I'LL FOLLOW THE SUN

Love, Light, Live by galih sedayu

Archive for the ‘MY BOOK PROJECTS’ Category

Agar Menjadi Tubuh Kota | My Personal Book Project : Bandung From Spaces To Places

leave a comment »

Teks : galih sedayu

Manusia dimana pun akan selalu membutuhkan ruang. Tak terkecuali warga yang menghuni sebuah kota. Baik secara komunal maupun individual, mereka mendambakan ruang yang menjadi tempat untuk berpijak dan menciptakan peradaban. Ruang yang kemudian digunakan untuk berkoloni, berinteraksi dan berekspresi agar mereka tetap dapat menggerakkan sebuah kota. Bandung adalah contoh nyata sebuah kota yang selalu bergerak. Dengan menyandang predikat sebagai kota kreatif, tentunya Bandung memiliki banyak ruang publik yang sangat inspiratif. Dari mulai bangunan bersejarah beserta jalan-jalan kotanya, hutan, taman, kampung beserta lapangan dan sungainya yang menggenapkan keutuhan sebuah kota. Coba kita simak sedikit cerita, fakta dan pandangan perihal ruang-ruang publik yang ada di Kota Bandung tersebut.

Sebuah kota tanpa bangunan bersejarah ibarat tubuh manusia tanpa kepala & ingatannya”

Karenanya tatkala sekelompok manusia yang congkak dan dungu berlomba untuk merubuhkan bangunan-bangunan bersejarah kotanya hanya demi uang, maka aksi perlawanan terhadap mereka pun sudah semestinya muncul. Wajar saja memang karena gerakan yang ingin menyelamatkan gedung-gedung tua itu mesti terus selamanya didukung agar kota yang kita huni tetap menjadi waras. Salah satu yang menjadi magnet bagi Kota Bandung adalah keberadaan gedung-gedung tua yang tak kunjung henti selalu mempesona mata manusia. Gedung-gedung tua yang menawan tersebut tersebar di berbagai kawasan Kota Bandung. Dalam buku “100 Bangunan Cagar Budaya di Bandung” yang disusun & diterbitkan oleh Harastoeti DH pada tahun 2011, gedung-gedung tua tersebut dibagi ke dalam kawasan pusat kota, kawasan pecinan/perdagangan, kawasan pertahanan & keamanan/militer, kawasan etnik sunda, kawasan perumahan villa & non-villa serta kawasan industri. Sesungguhnya saat ini perlu adanya upaya-upaya aktif warga untuk kembali menghidupkan bangunan-bangunan tua & bersejarah di Kota Bandung yang telah lama terbengkalai. Untuk kemudian memperkenalkannya kepada anak-anak kita supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian. Supaya anak-anak yang lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka. Supaya mereka menaruh kepercayaan kepada setiap kotanya dan dengan teguh melestarikannya. Karenanya kita perlu menyadari bahwa cinta tidak bisa diberitakan di dalam kubur bangunan tua sebuah kota. Ia akan hidup ketika seluruh warga dapat dengan bebas mengunjungi dan menaruh harapan-harapannya pada gedung-gedung tua sebuah kota. Hingga Kota Bandung akan ada untuk selama-lamanya dan takhtanya seperti matahari & bulan di depan mata, sebagai saksi yang setia di awan-awan.

Sebuah kota tanpa hutan ibarat tubuh manusia tanpa jantung & paru-parunya”

Kawasan Babakan Siliwangi (Lebak Siliwangi) yang terletak di bagian utara kota Bandung tepatnya di jalan Babakan Siliwangi (tembusan jalan Tamansari melewati jalan Ganesha) adalah hutan kota satu-satunya yang masih tersisa di kota ini. Bila kita berbicara perihal hutan kota Babakan Siliwangi, beberapa fakta pun hadir secara nyata di sana. Di masa lalu, terdapat dua belas mata air di kawasan hutan kota Babakan Siliwangi, dimana kini hanya tersisa satu mata air saja. Di kawasan hutan kota ini terjadi pula penurunan permukaaan air tanah, dari 22,99 meter menjadi 14,35 meter (data tahun 1999). Bila lahan hutan kota ini menghilang, akan menyebabkan semakin menurunnya permukaan air tanah karena berkurangnya lahan resapan. Fakta yang lain berbicara bahwasanya hutan kota Babakan Siliwangi merupakan habitat bagi 120 jenis tumbuhan dan 149 jenis hewan serta merupakan tempat singgah bagi enam jenis burung migrasi. Bila kawasan hutan kota ini menghilang, maka jalur migrasi burung-burung ini akan terpotong. Pepohonan yang tumbuh di kawasan Hutan Kota Babakan Siliwangi antara lain adalah Pohon Cola (Cola nitida) dan Pohon Sempur (Dillenia Indica L.), dan Pohon Flamboyan (Delonix Regia) yang paling dominan tumbuh di sana. Tumbuhan yang ada di kawasan hutan kota ini berfungsi sebagai penyaring polusi dan suara. Siapa pun warga yang berada di tengah hutan kota ini, dapat merasakan ketenangan, meskipun jaraknya sangat dekat ke jalan raya yang ramai. Luas kanopi dari pepohonan yang tumbuh di lahan hutan kota ini mencapai hingga 5 Hektar, sementara luas dari Babakan Siliwangi adalah 3,8 Hektar. Tutupan kanopi ini merupakan peneduh, dan sebenarnya dapat menjadi pengurang stress pada manusia yang berada di sekitarnya, karena pepohonan ini menghasilkan udara yang kaya dengan oksigen. Fungsi pepohonan di hutan kota dunia Babakan Siliwangi adalah sebagai penyerap CO2 terhitung hingga 13.680 Kg per hari, sementara melepaskan pula O2 sebesar 9.120 Kg per harinya. Bila harga O2 murni mencapai Rp.25.000,- per liter, maka nilai ekonomis dari hutan kota Babakan Siliwangi mencapai Rp.148.000.000,-. Dari perhitungan ini, dapat diperkirakan bahwa bila kawasan hutan kota Babakan Siliwangi berkurang bahkan hingga 20%-nya saja, maka kerugian Kota Bandung dapat mencapai 10 Milyar Rupiah.

Kemudian sudah sejak lama sebenarnya warga Kota Bandung berjuang demi menyelamatkan Hutan Babakan Siliwangi dari sekelompok pengusaha yang akan menjadikannya sebagai ruang komersil. Berbagai upaya warga pun telah dikerahkan demi mengembalikan pengelolaan hutan kota tersebut dari pihak swasta ke pihak pemerintah dan warga Bandung. Dari mulai aktivasi ruang publik hutan yang dilakukan oleh jejaring komunitas hingga deklarasi Hutan Babakan Siliwangi menjadi Hutan Kota Dunia (World City Forest) yang telah disepakati bersama antara United Nations Environment Programme (UNEP) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kementrian Lingkungan Hidup Indonesia dan Pemerintah Kota Bandung. Dan di tahun ini kabar gembira pun datang menjemput dimana Hutan Kota Dunia Babakan Siliwangi telah dikembalikan pengelolaannya sehingga kembali menjadi milik warga Kota Bandung. Namun demikian, fakta penting yang memiliki nilai bagi Kota Bandung sesungguhnya adalah bagaimana sebenarnya hutan kota dunia Babakan Siliwangi ini menjadi sebuah tempat untuk membangun hubungan manusia dengan alam seutuhnya. Maka dari itu sudah sepatutnya warga Kota Bandung mengucap syukur atas pemberian Sang Semesta dengan sekian banyak kelimpahan yang dimiliki oleh hutan kota dunia Babakan Siliwangi. Karenanya kabarkanlah keselamatan hutan kota ini dari hari ke hari, ceritakanlah kemuliannya kepada semua orang dan bersatulah untuk terus menjaganya dari keserakahan para penguasa yang bodoh. Sebab keagungan dan semarak selalu ada di dalamnya. Sebab kekuatan dan kehormatan ada di tempatnya yang tersembunyi. Sebab anak cucu kita perlu diajari dan merasakan rindangnya hutan.

Sebuah kota tanpa taman ibarat tubuh manusia tanpa hati & sanubarinya”

Bandung juga merupakan sebuah kota yang memiliki begitu banyak taman. Bahkan julukan Bandung sebagai “Parijs van Java” konon didapat karena taman-taman yang dimiliki kota ini sangat menyerupai Kota Paris. Bila kita melihat sejarahnya, taman kota yang lahir pertama kali di kota Bandung adalah “Pieters Park” yang dibangun pada tahun 1885 oleh Meneer R.Teuscher. Kala itu untuk menjaga kesuburan dan kelembaban tanah di sekitar “Pieters Park”, maka dibangunlah sebuah kanal yang memanjang di tepi utara taman. Air yang mengalir pada saluran kanal tersebut bersumber dari sungai cikapayang. Kemudian air dari cikapayang tersebut dialirkan menuju 4 buah taman di kota Bandung yaitu Ijzerman Park (Taman Ganesa), Pieters Park (Taman Merdeka), Molukken Park (Taman Maluku) dan Insulide Park (Taman Nusantara). Saat ini nama “Pieters Park” berubah menjadi Taman Merdeka dengan ciri khas patung badak putih yang menghuni taman kota tersebut. Menurut data dari Dinas Pemakaman dan Pertamanan Kota Bandung, ada sekitar 604 buah Taman di Kota Bandung dan baru sekitar 40% yang bisa dikelola oleh pemerintah. Tak heran memang bila saat ini kita masih melihat begitu banyak taman kota yang menganggur. Bila malam datang, taman-taman itu kerap melahirkan citra negatif seperti gelap, rawan, tempat maksiat, dan lain sebagainya. Untuk itulah semestinya kita hadir di sini bukan untuk mengeluh. Warga kota Bandung sudah semestinya menyikapi masalah ini dan turut mengambil peran demi keberlangsungan taman kota yang semakin terabaikan ini. Sesungguhnya taman-taman kota itu sama seperti kita manusia. Ia tak mau kesepian di tengah panas teriknya sinar mentari. Ia tak mau sendirian di dalam gelap malam & dinginnya sinar rembulan. Ia tak mau meratap sedih dengan kertak gigi yang ketakutan. Karena baginya cinta kita semua adalah lampu taman yang abadi. Demikianlah hendaknya kita sebagai warga mesti selalu mau membuka mata sebagai pelita tubuh demi menjaga dan merawat taman-taman kota yang ada. Setiap pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik. Begitu pula setiap taman yang dirawat dengan penuh kasih akan menciptakan kota yang bahagia. Celakalah kota Bandung ini bila para warganya tidak mau peduli terhadap tamannya sendiri. Karenanya tatkala taman kota meniup seruling bagi kita, hendaknyalah kita menari. Dan taman-taman itulah yang sesungguhnya menjadi ruang masa depan bagi anak cucu kita nanti.

Sebuah kota tanpa kampung ibarat tubuh manusia tanpa jiwa & raganya”

Pemantik semangat perubahan kota itu sesungguhnya tidak hanya datang dari otak-otak masyarakat kreatif yang tinggal di pusat kota saja. Himpunan Kampung Urban yang biasanya terpinggirkan dan dipandang sebelah mata oleh sebagian orang, ternyata dapat menjadi sebuah pusat energi kreatif pula yang membentuk peradaban kota. Kampung pun dapat menjadi ruang publik yang eksotis. Meski kadang kelompok kampung ini terpaksa hidup terhimpit oleh tembok arogansi yang mengatasnamakan pembangunan kota. Mereka inilah sebenarnya yang diharapkan mampu untuk melawan segala superioritas dan rasa kecongkakan sekelompok orang/pengusaha yang berfikiran dangkal yang hanya memikirkan bagaimana menciptakan sejumlah ruang komersil di sebuah kota. Keberadaan Kampung Kota adalah sebentuk kesadaran kolektif yang menawarkan sebuah pemikiran sekaligus getaran emosional bagi masyarakat kota dimanapun. Bahwa nun di kaki langit urban sebuah kota, masih ada dimensi lain yang merindukan keintiman di sana serta masih ada artefak peradaban yang merindukan sebuah perubahan. Karena sesungguhnya persoalan yang ingin mereka komentari adalah sebentuk masa depan yang terhalang. Masa depan sebuah kampung yang mungkin tertutup oleh tembok, debu & suara bising pembangunan. Serta ketidak adilan bagi mereka yang hendak membungkam suara-suara protes warga. Walaubagaimanapun hari esok dan keberlangsungan Kampung Kota hanya ada pada upaya keras yang diperlihatkan oleh warganya. Juga solidaritas dan empati dari komunitas kotanya. Dan tentunya kemauan baik serta tindakan nyata dari pemerintahnya. Dalam kekuatan itulah semestinya kita percaya.

Sebuah kota tanpa sungai ibarat tubuh manusia tanpa darah & nadinya”

Sungai merupakan salah satu ruang publik kota yang memiliki pesona & keindahan menawan bila dikelola dengan baik. Karena di sanalah kita dapat mensyukuri bahwasanya air sungai yang mengalir jauh tersebut dapat memiliki sejumlah fungsi bagi warga sebuah kota. Dari mulai drainase, penggelontor kotoran limbah, obyek wisata, penyedia air baku, pemanfaatan energi air serta sarana irigasi pertanian. Namun sayang bahwa keberadaan Sungai di Kota Bandung malahan kerap menghamilkan bencana dan melahirkan musibah bagi warganya. Terutama ketika musim penghujan tiba. Luapan air dari sungai-sungai yang membelah Kota Bandung justru membawa teror banjir bagi warganya. Belum lagi genangan sampah yang dibawa serta oleh air sungai tersebut. Tentunya kita tidak bisa serta merta menyalahkan alam dalam hal bencana tersebut. Karena ironisnya, banjir itu timbul justru akibat ulah kita sendiri. Entah itu karena warga yang kerap membuang sampah ke sungai ataupun karena penebangan pohon secara membabi buta sehingga menghilangkan daerah resapan air. Menurut data, ada sekitar 61 sungai dan 46 anak sungai dengan total panjang 252,55 km yang terdapat di Kota Bandung. Bila kita menyebut nama sungai di Kota Bandung, tentunya nama sungai Cikapundung tidak bisa dilupakan dalam memori kita. Sungai Cikapundung adalah salah satu sungai besar yang membelah Kota Bandung dengan panjang sekitar 15,5 km. Sungai Cikapundung memiliki luas daerah tangkapan di bagian hulu sebesar 111,3 Km2, di bagian tengah seluas 90,4 Km dan di bagian hilir seluas 76,5 Km2. Sedangkan panjang sungai Cikapundung dari hulu Maribaya sampai hilir Citarum mencapai 28 km. Untuk itulah perlu ada upaya untuk menjaga dan mengaktivasi sungai-sungai yang ada di Kota Bandung dengan melibatkan kekuatan kreatif warganya. Tentunya kita tidak bisa melakukan hal itu semua sekaligus. Hanya dengan metoda seperti akupuntur lah, secara realistis dapat kita lakukan terhadap sungai-sungai yang kita miliki saat ini. Semestinya upaya untuk mengaktivasi sungai kota tersebut mesti sejalan dengan upaya untuk menjaga kebersihan sungai. Sungai yang bersih dan jernih sesungguhnya adalah ruang dan tempat kita bercermin. Dan harapannya cermin dari air sungai itu merefleksikan tawa, canda dan keceriaan warga kota ketika mengunjungi sungainya. Siapakah yang akan mendengar jikalau sungai berteriak karena kering atau banjir serta alur alirannya menangis bersama-sama karena kotoran sampah? Karena tentunya kita pun tak ingin air sungai naik sampai ke leher dan kita tenggelam ke dalam sungai yang penuh lumpur. Oleh karena itu bila kita ingin berbuat sesuatu, mulailah keluar dari rumah dan datanglah ke sungai. Kenalilah sungai-sungai yang ada di kotamu dengan melihat dan menyentuhnya. Niscaya setelah itu rasa sayang akan muncul sebagaimana kisah cinta anak manusia. Dan kemudian rasa sayang itu lah yang akan membuat kita untuk melahirkan sikap peduli dan menjaga sungai. Sehingga pada akhirnya kita akan melihat sungai-sungai yang diserbu oleh para warganya. Yang menanti untuk dihamili oleh sebuah budaya baru. 

Untuk itulah melalui buku foto ini, berbagai cuplikan imaji perihal sebagian ruang publik dan aktivasi yang dilakukan oleh warga Kota Bandung dicatat kembali secara visual. Sekaligus menawarkan harapan di sana agar dapat menjadi awal bagi kita untuk mulai menciptakan sebuah budaya perubahan yang dilakukan di ruang publik. Sekiranya masih ada warga yang mau keluar rumah untuk melihat dan menyentuh ruang-ruang kotanya, maka di sanalah terdapat kota yang bahagia. Kota Bandung menganugerahkan sejumlah energi dan kekuatan sosial melalui komunitas yang dimilikinya. Hal ini mengajarkan bahwasanya kita tidak bisa sendirian untuk membangun ruang publik yang nyaman dan bernilai bagi Kota Bandung. Langkah laku manusia selalu terbentang dan terbuka lebar di Kota Bandung. Warga Bandung yang memilih hidup untuk selama-lamanya harus mau menciptakan segala-galanya bersama-sama. Karena Bandung Kita adalah segala pikiran kita yang menjadi tindakan kita.

bdg from spaces to places_gs

Copyright (c) by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Advertisements

Written by Admin

December 21, 2017 at 2:10 am

Estafet Kehidupan Dari Seorang Bunda Rahim | My Personal Book Project : Deus Providebit

leave a comment »

 

oleh galih sedayu

Sebab Segala Sesuatu Adalah MilikMu”

Desember itu akhirnya datang dan menyapa. Bulan dimana seharusnya aku merayakan segala kesukacitaan dalam hidup, dari mulai hari ulang tahun istri tercinta, momen keceriaan natal dan masa kelahiran buah hati yang telah lama dinantikan. Namun ternyata di bulan yang penuh kasih ini, Sang Maha Pengatur telah memiliki rencana lain yang penuh misteri. Di penghujung bulan desember, tepatnya tanggal 23 Desember 2015, tatkala mentari pagi tengah hangat bersinar, aku dihadapkan kepada sebuah realita yang sangat teramat pahit. Christine Listya, istriku terkasih telah dipanggil oleh Maha Kuasa dan berpulang ke pangkuan Sang Ilahi. Oh Tuhan…Tya. Ia wafat setelah berjuang dan berhasil mengantarkan bayi yang dikandungnya selama 9 bulan ke bumi ini.

Sebelumnya pada malam tanggal 21 desember 2015, aku mengantar Tya pergi ke dokter untuk memeriksakan kandungannya. Setelah diperiksa, saat itu dokter menyatakan bahwa plasenta bayi yang dikandung Tya telah mengalami perkapuran dan sebagian air ketubannya telah keruh. Karena usia kehamilan Tya telah mencapai 9 bulan, maka dokter menyatakan bahwa ia harus segera melahirkan. Namun karena Tya menginginkan proses persalinan secara normal, dokter akhirnya memberikan proses induksi terlebih dahulu untuk menstimulan kontraksi. Bertepatan dengan hari ibu, yaitu pada tanggal 22 Desember 2015, aku kembali mengantar Tya ke rumah sakit untuk melakukan proses induksi. Ternyata proses induksi yang pertama tidak membuat Tya kontraksi sehingga dokter berencana untuk melakukan proses induksi yang kedua. Atas saran dokter, Tya diminta untuk beristirahat dan menginap semalam di rumah sakit sebelum dilakukan proses induksi yang kedua. Pada saat subuh tanggal 23 Desember 2015, dokter kembali memeriksa kandungan Tya. Namun setelah diperiksa, dokter menyatakan denyut jantung bayinya tidak stabil, sehingga dokter tidak berani mengambil resiko untuk melakukan proses induksi selanjutnya. Dan seketika itu pula dokter memutuskan untuk melakukan proses persalinan secara cepat atau operasi caesar.

Operasi caesar dilakukan sekitar pukul enam pagi. Karena tidak diperkenankan masuk ke ruang operasi, akhirnya aku menunggu di luar ruangan. Sekitar pukul setengah tujuh pagi, aku mendapatkan kabar baik bahwa buah cinta kami telah lahir ke dunia dengan sehat dan selamat. Aku masih ingat ketika itu seorang petugas rumah sakit memanggilku untuk menunggu di depan pintu ruangan operasi bersalin. Tak lama kemudian, dokter anak kami beserta dua orang suster datang menghampiriku. Setelah mengucapkan selamat dan memperlihatkan bayi kami yang tengah dipangku oleh suster, dokter anak kami memberikan kabar bahwa bayi kami tersebut lahir dengan berat 3270 gram, panjang tubuhnya 50 cm serta memiliki tangisan yang keras. Bayi kami tercatat lahir pada pukul 06.26 pagi. Aku pun mengucap syukur seraya berdoa atas anugerah yang kami dapatkan. Setelah itu aku diminta untuk kembali menunggu di luar ruang operasi. Sepeminuman teh pun berlalu.

Sekitar pukul tujuh pagi, aku kembali dipanggil oleh petugas rumah sakit. Di dalam ruangan, dari kejauhan aku melihat dokter kandungan kami tengah menangis dan mengulurkan kedua tangannya kepadaku sembari berkata “Pak, mohon maaf istrinya tidak dapat diselamatkan. Istri bapak meninggal dunia. Setelah melahirkan anak bapak, beberapa menit kemudian istri bapak batuk dan tiba-tiba tubuhnya membiru. Saya tidak tahu mengapa ini bisa terjadi”. Kira-kira seperti itulah kalimat yang dikatakan oleh dokter kepadaku. Belakangan hari pihak rumah sakit menduga bahwa kematian Tya barangkali disebabkan karena emboli yakni air ketuban yang masuk ke pembuluh darah dan menyumbat kerja jantung. Aku langsung tersentak, rasanya seperti disambar petir di siang hari bolong. Aku pun menunduk dan rasanya tak kuat menopang tubuh yang tiba-tiba lemas dan lunglai. Setelah itu, seorang suster memberi kabar bahwa ada respon kecil dan denyut nadi yang muncul dari Tya. Kontan saja setelah mendapat kabar itu, semua tim dokter kembali bekerja untuk melakukan tindakan demi menyelamatkan nyawanya. Dari ruang operasi yang berada di lantai dua rumah sakit, kemudian Tya dibawa ke ruang ICU yang berada di lantai tiga. Berkali-kali Tya diberikan kejut listrik dengan menggunakan DC Shock atau Defibrillator, dengan harapan agar detak jantungnya kembali teratur.

Meski manusia sudah berusaha, namun apa daya bila Tuhan punya kehendak lain. Setelah dokter menyatakan sebanyak 3 kali berturut-turut bahwa istriku Tya telah meninggal namun kemudian dinyatakan kembali bahwa masih ada denyut nadi, akhirnya aku pun menghampiri istriku Tya untuk kemudian memeluknya dan berdoa agar diberikan yang terbaik sesuai kehendak Sang Penentu Takdir. Baru setelah itu, Tya dinyatakan benar-benar meninggal oleh dokter dan denyut jantungnya pun berhenti berdetak. Istriku terkasih telah pergi ke pangkuan Sang Khalik dengan tenang. Aku mendekapnya dengan erat dan air mataku pun bergelinang deras.

Oh Tuhan…ia kini milik-Mu. Aku harus menerima kenyataan bahwa kekasihku yang menjadi pasangan hidupku kini kembali pada-Mu. Benar rupanya seperti yang tertulis dalam kitab suci. “Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan” (Roma 14:8)

Morituri te salutant, Mereka yang akan mati memberi salam padamu”

Setelah kepergian sang istri, aku banyak mendapatkan pertanyaan baik dari keluarga maupun dari para sahabat bahwa apakah aku memiliki firasat sebelumnya. Saat itu, aku menjawab bahwa tidak ada firasat sedikitpun mengenai kejadian yang mengenaskan ini. Namun kemudian aku berusaha memutar kembali ingatan dan akhirnya menemukan bahwa barangkali firasat itu memang ada namun mungkin tidak kurasakan. Kadang aku bertanya mengapa Tya sepertinya ingin melakukan semuanya sendirian dalam berumah tangga. Dari mulai mencuci dan menyetrika pakaian, membersihkan rumah, memasak makanan, hingga mengasuh anak kami Eufrasia Tara Sedayu. Tya sama sekali tidak mau mempekerjakan pembantu rumah tangga ataupun seorang baby siter meski kami mampu membiayainya. Barangkali jawabannya adalah Tya sangat menyadari bahwa waktunya sangat sedikit.

Di sisa hidupnya, ia sepertinya ingin memberikan yang terbaik segala apa yang dapat dilakukan demi mencurahkan cinta kasihnya kepada anak, suami, keluarga serta para sahabatnya. Pada masa kehamilannya mencapai usia 7 bulan, ia sangat ingin menyapa keluarga dan para sahabatnya dengan segala perhatian lebih yang ditunjukkannya. Hampir setiap malam ia sering berkunjung ke rumah orang tuanya sendirian meski hanya sekedar mampir untuk membuka kulkas ataupun sambil bercerita singkat. Ia pun sempat memaksa pergi ke bali untuk menghadiri pernikahan salah seorang keluarga kami di sana meski sebelumnya sudah dilarang. Belum lagi ia banyak menghadiri acara pertemuan dan pernikahan para sahabatnya yang ada di bandung dan juga mengunjungi para sahabatnya yang berada di luar kota meski sekedar berjumpa singkat.

Pernah suatu saat ketika kami berada di dapur bersama, Tya sempat berkata seperti ini kepadaku, “Mas, mbok yah mulai belajar masak makanan eufra. Nanti kalau aku ga ada gimana?”. Tentunya saat itu aku hanya berpikir bahwa ucapan seperti itu hanya biasa saja. Sehari sebelum kami berangkat ke rumah sakit, Tya pun sempat mengucapkan hal ini kepadaku sembari membuka lemari pakaian anak-anak, “Mas, kalau nanti ada apa-apa, di dalam lemari ini ada perlengkapan mandi dan popok untuk balu yah”. Balu adalah nama panggilan yang diberikan untuk bayi kami yang masih berada di dalam kandungan kala itu. Ternyata ia memang sudah mempersiapkan semua kebutuhan anak-anaknya dengan baik.

Sekitar sebulan sebelum Tya melahirkan, pada suatu malam di ranjang tempat kami beristirahat, tiba-tiba aku melihatnya meneteskan air mata sambil memandang kosong ke arahku. Aku pun bertanya kepadanya mengapa ia menangis. Namun ia tidak berkata sepatah katapun selain menunjukkan wajahnya yang sedang bersedih entah kenapa. Setelah itu yang bisa aku lakukan hanya memeluknya dan segera menyeka air matanya. Belakangan aku sadari bahwa barangkali saat itu ia ingin mengucapkan selamat tinggal melalui tangisan dan pandangan kosongnya. Entahlah…hanya Tuhan yang tahu pastinya.

Sebenarnya sejak dulu, aku sering diberikan mimpi sebelum mengalami kejadian yang berpengaruh dalam hidup. Entah itu kebetulan atau tidak, namun cerita mimpi yang aku alami selalu menjadi bagian dari kejadian hidupku. Seminggu sebelum kepergian Tya, seperti biasa aku pun mengalami mimpi yang masih menjadi misteri. Dalam mimpi itu aku tengah menggendong seorang bayi yang mungil. Lalu sekonyong-konyong dari atas langit muncul seberkas sinar putih yang menyilaukan mata dan kemudian bersinar menerangi wajah bayi yang sedang aku pangku. Saat itu aku masih tidak tau apa sebenarnya arti mimpi tersebut. Bahkan setelah Tya menanyakan apakah aku pernah bermimpi sesuatu, aku pun menceritakan kepadanya perihal mimpi tersebut. Belakangan aku mencoba menafsirkan mimpi tersebut, barangkali sinar tersebut adalah roh sang ibu yang menitis kepada sang bayi, sekaligus berkat roh kudus yang mengambil nyawa sang ibu demi melanjutkan kehidupan sang bayi. Sekali lagi, aku tidak tahu pasti…semua itu tentunya sebuah misteri Ilahi tersendiri. Bukankah itu di luar kuasa manusia?

Kedatanganmu dalam hidupku begitu cepat, sama seperti kepergianmu”

Tahun 2009 aku bertemu dengan Christine Listya Budhi Wijayanti Salasa, anak kedua dari pasangan orang tua yang sangat luar biasa, Nicodemus Wahyudi Salasa & Cecilia Shierly Ekawati Susila. First of May, pada tahun 2010 aku menikah dengannya. Segala peristiwa suka duka yang kami alami dan lalui bagaikan takdir yang tak bisa dihindarkan. Namun kami berdua tetap menjalani semuanya dengan sepenuh hati. Dari mulai kehilangan anak kembar kami yang pertama Ancilla Trima Sedayu sehari setelah dilahirkan, dirawatnya anak kembar kami yang kedua Eufrasia Tara Sedayu yang hidup dalam inkubator selama 3 bulan lamanya di rumah sakit karena prematur, hingga membesarkan eufra anak kami yang sangat spesial itu. Namun ternyata tahun 2015 adalah akhir perjalanan hidup kami bersama. Sungguh, aku hanya diberikan waktu 6 tahun untuk menyadari bahwa ia adalah seorang gadis yang memberi kehangatan bagiku untuk tetap hidup, bahwa ia adalah seorang ibu yang memberi kasih bagiku dan keluarga untuk tetap bersyukur, bahwa ia adalah seorang malaikat yang memberi sayap bagiku dan keluarga untuk tetap terbang. Hanya kebaikan lah yang selalu dapat ku wartakan perihal dirinya. Paras yang cantik, pribadi yang sangat perhatian, sosok yang selalu ceria dan penuh tawa, gadis yang sangat bertanggung-jawab, perempuan yang kerap menghadirkan empati yang mendalam, semuanya terangkum indah di dalam dirinya.

Bersamanya aku selalu merasakan mentari pagi di bukit, debur ombak di pantai, serta semilir angin di gunung. Tya memang benar-benar sang kekasih yang tak tergantikan. Dear. Hanya itulah sebutan kasih yang dapat aku berikan kepadanya setiap hari selagi memanggil serta menyebut dirinya. Pedih rasanya tatkala merasakan luka ditinggal pergi oleh seseorang seperti dirinya. Enam tahun lamanya aku bisa mengenal dan hidup dengannya adalah momen yang sungguh langka. Tak terbayangkan bila aku diberi kesempatan untuk hidup bersamanya selama 10 tahun, 20 tahun atau 50 tahun lagi dan kemudian ditinggal pergi olehnya. Aku yakin luka yang dialami kemudian tak akan sembuh oleh waktu. Agaknya Tuhan telah mengatur bahwa cukup enam tahun saja bagiku untuk menjalani kehidupan sementara bersamanya di bumi.

Finis vitae sed non amoris…Akhir dari hidup, namun bukan akhir dari cinta. Bahkan maut pun tak akan bisa memisahkan kami. Setidaknya cinta yang telah kami jalin, cinta yang telah kami rangkai, cinta yang telah kami tumbuhkan. Karena kehidupan harus tetap dilanjutkan. Aku pun harus bisa menerima kepergian seseorang yang paling dicintai di muka bumi ini dan berpasrah diri kepada Sang Pencipta.

Selalu ada pelangi setelah badai menerjang. Kini pelangi itu nyata. Tuhan ternyata menganugerahi kami seorang bayi yang cantik, sehat dan menggemaskan. Estafet kehidupan telah diberikan dari Christine Listya Sedayu kepada sang putri yang baru saja dilahirkan Eleonora Thalia Sedayu. Tuhan ternyata Maha Penghibur. Thalia. Begitulah nama bayi suci ini disebut. Sebuah nama yang diberikan oleh Tya, sang ibu yang entah mengapa begitu ngotot ingin mencari dan menamakan sendiri bayinya. Thalia memiliki arti “tumbuh dengan baik”, tentunya sebagaimana doa dan harapan yang dimaksud oleh sang ibu sendiri.

Biarlah buku ini menjadi cermin jiwamu”

Dear…

Entah mengapa aku selalu ingin mengingatmu setiap hari ketimbang mengubur kenangan tentangmu. Ya…aku sadar memang kini engkau telah tiada. Namun bagiku engkau hanya terpisah dariku dalam batas tembok yang bernama dimensi ruang dan waktu. Dimensi yang dimiliki manusia dan dimensi yang dimiliki Sang Ilahi. Aku selalu percaya akan tiba saatnya kita bersama-sama lagi. Aku, tara, thalia beserta engkau tya dan trima yang telah pergi mendahului kami. Dimana kita semua akan menikmati sebuah taman hijau dengan mataharinya yang abadi. Karena telah tertulis bahwa sesungguhnya surga dan bumi penuh kemuliaan Tuhan. Oleh sebab itu aku ingin tetap memuliakan engkau di surga meski jauh dari bumi.

Tiada lagi yang dapat kupersembahkan kepadamu, selain sebuah buku perihal dirimu ini. Aku mencoba menghimpun tulisan-tulisan dari blog pribadimu, foto-foto dan jejak lainnya tentangmu ke dalam buku ini. Tak mungkin memang memuat seluruh catatan kehidupan yang dimiliki olehmu ke dalam sebuah buku. Namun setidaknya melalui buku ini aku dapat merasakan sebuah tempat untuk mengenang kembali segala kebaikan perihal dirimu. Aku memang memilih cara seperti itu. Agar buku ini selalu menjadi memori yang selalu menyentuh sanubari dan melekat di hatiku selamanya. Kelak, bila anak-anak kita sudah tumbuh besar nanti, mereka akan melihat dengan bangga bahwa ibu mereka adalah seorang bunda kesayangan Allah.

Deus Providebit”. Begitulah judul buku persembahan ini demi mengenang seorang Christine Listya. Kalimat yang artinya “God will provide atau Tuhan akan menyediakan” ini sebenarnya sempat diposting oleh Tya di media sosial path miliknya, tepat sehari sebelum proses persalinan. Tya memposting foto tangan kanannya yang tengah menggenggam sebuah alat kontrol dengan latar belakang mesin pencatat grafik detak jantung bayi serta menulis statusnya di path dengan kalimat ini “Deus providebit nostro, Deus providebit quid egemus”. Saat itu ia sudah berada di rumah sakit untuk mempersiapkan kelahiran anak kedua kami.

Selalu akan ada jawaban bagi setiap doa yang dipanjatkan”

Selalu akan ada doa yang dipanjatkan untukmu Tya. Apalagi aku percaya bahwa Tuhan selalu menjawab doa yang ditujukan untukmu. Kini aku, kedua orang tuaku yang tercinta (Agustinus Michael Kayat & Dorothea Komyana) serta kedua orang tuamu yang sangat aku hormati (Nicodemus Wahyudi Salasa & Cecilia Shierly Ekawati Susila) akan membantu untuk membesarkan kedua putri dan bidadari kita, Eufrasia Tara Sedayu dan Eleonora Thalia Sedayu. Biarlah engkau tinggal di surga keabadian demi menemani putri kita tersayang Ancilla Trima Sedayu. Berkatmu juga, kini sahabat kita yang sangat baik luar biasa, Aprilia Melissa menjadi mama kedua bagi Thalia. Setiap hari April memberikan air kehidupan dan menyusui anak kita Thalia melalui Air Susu Ibu (ASI) yang dimilikinya. Belum lagi sejumlah ASI yang diberikan oleh para ibu pendonor lainnya. Sungguh…engkaulah alasan utama mengapa begitu banyak orang baik yang hadir bagi keluarga kita. Tentunya karena engkau Tya, yang telah banyak menanam begitu banyak manusia dalam kehidupanmu. Sehingga Tuhan pun memberikan anugerah terhadap segala apa yang dirimu tuaikan kepada sesama.

Karena kata-kata dalam doa tidak mengenal waktu. Ia harus diucapkan dan dituliskan agar kita menyadari akan keabadiannya. Aku haturkan doa ini kepadamu agar kiranya segala untaian kata yang terucap ini dihembuskan oleh angin menuju angkasa. Dan kiranya langit di surga segera menangkapnya agar cium dan pelukku selalu engkau dekap erat di sana. Meski tubuh kita dipisahkan, namun jiwa kita tetap ada di tangan cinta dan dirimu yang paling aku kasihi akan semakin tampak nyata dalam kejauhan.

Tuhan…
Sang pemilik langit dan bumi,
perkenankanlah hamba-Mu Christine Listya berpulang kepada-Mu,
dan kiranya Engkau memberi keselamatan baginya di Surga.
Tiupkanlah nafasnya ke dalam kebun-Mu,
agar harum semerbaklah selamanya.

Dear Christine Listya…
Pagiku akan selalu membayangkanmu.
Siangku akan selalu mengingatmu.
Malamku akan selalu mengenangmu.
Hatiku kini terbelah dua, 
satu hati yang menangis karena kepergianmu,
satu hati lainnya yang bersabar untuk kembali hidup denganmu.
Sebab seribu tahun sama seperti hari kemarin apabila berlalu.
Aku akan mulai memotret kenangan yang berasal dari cahaya hatimu,
agar engkau kelak melihat foto itu dan memajangnya dalam dinding cinta abadi bersamaku.

Dear Christine Listya…
Sejauh timur dari barat,
Setinggi langit di atas bumi,
Demikian pula kasih yang akan kupersembahkan kepadamu.
Meski sang ajal bertahta dan kini menjemputmu,
namun aku tak kuatir karena roh mu akan selalu menjadi terang bagiku.

Peluk dan cium untukmu…
Wahai cinta abadiku…
Sang Tulang Rusukku…
Aku cinta kamu selama-lamanya.

deus providebit_blog

01

02

03

04

05

13

06

07

08

09

10

11

12

Copyright (c) 2016 by galih sedayu
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from galih sedayu.

Litani Paul Tedjasurya | Photo Book of “Bandung 1955”

with 4 comments

Teks oleh galih sedayu | Foto oleh Paul Tedjasurya

Pada suatu malam yang dingin di Kota Bandung, di pertengahan bulan April tahun 1955, seorang pemuda sederhana berusia 25 tahun tengah mempersiapkan peralatan tempur fotografinya demi mengabadikan sebuah peristiwa yang sangat bersejarah yakni Konperensi Asia Afrika (KAA) Bandung. Kamera Leica III F seberat 1,5 kg, lampu kilat seberat 8 kg, perangkat aki untuk pencahayaan tambahan (blitz) serta sejumlah roll film hitam putih menjadi saksi bisu perhelatan KAA yang kini telah menjadi peristiwa legendaris di dunia. Di hari senin yang cerah, tanggal 18 April 1955, tepat pukul 07.00 pagi, pemuda tersebut langsung bergegas menuju Gedung Merdeka Bandung di Jalan Asia Afrika dengan menunggangi motor 250 cc merk Jawa (BSA) miliknya. Saat itu ratusan warga baik dari dalam Kota Bandung maupun dari luar Kota Bandung sudah berkerumun berdiri dan berbaris rapi di sisi-sisi jalan Asia Afrika sembari menunggu kedatangan para tamu delegasi KAA. Sekitar pukul 08.00 pagi, akhirnya para undangan yang dihadiri 29 negara peserta KAA tersebut mulai keluar dari persinggahannya di Hotel Savoy Homann yang juga terletak di Jalan Asia Afrika. Mereka semua berjalan kaki menuju Gedung Merdeka yang letaknya tidak terlalu jauh dari Hotel Savoy Homann. Kala itu sejumlah wajah para pemimpin dunia pun tercatat dan terekam oleh mata pemuda ini dari mulai Jawaharlal Nehru (India), Chou En Lai (Cina), Gamal Abdel Nasser (Mesir), Norodom Sihanouk (Kamboja), U Nu (Birma) dan lain sebagainya. Sekira pukul 10.00 pagi, sebuah mobil buick buatan tahun 1945 berhenti di persimpangan Jalan Braga & Jalan Asia Afrika (Tepat di depan Apotek Kimia Farma Braga Sekarang). Tak lama kemudian muncul dari dalam mobil tersebut, Presiden & Wakil Presiden pertama negara Indonesia yakni Bung Karno & Bung Hatta, sebagai tuan rumah yang akan membuka kegiatan KAA. Kemudian pemuda itu pun mengikuti kedua tokoh tersebut hingga masuk ke dalam Gedung Merdeka yang menjadi tempat utama kegiatan KAA yang berlangsung dari tanggal 18 – 24 April 1955. Dan dari dalam gedung itulah, sejarah mencatat nama baik Bandung dan Indonesia kala itu. Rentetan kejadian dan momen yang sangat langka itu, secara apik berhasil dibekukan oleh pemuda yang penuh semangat tersebut. Dimana karya foto hasil bidikan pemuda itu kini telah menjadi bukti nyata keharuman dan kebesaran peristiwa KAA yang terjadi 60 tahun silam.

Paul Tedjasurya. Itulah nama pemuda tersebut yang kini telah menjadi tokoh legenda Kota Bandung, yang berhasil merekam sekitar 300 gambar perihal kegiatan KAA dari mulai suasana konperensi hingga para tokoh dunia yang hadir waktu itu. Saat peristiwa KAA berlangsung, Paul Tedjasurya yang akrab dipanggil dengan sebutan Om Paul ini masih menjadi fotografer lepas atau Freelance di berbagai media cetak. Salah satunya adalah Media Pikiran Rakyat (PR) yang kerap menggunakan kontribusi karya foto milik Paul. Menurut Paul, ada beberapa rekan fotografer lain yang turut pula mengabadikan momen KAA tersebut yakni Dr. Koo Kian Giap (Antara), Lan Ke Tung (PAF/Antara), Johan Beng (Antara), dan AS James. Namun kini mereka semua telah tiada. Sesungguhnya, pendokumentasian peristiwa KAA yang dilakukan Paul tersebut merupakan momen perdana atau pertama kalinya ia memotret kegiatan bertaraf internasional. Ketika Paul meliput acara pembukaan KAA, ia pun menuturkan bahwa selama di dalam Gedung Merdeka, para wartawan tulis dan foto diminta untuk tidak boleh terlalu dekat dengan para delegasi negara sehingga mereka ditempatkan di sebuah balkon khusus di sana. Acara pembukaan KAA tersebut berakhir sekitar pukul 13.00 siang yang dilanjutkan dengan penyelenggaraan sidang di Gedung Dwi Warna yang terletak di Jalan Diponegoro Bandung. Menjelang sore, Paul pun bergegas pergi untuk mencuci dan mencetak roll film hasil rekamannya yang dilakukan di kamar gelap sebuah ruangan, yang berlokasi di Jalan Naripan No.4 Bandung (Kini menjadi halaman parkir Bank Jabar). Untuk proses tersebut, Paul melakukannya dengan cepat selama kira-kira setengah jam agar hasil fotonya dapat segera dikirim ke redaksi PR sebelum pukul 4 sore. Kala itu pula, seorang fotografer AP sempat meminta tolong kepada Paul untuk dapat membantu mencetak foto-fotonya. Setelah semuanya selesai, Paul pun kembali mendatangi resepsi yang digelar untuk menjamu para tamu delegasi negara peserta KAA.

Surabaya menjadi kota kelahiran seorang Paul Tedjasurya, tepatnya pada tanggal 19 Agustus 1930. Ketika Indonesia merdeka tahun 1945, ia masih duduk di bangku sekolah MULO (sekolah belanda setingkat SMP) di daerah Praban yang kini terletak di sekitar SMP 3 Surabaya. Ia pun menuturkan bahwa pada tanggal 7 November 1945, Jenderal Mansergh NICA kala itu menjatuhkan ultimatum lewat selebaran yang dijatuhkan dari ketinggian pesawat di atas langit biru surabaya. Ia ingat benar dengan peristiwa tersebut karena saat itu ia pun ikut berebut memunguti selebaran tersebut bersama kawan-kawannya. Setelah ia lulus sekolah menengah pada tahun 1949, ia pun hijrah dari Kota Surabaya menuju Kota Bandung atas ajakan seorang pamannya dikarenakan ayahnya yang bekas tahanan Kenpeitai, Jepang meninggal dunia setelah menderita sakit-sakitan selama kurang lebih 5 tahun. Di Kota Bandung lah, ia mulai jatuh cinta kepada dunia fotografi dan mulai belajar memotret sejak berumur 21 tahun. Ia pun kemudian menjalani kehidupannya sebagai pewarta lepas di sebuah majalah yang bernama “Gembira” serta menjadi pewarta lepas di sebuah agensi yang bernama “Preanger Foto” yang bertugas memasok karya foto ke perusahaan Jawatan Penerangan Jawa Barat, dimana calon mertuanya yang bernama Njoo Swie Goan bekerja di sana. Njoo sendiri sebenarnya merupakan anggota Perhimpunan Amatir Foto (PAF), yaitu sebuah klub foto tertua di Indonesia yang hingga kini masih ada. Njoo terkenal dengan hasil karya fotonya yang berani tatkala merekam peristiwa keganasan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) dengan tokohnya Kapten Westerling yang terjadi di bandung pada bulan januari 1950. Berkat Njoo itulah, Paul muda mendapatkan ilmu fotografinya serta dibekali kamera Leica III F yang menjadi kamera pertama miliknya untuk digunakan dalam meliput kegiatan KAA tahun 1955. Ia menyebutkan bahwa kamera Leica tersebut saat itu merupakan satu-satunya tustel yang kecil dan bisa menghasilkan frame dalam format panjang atau format panorama. Sayangnya, pada tahun 2000 kamera tersebut ia jual kepada seorang kolektor seharga ratusan ribu rupiah saja dan ditukar dengan beberapa lensa. Yang lebih mengenaskan adalah pada saat peringatan 30 tahun KAA pada tahun 1985, dimana ia kehilangan sejumlah karya foto KAA 1955 beserta negatif miliknya, yang dipinjam oleh seseorang dari pemerintah dan hingga kini tidak pernah dikembalikan dan tidak pernah jelas rimbanya. Namun ia pun memiliki pengalaman yang menarik selama memotret KAA, yaitu tatkala seorang wartawan asing menjadikan pundaknya sebagai tripod atau penyangga kamera saat berada di bandara Hussein Sastranegara. Meskipun begitu ia tidak marah dan dengan senang hati melakukan hal tersebut demi solidaritas terhadap rekan seperjuangannya. Bila kita bayangkan peristiwa tersebut, barangkali momen itu adalah sebuah pemandangan langka yang jarang kita lihat dewasa ini.

Kiprah Paul Tedjasurya sebagai seorang pewarta foto sebenarnya sudah mulai tercium oleh berbagai media di jamannya. Terbukti ketika ia masih menyimpan dengan baik kliping dari sebuah majalah “Gembira” yang memuat profilnya pada tanggal 11 Februari 1956. Di dalam majalah tersebut, dimuat foto Paul muda yang terlihat sedang mengintip jendela pembidik kamera Leica miliknya. Dan di dalam majalah tersebut diberitakan seperti ini,

Memperkenalkan :

WARTAWAN FOTO KITA

Bagi penduduk kota Bandung dan sekitarnja ia sudah tjukup dikenal. Baik dikalangan djembel maupun dikalangan ningratnja. Atau bagi parapeladjari mahasiswa maupun diorganisasi bahkan sampai kepada kalangan Angkatan Perangnja.

Kemudian di bawah foto Paul Tedjasurya tertulis seperti ini,

Paul sedang beraksi ketika ada pertandingan poloair dipemandian Tjihampelas Bandung.

Lihat duduk seenaknja dispringlank jang paling atas, dan tjoba gojang sedikit sadja pangkal papan itu pasti ia akan terdjun kedasar pemandian.

Pun tjoba lihat persiapan jang selalu dibawanja kalau ia bertugas.

Toestel Leica dengan telelensanja dan resvre Super Ikonta tamabah satu tas berisi pilem2 dan lain jang diperlukan untuk melantjarkan kerdjanya.

Tahan tuh ………………………………………………………..

Lalu berita tentang Paul Tedjasurya tertulis seperti ini,

Sebab hampir pada tiap upatjara umum apa sadja atau pada kedjadian2 penting dia selalu muntjul dengan “sendjata”nja, untuk hilir mudik di tempat tsb. Guna “menembaki” sesuatunja jang dianggap djadi objek jang baik.

Itulah Sdr.Paul The jang selalu dipanggil oleh rekan wartawan lain dengan Bung Paul. Ia adalah wartawanfoto dari Preanger Studio Bdg, inklusip

wartawanfoto madjalah kita : “GEMBIRA”.

Makanja kalau selama ini Tuan atjap menemukan gambar2 jang tertera dihalaman madjalah kita ini, baik dihalaman tengah atau dihalaman lain jang tak bertanda, itu adalah hasil dari “tembakan2”nja.

Djadi wartafoto melelahkan sekali – katanja – dan kadangkala mendjemukan. Tjoba – katanja lagi – kalau sedang menghadiri suatu upatjara atau lain perajaan apa sadja, saja harus menunggu sampai babak terakhir. Beruntung kalau upatjara itu berdjalan dengan landjar, tapi paling mendjengkelkan kalau sudah djam karet jang dipergunakan dan ditambahi dengan pertelean yang bertele-tele. Kalau wartawan tulis bisa meninggalkan itu lalu esoknja bisa meminta berita selengkapnja, tapi bagi kami – wartawanfoto – hal ini tak mungkin, tertambah tak sampai hati meninggalkan upatjara itu atau lainnja sebelum habis.

Memang utjapan ini ada betulnja. Sebab tak djarang dia pulang larutmalam, kalau sudah menghadiri satu perajaan atau lainnja, jang mungkin termasuk upatjara jang memakai djam karet dan bertele-tele pula. Kadang lewat djam malam, sedang selalu pula ia pada siangnja hanja mengaso satu atau dua djam sadja. Malah tak djarang ia nonstop dari pagi sampai tengah malam terus2an tjetrak-tjetrek dengan alatnja. Bergantung dengan banyaknja undangan jang semua harus didatangi dan minta semua diabadikan.

Namun demikian Paul tidak pernah lelah kelihatan. Ia menjadari bahwa wartawan adalah trompet masjarakat. Abdi rakjat. Dan sama dimengerti bahwa wartawan tulis hanja bisa muat berita disuratkabar untuk dibatja, tapi tidak mendalam kesan akan sesuatunja kalau tidak ada gambar2nja.

Last but not least : bahwa wartawan fotolah jang paling berbahagianja diantara wartawan2 lainnja. Tjona sadja, kalau tiap menghadiri satu perajaan dll, baru sadja dia masuk sudah banjak – jang minta diopname walaupun simanusia itu bukan orang penting pada upatjara tsb. Dan jang begini ini sudah terang menimbulkan keirian pada wartawan2 tulis lainnja. (JW).

Meski Paul Tedjasurya sudah menjadi kontributor koran Pikiran Rakyat sejak tahun 1953, namun baru pada tahun 1985, ia secara resmi menjadi wartawan Pikiran Rakyat dan sejak saat itu telah mengabdi selama kurang lebih 20 tahun lamanya. Berkat dedikasinya terhadap PAF dan dunia fotografi pula, pada tahun 1997 bersamaan dengan HUT PAF ke-73, ia mendapat gelar kehormatan Honorary Perhimpunan Amatir Foto (Hon.PAF). Penghargaan ini diberikan oleh Dewan Pertimbangan Gelar PAF kepada Paul Tedjasurya yang bernomor anggota PAF 026, yang disaksikan oleh 217 anggota PAF yang hadir di Cisarua Lembang. Selain fotografi, ternyata ia pun memiliki hobi lain yaitu mengumpulkan perangko. Uniknya, ia menggabungkan kedua hobi antara fotografi dan mengumpulkan perangko ini yang sering disebut sebagai Foto-Filateli. Boleh jadi Paul Tedjasurya adalah orang pertama di Indonesia yang memadukan obyek foto dengan filateli dan autogram. Karenanya sebelum KAA berlangsung, ia pun sudah memotret Gedung Merdeka sebagai tempat berlangsungnya konperensi tersebut. Bertepatan dengan pembukaan konperensi, pihak Pos & Giro (Pos Telepon dan Telegram / PTT pada waktu itu), menerbitkan perangko seri KAA. Kemudian Paul pun membeli beberapa edisi perangko tersebut, untuk kemudian ditempelkan di belakang foto Gedung Merdeka yang telah ia persiapkan sekaligus meminta stempel hari pertama kepada petugas PTT setempat. Foto perangkonya ini tentunya memiliki nilai lebih dibandingkan dengan sampul hari pertama (first day cover) yang biasa. Tak heran bila Paul dapat membiayai kuliah anaknya di Universitas Katolik Parahyangan berkat menjual koleksi perangkonya tersebut. Paul Tedjasurya saat ini tinggal dan menetap di sebuah rumah sederhana nan nyaman yang terletak di Komplek Kopo Permai Bandung bersama istri tercintanya Nyonya Herawati. Ia pun telah dikarunia 3 orang anak dan saat ini telah menjadi kakek dari 6 orang cucu yang dimilikinya. Meski usianya kini genap 85 tahun, namun tubuhnya masih tampak sehat dan daya ingatnya pun masih cukup tajam.

Berbicara perihal Konperensi Asia Afrika yang dilaksanakan di Kota Bandung, tentunya dilatar-belakangi oleh berbagai peristiwa dunia yang mendahuluinya. Sebagaimana kita ketahui, sebelum perang dunia kedua terjadi, negara-negara dunia ketiga yang terletak di kawasan benua Asia dan Afrika pada umumnya adalah daerah jajahan. Namun setelah berakhirnya perang dunia kedua pada bulan Agustus 1945, negara-negara tersebut mulai bangkit dan semakin meningkatkan perjuangan mereka untuk meraih kemerdekaan. Hal itulah yang menyebabkan timbulnya konflik dan pergolakan di berbagai tempat seperti konflik di Semenanjung Korea, Vietnam, Palestina, Yaman, Daratan China, Afrika, termasuk Indonesia. Kondisi keamanan dunia yang masih belum stabil pasca berakhirnya perang dunia kedua tersebut semakin diperparah dengan munculnya perang dingin antara dua blok yang saling berseberangan yakni Blok Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat, dan Blok Timur yang dipimpin oleh Uni Sovyet. Kedua kekuatan besar yang saling berlawanan baik secara ideologis maupun kepentingan tersebut terus berkompetisi untuk membangun senjata modern, sehingga situasi dunia pada saat itu selalu diselimuti oleh kecemasan akan terjadinya perang nuklir. Kondisi itulah yang kemudian mendorong negara-negara yang baru merdeka untuk menggalang persatuan dan mencari jalan keluar demi meredakan ketegangan dunia yang kian memuncak dan turut menjaga perdamaian.

Sebelum Konperensi Asia Afrika (KAA) dilaksanakan di Bandung, sebenarnya telah terlebih dahulu dilaksanakan pertemuan pendahuluan di Colombo (Srilanka) pada tanggal 28 April s/d 2 Mei 1954. Pertemuan inilah yang dikenal dengan nama Konperensi Colombo. Hasilnya adalah kesepakatan untuk menyelenggarakan konperensi lanjutan antar negara-negara Asia Afrika. Kemudian pertemuan selanjutnya digelar di kota Bogor, Jawa Barat pada tanggal 28-31 Desember 1954. Dimana pertemuan ini membahas mengenai persiapan penyelenggaraan KAA. Konperensi di Bogor ini dikenal sebagai Konperensi Panca Negara yang menghasilkan beberapa kesepakatan yaitu Mengadakan Konperensi Asia Afrika di Bandung pada bulan April 1955, Menetapkan kelima negara peserta Konperensi Panca Negara (Konperensi Bogor) sebagai negara-negara sponsor, Menetapkan jumlah negara Asia Afrika yang akan diundang serta Menentukan tujuan pokok Konperensi Asia Afrika. Adapun para tokoh yang menjadi pelopornya adalah Ali Sastroamijoyo (Perdana Mentri Indonesia), Shri Pandit Jawaharlal Nehru (Perdana Mentri India), Mohammad Ali Jinnah (Perdana Mentri Pakistan), Sir John Kotelawa (Perdana Mentri Srilanka) dan U Nu (Perdana Mentri Burma/Myanmar).

Selain isu kepentingan bersama negara-negara Asia Afrika dan juga isu peningkatan kerjasama dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya, isu lain yang menjadi tujuan penyelenggaraan Konperensi Asia Afrika ini adalah masalah kedaulatan negara, imperialisme, dan masalah-masalah rasialisme serta masalah kedudukan negara-negara Asia Afrika dalam upaya mewujudkan perdamaian dunia. Oleh karenanya, Konperensi Asia Afrika yang dilaksanakan Bandung pada tanggal 18-25 April 1955 menjadi titik terang dalam upaya memecahkan berbagai persoalan bangsa tersebut dari mulai masalah irian barat, masalah rakyat yang masih terjajah di Afrika Utara, masalah pelucutan senjata, kerjasama internasional, rasialisme (perbedaan warna kulit), hak menentukan nasib sendiri, serta usaha untuk meningkatkan kerjasama bidang ekonomi, sosial, budaya dan hak asasi manusia. Konperensi yang dibuka secara resmi oleh Presiden Sukarno pada tanggal 18 April 1955 tersebut dihadiri oleh 29 negara, dan 6 diantaranya adalah negara-negara Afrika. Sejarah pun mencatat ada 29 negara yang terlibat dalam Konperensi Asia Afrika di Bandung yaitu Afganistan, Burma, Ethiopia, Filipina, Ghana, India, Indonesia, Irak, Iran, Jepang, Kamboja, Laos, Libanon, Liberia, Libya, Mesir, Nepal, Pakistan, RRC, Saudi Arabia, Srilanka, Sudan, Suriah, Thailand, Turki, Vietnam Selatan, Vietnam Utara, Yaman, dan Yordania.

Mengenai hasil utama Konperensi Asia Afrika yang terpenting adalah terjadinya sebuah kerjasama di antara negara-negara Asia Afrika. Selain itu, telah berhasil pula dirumuskan sepuluh asas yang tercantum dalam Dasasila Bandung yang berisi
poin-poin sebagai berikut 1) Menghormati hak-hak asasi manusia sesuai dengan Piagam PBB 2) Menghormati kedaulatan wilayah setiap bangsa 3) Mengakui persamaan semua ras dan persamaan semua bangsa baik besar maupun kecil 4) Tidak melakukan campur tangan dalam soal-soal dalam negara lain 5) Menghormati hak tiap-tiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian atau secara kolektif 6) Tidak melakukan tekanan terhadap negara lain 7) Tidak melakukan agresi terhadap negara lain 8) Menyelesaikan masalah dengan jalan damai 9) Memajukan kerjasama dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya 10) Menghormati hukum dan kewajiban-kewajiban internasional.

Di tahun 2015 ini, di era kepemimpinan Presiden Jokowi yang kini menjadi pemimpin Indonesia, tatkala Bandung dipimpin oleh Walikota Ridwan Kamil, peringatan Konperensi Asia Afrika kembali dirayakan secara istimewa karena menginjak usia yang ke-60 tahun. Tentunya kita semua masih ingat, bagaimana tokoh proklamator sekaligus Presiden Indonesia pertama, Soekarno, menyerukan pidato pentingnya di hadapan para pemimpin bangsa Asia Afrika dari 29 negara saat berlangsungnya Konperensi Asia Afrika di Bandung pada tanggal 18 April 1955. “Let a New Asia and a New Africa be Born” (Mari Kita Lahirkan Asia Baru dan Afrika Baru). Begitulah judul pidato Bung Karno yang begitu terkenal di seluruh dunia kala membuka kegiatan KAA tahun 1955. Kira-kira beginilah isi dari bagian akhir pidato Bung Karno tersebut,

Saya berharap konferensi ini akan menegaskan kenyataan, bahwa kita, pemimpin-pemimpin Asia Afrika hanya dapat menjadi sejahtera, apabila mereka bersatu, dan bahkan keamanan seluruh dunia tanpa persatuan Asia Afrika tidak akan terjamin. Saya harap konferensi ini akan memberikan pedoman kepada umat manusia, akan menunjukkan kepada umat manusia jalan yang harus ditempuhnya untuk mencapai keselamatan dan perdamaian. Saya berharap, bahwa akan menjadi kenyataan, bahwa Asia dan Afrika telah lahir kembali. Ya, lebih dari itu, bahwa Asia Baru dan Afrika Baru telah lahir!”

Kini genap 60 tahun sudah, peristiwa bersejarah Konperensi Asia Afrika tersebut menjadi jiwa abadi yang tak terpisahkan dari raga Bangsa Indonesia dan Kota Bandung khususnya. Untuk itulah kita semua hadir dan berkumpul kembali di Bandung, untuk merayakan serta mengenang momen-momen dan nilai-nilai penting dari Konperensi Asia Afrika tersebut, yang ditunjukkan melalui sebuah Pameran & Buku Foto bertajuk “Bandung 1955” karya Paul Tedjasurya sebagai salah satu pencatat sejarah yang kini masih hidup. Anggaplah jejak visual ini sebagai sebuah persembahan murni yang diberikan oleh warga Kota Bandung bagi dunia. Sembari memohon, sudilah kiranya semangat persaudaraan Asia Afrika yang dulu pernah terpupuk, hadir kembali dan menjelma abadi di masa kini. Sebab kini hati Bandung haus dan rindu akan solidaritas, seperti tanah kering dan tandus merindukan air. Demikian kita ingin memandang Bandung di tempat kediamannya, untuk merasakan kekuatan dan kemuliaan Bandung seperti dulu. Sebab Bandung yang kini menjadi harapan, di bawah naungan tubuh kota Bandung kita dapat bersorak kembali pada dunia. Untuk menyatakan dengan lantang bahwa “Bandung adalah ibukota negara-negara Asia Afrika!”

Bandung, 26 Maret 2015

Data Buku

  • Judul : Bandung 1955 | Moments of Asian African Conference

  • Fotografer : Paul Tedjasurja

  • Editor Foto & Teks : galih sedayu

  • Desainer Grafis : Adhytia Rizkianto | Anjar Gumilar D | Muhammad Ihsanuddin

  • Penerbit : Air Foto Network

  • Ukuran : 21,5 x 15,5 cm

  • Tebal : 80 Halaman

  • Cetakan Pertama : April 2015 | 500 eksemplar

  • ISBN : 978-602-14408-3-4

  • Harga : Rp 150.000,- (Seratus Lima Puluh Ribu Rupiah)

  • Pemesanan : Air Foto Network | Komplek Surapati Core Blok M32 | Jalan PHH. Mustofa 39 | Bandung 40192 | Telepon 022-87242729

  • Contact Person : Sdri. Putu (0896-87123300) dan Sdr. Anjar (0813-20030939)

bdg 1955

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

bandung 1955

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

Copyright (c) 2015 
All right reserved. No part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Perjalanan Mensyukuri Kehidupan | “Through Flowery Eyes” Book by Ria Pasaman

with 2 comments

Teks : galih sedayu

Ria Pasaman adalah satu dari sekian banyak traveller, seseorang yang gemar bepergian jauh untuk mendatangi serta menjelajahi tempat-tempat wisata yang ada di dalam maupun di luar negeri. Namun sesungguhnya ia bukanlah sekedar traveller biasa. Baginya berkeliling dunia adalah sebuah proses menikmati sekaligus wujud syukur dan rasa cintanya terhadap alam semesta. Karenanya ia memilih fotografi sebagai media rekam segala apa yang dilihatnya. Tak heran bila kemanapun ia pergi, kamera menjadi teman setia sejati yang selalu dibawa. Apalagi memotret adalah sebuah hobi yang sudah ia gemari sejak masih dibangku SMP.

Sejak kecil, sang ayah seringkali mengajak Ria dan keluarganya bepergian. Banyak kenangan indah yang ia dapatkan dari perjalanan-perjalanan tersebut. Namun, ada satu kenangan yang masih membekas indah di hatinya, yaitu saat ia dan sang ayah berkunjung ke World Trade Centre di Kota New York pada tahun 1979. Ketika berada di atas ketinggian gedung kembar tersebut, ia begitu kagum saat melihat indahnya pencakar langit yang menjulang tinggi. Dan saat itulah ia pun menyadari betapa indahnya dunia yang dilihat melalui matanya. Momen itulah pada akhirnya yang melahirkan mimpi dan keinginan yang begitu besar untuk dapat melakukan perjalanan ke seluruh penjuru dunia. Ia ingin dapat mempelajari adat istiadat masyarakat dari berbagai negara yang kelak dikunjunginya.

Harus diakui bahwa Ria jatuh cinta dan sangat menyukai travelling. Tapi yang dicintainya bukanlah jenis travelling yang dikejar-kejar oleh waktu atau yang dilakukan dalam waktu yang singkat. Ia adalah seseorang yang ingin menikmati keindahan dengan tempo dan ritme-nya sendiri, tanpa diburu-buru. Ia begitu menikmati perjalanannya ke tempat-tempat bersejarah, menjelajahi  pasar tradisional, atau saat menyelam (diving) ke dalam laut sambil berenang bersama ikan-ikan cantik maupun whale shark seperti yang dilakukan olehnya di Nabire, Papua. Terbang di ketinggian 2000 meter dengan menggunakan pesawat jenis Ultralight di Nepal pun dilakukannya, hanya karena rasa penasarannya untuk menyentuh awan. Namun, ditengah semua petualangan tersebut, traveller yang satu ini tetap bisa meluangkan waktu sejenak sembari minum secangkir cappuccino serta menikmati santapan khas yang dihidangkan sebuah café di suatu negara. Biasanya sebelum bepergian jauh, ia mempelajari terlebih dahulu tempat-tempat yang akan dikunjungi. Dari mulai mengetahui suhu setempat agar ia tahu pakaian apa yang akan dibawanya sehingga dapat menyesuaikan dengan cuaca di sana. Serta menyusun rencana kunjungan hari demi hari sehingga waktu yang ia miliki tak akan terbuang sia-sia.

Ria Flowery demikianlah julukan yang melekat dalam dirinya. Nama unik itu muncul karena kecintaannya terhadap bunga-bunga dari mulai warna, wangi, hingga keunikan bentuk daun beserta putiknya. Saat perjalanan dimanapun, misalnya di sebuah pedesaan, sebisa mungkin ia akan berhenti untuk memotret bunga-bunga indah yang dilihatnya. Ketika berada di Tuscany, Itali, ia sengaja berhenti saat melihat himpunan bunga matahari yang sedang merekah indah di sebuah ladang yang luas. Butterflowery adalah julukan lain untuk Ria yang diberikan sahabatnya.  Ria bagaikan seekor kupu kupu nan lincah  yang  terbang kesana kemari tanpa lelah dan hinggap di atas bunga-bunga untuk melihat keindahan dunia. Dari situlah muncul julukan Butterflowery, julukan yang benar-benar menangkap esensi dari seorang Ria Pasaman.

Keunikan lain yang dimiliki oleh Ria adalah gaya berbusana ketika melakukan travelling. Atribut fesyen dengan motif dan nuansa bunga seperti baju, tas, koper, topi serta  payung warna warni selalu menjadi ciri khas yang melekat dalam dirinya ketika ia bepergian. Busana tradisional khas Indonesia pun selalu ia kenakan di setiap kesempatan perjalanannya. Dari mulai kain tenun asal Bali, Makasar dan Nusa Tenggara Timur hingga kain songket asal Palembang dan Padang. Tak sungkan ia berdandan bak wanita bali ketika mengunjungi Danau Bedugul di Negeri Dewata tersebut. Begitu juga dengan senang hati ia akan mengenakan kain sari saat mengunjungi Taj Mahal di Agra, India. Atau mengenakan baju kimono saat menyusuri keindahan kota tua di Kyoto, Jepang.

Di usianya yang genap mencapai setengah abad, tepatnya di bulan Maret 2014, terhitung ada sekitar 42 negara dengan ratusan kota yang sudah ia lihat, sentuh dan rasakan. Kini saatnya ia ingin berbagi kebahagiaan & pengalaman perihal perjalanan yang telah dilakukannya. Rasa syukur tak terkira atas semuanya itu dipersembahkan olehnya melalui sebuah buku fotografi. Harapannya, buku foto ini dapat menjadi rekaman abadi dan kenangan berarti bagi dirinya beserta keluarga serta para sahabat yang dicintainya. Selain tentunya menyumbangkan sebuah jejak kecil bagi dunia fotografi Indonesia. Selama ada nafas yang masih bisa ia hirup, selama ada kaki yang masih bisa ia jejakkan, matanya tak kan pernah berhenti untuk merekam dan terus merekam keindahan abadi yang dimiliki planet ini. Seperti sekuntum bunga yang sedang mekar, semerbak mewangi dan mengharumi bumi.

*Tulisan ini dibuat sebagai pengantar dari kurator untuk buku foto “through flowery eyes” karya ria pasaman

Bandung, 7 Februari 2014

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

copyright (c) by ria pasaman
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Sang Terpilih Untuk Bandung | Buku Foto “Menuju Bandung Juara”

leave a comment »

Teks : galih sedayu

Pada mulanya Bandung. Sebuah kota tercinta kelahiran Ridwan Kamil sekaligus kota yang menginspirasi bagi seorang pria sederhana yang kini namanya tercatat dalam noktah sejarah kota Bandung. Dimana warga Bandung dengan suara yang bulat, akhirnya memilih Ridwan Kamil sebagai pemimpin yang akan mengemudikan sebuah kapal layar bernama Bandung menuju pulau harapan untuk periode 2013-2018.

Dalam Rapat Pleno KPU kota Bandung pada tanggal 28 Juni 2013, Ridwan Kamil beserta pasangannya Oded Muhammad Danial ditetapkan menjadi pemenang dan unggul mutlak dari tujuh kandidat lainnya dengan meraih 45,24 % suara dalam Pemilihan Umum Wali Kota Bandung 2013. Hasil ini memang sudah diprediksi sebelumnya, karena pada tanggal 23 Juni 2013 melalui versi hitung cepat (quick count) dengan mengambil sampel dari 270 TPS, Pasangan Ridwan Kamil & Oded Muhammad Danial (RIDO) sudah jauh memimpin meninggalkan para lawannya.

Dan barangkali alam pun seperti ikut mentahbiskan keputusan tersebut bersamaan dengan datangnya fenomena “Super Moon” (Lunar Perigee) di kota Bandung, sebuah peristiwa alam yang terjadi ketika bulan berada pada titik di orbit yang terdekat dengan bumi.

Ridwan Kamil lahir dari pasangan Dr. Atje Misbach SH (alm.) dan Dra. Tjutju Sukaesih tepatnya pada tanggal 4 Oktober 1971 di kota Bandung. Pendidikan dasar hingga kuliah pun ditempuhnya di kota Bandung yang penuh dengan kejutan ini. TK Aisyiah di Jalan Dago Barat Bandung, SD Banjarsari III di Jalan Merdeka Bandung, SMPN 2 di Jalan Sumatera Bandung, SMA 3 di Jalan Belitung Bandung dan Institut Teknologi Bandung (ITB) di Jalan Ganesha Bandung, menjadi ruang-ruang tempat ia menuntut ilmu. Setelah itu Ridwan Kamil pun meninggalkan kota Bandung untuk melanjutkan kuliah S2 dalam bidang tata kota di University of California, Amerika Serikat dan kemudian bekerja di sebuah firma arsitektur di negara Paman Sam tersebut.

Namun pada akhirnya sebuah nasihat dari Sang Ibu lah yang membawanya pulang kembali ke pangkuan kota Bandung. “Ari neangan duit mah engke aya gantina, ari minterkeun batur moal terukur nilaina” (kalau mencari uang itu nanti bisa ada gantinya, tapi kalau membuat pintar orang lain tidak akan terukur nilainya), begitu kira-kira petuah yang disampaikan dengan penuh kasih oleh ibunda Ridwan Kamil.

Akhirnya Ridwan Kamil pun meneruskan profesinya sebagai dosen, arsitek dan aktivis sosial di kota Bandung. Di Bandung pula Ridwan Kamil turut mendirikan sebuah firma arsitektur yang bernama Urbane (Urban Revolution). Dari sanalah buah karya Ridwan Kamil sebagai arsitek mulai menebarkan keharuman bagi Bandung karna banyak mendapatkan penghargaan dari dunia.

Beserta istri tercinta, Atalia Praratya dan ditemani oleh kedua buah hatinya Laetetia dan Emmiril, Ridwan Kamil tinggal di sebuah rumah unik hasil rancangannya sendiri yang disebut “Rumah Botol”. Ventilasi rumah ini terbuat dari tiga puluh ribu botol Kratingdaeng. Ridwan Kamil ingin membuktikan bahwa limbah pun bisa disulap menjadi sebuah karya kreatif. Rumah Botol tersebut berada di Cigadung tidak jauh dari rumah ibunya. Karena Ridwan Kamil ingin agar ia selalu bisa tetap dekat dan berbakti pada ibunya sampai akhir hayatnya.

Sebagai wujud rasa cintanya untuk kota Bandung, Ridwan Kamil bersama sahabat komunitas yang mengedepankan prinsip kolaborasi, turut berperan aktif mendirikan berbagai gerakan dan komunitas sosial di masyarakat seperti Bandung Creative City Forum (BCCF), Indonesia Berkebun, Bike Sharing, Bandung Citizen Journal, One Village One Playground, dan sebagainya.

Untuk itulah Ridwan Kamil bersama para Relawan Kota Bandung mempersembahkan buku fotografi yang bertajuk MENUJU BANDUNG JUARA. Sebuah catatan visual & potret perjuangan Ridwan Kamil tatkala ia melakukan kampanye tiga bulan lamanya demi Bandung. Fotografer Dudi Sugandi & Satya Andhika (Aboenk) dengan seksama mengabadikan cerita dan himpunan adegan perihal energi Ridwan Kamil beserta para Relawannya hingga menjadi sebuah rangkaian cuplikan beku yang dituangkan ke dalam buku visual ini. Di sini fotografi menjadi sebuah fakta dan pernyataan bahwasanya keberhasilan Ridwan Kamil menjadi pemimpin kota Bandung bukanlah karena sebuah kebetulan ataupun melalui proses yang instan. Melainkan karena semangat & kebersamaan yang dihadirkan di sana.

Selangkah demi selangkah, mimpi Ridwan Kamil untuk mengangkat derajat kota Bandung pun direstui oleh Sang Pencipta. Berkat dukungan warga Bandung, doa kedua orang tua dan budi baik para sahabatnya, kini Ridwan Kamil harus menjalani takdir sebagai pemimpin kota Bandung. Namun takdir ini akan ia jalankan dengan sepenuh hati karena Ridwan Kamil percaya bahwa nasib kota Bandung bisa kita ubah bersama. Mari kita persiapkan jalan bagi Ridwan Kamil agar ia bisa meniupkan angin perubahan bagi kota Bandung. Tentunya dengan balutan kolaborasi semua warga Bandung. Hingga akhirnya Indonesia dan dunia akan berseru dengan lantang, BANDUNG JUARA!!! Pada akhirnya Bandung.

* Tulisan ini diberikan sebagai pengantar kurator dalam Buku Foto “Menuju Bandung Juara” yang diterbitkan pada saat Ridwan Kamil dilantik menjadi Wali Kota Bandung pada tanggal 16 September 2013.

Bandung, 7 September 2013

Spesifikasi Buku :
* Judul Buku : Ridwan Kamil “Menuju Bandung Juara”
* Fotografer : Dudi Sugandi & Satya Andhika (Aboenk)
* Kurator : galih sedayu
* Penerbit : air foto network (2013)
* Tebal : 154 Halaman
* ISBN : 978-602-14-4080-3

>> Buku Fotografi ini bisa didapatkan di kantor air foto network, Komplek Surapati Core Blok M32, Bandung. Para sahabat bisa menghubungi kami di nomor 022-20529070 atau kirim datanya via email berupa nama lengkap, alamat dan telepon ke airfotonetwork@gmail.com. Harga bukunya Rp 150.000,- (belum termasuk ongkos kirim).

Ridwan Kamil

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

Copyright (c) 2013 air foto network
All Right reserved. No part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographers.

Written by Admin

September 17, 2013 at 2:15 am