I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Archive for the ‘MY PHOTO STORY’ Category

Salam Pesona Nagoya

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Nagoya, kota terbesar keempat di negara Jepang setelah Tokyo, Yokohama, dan Osaka dalam jumlah penduduk ini memang menawarkan sebuah pesona tersendiri. Ibukota dari Prefektur Aichi ini letaknya di sekitar pesisir Samudra Pasifik Wilayah Chubu. Lokasi Nagoya menjadi strategis karena berada di antara Kota Tokyo & Kyoto. Beruntung saya bisa melangkahkan kaki di sana dan beroleh kesempatan untuk merekam denyut jantung Kota Nagoya yang sangat teratur. Kota yang bersih, bangunan yang sangat terawat, serta beragam makanan lezat yang dijajakan menjadikan saya kerasan untuk menghuni kota ini meski hanya beberapa saat saja. Tak seperti di Indonesia, kawanan burung gagak hitam yang dibiarkan hidup liar di kota ini tidak menjadikan Nagoya berkesan angker. Citra polisi pun menjadi lebih terhormat dan tidak mengintimidasi karena mereka hanya menggunakan sepeda saat melakukan patroli keamanan meski sesungguhnya sangat jarang sekali terjadi tindakan kriminal di sana. Seperti kultur orang jepang pada umumnya, hampir setiap waktu saya melihat aktivitas keseharian warga yang berjalan kaki dan bersepeda. Sesekali saya menangkap momen warga yang menggembalakan anjing piarannya di pagi hari. Di Nagoya saya seperti menghirup oksigen bersih tanpa polusi asap maupun polusi suara. Dan akhirnya hanya kalimat ini yang pantas menjadi penutup cerita singkatnya. Ke Nagoya aku kan kembali.

Nagoya, Jepang ; Februari, April, Mei 2018

DSCF2312

DSCF2331

DSCF2453

DSCF2485

DSCF2511

DSCF2531

DSCF2551

DSCF2641

DSCF2651

DSCF2654

DSCF2734

DSCF2737

DSCF2744

DSCF2751

DSCF2762

DSCF2766

DSCF3326

DSCF3357

DSCF3362

DSCF5327

DSCF5341

DSCF5357

DSCF5359

DSCF5371

DSCF5388

DSCF5395

DSCF5410

DSCF5413

DSCF5450

DSCF5456

DSCF5502

DSCF6164

DSCF6194

DSCF6935

DSCF6943

DSCF6948

DSCF6971

DSCF7808

DSCF7816

DSCF7822

DSCF7826

DSCF7829

DSCF7831

DSCF7834

DSCF7841

DSCF7849

DSCF7853

DSCF7859

DSCF7867

DSCF7869

Copyright (c) 2018 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Advertisements

Written by Admin

September 30, 2018 at 1:46 pm

Nuansa Pagi Di Victoria Park

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Cuaca dingin yang menyentuh 7 derajat celcius menyambut pagi tatkala saya beroleh kesempatan menginjakkan kaki di area Victoria Park yang lokasinya berada di Causeway Bay, Pennington Street, Hongkong. Meski matahari bersinar telanjang, namun hawa dingin itu tetap terasa menembus tubuh saya yang barangkali terbiasa hidup di iklim tropis. Victoria Park adalah taman terbesar di Pulau Hongkong dengan luas sekitar 19 hektar. Ratu Victoria dari Inggris dijadikan nama taman tersebut sekaligus dibuatkan patung lilinnya yang berada di pintu gerbang utama taman. Taman ini kerap dijadikan tempat peringatan tahun baru Imlek dan pameran bunga setiap tahunnya. Menurut sejarahnya, dulunya taman ini adalah tempat penampungan angin topan yang digunakan sebagai tempat berlindung bagi kapal nelayan dan kapal pesiar. Pada hari minggu dan hari libur, biasanya taman ini menjadi tempat berkumpulnya para pekerja rumah tangga yang kebanyakan berasal dari Indonesia. Victoria Park menjadi sebuah oase hijau di tengah gedung pencakar langit yang tinggi menjulang dan mengepungnya. Penggalan-penggalan momen bisa kita lihat dan rekam di sana. Dari mulai orang-orang yang melakukan aktivitas tai chi, jogging, membaca koran, berolah raga, ataupun hanya sekedar berdiri berjemur sembari merasakan hangatnya mentari. Wilujeung enjing wahai Victoria Park.

Victoria Park, Hongkong, 1 Februari 2018

24KaryaFoto

***

Text & Photographs : galih sedayu

Cold weather that touched 7 degrees celcius welcomed the morning when I had the opportunity to set foot in Victoria Park area located in Causeway Bay, Pennington Street, Hongkong. Although the sun was shining naked, but the cold was still penetrating my body that perhaps used to live in a tropical climate. Victoria Park is Hong Kong’s largest park with an area of about 19 hectares. Queen Victoria of England made the name of the park as well as made a wax statue that is in the main gate of the park. This park is often used as a place of celebration of Lunar New Year and flower exhibition every year. Historically, this park was once a cyclone shelter used as a shelter for fishing boats and cruise ships. On Sundays and public holidays, this park usually becomes a gathering place for domestic workers mostly from Indonesia. Victoria Park becomes a green oasis in the middle of a towering high skyscraper and surround it. Fragments of moments we can see and record there. People doing tai chi, jogging, reading newspapers, exercising, or just standing basking while feeling the warmth of the sun. Good Morning Victoria Park.

Victoria Park, Hongkong, 1 February 2018

24Photographs

DSCF2136

DSCF2181

DSCF2155

DSCF2223

DSCF2282

DSCF2293

DSCF2249

DSCF2229

DSCF2201

DSCF2146

DSCF2157

DSCF2119

DSCF2211

DSCF2216

DSCF2164

DSCF2240

DSCF2255

DSCF2263

DSCF2273

DSCF2281

DSCF2285

DSCF2286

DSCF2291

DSCF2295

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

February 23, 2018 at 5:30 am

Warisan Leluhur Dunia Di Shirakawa-go

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu

Negara yang besar tentunya tak akan abai terhadap warisan budaya yang dimilikinya. Karena di sanalah sesungguhnya kita dapat menemukan jejak karya bangsa yang diciptakan oleh para leluhurnya. Shirakawa-go, salah satu desa bersejarah yang dimiliki oleh Negeri Matahari Terbit, Jepang adalah salah satunya. Rumah-rumah tradisional yang berusia sekitar 200 tahun telah menjadi saksi biksu bagi keberadaannya. Dengan ciri yang unik, yakni atap rumah yang membentuk segitiga sama kaki, terbuat dari jalinan jerami yang ditumpuk hingga tebal, menjadikan rumah dengan model yang disebut gassho-zukuri (tangan yang berdoa) itu menjadi magnet wisatawan dunia. Terletak di lembah Sungai Shogawa dan dikelilingi pegunungan, Shirakawa-go selalu mengalami musim dingin dengan hujan salju yang hebat. Letak persisnya berada di pegunungan Hakusan yang membentang dari prefektur Gifu hingga prefektur Yoyama. Dengan atap yang memiliki kemiringan sekitar 60 derajat itu, tumpukan salju tentunya akan cepat runtuh. Apalagi perancang rumah gassho-zukuri di masa lampau memang sangat memikirkan bentuk rumah dengan kondisi alam tersebur. Salah satunya adalah semua atap rumah di desa tersebur menghadap ke timur dan barat yang bertujuan agar salju yang menumpuk bisa segera mencair bila terkena sinar matahari. Karena atap menghadap arah matahari, semua ventilasi yang terletak di loteng mengarah ke selatan dan utara. Dengan begitu aliran udara dan angin bebas keluar masuk sehingga menciptakan sistem ventilasi yang terbaik. Seperti kebanyakan rumah tradisional Jepang lainnya, rumah gassho-zukuri menggunakan kayu. Uniknya, untuk menyatukan antara bagian satu dengan yang lain tidak satupun paku yang digunakan. Semua disatukan dengan tali yang terbuat dari jerami yang dijalin atau neso, istilah untuk menyebut cabang pohon yang dilunakkan. Pada tanggal 9 Desember 1995, UNESCO menetapkan rumah gassho-zukuri di Shirakawa-go dan Gokayama sebagai bagian dari Situs Kebudayaan Dunia. Shirakawa-go memiliki jumlah rumah bergaya gassho-zukuri terbanyak dibanding dengan dua desa bersejarah lainnya. Hingga saat ini, rumah-rumah gassho-zukuri ini masih digunakan sebagai tempat tinggal. Kuil Buddha, gubuk, itakura (gudang), Kuil Shinto, dan saluran air, adalah beberapa objek lain yang wajib dijaga dan dipertahankan. Bagi siapapun yang ingin melihat & belajar perihal kearifan bangsa Jepang, Shirakawa-go adalah tempatnya. Sebuah perkampungan kecil nan indah yang menawarkan perasaan syukur dan kebahagiaan.

Shirakawa-go, Jepang, 4 Februari 2018

***

A Great Country certainly will not ignore the cultural heritage it has. Because that’s where we can actually find traces of the works of the nation created by the ancestors. Shirakawa-go, one of the historic villages owned by the Land of the Rising Sun, Japan is one of them. Traditional houses of about 200 years have been a monk’s witness to its existence. With a unique feature, the roof of a house that forms an equilateral triangle, made of straw braids stacked to the thickness, making the house with a model called gassho-zukuri (praying hands) it becomes a magnet of world tourists. Located in the Shogawa River valley and surrounded by mountains, Shirakawa-go always experiences winter with great snowfall. The exact location is in the Hakusan mountains stretching from Gifu prefecture to Yoyama prefecture. With a roof that has a slope of about 60 degrees, the pile of snow will certainly quickly collapse. Moreover, the designer of gassho-zukuri house in the past is very thinking about the shape of the house with the natural conditions. One of them is all the roof of the house in the village facing east and west which aims to accumulate snow that can immediately melt when exposed to the sun. Because the roof is facing the sun, all the vents located in the attic are heading south and north. That way the air and wind flow freely in and out, creating the best ventilation system. Like most other traditional Japanese houses, gassho-zukuri houses use wood. Uniquely, to unite between one part with another none of the nails are used. All put together with a strap made of straw woven or neso, a term to refer to softened tree branches. On December 9, 1995, UNESCO designated gassho-zukuri houses in Shirakawa-go and Gokayama as part of the World Cultural Site. Shirakawa-go has the largest number of gassho-zukuri-style houses compared to two other historic villages. Until now, these gassho-zukuri houses are still used as shelter. Buddhist temples, huts, itakura (warehouse), Shinto Temple, and waterways, are some other objects that must be maintained and maintained. For anyone who wants to see & learn about Japanese wisdom, Shirakawa-go is the place. A small, beautiful village that offers a feeling of gratitude and happiness.

Shirakawa-go, Japan, February, 4, 2018

DSCF2855

DSCF2863

DSCF2906

DSCF2867

DSCF2869

DSCF2889

DSCF2895

DSCF2899

DSCF2908

DSCF2912

DSCF2917

DSCF2919

DSCF2924

DSCF2925

DSCF2938

DSCF2941

DSCF2953

DSCF2959

DSCF2962

DSCF2966

DSCF3005

DSCF3008

DSCF3029

DSCF3050

DSCF3053

DSCF3054

DSCF3070

DSCF3090

DSCF3091

DSCF3076

DSCF3092

DSCF3098

DSCF3100

DSCF3108

DSCF3115

DSCF3118

DSCF3122

DSCF3128

DSCF3141

DSCF3152

DSCF3197

DSCF3208

DSCF3220

DSCF3224

DSCF3241

DSCF3245

DSCF3252

DSCF3257

DSCF3259

DSCF3171

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

February 15, 2018 at 11:24 am

Sensasi Menyengat Bangkok

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu

กรุงเทพมหานคร อมรรัตนโกสินทร์ มหินทรายุธยา มหาดิลกภพ นพรัตนราชธานีบูรีรมย์ อุดมราชนิเวศน์มหาสถาน อมรพิมานอวตารสถิต สักกะทัตติยวิษณุกรรมประสิทธิ์ (Krungthepmahanakhon Amonrattanakosin Mahintharayutthaya Mahadilokphop Noppharatratchathaniburirom Udomratchaniwetmahasathan Amonphimanawatansathit Sakkathattiyawitsanukamprasit). Kota Malaikat, Kota Besar Yang Abadi, Kota Megah Dari Sembilan Permata, Singgasana Raja, Kota Istana Kerajaan, Rumah Para Dewa Yang Berinkarnasi. Begitulah mereka menyebut Kota Bangkok yang merupakan ibukota Negara Thailand atau Negeri Gajah Putih ini. Kota yang dalam bahasa Thai disebut dengan Krung Thep Maha Nakhon ini memiliki populasi penduduk di atas 8 juta jiwa dengan luas area sekitar 1568,7 m². Kota yang rata-rata memiliki cuaca panas sepanjang tahun ini terkenal akan atmosfir jalanannya yang memikat para turis mancanegara. Dari mulai kuliner, budaya, fesyen, hingga kehidupan malamnya yang menjadi magnet setiap orang. Ribuan cerita bisa kita peroleh di sana. Pedagang kaki lima hampir menyerupai dekorasi yang menghiasi setiap sudut Kota Bangkok. Tuk Tuk atau “Sam Lor”, kendaraan roda tiga yang menyerupai bajaj kalau di Indonesia, merupakan transportasi khas di kota ini yang paling cocok untuk menghindari kemacetan. Pasar Chatuchak yang hanya buka setiap hari Sabtu & Minggu juga merupakan salah satu destinasi yang kerap dikunjungi oleh para pendatang. Kota yang murah & ramah adalah kesan yang saya dapatkan tatkala menginjakkan kaki di sana meski kadang kota ini terkesan berantakan. Dan saya pun baru menyadari betapa masyarakatnya sangat mencintai Sang Raja terutama Raja Bhumibol Adulyadej atau Raja Rama IX yang juga menyukai fotografi. Setelah Raja Bhumibol memimpin Thailand selama 60 tahun sejak tanggal 9 Juni 1946, ia pun wafat di usia 88 tahun pada tanggal 13 Oktober 2016. Selama satu tahun warga Thailand berduka atas kepergiannya. Saat ini tahta kerajaan digantikan oleh putranya yang bernama Putra Mahkota Maha Vajiralongkorn. Ah…Momen singgah di Kota Bangkok memang sangat membekas di hati. Barangkali itupun yang menjadi alasan grup Band Rush menciptakan lagu A Passage To Bangkok. “We’re on the train to Bangkok. Aboard the Thailand Express. We’ll hit the stops along the way. We only stop for the best”.

Bangkok, 16 – 17 Desember 2016 ; 26 – 28 Oktober 2017 ; 15 – 20 November 2017

#47KaryaFoto

***

กรุงเทพมหานคร อมรรัตนโกสินทร์ มหินทรายุธยา มหาดิลกภพ นพรัตนราชธานีบูรีรมย์ อุดมราชนิเวศน์มหาสถาน อมรพิมานอวตารสถิต สักกะทัตติยวิษณุกรรมประสิทธิ์ (Krungthepmahanakhon Amonrattanakosin Mahintharayutthaya Mahadilokphop Noppharatratchathaniburirom Udomratchaniwetmahasathan Amonphimanawatansathit Sakkathattiyawitsanukamprasit). The City of Angels, The Immortal Great City, The Magnificent City Of The Nine Gems, The King’s Throne, The City Of The Royal Palace, The House Of The Incarnate Gods. That’s how they call the City of Bangkok which is the capital of the State of Thailand or the State of the White Elephant. The city is in Thai called Krung Thep Maha Nakhon has a population of over 8 million people with an area of ​​about 1568.7 m². The average city that has hot weather all the year is famous for its street atmosphere that attracts foreign tourists. From the start of culinary, culture, fashion, to the night life that became the magnet of everyone. Thousands of Stories we can get there. Street vendors almost resemble the decoration that adorns every corner of Bangkok City. Tuk Tuk or “Sam Lor”, a three-wheeled vehicle that resembles a bajaj if in Indonesia, is a typical transportation in this city is best suited to avoid traffic. Chatuchak market which is only open every Saturday & Sunday is also one of the destinations frequented by migrants. The cheap & friendly city is the impression I get when I set foot there although sometimes the city seems messy. And I just realized how much the people love the King especially King Bhumibol Adulyadej or King Rama IX who also love photography. After King Bhumibol led Thailand for 60 years from June 9, 1946, he died at the age of 88 on October 13, 2016. For one year the Thai citizens mourned his departure. Today the royal throne is replaced by his son, Crown Prince Maha Vajiralongkorn. Ah … The moment of transit in the city of Bangkok is very imprinted in the heart. Perhaps that’s why the Band Rush group created the song A Passage To Bangkok. “We’re on the train to Bangkok. Aboard the Thailand Express. We’ll hit the stops along the way. We only stop for the best “.

Bangkok, 16 – 17 December 2016 ; 26 – 28 October 2017 ; 15 – 20 November 2017

#47Photographs

DSCF9061

DSCF8418

IMG_4172_blog

IMG_4161_blog

IMG_4145_blog

DSCF7563

DSCF8214

IMG_4200_blog

DSCF8223

DSCF8226

IMG_4211_blog

DSCF8235

DSCF8402

DSCF8423

DSCF8428

IMG_4740_blog

DSCF8828

DSCF7752

DSCF7760

DSCF9492

DSCF9496

DSCF9483

DSCF9321

DSCF9329

DSCF9344

DSCF9351

DSCF9363

DSCF9389

DSCF9394

DSCF9411

DSCF7541

DSCF7546

DSCF7545

DSCF7575

DSCF7677

DSCF7669

DSCF7608

DSCF7946

DSCF7952

DSCF7953

DSCF9119

DSCF9174

DSCF9200

DSCF9203

DSCF9209

DSCF9188

DSCF9098

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

January 27, 2018 at 3:08 am

Seruput Kehangatan Di Warung Kopi Asiang

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu

Jika kita berkesempatan mampir ke Kota Pontianak, “Warung Kopi Asiang” adalah salah satu kunjungan wajib terutama bagi para penggemar kopi nusantara. Berdiri sejak tahun 1958, warung ini diberi nama sesuai dengan nama pemilik warung & penyeduh kopinya yakni “Asiang”. Orangnya nyentrik, usianya sekitar 63 tahun, berbadan tinggi besar, berkepala plontos, mimiknya nyaris tanpa ekspresi, punya kebiasaan tidak mengenakan baju dan hanya bercelana pendek saja, serta tatonya tampak terlihat jelas di dada & lengan bahu kanannya. Jarang sekali kita melihat Pak Asiang beristirahat karena sibuk meladeni para pelanggan yang memesan kopi. Warung Kopi ini terletak di Jalan Merapi No.193 Pontianak. Buka setiap hari dari jam 3 subuh sampai jam 2 siang. Harga yang dipatok Warung Kopi Asiang bervariasi. Kopi hitam seharga Rp 5.000 dan kopi susu seharga Rp 7.000. Sedangkan untuk aneka kue seperti kue pisang, roti tawar, kue apem dihargai Rp 3.000, kecuali untuk roti selai seharga Rp 5.000. Silakan kunjungi Warung Kopi Asiang ini bagi siapapun yang mendambakan kehangatan & aroma kopi yang dimiliki oleh Kota Khatulistiwa ini.

Pontianak, 30 Oktober 2017

***

If we have the opportunity to stop by the city of Pontianak, “Asiang Coffee Shop” is one of the mandatory visit, especially for fans of coffee archipelago. Established since 1958, this shop is named after the name of the owner of the coffee shop “Asiang”. He was a quirky man, 63 years old, tall, big-headed, his expression barely expressionless, had the habit of not wearing clothes and only shorts, and his tattoos were clearly visible on the chest & arm of his right shoulder. Rarely do we see Asiang rest because of busy serving customers who order coffee. This Coffee Shop is located at Jalan Merapi No.193 Pontianak. Open daily from 3am to 2pm. Prices are pegged Warung Kopi Asiang vary. Black coffee for Rp 5,000 and milk coffee worth Rp 7,000. As for the various cakes such as banana cake, bread, apple cake priced at Rp 3,000, except for bread jams for Rp 5,000. Please visit this Asiang Coffee Shop for anyone who crave the warmth & aroma of coffee owned by this Equatorial City.

Pontianak, October 30, 2017

DSCF7828

DSCF7801

DSCF7833

DSCF7842

DSCF7880

DSCF7864

DSCF7835

DSCF7897

DSCF7883

DSCF7905

DSCF7884

DSCF7888

DSCF7899

DSCF7928

DSCF7913

DSCF7933

DSCF7820

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

“Upaya Menyelesaikan Bandung” | Foto Cerita Perjalanan Fiki Satari Sebagai Bakal Calon Wali Kota Bandung 2018 – 2023

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

9 tahun lamanya saya menjalin persahabatan dengan Fiki Satari. Tepatnya tahun 2008 di Kota Bandung, dimana saya dipertemukan serta diperkenalkan dengan seorang Fiki Satari bersamaan dengan Ridwan Kamil yang kini menjadi Wali Kota Bandung. Momen Helar Fest, sebuah festival kota yang digagas oleh Bandung Creative City Forum {BCCF} menjadi saksi waktu awal perkenalan saya dengan kedua orang yang kini menjadi sahabat baik tersebut. Ridwan Kamil & Fiki Satari adalah dua orang sahabat yang banyak menghadirkan perubahan dalam hidup saya kelak. Berkat daya magnet mereka berdua, saya pun akhirnya masuk ke dalam “Jebakan Batman” dan terjun menjadi “Volunteer” di organisasi nirlaba BCCF yang baru mereka dirikan pada tahun itu. Saat itu Ridwan Kamil menjadi ketua BCCF, Fiki Satari menjadi Direktur Program BCCF dan saya pun langsung diminta menjadi Sekertaris Program BCCF. Entah kenapa saya seperti dihipnotis dan langsung terpikat untuk bergabung dengan pergerakkan mereka serta terlibat aktif dalam menjalankan program-program yang kelak tercatat manis oleh sejarah Kota Bandung. Dari mulai aktivasi ruang publik, kampanye lingkungan hidup, pendidikan kreativitas, pemberdayaan warga kota, hingga jejaring komunitas, semuanya dilakoni dengan senang hati.

Pada tahun 2013, ternyata takdir menyatakan pesannya pada sahabat saya Ridwan Kamil untuk menjadi Wali Kota Bandung hingga tahun 2018. Bersamaan dengan berakhirnya masa kepemimpinan Ridwan Kamil sebagai ketua BCCF dan dimulainya tanggung jawab baru sebagai Wali Kota Bandung, maka setelah itu tongkat estafet kepemimpinan BCCF periode 2013 – 2018 dipegang oleh Fiki Satari. Saya pun menggantikan Fiki Satari sebagai Direktur Program BCCF. Alhasil setelah itu, saya banyak menghabiskan waktu bersama Fiki Satari di organisasi BCCF dengan segudang programnya. Dengan program-program unggulan BCCF di era Fiki Satari yakni Helarfest, Kampung Kreatif, Simpul Institute, dan DesignAction.bdg, organisasi ini bertransformasi menjadi sebuah gerakan komunitas yang lebih matang dengan menerapkan metodologi “Design Thinking” serta konsep “Urban Acupuncture” dalam melahirkan jejak-jejak kreativitas bagi Kota Bandung. Kini BCCF semakin pesat berkembang dan menjadi pusat perhatian komunitas lain di seluruh Indonesia bahkan di seluruh dunia.

Waktu demi waktu berlalu, dan karena waktu itu pula saya semakin mengenal pribadi seorang Fiki Satari. Bagi saya, Fiki Satari adalah seorang pria yang penuh tanggung-jawab, seorang pemuda yang kreatif, seorang ayah yang humanis, serta seorang sahabat yang tulus. Dari Fiki Satari saya banyak belajar tentang bagaimana membangun sebuah tim, bagaimana melahirkan kolaborasi, dan bagaimana mencari solusi dari setiap permasalahan. Ia seorang pemuda yang penuh energi, memiliki semangat dan pantang menyerah. Fiki Satari menjadi semacam perekat dan tali simpul yang baik bagi keberlangsungan sebuah persahabatan maupun organisasi. “Menyelesaikan sesuatu” barangkali adalah nama tengah yang layak disandang olehnya.

Seabrek kesibukan dan tanggung jawab digeluti oleh Fiki Satari demi kecintaan dan “Rasa Nyaah” nya terhadap Kota Bandung. Fiki Satari adalah Pemilik, Produser Eksekutif M4AI Records Independent Music Company (2002 – sekarang), dengan The Milo sebagai salah satu artist yang diorbitkan. Fiki Satari adalah Pelopor Tim Kelompok Kerja Ekonomi Kreatif Rumah Transisi Jokowi-JK (2012), yang mengampu tugas untuk menyusun lembar kerja bidang Ekonomi Kreatif. Fiki Satari adalah Formatur & Pengarah Indonesia Creative Cities Network / ICCN (2012 – sekarang), sebuah jejaring kabupaten & kota kreatif di Indonesia. Fiki Satari adalah Ketua Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Kota Bandung (2017 – 2019) yang diinisiasi oleh PBNU. Fiki Satari adalah Host yang mengampu acara bincang-bincang di Radio PRfm dengan tajuk Muda.bdg (2013 – 2017). Fiki Satari adalah Pemilik PT. Idealog Komunikasi Kreatif (2015 – sekarang). Fiki Satari adalah Ketua Karang Taruna Kota Bandung (2014 – 2019). Fiki Satari adalah Mentor Creative & Cultural Entrepreneurship Program, Master of Business Administration, Institute of Technology Bandung / CCE MBA ITB (2013 – 2015). Fiki Satari adalah Ketua Tim Dossier UNESCO Creative Cities Network Management Team for Bandung (2012 – 2015), dimana pada tanggal 11 Desember 2015 UNESCO menerima Bandung dalam Jejaring Kota Kreatif tersebut. Fiki Satari adalah Dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran Bandung (2008 – sekarang). Fiki Satari adalah ketua Kreative Independent Clothing Kommunity / KICK (2006 – 2009), yang merupakan gabungan para pelaku indutri clothing. Fiki Satari adalah pendiri Airplane Systm (1998 – sekarang), salah satu brand fesyen lokal kebanggaan Bandung. Dan masih banyak lagi “Fiki Satari adalah” lainnya, yang tentunya tak bisa disebutkan satu persatu.

Namun ternyata Sang Semesta membuka sebuah jalan lain bagi Fiki Satari di tahun 2017 ini. Dengan tekad yang bulat, Fiki Satari menyatakan dan memberanikan dirinya untuk maju sebagai bakal calon Wali Kota Bandung periode 2018 – 2023. Meski ia sadar bahwa keputusannya adalah sebuah proses dan perjalanan panjang, namun ia siap mengambil tanggung jawab itu dan akan memulai pertarungan tersebut dengan segala resikonya. Baginya alasan yang paling kuat adalah karena Bandung itu sendiri. Kota yang menjadikannya manusia hingga seperti sekarang. Kota yang sangat layak untuk diperjuangkan.

Pada tanggal 6 Juli 2017, Fiki Satari mulai mendaftarkan dirinya ke kantor Partai Demokrat sebagai salah satu bakal calon Wali Kota Bandung. Kemudian pada tanggal 6 Agustus 2017, Fiki Satari mendapat kesempatan untuk mengikuti Konvensi Bakal Calon Wali Kota Bandung 2018 – 2023 dari Partai Demokrat yang bertempat di Gedung GOR Padjajaran Bandung. Di depan peserta yang memadati acara konvensi tersebut, Fiki Satari memaparkan visi & misinya sebagai bakal calon pemimpin Kota Bandung dengan sederhana dan jelas. Di akhir acara, orang pertama yang ia hampiri dan ia peluk adalah ibunya. Karena ia tau benar bahwa tak mungkin menjalani ini semua tanpa restu dan doa dari ibunya. Setelah bertemu dengan istri dan anak-anaknya, Fiki Satari pun menghampiri para pendukungnya. Kemudian ia mengutarakan agar kita semua harus bisa menikmati prosesnya dalam suasana yang penuh damai. Ia pun menghimbau agar tak boleh ada kata benci atau hujatan yang keluar dari para pendukungnya yang dilontarkan terhadap para bakal calon Wali Kota Bandung lainnya.

Teruntuk sahabatku Kang Fiks…

Doa terbaik akan selalu saya lantunkan setiap hari untuk menemani perjalanan Kang Fiks yang berliku ini. Kiranya tetap berkarya, tetap mewarta, tetap bercahya demi Bandung. Jika Sang Semesta belum menentukan takdirnya agar Kang Fiks menjadi pemimpin Kota Bandung, maka terimalah dan tetap melakukan sesuatu untuk Bandung. Namun jika Sang Semesta menyatakan takdirnya sehingga kelak Kang Fiks menjadi pemimpin Kota Bandung, maka bersyukurlah dan pimpinlah Bandung dengan jejak nyata. Agar cita-cita menyelesaikan Bandung menjadi tuntas. Agar semangat melayani Bandung menjadi pemantiknya. Karena Bandung bukan hanya kota, namun Bandung adalah kita. Karena kita Bandung akan tetap ada. 

DSCF4254

DSCF4257

DSCF4272

DSCF4278

DSCF4293

DSCF4296

DSCF4301

DSCF4307

DSCF4309

DSCF4325

DSCF4332

DSCF4350

DSCF4354

DSCF5084

DSCF5054

DSCF5060

DSCF5110

DSCF5161

DSCF5184

DSCF5188

DSCF5208

DSCF5216

DSCF5231

DSCF5260

DSCF5295

DSCF5306

DSCF5313

DSCF5331

DSCF5334

DSCF5135

DSCF5142

DSCF5347

DSCF5360

DSCF5371

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

August 10, 2017 at 11:52 am

Kasih Ibu di Pantai Lovina

leave a comment »

 

Teks & Foto oleh galih sedayu

Konon, lumba-lumba adalah sahabat manusia di lautan. Karenanya tak heran bila manusia yang lebih sering hidup di daratan, kemudian ingin bersua dan mencari sahabatnya di samudera yang luas. Kawanan lumba-lumba ini, dapat kita temui di Pantai Lovina, Pulau Dewata, Bali. Pantai Lovina sejak dulu menjadi salah satu destinasi wisata di pesisir Bali Utara, tepatnya 10 km ke arah barat Kota Singaraja, di Desa Kalibukbuk, Kabupaten Buleleng, Bali. Pasir hitam yang dimilikinya seolah menjadi halaman depan sebelum kita memulai perjalanan ke tengah laut agar dapat menjumpai lumba-lumba yang berada sekitar 1-2 km dari bibir pantai. Biasanya, kawanan lumba-lumba ini muncul sekitar pukul 6 hingga 8 pagi di tengah laut. Mengingat mahluk langka tersebut sudah bangun pagi-pagi buta, sebaiknya kita sudah harus berangkat sebelum matahari terbit dengan menggunakan perahu nelayan yang sederhana nan berwarna. Nama “Lovina” menjadi populer berkat jasa Anak Agung Panji Tisna, dimana pada tahun 1953 ia mulai membangun sebuah pondok di atas tanah miliknya yang berada di Buleleng. Pondok itulah yang kemudian diberi nama “Lovina” yang ditujukan sebagai tempat peristirahatan bagi turis-turis asing. Menurut Panji Tisna, kata “Lovina” sendiri berasal dari campuran dua suku kata yaitu “Love” dan “Ina”. Kata “Love” dari bahasa Inggris berarti kasih atau Cinta dan “Ina” dari bahasa Bali atau bahasa daerah yang berarti “ibu”. “Cinta Ibu” atau “Cinta Ibu Pertiwi” adalah makna yang mendalam dari Lovina. Semoga pesan tersebut dapat selalu diwariskan selamanya kepada kita dan sang lumba-lumba selalu hadir menjadi saksi hidup Pantai Lovina.

@galihsedayu | Bali, 4 Juli 2015

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

Copyright (c) 2015 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

August 3, 2015 at 1:50 am