I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Archive for the ‘MY PHOTO STORY’ Category

Warna Keagungan Semesta di Kelimutu

leave a comment »

Teks & Foto: galih sedayu

Gunung api menjadi bagian tubuh yang tak terpisahkan dari raga alam nusantara kita. Karena bumi pertiwi dengan segala keajaibannya termasuk ke dalam sabuk Cincin Api (Ring of Fire) dunia yakni rangkaian gunung berapi sepanjang 40.000 km dan situs aktif seismik yang membentang di samudera pasifik. Seperti halnya Kelimutu. Kelimutu merupakan sebuah gunung api di pulau Flores, tepatnya di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur.  Gunung Kelimutu dengan ketinggian 1690 mdpl ini berada di dalam kawasan konservasi Taman Nasional Kelimutu (Kelimutu National Park). Meskipun luasnya sekitar 5.356,50 hektare, namun kawasan konservasi ini menjadi taman nasional terkecil dari 54 Taman Nasional yang ada di Indonesia. Di kawasan Taman Nasional Kelimutu ini terdapat pula Gunung Kelido dan Gunung Kelibara yang menjadi teman penghuni bagi Gunung Kelimutu sebagai kerucut alam tertua yang masih aktif.

Adapun magnet yang menjadi pesona Taman Nasional Kelimutu adalah 3 buah danau vulkanik dengan warna yang berbeda dan terkenal dengan sebutan Danau Tiga Warna. Danau Kelimutu dengan masing-masing warna yang berbeda tersebut memiliki makna tersendiri bagi penduduk lokal di sana. Danau yang berwarna biru memiliki nama “Tiwu Nuwa Muri Ko’ofai” yang dipercayai sebagai tempat berhimpunnya para arwah dan jiwa dari pemuda dan pemudi yang telah meninggal. Danau yang berwarna merah memiliki nama “Tiwu Ata Polo” yang dipercayai sebagai tempat berhimpunnya para arwah dan jiwa dari orang-orang yang telah meninggal dimana selama hidupnya kerap melakukan kejahatan tenung. Danau yang berwarna putih memiliki nama “Tiwu Ata Mbupu” yang dipercayai sebagai tempat berhimpunnya para arwah dan jiwa dari orang tua yang telah meninggal. Walaupun cerita penduduk setempat menyatakan demikian, namun ketiga danau tersebut tidak selamanya tetap berwarna biru, merah, dan putih saja. Menurut catatan waktu, dari tahun ke tahun ketiga danau tersebut sudah pernah mengalami perubahan warna bahkan lebih dari sekali entah itu menjadi warna hijau, coklat, hitam, dan abu-abu. Perubahan warna yang terjadi pada danau Kelimutu sangat dipengaruhi oleh aktivitas vulkanis yang mendorong gas-gas di dalam bumi keluar ke permukaan dan kemudian bereaksi serta bercampur sehingga mengakibatkan perubahan warna pada air danau.

Perjalanan menuju ke kawasan Taman Nasional Kelimutu akan melewati Desa Moni yang berjarak sekitar 52 km dari Kota Ende. Sekitar dua jam lamanya, kita akan melalui jalan aspal yang berkelok-kelok dengan atmosfir bentangan alamnya yang begitu hijau. Sesampainya di Desa Moni, kita akan banyak temukan penginapan untuk bermalam dan beristirahat di kaki gunung Kelimutu. Saat itu saya menginap di sebuah penginapan yang bernama Ecolodge. Untuk mencapai puncak pemandangan agar dapat melihat keindahan danau 3 warna, kita harus berjalan kaki melakukan hiking dan trekking dari area parkir Taman Nasional Kelimutu yang pada umumnya ditempuh dengan waktu sekitar 30 menit. Matahari terbit di gunung Kelimutu merupakan sabda alam tersendiri yang bisa dinikmati kala pagi menjelang. Bila ingin mendapatkan sunrise setelah malam yang panjang di pulau flores, sebaiknya kita mulai berjalan kaki dari sejak subuh sekitar pukul 4 pagi. Tak usah kuatir, karena perjalanan mendaki puncak Kelimutu saat waktu masih subuh sembari diterpa udara yang begitu dingin, akan terbayar seketika tatkala pada akhirnya kita dapat melihat momen pertama kalinya mentari pagi yang muncul dari balik awan sekaligus merasakan hangatnya sinar yang dipancarkan saat menyentuh tubuh kita. Setelah itu, karunia terbesar akan kita dapati dimana sejauh mata memandang, semesta alam danau Kelimutu akan menampakkan wajahnya yang begitu mempesona dengan keajaiban warna-warni alam yang dimilikinya. Bagaikan berada di sebuah nirwana, surga di atas awan yang menjadi penghuni abadi Sang Terang Dunia. Saat itulah yang kita sebut hanya namaNYA dengan ucapan serta seruan syukur yang tak terhingga.   

Taman Nasional Kelimutu, Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia – 29 Mei 2022

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Mencambuk Buai Eksotisme Desa Liang Ndara

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs: galih sedayu

Gagasan kebudayaan yang berisi norma-norma luhur untuk mengatur kehidupan manusia dalam sekelompok masyarakat, diwariskan secara turun-menurun ke dalam sebuah adat.  Adat pun menciptakan masyarakat dan ruangnya tersendiri yang kerap disebut sebagai desa adat. Seperti Liang Dara. Inilah nama desa adat yang terletak di Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur. Desa adat ini jaraknya sekitar 20 km dari Kota Labuan Bajo. Adalah Kristoforus Nilson, Ketua Lembaga Budaya desa adat Liang Ndara yang mendirikan kawasan ekowisata ini. Awalnya bersama warga Kampung Cecer, ia mendirikan sebuah sanggar budaya pada tahun 2010 dan kemudian dilanjutkan membangun sebuah kampung wisata yang hingga kini terkenal dengan sebutan Liang Ndara.

Sejauh mata memandang, desa adat Liang Ndara merupakan kawasan hijau nan tradisional dengan udara yang sejuk dan menyegarkan. Apalagi tatkala kabut datang, menambah suasana magis yang sangat menenangkan hati. Sesampainya di sana, kita akan disambut oleh kepala desa adat beserta masyarakatnya yang ramah sembari dikalungi selendang tenun khas daerah Manggarai Barat. Setelah itu kita akan dibawa masuk menuju rumah adat yang terbuat dari kayu dan beratap jerami. Di dalam rumah tersebut kita akan menjumpai para tetua adat yang dengan hangat menyapa dan bercerita dengan menggunakan bahasa Manggarai. Setelah itu ketua desa adat menyerahkan sejumlah uang sebagai simbol perkenalan yang harus kita terima dan kita pun diwajibkan untuk memberikan sejumlah uang kembali secara ikhlas. Perjamuan dilanjutkan dengan makan buah pinang bersama. Buah pinang yang telah selesai dikunyah kemudian disimpan ke dalam sebuah wadah dari bahan bambu. Di akhir perjamuan ditutup dengan mencicipi minuman adat berupa tuak bernama sopi yang disuguhkan di dalam cawan terbuat dari bahan kelapa. Ritual dan tradisi penyambutan dengan minum tuak secara bersama-sama ini disebut Reis. Usai acara perjamuan dari rumah adat, kita akan diajak bergabung di area teras rumah untuk menyaksikan berbagai suguhan tarian adat yang memiliki filosofi berdampingan dengan tata cara hidup masyarakat desa adat Liang Ndara. Dari mulai tarian sirih pinang atau reis meka, tarian caci, akumawo, rangkuk alu hingga tarian sanda. Para penampil himpunan tarian tersebut dilakukan secara berkelompok oleh wanita dan pria warga desa adat secara bergantian.

Diantara berbagai suguhan tarian tersebut, yang sangat menarik perhatian adalah tarian caci. Tarian caci merupakan adu ketangkasan yang dilakukan oleh dua orang pemuda dengan menggunakan cambuk yang dipasang kulit kerbau tipis dan perisai dari kayu, dimana masing-masing akan mencambuk dan menangkis secara bergantian. Nama “Caci” yang digunakan sebagai tarian ini memiliki arti ujian satu lawan satu, yaitu “Ca” yang berarti satu dan “Ci” yang berarti uji. Kostum yang digunakan para penari ini terdiri dari 1) Panggal yang terletak pada bagian kepala, terbuat dari kulit kerbau, dilapisi kain khas adat Manggarai bermotif renda, berbentuk persegi empat, bagian atasnya menyerupai tanduk kerbau yang berhiaskan bulu ekor kambing ; 2) Nggorong atau giring-giring yang terbuat dari logam dan diikatkan pada pinggang pemain untuk menambah kegagahan para pemain karena suaranya yang berbunyi pada saat pemain bergerak ; 3) Lipa Songke atau kain songke Lipa berupa kain sarung berwarna hitam bersulam khas Manggarai (menggunakan benang yang disisipkan di tengah kain tenunan) yang dipakai hanya sebatas lutut dengan kombinasi warna-warni minim yang disebut lipa laco dan kombinasi sulaman yang disebut dengan Jok ; 4) Tubi Rapa berupa perhiasan manik-manik yang digunakan pada wajah bersamaan dengan Destar (pakaian adat laki-laki yang hampir mirip dengan sapu, dipakai dengan cara dililitkan pada kepala dan berfungsi sebagai pelindung wajah) ; 5) Selendang yang diikatkan di pinggang dan merupakan kain tenunan khas Manggarai ; 6) Ndeki yang merupakan aksesoris terbuat dari bulu ekor kambing dan berfungsi sebagai pelindung punggung serta melambangkan kejantanan. Pertunjukan tari Caci dibuka dengan tarian Danding atau Tandak Manggarai. Sebelum beradu, setiap penari pria terlebih dahulu melakukan gerakan pemanasan otot sambil menggerakan badannya bak gerakan kuda. Dengan destar atau ikat kepala dan sarung songket, para pemuda berjejer menari dan menyanyikan lagu daerah yang dinyanyikan dengan lantang untuk menantang lawannya. Dengan lincah dan gemulai penyerang menghentakkan pecutnya ke tubuh lawan sambil melompat tinggi, yang kemudian akan ditahan oleh lawannya dengan menggunakan perisai. Setiap pemain beresiko memiliki bekas sabetan, tapi meski begitu tidak ada dendam antar pemain. Seluruh tarian ini diiringi oleh alunan musik yang wajib dimainkan oleh para wanita masyarakat adat Liang Ndara sebagai simbol kelembutan.

Secara keseluruhan tarian caci merupakan kolaborasi unik antara keindahan gerak tubuh dan pakaian yang digunakan penari (Lomes), Seni Vokal (Bokak), dan ketangkasan mencambuk dan menangkis (Lime). Tarian ini menjadi bentuk ekspresi suka cita masyarakat adat Liang Ndara saat upacara perkawinan (tae kawing) serta acara syukuran (panti) baik itu syukuran menyambut tahun baru, syukuran membuka ladang, syukuran hasil panen, atau syukuran menerima tamu kehormatan. Namun sesungguhnya, makna yang lebih mendalam dari itu semua adalah bahwa tarian ini memiliki filosofi kontemplasi diri serta membawa simbol pertobatan manusia dalam hidup. Untuk itu marilah kita berbagi suka cita dengan berkunjung ke desa adat Liang Ndara yang ada di Kota Labuan Bajo. Menari dan bersorak sorailah bersama masyarakatnya karena kabut yang kelam akan lenyap dan surya yang redup akan kembali bersinar. Lambungkan segala pujian dan syukur bersama mereka agar kita senantiasa belajar perihal memperbaiki kesalahan diri dalam kehidupan sehingga hari esok akan lebih baik dari hari kemarin.

Desa Adat Liang Ndara, Labuan Bajo, Flores, NTT – 27 Mei 2022

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Museum Kehidupan Samsara: Ruang Keseimbangan Alam, Manusia & Semesta

leave a comment »

Teks & Foto: galih sedayu

Bagaikan masuk ke sebuah dimensi lain di bumi. Itulah yang saya rasakan ketika pertama kalinya menempatkan hati di kawasan Museum Kehidupan Samsara yang lokasinya berada dekat dengan Gunung Agung, tepatnya di Banjar Yeh Bunga, Desa Jungutan, Bebandem, Kabupaten Karangasem, Bali. Gapura yang terbuat dari bebatuan alami dengan atap dari alang-alang menjadi pesona pertama yang menjadi pintu utama untuk memasuki kawasan ini. Sapaan hangat dari para penerima tamu perempuan dan laki-laki yang mengenakan busana adat bali seraya mengucap kata “Om Swastiastu” pun menjadi awal perkenalan hati. Kemudian dilajutkan dengan ritual mengenakan selendang yang diikat di pinggang (kamben) serta membasuh tangan dengan mengambil air yang disimpan di sebuah gentong dan menggunakan gayung tradisional yang terbuat dari batok kelapa. Sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara kayu beradu. Sambil menyusuri jalan setapak, tampak terlihat sekelompok ibu-ibu yang sedang menggunakan alat penumbuk padi dari kayu (alu dan lesung) di depan sebuah gubuk kayu sederhana. Benturan alu dan lesung tersebut menciptakan bunyi irama yang harmonis dan terdengar merdu di tengah suasana alam hijau yang banyak dikelilingi oleh pohon kelapa. Sungguh semua momen itu menjadi suguhan pembuka yang sangat berkesan di hati.

Di dalam kawasan Museum Kehidupan Samsara, terdapat sebuah ruang yang berisi adegan siklus hidup manusia di Bali berupa 14 rentetan upacara Hindu disajikan dalam bentuk foto, deskripsi, beserta peralatannya. Dimulai dari berbagai nilai serta tradisi yang melekat sejak bayi berada di dalam kandungan, kemudian lahir ke dunia, hidup dan mati bahkan hingga menyatu dengan Ida Sanghyang Widhi Wasa hingga tercapainya kesempurnaan. Di ruang ini, siklus hidup manusia direkonstruksi ulang dalam bingkai ritual, pemaknaan simbol serta narasi kearifan lokal yang dapat menjadi pengetahuan dan pengalaman tersendiri. Sebentuk cerita perihal tahapan kehidupan yang ditandai dengan berbagai upacara dan ritual tradisional yang mengarah pada keyakinan akan tugas hidup sebagai manusia dalam kelahiran berulang menuju nirvana. Sistem pohon keluarga yang dianut oleh masyarakat bali pun dapat dilihat dan dibaca di ruang ini. Di sanalah kita bisa mengetahui bahwasanya pemilik Museum Kehidupan Samsara ini masih satu garis keturunan dengan Mpu Tantular, pencipta Kitab Sutasoma.

Aktivitas keseharian masyarakat pun menjadi bagian yang menyatu di dalamnya sehingga pengalaman mata & hati kita menjadi utuh tatkala kita hadir dalam kesadaran penuh di ruang ini. Dari mulai pembuatan arak secara tradisional, hingga memasak makanan tradisional. Salah satu pendiri Museum Kehidupan Samsara  ini adalah Ida Bagus Agung Gunarthawa. Beliau adalah seorang sahabat baik dan saat ini kami bersama-sama di Indonesia Creative Cities Network (ICCN). Menurut Gus Agung, bingkai kata “Museum Kehidupan” tidak diartikan sebagai sebuah tempat disimpannya benda-benda bersejarah dalam kehidupan masyarakat. Namun memiliki dimensi tempat bersemainya sebuah proses pemaknaan kembali nilai-nilai luhur sebagai pengetahuan lokal (local wisdom) yang dapat dijalankan sebagai pedoman hidup manusia Indonesia dan dapat ditransformasikan menjadi pengetahuan baru kepada masyarakat lain dalam konteks pembangunan keragaman budaya dan toleransi dalam kehidupan sosial. Pemaknaan atas istilah “Museum Kehidupan” juga dapat diartikan sebagai upaya pemeliharaan dan pelestarian ritual, tradisi dan budaya yang berkembang dalam masyarakat Indonesia sebagai praktik dalam konteks peradaban yang dinamis. Bagi saya tempat ini bukan sekedar destinasi wisata namun ia juga menawarkan sebuah ruang kontemplasi bahwasanya kita adalah segala apa yang kita lakukan bagi alam, sesama & semesta.

Karangasem, Bali, 27 November 2020

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

May 6, 2022 at 1:44 pm

Kupang, Cendana Harum Dari Timur

leave a comment »

Teks & Foto: galih sedayu

Himpunan imaji mural menyapa saya dengan hangat saat melangkahkan kaki untuk pertama kalinya di Kota Kupang pada suatu pagi yang terik selepas mendarat di Pulau Timor. Goresan visual warna-warni tersebut memenuhi bangunan-bangunan tua peninggalan masa kolonial yang berada di kawasan Pantai Lahi Lai Bissi Kopan (LLBK) Kota Lama, dekat dengan Dermaga Lama Kupang yang kini sudah tidak berfungsi lagi. Area bersejarah ini menjadi saksi bisu serta mewariskan ribuan cerita perihal keharuman Kayu Cendana yang menjadi kemuliaan pulau Timor terutama Kupang. Dimana kota ini dahulu menjadi pusat perdagangan antar pulau dan mulai ramai dikunjungi oleh para pedagang dari Jawa pada abad ke-15. Karenanya Kota Kupang pun ditetapkan sebagai salah satu Kota Pusaka / Kota Warisan Budaya (Heritage City) di Indonesia pada tahun 2014. Mural ini bagi saya sangat merefleksikan jiwa semangat, identitas budaya, serta energi kreativitas yang dimiliki oleh pulau Timor dan seolah memanggil kita agar dapat berempati & berkolaborasi demi menyalakan kembali cahaya dari timur Indonesia.

Keseokan harinya saya kembali mengikuti mentari pagi yang membentuk wajah & bayang momen kehidupan di sekitar Pantai Kelapa Lima yang berlokasi di tepi Jalan Timor. Kawasan yang merupakan sentra penjualan ikan bagi masyarakat setempat ini rencananya akan dijadikan lokasi pusat kuliner Kota Kupang yang menawarkan berbagai sajian dan hidangan demi memuaskan dahaga lapar haus para wisatawan yang berkunjung ke sana. Ruang-ruang publik yang mencerminkan simbol kearifan lokal dapat terlihat dengan jelas di sana. Dari mulai gazebo berbentuk sasando (alat musik tradisional yang berasal dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur), bangunan pusat kuliner dengan atap jerami yang menjorok ke laut, panggung budaya, hingga jetty atau dermaga untuk pedagang yang menjadi ikon ruang terbuka publik di kawasan tersebut.

Sungguh senang rasanya tatkala ruang-ruang publik seperti ini dapat dirasakan dan dinikmati oleh warga Indonesia di belahan timur. Percikan kreativitas yang dimiliki oleh warga sebuah kota tentunya mendambakan ruang-ruang untuk berekspresi. Sehingga dengan sendirinya nanti akan hadir pasukan semut komunitas yang berkerumun demi mengharumkan kotanya. Kiranya cahaya dari timur senantiasa bersinar terang di Kota Kupang agar menjadi bagi Indonesia keharuman abadi cendana yang sangat melegenda. “Uis Neno Nokan Kit”.

Kupang, 29-30 Maret 2022

***

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

April 5, 2022 at 11:20 am

Museum Kehidupan Rumah Marga Tjhia: Ruang Toleransi

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Ribuan cerita perihal sejarah masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa, dapat kita temui di Kota Singkawang, Provinsi Kalimantan Barat. Julukan Kota Seribu Kelenteng yang melekat bagi Kota Singkawang, menjadi sihir yang memikat bagi para pengelana ruang dan waktu. Sejumlah artefak bangunan sejarah pun berhimpun di Kota Singkawang. Salah satunya adalah Rumah Marga Tjhia yang menjadi saksi bisu dari perjuangan leluhur masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa selama 119 tahun lamanya. Rumah Marga Tjhia yang telah menjadi cagar budaya Kota Singkawang ini tersembunyi di balik wajah ruko-ruko modern yang ramai, tepatnya di jalan Budi Utomo No. 35, Gang Mawar, Condong, Singkawang Barat.

Adalah Xie Shou Shi (Chia Siu Si dalam dialek Hakka Singkawang) yang menjadi tokoh penting di balik keberadaan Rumah Marga Tjhia ini. Chia sendiri merupakan seorang perantau muda dari Kota Xiamen, yang kemudian melarikan diri dari kemiskinan dan krisis pangan akibat bencana alam yang menimpa di China. Chia adalah seorang petani muda yang nekad mengarungi lautan demi mengadu nasib serta mencari harapan untuk kehidupan barunya. Namun dalam perjalanannya, ia terdampar di Semenanjung Malaya (Malaysia). Karena terjadi kerusuhan, Chia kembali mengarungi lautan dan tibalah di Kota Singkawang yang saat itu masih dalam kekuasaan Pemerintah Kolonial Belanda. Dari sinilah Chia mulai merintis kehidupan barunya untuk kemudian menggarap lahan pertanian Singkawang yang sangat subur. Chia kemudian memanfaatkan lokasi Singkawang yang strategis karena berseberangan langsung dengan Laut Natuna, dengan membangun sebuah armada khusus untuk mengangkut dan menjual hasil panen dari kebunnya terutama yang berupa kelapa dan karet untuk dikirim ke Malaysia dan Singapura. Lambat laun Chia menjadi sosok penting bagi masyarakat setempat maupun Pemerintah Kolonial Belanda karena kerja keras dan kesuksesannya dalam membangun perekonomian dan kehidupan sosial di Singkawang. Oleh karena itu Pemerintah Kolonial Belanda memberikan sebuah tanah hibah untuk Chia sebesar 5.000 meter persegi sebagai bentuk apresiasi atas segala hal yang dilakukannya.

Pada tahun 1902 Chia membangun tanah tersebut sebagai sebuah kawasan yang digunakan bagi rumah tempat tinggal baginya dan keluarganya, serta membangun sebuah kantor dagang miliknya yang bernama Chia Hiap Seng. Dengan mendatangkan langsung arsitek dari China, Chia membangun rumah di kawasan tersebut dengan bahan kayu ulin yang indah. Gaya arsitekturnya menggunakan campuran dari Timur dan Barat serta memiliki konsep si he yuan, yang berarti halaman yang dikelilingi oleh empat rumah. Sekitar 50 meter dari depan Rumah Marga Tjhia, terdapat sungai kecil yang dahulu digunakan sebagai sebagai jalur perdagangan menuju Malaysia dan Singapura.

Saat ini, Rumah Marga Tjhia ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Singkawang oleh pemerintah setempat sebagai usaha melestarikan dan melindungi kawasan yang telah dibangun oleh Chia. Bangunan ini dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010, Tentang Cagar Budaya. Registrasi Pusat Nomor 2/26-01/8/1 dan Registrasi daerah Nomor 6172/5/0001. Penduduk Tionghoa Singkawang mengenal rumah ini dengan sebutan “Thai Buk” yang artinya rumah besar. Bangunan ini terdiri atas ruang pertemuan, ruang berdoa, deretan kamar-kamar membentuk huruf “U”, serta taman-taman kecil. Ruang pertemuan berukuran luas berada di bagian depan rumah. Ruang berdoa berisi altar doa, abu leluhur, patung Budha dan dewa, serta papan nama leluhur. Deretan kamar merupakan tempat peristirahatan bagi keluarga keturunan Tjhia, yang masih ditempati hingga sekarang. Rumah marga Tjhia memiliki plang kayu bertuliskan kalimat mutiara Tionghoa kuno, dengan arti berbeda pada tiap ruangan rumah. Saat mengunjungi Kawasan Rumah Marga Tjhia, kita dapat menikmati pula suguhan Choi Pan (bahasa Hakka) atau Chai Kue (bahasa Tiociu) yang merupakan makanan khas Tionghoa di Singkawang. Choi Pan ini dijual di depan salah satu rumah milik keturunan Chia.

Bila kita menyambangi kawasan yang penuh dengan keunikan sejarahnya ini, kita akan disambut baik dan menjadi tamu yang selalu dipersilakan masuk meski tanpa janji terlebih dahulu. Kita pun dapat melihat serta merasakan detak jantung keseharian hidup yang berdenyut di rumah mereka tanpa ada rasa kuatir bahwa mereka terganggu dengan adanya kehadiran kita. Kiranya Rumah Marga Tjhia ini dapat menjadi ruang singgah bagi kita semua yang senantiasa menjunjung tinggi toleransi serta menghargai nilai sejarah agar pelita Bhineka Tunggal Ika tetap menyala terang selamanya bagi Indonesia.

Singkawang, 5 October 2021

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

October 26, 2021 at 1:55 pm

Sudut Mata Kecil Kota Manchester

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu

Konon kota Manchester adalah kota tersukses di Inggris. Salah satu alasannya karena kota ini mampu mendatangkan banyak wisatawan dari belahan negara lain di dunia. Musik, sepak bola, dan fesyen yang dimiliki kota Manshester menjadi daya magnet utama bagi pengunjungnya. Meski jumlah populasi penduduk kota Manchester hanya sekitar 500 ribu jiwa lebih, namun warga kota ini dapat berbicara dalam 153 bahasa yang berbeda-beda. Maka julukan kota berbudaya tinggi pun sangat melekat bagi kota Manchester. Bahkan masyarakat kota Manchester mendapat predikat dan sebutan khas yakni “Mancunian” karena dianggap mewakili semua budaya di dunia. Sayangnya saya hanya sempat bercengkrama dengan kota ini selama satu hari saja. Hanya sebagian sudut kecil kota yang sempat disapa melalui bingkai visual yang saya rekam. Namun kesan megah & artistik yang ditunjukkan oleh kota ini melalui sebagian besar bangunan tua yang tinggi menjulang, kadang memaksa saya untuk terus menengadah ke arah langit. Bagi saya kota ini masih menyimpan sejuta misteri karena waktu perkenalan kami yang sangat singkat. Kiranya suatu saat saya akan kembali lagi ke kota Manchester seraya menguak tabir misteri kota ini yang cahayanya masih tersembunyi dan menunggu untuk dibekukan.

Manchester, 1 September 2019

DSCF5481

DSCF5466

DSCF5475

DSCF5479

DSCF5487

DSCF5494

DSCF5496

DSCF5498

DSCF5502

DSCF5504

DSCF5503

DSCF5505

DSCF5519

DSCF5523

DSCF5529

DSCF5531

DSCF5537

DSCF5542

DSCF5548

DSCF5553

DSCF5558

DSCF5568

DSCF5572

DSCF5575

DSCF5577

DSCF5588

DSCF5594

DSCF5620

DSCF5630

DSCF5638

DSCF5639

DSCF5643

DSCF5607

DSCF5633

DSCF5640

DSCF5623

DSCF5590

DSCF5599

DSCF5617

DSCF5631

DSCF5646

DSCF5540

DSCF5556

DSCF5584

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

April 15, 2020 at 7:21 am

Berlabuh di Pangkuan Kota Liverpool

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu

Bagi penggemar Grup Band legendaris The Beatles & penggemar Klub Sepak Bola legendaris Liverpool F.C (Kopites) dan Everton F.C (Evertonians), Liverpool tentunya menjadi nama sebuah kota yang sangat identik dengan keberadaan mereka di dunia musik dan olahraga. Liverpool sendiri merupakan merupakan sebuah kota pelabuhan yang terletak di sebelah tebing timur Muara Sungai Mersey di bagian barat laut Inggris serta merupakan distrik metropolitan di Merseyside, Inggris. Liverpool muncul sebagai sebuah wilayah sejak tahun 1207 dan baru diberikan status sebagai sebuah kota pada tahun 1880. Kapal Titanic yang sangat megah dengan kisah tragedinya yang sangat terkenal itu ternyata menyimpan cerita bahwa sebagian besar kru kapalnya merupakan penduduk asli Kota Liverpool. Penduduk kota Liverpool sering disebut sebagai Liverpudlians dan mendapat julukan “Scousers” yang berasal dari kata “Scouse” yaitu sebuah masakan yang dikukus dan kini dikaitkan dengan logat masyarakat kota Liverpool. Konon warga kota Liverpool dikenal sebagai warga yang paling ramah di dunia dan pernah pula dinobatkan sebagai “kota paling baik di dunia” karena mereka senantiasa menyambut orang lain yang datang ke kotanya dengan sikap yang baik dan penuh toleransi layaknya sebuah kota pelabuhan. Fakta ini saya alami sendiri ketika pertama kali menginjakkan kaki di Kota Liverpool. Saya merasakan secara langsung keramahan serta kehangatan hati warga Kota Liverpool yang berada di stasiun kereta api, restoran dan hotel tempat saya menginap dari cara mereka menyapa, mengobrol dan tersenyum.

Saat berada di Kota Liverpool, saya menginap di sebuah hotel yang berada dekat sekali dengan kawasan wisata yang bernama Albert Dock. Albert Dock adalah sebuah bangunan yang berlokasi di Edward Pavilion Liverpool dan merupakan area komplek dermaga kapal bersejarah. Salah satu fungsi dermaga ini dahulu adalah menghubungkan Liverpool dengan beberapa kota seperti Birmingham dan Leeds. Menurut catatan sejarah, Albert Dock merupakan bangunan pertama di Inggris yang dididirikan tanpa menggunakan kayu namun dengan rangka baja, batu bata dan granit. Albert Dock pertama kali dibuka dan diresmikan oleh Prince Albert, suami Ratu Victoria pada tahun 1846 sekaligus menjadi saksi bisu kejayaan Kota Liverpool sebagai kota maritime terbesar di Inggris. The Beatles Story, museum grup musik legendaris asal Kota Liverpool yang berdiri tahun 1990 ini juga berada di kawasan Albert Dock. Berbagai pernak-pernik The Beatles, replika Cavern Club, Beatles Hidden Gallery, Kacamata John Lennon, Gitar pertama George Harison, dan benda bersejarah The Beatles lainnya berada di obyek wisata ini. Di museum ini kita dapat melihat dan mengetahui perihal sejarah The Beatles dari mulai cerita awal karir mereka manggung, cerita unik dibalik lagu-lagu yang mereka ciptakan, serta cerita kehidupan masing-masing personilnya. Di belakang museum ini terdapat pula Fab4store yakni sebuah toko yang menjual segala macam souvenir yang berhubungan dengan The Beatles seperti kaos, gelas, tas, buku, vinyl, dan lain sebagainya. Dari Albert Dock pula kita dapat melihat “Freij World Attractions” yang bentuknya menyerupai komedi putar raksasa yang tinggi menjulang.

Di Kota Liverpool ini berdiri pula dengan megah sebuah bangunan kuno yang memiliki dua buah menara unik yang bernama Royal Liver Building. Bangunan yang berlokasi di Pier Head Liverpool ini bentuknya sangat klasik namun masih cukup terawat dengan baik. Bangunan tua ini didampingi oleh 2 buah menara setinggi 98 meter yang dilengkapi dengan jam yang diameternya lebih lebar dari jam Big Ben di Kota London. Kedua menara tersebut sama-sama memiliki patung burung Liver Bird yang saling berseberangan arah, dimana patung yang satu menghadap ke arah kota dan patung yang lain menghadap ke arah laut. Liverbird sendiri sebenarnya merupakan hewan mitos yang berbentuk seperti angsa tetapi memiliki sayap seperti burung Phoenix. Menurut cerita warga lokal, konon Kota Liverpool akan hancur dan musnah bila salah satu dari kedua patung burung tersebut terbang dari tempatnya (dan kemudian saya menjadi tersenyum sendiri karena membayangkan patung burung Liverbird yang sedang terbang di angkasa). Saat ini Royal Liver Building yang tingginya mencapai 51 meter tersebut digunakan sebagai kantor perusahaan Royal Liver Assurance sejak tahun 1911. Kemudian di samping bangunan Royal Liver Building, masih di sekitar lokasi Pier Head Liverpool, terdapat patung empat personil The Beatles yakni patung Paul McCartney, George Harrison, Ringo Starr & John Lennon yang sedang berjalan kaki dan menghadap ke laut. Patung dengan berat 1,2 ton ini dibuat dari bahan dasar perunggu oleh pematung terkenal Kota Liverpool yang bernama Andy Edwards.

Bila kita ingin menghabiskan waktu di kawasan perbelanjaan Kota Liverpool, “Liverpool ONE” dapat menjadi salah satu tempat yang layak untuk dikunjungi. Selain tempat nongkrong & gaul bagi anak-anak muda, Liverpool ONE juga menyediakan beberapa ruang yang dapat digunakan sebagai tempat acara dari mulai musik, pameran, karnaval dan lain-lain. Salah satunya adalah Chavasse Park yang berupa taman terbuka hijau dengan suasana yang asri. Taman yang awalnya hanya seluas 1 hektar ini dibangun oleh sebuah keluarga Uskup di Kota Liverpool dan saat ini luasnya menjadi 2,2 hektar. Tak jauh dari kawasan Liverpool ONE ini terdapat pula Williamson Square yang terletak di pusat kota Liverpool. Pada tahun 1745 Williamson Square diposisikan sebagai alun-alun perumahan oleh tuan Williamson. Di kawasan alun-alun ini terdapat sejumlah air mancur yang dapat naik hingga ketinggian empat meter dan pada malam hari diterangi dengan lampu berwarna. Kawasan ini memiliki lapangan yang cukup luas dengan bangunan Liverpool Playhouse yang berdiri di sisi timur lapangan dan bangunan Teater Royal (yang sudah tidak berfungsi sejak tahun 1965) di sisi utara lapangan. Tak jauh dari kawasan ini, kita bisa melihat pula bangunan menara radio tinggi menjulang yang bernama Radio City Tower atau yang disebut juga sebagai St. John’s Beacon. Radio City Tower dengan tinggi 138 meter ini adalah radio dan menara observasi yang dibangun pada tahun 1969 dan dibuka oleh Ratu Elizabeth II.  Dari atas menara radio ini, sejauh mata memandang kita dapat melihat pemandangan kota Liverpool bagaikan melalui mata seorang burung yang sedang terbang tinggi di angkasa.

Kota Liverpool memiliki stadion sepak bola yang menjadi kebanggaan warganya. Anfield Stadium. Stadion yang dibangun sejak tahun 1884 ini merupakan salah satu stadion bola tertua di Inggris. Stadion ini berjarak sekitar 3 kilometer dari Stasiun Kereta Liverpool Lime Street. Anfield Stadium sejak lama telah menjadi markas utama legenda klub sepakbola Inggris, Liverpool F.C yang berdiri sejak tahun 1892, meskipun pada awalnya stadion ini adalah markas dari klub sepakbola kota Liverpool lainnya yakni Everton. Anfield Stadium sendiri dirancang oleh seorang Arsitek terkenal yang bernama Archibald Leitchd. Pada saat membangun stadion ini, Sang Arsitek sengaja meletakkan lampu berwarna merah dan putih di setiap sisi stadion yang menjadi keunikannya dan lampu tersebut biasanya dinyalakan pada malam hari. Saat ini Anfield Stadium memiliki empat buah tribun yaitu The Spion Kop, Main Stand, Anfield Road, dan Kenny Dalglish Stand, serta dapat menampung penonton sebanyak 54 ribu lebih.

Tak lengkap rasanya bila kita tidak menyambangi The Cavern Club selagi menyempatkan diri datang ke kota Liverpool. The Cavern Club adalah sebuah bar terkenal di dunia dimana The Beatles pernah tampil demi menghibur penonton sebanyak 292 kali selama kurun waktu tahun 1961 sampai dengan tahun 1963. Brian Epstein, Manajer Band The Beatles, menyaksikan penampilan The Beatles yang kala itu masih beranggotakan John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, Stuart Sutcliffe, dan Pete Best, untuk pertama kalinya manggung pada tanggal 9 November 1961 di The Cavern Club ini. Selain The Beatles, The Cavern Club pernah menghadirkan band dan musisi legendaris lainnya seperti The Rolling Stones, Queen, The Who, Stevie Wonder, Eric Clapton, Jimi Hendrix, Elton John, dan lain sebagainya. Dan itu dibuktikan dengan dibuatnya sebuah “Wall of Fame” yang memuat nama-nama tokoh musik kenamaan tersebut. The Cavern Club lokasinya berada di pusat kawasan perbelanjaan yang bernama Cavern Walks Shopping Centre tepatnya di 10 Mathew Street. Bangunannya sangat tua dan ditandai dengan lampu neon merah yang menyala terang dan bertuliskan nama bar “The Cavern Club” di depan pintu masuk. Tak jauh dari bar tersebut, kita bisa melihat patung perunggu John Lennon sang vokalis The Beatles yang tengah menyandarkan diri di sebuah pilar bangunan. Kemudian di sekitar sana terdapat satu patung perempuan yakni patung Eleanor Rigby salah satu karakter fiksi yang dijadikan salah satu judul lagu The Beatles. Eleanor Rigby adalah seorang wanita yang hidup pada tahun 1800-an di Woolton, sebuah kota yang tak begitu jauh dari Liverpool. Setelah Eleanor Rigby meninggal, jenazahnya dikuburkan di sebuah area gereja tempat John Lennon dan Paul McCartney sering bertemu untuk mencari inspirasi dalam membuat lagu. Barangkali hamper semua artefak dan cerita The Beatles dapat kita temui di kawasan Mathew Street ini. Tak heran saat ini Mathew Street dikukuhkan sebagai “The Bithplace of Beatles” dan menjadi surga bagi penggemar The Beatles dari seluruh penjuru dunia.

Bagi saya Liverpool adalah sebuah kota yang kuat dengan ribuan temboknya yang tak bosan bercerita. Dengan segenap jiwa, saya senantiasa bergairah demi mencari pagi sembari merekam momen cahaya serta memeluk malam sembari meneguk segelas bir di kota ini. Kota ini sungguh menyediakan damai bagi yang berkenan menghirup udaranya setiap saat. Kota ini bagaikan seorang kekasih hati yang layak untuk dikejar sepanjang masa. Sebab itulah, memori kota ini akan selalu saya simpan baik-baik agar selalu menjadi bingkai abadi yang dipaku pada dinding kehidupan dan kiranya tak kan pernah sirna untuk dikenang kembali.

Liverpool, 1-5 September 2019

DSCF6725

DSCF6755

DSCF6771

DSCF5944

DSCF5985

DSCF6110

DSCF6386

DSCF6067

DSCF6065

DSCF5956

DSCF5960

DSCF5957

DSCF6377

DSCF5964

DSCF5970

DSCF5978

DSCF6174

DSCF6233

DSCF6241

DSCF6252

DSCF6266

DSCF6150

DSCF6299

DSCF6313

DSCF6282

DSCF6288

DSCF6322

DSCF6331

DSCF6337

DSCF6350

DSCF6449

DSCF6401

DSCF6434

DSCF6459

DSCF6482

DSCF6854

DSCF6513

DSCF6532

DSCF6547

DSCF6797

DSCF6804

DSCF6801

DSCF6825

DSCF6839

DSCF6842

DSCF6846

DSCF6856

DSCF6881

DSCF6869

DSCF6572

DSCF6932

DSCF6939

DSCF6967

DSCF6974

DSCF6792

DSCF6692

DSCF5753

DSCF6653

DSCF6043

DSCF6038

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

April 13, 2020 at 2:17 am