I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Archive for the ‘MY PHOTO STORY’ Category

Sudut Mata Kecil Kota Manchester

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu

Konon kota Manchester adalah kota tersukses di Inggris. Salah satu alasannya karena kota ini mampu mendatangkan banyak wisatawan dari belahan negara lain di dunia. Musik, sepak bola, dan fesyen yang dimiliki kota Manshester menjadi daya magnet utama bagi pengunjungnya. Meski jumlah populasi penduduk kota Manchester hanya sekitar 500 ribu jiwa lebih, namun warga kota ini dapat berbicara dalam 153 bahasa yang berbeda-beda. Maka julukan kota berbudaya tinggi pun sangat melekat bagi kota Manchester. Bahkan masyarakat kota Manchester mendapat predikat dan sebutan khas yakni “Mancunian” karena dianggap mewakili semua budaya di dunia. Sayangnya saya hanya sempat bercengkrama dengan kota ini selama satu hari saja. Hanya sebagian sudut kecil kota yang sempat disapa melalui bingkai visual yang saya rekam. Namun kesan megah & artistik yang ditunjukkan oleh kota ini melalui sebagian besar bangunan tua yang tinggi menjulang, kadang memaksa saya untuk terus menengadah ke arah langit. Bagi saya kota ini masih menyimpan sejuta misteri karena waktu perkenalan kami yang sangat singkat. Kiranya suatu saat saya akan kembali lagi ke kota Manchester seraya menguak tabir misteri kota ini yang cahayanya masih tersembunyi dan menunggu untuk dibekukan.

Manchester, 1 September 2019

DSCF5481

DSCF5466

DSCF5475

DSCF5479

DSCF5487

DSCF5494

DSCF5496

DSCF5498

DSCF5502

DSCF5504

DSCF5503

DSCF5505

DSCF5519

DSCF5523

DSCF5529

DSCF5531

DSCF5537

DSCF5542

DSCF5548

DSCF5553

DSCF5558

DSCF5568

DSCF5572

DSCF5575

DSCF5577

DSCF5588

DSCF5594

DSCF5620

DSCF5630

DSCF5638

DSCF5639

DSCF5643

DSCF5607

DSCF5633

DSCF5640

DSCF5623

DSCF5590

DSCF5599

DSCF5617

DSCF5631

DSCF5646

DSCF5540

DSCF5556

DSCF5584

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

April 15, 2020 at 7:21 am

Berlabuh di Pangkuan Kota Liverpool

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu

Bagi penggemar Grup Band legendaris The Beatles & penggemar Klub Sepak Bola legendaris Liverpool F.C (Kopites) dan Everton F.C (Evertonians), Liverpool tentunya menjadi nama sebuah kota yang sangat identik dengan keberadaan mereka di dunia musik dan olahraga. Liverpool sendiri merupakan merupakan sebuah kota pelabuhan yang terletak di sebelah tebing timur Muara Sungai Mersey di bagian barat laut Inggris serta merupakan distrik metropolitan di Merseyside, Inggris. Liverpool muncul sebagai sebuah wilayah sejak tahun 1207 dan baru diberikan status sebagai sebuah kota pada tahun 1880. Kapal Titanic yang sangat megah dengan kisah tragedinya yang sangat terkenal itu ternyata menyimpan cerita bahwa sebagian besar kru kapalnya merupakan penduduk asli Kota Liverpool. Penduduk kota Liverpool sering disebut sebagai Liverpudlians dan mendapat julukan “Scousers” yang berasal dari kata “Scouse” yaitu sebuah masakan yang dikukus dan kini dikaitkan dengan logat masyarakat kota Liverpool. Konon warga kota Liverpool dikenal sebagai warga yang paling ramah di dunia dan pernah pula dinobatkan sebagai “kota paling baik di dunia” karena mereka senantiasa menyambut orang lain yang datang ke kotanya dengan sikap yang baik dan penuh toleransi layaknya sebuah kota pelabuhan. Fakta ini saya alami sendiri ketika pertama kali menginjakkan kaki di Kota Liverpool. Saya merasakan secara langsung keramahan serta kehangatan hati warga Kota Liverpool yang berada di stasiun kereta api, restoran dan hotel tempat saya menginap dari cara mereka menyapa, mengobrol dan tersenyum.

Saat berada di Kota Liverpool, saya menginap di sebuah hotel yang berada dekat sekali dengan kawasan wisata yang bernama Albert Dock. Albert Dock adalah sebuah bangunan yang berlokasi di Edward Pavilion Liverpool dan merupakan area komplek dermaga kapal bersejarah. Salah satu fungsi dermaga ini dahulu adalah menghubungkan Liverpool dengan beberapa kota seperti Birmingham dan Leeds. Menurut catatan sejarah, Albert Dock merupakan bangunan pertama di Inggris yang dididirikan tanpa menggunakan kayu namun dengan rangka baja, batu bata dan granit. Albert Dock pertama kali dibuka dan diresmikan oleh Prince Albert, suami Ratu Victoria pada tahun 1846 sekaligus menjadi saksi bisu kejayaan Kota Liverpool sebagai kota maritime terbesar di Inggris. The Beatles Story, museum grup musik legendaris asal Kota Liverpool yang berdiri tahun 1990 ini juga berada di kawasan Albert Dock. Berbagai pernak-pernik The Beatles, replika Cavern Club, Beatles Hidden Gallery, Kacamata John Lennon, Gitar pertama George Harison, dan benda bersejarah The Beatles lainnya berada di obyek wisata ini. Di museum ini kita dapat melihat dan mengetahui perihal sejarah The Beatles dari mulai cerita awal karir mereka manggung, cerita unik dibalik lagu-lagu yang mereka ciptakan, serta cerita kehidupan masing-masing personilnya. Di belakang museum ini terdapat pula Fab4store yakni sebuah toko yang menjual segala macam souvenir yang berhubungan dengan The Beatles seperti kaos, gelas, tas, buku, vinyl, dan lain sebagainya. Dari Albert Dock pula kita dapat melihat “Freij World Attractions” yang bentuknya menyerupai komedi putar raksasa yang tinggi menjulang.

Di Kota Liverpool ini berdiri pula dengan megah sebuah bangunan kuno yang memiliki dua buah menara unik yang bernama Royal Liver Building. Bangunan yang berlokasi di Pier Head Liverpool ini bentuknya sangat klasik namun masih cukup terawat dengan baik. Bangunan tua ini didampingi oleh 2 buah menara setinggi 98 meter yang dilengkapi dengan jam yang diameternya lebih lebar dari jam Big Ben di Kota London. Kedua menara tersebut sama-sama memiliki patung burung Liver Bird yang saling berseberangan arah, dimana patung yang satu menghadap ke arah kota dan patung yang lain menghadap ke arah laut. Liverbird sendiri sebenarnya merupakan hewan mitos yang berbentuk seperti angsa tetapi memiliki sayap seperti burung Phoenix. Menurut cerita warga lokal, konon Kota Liverpool akan hancur dan musnah bila salah satu dari kedua patung burung tersebut terbang dari tempatnya (dan kemudian saya menjadi tersenyum sendiri karena membayangkan patung burung Liverbird yang sedang terbang di angkasa). Saat ini Royal Liver Building yang tingginya mencapai 51 meter tersebut digunakan sebagai kantor perusahaan Royal Liver Assurance sejak tahun 1911. Kemudian di samping bangunan Royal Liver Building, masih di sekitar lokasi Pier Head Liverpool, terdapat patung empat personil The Beatles yakni patung Paul McCartney, George Harrison, Ringo Starr & John Lennon yang sedang berjalan kaki dan menghadap ke laut. Patung dengan berat 1,2 ton ini dibuat dari bahan dasar perunggu oleh pematung terkenal Kota Liverpool yang bernama Andy Edwards.

Bila kita ingin menghabiskan waktu di kawasan perbelanjaan Kota Liverpool, “Liverpool ONE” dapat menjadi salah satu tempat yang layak untuk dikunjungi. Selain tempat nongkrong & gaul bagi anak-anak muda, Liverpool ONE juga menyediakan beberapa ruang yang dapat digunakan sebagai tempat acara dari mulai musik, pameran, karnaval dan lain-lain. Salah satunya adalah Chavasse Park yang berupa taman terbuka hijau dengan suasana yang asri. Taman yang awalnya hanya seluas 1 hektar ini dibangun oleh sebuah keluarga Uskup di Kota Liverpool dan saat ini luasnya menjadi 2,2 hektar. Tak jauh dari kawasan Liverpool ONE ini terdapat pula Williamson Square yang terletak di pusat kota Liverpool. Pada tahun 1745 Williamson Square diposisikan sebagai alun-alun perumahan oleh tuan Williamson. Di kawasan alun-alun ini terdapat sejumlah air mancur yang dapat naik hingga ketinggian empat meter dan pada malam hari diterangi dengan lampu berwarna. Kawasan ini memiliki lapangan yang cukup luas dengan bangunan Liverpool Playhouse yang berdiri di sisi timur lapangan dan bangunan Teater Royal (yang sudah tidak berfungsi sejak tahun 1965) di sisi utara lapangan. Tak jauh dari kawasan ini, kita bisa melihat pula bangunan menara radio tinggi menjulang yang bernama Radio City Tower atau yang disebut juga sebagai St. John’s Beacon. Radio City Tower dengan tinggi 138 meter ini adalah radio dan menara observasi yang dibangun pada tahun 1969 dan dibuka oleh Ratu Elizabeth II.  Dari atas menara radio ini, sejauh mata memandang kita dapat melihat pemandangan kota Liverpool bagaikan melalui mata seorang burung yang sedang terbang tinggi di angkasa.

Kota Liverpool memiliki stadion sepak bola yang menjadi kebanggaan warganya. Anfield Stadium. Stadion yang dibangun sejak tahun 1884 ini merupakan salah satu stadion bola tertua di Inggris. Stadion ini berjarak sekitar 3 kilometer dari Stasiun Kereta Liverpool Lime Street. Anfield Stadium sejak lama telah menjadi markas utama legenda klub sepakbola Inggris, Liverpool F.C yang berdiri sejak tahun 1892, meskipun pada awalnya stadion ini adalah markas dari klub sepakbola kota Liverpool lainnya yakni Everton. Anfield Stadium sendiri dirancang oleh seorang Arsitek terkenal yang bernama Archibald Leitchd. Pada saat membangun stadion ini, Sang Arsitek sengaja meletakkan lampu berwarna merah dan putih di setiap sisi stadion yang menjadi keunikannya dan lampu tersebut biasanya dinyalakan pada malam hari. Saat ini Anfield Stadium memiliki empat buah tribun yaitu The Spion Kop, Main Stand, Anfield Road, dan Kenny Dalglish Stand, serta dapat menampung penonton sebanyak 54 ribu lebih.

Tak lengkap rasanya bila kita tidak menyambangi The Cavern Club selagi menyempatkan diri datang ke kota Liverpool. The Cavern Club adalah sebuah bar terkenal di dunia dimana The Beatles pernah tampil demi menghibur penonton sebanyak 292 kali selama kurun waktu tahun 1961 sampai dengan tahun 1963. Brian Epstein, Manajer Band The Beatles, menyaksikan penampilan The Beatles yang kala itu masih beranggotakan John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, Stuart Sutcliffe, dan Pete Best, untuk pertama kalinya manggung pada tanggal 9 November 1961 di The Cavern Club ini. Selain The Beatles, The Cavern Club pernah menghadirkan band dan musisi legendaris lainnya seperti The Rolling Stones, Queen, The Who, Stevie Wonder, Eric Clapton, Jimi Hendrix, Elton John, dan lain sebagainya. Dan itu dibuktikan dengan dibuatnya sebuah “Wall of Fame” yang memuat nama-nama tokoh musik kenamaan tersebut. The Cavern Club lokasinya berada di pusat kawasan perbelanjaan yang bernama Cavern Walks Shopping Centre tepatnya di 10 Mathew Street. Bangunannya sangat tua dan ditandai dengan lampu neon merah yang menyala terang dan bertuliskan nama bar “The Cavern Club” di depan pintu masuk. Tak jauh dari bar tersebut, kita bisa melihat patung perunggu John Lennon sang vokalis The Beatles yang tengah menyandarkan diri di sebuah pilar bangunan. Kemudian di sekitar sana terdapat satu patung perempuan yakni patung Eleanor Rigby salah satu karakter fiksi yang dijadikan salah satu judul lagu The Beatles. Eleanor Rigby adalah seorang wanita yang hidup pada tahun 1800-an di Woolton, sebuah kota yang tak begitu jauh dari Liverpool. Setelah Eleanor Rigby meninggal, jenazahnya dikuburkan di sebuah area gereja tempat John Lennon dan Paul McCartney sering bertemu untuk mencari inspirasi dalam membuat lagu. Barangkali hamper semua artefak dan cerita The Beatles dapat kita temui di kawasan Mathew Street ini. Tak heran saat ini Mathew Street dikukuhkan sebagai “The Bithplace of Beatles” dan menjadi surga bagi penggemar The Beatles dari seluruh penjuru dunia.

Bagi saya Liverpool adalah sebuah kota yang kuat dengan ribuan temboknya yang tak bosan bercerita. Dengan segenap jiwa, saya senantiasa bergairah demi mencari pagi sembari merekam momen cahaya serta memeluk malam sembari meneguk segelas bir di kota ini. Kota ini sungguh menyediakan damai bagi yang berkenan menghirup udaranya setiap saat. Kota ini bagaikan seorang kekasih hati yang layak untuk dikejar sepanjang masa. Sebab itulah, memori kota ini akan selalu saya simpan baik-baik agar selalu menjadi bingkai abadi yang dipaku pada dinding kehidupan dan kiranya tak kan pernah sirna untuk dikenang kembali.

Liverpool, 1-5 September 2019

DSCF6725

DSCF6755

DSCF6771

DSCF5944

DSCF5985

DSCF6110

DSCF6386

DSCF6067

DSCF6065

DSCF5956

DSCF5960

DSCF5957

DSCF6377

DSCF5964

DSCF5970

DSCF5978

DSCF6174

DSCF6233

DSCF6241

DSCF6252

DSCF6266

DSCF6150

DSCF6299

DSCF6313

DSCF6282

DSCF6288

DSCF6322

DSCF6331

DSCF6337

DSCF6350

DSCF6449

DSCF6401

DSCF6434

DSCF6459

DSCF6482

DSCF6854

DSCF6513

DSCF6532

DSCF6547

DSCF6797

DSCF6804

DSCF6801

DSCF6825

DSCF6839

DSCF6842

DSCF6846

DSCF6856

DSCF6881

DSCF6869

DSCF6572

DSCF6932

DSCF6939

DSCF6967

DSCF6974

DSCF6792

DSCF6692

DSCF5753

DSCF6653

DSCF6043

DSCF6038

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

April 13, 2020 at 2:17 am

Inilah Anfield, Kita Adalah Liverpool

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Tatkala memasuki Anfield Stadium untuk pertama kalinya, rasa takjub pun langsung melekat di hati karena saya bagaikan berada di sebuah dunia lain yang amat sangat keramat. Betapa tidak, stadion yang dibangun sejak tahun 1884 ini merupakan salah satu stadion bola tertua di Inggris. Stadion yang terletak di kota Liverpool, Marseyside, Inggris ini berjarak sekitar 3 kilometer dari Stasiun Kereta Liverpool Lime Street. Anfield Stadium sejak lama telah menjadi markas utama legenda klub sepakbola Inggris, Liverpool F.C yang berdiri sejak tahun 1892, meskipun pada awalnya stadion ini adalah markas dari klub sepakbola kota Liverpool lainnya yakni Everton. Anfield Stadium sendiri dirancang oleh seorang Arsitek terkenal yang bernama Archibald Leitchd. Pada saat membangun stadion ini, Sang Arsitek sengaja meletakkan lampu berwarna merah dan putih di setiap sisi stadion yang menjadi keunikannya dan lampu tersebut biasanya dinyalakan pada malam hari. Saat ini Anfield Stadium memiliki sempat buah tribun yaitu The Spion Kop, Main Stand, Anfield Road, dan Kenny Dalglish Stand, serta dapat menampung penonton sebanyak 54 ribu lebih.

Sesaat setelah memasuki gerbang pagar Anfield Stadium, patung manajer legendaris Liverpool periode 1959-1974, Bill Shankly terlihat menyambut kedatangan pengunjung di depan logo besar The Kop. Patung perunggu setinggi 2,4 meter ini didirikan pada tanggal 3 Desember 1997 yang menggambarkan Bill Shankly dengan pose terkenal yang ia lakukan ketika menerima tepuk tangan dari para penggemarnya. Di bawah patung ini tertulis kalimat “Bill Shankly – He Made The People Happy”. Patung ini memang layak berdiri kokoh di sana karena di bawah besutan manajer legendaris inilah, klub berjuluk ”The Reds” tersebut berhasil meraih 31 dari 63 piala bergengsi sepakbola.

Di luar stadion juga terdapat tugu peringatan tragedi Hillsborough yang selalu dihiasi dengan karangan bunga sebagai bentuk penghormatan kepada 96 orang suporter Liverpool yang tewas terjepit di antara penonton saat menyaksikan laga semifinal Piala FA antara Liverpool dan Nottingham Forest pada tanggal 15 April 1989. Kemudian di luar stadion ini hadir pula patung John Houlding yang mengenakan seragam sebagai walikota di 96 Avenue, dimana ia merupakan tokoh pemilik Anfield Stadium pada saat pertama kali berdiri. Patung perunggu ini berukuran tujuh kaki dan dibuat oleh pematung asli Liverpool bernama Tom Murphy, yang juga merupakan pembuat patung Bill Shankly.

Bila kita masuk ke dalam stadion Anfield, kita akan banyak menemukan berbagai artefak visual dan ruang-ruang bersejarah perihal Liverpool F.C. Dari mulai himpunan bendera besar yang bertuliskan “Liverpool the Cream of Europe” ataupun “Liverpool FC Make the People Happy”. Hingga ke ruang ganti pemain dengan deretan kostum yang ditata sesuai tempat duduk pemain, dimana kaos para pemain tergantung rapi di tiga sisi dinding ruangan yang didominasi warna merah. Kemudian sebelum menuju lapangan hijau, terdapat lorong dengan sebuah plakat bergambar lambang Liverpool FC di dinding yang bertuliskan ”This Is Anfield”. Tulisan itu sendiri sesungguhnya memberi pesan peringatan sekaligus upaya intimidasi kepada pemain lawan bahwa mereka sedang bermain di kandang Liverpool FC.

Tak heran memang bila daya magnet Anfield Stadium ini dapat menarik pengunjung dari seluruh penjuru dunia untuk menginjakkan kakinya di sana. Bagi penganut agama sepakbola, mengunjungi Anfield tentunya ibarat melakukan ziarah ke tanah suci. Karena di tempat itulah berbagai doa dan harapan senantiasa dipanjatkan atas ribuan kisah manusia dengan berbagai ceritanya dalam nama sepakbola. Dan bagi saya, satu keajaiban yang paling sangat dirasakan tatkala datang ke Anfield Stadium ini adalah bahwa kita tak akan pernah merasa sendirian. This is Anfield, We are Liverpool.

Liverpool, 1 & 3 September 2019

DSCF6672

DSCF6610

DSCF6588

DSCF6653

DSCF5939

DSCF6659

DSCF6646

DSCF6642

DSCF6595

DSCF6606

DSCF6615

DSCF6621

DSCF6624

DSCF6627

DSCF5649

DSCF5666

DSCF5672

DSCF5677

DSCF5683

DSCF5688

DSCF5692

DSCF5693

DSCF5694

DSCF5695

DSCF5699

DSCF5705

DSCF5711

DSCF5713

DSCF5714

DSCF5715

DSCF5716

DSCF5717

DSCF5766

DSCF5895

DSCF5899

DSCF5753

DSCF5755

DSCF5779

DSCF5790

DSCF5792

DSCF5796

DSCF5798

DSCF5802

DSCF5810

DSCF5819

DSCF5823

DSCF5825

DSCF5830

DSCF5837

DSCF5842

DSCF5851

DSCF5855

DSCF5869

DSCF5874

DSCF6677

DSCF6680

DSCF5817

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

 

Menjala Cahaya Kota London

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu

Sejauh mata memandang serta ditemani oleh kaki yang berjalan menapaki sebagian sudut ruang Kota London, sedekat ini pula hati senantiasa terhibur karena segala pesona yang dihadirkan di sana. Setiap detik sesaat kamera akan menangkap cahaya, jantung pun serasa berdegup kencang seolah tengah menanti kekasih pujaan yang lama tak bersua dalam adegan keseharian melalui tubuh kota ini.

London yang merupakan ibu kota inggris dan britania raya ini memang layak dijuluki sebagai kota kreatif dunia. Kota tua yang yang telah menjadi pemukiman utama selama dua milenium sejak didirikan oleh Romawi pada abad ke-1 dengan sebutan Londinium, kini menjelma menjadi pusat pendidikan terbesar di eropa yang memiliki lebih dari 40 universitas. Kota megah yang berdiri kokoh di sepanjang Sungai Thames ini memiliki keunggulan kelas dunia di berbagai bidang diantaranya kesenian, bisnis, hiburan, kesehatan, mode, pariwisata, transportasi, dan media.

Jaringan kereta api bawah tanah (underground) yang dimiliki Kota London merupakan jejak peninggalan yang tertua di dunia. Rumah penduduk zaman Victoria yang masih ditinggali pun tersebar di berbagai belahan Kota London. Belum lagi berbagai bangunan sejarah yang dengan indahnya menghiasi kota, turut menciptakan karakter Kota London sebagai Kota Heritage Dunia.

Sebagai orang yang baru pertama kali menghirup udara di Kota London, kesan modern dan kuno bercampur aduk menjadi satu dalam kasat mata awam. Pemandangan di depan Buckingham Palace penuh dengan turis-turis dari berbagai negara yang ingin menyaksikan istana megah yang dihuni oleh Ratu Inggris Elizabeth beserta atraksi Penjaga Ratu (Queen’s Guard). Tentara inggris yang mengenakan seragam berwarna merah menyala, celana panjang hitam dengan topi hitam besar yang ditutupi dengan kulit beruang asli ini, menjadi penjaga istana dengan berdiri tegak sambil sesekali berjalan dengan gerakan berbaris di depan pintu istana.

Kota London juga memiliki situs warisan dunia yang bernama Tower Bridge dengan ukuran panjang 244 m dan tinggi 65 m. Jembatan dengan gaya arsitektur khas Victoria ini menjadi salah satu ikon Kota London yang menopang sebuah jalan raya yang melintasi Sungai Thames. Setiap tahunnya lebih dari 600.000 orang dari seluruh penjuru dunia datang mengunjungi lambang kemegahan Kota London tersebut.

Selain itu Kota London masih menyimpan berbagai destinasi wisata yang sangat menarik. Sebut saja dari mulai British Museum, museum terbesar di dunia yang menyimpan barang-barang artefak dari seluruh penjuru dunia ; Trafalgar Square, alun-alun terbesar dan terkenal di London ; Camden Market, kawasan belanja dengan harga barang yang murah ; China Town, pusat kuliner Cina & Asia ; St. Anne’s Churchyard, sebuah taman untuk umum yang disebut juga St. Anne’s Gardens ; hingga Stamford Bridge, markas besar klub sepakbola Chelsea.

Ingin sekali rasanya berdansa lebih lama bersama waktu di sana. Sembari mensyukuri betapa agung karya ciptaan-Nya. Langit, buana semesta, beserta udara yang kuhirup bersama mentari. Terima kasih kepada cahaya yang telah menuntunku ke sana. Kiranya ada masa yang akan membawaku kembali dalam ribuan kenangan itu.

London – England, 30-31 August & 7 September 2019

DSCF4879

DSCF4882

DSCF4909

DSCF4920

DSCF4924

DSCF4947

DSCF4968

DSCF4994

DSCF4999

DSCF5008

DSCF5011

DSCF5030

DSCF5096

DSCF5110

DSCF5115

DSCF5118

DSCF5174

DSCF5125

DSCF5132

DSCF5142

DSCF5176

DSCF5180

DSCF5194

DSCF5215

DSCF5221

DSCF5228

DSCF5232

DSCF5243

DSCF5425

DSCF5434

IMG_8586_blog

DSCF7652

DSCF7099

IMG_8635_blog

DSCF7105

DSCF7144

DSCF7150

DSCF7158

DSCF7164

DSCF7180

DSCF7194

DSCF7204

DSCF7210

DSCF7223

DSCF7232

DSCF7233

DSCF7271

IMG_8602_blog

DSCF7455

DSCF7398

DSCF7511

DSCF7525

IMG_7697

DSCF4808

DSCF4764

DSCF4774

DSCF4791

DSCF5438

IMG_8606_blog

DSCF7059

DSCF7071

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

October 27, 2019 at 12:43 pm

Salam Pesona Kota Nagoya

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Nagoya, kota terbesar keempat di negara Jepang setelah Tokyo, Yokohama, dan Osaka dalam jumlah penduduk ini memang menawarkan sebuah pesona tersendiri. Ibukota dari Prefektur Aichi ini letaknya di sekitar pesisir Samudra Pasifik Wilayah Chubu. Lokasi Nagoya menjadi strategis karena berada di antara Kota Tokyo & Kyoto. Beruntung saya bisa melangkahkan kaki di sana dan beroleh kesempatan untuk merekam denyut jantung Kota Nagoya yang sangat teratur. Kota yang bersih, bangunan yang sangat terawat, serta beragam makanan lezat yang dijajakan menjadikan saya kerasan untuk menghuni kota ini meski hanya beberapa saat saja. Tak seperti di Indonesia, kawanan burung gagak hitam yang dibiarkan hidup liar di kota ini tidak menjadikan Nagoya berkesan angker. Citra polisi pun menjadi lebih terhormat dan tidak mengintimidasi karena mereka hanya menggunakan sepeda saat melakukan patroli keamanan meski sesungguhnya sangat jarang sekali terjadi tindakan kriminal di sana. Seperti kultur orang jepang pada umumnya, hampir setiap waktu saya melihat aktivitas keseharian warga yang berjalan kaki dan bersepeda. Sesekali saya menangkap momen warga yang menggembalakan anjing piarannya di pagi hari. Di Nagoya saya seperti menghirup oksigen bersih tanpa polusi asap maupun polusi suara. Dan akhirnya hanya kalimat ini yang pantas menjadi penutup cerita singkatnya. Ke Nagoya aku kan kembali.

Nagoya, Jepang ; Februari, April, Mei 2018

DSCF2312

DSCF2331

DSCF2453

DSCF2485

DSCF2511

DSCF2531

DSCF2551

DSCF2641

DSCF2651

DSCF2654

DSCF2734

DSCF2737

DSCF2744

DSCF2751

DSCF2762

DSCF2766

DSCF3326

DSCF3357

DSCF3362

DSCF5327

DSCF5341

DSCF5357

DSCF5359

DSCF5371

DSCF5388

DSCF5395

DSCF5410

DSCF5413

DSCF5450

DSCF5456

DSCF5502

DSCF6164

DSCF6194

DSCF6935

DSCF6943

DSCF6948

DSCF6971

DSCF7808

DSCF7816

DSCF7822

DSCF7826

DSCF7829

DSCF7831

DSCF7834

DSCF7841

DSCF7849

DSCF7853

DSCF7859

DSCF7867

DSCF7869

Copyright (c) 2018 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

September 30, 2018 at 1:46 pm

Nuansa Pagi Di Victoria Park

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Cuaca dingin yang menyentuh 7 derajat celcius menyambut pagi tatkala saya beroleh kesempatan menginjakkan kaki di area Victoria Park yang lokasinya berada di Causeway Bay, Pennington Street, Hongkong. Meski matahari bersinar telanjang, namun hawa dingin itu tetap terasa menembus tubuh saya yang barangkali terbiasa hidup di iklim tropis. Victoria Park adalah taman terbesar di Pulau Hongkong dengan luas sekitar 19 hektar. Ratu Victoria dari Inggris dijadikan nama taman tersebut sekaligus dibuatkan patung lilinnya yang berada di pintu gerbang utama taman. Taman ini kerap dijadikan tempat peringatan tahun baru Imlek dan pameran bunga setiap tahunnya. Menurut sejarahnya, dulunya taman ini adalah tempat penampungan angin topan yang digunakan sebagai tempat berlindung bagi kapal nelayan dan kapal pesiar. Pada hari minggu dan hari libur, biasanya taman ini menjadi tempat berkumpulnya para pekerja rumah tangga yang kebanyakan berasal dari Indonesia. Victoria Park menjadi sebuah oase hijau di tengah gedung pencakar langit yang tinggi menjulang dan mengepungnya. Penggalan-penggalan momen bisa kita lihat dan rekam di sana. Dari mulai orang-orang yang melakukan aktivitas tai chi, jogging, membaca koran, berolah raga, ataupun hanya sekedar berdiri berjemur sembari merasakan hangatnya mentari. Wilujeung enjing wahai Victoria Park.

Victoria Park, Hongkong, 1 Februari 2018

24KaryaFoto

***

Text & Photographs : galih sedayu

Cold weather that touched 7 degrees celcius welcomed the morning when I had the opportunity to set foot in Victoria Park area located in Causeway Bay, Pennington Street, Hongkong. Although the sun was shining naked, but the cold was still penetrating my body that perhaps used to live in a tropical climate. Victoria Park is Hong Kong’s largest park with an area of about 19 hectares. Queen Victoria of England made the name of the park as well as made a wax statue that is in the main gate of the park. This park is often used as a place of celebration of Lunar New Year and flower exhibition every year. Historically, this park was once a cyclone shelter used as a shelter for fishing boats and cruise ships. On Sundays and public holidays, this park usually becomes a gathering place for domestic workers mostly from Indonesia. Victoria Park becomes a green oasis in the middle of a towering high skyscraper and surround it. Fragments of moments we can see and record there. People doing tai chi, jogging, reading newspapers, exercising, or just standing basking while feeling the warmth of the sun. Good Morning Victoria Park.

Victoria Park, Hongkong, 1 February 2018

24Photographs

DSCF2136

DSCF2181

DSCF2155

DSCF2223

DSCF2282

DSCF2293

DSCF2249

DSCF2229

DSCF2201

DSCF2146

DSCF2157

DSCF2119

DSCF2211

DSCF2216

DSCF2164

DSCF2240

DSCF2255

DSCF2263

DSCF2273

DSCF2281

DSCF2285

DSCF2286

DSCF2291

DSCF2295

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

February 23, 2018 at 5:30 am

Warisan Leluhur Dunia Di Shirakawa-go

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu

Negara yang besar tentunya tak akan abai terhadap warisan budaya yang dimilikinya. Karena di sanalah sesungguhnya kita dapat menemukan jejak karya bangsa yang diciptakan oleh para leluhurnya. Shirakawa-go, salah satu desa bersejarah yang dimiliki oleh Negeri Matahari Terbit, Jepang adalah salah satunya. Rumah-rumah tradisional yang berusia sekitar 200 tahun telah menjadi saksi biksu bagi keberadaannya. Dengan ciri yang unik, yakni atap rumah yang membentuk segitiga sama kaki, terbuat dari jalinan jerami yang ditumpuk hingga tebal, menjadikan rumah dengan model yang disebut gassho-zukuri (tangan yang berdoa) itu menjadi magnet wisatawan dunia. Terletak di lembah Sungai Shogawa dan dikelilingi pegunungan, Shirakawa-go selalu mengalami musim dingin dengan hujan salju yang hebat. Letak persisnya berada di pegunungan Hakusan yang membentang dari prefektur Gifu hingga prefektur Yoyama. Dengan atap yang memiliki kemiringan sekitar 60 derajat itu, tumpukan salju tentunya akan cepat runtuh. Apalagi perancang rumah gassho-zukuri di masa lampau memang sangat memikirkan bentuk rumah dengan kondisi alam tersebur. Salah satunya adalah semua atap rumah di desa tersebur menghadap ke timur dan barat yang bertujuan agar salju yang menumpuk bisa segera mencair bila terkena sinar matahari. Karena atap menghadap arah matahari, semua ventilasi yang terletak di loteng mengarah ke selatan dan utara. Dengan begitu aliran udara dan angin bebas keluar masuk sehingga menciptakan sistem ventilasi yang terbaik. Seperti kebanyakan rumah tradisional Jepang lainnya, rumah gassho-zukuri menggunakan kayu. Uniknya, untuk menyatukan antara bagian satu dengan yang lain tidak satupun paku yang digunakan. Semua disatukan dengan tali yang terbuat dari jerami yang dijalin atau neso, istilah untuk menyebut cabang pohon yang dilunakkan. Pada tanggal 9 Desember 1995, UNESCO menetapkan rumah gassho-zukuri di Shirakawa-go dan Gokayama sebagai bagian dari Situs Kebudayaan Dunia. Shirakawa-go memiliki jumlah rumah bergaya gassho-zukuri terbanyak dibanding dengan dua desa bersejarah lainnya. Hingga saat ini, rumah-rumah gassho-zukuri ini masih digunakan sebagai tempat tinggal. Kuil Buddha, gubuk, itakura (gudang), Kuil Shinto, dan saluran air, adalah beberapa objek lain yang wajib dijaga dan dipertahankan. Bagi siapapun yang ingin melihat & belajar perihal kearifan bangsa Jepang, Shirakawa-go adalah tempatnya. Sebuah perkampungan kecil nan indah yang menawarkan perasaan syukur dan kebahagiaan.

Shirakawa-go, Jepang, 4 Februari 2018

***

A Great Country certainly will not ignore the cultural heritage it has. Because that’s where we can actually find traces of the works of the nation created by the ancestors. Shirakawa-go, one of the historic villages owned by the Land of the Rising Sun, Japan is one of them. Traditional houses of about 200 years have been a monk’s witness to its existence. With a unique feature, the roof of a house that forms an equilateral triangle, made of straw braids stacked to the thickness, making the house with a model called gassho-zukuri (praying hands) it becomes a magnet of world tourists. Located in the Shogawa River valley and surrounded by mountains, Shirakawa-go always experiences winter with great snowfall. The exact location is in the Hakusan mountains stretching from Gifu prefecture to Yoyama prefecture. With a roof that has a slope of about 60 degrees, the pile of snow will certainly quickly collapse. Moreover, the designer of gassho-zukuri house in the past is very thinking about the shape of the house with the natural conditions. One of them is all the roof of the house in the village facing east and west which aims to accumulate snow that can immediately melt when exposed to the sun. Because the roof is facing the sun, all the vents located in the attic are heading south and north. That way the air and wind flow freely in and out, creating the best ventilation system. Like most other traditional Japanese houses, gassho-zukuri houses use wood. Uniquely, to unite between one part with another none of the nails are used. All put together with a strap made of straw woven or neso, a term to refer to softened tree branches. On December 9, 1995, UNESCO designated gassho-zukuri houses in Shirakawa-go and Gokayama as part of the World Cultural Site. Shirakawa-go has the largest number of gassho-zukuri-style houses compared to two other historic villages. Until now, these gassho-zukuri houses are still used as shelter. Buddhist temples, huts, itakura (warehouse), Shinto Temple, and waterways, are some other objects that must be maintained and maintained. For anyone who wants to see & learn about Japanese wisdom, Shirakawa-go is the place. A small, beautiful village that offers a feeling of gratitude and happiness.

Shirakawa-go, Japan, February, 4, 2018

DSCF2855

DSCF2863

DSCF2906

DSCF2867

DSCF2869

DSCF2889

DSCF2895

DSCF2899

DSCF2908

DSCF2912

DSCF2917

DSCF2919

DSCF2924

DSCF2925

DSCF2938

DSCF2941

DSCF2953

DSCF2959

DSCF2962

DSCF2966

DSCF3005

DSCF3008

DSCF3029

DSCF3050

DSCF3053

DSCF3054

DSCF3070

DSCF3090

DSCF3091

DSCF3076

DSCF3092

DSCF3098

DSCF3100

DSCF3108

DSCF3115

DSCF3118

DSCF3122

DSCF3128

DSCF3141

DSCF3152

DSCF3197

DSCF3208

DSCF3220

DSCF3224

DSCF3241

DSCF3245

DSCF3252

DSCF3257

DSCF3259

DSCF3171

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

February 15, 2018 at 11:24 am