I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Archive for the ‘MY FESTIVAL WORKS’ Category

Tetaplah Bangun Wahai Pemuda Bandung | Ngora Bandung | Bandung City Hall, 1 November 2014

leave a comment »

oleh galih sedayu

Energi yang besar menuntut sebuah perhatian yang besar pula. Salah satunya terbangun dari apa yang dimiliki oleh anak-anak muda di Kota Bandung. Sekitar 70 % warga Kota Bandung terdiri dari anak-anak muda yang kerap mendambakan ruang-ruang demi menyalurkan potensi mereka yang terpendam. Energi yang berlebih ini, sudah seharusnya lah dapat ditangkap oleh Pemerintah Kota Bandung untuk kemudian dilepas kembali melalui berbagai kegiatan yang bersifat positif tentunya. Karena itu Dinas Pemuda & Olah Raga Pemerintah Kota Bandung mengadakan sebuah program perdana untuk mengumpulkan sinergi anak-anak muda Kota Bandung dalam sebuah kegiatan yang bernama “Ngora Bandung”. Program ini berisikan Pameran, Ekspresi dan Kumpul Komunitas Muda Bandung yang diselenggarakan pada tanggal 1 November 2014 di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukencana No.2 Bandung. Sebentuk festival yang biasanya dirayakan secara komunal. Sejatinya, festival ini bertujuan untuk menghimpun potensi dan jejak karya anak-anak muda bandung agar dapat diperlihatkan, dibagikan dan kemudian menjadi inspirasi bagi masyarakat indonesia. Kegiatan “Ngora Bandung” yang pertama kali ini mengambil tema “Young & Health”, sehingga edukasi tentang “kesehatan” bagi anak-anak muda bandung tersebut menjadi sebuah pernyataan yang penting dalam festival kolaborasi ini. Karena bila anak-anak muda bandung selalu sehat, karya-karyanya pun akan terus mengalir tiada henti. Acara “Ngora Bandung” ini menghadirkan berbagai komunitas sebagai simbol semangat kolaborasi. Diantaranya ada Bandung Bike Trial Community, Bandung Clean Action, Bandung Food Truck, Dance Cover Community, Djaringan Musang Lovers, Forum Club Motor Bandung, Growbox, Indo Runners, Komunitas Anti Rokok Bandung, Komunitas Pensil Kertas, Komunitas Pencinta Reptil Bandung, Palang Merah Indonesia, Parkour Bandung, Rumah Cemara, Taman Foto Bandung, Tarung Derajat, Unity Photonegraphy dan Urban Jedi. Kemudian terdapat pula sejumlah penampilan untuk memeriahkan acara “Ngora Bandung” yang disuguhkan dari berbagai musisi kota bandung diantaranya Bandung Beatbox, Escape Band, Ganiati, Kharismatik, Komunitas Seni Budaya, Rayme & The Wood, Roti Bakar, The Devil & The Deep Blue Sea, dan Ukulele Bandung. Sembari melihat ke depan, tentunya anak muda bandung harus dapat mengambil peran terbaiknya dalam menentukan cita & mimpi mereka. Terlebih karena mereka adalah tumpuan kaki tempat kota bandung berpijak, bahu tempat kota bandung bersandar, serta harapan tempat kota bandung berkarya. Karenanya, tetaplah bangun wahai pemuda bandung.

@galihsedayu | bandung, 1 november 2014

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) 2014 by galih sedayu
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

November 4, 2014 at 10:04 am

Perayaan Menerangi Kota | Bdg Caang | 18 October 2014, Bandung

leave a comment »

oleh galih sedayu

Sebagai puncak perayaan hari jadi kota bandung yang ke-204 tahun, pemerintah kota bandung menggelar sebuah festival kota yang dinamakan “Bdg Caang”. Tepatnya tanggal 18 oktober 2014 pukul 19:00 wib, iring-iringan kendaraan hias dengan segala atribut gemerlap lampu warna-warninya mulai melakukan pawai mengelilingi sebagian kota bandung. Mobil, motor, sepeda, dan berbagai sarana transportasi lainnya disulap menjadi sebuah atribut pawai yang unik. Parade yang dimulai dari jalan diponegoro menuju jalan merdeka kota bandung ini memang menyedot banyak perhatian dari warga kota bandung yang telah menunggu sejak sore hari. Para warga bandung sangat antusias menyambut karnaval kota ini dengan caranya masing-masing, dari mulai mengajak keluarganya, berfoto bersama, melakukan selfie, dan berbagai aktivitas lainnya. Untuk menyemangati warga, kontes kendaraan mobil hias pun dihadirkan sembari menguji dan melihat kreativitas warga bandung. Sebenarnya, konsep awal desain kendaraan hias yang dilombakan pada kegiatan Bdg Caang ini adalah mengacu kepada sebuah tema. Namun karena keterbatasan waktu dan persiapan yang minim, tema desain yang dibuat oleh warga masih diberikan sebebas-bebasnya selama menggunakan unsur lampu dan dekorasinya mesti menutupi gestur mobil secara keseluruhan. Bila dilihat secara seksama, memang belum tampak sebuah kreasi yang benar-benar unik pada pagelaran bandung caang ini. Apalagi mayoritas kelompok yang mengikuti parade ini masih berasal dari dinas dan kecamatan pemerintah kota bandung. Hanya sedikit yang berasal dari komunitas kreatif kota bandung, yang mana seharusnya dari sanalah muncul kreasi-kreasi yang luar biasa. Tercatat komunitas Hare Khrisna, Urban Jedi dan kelompok kecil komunitas lainnya yang baru bersinergi di perhelatan bandung caang ini. Namun demikian, harapannya festival ‘Bdg Caang” ini menjadi pemantik awal bagi kebangkitan dan kolaborasi komunitas kreatif kota bandung yang kelak mau turun ke jalan dan berbagi ide kreatifnya agar hasil kreasinya dapat dinikmati serta menghibur warga kota bandung. Semoga terang selalu terpancar bagi kota bandung.

@galihsedayu | bandung, 18 oktober 2014

bdg caang

bdg caang

bdg caang

bdg caang

bdg caang

bdg caang
bdg caang

bdg caang

bdg caang

bdg caang

bdg caang

bdg caang

copyright (c) 2014 by galih sedayu
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

October 25, 2014 at 5:47 am

Bangkitnya Kreasi Muda Jawa Barat? | Jabar Ngagaya | 19-20 September 2014, Bandung

leave a comment »

oleh galih sedayu

Rupanya sudah kali kedua, sebuah perhelatan yang bertajuk “Jabar Ngagaya” digelar demi menggairahkan industri kreatif khususnya bidang fesyen di jawa barat. Gelaran kedua perhelatan ini tepat dilaksanakan pada tanggal 19-20 september 2014 di seputaran gedung sate kota bandung. Helaran ini bertepatan pula dengan kegiatan “De Syukron” yang dilaksanakan untuk memperingati hari jadi provinsi jawa barat yang ke-69 tahun. Untuk tahun ini, Jabar Ngagaya mengambil jargon “Gandrung Ka Sarung Festival” yang mencoba mengangkat sarung majalaya asal jawa barat sebagai materi kreasinya. Rangkaian kegiatannya berupa parade & lomba rancang kostum karnaval, lomba kreasi membuat draping sarung, dan pameran industri kreatif jawa barat. Kiranya kegiatan ini dapat membuka cakra kreasi anak-anak muda jawa barat yang (barangkali) tadinya tertutup rapat. Karena sesungguhnya, di sanalah mulai bermunculan embrio dan bayi energi dari anak-anak muda jawa barat yang sangat menggandrungi fesyen dan industri kreatif lainnya. Mereka merindukan ribuan mata yang sudi melihat karyanya. Sembari berharap seruan, sorak sorai & tepuk tangan yang penuh ikhlas menghargai kreasi mereka. Namun yang perlu diingat, jejak karya himpunan anak muda ini dapat dirasakan hasilnya bagi perkembangan ekonomi kreatif jawa barat bila kegiatan ini digelar secara terus menerus. Tanpa konsistensi, komitmen dan dukungan yang kuat terutama dari pemerintah jawa barat, himpunan energi anak muda tersebut akan sirna ditelan waktu. Ayo bangkit muda-mudi jawa barat. Ayo bangun para pemimpin jawa barat. Mari kita bangun bersama industri kreatif jawa barat.

@galihsedayu | bandung, 20 september 2014

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

 

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

jabar ngagaya

copyright (c) 2014 by galih sedayu
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

 

Ketika Hutan Menyala, Bernyanyi & Melawan | Lightchestra | Babakan Siliwangi World City Forest, Bandung, 5-7 July 2012

with 3 comments

Foto & Teks : galih sedayu

Kawasan Babakan Siliwangi (Lebak Siliwangi) yang terletak di bagian utara kota Bandung tepatnya di jalan Babakan Siliwangi (tembusan jalan Tamansari melewati jalan Ganesha) adalah hutan kota satu-satunya yang masih tersisa di kota ini. Meski sebenarnya sejarah mencatat bahwasanya pada masa pemerintahan belanda, kawasan Babakan Siliwangi dahulu merupakan hamparan sawah yang luas dan kemudian disulap dengan ditanami berbagai jenis pohon sehingga kemudian tercipta sebuah kawasan hutan kota. Luas area Hutan Babakan Siliwangi adalah sekitar 3,8 hektar yang dihuni oleh 48 jenis pohon, 14 jenis burung dan beberapa jenis binatang mamalia. Karenanya, hutan kota Babakan Siliwangi menjadi aset alam yang sangat berharga bagi paru-paru kota Bandung . Sehingga sudah layak dan sepantasnyalah, kita sebagai warga Bandung patut menjaga keasrian & kelestarian hutan kota ini. Konon, di hutan Babakan Siliwangi dahulu terdapat empat buah mata air yang disebut-sebut sebagai mata air Prabu Siliwangi. Namun saat ini yang dapat kita lihat adalah hanya tinggal satu buah mata air yang terletak di sebelah timur laut hutan Babakan Siliwangi.

Dengan melihat fakta ini semua, kita perlu menyadari bahwa hutan Babakan Siliwangi adalah sebuah ruang publik yang sejatinya dapat diaktifkan oleh warganya. Tapi sayangnya, tidak banyak catatan aktivitas yang berasal dari komunitas maupun kelompok masyarakat yang merespon ruang publik hutan ini. Sejak tahun 1960-an, kawasan hutan kota babakan siliwangi memang digunakan sebagai arena ketangkasan binatang dari mulai adu bagong hingga yang saat ini rutin dibuat setiap awal bulannya oleh Himpunan Peternak Domba & Kambing (HPKD) Bandung yaitu adu ketangkasan domba. Selain itu aktivitas para seniman yang tergabung dalam Sanggar Olah Seni (SOS) Babakan Siliwangi turut mewarnai kehidupan hutan kota ini. Dimana seorang pelukis yang bernama Thoni R.Yoesoef mendirikan sanggar tersebut pada tahun 1982 bersamaan dengan didirikannya Rumah Makan Babakan Siliwangi oleh seniman Anang Sumarna. Lalu pada tahun 2011 muncul pula komunitas HUB (Hayu Ulin di Baksil) yang ikut mengaktivasi hutan kota tersebut dengan berbagai kegiatan positif.

Pada tahun 2011 pula, sekelompok warga masyarakat yang tergabung dalam sebuah komunitas yang bernama Bandung Inisiatip, membuat sebuah sayembara desain kawasan hutan Babakan Siliwangi. Seolah gayung bersambut, Bandung Creative City Forum (BCCF) yang merupakan sebuah perkumpulan komunitas kreatif kota bandung, menyimpulkan ide dan hasil sayembara dari Bandung Inisiatip tersebut melalui program pembangunan jembatan hutan kota Babakan Siliwangi (Forest Walk). Pembangunan jembatan gantung sepanjang kurang lebih 80 meter ini sekaligus menjadi simbol dari sebuah kesepakatan bersama antara United Nations Environment Programme (UNEP) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kementrian Lingkungan Hidup Indonesia & Pemerintah Kota Bandung yang menyatakan bahwa Kawasan Babakan Siliwangi diresmikan menjadi Hutan Kota Dunia (World City Forest). Keberadaan jembatan tersebut diharapkan agar warga masyarakat dapat mengetahui lebih dekat  dan dapat dengan mudah mengakses hutan kota tersebut. Pada saat itu pula pengelupasan aspal jalan di dalam hutan Babakan Siliwangi dilakukan bersama-sama warga dan kemudian menanaminya kembali dengan 1000 pohon. Hingga kini tertoreh di dalam dinding sejarah bahwa kawasan Babakan Siliwangi setidaknya kini memiliki sebuah nama internasional yaitu Babakan Siliwangi World City Forest. Celakanya, meski perjuangan warga masyarakat kota bandung untuk mempertahankan hutan kota dunia babakan siliwangi ini kerap gencar dilakukan, namun ternyata masih ada pihak-pihak yang bersikukuh menginginkan kawasan hutan kota ini menjadi sebuah ruang komersil. Padahal hutan kota dunia Babakan Siliwangi ini sejatinya harus tetap menjadi ruang publik hijau yang terbuka dan dapat dengan mudah diakses oleh para warganya. Kesimpulannya, perjuangan itu mesti tetap mengalir dan terus menerus dilakukan oleh kita. Tentunya dengan cara-cara kreatif.

Di awal bulan juli yang ceria tepatnya pada tanggal 5-7 Juli 2012, Bandung Creative City Forum (BCCF) kembali mencoba mengaktivasi hutan kota dunia Babakan Siliwangi ini sebagai salah satu isu penting perihal ruang publik kota. Melalui sebuah event #1HelarFest 2012yang bertajuk “Lightchestra” (Music Festival, Laser/Light Show & Community Network), BCCF mengajak komunitas terutama anak-anak muda kota Bandung yang belum terlalu mengenal bahkan sama sekali tidak tahu mengenai keberadaan hutan kota dunia Babakan Siliwangi untuk menyuguhkan talenta serta aksi kreatif mereka di dalam hutan. Selama 3 hari akhirnya tersingkap unjuk kabisa berbagai komunitas kota bandung yang membantu dan berkolaborasi demi menghidupkan hutan kota semisal Urban Jedi Bandung, Barudak Urban Light Bandung (BULB), Bandung Shuffle Dance Club (BSDC), Komunitas Layar Kita, Sahabat Walhi, Open Heart Studio, dan masih banyak lagi. Belum lagi kehadiran sejumlah musisi lokal & indie asal kota Bandung seperti Rusa Militan, Mr.Sonjaya, Teman Sebangku, La Belle, 70’s Orgasm Club, Nada Fiksi, Kris & The Undercover, Sigmun, Annemarie, Homogenic, Cozy Street Corner, Deu Galih & String Quartet, Tesla Manaf & MGG, serta Grace Sahertian & Choir, semuanya turut mendendangkan lagu-lagunya sembari menghibur hutan kota yang jarang tersentuh oleh manusia. Bahkan Ganjar Noor, seorang seniman & musisi asal Kampung Akustik Cicadas, menciptakan sebuah lagu baru yang berjudul “Hutan Siliwangi” dan menyanyikan lagu tersebut untuk pertama kalinya tepat di atas jembatan huta kota dunia Babakan Siliwangi. Alhasil, area hutan yang biasanya digunakan sebagai arena ketangkasan domba dalam sekejap terlihat menjadi sebuah pemandangan berbeda bak sebuah stadion konser musik. Jalan setapak menuju lokasi hutan pun menjadi bersinar terang setelah ditandai oleh jalur kabel panjang berisi lampu berwarna biru.Belum lagi pohon-pohon di dalam hutan yang disorot lampu warna warni berikut pancaran permainan laser yang sederhana menjadikan hutan kota tersebut tak lagi gelap gulita dan terkesan romantis.

Meski begitu, segala kegiatan apapun yang bersentuhan dengan alam atau hutan, adalah wajib bagi kita untuk menjaga kebersihan hutan. Untuk itu pada event Lightchestra, kerjasama pun dilakukan dengan komunitas lingkungan seperti Sahabat Walhi. Dimana mereka terus menyuarakan tentang kampanye kebersihan sampah. Bahkan pada event Lightchestra ini, keberadaan stan makanan pun tidak diperbolehkan demi menghindari sampah yang muncul sesudahnya. Tim kerja dan panitia event Lightchestra ini pun hanya boleh dibekali dengan makanan yang sudah diberi tempat masing-masing dan harus digunakan kembali selama 3 hari kegiatan tersebut. Area konser musik Lightchestra ini pun bukan dilokasikan di dalam hutan yang telah ditanami pepohonan melainkan sekedar memanfaatkan amphiteater yang sudah ada, yang biasanya digunakan sebagai arena ketangkasan domba. Daya listrik yang digunakan untuk kegiatan Lightchestra ini pun relatif kecil, bukan menggunakan daya listrik yang besarnya hingga puluhan ribu watt. Demikian pula dengan laser yang digunakan untuk menerangi pepohonan adalah cahaya sederhana yang diharapkan sekedar menjadi elemen estetis saja sehingga tidak terlalu mengganggu keberadaan habitat & ekosistem yang ada di dalam hutan.

Sesungguhnya event Lightchestra di kawasan hutan Babakan Siliwangi ini adalah salah satu upaya untuk lebih memperkenalkan hutan kota kepada publik terutama bagi anak-anak muda yang sebagian besar belum menyadari benar mengenai keberadaan hutan kota ini. Terbukti dari rata-rata pengakuan & pengalaman mereka yang baru pertama kali menginjakkan kakinya ke dalam hutan kota dunia tersebut. Selain itu kegiatan Lightchestra tersebut adalah bentuk nyata dari upaya mengaktivasi dan menghidupkan kembali ruang-ruang publik khususnya hutan kota agar tidak diam dan menganggur. Karena pada umumnya apabila sebuah ruang publik yang terus menerus kosong dan didiamkan oleh warganya, maka pada saat itulah banyak pihak yang menginginkan ruang publik tersebut dibangun dan digunakan sebagai ruang dan lahan komersil. Tentunya setelah itu ruang tersebut hanya akan menguntungkan sejumlah pihak yang berkepentingan saja, bukan untuk kepentingan umum. Karena itu dapat dikatakan bahwa ujung akhir event Lightchestra ini adalah sebentuk perlawanan warga melalui cara kreatif agar di kemudian hari tidak akan ada tembok bangunan yang ditancapkan dan didirikan demi memuaskan dahaga keserakahan pihak-pihak tertentu yang tidak mengerti tentang pentingnya keberlangsungan hutan. Karenanya hutan kota harus tetap menjadi hutan kota. Demi keberlangsungan oksigen kota. Agar menjadi bagi kita kehidupan kota yang bersih dan seimbang.

Bandung, 8 Juli 2012

copyright (c) 2012 by galih sedayu
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.