

DSCF7608

DSCF7946

DSCF7952

DSCF7953

DSCF9119

DSCF9174

DSCF9200

DSCF9203

DSCF9209

DSCF9188

DSCF9098

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

January 27, 2018 at 3:08 am

Seruput Kehangatan Di Warung Kopi Asiang

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu

Jika kita berkesempatan mampir ke Kota Pontianak, “Warung Kopi Asiang” adalah salah satu kunjungan wajib terutama bagi para penggemar kopi nusantara. Berdiri sejak tahun 1958, warung ini diberi nama sesuai dengan nama pemilik warung & penyeduh kopinya yakni “Asiang”. Orangnya nyentrik, usianya sekitar 63 tahun, berbadan tinggi besar, berkepala plontos, mimiknya nyaris tanpa ekspresi, punya kebiasaan tidak mengenakan baju dan hanya bercelana pendek saja, serta tatonya tampak terlihat jelas di dada & lengan bahu kanannya. Jarang sekali kita melihat Pak Asiang beristirahat karena sibuk meladeni para pelanggan yang memesan kopi. Warung Kopi ini terletak di Jalan Merapi No.193 Pontianak. Buka setiap hari dari jam 3 subuh sampai jam 2 siang. Harga yang dipatok Warung Kopi Asiang bervariasi. Kopi hitam seharga Rp 5.000 dan kopi susu seharga Rp 7.000. Sedangkan untuk aneka kue seperti kue pisang, roti tawar, kue apem dihargai Rp 3.000, kecuali untuk roti selai seharga Rp 5.000. Silakan kunjungi Warung Kopi Asiang ini bagi siapapun yang mendambakan kehangatan & aroma kopi yang dimiliki oleh Kota Khatulistiwa ini.

Pontianak, 30 Oktober 2017

***

If we have the opportunity to stop by the city of Pontianak, “Asiang Coffee Shop” is one of the mandatory visit, especially for fans of coffee archipelago. Established since 1958, this shop is named after the name of the owner of the coffee shop “Asiang”. He was a quirky man, 63 years old, tall, big-headed, his expression barely expressionless, had the habit of not wearing clothes and only shorts, and his tattoos were clearly visible on the chest & arm of his right shoulder. Rarely do we see Asiang rest because of busy serving customers who order coffee. This Coffee Shop is located at Jalan Merapi No.193 Pontianak. Open daily from 3am to 2pm. Prices are pegged Warung Kopi Asiang vary. Black coffee for Rp 5,000 and milk coffee worth Rp 7,000. As for the various cakes such as banana cake, bread, apple cake priced at Rp 3,000, except for bread jams for Rp 5,000. Please visit this Asiang Coffee Shop for anyone who crave the warmth & aroma of coffee owned by this Equatorial City.

Pontianak, October 30, 2017

DSCF7828

DSCF7801

DSCF7833

DSCF7842

DSCF7880

DSCF7864

DSCF7835

DSCF7897

DSCF7883

DSCF7905

DSCF7884

DSCF7888

DSCF7899

DSCF7928

DSCF7913

DSCF7933

DSCF7820

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.