I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Archive for the ‘MY FESTIVAL WORKS’ Category

Beroleh Hijau Di Pasar Cijaringao | Festival Pasar Cijaringao, 12 Agustus 2018

leave a comment »

Teks & Foto : galih sedayu

Sebuah pasar sejatinya adalah ruang yang paling intim dalam kehidupan bermasyarakat. Di sanalah sang waktu merekam berbagai peristiwa tukar-menukar yang kemudian melahirkan apa yang kita sebut sebagai transaksi ekonomi. Namun sesungguhnya pasar dapat pula dilihat sebagai simpul sosial dan simpul budaya yang mewakili karakter masyarakat setempat. Keberadaan dan keberlangsungan pasar tersebut tentunya dapat menjadi cermin kreativitas warga sekaligus membentuk peradaban budaya di sebuah kawasan tertentu.

Karena itulah benih-benih baik perihal pasar ini perlu ditanam dengan baik. Agar kemudian nantinya kita semua dapat menuai sejumlah panen kebaikan. Kali ini Kawasan Cijaringao menjadi ruang hijau yang dipilih untuk menghantarkan embrio pasar tradisional yang kini makin tergerus jaman dengan dominasi kekuatan super dari pasar modern. Benang kolaborasi yang disulam bersama Saung Angklung Udjo, Ruang Kolaborasa dan Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Jawa Barat akhirnya menghasilkan sebuah pakaian program yang bertajuk Festival Pasar Cijaringao. Menjadi lebih pas karna didukung pula oleh Kementrian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia dan Indonesia Creative Cities Network (ICCN). Pasar Cijaringao sendiri adalah sebuah program menghadirkan ruang publik dengan segala aktivitas jual beli dan etalase kreativitas warga dan jejaringnya sekaligus sebagai simpul seni budaya tradisional yang senantiasa mewartakan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Jawa Barat. Pasar Cijaringao ini adalah pasar perdana yang merupakan bagian dari agenda program besar Cijaringao Placemaking.

Festival Pasar Cijaringao ini diselenggarakan di Cijaringao Hejo Udjo pada hari Minggu tanggal 12 Agustus 2018 dari Pukul 09:00 WIB s/d 17:00 WIB. Berbagai konten kegiatan pun digelar dari mulai Ketangkasan Domba, Basar Kuliner Tradisional, Edukasi & Workshop Komunitas, serta Musik Alam. Kejutan-kejutan kecil pun bisa kita rasakan di sana. Jajanan tradisional dan suguhan khas warga dari Kampung Cijaringao dan Kampung Lebak Gede sungguh memikat mata dan mengecap lidah. Salah satu makanan unik yang saya lihat adalah nasi rames tradisional dengan suguhan nasi warna oranye yang terbuat dari olahan wortel, nasi warna hijau yang terbuat dari olahan sayur bayam, dan nasi warna ungu yang terbuat dari olahan ubi, lengkap dengan sayur leunca, jengkol, urab dan kacang-kacangan. Rasanya pun juara. Selain lapak kuliner tradisional yang diisi oleh warga setempat, Pasar Cijaringao ini dimeriahkan pula oleh Kopi Inisoenda, Perpustakaan Fotografi Keliling dan Kampung Cibuluh. Tercatat pula penampilan dari Babenjo dan Ega Robot serta pertunjukkan Pencak Silat dan Tari Jaipong Cilik yang menambah kehangatan suasana di Cijaringao Hejo Udjo.

Terima kasih Semesta karna sinar mentari yang cerah, senyum warga yang ceria, rasa hidangan yang sedap, musik alam yang merdu, serta alam bambu yang hijau, telah Engkau karuniai di hamparan Pasar Cijaringao. Belum lagi uluran tangan dan budi baik yang ditunjukkan oleh para relawan Pasar Cijaringao dan para sahabat Rotaract. Selama masih ada manusia yang memiliki empati terhadap alam, tentunya kita meyakini bahwa alam akan berlaku seimbang. Persekutuan manusia yang senantiasa menjaga dan merawat alamnya tentunya akan menjadi tumpuan harapan bagi masa depan kita. Biarlah kiranya Pasar Cijaringao ini menjadi perwujudan kasih dan persaudaraan yang akan terus menapak ke depan dan menempuh jalan panjang yang hijau selamanya.

Cijaringao, 12 Agustus 2018

DSCF2971

DSCF2958

DSCF2965

DSCF2990

DSCF2984

DSCF2972

DSCF2947

DSCF2936

DSCF3003

DSCF3032

DSCF3506

DSCF2997

DSCF2933

DSCF3101

DSCF3521

DSCF3129

DSCF3020

DSCF3618

DSCF3844

DSCF3190

DSCF3057

DSCF3894

DSCF3081

DSCF3070

DSCF3199

DSCF3452

DSCF3433

DSCF2927

DSCF3036

DSCF3472

DSCF3482

DSCF3489

DSCF3589

DSCF3750

DSCF3137

DSCF3155

DSCF3180

 

DSCF3232

DSCF3246

DSCF3264

DSCF3282

DSCF3308

DSCF3882

DSCF3370

DSCF3636

DSCF3762

DSCF3377

DSCF3708

DSCF3791

DSCF3876

DSCF3531

DSCF3290

DSCF3806

DSCF3818

DSCF3668

DSCF3495

DSCF3685

DSCF3228

DSCF3547

DSCF3162

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Advertisements

Bernyanyi & Bersorak-sorai Di Hutan Bambu Cijaringao | Wonderful Indonesia Music Festival, 22 Juli 2018

leave a comment »

Teks : galih sedayu | Fotografi : galih sedayu & Air Foto Network

Hidup memang penuh kejutan. Kadang ada saja tanggung-jawab tak terduga menghampiri hingga akhirnya kita tak punya pilihan selain menerima dan menghadapinya. Singkat cerita, dalam waktu 3 hari saya beserta tim diminta bantuan oleh Kementrian Pariwisata Republik Indonesia untuk menggelar sebuah Festival Musik yang konon memiliki skala Internasional bertempat di Cijaringao, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Meski saya telah punya pengalaman untuk menjadi seorang sutradara dari berbagai festival tingkat internasional, namun tetap saja waktu yang terlalu singkat ini terasa bagai mimpi dan menjadi tantangan tersendiri. Apalagi saya tidak tahu menahu mengenai proses awal yang mendasari mengapa festival ini dihadirkan. Barangkali bagi teman-teman yang membantu, kegiatan ini mesti terjadi dengan alasan demi menjaga nama baik Bandung, atau demi nama baik Jawa Barat, atau bahkan demi nama baik Indonesia. Namun bagi saya alasan paling masuk akal untuk melakukan ini semua adalah karena atas dasar persahabatan & demi kecintaan saya terhadap kreativitas.

Suka duka dalam menjalani segala peristiwa ini saya lalui bersama sahabat saya Kang Taufik Hidayat Udjo selaku pemilik tempat dan penanggungjawab acara, Kang Ismet Ruchimat selaku ketua panitia acara, serta Kang Syarif Maulana yang membantu pertunjukkan musik di acara tersebut. Dari mulai urusan perizinan, koordinasi dengan warga, vendor panggung & sound system, dekorasi, konsumsi, promosi, tamu undangan, hingga menyiapkan tempat di kawasan Hutan Bambu Cijaringao. Beruntung banyak sahabat baik yang membantu seperti Kang Rosid, seniman lukis yang menyiapkan pernak-pernik dekorasi seperti bebegig sawah, dulang, dan perlengkapan tradisional lain yang diharapkan mampu melahirkan nuansa kearifan lokal. Lalu Kang Cepi Suhendar, pemuda dari Karang Taruna di Kampung Cijaringao, yang membantu untuk menggerakkan warganya untuk mengelola area parkir, kuliner tradisional serta keamanan. Belum lagi kebaikan Kang Ismet Ruchimat yang begitu sabar dan tenang dalam menjalankan tugasnya sebagai ketua panitia dan telah mempersembahkan pertunjukkan musik bersama SambaSunda yang begitu sangat memukau dan luar biasa. Ditambah budi baik Kang Taufik Hidayat Udjo yang begitu semangat, begitu totalitas, dan tanpa pamrih dalam mempersiapkan Cijaringao sebagai tempat penyelenggaraan acara festival musik tersebut.

Festival Musik ini diselenggarakan di Cijaringao Hejo Udjo pada hari Minggu tanggal 22 Juli 2018 dari Pukul 13:00 WIB s/d 23:00 WIB. Sejumlah musisi menampilkan suguhan terbaiknya di perhelatan ini dan menjadi pengalaman pertama kali bagi mereka untuk bisa tampil bermusik di area Hutan Bambu Cijaringao. Ada nama Ulle Project, L. Haqeem N Friends, Malire, Trio Bigibas, MaryJane, Ethno Progressive, Mirna, West Java Syndicate, Babenjo, Doel Sumbang dan SambaSunda yang berkolaborasi dengan Patrick Shaw Iversen dan SSJ. Plus acara Talkshow bersama Dewan Kesenian Kota Bandung yang menghadirkan pembicara Rahmat Jabaril, Jae Jalani & Syarif Maulana. Terima kasih Semesta, akhirnya semua peristiwa ini benar-benar terjadi dan telah berakhir. Bagi saya peristiwa ini bukan hanya sekedar Festival Musik namun jauh lebih bermakna. Bahwasanya ini adalah sebuah berita baik perihal bahasa persahabatan yang mampu menyatukan manusia dengan alam. Bagai sebuah kartika di langit yang berseru dalam keheningan hutan.

Cijaringao, 22 Juli 2018

DSCF0196_blog

DSCF0195_blog

DSCF1679

DSCF1596

DSCF1570

DSCF1561

DSCF1681

DSCF1846

DSCF1852

IMG_7339

DSCF1727

IMG_7554

DSCF1821

IMG_7375

IMG_7413

DSC04821

DSC04852

DSCF1809

DSCF1803

DSC04882

IMG_7560

DSCF1821

DSCF1906

DSCF1834

DSCF1920

DSCF2173

DSCF2019

DSCF1937

DSCF2074

DSCF2008

IMG_7912

DSCF2115

DSCF2157

DSCF2160

DSCF2147

IMG_8174

IMG_8238

DSCF2208

IMG_8550

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

 

Kepal Persaudaraan Indonesia Di Negeri Matahari Terbit | 2nd Indonesia Week ; 28 – 30 April 2018, Nagoya, Jepang

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu

Sejak ditandatanganinya Perjanjian Perdamaian pada tanggal 20 Januari 1958, Simpul hubungan diplomatik yang telah terjalin antara Indonesia dan Jepang pasca kemerdekaan, tak terasa tahun ini telah menginjak usianya yang ke 60 tahun. Meski sejarah sempat mencatat titik kisah yang kelam bagi memori bangsa kita pada saat masa penjajahan, namun luka itu pun lambat laun mampu terobati dan bisa dikatakan kini telah sirna. Apalagi saat ini kepal persaudaraan antara Indonesia & Jepang menjadi semakin kokoh dengan jejak politik, jejak ekonomi, jejak sosial, serta jejak budaya yang ditinggalkannya.

Kita pun menyadari bahwa Indonesia adalah sebuah negara dengan kekayaan alam dan sumber daya manusia yang sangat beragam. Himpunan potensi yang dimilikinya dapat menghasilkan nilai yang sangat berharga bagi tanah air. Karena itu sudah semestinya Mutiara Khatulistiwa yang dimiliki bangsa ini wajib disuarakan kepada masyarakat dunia. Dan negara Jepang adalah salah satunya mengingat hubungan historis yang telah lama ada. Karenanya melalui kegiatan yang diberi nama Indonesia Week, diharapkan dapat menjadi momentum yang tepat bagi perayaan 60 tahun hubungan Indonesia-Jepang.

Indonesia Week adalah sebuah Festival Kolaborasi yang bertujuan Mewartakan Berita Baik perihal Indonesia ke seluruh dunia. Kegiatan ini digagas oleh “Be Indonesia”, sebuah Simpul Kolaborasi yang terdiri dari berbagai perwakilan Akademisi, Komunitas, Media, Pemerintah & Pekerja Kreatif dalam semangat mencintai dan memberikan yang terbaik bagi Indonesia. Indonesia Week yang kedua ini digelar di Kota Nagoya, Jepang, tepatnya persis di bawah Nagoya TV Tower, di area Mochinoki Hiroba (Central Park) pada tanggal 28 – 30 April 2018. Setelah sebelumnya, Indonesia Week pertama kali diselenggarakan di Kota Osaka, Jepang pada tahun 2016. 

Kegiatan Indonesia Week ini dibuka oleh Dr. Toto Pranoto selaku Dewan Pembina Be Indonesia dan Lembaga Manajemen FEB Universitas Indonesia, Windu Widjaya selaku Direktur Be Indonesia dan Ketua 2nd Indonesia Week 2018, Arifin Tasrif selaku Duta Besar RI di Tokyo, dan Ohmura Hideaki selaku Gubernur Aichi, Jepang. Saya selaku Creative Director kegiatan Indonesia Week ini, meramu beberapa konten kegiatan kreatif berupa Intimate Concert ; Story Telling Performances ; Culinary Bazaar ; Live Cooking Demo ; Community Parade ; Edu Talkshow ; Indonesia Green Action For Nagoya ; Indonesian Embassy of Tokyo Public Service & Travel Fair. Pembukaan Indonesia Week ini ditandai dengan membunyikan othok-othok secara bersama-sama. Othok-othok sendiri merupakan sebuah benda mainan tradisional asal Indonesia yang terbuat dari bambu dan mengeluarkan bunyi khas bila diputar. Bunyi yang dihasilkan dari othok-othok tersebut diharapkan dapat menjadi simbol suara kebersamaan & persaudaraan antara Indonesia-Jepang.

Sejumlah kolaborator yang tampil pada perhelatan Indonesia Week ini terlihat sangat antusias ditambah dengan puluhan ribu pengunjung yang memadati kegiatan ini selama 3 hari. Persembahan dari Indonesia disuguhkan oleh Indonesia Rock Star Empire (Isa Raja, Aria Baron, Sandy & Trisnoize Pas Band) ; Fashion Show oleh Doni Rahman ; Malang Amore Carnival ; Tari Pasambahan, Tari Payuang, Tari Rampak Baindang & Tari Hoyak Gandang Nan Batingkah dari Sumatera Barat ; Tari Remong, Tari Ronggeng Nyenyrik & Tari Gandrung Marsan dari Malang ; Tari Mojang Priangan dari Cianjur ; Pencak Silat Gajah Putih ; Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate ; serta Eka Kapti Dance dari ChiKieZie. Sementara persembahan dari Jepang disuguhkan oleh Sleaze Party (Tecchan, Masaya, Yuika, Kaorin, Max, Aska & Natsuo) ; Swamp Water (Toshimi Tsuruta & Takashi) ; Sugiyama Kyoko ; Matsumoto Machiko (Washoku Cooking Instructor) ; Tari Rejang Sari dari Taro Bali Masami San. Keseluruhan atmosfir kegiatan ini bertambah hangat dengan penampilan dari Indonesia-Japan Band Festival yaitu Tokyo Parahyangan Culture, YLKN, Heaven Soul, Stay Clasy, 42L, Kaizu, The Crew, Shinyu, God Slave, FS Band, Agung + The Crew, Rina + The Crew.

Indonesia Week ini didukung oleh Kementrian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia ; Kementrian Komunikasi & Informasi (Kominfo) Republik Indonesia ; Kementrian Perdagangan Republik Indonesia ; Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Osaka ; Indonesian Embassy of Tokyo ; Indonesia Creative Cities Network (ICCN) ; Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) ; Pemerintah Provinsi Sumatera Barat ; Pemerintah Kabupaten Cianjur ; Pemerintah Kabupaten Bekasi ; Bank Mandiri ; Sarinah ; Asgar Clan Japan ; Cianjur Jago ; Emhecee ; Ikatan Pengusaha Kenshuusei Indonesia (IKAPEKSI) ; IPI Japan ; Pasoepati Japan ; Viking Baraya Japan ; Lanus Japan / Solidaritas Japan ; Paguyuban Pasundan Japan ; Kinarya ; Ruang Kolaborasa ; PPI Nagoya. Tak lupa kami ucapkan terima kasih atas segala budi baik yang telah dihadirkan pada kegiatan Indonesia Week ini. Secara pribadi saya menghaturkan terima kasih kepada Bapak Windu Widjaya & Istri, Bapak Toto Pranoto & Istri, Kang Tubagus Kusumah + Teh Henny Kusumah + Neng Syafira, Alief Bean, Kang Alam Pirman, Kang Aryo, Mba Rahma, Mba Isti, Mba Riri, Mba Reni, Teh Wheny, Kang Jajat, Kang Rifai, Kang Tammy, Bang Aslam, Bang Angge, Bang Zinto, Bang Achank, Alloy, Masami Naruse, Kang Doddy, Mas Agung, Mas Ari, dan Maryanto. Senang bisa berkolaborasi dengan teman-teman semua.

Acara Penutupan Indonesia Week ini ditandai dengan menerbangkan pesawat kertas secara bersama-sama. Sebagai sebuah simbol ajakan bagi masyarakat jepang & turis asing lainnya untuk dapat berkunjung ke Indonesia. Kiranya kegiatan Indonesia Week ini dapat diselenggarakan secara konsisten mengingat inisiatif yang dihadirkan di sini bersifat “People to People”, bukan berasal dari Pemerintah ataupun satu pihak saja. Sehingga kekuatan komunitas dan jejaringnya sangat diperlukan bagi keberlangsungan kegiatan kolaborasi ini. Namun tak ada kunci kesuksesan dalam mencapai tujuan selain menikmati segala proses serta kekurangannya. Sembari tentunya terus mengevaluasi diri secara lebih terbuka. Karena curahan energi, waktu dan semua yang kami lakukan di sini hanyalah demi satu bangsa, demi satu tanah air, Indonesia. Selama hayat masih dikandung badan, tentunya kami senantiasa tak pernah letih untuk tetap mengumandangkan lagu Indonesia Raya ke seluruh pelosok dunia.

***

Since the signing of the Treaty of Peace on January 20, 1958, the diplomatic relations that have existed between Indonesia and Japan post-independence, this year has stepped on the age of 60 years. Although history record the dark story for the memory of our nation at the time of colonization, but the wound was gradually able to be remedied and can be said has now vanished. Especially at this time the fraternal faction between Indonesia & Japan become more solid with the traces of politics, economic footprint, social footprint, and cultural traces left behind.

We also realize that Indonesia is a country with a wealth of nature and human resources are very diverse. The set of potential it has can produce value for the homeland. Because it is supposed Mutiara Khatulistiwa owned this nation must be voiced to the world community. And the country of Japan is one of them considering the historical relationship that has long existed. Therefore, through activities called Indonesia Week, is expected to be the right momentum for the celebration of 60 years of Indonesia-Japan relations.

Indonesia Week is a Collaboration Festival that aims to proclaim Good News about Indonesia to the world. This activity was initiated by “Be Indonesia”, a Collaboration consisting of various representatives of Academics, Community, Media, Government & Creative Workers in the spirit of loving and providing the best for Indonesia. The second Indonesia Week was held in Nagoya City, Japan, below Nagoya TV Tower, in Mochinoki Hiroba (Central Park) area on 28 – 30 April 2018. After the first, Indonesia Week was held in Osaka City, Japan on year 2016.

This Indonesia Week event was opened by Dr. Toto Pranoto as the Board of Trustees of Be Indonesia & FEB University Management Institute of Indonesia, Windu Widjaya as Director of Be Indonesia and Chairman of 2nd Indonesia Week 2018, Arifin Tasrif as Ambassador of Indonesia in Tokyo, and Ohmura Hideaki as Governor of Aichi, Japan. Me as Creative Director of Indonesia Week activities, concocted some creative activity content in the form of Intimate Concert; Story Telling Performances; Culinary Bazaar; Live Cooking Demo; Community Parade; Edu Talkshow; Indonesia Green Action For Nagoya; Indonesian Embassy of Tokyo Public Service & Travel Fair. The opening of Indonesia Week is marked by sounding othok-othok together. Othok-othok itself is a traditional toy object from Indonesia made of bamboo and issued a distinctive sound when played. The sound produced from othok-othok is expected to be a symbol of the voice of togetherness & brotherhood between Indonesia-Japan.

A number of collaborators who appear on the event looks very enthusiastic with tens of thousands of visitors who crowded this activity for 3 days. From Indonesia served by Indonesia Rock Star Empire (Isa Raja, Aria Baron, Sandy & Trisnoize Pas Band); Fashion Show by Doni Rahman; Malang Amore Carnival; Pasambahan Dance, Payuang Dance, Rampak Baindang Dance & Hoyak Gandang Nan Batingkah Dance from West Sumatra; Remong Dance, Ronggeng Nyenyrik Dance & Gandrung Marsan Dance from Malang ; Mojang Priangan Dance from Cianjur; Pencak Silat Gajah Putih ; Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate ; and Eka Kapti Dance from ChiKieZie. While from Japan are served by Sleaze Party (Tecchan, Masaya, Yuika, Kaorin, Max, Aska & Natsuo); Swamp Water (Toshimi Tsuruta & Takashi); Sugiyama Kyoko; Matsumoto Machiko (Washoku Cooking Instructor); Rejang Sari Dance from Taro Bali Masami San. The overall atmosphere of this activity grew warmer with the appearance of the Indonesia-Japan Band Festival namely Tokyo Parahyangan Culture, YLKN, Heaven Soul, Stay Clasy, 42L, Kaizu, The Crew, Shinyu, God Slave, FS Band, Agung + The Crew, Rina + The Crew.

Indonesia Week is supported by the Ministry of Tourism Republic of Indonesia ; Ministry of Communication & Information Republic of Indonesia ; The Ministry of Trade of the Republic of Indonesia ; Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Osaka ; Indonesian Embassy of Tokyo; Indonesia Creative Cities Network (ICCN) ; Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) ; West Sumatera Provincial Government ; Government of Cianjur Regency ; Government of Bekasi Regency ; Mandiri Bank ; Sarinah; Asgar Clan Japan ; Cianjur Jago ; Emhecee; Ikatan Pengusaha Kenshuusei Indonesia (IKAPEKSI); IPI Japan ; Pasoepati Japan ; Viking Baraya Japan ; Lanus Japan / Solidaritas Japan ; Paguyuban Pasundan Japan ; Kinarya ; Ruang Kolaborasa ; PPI Nagoya. Not forgetting, we thank you for all the good things that have been presented in this Indonesia Week activity. Personally I would like to thank Mr. Windu Widjaya & Wife, Mr. Toto Pranoto & Wife, Kang Tubagus Kusumah + Henny Kusumah + Neng Syafira, Alief Bean, Kang Alam Pirman, Kang Aryo, Rahma Mba, Mba Isti, Mba Riri, Mba Reni, Wheny Tea, Kang Jajat, Kang Rifai, Kang Tammy, Bang Aslam, Bang Angge, Bang Zinto, Bang Achank, Alloy, Masami Naruse, Kang Doddy, Mas Agung, Mas Ari, and Maryanto. Glad to be collaborating with all friends.

The Closing event of Indonesia Week is marked by flying paper airplanes together. As a symbol of invitation for Japanese society & other foreign tourists to be able to visit Indonesia. Indonesia Week activities can be held consistently considering the initiatives presented here are “People to People”, not from the Government or one party only. So that the strength of the community and its network is indispensable for the sustainability of this collaborative activity. But there is no key to success in achieving the goal in addition to enjoying all the processes and shortcomings. While of course continue to evaluate themselves more openly. Because of the energy, time, and all that we do here is for the sake of one nation, for the sake of one homeland, Indonesia. During the life still contained the body, of course we always never tired to keep echoing Indonesia Raya songs to all corners of the world.

DSCF5518

DSCF5571

DSCF5580

DSCF5602

DSCF5635

DSCF5665

DSCF5684

DSCF6293

DSCF6306

DSCF6655

DSCF6317

DSCF5896

DSCF5938

DSCF5994

DSCF6460

DSCF5903

DSCF5905

DSCF7393

DSCF6706

DSCF7492

DSCF6030

DSCF6326

DSCF7430

DSCF7271

DSCF7428

DSCF6368

DSCF6365

DSCF6531

DSCF6689

DSCF6760

DSCF6728

DSCF6807

DSCF6862

DSCF6837

DSCF6867

DSCF6855

DSCF6906

DSCF6993

DSCF7063

DSCF7097

DSCF7134

DSCF7158

DSCF7184

DSCF6395

DSCF7209

DSCF7278

DSCF6908

DSCF7601

DSCF7617

DSCF7676

Kolaborasa Merah Putih Di Negeri Pagoda | Wonderful Indonesia Festival | 17-19 November 2017, Bangkok, Thailand

leave a comment »

Teks & Foto / Text & Photographs : galih sedayu

Indonesia adalah sebuah negeri dengan jutaan cerita yang tak akan ada habisnya. Pesonanya begitu memikat hingga ia kerap dijuluki permata khatulistiwa. Ribuan pulau dengan segala keajaiban yang dimilikinya menjadi potensi pariwisata yang sangat berharga di mata dunia. Namun bukan berarti kita hanya berdiam diri dan berleha-leha saja menanti turis asing yang menyambangi tanah air. Menjemput bola kadang menjadi kunci jawaban di tengah pertanyaan mengenai bagaimana mengatasi persaingan yang sengit demi menarik wisatawan datang ke sebuah negara.

Wonderful Indonesia Festival adalah aksi nyata yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia demi meraih kunjungan wisata yang diharapkan. Karena di sanalah hadir berbagai alasan mengapa Indonesia patut untuk dikunjungi, dirasakan & dinikmati. Melalui program promosi yang digagas oleh Kementrian Pariwisata Republik Indonesia, festival ini menjadi salah satu ajang yang mengusung tugas mulia yakni mewartakan berita baik perihal Indonesia kepada dunia.

Negara Thailand yang menyandang sebutan negara gajah putih, merupakan salah satu celah pasar di Asia Tenggara yang disasar oleh Indonesia demi mendatangkan turis asing ke tanah air. Karenanya segala upaya perlu dilakukan demi menarik perhatian masyarakat Thailand agar mereka sudi merogoh koceknya untuk terbang dan berlibur ke Indonesia. Terlebih saat ini ada tiga buah “Direct Flight” yang memudahkan rute kunjungan wisata dari Thailand ke Indonesia. Medan, Jakarta & Bali adalah kota yang menjadi simpul penerbangan langsung dari Thailand menuju Indonesia. Demi mencermati hal tersebut, Wonderful Indonesia Festival digelar di CentralWorld Square, Bangkok, Thailand yang berlangsung dari tanggal 17 – 19 November 2017. Dengan konsep Branding, Advertising & Selling (BAS), kegiatan ini diharapkan mampu mendobrak jumlah wisatawan manca negara khususnya pasar Thailand yang akan menyapa Indonesia.

Merupakan suatu kehormatan bagi saya, karena ditunjuk dan dipercaya untuk menjadi “Creative Director” kegiatan Wonderful Indonesia Festival di Thailand tersebut. Dengan mengambil tema “Indonesia : The Never Ending Story of Magical Lands & Legends”, sejumlah agenda kegiatan yakni “Art & Culture Performances ; Clothing & Craft Market ; Culinary Bazaar ; Interactive Activity & Workshop ; Intimate Music Concert dan Travel Fair”, menjadi bumbu-bumbu yang diolah ke dalam sebuah masakan Indonesia. Dalam merancang konsep dan mendesain festival ini, saya menggunakan pendekatan “Story Telling” sebagai jembatan komunikasi agar segala aktivitas yang hadir di sana dapat terhubung intim dengan pengunjung serta tercapai pesan yang diharapkan. Lima zona destinasi wisata yang menjadi pasar Thailand yakni Medan (1) ; Jakarta & Bandung (2) ; Jogjakarta, Solo & Semarang (3) ; Surabaya & Malang (4) ; serta Bali (5), semuanya dikemas ke dalam bentuk 5 cerita rakyat asal negeri khatulistiwa, Indonesia. Cerita Legenda Danau Toba dihadirkan demi menarik turis asing menyambangi Medan ; Legenda Lutung Kasarung demi menyasar Jakarta & Bandung ; Legenda Roro Jonggrang demi menyasar Jogjakarta, Solo & Semarang ; Legenda Keris Mpu Gandring demi menyasar Surabaya & Malang ; serta Legenda Barong demi menyasar Bali. Semuanya menjadi himpunan cerita yang akan didongengkan kepada masyarakat Thailand oleh para musisi, seniman, penari serta semua penampil melalui karya kreatifnya masing-masing.

Sejumlah nama yang mewakili Indonesia pun turut mencurahkan energi kreatifnya di Negeri Pagoda tersebut. Meski diserang terik panasnya cuaca Kota Bangkok yang sangat menyengat, namun para Kolaborator Indonesia tetap semangat menyuguhkan persembahan terbaiknya. Dari Bandung tercatat ada DJ Destiny, Kartwel Noesantara (Dadi Firmansyah / Karinding & Percussion, Arief Hendrawan / Percussion, Rian Andriawan / Percussion, Ariya Iim Nugraha / Wing Instrument & Percussion & Mohammad Nizar Novian / Percussion), Patrakomala (Ammy Kurniawan / Violin & Guitar, Opik Bape / Guitar, Arnie Christanti / Bass, Adisty Sofie Anggia / Drum, Rahma Sekar Savitri / Vocal & Ukulele Guitar, Kris Takarbessy /Vocal & Guitar. Dari Banten tercatat ada Sanggar Bina Seni Tari Raksa Budaya. Dari Cirebon tercatat ada Project Qiu (Nurhadi Nugroho / Rapper, Ivan Suwarno Putera / Rapper, Ajeng Rahayu / Rapper, Mayasari / Vocal, Ridzqy Marajuang Nasution / Rapper. Dari Jakarta tercatat ada Kamila (Ava Victoria / Alto & Violin, Mia Ismi Halida / MezzoSopran & Violin, Ana Achjuman / Sopran & Violin. Dari Jogajakarta tercatat ada Papermoon Puppet Theater & Jogja Fest. Dari Malang tercatat ada Malang Amore Carnival (Yoseph Agus Kristian / Carnival Player & Dancer, Leonardo Yofi Galih Fernando / Carnival Player & Dancer. Dan dari Thailand tercatat ada nama Artis & Penyanyi Pinky Sawika Chaiyadech.

Persatuan Mahasiswa Indonesia yang ada di Thailand (Permitha) pun turut bersinergi dengan menjadi relawan di kegiatan Wonderful Indonesia Festival ini. Mereka bahu membahu membantu dengan penuh ikhlas agar pelaksanaan kegiatan ini berlangsung dengan lancar. Syukurnya festival ini banyak dipadati oleh ribuan pengunjung baik itu yang berasal dari masyarakat lokal Thailand hingga turis asing yang sedang berlibur di Thailand. Booth pameran yang berisi informasi serta “pop up” perihal wayang, batik, kain tenun, angklung dan bumbu masakan Indonesia laris dinikmati oleh pengunjung. Belum lagi booth kuliner, workshop, travel wishlist, foto dan travel fair pun menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Plus himpunan hiburan serta atraksi yang disajikan di area panggung utama menjadi menu spesial yang menjadi magnet bagi para pengunjung yang hadir di sana.

Kiranya segala jejak kolaborasi yang telah dihadirkan serta ditinggalkan di kegiatan Wonderful Indonesia Festival ini, dapat menjadi obor yang menyala abadi agar kemudian dapat terus diestafetkan kepada siapapun yang mencintai tanah air. Karena negeri kita tercinta ini memang sangat layak untuk diwartakan sehingga cahyanya tak kan berakhir padam, tak kan berakhir pudar, tak kan berakhir sirna. Selama ada pelita hati dan pelita jiwa bangsa Indonesia yang terus menerangi, sudah semestinya kita percaya bahwa negeri ini akan tetap menjadi taman bermain dan surga dunia.

***

Indonesia is a country with millions of stories that will never end. His charm is so enthralled that he is often called the jewel of the equator. Thousands of islands with all its magic has become a valuable tourism potential in the eyes of the world. But that does not mean we just sit back and relax just waiting for foreign tourists who visited the country. Picking up the ball is sometimes the key answer in the middle of the question of how to overcome fierce competition in order to attract tourists come to a country.

Wonderful Indonesia Festival is a real action undertaken by the Government of Indonesia in order to achieve the expected tourist visit. Because there are many reasons why Indonesia should be visited, felt & enjoyed. Through a promotional program initiated by the Ministry of Tourism of the Republic of Indonesia, this festival became one of the arena that carries the noble task of proclaiming good news about Indonesia to the world.

Thailand country that bears the title of white elephant country, is one of the market gaps in Southeast Asia targeted by Indonesia to bring foreign tourists to the country. Therefore all efforts need to be done to attract the attention of the Thai people so they willing to spend their money to fly and take a vacation to Indonesia. Especially now there are three “Direct Flight” which facilitate the route of tourist visits from Thailand to Indonesia. Medan, Jakarta & Bali is the city that became the direct flight node from Thailand to Indonesia. Look at these things, Wonderful Indonesia Festival held at CentralWorld Square, Bangkok, Thailand from 17 to 19 November 2017. With the concept of Branding, Advertising & Selling (BAS), this activity is expected to break down the number of foreign tourists, especially the Thai market will greet Indonesia.

It is an honor for me appointed and trusted to be the “Creative Director” of the Wonderful Indonesia Festival in Thailand. With the theme “Indonesia: The Never Ending Story of Magical Lands & Legends”, a number of activities agenda that is “Art & Culture Performances; Clothing & Craft Market; Culinary Bazaar; Interactive Activity & Workshop; Intimate Music Concert and Travel Fair “, all this agenda become the spices that are processed into an Indonesian cuisine. In designing the concept and designing this festival, I use the “Story Telling” approach as a bridge of communication so that all activities present there can be intimately connected with visitors as well as achieved the expected message. The five destinations of Thailand’s tourism destinations are Medan (1); Jakarta & Bandung (2); Jogjakarta, Solo & Semarang (3); Surabaya & Malang (4); as well as Bali (5), all packaged into the form of 5 folklore of the equator country of Indonesia. Legend story Lake Toba presented to attract foreign tourists visited Medan; Legend of Lutung Kasarung for targeting Jakarta & Bandung; Legend Roro Jonggrang for targeting Jogjakarta, Solo & Semarang; Legend Keris Mpu Gandring for targeting Surabaya & Malang; and Legend Barong to target Bali. Everything becomes a collection of stories that will be told to the people of Thailand by the musicians, artists, dancers and all the performers through their creative work.

A number of names that represent Indonesia also helped to devote creative energy in the Pagoda Country. Despite the blazing heat of Bangkok City’s stinging weather, but the Indonesian Collaborators keep the spirit of presenting his best offerings. From Bandung we have DJ Destiny, Kartwel Noesantara (Dadi Firmansyah / Karinding & Percussion, Arief Hendrawan / Percussion, Rian Andriawan / Percussion, Ariya Iim Nugraha / Wing Instrument & Percussion & Mohammad Nizar Novian / Percussion), Patrakomala (Ammy Kurniawan / Violin & Guitar, Opik Bape / Guitar, Arnie Christanti / Bass, Adisty Sofie Anggia / Drums, Rahma Sekar Savitri / Vocal & Ukulele Guitar, Kris Takarbessy / Vocal & Guitar. From Batam we have Studio Bina Dance Mercury Culture. From Cirebon we have Project Qiu (Nurhadi Nugroho / Rapper, Ivan Suwarno Son / Rapper, Maya Rahayu / Rapper, Mayasari / Vocal, Ridzqy Marajuang Nasution / rapper. From Jakarta we have Kamila (Ava Victoria / Alto & Violin, Mia Ismi Halide / MezzoSopran & Violin, Ana Achjuman / Soprano and Violin. From Jogajakarta we have Papermoon Puppet Theater and Jogja Fest. From Malang we have Malang Amore Carnival (Yoseph Agus Kristian / Carnival Player and Dancer, Leonardo Yofi Galih Fernando / Carnival Player & Dancer. And from Thailand there is the name of Artist & Singer Pinky Sawika Chaiyadech.

Indonesian Student Association in Thailand (Permitha) also joined together to become a volunteer in the activities of Wonderful Indonesia Festival. They work together to help sincerely so that the implementation of this activity goes smoothly. Thankfully this festival is crowded by thousands of visitors either coming from local Thai people to foreign tourists who are on holiday in Thailand. The exhibition booth that contains information and “pop up” about wayang, batik, woven cloth, angklung and spices of Indonesia’s best-selling cuisine enjoyed by visitors. Not to mention the culinary booth, workshop, travel wishlist, photos and travel fair was a special attraction for visitors. Plus the set of entertainment and attractions are presented in the main stage area into a special menu that becomes a magnet for the visitors who are present there.

May all the traces of collaboration that has been presented and abandoned in the activities of Wonderful Indonesia Festival, can be a torch that burns eternally so that later can continue to give by to anyone who loves the homeland. Because our beloved country is very worthy to be proclaimed so that the light will not end off, will not end up faded, will not end disappear. As long as there are lights of the heart and light of the soul of the nation that continues to illuminate, we should believe that this country will remain a playground and a paradise of the world.

poster WIF

DSCF8254

DSCF9299

DSCF9963

DSCF9351

DSCF9354

DSCF8696

DSCF8812

DSCF8568

DSCF9575

DSCF8646

DSCF8600_blog

DSCF8683

DSCF8500_blog

DSCF9952

DSCF8689

DSCF9595

DSCF9741

DSCF9997

DSCF9836

DSCF0241

DSCF0577

DSCF9872

DSCF9902_blog

DSCF8912

DSCF0222

DSCF0326

DSCF0466

DSCF0140_blog

IMG_1008_blog

DSCF0544

DSCF9178

DSCF9093_blog

DSCF9774

IMG_1040_blog

IMG_1931

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Indonesia Berdendang Bersahutan di Penang | Indonesia Festival | 28-29 November 2015, Penang, Malaysia

leave a comment »

Teks : galih sedayu
Foto : Dudi Sugandi, galih sedayu, Pam Ardinugroho & Ruli Suryono

Indonesia adalah negara yang penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Barangkali inilah salah satu alasan mengapa Indonesia mendapat kehormatan untuk mempromosikan wisata tanah air kita di Penang, Malaysia. Selama dua hari, dari tanggal 28-29 November 2015, sejumlah kolaborator yang terdiri dari pekerja kreatif di bidang musik, seni pertunjukkan, tari, permainan anak tradisional, fotografi, video, serta desain hadir di Penang dalam sebuah perhelatan yang bernama Indonesia Festival. Mewakili komunitas musik ada nama 4 Peniti {Deconstructive, Logarithm & Connecting Band}, Homogenic {Electronic Band} dan Street Traveller {Folks & Blues Band}. Kemudian ada Tantanggaranda83 yang mewakili Bandung dari komunitas seni pertunjukkan, Komunitas Hoong yang mewakili komunitas permainan anak tradisional, serta Wanna Be Dancer yang mewakili komunitas tari. Terakhir mewakili Kota Malang yang turut berkolaborasi yaitu Komunitas Malang Armore Carnival. Para kolaborator ini menyemarakkan acara Indonesia Festival yang mengusung tema “Sharing Our Similarities, Celebrating Our Differences”. Indonesia Festival ini diselenggarakan oleh Wonderful Indonesia dan Kementrian Pariwisata Indonesia bekerja sama dengan Merah Putih Persada dan Ruang Kolaborasa dari Bandung. Kebetulan saya dipercaya untuk menjadi Creative Director dari Indonesia Festival tersebut.

Padang Esplanade atau Padang Kota Lama, sebuah lapangan rumput hijau nan luas di kota Georgetown, Penang menjadi sebuah arena kolaborasa dan ruang kreativitas bagi kegiatan Indonesia Festival tersebut. Padang Esplanade ini menghadap ke arah laut dimana sejauh mata memandang tampak jembatan Pulau Penang yang mengubungkan Bayan Lepas di Pulau Penang dengan Seberang Prai di daratan Malaysia. Selain itu Penang City Hall atau Dewan Bandaraya Pulau Pinang, sebuah bangunan bersejarah yang dibuka sejak tahun 1903, menjadi salah satu latar pemandangan yang unik jika kita menginjakkan kaki di area hijau Padang Esplanade. Dekorasi Indonesia Festival inipun disuguhkan dengan apik dari mulai tenda peserta pameran yang berwarna-warni, instalasi balon dalam skala gigantik, infographic wall perihal pariwisata indonesia, outdoor cinema, photo booth, serta pameran foto. Belum lagi ratusan balon cair {bubbles} yang beterbangan di tiup angin, semakin menjadikan atmosfir yang segar di area tersebut.

Meski para kolaborator Indonesia Festival ini diundang ke Penang sebagai tamu atau pengisi acara, namun pada kenyataannya mereka tetap berlaku dan bertindak seperti pemilik acara. Barangkali itulah semangat memiliki Indonesia yang ditunjukkan oleh kita semua. Sejumlah kendala yang ditemui di lapangan saat penyelenggaraan acara, tanpa berpikir panjang segera direspon oleh mereka dengan solusi, bukan dengan keluhan. Tak heran bila di sana grup musik 4 Peniti terlihat ikut membantu menyiapkan dan mengatur sound system panggung, tim dokumentasi yang terlihat membantu mengatur dan menyusun properti dekorasi acara, serta komunitas hoong yang ikut membantu membersihkan sampah. Semuanya dilakukan dengan senang hati dan penuh ikhlas. Saat pembukaan acara, ribuan kolecer menjadi simbol pemersatu sekaligus memanggil semua pengunjung agar dapat menari dan bergembira bersama di tengah lapangan. Meskipun cuaca matahari yang menyengat di kala siang dan guyuran hujan setiap malam di Padang Esplanade, namun itu semua tidak menyurutkan semangat dan keceriaan tim kami untuk bisa menghibur warga Penang. Bahkan menari dan berdansa di saat hujan turun menjadi sebuah atraksi yang memikat sembari ditemani alunan musik yang dihadirkan oleh para musisi Indonesia.

Dua hari di Penang memang terasa singkat bagi para kolaborator Indonesia Festival. Namun tawa, canda dan suka cita yang dihadirkan di sana adalah jejak yang selalu membekas di hati. Apalagi esensi sebuah festival internasional adalah mewartakan nilai-nilai kebaikan yang dimiliki oleh sebuah bangsa. Dalam hal ini, kita semua mencoba memberikan pesan dan kesan yang baik demi Indonesia, demi tanah air, demi bumi pertiwi. Keramahan dan kehangatan, solidaritas dan toleransi, kekayaan dan ragam budaya semestinya dapat menjadi ciri khas dan karakter bagi bangsa kita. Tentunya dalam persaudaraan kita mesti percaya bahwa ia adalah benteng terakhir tatkala bangsa kita mengalami kesulitan. Oleh karenanya, tetaplah membuat simpul yang erat bagi dunia.

***

Text : galih sedayu
Photography : Dudi Sugandi, galih sedayu, Pam Ardinugroho & Ruli Suryono

Indonesia is a country full of joy and happiness. Perhaps this is one reason why Indonesia has the honor to promote our country tour in Penang, Malaysia. For two days, from 28-29 November 2015, a number of collaborators consisting of creative workers in music, performing arts, dance, traditional children’s games, photography, video, and design were present at Penang in an event called Indonesia Festival. Representing the music community there are the names 4 Peniti {Deconstructive, Logarithm & Connecting Band}, Homogenic {Electronic Band} and Street Traveler {Folks & Blues Band}. Then there is Tantanggaranda83 representing Bandung from the performing arts community, Hoong Community representing the traditional children’s game community, as well as Wanna Be Dancer representing the dance community. Last representing the Malang City who also collaborated the Malang Community Armore Carnival. These collaborators are enlivening the Indonesia Festival event with the theme “Sharing Our Similarities, Celebrating Our Differences”. Indonesia The festival is powered by Wonderful Indonesia and the Indonesian Ministry of Tourism in collaboration with Merah Putih Persada and Ruang Kolaborasa. I happen to be trusted to become Creative Director of Indonesia Festival.

Padang Esplanade or Padang Kota Lama, a large green grass field in Georgetown city, Penang becomes an arena of collaboration and creativity space for the activities of Indonesia Festival. The Esplanade is facing towards the sea where as far as the eye can see the Penang Island bridge that connects Bayan Lepas in Pulau Penang with Seberang Prai in mainland Malaysia. In addition Penang City Hall or Pulau Pinang Airport, a historic building that opened since 1903, became one of the unique scenery setting if we set foot in the green area of ​​Padang Esplanade. The decoration of Indonesia Festival beautifully presented from the start of the exhibition tent colorful, the installation of balloons in gigantic scale, infographic wall about Indonesia tourism, outdoor cinema, photo booth, and photo exhibition. Not to mention the hundreds of liquid bubbles that fly in the wind, making the atmosphere fresh in the area.

Although the Indonesian collaborators of this Festival are invited to Penang as guests or performers, in reality they remain in effect and act like the owner of the event. Perhaps that’s the spirit of having Indonesia shown by us. A number of obstacles encountered in the field during the event, without a second thought immediately responded by them with a solution, not with a complaint. It’s no wonder there’s a group of 4 Peniti musicians helping to prepare and organize the stage sound system, a team of documentation that looks to help organize and organize the decoration of the show, as well as the hoong community who helped clean up the trash. Everything is done with pleasure and full of sincerity. At the opening ceremony, thousands of kolecers became a unifying symbol as well as summoning all visitors to dance and have fun together in the middle of the field. Despite the stinging sun in the afternoon and the rain every night at Padang Esplanade, but it does not lowered the spirit and joy of our team to be able to entertain the citizens of Penang. Even dancing and dancing in the rain fell into a charming attraction while accompanied by the music presented by Indonesian musicians.

Two days in Penang was short for Indonesian Festival collaborators. But the laughter, jokes and joys presented there is a trail that always made an impression on the heart. Moreover, the essence of an international festival is to proclaim the values ​​of goodness owned by a nation. In this case, we all try to give a message and a good impression for Indonesia, for the homeland, for the sake of the earth. Friendliness and warmth, solidarity and tolerance, richness and diversity of cultures should be characteristic and character for our nation. Surely in brotherhood we must believe that he is the last bastion when our nation is experiencing difficulties. Therefore, keep a tight rope for the world.

poster IF

02

03

48

04

05

06

07

08

10

12

13

14

15

16

17

18

IMG_8792_blog

19

20

21

22

24

25

26

27 a

27 b

49

29

30

31

32

33

34

35

36

37

38

39

40

41

42

43

50

45

44

46

47

Copyright (c) by Ruang Kolaborasa
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from Ruang Kolaborasa.

Lenggak Lenggok Bandung dan Kreasinya | Crafashtival, 7 November 2015

leave a comment »

 

Teks : galih sedayu | Foto : galih sedayu & Air Foto Network

Tentunya sudah sejak dulu kita sering mendengar bahwa Kota Bandung menyandang predikat sebagai Kota Kreatif. Sebutan ini tentunya tidak bisa dilepaskan dari citra warga Kota Bandung yang kreatif. Karenanya, produk-produk kreatif yang dihasilkan oleh warga Kota Bandung menjadi salah satu alasan mengapa Kota Bandung layak disebut sebagai Kota Kreatif.

Craft & Fashion merupakan sub sektor industri kreatif di Kota Bandung yang saat ini terus berkembang pesat. Beberapa survey dan penelitian yang ada, kerap menempatkan keduanya sebagai sub sektor industri kreatif yang memberikan kontribusi ekonomi yang cukup besar bagi Kota Bandung. Faktanya, berbagai jenis produk kreatif di bidang craft & fashion pun dilahirkan dan diciptakan di Kota Bandung.

Untuk itulah Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Koperasi UKM & Perindustrian Perdagangan Kota Bandung bekerjasama dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Bandung dan Ruang Kolaborasa, menggagas sebuah kegiatan yang bernama “Crafashtival”, yaitu sebuah festival sehari craft & fashion yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 7 November 2015 bertempat di Jalan Cikapundung Timur, Bandung. Dari mulai Pameran Craft & Fashion, Edu Talkshow & Workshop, Kompetisi Ilustrasi Fashion & Fotografi, Kampanye Cinta Produk Bandung, Konser Musik hingga Instalasi Manequin disuguhkan dengan meriah oleh berbagai komunitas yang ada di Kota Bandung. 

Splash Your Best” menjadi tema yang diangkat melalui Crafashtival ini sehingga diharapkan mampu mempersatukan percikan-percikan kreativitas yang disemburkan oleh para pelaku industri kreatif khususnya craft & fashion di Kota Bandung. Saat ini, kita pun dapat melihat dengan seksama bahwa produk-produk kreatif buatan Bandung mampu bersaing secara global. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan terus mewartakan pesona dan kreasi bandung kepada dunia. 

@galihsedayu | Bandung, 7 November 2015

IMG_4475

IMG_4516

IMG_4688

IMG_7078

IMG_7103

AIR_3833

IMG_7261

AIR_3990

AIR_4011

AIR_4091

ADE_9423_blog

ADE_0008

ADE_0110

ADE_0240

Copyright (c) 2015
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Jalan Solidaritas Dari Bandung Untuk Dunia | Asian African Carnival 2015 | Bandung The Capital of Asia Africa

leave a comment »

Teks oleh galih sedayu | Foto oleh galih sedayu & Ruli Suryono

60 tahun perayaan Konferensi Asia Afrika (KAA) tentunya menjadi sebuah tonggak sejarah tersendiri bagi Kota Bandung. Di sinilah reuni akbar negara-negara Asia Afrika yang dilaksanakan setiap 10 tahun sekali, kembali menyambangi kota yang mengandung sejuta nafas dan energi kreatif tersebut. Berbagai kegiatan pun disumbangkan oleh warga Kota Bandung demi menguatkan citra Bandung sebagai ibu kota Asia Afrika. Total tercatat ada sekitar 60 kegiatan yang dipersembahkan bagi perayaan 60 tahun KAA tersebut.

Mewakili komunitas, Bandung Creative City Forum (BCCF) menghadirkan kegiatan Helarfest berupa rangkaian event yaitu Artefak.Bdg, Kampung Pande, Anak Bandung Berani Menggambar, Picnic Parenting, Lightchestra, Festival Kabaret, Pakoban 4-2015 Feat Gen-X, Festival Bioskop Rakyat, Sasab-Sprit of AA Youth, GameDev Bdg Gathering, Balik Bandung, Culture of Our Art, Start-Up Weekend, #1000 Wajah Bandung, Merchant of Emotion, Pride to Ride Heritage, Bandung Social Wave, Bandung Food Truck Festival, Culture Movement Project, Focal Point, SATU : Revolution of AA Sprit, Festival Taman Film Bandung, Ulinpiade-Colorful Harmony, Ulin-AAC Historical Treasure Hunt, The Last Colony Movie, Cibaduyut Mentas, Forte ITB, dan Creative Cities Conference.

Kemudian dari Museum Konferensi Asia Afrika (MKAA) menggelar sejumlah kegiatan yakni Pengibaran 109 Bendera Negara KAA & PBB, Pawai Bendera Asia Afrika, Parade Asia Afrika, Kegiatan Pesta Rakyat, Kegiatan Peduli Lingkungan, Pameran Foto KAA 1955 bersama Arsip Nasional Republik Indonesia, Bandung Historical Study Games, Lomba & Pameran Foto Karya Perempuan bersama Komunitas Lubang Jarum, Indonesian International Photo Festival bersama Asian African Community, Senam 5000 Anak Asia Afrika, Afternoon Tea dan Asian African Students Conference.

Lalu ada sejumlah kegiatan berupa Asian African Solidarity Fun Run (Hijab Fun Run), Asian African Roadshow to School & Kampus, Asian African Gemstone Festival, Bandung Land Festival, Asia Africa NGO Summit, dan Festival Budaya Masyarakat Adat Jawa Barat yang turut dipersembahkan oleh kelompok masyarakat bandung serta Gelar Pesta Rakyat yang dilaksanakan oleh Kecamatan Se-Kota Bandung.

Mewakili pemerintah Kota Bandung, Bagian Ekonomi & Setda Kota Bandung menyumbangkan kegiatan Creative Cities Network. Bagian Hukum & HAM Setda Kota Bandung menyumbangkan kegiatan Human Rights City Conference. Dinas Komunikasi & Informasi Kota Bandung menyumbangkan kegiatan Asia Africa Smart City Summit. Dinas KUKM & Perindag Kota Bandung menyumbangkan kegiatan Bandung Art & Craft Expo. Terakhir dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung yang ditunjuk sebagai Leading Sector dan panitia perayaan 60 tahun KAA skala kota, menyuguhkan sebuah kegiatan puncak yang bernama Asian African Carnival.

Kegiatan Asian African Carnival ini sebenarnya merupakan rangkaian 6 buah event yang saling terintegrasi. Yang pertama adalah Bandung 1955 yang melahirkan jejak literasi visual perihal peristiwa KAA 1955 melalui pameran & buku fotografi karya Paul Tedja Surja (fotografer dan pelaku sejarah). Yang kedua adalah Solidarity Day (Tribute to Sukarno & Mandela) yang melahirkan jejak fisik gambar berupa mural karya Kampret Syndicate dan warga kampung setempat perihal tokoh-tokoh penggagas KAA dan tokoh-tokoh yang menjadi simbol solidaritas yang terlukis pada tiang-tiang jembatan di area taman Pasopati. Yang ketiga adalah Asian African Meet & Greet yang melahirkan jejak jejaring internasional. Yang keempat adalah Angklung for The World yang melahirkan jejak sejarah berupa rekor baru di dunia perihal permainan angklung dengan melibatkan 20 ribu orang. Yang kelima adalah Festival of Nations yang melahirkan jejak budaya berupa pertunjukkan seni skala internasional. Yang keenam dan yang menjadi puncak kegiatan perayaan 60 tahun KAA adalah Asian African Parade yang melahirkan jejak deklarasi berupa kegiatan tahunan bersifat internasional untuk pertama kalinya yang ada di Kota Bandung. Deklarasi ini diucapkan langsung oleh Menteri Pariwisata Republik Indonesia yang sekaligus disaksikan oleh ribuan warga Bandung yang memadati acara parade.

Parade ini diikuti oleh berbagai peserta baik dari dalam negeri maupun manca negara yang dilakukan sambil berjalan kaki dengan menggunakan kostum unik di sepanjang jalan Asia Afrika. Parade dibuka oleh pasukan berkuda, diikuti oleh pasukan pengibar bendera Asia Afrika dan disusul oleh Marching Band dari TNI AD. Gelombang parade pertama dimeriahkan oleh peserta manca negara yang turut hadir menyemarakkan acara ini yaitu Amman, Bangladesh, Cambodia, China (Liuzhou & Shenzen), Egypt, India, Iran, Japan, Myanmar, Phillipina, South Korea (Noreum Machi, Guk-Ak-Sa-Rang, Hansamo, Hanbapeh & Suwon City), Srilanka, dan Thailand. Kemudian gelombang parade kedua diisi oleh peserta dalam negeri. Selain Bandung, kota-kota seperti Cimahi, Denpasar, Kediri, Palembang, Pekalongan, Sukabumi, Solo, dan Yogyakarta turut memeriahkan acara tersebut. Sehingga kegiatan parade inilah yang barangkali dijadikan sebagai simbol puncak perayaan 60 tahun KAA di Kota Bandung.

Bila mengingat persiapan perayaan 60 tahun KAA yang hanya kurang lebih dua bulan lamanya, tentunya kita akan melihat pula sejumlah kekurangan dalam pelaksanaannya. Namun demikian, alangkah lebih bijaknya bila kekurangan tersebut tidak dijadikan celah untuk menurunkan derajat Kota Bandung. Biarlah segala kekurangan tersebut kita simpan sebagai bahan evaluasi ke depan dan menjadi otokritik bagi kita semua untuk tetap terus bergerak demi Bandung. Bukan untuk terus dipersoalkan dan diperdebatkan. Sudah saatnya kita bangkit untuk kemudian fokus menjaga berbagai jejak yang sekarang dimiliki oleh Kota Bandung baik itu jejak fisik, jejak sosial-budaya, dan jejak ekonomi.

Barangkali apa yang didapatkan oleh Bandung melalui perayaan 60 tahun KAA ini, merupakan jawaban dari seruan dan permohonan kita semua. Bahwa Sang Semesta selalu menaruh perhatiannya bagi kota ini. Sesungguhnya, yang kita butuhkan hanyalah kepedulian dan kekompakan untuk tetap bersama-sama menjaga kota ini. Kota dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Semoga selalu tangan keikhlasan yang ditadahkan oleh kita semua bagi kota ini dan semoga selalu doa kebaikan yang dibumbungkan oleh kita semua bagi kota ini. Sehingga segala apa yang diucapkan oleh mulut kita, kiranya selalu mewartakan kebaikan, kebaikan dan kebaikan. Tentunya agar Kota Bandung yang kita cintai ini, selalu diselimuti oleh ruh solidaritas. Karena kita mesti percaya bahwa solidaritas itu membangun, bukan merusak.

@galihsedayu | Bandung, 25 April 2015

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

Copyright (c) 2015 by Air Foto Network
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from Air Foto Network.